Ali Ibnu Ridwan Seorang Astronom Muslim Legendaris Saksi Supernova 1006

Dengarkan Artikel Ini

Selain itu, karyanya yang lain Treatise on the Significations of Comets in the twelve Signs of the Zodiac juga dialihbahasakan ke dalam bahasa Latin bertajuk Tractatus de cometarum significationibus per xii signa zodiaci dicetak di Nurnberg tahun 1563. Itu berarti pemikiran Ibnu Ridhwan mampu bertahan hingga berabad-abad lamanya.

Setahun sebelum fenomena Supernova ‘mengguncang’ dunia, Khalifah Al-Hakim pada tahun 1005 mulai mendirikan Dar al-‘Ilm (Rumah Pengetahuan) di Kairo. Ini merupakan universitas umum yang informal, sehingga siapa saja bisa datang untuk membaca, menyalin buku, belajar atau ikut pekuliahan berbagai bidang studi. Di tempat itu diajarkan teologi, tata bahasa, filologi, kedokteran dan astronomi.

Dalam otobiografi yang ditulisnya, Ibnu Ridhwan mengisahkan perjalanan hidup masa kecilnya. Saat masih kanak-kanak, ia menikmati pendidikan dasarnya di masjid sekitar rumahnya. Di tempat itu, dia mulai belajar membaca dan menulis serta menghafal Alquran. Memasuki usia 15 tahun, Ibnu Ridwan memilih untuk bejar ilmu kedokteran dan filsafat. “Saya kurang beruntung,” cetusnya. Ia mengaku harus membiayai pendidikannya dengan keringat sendiri.

“Studi saya menjadi terhambat oleh berbagai halangan dan kesulitan,” tutur Ibnu Ridhwan. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, Ibnu Ridhwan mengaku harus menjalankan praktik astrologi. Terkadang dia juga mempraktikkan ilmu kedokterannya. “Kemudian saya juga mengajar.” (jeha)

Baca juga :


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca