UAH : Kekayaan Abdurrahman bin Auf Mencapai Rp 7.200 Triliun

Jakarta — 1miliarsantri.net : Diantara sekian banyak sahabat Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam, Abdurrahman bin Auf adalah salah satu sahabat Nabi yang dikenal paling kaya di masa tersebut. Ia bisa menjadi kaya karena kepandaian dan kepiawaiannya dalam mengelola bisnis dan berbagai macam usaha nya. Kekayaan Abdurrahman bin Auf yang melimpah, membuat Ustadz Adi Hidayat (UAH) menyebutnya “orang yang kebangetan kaya”. Bahkan, harta Abdurrahman bin Auf bila dikonversikan dengan nilai saat ini bisa mengalahkan kekayaan Elon Musk dan Jeff Bezos. UAH menyampaikan, kekayaan milik Abdurrahman bin Auf jika dikonversi dengan nilai mata uang Indonesia bisa mencapai Rp 72.000 triliun. “Saking kaya bangetnya Abdurrahman bin Auf, kebangetan kayanya. Saya konversi nilai kekayaannya, kalau dulu dikonversi ke sekarang, itu jumlahnya Rp72.000 triliun,” terang UAH. Sementara kekayaan Elon Musk, CEO Tesla, hanya berjumlah Rp3.000 triliun. Itu pun kekayaannya baru mengalami penurunan menjadi Rp2.800 triliun. Begitu pun dengan Jeff Bezos, pendiri Amazon, dengan kekayaan mencapai Rp1.800 triliun. “Orang paling kaya sekarang, (kekayaannya) Rp3.000 triliun. Abdurrahman bin Auf, Rp72.000 triliun. Kebangetan nggak tuh?” lanjut UAH. Meski demikian, Abdurrahman bin Auf dikenal sangat dermawan dan sering memerdekakan budak, sehingga bisa dikata dibalik kekayaan nya, Abdurrahman bin Auf tidak pernah memandang remeh orang lain dan kerap bersedekah. (tin)

