Derita Yang Dirasakan Jamaah Haji 2023

Makkah – 1miliarsantri.net : Permasalahan dalam pelaksanaan haji 2023 ternyata turut dialami jamaah haji khusus, terutama di tenda maktab di Mina. Para jamaah harus rela tidur berdesakan, makanan terlambat, hingga ada gangguan toilet mampet di tenda. Ada jamaah yang mengaku merasa tersiksa dengan kondisi tersebut. Namun, ada pula yang masih berbesar hati menerimanya dan menganggap permasalahan tersebut sebagai ujian dari Allah SWT. Tidur Berdesakan – Makanan Telat dan mendapati jamaah haji khusus di pemondokan Mina harus tidur berdesakan. Kondisi itu terlihat di maktab haji khusus untuk jamaah perempuan maupun laki-laki. Jamaah haji khusus terlihat harus tidur berdesakan dengan sesama jamaah maupun barang bawaan masing-masing. Kondisi itu juga membuat sejumlah jamaah harus tidur dalam satu alas tidur. Bahkan, sebagian jamaah lainnya harus terpaksa tidur di luar tenda yang beberapa di antaranya adalah jamaah lansia. Tampak pula koper-koper jamaah haji khusus yang tidak dimasukkan ke tenda. Tidak sampai di situ, salah seorang jamaah haji khusus juga mengaku kedatangan makanan kerap terlambat. Kalau makanan tersedia pun, gampang habisnya. “Padahal masih banyak yang belum makan,” katanya. Toilet MampetSatu toilet dengan 7-8 pintu di tenda maktab haji khusus di Mina sempat mampet selama berjam-jam sejak Rabu, (28/06/2023), malam. Imbasnya, air kotor meluber hingga ke tenda jamaah. Salah satu jamaah pun mengeluhkan kondisi ini hingga membuatnya harus menahan diri untuk buang air. “Ini sudah 4 kali bolak balik WC tapi tak pernah bisa masuk. Terpaksa dari tadi malam menahan buang air besar,” katanya. Di sisi lain, jamaah haji khusus lain yang bernama Ahmad masih mencoba berbesar hati mengalami permasalahan tersebut. Menurutnya, hal itu bisa jadi merupakan salah satu ujian dari Allah SWT. “Insya Allah ini salah satu ujian dari Allah, kalau Nabi Muhammad SAW ujiannya luar biasa, ini ujiannya belum ada apa-apanya dibanding ujian yang diterima Nabi Muhammad SAW dulu, belum ada tenda dan toilet,” tutur dia. Hal ini sudah dilaporkan pihak agen travel ke maktab namun berujung tanpa respons hingga Kamis, 29 Juni, pagi. Pada akhirnya, petugas baru terlihat menyedot kotoran yang mampet sekitar pukul 14.00 Waktu Arab Saudi (WAS). (dul)

Read More

MUI Jabar Minta Pemerintah Tegas Tutup Al Zaytun

Bandung – 1miliarsantri.net : Tidak ingin polemik Pondok Pesantren (Ponpes) Al Zaytun berlarut-larut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat menyatakan sejumlah rekomendasi terkait polemik Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Zaytun telah diserahkan kepada Menkopolhukam Mahfud MD. Rekomendasi itu mengacu pada temuan data dan fakta dari tim investigasi yang dibentuk oleh Gubernur Jabar Ridwan Kamil. “Alhamdulillah rekomendasi semuanya dari tim itu pertama diterima Pak Gubernur, kemudian Pak Gubernur menyampaikan ke Menkopolhukam,” kata Sekretaris MUI Jawa Barat, Rafani Achyar, kepada medis, Sabtu (1/7/2023). “Jadi baik yang menyangkut pemahaman agama maupun tindak pidana, termasuk administrasi penyelenggaraan sistem pendidikan,” jelasnya. Rafani menyebut, salah satu rekomendasi tersebut yakni penutupan Ponpes Al Zaytun jika terbukti melakukan pelanggaran-pelanggaran administratif. “Iyah (kalau terbukti ada pelanggaran), betul seperti itu (rekomendasi penutupan),” ungkapnya. Rafani menambahkan, Pimpinan Ponpes Al Zaytun, Panji Gumilang bakal dipanggil oleh Menkopolhukam pada Senin (3/7/2023). “Pak Menko merespons, sekarang sudah ada informasi bahwa hari Senin Panji Gumilang akan dipanggil,” ungkapnya. Karena itu, Rafani pun berharap, pemerintah pusat segera menuntaskan polemik Ponpes Al Zaytun untuk menghindari terjadinya kegaduhan yang berlanjut di masyarakat. “Karena paling tidak, kami khawatir kontroversi dia jalan terus dan makin mengundang kegaduhan. Komponen masyarakat kan terus akan melakukan demo. Nah jadi bagi kami gembira bahwa ini sudah mulai konkret akan ditindaklanjuti. Kita tunggu nanti hari senin,” katanya. Rafani juga menyampaikan bahwa rekomendasi sudah jelas, pemerintah supaya segera menangani secara konkret apa pun pelanggaran yang terjadi di Al Zaytun. (win)

