Dampak Kelaparan di Gaza Bikin Trauma Mendalam bagi Warga Palestina
Namun, dia bisa lebih terbuka mengungkapkan kemarahannya tentang kondisi di Gaza, dan gangguan pola tidurnya menunjukkan dampak psikologis yang dalam.
“Saya tidak bisa berhenti menonton pemboman dan kelaparan di Gaza, saya merasa sangat tidak berdaya.” Hilangnya nafsu makan Ali adalah manifestasi dari kemarahan dan kesedihan yang dia pendam, mencerminkan trauma sosial yang lebih luas.
Salma, gadis berusia 11 tahun, ketahuan menyimpan kaleng makanan, botol air, dan kacang-kacangan kering di kamarnya. Dia mengatakan sedang “mempersiapkan diri untuk genosida” di Tepi Barat.
Ayah Salma melaporkan bahwa putrinya menjadi “histeris” ketika dia membawa pulang makanan mahal seperti daging atau buah.
Penurunan asupan makanan dan penolakannya untuk makan, yang memburuk selama bulan Ramadan, menunjukkan kecemasan dan rasa bersalah yang mendalam tentang kelaparan anak-anak di Gaza.
Layla, gadis 13 tahun, mengalami gejala misterius berupa ketidakmampuan makan. Dia menggambarkan sensasi bahwa “ada sesuatu di tenggorokanku yang mencegahku makan; ada duri yang menghalangi kerongkonganku.” Meski sudah menjalani pemeriksaan medis menyeluruh, tidak ditemukan penyebab fisik.
Diskusi lebih lanjut mengungkapkan bahwa ayah Layla ditangkap pasukan Israel dan dia tidak mendengar kabar apapun sejak saat itu. Ketidakmampuan Layla untuk makan adalah respons psikosomatis terhadap trauma penahanan ayahnya dan kesadarannya akan kelaparan, penyiksaan, dan kekerasan yang dialami tahanan politik Palestina.
Riham, gadis 15 tahun, mengalami muntah berulang tanpa disengaja dan rasa jijik mendalam terhadap makanan, terutama daging. Keluarganya memiliki riwayat obesitas dan operasi lambung, tapi dia membantah ada masalah dengan citra tubuhnya.
Dia mengatakan muntahnya dipicu oleh gambar-gambar darah dan tubuh yang terpotong-potong yang dia lihat di Gaza. Seiring waktu, penolakannya meluas ke makanan berbahan tepung, didorong ketakutan bahwa makanan tersebut mungkin dicampur dengan pakan ternak.
Kisah Ali, Salma, Layla, dan Riham bukanlah kasus gangguan makan biasa. Ini adalah kasus gangguan makan akibat trauma politik dan sosial yang belum pernah terjadi sebelumnya di wilayah Gaza dan Palestina secara keseluruhan.
Anak-anak ini bukan sekadar pasien dengan masalah psikologis unik. Mereka menderita akibat lingkungan yang menciptakan trauma, yang disebabkan kekerasan kolonial berkelanjutan, penggunaan kelaparan sebagai senjata, dan struktur politik yang melanggengkan kondisi ini.
Sebagai profesional kesehatan mental, tanggung jawab kita bukan hanya mengobati gejala yang ditunjukkan pasien, tapi juga mengatasi akar politik trauma mereka. Ini membutuhkan pendekatan holistik yang mempertimbangkan konteks sosiopolitik yang lebih luas.
Dukungan psikososial harus memberdayakan para penyintas, mengembalikan martabat, dan memenuhi kebutuhan dasar mereka. Mereka perlu memahami hubungan antara kondisi penindasan dan kerentanan mereka, serta merasa bahwa mereka tidak sendirian.
Intervensi berbasis komunitas harus dilakukan dengan menciptakan ruang aman bagi orang-orang untuk memproses emosi, berbagi cerita secara kolektif, dan membangun kembali rasa kendali.
Para profesional kesehatan mental di Palestina harus mengadopsi kerangka psikologi pembebasan, mengintegrasikan kerja terapeutik dengan dukungan komunitas, advokasi publik, dan intervensi struktural.
Ini termasuk mengatasi ketidakadilan, menantang narasi yang menormalkan kekerasan, dan berpartisipasi dalam upaya mengakhiri pengepungan dan pendudukan. Advokasi oleh praktisi kesehatan mental memberikan validasi kepada pasien, mengurangi isolasi, dan menumbuhkan harapan dengan menunjukkan solidaritas.
Hanya melalui pendekatan komprehensif seperti ini kita bisa berharap untuk menyembuhkan luka-luka individu dan masyarakat. (aljazeera/Kepala Unit Kesehatan Mental di Kementerian Kesehatan Palestina, Samah Jabr). (jeha)
Baca juga :
- Hari Anak Nasional 2026: Rumah Tahfidz Opung dan Yayasan Asa Bestari Mulia Rabbani Berkomitmen Membangun Generasi Qurani
- Selamat Hari Anak Nasional 2026
- Selamat Hari Bhayangkara: 80 Tahun Mengabdi, Polri untuk Masyarakat
- Breaking News: Argentina Tutup Fase Grup Piala Dunia FIFA 2026 dengan Kemenangan 3-1 atas Yordania di AT&T Stadium
- Piala Dunia FIFA 2026: Afrika Selatan Lolos Dampingi Meksiko Menuju Fase Gugur
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