Read More

Tafsir Al-Qur’an dan Lanskap Kejawaan adalah Transmisi dan Strategi Budaya

Surakarta – 1miliarsantri.net : Melatar belakangi banyak nya terdapat karya tafsir Al-Qur’an yang diterjemahkan dan ditulis dalam bahasa Jawa. Namun sayangnya luput dari perhatian para peneliti, terlebih peneliti Barat. Padahal karya-karya itu memiliki kedalaman dan kekhasan. Hal itu menjadi pandangan sekaligus Pidato yang disampaikan Islah Gusmian bertajuk “Tafsir Al-Qur’an dan Lanskap Kejawaan: Resepsi, Transmisi dan Strategi Budaya”. Dekan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah UIN Raden Mas Said Surakarta itu dikukuhkan sebagai guru besar dalam bidang Ilmu Tafsir. “Al-Qur’an harus dipahami pesan-pesannya, bagaimana pergumulan yang terjadi, sejauh mana nilai dan tradisi Jawa berperan dalam membangun dan menghasilkan suatu tafsir serta bagaimana nilai-nilai Jawa dibawa dan Al-Qur’an diresapi, menjadi hal-hal yang menarik dikaji,” terang Islah dalam pidato pengukuhan nya sebagai Guru Besar ke-16 UIN Raden Mas Said Surakarta. Islah mengisahkan perhatiannya pada karya-karya mufasir yang mempublikasikan tafsir Al-Qur’an dengan sejumlah perangkat kebudayaan (bahasa) Jawa. Ia menyebut sejumlah nama: Kiai Salih bin Umar al-Samarani (1820-1903), Kiai Imam Ghozali Solo (1887-1969), ST. Cahyati, Raden Muhammad Qamar/Tafsir Anom V (1854-1927), Raden Muhammad Adnan (1889-1969), Bagus Ngarpah, Munawar Chalil (1908-1961), Kiai Bisri Mustafa (1916-1994), Kiai Mujab Mahalli (1958-2003), Bakri Syahid (1918-1994) hingga Kiai Shodiq Hamzah. Dalam pidatonya, Islah menceritakan minat dan ketertarikannya akan naskah-naskah tafsir Al-Qur’an berbahasa Jawa sejak ia menjadi dosen di UIN Surakarta. Hubungan antara Al-Qur’an dan tafsir dengan ruang batin Jawa yang terabaikan di tradisi akademik menjadi kegelisahan Islah. Ia pun mendirikan Pusat Kajian Naskah dan Khazanah Islam Nusantara di kampusnya. Islah lantas mengumpulkan satu persatu naskah keagamaan hingga mencapai ribuan untuk ia dokumentasi, digitalisasi dan teliti. Salah satu hasil dari ketekunannya adalah karya disertasi pada tahun 2014 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tentang dialektika tafsir Al-Qur’an dan praktik politik rezim Orde Baru (1968-1998). “Dalam riset itu saya menunjukkan bahwa sebagai produk ilmu pengetahuan, penafsiran Al-Qur’an dipengaruhi oleh banyak faktor, di antaranya adalah faktor genealogi pengetahun penafsir, audiens, konteks sosial politik ketika tafsir ditulis dan dipublikasikan. Ada pengaruh latar belakang, peran sosial, budaya, dan politik penafsir,” ucap Islah. Dalam kajian tafsir Al-Qur’an yang menjadi pusat kajian tidak hanya pada teks (Al-Qur’an). Sejak era klasik, selain memahami dan mengacu teks Al-Qur’an dengan segala sistem kebahasaan di dalamnya, dalam penafsiran diperlukan juga pemahaman atas konteks di luar teks, baik konteks mikro (audien dan objek yang diajak berbicara saat teks Al-Qur’an diwahyukan kepada Nabi Muhammad) maupun konteks makro (kondisi sosial, budaya dan politik masyarakat Arab), serta konteks sejarah sosial-budaya ketika penafsiran dilakukan. Di Jawa, penafsiran ayat Al-Qur’an telah lama dilakukan oleh para ulama. Dapat kita tengok misalnya naskah koleksi Syaikh Akhmad Mutamakkin (1645-1740) yang disebut Naskah Kajen. Naskah tersebut ditulis dengan aksara Pegon dan teknik makna gandul. Kita catat pula kontribusi Kiai Bagus Ngarpah yang mengelola madrasah Manbaul Ulum Surakarta, yang menerjemahkan tafsir Al-Jalalain dan menerjemahkan Al-Qur’an dalam Bahasa Jawa aksara Carakan berjudul Quran Jawen. Usaha Kiai Bagus Ngarpah disponsori Perkumpulan Sastrawan Waradama dan dibiayai Keraton Surakarta. Pada perkembangan berikutnya, kita dapat cermati Tafsir Soerat Wal ‘Asri karya St Chayati di Tulungagung yang dicetak oleh Penerbit Worosoesilo Surakarta pada 1925. Juga Tafsir Al-Qur’an Lengkap karya Moh Amin bin Ngabdul Muslim yang dicetak Penerbit Siti Sjamsijah Solo tahun 1932-1935. Kedua karya tersebut ditulis dalam aksara Carakan. Penerbit Siti Sjamsijah Solo juga menerbitkan Quran Jawen dan Tafsir Qur’an Pandam lan Pandoming Dumadi tahun 1928-1930. Masih di Solo, Imam Ghozali bin Chasan Oestadz (guru di madrasah Manbaul Ulum Surakarta) menerbitkan Tafsir Al-Balagh (1938) dengan aksara Pegon dan latin. Tafsir tersebut dipublikasikan dalam bentuk booklet secara serial serta dicetak dan diterbitkan Toko Kitab Al-Ma’moerijah Sorosejan Solo. Penulisan tafsir Al-Qur’an Bahasa Jawa berjalan dinamis dari masa ke masa. Pada kahir 1970-an, Dja’far Amir, guru di sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA), sekarang MAN 2 Surakarta, menerbitkan Al-Huda: Tafsir Al-Qur’an Basa Jawi. Cetakan pertama tafsir ini bertahun 1972. Terbaru, pada 2019, Kiai Shodiq Hamzah Usman menulis tafsir Al-Bayan fi Ma’rifati Ma’ani al-Qur’an dan terbit tahun 2020 di Yogyakarta. “Al-Qur’an dan Islam diresepsi, diadopsi, diadaptasi dan ditransformasikan para ulama di Jawa secara dinamis dan kreatif dalam ruang batin dan kesadaran masyarakat. Jowo digowo, Arab digarap, Barat diruwat mencerminkan praktik tersebut. Jowo digowo mengandung pesan jangan pernah meninggalkan nilai dan tradisi baik yang telah hidup dalam kesadaran mayarakat Jawa. Arab digarap artinya segala yang datang dari Arab sebaiknya dipelajari, dimengerti dan dipahami terlebih dahulu dengan baik. Sedangkan Barat diruwat artinya segala hal yang mengalir dari Barat selaiknya dipilah dan dipilih yang sesuai nilai kehidupan masyarakat. Dan para penulis tafsir Al-Qur’an Jawa telah membuktikannya secara elegan dalam beragam tafsir Al-Qur’an yang mereka tulis,” tutup Islah. (bib)

Read More

KH Nasaruddin Umar : Generasi Muda Sekarang Harusnya Meniru Apa Yang Pernah Dilakukan Nabi Muhammad SAW

Jakarta — 1miliarsantri.net : Generasi muda di jaman sekarang ini harusnya bisa mencontoh apa saja yang pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW saat masih muda. Terlahir sebagai anak Yatim Piatu, namun memiliki pribadi dan sosok yang kuat dan amanah. Kuat dan amanah merupakan dua karakter yang saling berkaitan. Demikian uraian Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, KH. Nasaruddin Umar dalam dalam sebuah Kajian seusai sholat Subuh di Masjid Istiqlal Jakarta, Minggu (30/07/2023) “Sesungguhnya yang paling pantas untuk dipekerjakan adalah orang yang terpercaya (menjaga amanah) dan kuat. Al-amin (orang terpercaya) tanpa Al-Qawiyyu (kuat) tidak menjanjikan, begitupun sebaliknya,” ungkap KH Nasaruddin. KH Nasaruddin menambahkan, antara kejujuran dan kekuatan dapat menimbulkan sinergi, sehingga bisa membentuk suatu kekuatan bagi pemuda dalam memimpin organisasi, ataupun berperan di barisan dakwah. “Sinergi antara al-amin dan al-qawiyyu akan menjanjikan, sehingga jadilah al-amin dan al-qawiyyu, agar memiliki power,” lanjut KH Nasaruddin. Dia mengajak para pemuda untuk meniru Rasulullah SAW yang mendapat gelar Al-amin sebelum beliau diangkat menjadi rasul. Dia juga memaparkan latar belakang Rasulullah SAW diberi gelar Al-Amin, yaitu saat beliau dimintai pendapatnya terkait pemindahan Hajar Aswad. “Mari kita contoh seorang pemuda yang namanya Muhammad. Beliau sudah mendapat gelar Al-amin saat belum dewasa,” ujarnya. Saat itu terjadi banjir besar di Mekkah. Rasulullah SAW berusia 35 tahun. Kaum Quraisy bermaksud membangun kembali Kabah yang hancur setelah diterjang banjir. Ketika pembangunan Kabah telah selesai, terjadi perselisihan mengenai pihak yang berhak meletakkan Hajar Aswad. Semua kabilah bertekad bisa meletakkan Hajar Aswad. Kemudian Abu Umayyah bin Mughiroh sebagai orang tertua di antara semua kabilah menawarkan jalan keluar. “Barangsiapa yang pertama kali masuk melalui pintu as-Shofa maka ialah yang berhak untuk mengambil kebijakan tentang peletakkan Hajar Aswad tersebut,” katanya. Ternyata Allah SWT menakdirkan orang yang pertama kali memasuki pintu masjid adalah Rasulullah SAW. Ketika melihat Rasulullah SAW, mereka berkata, “Ini adalah al-Amin dan kami ridho terhadap keputusannya.” Mereka pun menjelaskan apa yang terjadi kepada Nabi Muhammad. Kemudian dengan kebijaksanaannya, Nabi Muhammad meminta kain lalu mengangkat Hajar Aswad ke atas kain tersebut dengan tanggannya. Setelah itu, beliau meminta setiap pemimpin kabilah untuk memegang ujung kain tersebut dan bersama-sama mengangkatnya menuju tempat Hajar Aswad. Nabi Muhammad mengangkat Hajar Aswad dari kain lalu meletakkannya di tempat semula. Itulah sosok Al-amin yang bijaksana, sosok tauladan bagi seluruh manusia, Rasulullah SAW. Dari peristiwa di atas juga, KH Nasaruddin berpesan agar menjadi pemuda yang dapat berpikir melampaui zamannya. “Kedepan biasakan diri untuk berpikir yang beragam. (Kalau) macet opsi satu, siap opsi kedua. Loncati masa depan lebih cepat, waktu umur muda, tapi wawasannya sudah dewasa,” pumgkasnya. (rid)