Read More

MAS Memanfaatkan Limbah Kurban Untuk Kompos

Surabaya – 1miliarsantri.net : Pasca prosesi penyembelihan hewan kurban, biasanya menyisahkan banyak limbah maupun kotoran yang akibatnya membawa dampak pemandangan kotor dan juga bau yang tak sedap. Namun berbeda dengan yang dilakukan pengurus Masjid Nasional Al Akbar Surabaya (MAS). Mereka mengolah limbah dari penyembelihan hewan kurban menjadi kompos untuk tanaman. “Proses pengolahan limbah dan sekaligus memasak jeroan hewan qurban itu dilakukan di area Komposter MAS seluas 16m x 16m,” kata Humas MAS Helmy M Noor kepada 1miliarsantri.net, Sabtu (1/7/2023) Mereka menyediakan liang khusus yang digunakan sebagai komposter berukuran 3 x 3 meter dengan kedalaman 1,5m. Limbah-limbah hewan kurban itu pun langsung dimasukkan ke dalam liang tersebut. “Kami juga mencampurkan limbah itu dengan daun-daunan sampah tanaman yang ada di halaman masjid. Estimasi menjadi kompos sekitar 6 bulan,” imbuhnya. Helmy menambahkan, setelah dikemas, kompos tersebut selain untuk menyuburkan tanaman di kawasan Masjid Al Akbar juga diberikan kepada jamaah yang membutuhkan secara cuma-cuma alias gratis. “Jadi, kami pengyrus Masjid Al Akbar melakukan pelayanan yang bersifat one top service yang bebas pencemaran lingkungan (apalagi mencemari sungai). Sebaliknya justru bermanfaat untuk masyarakat, termasuk jeroan yang sudah dibersihkan dan dimasak setengah matang itu,” terangnya Sedangkan jeroan, setelah dibersihkan dari kotoran, dicuci dengan air mengalir 3 kali lalu dimasak setengah matang dalam 3 dandang ukuran besar. Setelah itu baru dibagi kepada penerima qurban dalam kemasan 1,5 kg bersama daging dan tulang. Saat Idul Adha, Badan Pelaksana Pengelola (BPP) MAS menerima sapi qurban dari Presiden, Gubernur dan Jamaah yang disembelih H+1 usai Sholat Idul Adha. Pelaksanaan sholat Idul Adha di MAS dihadiri sekitar 40 ribu jamaah, baik yang berasal dari dalam kota Surabaya, maupun jamaah luar kota yang memang ingin menunaikan sholat ied nya di MAS. Bertindak sebagai Khatib, Prof DR Ir KH Mohammad Nuh DEA, sedangkan imam dipimpin KH Abdul Hamid Abdullah (Imam Besar MAS). (pang)

