Fatwa MUI Tentang Pajak Berkeadilan, Ini Redaksi Lengkapnya

Fatwa MUI tentang konsep pajak berkeadilan di Indonesia, memuat poin inti, prinsip syariah, dan implikasi bagi pemerintah, pelaku usaha, serta masyarakat. Jakarta 1miliarsantri.net: Majelis Ulama Indonesia (MUI) kembali menegaskan pentingnya sistem perpajakan yang tidak hanya kuat secara regulasi, tetapi juga sejalan dengan prinsip keadilan sosial dan syariah. Fatwa terbaru yang dirilis MUI menekankan bahwa pemungutan pajak diperbolehkan selama memenuhi unsur keadilan, transparansi, dan kemaslahatan publik. Dalam fatwa tersebut, MUI menjelaskan bahwa pajak dapat menjadi instrumen negara untuk menjaga keberlangsungan layanan publik, mengurangi kesenjangan, dan mendukung pembangunan yang berorientasi pada kesejahteraan umum. Namun, MUI mengingatkan bahwa pajak harus diberlakukan secara proporsional—baik dari sisi tarif, objek, maupun mekanisme penagihan—agar tidak menimbulkan beban berlebih bagi masyarakat dan pelaku usaha. Redaksi lengkap Fatwa MUI tentang Pajak Berkeadilan yang dikutip dari laman resmi Majelis Ulama Indonesia: Ketentuan Hukum 1. Negara wajib dan bertanggung jawab mengelola dan memanfaatkan seluruh kekayaan negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. 2. Dalam hal kekayaan negara tidak cukup untuk membiayai kebutuhan negara untuk  mewujudkan kesejahteraan rakyat maka negara boleh memungut pajak dari rakyat dengan ketentuan sebagai berikut: a. Pajak penghasilan hanya dikenakan kepadawarga negara yang memiliki kemampuan secara finansial yang secara syariat minimal setara dengan nishab zakat mal yaitu 85 gram emas. b. Objek pajak dikenakan hanya kepada harta yang potensial untuk diproduktifkan dan / atau merupakan kebutuhan sekunder dan tersier(hajiyat dan tahsiniyat). c. Pajak digunakan untuk kepentingan masyarakat yang membutuhkan dan kepentingan publik secara luas. d. Penetapan pajak harus berdasar pada prinsip keadilan. e. Pengelolaan pajak harus amanah dan transparan serta berorientasi pada kemaslahatan umum (‘ammah). 3. Pajak yang dibayarkan oleh wajib pajak, secara syar’i merupakan milik rakyat yang pengelolaannya diamanahkan kepada pemerintah(ulil amri), oleh karena itu pemerintah wajib mengelola harta pajak dengan prinsip amanah yaitu jujur, profesional, transparan, akuntabel dan berkeadilan.  4. Barang yang menjadi kebutuhan primer masyarakat (dharuriyat) tidak boleh dibebanipajak secara berulang (double tax). 5. Barang konsumtif yang merupakan kebutuhan primer, khususnya sembako (sembilan bahan pokok), tidak boleh dibebani pajak. 6. Bumi dan bangunan yang dihuni (non komersial) tidak boleh dikenakan pajak berulang. 7. Warga negara wajib ⁠menaati aturan pajak yang ditetapkan berdasarkan ketentuan sebagaimanadimaksud pada angka 2 dan 3. 8. Pemungutan pajak yang tidak sesuai denganketentuan sebagaimana dimaksud pada angka 2 dan 3 hukumnya haram. 9. Zakat yang sudah dibayarkan oleh umat Islam menjadi pengurang kewajiban pajak sebagaimana diatur dalam ketentuan angka 2 dan 3, (zakat sebagai pengurang pajak). Rekomendasi 1. Untuk mewujudkan perpajakan yang berkeadilandan berpemerataan maka pembebanan pajakseharusnya disesuaikan dengan kemampuanwajib pajak (ability pay). Oleh karena itu perluadanya peninjauan kembali terhadap beban perpajakan terutama pajak progresif yang nilainya dirasakan terlalu besar. 2. Pemerintah harus mengoptimalkan pengelolaan sumber-sumber kekayaan negara dan menindak para mafia pajak dalam rangka untuk sebesar-besar untuk kesejahteraan masyarakat. 3. Pemerintah dan DPR berkewajiban mengevaluasi berbagai ketentuan perundang-undangan terkait perpajakan yang tidak berkeadilan dan menjadikan fatwa ini sebagai pedoman. 4. Kemendagri dan pemerintah daerah mengevaluasi aturan mengenai pajak bumi dan bangunan, pajak pertambahan nilai (PPn), pajakpenghasilan (PPh), Pajak Bumi dan Bangunan(PBB), Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), pajakwaris yang seringkali dinaikkan hanya untuk menaikkan pendapatan daerah tanpa mempertimbangkan rasa keadilan masyarakat. 5. Pemerintah wajib mengelola pajak dengan amanah dan menjadikan fatwa ini sebagai pedoman. 6. Masyarakat perlu mentaati pembayaran pajak yang diwajibkan oleh pemerintah jika digunakan untuk kepentingan kemaslahatan umum (maslahah ‘ammah). Ketua MUI Bidang Fatwa periode 2025-2030 Prof KH Asrorun Ni’am Sholeh mengingatkan warga negara wajib menaati aturan pajak sebagai wujud tanggung jawab dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dia juga menegaskan mengelola harta pajak dengan prinsip amanah yaitu jujur, profesional, transparan, akuntabel dan berkeadilan. Penulis : Thamrin Humris Editor : Thamrin Humris Sumber : MUI Foto : Logo MUI