Read More

13 Tokoh Ulama Bawean Yang Dikenal Masyarakat

Gresik — 1miliarsantri.net : Sebenarnya banyak ulama Bawean zaman dulu yang berperan dalam mensyiarkan agama Islam, baik di Bawean maupun di luar Bawean. Namun, hanya ada 13 ulama Bawean yang fotonya ditemukan dan berhasil ditelusuri jejak kehidupannya. Dalam sejarah Bawean sendiri telah terekam para ulama besar yang lahir di pulau kecil ini. Semua ini berkat penelitian yang dilakukan sejarawan Islam-Bawean, Burhanuddin Asnawi dan kita harus berterima kasih kepada. Dia adalah putra Bawean asli yang telah berhasil menulis biografi para ulama Bawean, termasuk yang berkiprah hingga ke Tanah Suci Makkah. Para ulama tersebut adalah sebagai berikut : Ulama Bawean generasi pertama ini muncul pada abad ke-19 M. Dia adalah seorang alim yang lahir di Pulau Bawean sekitar 1820-an. Ibunya berasal dari Bawean, sedangkan ayahnya berasal dari Pasuruan, Jawa Timur. Kiai Asy’ari menghabiskan masa mudanya dengan belajar dari pesantren satu ke pesantren lainnya di Tanah Jawa. Setelah itu, jejak rihlah ilmiahnya bisa ditemukan sampai ke Maroko, sebelum akhirnya hijrah ke Makkah pada 1892 dan juga ke Mesir. Kiai Asy’ari dikenal sebagai maestro ahli falak dari Nusantara. Kiai Asya’ri wafat di Pasuruan pada 1921 M. Namun, ada juga yang mencatat tahun wafatnya pada 1918 M. Jenazahnya dimakamkan di daerah Sladi Kejayan Pasuruan, tepatnya di belakang Pondok Pesantren Besuk, di samping makam Wali Kemuning. KH Dhofir merupakan putera dari pasangan Kiai Habib dengan Hj Khadijah. Keluarga ini berasal dari Desa Patar Selamat atau Dissalam yang kemudian menetap di Dusun Bengko Sobung, Desa Kota Kusuma, Kecamatan Sangkapura, Bawean, Gresik. Kiai Dhofir lahir sekitar 1885-an atau pada penghujung abad ke-19. Pada periode ini, Islam di Bawean sedang memasuki fase keemasannya. Saat itu pula lahir generasi emas Bawean yang sulit dicarikan gantinya hingga sekarang. Kiai Dhofir dikenal sebagai ulama berdarah Bawean hafal Alquran. Dia wafat di Jakarta pada 19 Agustus 1971 dan dimakamkan di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok. Namun, setahun kemudian, jenazahnya diterbangkan dari Jakarta menuju Surabaya, lalu dimakamkan di komplek pemakaman Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan. Syekh Muhammad Zainuddin al-Baweani adalah salah seorang ulama bedar yang pernah menjadi pengajar di Masjidil Haram, Makkah. Ulama beradarah Bawean ini kerap dipanggil Syekh Zein. Dia lahir di Makkah pada 1334 Hijriah atau 1915 Masehi. Ayahnya adalah Syekh Abdullah bin Muhammad Arsyad bin Ma’ruf bin Ahmad bin Abdul Latif al-Baweani. Penisbatan al-Baweani merupakan keterangan berharga yang tidak bisa dipisahkan dengan nama Syekh Zein. Syekh Zein mewarisi ilmu ulama Hijaz lintas generasi. Ia adalah generasi terbaik yang telah mengharumkan nama Nusantara sebagai seorang ulama yang berpengaruh di negeri Hijaz. Syekh Zein wafat di Makkah pada 1426 Hijriah atau 2005 Masehi. KH Abdul Hamid Thabri lahir di Desa Sidogedungbatu pada 20 September 1899 M. Dia adalah putera dari KH Thabri bin Nur bin Abdul Muthallib. Dari segi usia, Kiai Hamid lebih tua dari Syekh Zein. Tetapi, Syekh Zein lebih dahulu tiba di Makkah dan sejak kecil telah menetap di Tanah Suci. Periode Makkah menjadi catatan penting bagi perjalanan karir Kiai Hamid. Dia berada di Makkah untuk pertama kalinya pada 1921-19-25 dan berguru kepada Syekh Khalid bin Halil, seorang alim asal Makkah yang kelak hijrah ke Desa Tambak, Pulau Bawean. Selain mendirikan pesantren di Bawean, Kiai Hamid juga pernah menjadi komandan Hizbullah, sebuah badan kelaskaran dari barisan pemuda NU dalam perjuangan kemerdekaan. Kiai Hamid wafat di Dusun Pancor, Desa Sidogedungbatu pada 25 April 1981. Jenazahnya dimakamkan di komplek pesarean keluarga di Pondok Pesantren Nurul Huda Pancor. KH Subhan bin Rawi juga termasuk seorang ulama Bawean yang pernah menuntut ilmu hingga ke Makkah. Kiai Subhan lahir di Dusun Iliran, Desa Daun, Kecamatan Sangkapura, Bawean. Namun, tidak diketahui tanggal dan tahun kelahirannya. Nama kecilnya adalah Asrari. Pada 1927, untuk pertama kalinya dia bertolak dari Pulau Bawean menuju Tanah Suci Makkah. Dia berangkat ke Makkah mengikuti neneknya yang bernama Hj Ruqayyah binti Anwar. Pda 1957, Kiai Subhan kemudian pulang ke Pulau Bawean dan mulai merintis pengajian. Melalui pengajian tradisional, sarjana Hijaz ini terus mengabdikan hidupnya selama lebih dari 20 tahun. Penerusnya, KH Badrus Surur kemudian mendirikan Pondok Pesantren Darussalam Daun. Kiai Subhan tutup suia pada 1978. Ia menjadi salah seorang ulama penting yang mempengaruhi tradisi keagamaan di Desa Daun dan dikenal sebagai ulama yang pakar dalam bidng ilmu Faraidh. Nama Syekh Ahmad Hasbillah bin Muhammad atau Syekh Ahmad Hasbullah bin Muhammad al-Maduri al-Habsyi ditemukan dalam silsilah tarekat Qadiriyah wan Nasqsyabandiyah. Dia adalah seorang ulama asal Makkah yang hijrah ke Nusantara dan kemudian tinggal untuk beberapa waktu di pulau Bawean. Karena itu lah dia dimasukkan sebagai ulama Bawean. Namun, dalam penelitiannya, Burhanuddin Asnawi belum berhasil mencatat tahun kelahirannya maupun tahun wafat Syekh Ahmad Hasbillah. Tahun kelahiran ulama Bawean yag satu ini juga tidak diketahui, begitu pun tahun wafatnya. Dari silsilahya, Syekh Khalid merupakan putra dari Syekh Khalil bin Khalifah. Ayahnya, Syekh Khalil kemudian menginjakkan kakinya di Pulau Bawean. Dia tinggal di Desa Tambak hingga tutup usia, sebelum kembali ke Makkah. Syekh Khalid tercatat memiliki hubungan dengan para ulama asal Pulau Bawean yang tinggal di Singapura. Karena itu, dia pun berkeinginan untuk mengunjungi Pulau Bawean. Dia juga ingin mengunjungi pusara sang ayah, Syekh Khalil yang terletak di Desa Tambak. Hingga pada akhirnya, takdir membawa Syekh Khalid ke Bawean dan menetap di Desa Tambak hingga akhir hayatnya. KH Abdul Hamid Satren juga merupakan seorang ulama keturunan Pulau Bawean. Dia adalah putra dari KH Ramli asal Desa Kebuntelukdalam, Kecamatan Sangkapura. KH Abdul Hamid kemudian menikahi seorang wanita asal Desa Diponggo, Kecamatan Tambak dan ikut tinggal bersama istrinya. Di Desa Diponggo, Kiai Abdul Hamid atau yang dikenal dengan Mas Doel, kemudian merintis pesantren. Akan tetapi, takdir berkata lain, ia harus hijrah ke Pulau Jawa, tepatnya di sebuah perkampungan bernama Satrean di Probolinggo, Jawa Timur. Karena itu lah dia dikenal sebagai Kiai Abdul Hamid Satrean. Mas Doel dikenal sebagai ulama alumni Hijaz yang aktif sebagai guru di Makkah. Namanya juga dikenang sebagai Rijal al-Makkah. Hingga akhir hayatnya, Mas Doel tidak dikaruniai anak. Dia dimakamkan di Satrean. Kiai Muhammad Amin bin Sawar merupakan tokoh kunci perkembangan kehidupan intelektual di Desa Sukaoneng, Kecamatan Tambak, Bawean, Gresik. Pada masanya, Kiai Amin pun menjadi ulama karismatik dan disegani oleh masyarakat Bawean. Dia dikenal tegas menjalankan fikih…

Read More

Pembacaan Sholawat Tibbil Qulub di Jombang Pecahkan Rekor Muri

Jombang — 1miliarsantri.net : Pembacaan Shalawat Tibbil Qulub massal yang diikuti sekitar 100.113 pelajar dan warga di Jombang berhasil pecahkan rekor Muri. Shalawat massal dibaca serentak ratusan ribu pelajar dan warga di Alun-Alun Kabupaten Jombang, Sabtu (29/07/2023). Di bawah iringan musik rebana, ratusan ribu pelajar dan warga itu bersama-sama mengumandangkan shalawat dengan koreografi bersama-sama. Gemuruh bacaan shalawat oleh para peserta pun membuat merinding, hingga tak sedikit yang meneteskan air mata. Selain pembacaan shalawat, mereka juga memecahkan rekor Muri kategori jumlah peserta seni hadrah ishari terbanyak di Indonesia dan dunia. Rekor selanjutnya yakni aksi mengenakan sarung dan kopyah dengan jumlah peserta terbanyak di Indonesia dan dunia. Kegiatan shalawat massal oleh pelajar dan warga ini meneguhkan Kabupaten Jombang sebagai kota santri. Harapannya, seluruh aktivitas warga memiliki jiwa dan perilaku santri, jiwa dan perilaku yang berakhlakul karimah. Diketahui, shalawat tibbil qulub artinya adalah obat atau penyembuh hati. Shalawat tibbil qulub disebut juga dengan shalawat Nurul Abshar yang artinya adalah cahaya mata hati. Dalam buku Bingkai Pembiasaan Anak Saleh karya Neli Kurniawati dkk, shalawat tibbil qulub bisa menjadi obat hati atau batin dan juga sakit dhohir atau badan. Cara pengamalannya dengan bertawasul kepada Baginda Nabi Muhammad SAW terlebih dahulu, kemudian dikhususkan kepada hajat yang dikehendaki, terutama untuk mengobati segala macam bentuk penyakit yang ada dalam diri kita. (yan)

Read More

Al Chaidar : Kedekatan Panji Gumilang Dengan Israel dan Yahudi Terjalin Sejak Tahun 1993