Read More

Kemanakah Batu Kerikil Diletakkan Setelah Prosesi Lempar Jumrah

Makkah – 1miliarsantri.net : Salah satu rangkaian ibadah haji yang harus dilakukan oleh jamaah haji yakni prosesi lempar jumrah di Mina. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, sebanyak jutaan jamaah melakukan lempar jumrah di Mina, sebagai rangkaian ibadah haji setelah melakan wukuf di Arafah. Banyak orang bertanya-tanya kemana perginya batu kerikil setelah dilempar di kompleks Jamarat di Mina. Ahmed Al-Subhi, salah satu karyawan Perusahaan Pengembangan Kidana, yang merupakan pengembang utama situs suci dan berkantor pusat di Mina, mengungkapkan bahwa proses penanganan batu dimulai segera setelah jamaah menyelesaikan ritual mereka di kompleks tersebut. Dia menjelaskan, kerikil jatuh dan akhirnya mengendap di basement fasilitas Jamarat, hingga kedalaman 15 meter. Sejumlah sabuk konveyor mengumpulkan batu dan proses mulai menyaringnya dan menyemprotnya dengan air untuk menghilangkan kotoran. Kerikil tersebut kemudian dipindahkan ke kendaraan untuk disimpan nanti setelah musim haji. Saat musim haji tiba, para ahli memperkirakan kira-kira berapa ton kerikil yang dibutuhkan, disesuaikan dengan jumlah jamaah yang mengikuti ibadah haji. Pengembang tempat suci menyediakan kantong kerikil untuk dilemparkan ke Jamarat, dan sekitar 300 titik kontak tersedia untuk jamaah di Muzdalifah, selain fasilitas Jembatan Jamarat di Mina. Sekitar 2 juta jamaah haji tahun ini berjalan menuju kompleks bertingkat besar di Jamarat di Mina pada hari Rabu dari Muzdalifah, tempat mereka berkemah semalam. Di Mina inilah umat Islam melakukan ibadah lempar jumrah sebagai simbol melawan setan mencoba membujuk Nabi Ibrahim agar tidak tunduk pada kehendak Tuhan. Tujuh batu dilemparkan ke masing-masing dari tiga pilar untuk memperingati penolakan Nabi Ibrahim terhadap setan. (dul)

Read More

Kepulangan Jamaah Haji Dimulai Tanggal 4 Juli 2023

Makkah – 1miliarsantri.net : Kepulangan jamaah haji Indonesia ke tanah air akan dijadwalkan mulai 4 Juli 2023 dengan memberangkatkan kelompok terbang (kloter) pertama dari berbagai emberkasi di tanah air. Kesiapan kepulangan telah dilaksanakan para petugas haji dengan melakukan penimbangan koper jamaah. Penimbangan koper akan dilakukan dua hari sebelum keberangkatan jemaah, atau pada 2 Juli 2023. Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi pun mengingatkan, ada sejumlah ketentuan terkait barang bawaan yang harus dipahami jamaah, salah satunya batas berat barang bawaan yang diperbolehkan. Mereka juga meminta maskapai penerbangan, baik Garuda Indonesia maupun Saudia Airlines, untuk secara masif melakukan sosialisasi. “Selama ini, Kemenag sudah sejak awal memberikan pemahaman kepada jemaah tentang adanya ketentuan barang bawaan. Ada batas maksimal berat koper yang hanya 32kg. Ada juga sejumlah barang yang dilarang untuk dibawa,” jelas Ketua Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 1444 H/2023 M Subhan Cholid kepada media, Jumat (30/06/2023). Jamaah haji yang berangkat pada gelombang pertama mendarat di Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMAA) Madinah. Mereka akan pulang dari Bandara King Abdul Aziz Jeddah. Total ada 263 kloter yang akan pulang melalui Jeddah. “Jamaah haji gelombang kedua yang mendarat di Jeddah, termasuk 13 kloter kuota tambahan yang mendarat di Madinah, akan pulang melalui Bandara AMAA Madinah,” imbuhnya. Pemulangan jamaah haji dilakukan setelah mereka menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah haji, sedangkan jamaah yang akan pulang ke tanah air pada 4 Juli 2023, dihimbau melakukan nafar awal. Sehingga proses mabit di Mina dan lontar jumrah selesai 30 Juni. Mereka selanjutnya melakukan tawaf ifadah. “Nafar awal adalah jamaah yang mengambil pilihan untuk keluar dari Mina pada 12 Zulhijah sebelum terbenamnya matahari. Bagi jamaah yang akan tetap menginap sampai 13 Zulhijah, disebut Nafar Tsani,” tandasnya. (dul)

Read More

Asal Usul Hari Tasyrik

Yogyakarta – 1miliarsantri.net : Hari tasyrik adalah hari di mana umat Islam masih diperbolehkan menyembelih hewan kurban. Hari tasyrik jatuh setelah hari raya Idul Adha (10 Dzulhijjah), yaitu tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah. Tasyrik dalam bahasa Arab berasal dari kata syarraqa, yang artinya matahari terbit atau menjemur sesuatu. Tasyrik juga dapat diartikan dengan penghadapan ke arah timur (arah sinar matahari), seperti dijelaskan dalam laman Universitas Insan Cita Indonesia (UICI). Ada beberapa versi penamaan hari Tasyrik menurut pendapat ulama, berikut ini penjelasannya. Syekh Ibnu Manzur (711 H) dalam magnum opusnya “Lisan al-Arab” menyebutkan terdapat perbedaan pendapat Ulama tentang alasan perbedaan penamaan tasyrik. Kedua pendapat tersebut sebagai berikut: Penamaan hari tasyrik ini disebut karena merujuk pada kebiasaan masyarakat Arab pada zaman dulu. Mereka menjemur daging qurban mereka untuk dibuat dendeng. Pendapat tersebut disandarkan pada masa Rasulullah SAW yang belum ada teknologi pendingin seperti kulkas. Sehingga, masyarakat saat itu menjemur daging qurban agar dapat menyimpannya dalam waktu lama. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Tasyrik juga dapat diartikan sebagai penghadapan ke arah timur atau arah sinar matahari. Istilah ini merujuk pada penyembelihan qurban yang dilakukan setelah matahari terbit. Pada hari Tasyrik, setiap muslim diperbolehkan untuk melaksanakan ibadah apapun kecuali berpuasa. Mengapa Umat Islam Dilarang Puasa saat Hari Tasyrik? Hari tasyrik memiliki beberapa kesamaan dengan Idul Adha. Di antaranya, tentang penyembelihan hewan kurban, larangan berpuasa, dan anjuran bertakbir. Larangan puasa di hari Tasyrik disebabkan waktu tersebut sangat dianjurkan untuk menikmati berbagai hidangan dan olahan dari daging qurban. Soal larangan berpuasa ini, ada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari: “Dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma, keduanya berkata: “Tidak diperkenankan untuk berpuasa pada hari tasyrik kecuali bagi siapa yang tidak mendapatkan hewan kurban ketika menunaikan ibadah haji.” (HR. Bukhari, no. 1859). Selain itu, hari Tasyrik juga disebut juga dengan hari untuk makan dan minum. Rasulullah bersabda: عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ يَوْمَ عَرَفَةَ وَيَوْمَ النَّحْرِ وَأَيَّامَ التَّشْرِيقِ عِيدُنَا أَهْلَ الْإِسْلَامِ وَهِيَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ “Dari Uqbah bin Amir, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Hari Arafah, hari Idul Adha, dan hari Tasyrik adalah hari raya kita pemeluk agama Islam, serta merupakan hari-hari untuk makan dan minum.” (HR. An-Nasa’i, no. 2954) Umat Islam juga dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah seperti berdzikir, berdoa, serta menyembelih hewan qurban saat hari Tasyrik, dikutip dari MUI. Perintah berqurban terdapat pada surat al-Kautsar ayat 2: فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ “Maka, laksanakanlah shalat karena Tuhanmu dan berqurban lah!” Amalan-amalan Hari Tasyrik Berikut ini beberapa amalan yang dapat dikerjakan oleh umat muslim saat hari tasyrikm dikutip dari Kemenag NTB: Bagi umat muslim yang mampu berkurban maka dapat melaksanakan penyembelihan kurban. Daging hewan kurban nantinya dapat dibagikan kepada orang-orang disekitarnya. Penyembelihan hewan kurban ini dapat dilaksanakan pada tanggal 10, 11, 12, 13 Dzulhijjah. Hewan yang akan dikurbankan juga harus memenuhi syarat, seperti hewan berkualitas baik, berisi, tidak sakit, tidak cacat, cukup umur, dll. Pada hari tasyrik, umat Islam dilarang berpuasa dan harus menikmati makan dan minum. Hal ini bertujuan agar semua umat Islam dapat menikmati daging dari hewan yang disembelih sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW yang artinya: “Hari-hari tasyrik adalah hari menikmati makanan dan minuman.” Selain itu, umat Islam diharamkan untuk berpuasa selama hari Idul Adha dan hari tasyrik. Dari riwayat Abu Hurairah RA, Rasulullah mengutus Abdullah bin Hudzaifah untuk mengelilingi Kota Mina dan menyampaikan: “Janganlah kamu berpuasa pada hari ini (tasyrik) karena ia merupakan hari makan, minum, dan berdzikir pada Allah.” Umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak dzikir dan takbir pada malam 10 Dzulhijjah dan hari tasyrik. Dalil keutamaan untuk bertakbir pada hari raya hingga tiga hari tasyrik bersumber dari Al-quran dan Hadits nabi Muhammad SAW. (yus)

Read More

Komunitas Ojol Banten Bagikan Daging Kurban

Lebak – 1miliarsantri.net : Dalam suasana yang dipenuhi kekhidmatan dan keberkahan di Hari Raya Idul Adha 1444 Hijriah, beberapa orang yang tergabung dalam Komunitas Ojek Online (Kajol) Indonesia berbagi kebaikan dengan menyediakan 15 hewan kurban untuk disembelih, dan dibagikan kepada para driver ojol dan masyarakat di wilayah Lebak, Banten. Juru bicara Kajol Indonesia, Risnandar menuturkan hewan kurban yang disembelih terdiri dari satu ekor sapi dan 14 ekor kambing. Penyembelihan dilakukan di Graha Serba Guna As-Sakinah, Cibadak, Lebak, Banten, Kamis (29/6/2023). “Kami mengadakan kegiatan Kajol berbagi kurban. Kami membawa (menyembelih) hewan kurban 14 kambing dan satu sapi,” kata Risnandar kepada media, Jumat (30/6/20203). Menurutnya, kegiatan ini sebagai wujud solidaritas dan kepedulian Kajol terhadap para ojol dan masyarakat yang membutuhkan. Selain dari implementasi dari ajaran agama Islam dalam perayaan Hari Raya Idul Adha. “Ini bentuk kepedulian kami terhadap teman-teman, khususnya driver ojol dan masyarakat sekitar yang membutuhkan. Alhamdulilah, peserta banyak dan memang Insyaallah tepat sasaran manfaatnya,” kata Risnandar. Melalui kegiatan berbagi daging kurban ini, Kajol Indonesia berhasil menguatkan ikatan solidaritas di antara driver ojol dan masyarakat. Mereka berkomitmen untuk terus melaksanakan kegiatan sosial dan kemanusiaan yang dibutuhkan driver ojol dan masyarakat umum. Para ojol yang hadir pada acara tersebut mengungkapkan rasa syukur dan kebahagiaan mereka dapat berpartisipasi dalam kegiatan sosial ini. Mereka merasa dihargai dan terinspirasi oleh dedikasi Kajol Indonesia dalam memberikan kontribusi positif kepada masyarakat. “Wah ini sangat mewah, bermanfaat banget, acara ini sangat sukses pokoknya. Saya melihat dari lokasi, dan juga melihat dari banyaknya kurban, mantap dan pesertanya banyak. Semoga yang dapat kurban berkah, yang memberi kurban dapat berkah dan dapat pahala,” ujar Bimbo (32) salah seorang driver ojol, Bimbo. Dalam kurban, proses penyembelihan sapi dan kambing dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan mengikuti tata cara yang ditetapkan dalam agama. Tim yang terlatih dan berpengalaman melaksanakan tugas ini dengan memastikan bahwa setiap hewan disembelih secara halal. Setelah proses penyembelihan selesai, daging kurban diolah dan dikemas dengan rapi. Bagian-bagian daging seperti daging utama hingga tulang dipersiapkan untuk distribusi kepada para ojol yang hadir di lokasi, yang tidak dapat hadir, dan masyarakat. Para ojol yang datang ke lokasi acara dengan gembira menerima bagian daging kurban yang disiapkan. Kemasan yang rapi dan terorganisir memudahkan proses distribusi, sehingga setiap ojol dapat membawa pulang bagian daging kurban untuk keluarga mereka. Adapun, hewan-hewan kurban, khususnya sapi yang dipotong ini sudah dijamin kesehatannya oleh Pemerintah Kabupaten Lebak, Banten. Hewan ternak besar yakni kerbau dan sapi terbebas dari penyebaran virus lumpy skin disease (LSD) atau virus yang menyebabkan penyakit kulit berbenjol. Pemerintah Kabupaten Lebak sendiri gencar melakukan pemeriksaan kesehatan hewan ternak besar untuk mencegah penyakit virus LSD. Pemeriksaan kesehatan hewan ternak langsung ke pemilik ternak rakyat, terlebih saat ini menjelang Idul Adha 2023. Populasi ternak kerbau dan sapi di Kabupaten Lebak berkembang guna meningkatkan perekonomian masyarakat setempat. Bahkan, ternak besar dari Kabupaten Lebak banyak permintaan dari luar daerah untuk Lebaran kurban dengan harga bervariasi antara Rp18-32 juta/ekor sapi atau kerbau. Berdasarkan data populasi kerbau tahun 2022 sekitar 19 ribu ekor dan sapi empat ribu ekor milik peternak rakyat. (kiu)

Read More

Proses Lempar Jumrah Telah Selesai

Jakarta – 1miliarsantri.net : Bagi jamaah yang merencanakan Nafar Awal dapat meninggalkan Mina untuk kembali ke hotel setelah selesai menjalani lempar jumrah dan tahalul awal. Nafar Awal adalah jamaah yang mengambil pilihan untuk keluar dari Mina pada 12 Zulhijah sebelum terbenamnya matahari. “Keberangkatan dari Mina menuju hotel di Makkah, dimulai dari pagi hari hingga selesai. Jemaah akan dijemput di tenda dan diantar ke hotel masing-masing di Makkah,” terang Juru Bicara PPIH Pusat Akhmad Fauzin di Jakarta, Jumat (30/6/2023). Setibanya di hotel, pemerintah mengimbau jamaah agar beristirahat penuh terlebih dahulu untuk memulihkan stamina sebelum menyelesaikan rangkaian rukun dan wajib haji lainnya yaitu Thawaf Ifadlah dan Sa’i di Masjidil Haram dilanjutkan Tahallul Tsaani/Kedua. “Rangkaian Thawaf Ifadhah dan Sa’i membutuhkan ketahanan fisik yang prima, terlebih bagi jemaah lansia dan risiko tinggi (risti),” kata Fauzin. “Jamaah agar istirahat hingga bus shalawat yang akan membawa jamaah dari hotel ke Masjidil Haram pergi pulang kembali beroperasi. Bus shalawat akan mulai beroperasi kembali pada 14 Zulhijjah 1444H atau 2 Juli 2023. Layanan katering pada hotel di Makkah akan mulai diberikan kembali pada 16 Zulhijjah 1444H atau 4 Juli 2023,” ujar dia. Seiring dengan jamaah menyelesaikan lontar jumrah, kondisi Masjidil Haram akan mulai dipadati jamaah dari berbagai negara. Karenanya, kata Fauzin, PPIH mulai mengoptimalkan Petugas Sektor Khusus di Masjidil Haram untuk bersiap di posnya masing-masing untuk memberikan pelayanan dan penjagaan kepada jamaah yang menjalani Ifadhah dan Sa’i. “Kepada para petugas kloter terutama para pembimbing ibadah kloter, agar memastikan seluruh jamaah yang tergabung dalam kloternya telah menyelesaikan lontar jumrah, termasuk jamaah yang harus dibadalkan lontar jumrahnya,” ucapnya. “Pemerintah mengimbau jemaah agar bijak dan lebih mengutamakan keselamatan dan kesehatan masing-masing, sehingga pelaksanaan Thawaf Ifadhah dan Sa’i nanti dapat terlaksana dengan aman dan lancar,” imbau Fauzin. Ditambahkan Fauzin, sampai dengan hari ini, total jamaah yang wafat sebanyak 220 orang, dengan rincian jamaah yang wafat di Arafah 12 orang, di Mina 30 orang, di Makkah sebanyak 140 orang, di Madinah sebanyak 35 orang, dan Jeddah sebanyak 3 orang. (wink)

Read More

Pengorbanan Iman dan Darah

Surabaya – 1miliarsantri.net : Ritual pengorbanan adalah salah satu dari ritual yang sudah sangat tua dalam sejarah manusia. Ritual ini ditemukan di berbagai tradisi keagamaan berbagai suku. Hubungan antara manusia dengan Zat yang diyakini sebagai Maha Kuasa ditandai dengan ritual persembahan dari barang-barang yang dimiliki manusia, baik hewan, hasil pertanian, bahkan manusia. Di dalam ritual pengorbanan masa lalu, terutama pengorbanan hewan dan manusia, darah adalah intinya. Darah diyakini sebagai inti kekuatan hidup yang disucikan. Melalui darah yang dialirkan, tuhan menjadi hidup, dan karenanya, manusia dan alam juga hidup. Potensi yang diyakini ada di dalam darah korban digunakan untuk berbagai tujuan. Intinya adalah dewa atau tuhan harus “disuap” agar dia berbaik-baik pada manusia. Jika tidak memberi berkah, setidaknya sang dewa tidak memusuhi manusia dan berbuat aneh-aneh yang mengakibatkan bencana. Berbagai kajian sejarah dan antropologi mencatat bahwa berbagai ritual korban di masa lalu berkaitan dengan kesuburan, penyucian, dan penebusan dosa. Korban persembahan harus disesuaikan dengan selera dewa atau tujuan dari pelaku ritual. Dewa tertentu hanya cocok dengan kurban tertentu. Misalnya, dalam ritual korban kaum Vedic, Dewi Malam dan Pagi diberi persembahan susu sapi hitam yang memiliki anak berwarna putih. Dewa Indra mendapat persembahan sapi, sedang Dewa Surya mendapat persembahan kambing jantan putih. Di masyarakat Yunani Kuno, binatang berwarna hitam dipersembahkan bagi para Dewa Dunia Kegelapan. Kuda-kuda yang berlari cepat disembelih untuk dipersembahkan pada Dewa Matahari, Helios. Babi yand sedang hamil dipersembahkan pada ibu bumi, Demeter. Itulah beragam catatan sejarah tentang ritual korban yang seluruhnya dipersembahkan untuk dewa atau tuhan. Tuhan diperlakukan sebagai monster serakah yang kelaparan dan minta dipuasi dengan minum darah persembahan. Tuhan dilukiskan sebagai raksasa pemarah yang selalu mengancam kehidupan manusia. Amarahnya hanya bisa diredam melalui persembahan korban. Tidak cukup dengan darah binatang, bahkan ada beberapa dewa yang begitu kejamnya hingga minta darah anak laki-laki terbaik atau perawan yang belum terjamah tangan lelaki. Idul Adha yang merupakan momentum ibadah korban merevolusi konsep ritual korban ini. Ketika Nabi Ibrahim, Bapak Tauhid bagi umat Yahudi, Nasrani, dan Muslim, hendak mengorbankan putra tercintanya, Ismail (atau Ishak), Allah menggantinya dengan seekor domba. Anda boleh memiliki tafsir apapun tentang kisah Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan putranya atas nama ketundukan pada Allah. Tapi pada akhirnya, Allah mengganti sang putra dengan seekor domba. Ketika domba tersembelih, binatang itu tidak disajikan untuk dinikmati Allah, tapi untuk dinikmati manusia. Allah tidak mengunyah daging domba dan ketika haus meminum habis darahnya. Ketika Allah meminta manusia untuk berkorban, yang dia minta dari hamba-Nya adalah keimanan dan ketakwaan pada-Nya. Konsep keimanan dan ketakwaan dalam ibadah korban tidak diwujudkan dengan memberi daging dan darah pada Allah. Alih-alih meminta daging dan darah, yang diperintahkan Allah pada hamba-Nya adalah berbagi dengan orang-orang tak mampu. Berbagi dengan mereka yang tersingkirkan, yang menikmati setusuk sate adalah sebuah kemewahan, di saat segelintir orang bisa menggelar pesta yang berharga milyaran. Dalam surah al-Hajj ayat 37, Allah berfirman: “Daging dan darah korban itu sekali-kali tidak akan sampai pada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu.” Ayat ini didahului dengan ayat yang menjelaskan di mana daging hewan korban itu untuk dibagikan kepada orang yang tak mampu. Sekalipun, bisa juga dimakan oleh orang yang berkecukupan. Inti ibadah korban adalah berbagi dengan orang lain. Allah tak kelaparan hingga membutuhkan daging. Allah juga bukan drakula yang mulutnya berlepotan darah. Agama ini diturunkan tidak untuk memuasi kelaparan Allah. Perintah menyembelih binatang korban dalam Islam bukanlah ritual persembahan darah. Ini adalah pembuktian keimanan dan ketakwaan. Dan, bukti keimanan dan ketakwaan itu adalah dengan mewujudkan kasih sayang dan berbagi kebahagiaan dengan mereka yang dirundung kemalangan. Dengan mengambil pelajaran dari Gus Dur bahwa “Tuhan Tak Perlu Dibela”, kita bisa memahami bahwa Tuhan tak perlu diberi makan karena Dia tak pernah kelaparan. Tuhan tak perlu disiapkan hidangan minuman darah karena Dia tak pernah kehausan. Yang butuh bantuan makanan dan minuman adalah mereka yang kelaparan. (ard)

Read More

Heatsroke Banyak Dialami Jamaah Haji Indonesia

Makkah – 1miliarsantri.net : Setelah menjalani prosesi puncak ibadah haji di Arafah, sebanyak 56 orang jamaah haji Indonesia dirawat di RSAS yang berada di Mina Al Wadi termasuk di Mina Azzasir. Sementara jamaah haji yang diobservasi di rumah sakit Mina ini ada 189 orang. “Ini merupakan data hari kedua dari tanggal 28 Juni selama jamaah berada di Mina. Penyebab terbanyak itu penyakit heatstroke. Mereka rata-rata berusia di batas 55 tahun,” terang Kasi Kesehatan Satgas Mina Thafsin Alfarizi, Rabu (29/6/2023). Thafsin menyebut, ada tiga jenis penyakit yang menyerang jamaah. Di antaranya, heatstroke sebanyak 39 jamaah, penyakit pernapasan sebanyak 19 orang, dan kelelahan 17 orang. “Ini adalah penyakit tiga terbesar dari angka kunjungan pos pelayanan selama dua hari di Mina hingga pukul 10.00 ini,” ucapnya. Tahfsin menjelaskan, jamaah haji heatstroke karena kena sengatan atau terpapar cukup lama panas tanpa menggunakan pelindung diri dan juga kurangnya cairan. “Imbauan untuk melontar sebaiknya ikutilah aturan yang sudah diatur pemerintah Indonesia, jam-jam tertentu sehingga untuk kepadatan maupun cuaca apabila ada cuaca cukup panas menggunakan penutup kepala atau payung kemudian kaca mata,” katanya. Selain itu, kata Thafsin, jangan lupa minum oralit dengan air sebanyak 300 ml sekali dalam sehari sebelum pergi. “Siapkan minum selama di perjalanan dan semprotan-semprotan yang mungkin bisa mengurangi dehidrasi selama melempar di jamarat. Ya itu jadi pemicu heatstroke,” sambungnya. Untuk itu, Thafsin menyarankan agar jamaah yang tidak bisa melontar jumrah karena kondisi kesehatan sebaiknya dibadalkan saja. (dul)

Read More