Read More

MUI Terbitkan Fatwa Pajak: Rakyat Taat Pajak – Pemerintah Amanah Mengelola Pajak Berkeadilan

Pajak merupakan salah satu instumen pembiayaan negara dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat. Karenanya dia mengikat setiap warga negara sepanjang dilaksanakan oleh Pemerintah dengan dan untuk kemaslahatan bersama. Jakarta – 1miliarsantri.net: Majelis Ulama Indonesia periode 2025-2030 dalam Muna terbaru yang berlangsung di Jakarta, Senin 24 November 2025 menerbitkan Fatwa MUI terkait pajak. Fatwa ini sekaligus mengingatkan ketaatan warga negara dan kewajiban Pemerintah Indonesia dalam mengelola amanah rakyat berupa pajak. Pada kesempatan itu, Ketua MUI Bidang Fatwa periode 2025-2030 Prof. KH Asrorun Ni’am Sholeh mengingatkan, Warga negara wajib menaati aturan pajak sebagai wujud tanggung jawab dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.  Mengutip laman resmi MUI, Guru Besar Bidang Ilmu Fikih UIN Jakarta ini menegaskan pajak merupakan instrumen untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Pajak juga menjadi kesepakatan dan bagian kontrak sosial antara negara dan warga negara.  Dalam kesempatan itu, diapun mengingatkan dan menegaskan kewajiban pemerintah dalam mengelola pajak, Pemerintah wajib mengelola harta pajak dengan prinsip amanah yaitu jujur, profesional, transparan, akuntabel dan berkeadilan.  Obyek Pajak Dalam Fatwa Pajak pada point kedua Fatwa Pajak Berkeadilan, Objek pajak dikenakan hanya kepada harta yang potensial untuk diproduktifkan dan atau merupakan kebutuhan sekunder dan tersier (hajiyat dan tahsiniyat).  Penetapan dan Pengelolaan Pajak Dalam Fatwa Pajak Berkeadilan menekankan juga aspek pengelolaan oleh pemerintah (ulil amri), Penetapan pajak harus berdasar pada prinsip keadilan. Begitu juga pengelolaan pajak harus amanah dan transparan serta berorientasi pada kemaslahatan umum (‘ammah).  “Pajak yang dibayarkan oleh wajib pajak, secara syar’i merupakan milik rakyat yang pengelolaannya diamanahkan kepada pemerintah (ulil amri), oleh karena itu pemerintah wajib mengelola harta pajak dengan prinsip amanah yaitu jujur, profesional, transparan, akuntabel, dan berkeadilan,”pungkas Prof Ni’am. Ikuti terus artikel 1mikliarsantri.net terkait Fatwa MUI tentang Pajak Berkeadilan, artikel ini merupakan bagian dari ulasan tentang Pajak Berkeadilan.*** Penulis : Thamrin Humris Editor : Thamrin Humris Sumber : MUI Foto istimewa Munas MUI XI di Jakarta (dok. mui.or.id)

Read More

PT BIMA dan BMM Dorong Ekonomi Ramah Lingkungan Lewat Program “Polah Jelantah”

Surabaya – 1miliarsantri.net : Dalam upaya menghadirkan ekonomi ramah lingkungan, program “Polah Jelantah” muncul sebagai inovasi yang mampu menyentuh dua sisi sekaligus. Pelestarian lingkungan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Inisiasi PT Berkah Industri Mesin Angkat (BIMA) terus memperkuat komitmennya dalam menciptakan lingkungan bersih, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) bertajuk “Polah Jelantah”, PT BIMA berkolaborasi dengan Baitulmaal Muamalat (BMM) Jawa Timur dan Yayasan Bina Bakti Lingkungan (YBBL) dalam mengelola limbah minyak jelantah rumah tangga menjadi produk bernilai ekonomi seperti sabun dan lilin. Program ini mendorong kebiasaan baru yang lebih bertanggung jawab, sekaligus membuka peluang nilai tambah dari limbah rumah tangga yang selama ini terabaikan. Kegiatan yang dilaksanakan di Kampung Ramah Perempuan dan Anak (RPA) RW 09, Kelurahan Tanah Kali Kedinding, Kenjeran, Surabaya, pada Rabu (12/11/2025) ini menjadi contoh nyata kolaborasi multipihak antara perusahaan, lembaga sosial, pemerintah, dan masyarakat dalam membangun ekosistem ekonomi sirkular di tingkat akar rumput. Dengan pendekatan edukatif dan partisipatif, program polah jelantah menjadi langkah kongkret menuju gaya hidup ramah lingkungan yang menguntungkan bagi semua. Acara dihadiri oleh Kepala Biro Tata Kelola Perusahaan PT BIMA Donny Arif Kurniawan, Ketua Tim Penyuluhan Lingkungan Hidup dan Pemberdayaan Masyarakat DLH Kota Surabaya Satiah, S.Sos, Lurah Tanah Kali Kedinding Anggoro Himawan, ST., MT., serta perwakilan masyarakat dari RW 01 dan RW 09. Dari unsur mitra sosial turut hadir Kepala Perwakilan BMM Jawa Timur Alib Bagus Suyoto dan perwakilan YBBL. Baca juga : BMM Peduli Teman Tuli Dalam sambutannya, Donny Arif menegaskan bahwa program “Polah Jelantah” merupakan bagian dari strategi keberlanjutan PT BIMA yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat. “Melalui edukasi dan pelatihan, masyarakat diharapkan tidak hanya menjaga lingkungan tetap bersih, tetapi juga memperoleh nilai tambah ekonomi dari pengelolaan minyak jelantah,” ujarnya. Sebagai wujud dukungan konkret, PT BIMA menyalurkan fasilitas pendukung seperti botol angkut minyak jelantah, jerigen, alat pelatihan, serta buku panduan pengelolaan limbah. Perusahaan juga memberikan pelatihan teknis, manajemen bank sampah, dan pendampingan berkelanjutan bagi kelompok penerima manfaat. Perwakilan DLH Surabaya, Satiah, menyampaikan apresiasi atas inisiatif tersebut yang sejalan dengan program Zero Waste Community Pemerintah Kota Surabaya. Baca juga : Islam dan lingkungan “Pola Jelantah memperlihatkan bagaimana peran dunia usaha dapat menjadi katalis perubahan menuju perilaku hidup berkelanjutan,” ungkapnya. Kegiatan ditutup dengan penyerahan simbolis bantuan program “Pola Jelantah” oleh seluruh pihak yang terlibat, sebagai bentuk komitmen bersama dalam membangun lingkungan yang bersih, sehat, dan berdaya ekonomi. Dengan  mengubah limbah  minyak jelantah menjadi sumber manfaat, program ini  tidak hanya  menekan  potensi  pencemaran, tetapi juga menggerakkan roda  ekonomi masyarakat secara inklusif.  Jika kesadaran dan partisipasi terus diperluas, polah jelantah berpotensi  menjadi gerakan besar yang membentuk ekosistem ekonomi hijau di tingkat lokal dan nasional. PT BIMA, BMM Jawa Timur, dan YBBL berharap keberhasilan program ini dapat diduplikasi di wilayah lain di Jawa Timur, sehingga memperkuat sinergi antara sektor usaha, lembaga sosial, dan masyarakat dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan. (**) Kontributor : Warda Hikmatul Mardiyah Editor : Toto Budiman Foto : Dokumentasi BMM Jatim