Jakarta — 1miliarsantri.net : Pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Zaytun, Panji Gumilang, disinyalir sangat lekat dengan Israel atau Yahudi, hal ini setelah videonya viral saat menyanyikan lagu Hevenu Shalom Aleichem di hadapan para santrinya. Sebelumnya nama Ponpes Al Zaytun Indramayu, Jawa Barat ini menjadi viral pertama kali setelah diketahui pada saat ibadah Shalat Idul Fitri 1444 H mencampurkan jamaah wanita dan laki-laki dalam satu shaf hingga menjadi perbincangan publik. Belakangan Ponpes Al-Zaytun kembali menuai kontroversi setelah kembali viral di media sosial dimana salah satu pimpinan Ponpes Al Zaytun terlihat mengajak para santri untuk menyanyikan ‘Salam Yahudi’ Hevenu Shalom Aleichem’. Bahkan dalam video viral tersebut, nampak terlihat artis Lucky Hakim ikut bernyanyi bersama para peserta lainnya yang dipimpin langsung oleh Panji Gumilang. Dalam video tersebut, Luxky Hakin juga terlihat kebingungan dengan apa yang dia saksikan melihat Panji Gumilang bernyanyi Hevenu Shalom Aleichem. Salam Yahudi yang kerap kali diucapkan oleh Panji Gumilang dalam setiap pidatonya dengan dalih toleransi. Di mana menurut pengamat terorisme Al Chaidar, dulu memang dirinya senang dengan aliran NII KW9 ini karena waktu itu juga mengajarkan tentang rasionalitas, juga keadaban dan toleransi. “Kemudian baru kita ketahui ternyata toleransi yang mereka maksudkan itu sebenarnya adalah sebuah sinkretisasi,” ujarnya kepada media, Sabtu (29/07/2023). Al Chaidar menerangkan bahwa sinkretisasi adalah menggabungkan semua ajaran agama, agama Yahudi, ajaran agama Islam, Kristen disatukan menjadi satu. “Kemudoan cara ibadahnya juga digabungkan nantim orang-orang di sinagog, di masjid, di gereja. Itu digabung jadi satu tempat. Mereka juga menafsirkan bahwa yang namanya komunisme itu seperti itu, jadi nggak ada lagi negara, yang ada adalah komunitas-komunitas, yang ada adalah jemaah-jemaah,” sambungnya. Ketika ditanya soal isu kedekatan Panji Gumilang dengan Israel atau Yahudi, Al Chaidar menjelaskan dulu sekitar tahun 1993 sering diajak rapat baromic dengan Abu Totok atau Panji Gumilang. “Dulu tahun-tahun 1993 banyak rapat baromic Abu Totok atau Panji Gumilang ini menyampaikan bahwa Negara Indonesia ini bodoh karena tidak mau menjalin hubungan diplomatik dengan Israel dan Taiwan,” ungkap pengamat terorisme tersebut. Menurutnya, Israel memiliki banyak kemajuan teknologi pertanian dan sebagainya. Bahkan penggemukan sapi australia yang ada di Al Zaytun diharapkan nantinya akan mengundang ahli-ahli atau sarjana dari Israel. Guna mengembangkan sistem pertanian terpadu, alasan pemilihan sapi karena waktu itu mantan Presiden Soeharto sangat senang dengan sapi. Al Chaidar menambahkan, hal tersebut dilakukan dengan melihat di mana itu dianggap bahwa itu adalah cara masuk yang paling tepat menguasai negara afektif. “Itu kemudian yang diprogramkan di dalam program-program waktu itu sudah menyatakan bahwa dia akan mempengaruhi politis-politis Indonesia untuk membuka hubungan diplomatik dengan Israel,” tuturnya. Al Chaidar menegaskan kembali soal isu kedekatan Panji Gumilang dengan Israel atau Yahudi sejak terjadi pada tahun 1993. “Ini dimunculkan kembali untuk menyegarkan lagi bahwa keputusan Indonesia pada masa Soekarno yang menyatakan bahwa tidak mau membuka hubungan diplomatik dengan Israel, itu adalah kebutuhan yang salah. Kita harus membuka hubungan diplomatik dengan siapapun’, jadi saya melihat bahwa ambisi-ambisi Panji Gumilang ini sangat utopis,” pungkasnya. (ind)

Read More

Kebangkitan muslim di Rusia

Moskow – 1miliarsantri.net : Islam di Rusia saat ini mengalami kebangkitan, bahkan warga muslim Rusia saling bahu membahu dengan rekan senegaranya untuk terus mempertahankan keamanan negara. Demikian ditegaskan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, dalam wawancara yang dipublikasikan di situs web Kementerian Luar Negeri Risia untuk film dokumenter Jalan Menuju Dunia Islam. Lavrov menambahkan, penduduk Islam di Rusia hidup melalui kebangkitan yang belum pernah terjadi sebelumnya serta berdampingan secara harmonis dengan budaya tradisional dan agama lainnya. “Pekerjaan bersama kami mengungkapkan sebagian besar penilaian yang tumpang tindih tentang masalah antar-peradaban dan antaragama yang sedang dibahas di negara kami dan internasional. Kami berdiri bersatu dalam menegakkan nilai-nilai spiritual dan moral, menolak Islamofobia, Kristenofobia, atau bentuk intoleransi beragama lainnya,” ujar Lavrov, dilaporkan Middle East Monitor, Ahad (30/07/2023). Dalam pidato video di Forum Ekonomi Internasional ke-14 “Russia-Islamic World: Kazan Forum”, Lavrov menggarisbawahi prioritas diplomatik Rusia. Dia juga menyebutkan promosi antaragama, dialog dan pemahaman antarbudaya, selain melindungi nilai-nilai spiritual dan moral tradisional yang dianut oleh semua agama dunia. “Kami siap menjalin kerja sama yang erat dengan teman-teman kami dari dunia Muslim. Begitu juga dengan semua mitra lain yang berbagi kepentingan dalam memperkuat landasan hukum dan demokrasi kehidupan internasional,” kata Lavrov. Lavrov mengatakan, Rusia secara tradisional mengembangkan hubungan persahabatan dengan mayoritas negara Muslim. Mereka dipersatukan oleh komitmen untuk membangun kerja sama antarnegara berdasarkan prinsip kesetaraan, pertimbangan kepentingan bersama, dan pencarian keseimbangan kepentingan. (reu)

