Guru Besar Wanita Pertama Indonesia
Abd. Rahim Ghazali dalam artikelnya dalam Geotimes mengatakan bahwa jika Kartini dimaknai sebagai perjuangan secara kolektif bukan individua, maka Aisyiyah termasuk salah satu Kartini tersebut. Di dalam Aisyiyah tersebut, nama Siti Baroroh adalah srikandi-srikandi dalam Kartini perjuangan kolektif tersebut.
Selain Siti Baroroh, terdapat srikandi lainnya yang tak kalah peranannya dalam organisasi maupun perjuangan perempuan. Sebut saja Nyai Walidah Dahlan sebagai tokoh utama, Siti Bariyah, Siti Dawimah, Siti Busyro, Siti Dawingah, Siti Badilah Zuber, dan Siti Dalalah.
Selain dikenal perjuangannya di bidang pendidikan, namun Siti Baroroh juga aktif diberbagai organisasi. Di Majelis Ulama Indonesia Pusat dan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), ia juga terlibat aktif.
Di Aisyiyah sendiri ia pernah menjabat sebagai Pimpinan Cabang Aisyiyah Gondomanan sampai Pimpinan Pusat Aisyiyah. Ia merupakan perempuan yang menjabat sebagai ketua PP Aisyiyah paling lama selama lima periode dari tahun 1965 hingga 1985. Sebelumnya ia menjabat sebagai Ketua Biro Hubungan Luar Negeri, Ketua Biro Penelitian dan Pengembangan serta Ketua Bagia Paramedis.
Berkat kepemimpinannya, Aisyiyah menjadi organisasi perempuan yang diperhitungkan di luar negeri. Sehingga banyak akademisi maupun penulis yang mempelajari organisasi ini.
Ia menikah dengan seorang dokter spesialis bedan yaitu dr. Baried Ishom. Ia menikah dengannya sebelum gelar guru besarnya diperolehnya. Suami dari Siti Baroroh kemudian menjabat sebagai Direktur RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.
Dari pernikahanya tersebut dikaruniai dua orang anak satu putra dan satu putri. Ia meninggal pada hari Ahad 9 Mei 199. Ketika ia mangkat, Siti Baroroh menjabat sebagai pimpinan umum Majalah Suara Aisyiyah dan penasehat PP Aisyiyah. (mif)
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