Read More

Filantropi Islam di Era Digital, Mari Jadikan Donasi sebagai Gaya Hidup

Bogor – 1miliarsantri.net : Perkembangan teknologi tidak hanya mengubah cara manusia berkomunikasi, tetapi juga cara mereka berbuat baik. Dalam konteks Islam, muncul kembali istilah yang semakin relevan dengan zaman yaitu filantropi Islam yang menjadikan donasi sebagai gaya hidup. Filantropi Islam adalah bentuk kepedulian sosial yang diatur dalam ajaran agama, dengan tujuan menyeimbangkan distribusi kekayaan dan menumbuhkan kesejahteraan umat. Namun di era digital ini, makna filantropi tidak berhenti pada kegiatan amal tradisional. Ia berkembang menjadi sistem sosial yang lebih terstruktur, transparan, dan berkelanjutan menjembatani kebaikan antara mereka yang mampu dan mereka yang membutuhkan melalui teknologi. Dalam Islam, filantropi merupakan instrumen penting dalam menjaga keadilan sosial. Zakat menjadi kewajiban bagi yang mampu, infak dan sedekah menjadi bentuk kepedulian sukarela, sementara wakaf berfungsi menjaga manfaat jangka panjang bagi masyarakat. Melalui instrumen-instrumen ini, Islam mengajarkan bahwa kekayaan bukan untuk ditimbun, tetapi untuk disalurkan agar menciptakan keseimbangan ekonomi dan mengurangi kesenjangan sosial. Yang menarik, konsep filantropi Islam tidak hanya berbicara tentang memberi, tetapi juga tentang memberdayakan. Artinya, penerima manfaat tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk mandiri. Inilah esensi sosial ekonomi yang menjadi dasar dari setiap gerakan ziswaf  membangun kesejahteraan umat dengan cara yang berkelanjutan. Transformasi Filantropi di Era Digital Era digital menghadirkan perubahan besar pada cara beramal. Kini, filantropi Islam memasuki babak baru dengan kehadiran platform digital seperti aplikasi zakat, dompet donasi online, hingga gerakan crowdfunding yang mengusung nilai kemanusiaan dan keagamaan sekaligus.   Teknologi menjadikan proses berbagi lebih mudah, cepat, dan transparan. Donatur dapat memantau penyaluran dana, lembaga dapat memperluas jangkauan, dan masyarakat dapat ikut berpartisipasi dalam program sosial tanpa terhalang jarak dan waktu. Lebih jauh lagi, digitalisasi juga menumbuhkan kesadaran baru bahwa berbagi kini bukan sekadar tindakan spontan, tetapi bagian dari tanggung jawab sosial yang bisa dilakukan secara konsisten. Setiap klik donasi bukan hanya transaksi keuangan, melainkan bentuk nyata dari semangat tolong-menolong yang dihidupkan kembali dalam konteks modern. Menjadikan Donasi sebagai Gaya Hidup Menjadikan donasi sebagai gaya hidup berarti membawa semangat filantropi ke dalam keseharian. Ia bukan lagi kegiatan insidental saat ada bencana, melainkan kebiasaan sadar yang tumbuh dari rasa empati dan tanggung jawab sosial. Dalam perspektif Islam, gaya hidup ini bukan tren, melainkan manifestasi keimanan dalam bentuk nyata dari rasa syukur atas rezeki yang dimiliki dan keyakinan bahwa memberi tidak akan mengurangi, tetapi justru menambah keberkahan. Ketika generasi muda mulai menjadikan berbagi sebagai bagian dari rutinitas, maka terbentuklah budaya baru: budaya yang menilai keberhasilan bukan dari seberapa banyak yang dimiliki, melainkan dari seberapa besar manfaat yang bisa diberikan. Filantropi bukan lagi urusan lembaga besar, tapi gerakan kolektif masyarakat yang peduli dan sadar akan peran sosialnya. Filantropi Islam menunjukkan bahwa teknologi dan spiritualitas bisa berjalan beriringan. Dunia digital memberikan akses, tapi nilai-nilai ziswaf yang memberikan arah. Dengan menjadikan donasi sebagai bagian dari gaya hidup, kita tidak hanya menolong sesama, tetapi juga membangun peradaban yang lebih adil dan berempati. Kebaikan tidak harus besar untuk bermakna. Kadang, perubahan dimulai dari satu keputusan kecil: untuk memberi, berbagi, dan peduli. Dan dari keputusan itulah lahir peradaban yang berakar pada kasih sayang, keberkahan, dan nilai kemanusiaan yang sejati. Penulis: Salwa Widfa Utami Foto Ilustrasi AI Editor : Iffah Faridatul Hasanah & Toto Budiman baca juga : potensi ziswaf untuk perubahan iklim disini