Read More

Raja Maroko Mengutuk Keras Israel dan Mempertahankan Status Quo Masjidil Aqsa

Rabat — 1miliarsantri.net : Kerajaan Maroko mengutuk penyerbuan Masjid Al-Aqsa di Yerusalem yang diduduki oleh pejabat pemerintah dan pemukim Israel. Mereka juga menyerukan untuk mempertahankan status quo di tempat suci umat Islam tersebut. Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Luar Negeri, Kerjasama Afrika dan Ekspatriat Maroko mengatakan, Kerajaan Maroko yang dipimpin Raja Mohammed VI sebagai ketua Komite Yerusalem, mengutuk kegigihan beberapa pejabat Israel dalam menyerbu Masjid Al-Aqsa dan halamannya, dengan partisipasi beberapa ekstremis. Dilansir di Wafa, Sabtu (29/7/2023), Maroko juga menegaskan kembali penolakan totalnya terhadap semua tindakan sepihak, yang bertujuan merusak upaya menjaga ketenangan. Tidak hanya itu, pemerintah ini juga menyerukan untuk mempertahankan status quo hukum dan sejarah yang ada, sekaligus menghindari segala bentuk eskalasi atau provokasi. Di sisi lain, AS telah menyatakan keprihatinannya terhadap kunjungan provokatif Menteri Keamanan Nasional Israel sayap kanan Itamar Ben-Gvir, ke kompleks Masjid Al-Aqsa. “Kami benar-benar prihatin dengan kunjungan ke Haram al-Sharif di Yerusalem itu,” ucap Wakil Juru Bicara Utama Departemen Luar Negeri AS, Vedant Patel. Ia lantas menegaskan kembali posisi AS dalam mendukung status quo bersejarah tempat-tempat suci. Pihaknya juga menegaskan kembali peran khusus Yordania di tempat-tempat suci Muslim di Yerusale. Setiap tindakan atau retorika sepihak yang menyimpang atau membahayakan status quo, sama sekali tidak dapat diterima. Bukan cuma itu, Inggris juga mengatakan keprihatinannya atas kunjungan provokatif menteri Israel ke Masjid Al-Aqsa di Yerusalem yang diduduki. Dukungan terhadap status quo bersejarah di tempat suci tersebut kembali digaungkan. “Kami juga prihatin dengan kunjungan provokatif dan bahasa yang menghasut yang digunakan oleh para menteri Israel di Haram al-Sharif,” kata Konsulat Inggris di Yerusalem dalam sebuah cuitan di Twitter. “Kami menegaskan kembali dukungan kami untuk status quo bersejarah dan peran Yordania sebagai penjaga,” tutupnya. (dwi)

Read More

Ini Sebenarnya Pesan Yang Disampaikan Dari Tembang Lingsir Wengi Ciptaan Sunan Kalijogo

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Jika anda sering menonton tayangan film horor Indonesia, seringkali terdengar backsound atau pemeran tersebut melantunkan sebuah tembang yang sering disebut dengan Lingsir Wengi. Kekuatan mistik tak henti-hentinya dikaitkan dengan lagu Lingsir wengi. Bahkan dipercaya bisa memanggil makhluk gaib. Orang-orang menjadi marah atau kesal saat lagu yang populer di film horor ini dimainkan. Karena menurut mereka lagu ini menyebabkan munculnya makhluk ghaib. Siapapun yang mendengar tembang Lingsir Wengi pasti akan merinding. Apalagi saat tembang ini dinyanyikan saat suasana sunyi dengan angin dingin berhembus di malam hari serta didukung dengan lingkungan sekitar yang agak angker atau sepi dan dalam kondisi gelap. Ternyata tembang Lingsir Wengi ini diciptakan oleh Raden Mas Said atau yang dikenal dengan panggilan Sunan Kalijaga. Ketika diciptakannya lagu ini, Kanjeng Sunan Kalijogo menjadikan nya sebagai lagu perlindungan dari bencana seperti gangguan makhluk gaib pada malam hari. Termasuk gangguan sihir dan tenung. Isi liriknya hanya berisi doa-doa agar selamat, terhindar dari segala penyakit dan marabahaya. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan kuntilanak atau makhluk halus lainnya seperti kepercayaan masyarakat selama ini. Pada zaman Wali Songo, Sunan Kalijaga melantunan Lingsir Wengi setelah shalat Tahajud. Lagu tersebut digunakan sebagai media dakwah oleh Sunan Kalijaga pada masa lampau. Lingsir Weng biasanya dinyanyikan setelah shalat Malam yang mengandung banyak doa kepada Tuhan. Kemudian para pengikut Sunan Kalijaga mempopulerkan lagu Lingsir Wengi secara turun temurun. Para ibu-ibu atau orang tua zaman dahulu menembangkan lagu lingsir wengi ini sambil menidurkan anak-anak mereka. Apalagi jika anak masih terjaga di malam hari dan sudah larut malam. Sebab jika dinyanyikan dengan suara sayup-sayup, alunan nada dari lingsir wengi ini akan menimbulkan rasa ngantuk. Namun setelah film Kuntilanak dirilis, banyak yang menganggap Lingsir Weng sebagai lagu mantra setan. Semakin lama lagu karya sunan Kalijaga ini dianggap mistis, sehingga mengundang setan atau kunitlanak untuk datang. Lirik Lagu Lingsir Wengi : Lingsir wengi(Saat menjelang tengah malam) Sepi durung biso nendro(Sepi belum bisa tidur) Kagodho mring wewayang(Tergoda dengan bayangmu) Angreridhu ati(Di dalam hati) Kawitane(Awal mulanya) Mung sembrono njur kulino(Cuma bercanda terus terbiasa) Ra ngiro(Tidak menyangka) Yen bakal nuwuhke tresno(Kalau bisa menjadi cinta) Nanging duh tibane(Kalau sudah saatnya) Aku dhewe kang nemahi(Aku sendiri akan mengalami) Nandang bronto(Jatuh cinta) Kadhung loro(Terlanjur sakit) Sambat, sambat sopo?(Mengeluh, mengeluh sama siapa?) Rino wengi(Siang malam) Sing tak puji ojo lali(Yang tak puji-puji yang lupa) Janjine(Janjinya) Mugo biso tak ugemi(Semoga bisa tak diingkari) Lingsir wengi(Saat menjelang tengah malam) Sepi durung biso nendro(Sepi belum bisa tidur) Kagodho mring wewayang(Tergoda dengan bayangmu) Angreridu ati(Di dalam hati) Kawitane(Awal mulanya) Mung sembrono njur kulino(Cuma bercanda terus terbiasa) Ra ngiro(Tidak menyangka) Yen bakal nuwuhke tresno(Kalau bisa menjadi cinta) Nanging duh tibane(Kalau sudah saatnya)

