Bukti Sejarah Pesantren Takeran Tertulis di Masjid Jamik Pesantren
PSM berasas sama seperti negara Indonesia, yakni Pancasila dan UUD 1945 dengan tujuan Pesantren Takeran yang dilanjutkan oleh PSM, yaitu: “Memancarkan pendidikan luas tentang Islam, sehingga dapat mengeluarkan sebanyak-banyaknya orang yang cakap dan luas serta tinggi pemahamannya tentang agama Islam, rajin berbakti dan beramal kepada masyarakat berdasarkan taqwa (takut dan tunduk) kepada Allah, sehingga menjadi anggota masyarakat yang berilmu, beramal, dan bertaqwa”.
Memasuki era kepemimpinan Mbah Kiai Imam Mursyid merupakan tantangan yang sangat berat dikarenakan masuknya faham Komunisme di Indonesia dan ingin menghilangkan semua bentuk kegiatan Islam di Indonesia, sehingga mau tidak mau Mbah Kiai Imam Mursyid harus benar-benar menjaga seluruh penghuni pesantren.
Benar saja, ketika PKI mulai berjaya, berbagai macam bujuk rayu dengan mengadakan kegiatan yang mengatasnamakan umat, mereka berhasil menculik serta membunuh beberapa Kiai, Tokoh Islam dan para santri di wilayah Madiun dan sekitarnya pada tahun 1945.
“Mbah Imam Mursyid sendiri juga ditipu, katanya mau diajak musyawarah rembukan bahas umat, tapi ternyata diculik oleh PKI yang nyusup mengatasnamakan salah satu anak organisasi NU, bahkan mereka juga mengeluarkan dalil tentang perjuangan membela umat,” imbuh Mbah Zuhdi.
Sejak diculik nya Mbah Kiai Imam Mursyid dan beberapa tokoh dalam lingkungan Pesantren Sabilil Muttaqien, keluarga ndalem lebih berhati-hati agar jangan sampai ada korban kebiadaban dan kekejaman PKI lagi dan sempat mengalami kevakuman karena Mbah Kiai Imam Mursyid belum juga kembali.
“Sebelum meletusnya kejadian kebiadaban PKI tahun 1948 di Madiun itu, Mbah Imam Mursyid sempat pamitan ke bulik nya, ngomong kalau akan pergi ketika hujan gerimis dan nanti akan kembali ketika waktu nya hujan besar,” ucap Mbah Zuhdi.
Tentu saja, kalimat yang disampaikan Mbah Kiai Imam Mursyid tersebut menjadi tanda tanya dan belum menemukan arti yang sebenarnya hingga sekarang ini.
Dalam perjalanan nya, Pesantren Takeran tidak pernah tercatat dalam buku sejarah perjuangan bangsa Indonesia sebagai salah satu Pesantren yang seringkali dijadikan rujukan atau dijadikan tempat musyawarah para tokoh-tokoh besar dalam mewujudkan kemerdekaan seluruh rakyat Indonesia.
Hingga beberapa generasi penerus dan sampai saat ini yang berubah nama menjadi Pesantren Cokrokertopati, Pesantren tersebut tetap menjadi dan mengajarkan kegiatan keagamaan dengan memberikan pelajaran kitab-kitab kuno atau yang dikenal dengan kitab kuning.
PSM yang berpusat di Takeran-Magetan, saat ini telah memiliki cabang di berbagai daerah. Kegiatan utamanya bergerak di bidang dakwah (pesantren) dan pendidikan umum, yang didukung dengan kegiatan ekonomi penunjang. PSM juga bekerja sama dengan Temasek Foundation Singapura dalam mengembangkan pendidikan melalui pendirian lembaga pendidikan bertaraf internasional, Islamic Internatinal School (IIS PSM), yang saat ini terletak di Magetan dan Kediri. (fq)
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