Read More

Dakwah Muslimat dan Hijrah Digital Solusi Ketenangan Hati Kaum Milenial

Bogor – 1miliarsantri.net : pernah nggak kita merasa, makin kesini hidup makin cepat tapi hati malah terasa kosong? Banyak milenial yang mengalaminya sibuk kerja, sibuk cari arah, tapi lupa menenangkan batin. Nah, di tengah hiruk pikuk dunia digital, muncul fenomena menarik yakni dakwah Muslimat dan hijrah digital. Dua hal yang seolah sederhana, tapi ternyata bisa banget menyentuh hati anak muda jaman sekarang. Kalau dengar kata “Muslimat”, sebagian orang mungkin langsung ingat ibu-ibu pengajian atau kegiatan sosial di kampung. Padahal, dakwah Muslimat jauh lebih luas dari itu. Ia membawa nilai-nilai khazanah yang menjadi fondasi kehidupan seperti adab, kesabaran, kasih sayang, dan semangat berbagi. Bedanya, sekarang nilai-nilai itu disampaikan dengan cara yang lebih hangat dan relevan buat milenial. Bukan cuma ceramah di masjid, tapi lewat kisah, kegiatan sosial, sampai edukasi keluarga. Misalnya, bagaimana menyeimbangkan karir dan peran sebagai anak, bagaimana tetap rendah hati di tengah pencapaian, bagaimana menjaga kejujuran di dunia yang serba cepat?. Dakwah Muslimat tidak menakut-nakuti, tapi menenangkan. Bukan menggurui, tapi menemani. Muslimat juga punya cara tersendiri dalam menanamkan nilai. Mereka mengajarkan bahwa ibadah bukan hanya soal ritual, tapi juga bagaimana kita berbuat baik kepada sesama. Nilai-nilai kecil seperti sabar, menepati janji, dan tidak mudah berprasangka menjadi pelajaran sederhana tapi mendalam. Dan hal-hal kecil itulah yang justru mudah diterima oleh milenial yang haus akan ketenangan dan keikhlasan di tengah rutinitas modern. Hijrah Digital: Bukan Sekadar Gaya, Tapi Perjalanan Hati Sekarang, banyak anak muda mulai “berhijrah”. Tapi hijrah yang satu ini berbeda bukan hijrah yang cuma tampak dari luar, tapi hijrah yang tumbuh dari kesadaran hati. Lewat media digital, banyak milenial yang pelan-pelan belajar menjaga diri, membatasi konten negatif, memilih tontonan yang lebih baik, bahkan mulai rutin mengikuti kajian online. Muslimat ikut hadir di sana bukan untuk mengubah gaya hidup secara instan, tapi mengajak perubahan kecil yang berdampak besar. Contohnya, belajar sabar lewat obrolan ringan, atau menata niat ketika menolong sesama. Dari langkah-langkah kecil itulah hijrah digital menjadi bermakna: sederhana tapi konsisten, diam-diam tapi mengubah banyak hal. Lebih dari itu, hijrah digital juga membuka ruang refleksi bagi banyak orang. Dengan menyimak kisah hijrah yang jujur dan realistis, milenial jadi belajar bahwa berubah bukan tentang menjadi sempurna, tapi tentang berani memulai. Ini bukan tren sesaat, tapi bentuk pencarian makna hidup yang lebih dalam. Kenapa bisa sampai Menyentuh Hati Milenial? Karena dakwah Muslimat dan hijrah digital sama-sama punya ruh yang dibutuhkan anak muda seperti kejujuran dan ketulusan. Tidak ada paksaan, Tidak ada penghakiman. Semua berawal dari rasa ingin memperbaiki diri. Dakwah ini menyentuh karena realistis memahami bahwa manusia bisa lelah, bisa jatuh, tapi selalu punya kesempatan untuk bangkit. Buat milenial, dakwah ini bukan hanya tentang kewajiban, tapi tentang menemukan kedamaian. Bukan tentang berubah supaya dilihat orang, tapi berubah supaya diri sendiri lebih tenang. Dan mungkin disitulah letak indahnya hijrah digital: ia nggak kaku, tapi hidup. Ia bukan trend, tapi perjalanan batin yang terus bertumbuh. Pada akhirnya, dakwah Muslimat dan hijrah digital bukan sekadar fenomena di media sosial. Ia adalah wujud dari nilai khazanah yang diwariskan cara baru menyampaikan makna lama dengan bahasa yang lebih muda. Bagi kaum milenial, ini bukan hanya jalan untuk menjadi lebih religius, tapi juga cara untuk kembali menemukan makna hidup yang sesungguhnya: tenang, sederhana, dan penuh kasih. Penulis: Salwa Widfa Utami Foto Ilustrasi AI Editor : Iffah Faridatul Hasanah & Toto Budiman