Read More

Islam di Indonesia Mendapat Perhatian Dunia Barat Dan Disegani Negara Arab

Jakarta — 1miliarsantri.net : Dunia barat dan hampir sebagian besar penduduk muslim dunia tidak memandang remeh masyarakat muslim di Indonesia. Belakangan, pengakuan terhadap kualitas Islam Indonesia mulai lebih apresiatif. Penilaian ini diungkapkan pengamat Islam asal Boston University Amerika, Robert W. Hefner. Ada geliat menarik dalam perkembangan dunia global dalam melihat Islam, umat Islam dan studi Islam di Indonesia dalam dua dekade terakhir. “Yang dulu di sebagian dunia barat, dan sebagian besar dunia muslim Indonesia dianggap agak pinggiran, sekarang semakin banyak orang tahu bahwa Indonesia yang mayoritas muslim punya khazanah intelektual. Tradisi organisasi massa muslim yang terus terang saja yang paling bagus di seluruh dunia, apalagi kalau menyangkut pendidikan Islam,” ungkapnya. Dalam forum peluncuran buku “Filsuf Membumi dan Mencerahkan: Menyemai dan Menuai Legacy Pemikiran Amin Abdullah” oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Hefner menilai kualitas lembaga pendidikan Islam milik negara (UIN) dan Muhammadiyah bahkan telah bersaing di dunia internasional. “Kesan saya bahwa perguruan tinggi seperti UIN, IAIN, dan Perguruan Tinggi Muhammadiyah memang luar biasa, exceptional. Jadi tidak seperti yang dibayangkan kemarin dulu bahwa Indonesia meskipun mayoritas muslim adalah umat pinggiran atau bahkan disebut sinkretis,” imbuhnya. Kesan tersebut dia peroleh setelah melancong ke berbagai selama 15 tahun terakhir dalam aktivitasnya sebagai seorang antropolog dan pekerja akademik. “Yang saya amati 15 tahun terakhir ini adalah sebuah perubahan mendasar bahwa di luar negeri, di negara-negara Barat di mana Islamic Studies diselenggarakan, diantaranya Turki, Mesir, Maroko, ada sebuah pengakuan bahwa sebetulnya kualitas cendekiawan muslim Indonesia tidak kalah. Bahkan dengan negara-negara mayoritas muslim yang lain ada semacam revitalisasi yang luar biasa,” terangnya. Muhammadiyah sendiri menurut Hefner juga memainkan peranan penting dalam mengubah wajah Islam Indonesia di dunia internasional, baik melalui lembaga pendidikan tinggi yang dimiliki, maupun lewat para aktor intelektualnya seperti Prof. Amin Abdullah, mantan Ketua Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam PP Muhammadiyah tahun 1995-2000. Prof. Amin Abdullah, menurutnya tidak saja berhasil mengusahakan revitalisasi gagasan pendidikan dan filsafat Islam yang berguna bagi perkembangan studi tersebut di Indonesia namun juga berhasil mengaktualisasikannya lewat penciptaan kurikulum yang mengedepankan interkoneksi berbagai disiplin ilmu pengetahuan dengan prinsip-prinsip maqashid syariah. “Saya setuju, sangat setuju dan sangat menghargai upaya orang Muhammadiyah sejak dulu, dan upaya-upaya yang dilakukan terutama oleh Pak Amin Abdullah selama 15 tahun terakhir untuk menafsirkan kembali maqashid syariah yang sudah berusia lebih dari 1000 tahun sejak As Syatibi agar dia bisa hidup dan diterapkan secara efektif baik dari segi teoritis maupun segi pendidikan tinggi Islam yang dikembangkan,” pungkasnya. (rid)

Read More