Read More

Chatbot Islami Solusi Teman Ibadah yang Siap Bantu Kamu Lebih Taat Beribadah

Di tengah padatnya aktivitas, kadang kita terlalu sibuk sampai lupa waktu sholat, lupa dzikir, bahkan lupa sekadar bersyukur. Lucunya, yang paling sering diingat justru alarm meeting atau notifikasi belanja online. Di sinilah chatbot islami mulai ambil peran baru bukan hanya buat hiburan, tapi juga buat mengingatkan hal-hal yang lebih penting seperti ibadah. Seiring dengan semaraknya perkembangan teknologi, sekarang, muncul tren baru yakni chatbot Islami, asisten digital yang siap jadi pengingat lembut di sela kesibukan kita. Ia bisa membantumu menjaga rutinitas ibadah, membuat daftar amalan, dan memberi pengingat ketika kamu belum melaksanakannya. Tapi yang paling menarik bukan soal kecanggihannya, melainkan bagaimana alat sederhana ini bisa bantu kita menata ulang niat dan kedisiplinan dalam beribadah. Chatbot yang Bikin Ibadah Lebih Teratur Bayangkan setiap pagi, sebelum tenggelam dalam jadwal kerja atau kuliah, muncul notifikasi kecil: “Waktunya sholat Subuh. Semangat, ya!” Lalu kamu buka daftar ibadah harianmu misal zikir, baca Qur’an, sedekah harian semua tercatat rapi dengan waktu yang bisa disesuaikan. Chatbot semacam ini memang didesain untuk membantu manusia modern yang hidupnya serba cepat, supaya tetap punya waktu untuk berhenti sejenak dan mengingat Allah. Menariknya, banyak chatbot kini dilengkapi fitur to-do list ibadah dan alarm pengingat. Misalnya, kamu bisa menulis jadwal, “Dzikir Ashar jam 15.00,” lalu sistem akan memberi alert kalau waktunya tiba. Kalau kamu belum menunaikannya, muncul pengingat lembut: “Belum sempat dzikir sore? Yuk, ambil waktu sejenak”. Hal kecil seperti ini ternyata bisa membantu kita membangun kebiasaan disiplin dan konsisten dalam beribadah, tanpa merasa dipaksa. Bahkan, beberapa orang menjadikan chatbot ini sebagai pengingat harian untuk refleksi diri misalnya menulis satu kebaikan yang sudah dilakukan setiap malam sebelum tidur. Teman Digital, Tapi Jangan Lupa Tujuan Aslinya Chatbot Islami bisa jadi teman yang mengingatkan, tapi ia tetap hanya alat. Jangan sampai kehadirannya justru menggeser makna ibadah itu sendiri. Kadang, kita tanpa sadar beribadah karena “biar alarmnya gak muncul lagi,” bukan karena niat ingin mendekat pada Allah. Padahal, nilai ibadah bukan di checklist atau notifikasi yang selesai, tapi di keikhlasan hati ketika melaksanakannya. Teknologi boleh bantu kita mengatur waktu, tapi niat dan kesungguhan tetap urusan hati. Maka penting untuk meneguhkan diri, ketika sholat, berdzikir, atau sedekah niatnya semata karena Allah, bukan karena aplikasi mengingatkan. Meski bukan manusia, chatbot bisa mengajarkan nilai-nilai manusiawi seperti disiplin, tanggung jawab, dan konsistensi. Ia mengingatkan dengan cara lembut bahwa hidup ini bukan hanya tentang kerja, kuliah, dan target dunia, tapi juga soal menjaga koneksi spiritual. Namun, semua manfaat itu baru berarti kalau kita sadar bahwa teknologi hanyalah wasilah. Gunakan secukupnya untuk membantu, bukan menggantikan semangat beribadah. Karena tanpa niat yang tulus, semua pengingat hanya lah bunyi notifikasi tanpa makna. Kehadiran chatbot Islami adalah bukti bahwa kemajuan teknologi bisa sejalan dengan nilai-nilai spiritual. Ia membantu kita lebih teratur, disiplin, dan ingat waktu. Tapi dibalik semua fitur modern itu, ada pesan sederhana yang gak boleh dilupakan bahwa ibadah tetap harus berangkat dari hati yang ikhlas. Karena pada akhirnya, bukan chatbot yang menilai ibadahmu tapi Allah yang melihat kesungguhanmu. Penulis: Salwa Widfa Utami Foto Ilustrasi AI Editor : Iffah Faridatul Hasanah & Toto Budiman baca juga ; deep learning berbasis AI untuk anak

Read More

Belajar Bahasa Arab Jadi Lebih Seru Lewat Game dan Aplikasi Interaktif

Bogor – 1miliarsantri.net : Dulu, banyak orang berpikir belajar bahasa Arab itu rumit. Hafalan panjang, kaidah yang susah, dan metode yang kaku sering membuat kita cepat menyerah. Tapi sekarang, semuanya berubah. Dunia digital menghadirkan cara baru yang jauh lebih menyenangkan lewat game dan aplikasi interaktif yang bikin belajar terasa seperti bermain. Sekarang, belajar bahasa Arab bukan hanya di buku tebal dan papan tulis. Cukup buka ponsel, dan kamu bisa menjelajahi dunia kata-kata Arab lewat petualangan seru, kuis cepat, hingga misi berhadiah poin. Dari sini, belajar bukan lagi beban, tapi jadi kegiatan yang bikin nagih. Bahasa Arab Kini Hadir di Genggaman Beragam aplikasi belajar bahasa Arab bermunculan, mulai dari yang berfokus pada hafalan kosakata seperti Drops dan Duolingo Arabic, sampai yang lebih religius seperti Tarteel dan Quranic. Aplikasi-aplikasi ini menawarkan pengalaman belajar yang interaktif, dengan desain visual menarik dan sistem level yang bikin semangat terus meningkat. Ada fitur latihan mendengar, berbicara, hingga permainan tebak kata yang bikin otak ikut aktif. Misalnya, ketika kamu berhasil menebak arti kata atau membaca kalimat dengan benar, kamu akan mendapatkan poin dan naik level. Rasanya seperti bermain game tapi setiap kali menang, ilmu yang kamu miliki pun akan terus bertambah. Belum lagi, beberapa platform bahkan menggabungkan konsep role-playing game (RPG), di mana kamu bisa berpetualang di dunia virtual sambil mempelajari kata dan percakapan sehari-hari dalam bahasa Arab. Jadi, kalau dulu kamu bosan dengan buku tata bahasa, sekarang tinggal pilih karakter, mulai misi, dan pelajari bahasa sambil berpetualang! Belajar Sambil Main, Main Sambil Belajar Konsep game-based learning ini terbukti efektif meningkatkan semangat belajar. Bagi santri, pelajar, atau siapa pun yang baru mulai mengenal bahasa Arab, cara ini sangat membantu untuk mengatasi rasa ragu atau takut salah. Karena disini, kita akan belajar secara fleksibel sehingga kamu bisa berhenti kapan saja, dan lanjut lagi tanpa tekanan. Selain itu, game interaktif juga membantu meningkatkan daya ingat. Karena ketika kita menikmati prosesnya, otak lebih mudah menyimpan informasi. Banyak yang awalnya cuma ingin “main sebentar,” tapi akhirnya malah hafal ratusan kosakata baru dalam beberapa minggu. Dan menariknya, beberapa aplikasi juga menyediakan fitur reminder harian, jadi kamu bisa konsisten belajar setiap hari tanpa harus dipaksa. Ini cocok banget buat anak muda jaman sekarang yang jadwalnya padat, tapi tetap ingin produktif. Teknologi yang Mendekatkan Kita pada Bahasa Al-Qur’an Lebih dari sekadar tren digital, belajar bahasa Arab lewat aplikasi juga bisa jadi jalan mendekatkan diri pada Al-Qur’an. Dengan memahami makna ayat secara langsung, kita bisa lebih mendalami -Nya tanpa harus selalu bergantung pada terjemahan. Bahkan banyak pengguna yang mengaku, lewat aplikasi ini mereka jadi lebih semangat menghafal ayat dan doa karena bisa langsung memahami artinya. Inilah bentuk dakwah modern yang lembut teknologi digunakan bukan sekadar untuk hiburan, tapi juga pembelajaran dan kebaikan. Belajar bahasa Arab kini bukan lagi hal yang menakutkan. Dengan game dan aplikasi interaktif, belajar bisa jadi kegiatan yang seru, ringan, dan menyenangkan. Setiap tantangan yang diselesaikan bukan hanya bikin kamu naik level di aplikasi, tapi juga dalam pemahaman. Karena pada akhirnya, belajar bahasa Arab bukan cuma soal bisa berbicara, tapi juga soal mendekatkan diri dengan ilmu dan makna kehidupan. Jadi, kalau ada cara belajar yang seru dan bermanfaat, kenapa nggak dicoba dari sekarang? Penulis : Salwa Widfa Utami Editor : Iffah Faridatul Hasanah & Toto Budiman

Read More

Mendesak! Pembentukan Kementerian Ziswaf untuk Penguatan Ekonomi Syariah Nasional

Malang – 1miliarsantri.net : Pemerintah Indonesia dinilai perlu menyegerakan pembentukan kementerian ziswaf sebagai upaya strategis untuk memperkuat sistem ekonomi syariah di tanah air. Selama ini, pengelolaan zakat, infak, sedekah, dan wakaf masih tersebar di berbagai lembaga tanpa satu koordinasi terpadu. Padahal, dengan mayoritas penduduk Muslim, Indonesia memiliki potensi ziswaf yang sangat besar dan belum dimanfaatkan secara optimal. Kehadiran kementerian ziswaf diharapkan menjadi solusi konkret untuk memperbaiki pengelolaan dana sosial keagamaan dan menjadikannya instrumen nyata dalam mengatasi kemiskinan serta kesenjangan sosial. Urgensi Pembentukan Kementerian Ziswaf Pembentukan kementerian ziswaf menjadi penting karena hingga saat ini belum ada satu pun lembaga setingkat kementerian yang secara khusus menangani pengelolaan ziswaf. Lembaga-lembaga yang ada, seperti Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) atau Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), memiliki kewenangan terbatas dan bersifat sektoral. Tanpa kehadiran kementerian yang fokus dan berwenang penuh, pengelolaan ziswaf cenderung tidak terintegrasi dan minim pengawasan. Kementerian ziswaf akan menjadi pusat kendali regulasi, pengawasan, dan pelaksanaan program berbasis zakat, infak, sedekah, dan wakaf. Dengan struktur yang jelas dan didukung anggaran negara, lembaga ini dapat mendorong transparansi, efisiensi, serta penyaluran dana yang lebih merata dan tepat sasaran. Potensi pengumpulan ziswaf di Indonesia mencapai triliunan rupiah per tahun. Namun, tanpa kementerian ziswaf, potensi tersebut belum mampu memberikan kontribusi signifikan bagi pembangunan sosial-ekonomi masyarakat. Kementerian ini akan berperan penting dalam membangun sistem yang mampu menghimpun dan menyalurkan dana secara profesional, berbasis teknologi, dan sesuai dengan prinsip maqashid syariah. Selain itu, kementerian ziswaf dapat memperkuat literasi masyarakat tentang kewajiban zakat dan pentingnya wakaf produktif. Edukasi dan regulasi yang lebih kuat akan mendorong partisipasi masyarakat Muslim untuk menunaikan kewajiban keagamaannya secara maksimal. Keuntungan Kehadiran Kementerian Ziswaf Dengan terbentuknya kementerian ziswaf, pengelolaan dana sosial Islam tidak lagi menjadi isu pinggiran. Kementerian ini akan menjadi motor penggerak pemberdayaan ekonomi umat, khususnya bagi kelompok masyarakat miskin dan rentan. Program-program seperti pemberdayaan usaha mikro, bantuan pendidikan, layanan kesehatan gratis, hingga pengadaan rumah tinggal berbasis wakaf dapat dijalankan secara lebih sistematis. Kementerian ziswaf juga memungkinkan integrasi kebijakan antara zakat dan pajak secara harmonis, tanpa membingungkan masyarakat. Selama ini, ketidakhadiran lembaga resmi di level kementerian menyebabkan zakat seringkali dianggap sebagai opsi tambahan, bukan kewajiban agama yang memiliki dampak sosial langsung seperti pajak. Pembentukan kementerian ziswaf bukan sekadar simbolisme, tetapi kebutuhan nyata untuk menjawab berbagai tantangan dalam ekonomi syariah nasional. Indonesia tidak bisa terus bergantung pada lembaga sementara atau unit kecil di bawah kementerian lain dalam mengelola dana ziswaf. Dengan pembentukan kementerian ini, diharapkan Indonesia dapat menjadi contoh negara dengan sistem ziswaf yang kuat, transparan, dan berdampak besar pada kesejahteraan umat. Penulis : Ramadani Wahyu Editor : Iffah Faridatul Hasanah & Toto Budiman Baca juga ; Potensi ziswaf untuk perubahan iklim

Read More

Deep Learning Berbasis AI untuk Anak, Efektifkah dalam Pembelajaran?

Malang – 1miliarsantri.net :  Pendidikan di zaman yang kemajuan digital yang semakin meningkat ini menuntut terobosan baru agar siswa tidak hanya menghafal, melainkan mampu memahami makna dan menerapkan konsep dalam kehidupan. Di sinilah pentingnya deep learning, pendekatan pembelajaran mendalam yang bertujuan agar siswa tidak sekadar mengulang materi, tetapi benar-benar menginternalisasi pengetahuan dan bisa menghubungkannya dengan konteks nyata. Dengan dukungan teknologi kecerdasan buatan, kehadiran deep learning menawarkan potensi besar untuk meredefinisi ruang belajar sebagai tempat eksplorasi, kreativitas, dan pemikiran kritis, asal teknologi tersebut digunakan dengan kontrol, etika, dan penuh kesiapan. Deep Learning Membentuk Pemikiran Kritis Anak Perkembangan AI memungkinkan proses belajar menjadi lebih interaktif, personal, dan adaptif. Dalam model deep learning ini, sistem bisa mengidentifikasi pola kekuatan dan kelemahan individu siswa sehingga materi bisa disesuaikan. Studi yang menganalisis efektivitas deep learning di sekolah dasar menggambarkan bahwa pendekatan ini terdiri dari tiga pilar utama, yakni memahami diferensiasi belajar siswa, mengajak berpikir kritis dalam menyelesaikan masalah, dan suasana belajar yang menyenangkan agar siswa dapat mengingat kembali yang telah dipelajari. Dengan AI, kegiatan terkait berpikir kritis semakin dipermudah karena siswa bisa mendapatkan tantangan dan umpan balik segera, serta diarahkan untuk mencari solusi sendiri berdasarkan konsep yang dipelajari. Ini sangat berbeda dibanding proses hafalan statis sebab deep learning menuntut siswa aktif, bukan pasif. sangat bagus bukan untuk perkembangan pembelajaran anak kita? Etika Digital dalam Ruang Deep Learning Penelitian literatur juga menemukan aspek teknis deep learning dalam pendidikan digital seperti sistem pembelajaran adaptif, analisis emosi siswa realtime, chatbot pembelajaran, dan penilaian otomatis terhadap tugas berbasis teks. Tetapi sekaligus terungkap tantangan besar seperti ketidakmerataan akses teknologi di sekolah-sekolah, kesiapan guru, serta persoalan privasi dan etika penggunaan data siswa. Tanpa kontrol yang memadai, deep learning bisa menimbulkan ketergantungan pada sistem otomatis dan mengabaikan akal kritis manusia. Oleh karena itu, kontrol terhadap penggunaan AI sangat esensial agar deep learning berjalan sehat dan bermartabat. Studi Penelitian sebagai Bukti Kongkrit Deep Learning Beberapa studi empiris di Indonesia telah menguji efek nyata penerapan pendekatan deep learning. Selain studi mengenai pelatihan guru beserta perancangan pembelajaran mendalam, terdapat juga penelitian literatur sistematis yang mengevaluasi penerapan deep learning dalam pendidikan digital seperti sistem adaptif, chatbot, dan penilaian otomatis. Semua studi tersebut menunjukkan bahwa deep learning dapat meningkatkan kualitas pengalaman belajar, partisipasi siswa, dan efektivitas pengajaran selama infrastruktur memadai dan guru memiliki kompetensi digital yang cukup. Deep learning bukan sekadar istilah teknis, ia adalah model pembelajaran yang di dalamnya siswa akan dibimbing menjadi pelaku aktif, kritis, kreatif, dan mampu mengaitkan ilmu dengan kehidupan. Dengan kombinasi AI yang terkontrol, pelatihan guru, literasi digital, dan dukungan etika, deep learning bisa menjadi fondasi pendidikan masa depan. Agar tidak hanya menjadi jargon, implikasi penelitian harus dijadikan landasan kebijakan pendidikan. Tanpa persiapan dan kontrol yang matang, pemanfaatan AI justru dapat mereduksi nilai pembelajaran yang sesungguhnya. Oleh karena itu, pendidikan di Indonesia perlu menjadikan deep learning sebagai fokus nyata dalam transformasi digitalnya. Penulis : Ramadani Wahyu Foto Ilustrasi AI Editor : Iffah Faridatul Hasanah & Toto Budiman

Read More

Ziswaf untuk Perubahan Iklim: Potensi Solusi dari Filantropi Islam

Malang – 1miliarsantri.net : Isu perubahan iklim kini memasuki fase darurat yang membutuhkan solusi konkret dan kolaboratif. Negara-negara berkembang seperti Indonesia, yang rentan terdampak krisis iklim, masih menghadapi tantangan besar dalam memperoleh pembiayaan adaptasi dan mitigasi. Padahal ziswaf untuk perubahan iklim sangat berpotensi besar. Di tengah belum optimalnya dukungan negara maju, potensi ini menjadi alternatif dari dalam negeri namun belum dimaksimalkan dengan baik. Zakat, infak, sedekah, dan wakaf sebagai bagian dari filantropi Islam menawarkan solusi pendanaan yang tidak hanya etis dan inklusif, tetapi juga berkelanjutan secara sosial. Potensi Ziswaf untuk Perubahan Iklim di Indonesia Indonesia adalah negara dengan tingkat kedermawanan tinggi dan mayoritas penduduk Muslim. Berdasarkan data resmi, potensi zakat nasional bisa mencapai ratusan triliun rupiah per tahun. Di sisi lain, potensi wakaf tunai juga sangat besar. Namun, selama ini sebagian besar dana tersebut disalurkan untuk keperluan konsumtif, respons kebencanaan, dan pengentasan kemiskinan jangka pendek. Padahal, ziswaf untuk perubahan iklim membuka ruang baru untuk pembiayaan program jangka panjang yang fokus pada pelestarian lingkungan dan pemulihan sumber daya alam. Agar efektif, diperlukan transformasi dalam pendekatan pengelolaan ziswaf. Lembaga-lembaga filantropi Islam perlu mulai mengembangkan skema pembiayaan yang diarahkan untuk upaya mitigasi dan adaptasi iklim, seperti konservasi air, penghijauan, restorasi hutan, serta penggunaan energi terbarukan. Dengan memperluas definisi Asnaf yang relevan dengan dampak perubahan iklim seperti mereka yang kehilangan mata pencaharian akibat krisis lingkungan, ziswaf untuk perubahan iklim dapat diterjemahkan ke dalam program-program yang relevan dan kontekstual dengan kondisi Indonesia sebagai negara kepulauan yang rentan bencana. Strategi Implementasi Ziswaf untuk Perubahan Iklim Penerapan ziswaf untuk perubahan iklim memerlukan pendekatan kolaboratif antara lembaga zakat, pemerintah, komunitas lokal, dan sektor swasta. Program prioritas dapat mencakup rehabilitasi pesisir, penanaman mangrove, penguatan ketahanan masyarakat sekitar hutan, pengelolaan air permukaan, serta pengembangan infrastruktur hijau seperti rumah ibadah hemat energi dan sekolah ramah lingkungan. Dengan memanfaatkan wakaf produktif, lembaga filantropi dapat menciptakan program-program berkelanjutan tanpa bergantung pada donasi musiman. Perubahan paradigma dalam pengelolaan filantropi Islam akan sangat menentukan keberhasilan upaya adaptasi terhadap krisis iklim. Saatnya ziswaf untuk perubahan iklim tidak lagi diposisikan sebagai opsi pelengkap, melainkan sebagai salah satu pilar utama dalam strategi nasional menghadapi darurat iklim. Perluasan pemahaman masyarakat terhadap isu lingkungan juga penting agar partisipasi tidak sekadar berdasarkan kewajiban agama, tetapi juga kesadaran ekologis.Dengan menggali potensi zakat, infak, sedekah, dan wakaf secara maksimal dan mengarahkannya ke sektor lingkungan, Indonesia dapat menghadirkan solusi lokal terhadap tantangan global. Filantropi Islam dapat menjadi instrumen keuangan sosial yang strategis, tidak hanya untuk pengentasan kemiskinan tetapi juga dalam menjawab krisis iklim. Oleh karena itu, sudah saatnya ziswaf untuk perubahan iklim menjadi prioritas dalam agenda keumatan dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Penulis : Ramadani Wahyu Editor : Iffah Faridatul Hasanah & Toto Budiman

Read More