Di Balik Ilusi Solusi Dua Negara, Rakyat Palestina Masih Bertahan

Palestina – 1miliarsantri.net | Solusi dua negara kerap dijual sebagai jalan keluar konflik, namun bagi rakyat Palestina, ia lebih mirip ilusi yang menambah luka lama. Di balik jargon diplomasi, mereka hidup dalam trauma kolektif, kehilangan arah, dan keputusasaan yang merayap. Meski begitu, di tengah reruntuhan, harapan masih tumbuh: kekuatan rakyat yang menolak menyerah, serta solidaritas dunia yang mulai melihat perjuangan Palestina sebagai isu kemanusiaan sejati. Manusia di Balik Narasi Politik Ketika para pemimpin dunia sibuk berdebat tentang solusi politik, dari meja perundingan hingga ruang sidang internasional, ada hal mendasar yang sering terlupakan: manusia. Bukan sekadar angka korban atau statistik di layar televisi, melainkan kehidupan yang terkoyak, keluarga yang tercerai-berai, dan komunitas yang kehilangan arah. Semua jargon diplomasi kerap menutupi kenyataan pahit di lapangan: penderitaan yang tiada henti. Bencana yang Lebih dari Sekadar Angka Konflik yang berkepanjangan melahirkan luka kemanusiaan yang tak tertandingi. Ia bukan hanya soal rumah yang hancur atau ekonomi yang runtuh. Yang lebih menakutkan adalah jejak psikologis yang melekat—trauma kolektif yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sebuah masyarakat dipaksa hidup dengan rasa takut, kehilangan, dan harapan yang dikubur hidup-hidup setiap hari. Trauma ini tak hanya melumpuhkan jiwa, tetapi juga melemahkan kemampuan rakyat untuk berperan dalam menentukan masa depan politik mereka sendiri. Gelombang Putus Asa Dalam kondisi serba tertekan, keputusasaan menjadi wabah yang merayap cepat. Ketika janji politik tak kunjung ditepati, ketika pihak yang seharusnya membela justru dituding ikut melanggengkan sistem kolonial, rakyat merasa terbuang. Mereka hidup tanpa kompas, seolah ditinggalkan untuk mengarungi masa depan sendirian. Frustrasi ini bukan hanya melemahkan semangat perjuangan, tapi juga merusak tatanan sosial yang menjadi penopang kehidupan sehari-hari. Ilusi Politik yang Tak Pernah Usai Di meja diplomasi, istilah “solusi dua negara” kerap disebut sebagai jalan keluar. Namun bagi banyak rakyat, itu lebih mirip ilusi ketimbang solusi. Syarat-syarat yang tidak adil hanya akan melahirkan versi baru dari perjanjian lama yang gagal. Energi, waktu, dan dana terbuang untuk sesuatu yang sudah terbukti rapuh, sementara di lapangan, pembersihan etnis terus berjalan tanpa henti. Harapan rakyat pun semakin terkikis, tergantikan oleh rasa skeptis pada semua bentuk kesepakatan yang lahir dari luar suara mereka. Harapan yang Tumbuh dari Akar Rumput Namun, di tengah reruntuhan harapan, ada cahaya kecil yang terus menyala: kekuatan rakyat. Gerakan rakyat di Palestina, meski penuh keterbatasan, tetap menjadi sumber energi yang tak tergantikan. Lebih dari itu, opini publik global mulai bergeser. Dari jalan-jalan kota di Barat hingga ruang-ruang akademik, muncul gelombang solidaritas yang menyoroti Palestina bukan sekadar isu politik, melainkan perjuangan kemanusiaan melawan kolonialisme. Rakyat Sebagai Penentu Dukungan global tentu penting, tetapi kunci utama tetap ada pada kebangkitan rakyat di tanah mereka sendiri. Perlawanan sipil yang otentik, terhubung dengan energi solidaritas internasional, menjadi jalan paling nyata untuk merebut kembali martabat. Inilah cara rakyat menemukan kembali kompas perjuangannya—bukan dengan mengandalkan koordinasi luar yang melemahkan, tetapi dengan meyakini bahwa keadilan adalah hak yang mereka miliki sepenuhnya. Hidup yang Menolak Menyerah Pada akhirnya, kekuatan sejati tidak lahir dari meja perundingan, melainkan dari rakyat yang menolak menyerah pada keputusasaan. Dari keluarga yang tetap menyalakan lampu di rumah yang setengah runtuh, dari anak-anak yang tetap belajar meski sekolah mereka hancur, dari doa-doa yang terus dipanjatkan di balik deru bom. Mereka adalah benih kehidupan yang membuktikan bahwa meski bekas luka menganga, harapan tak pernah benar-benar padam. (***) Penulis: Abdullah al-Mustofa Editor: Toto Budiman Sumber:  ملتقى فلسطين (Palestine Forum) Foto: ABC News, IRNA

Read More

Pengakuan Dunia, Derita Gaza: Legitimasi di Atas Kertas, Air Mata di Bawah Reruntuhan

Gaza – 1miliarsantri.net | Saat para pemimpin dunia berkumpul, memberikan pengakuan resmi atas status kenegaraan Palestina—sebuah kabar yang disiarkan di seluruh penjuru dunia—timbul sebuah pertanyaan krusial dari balik puing-puing: Apakah pengakuan di atas kertas bisa menghentikan kesengsaraan? Pergerakan diplomatik dari negara-negara Barat seperti Prancis, Inggris, Kanada, dan lainnya yang mengakui negara Palestina memang disambut sebagai penegasan legitimasi. Namun, bagi mereka yang hidup di tengah operasi militer yang masih berlangsung dan kelaparan hebat, pengakuan itu terasa “tidak berharga”. Fokus utama, jauh melampaui peta dan batas negara, adalah kebutuhan paling mendasar: diakui sebagai manusia biasa. Suara di Tengah Fajar yang Kelabu Kenyataan di Gaza saat ini adalah medan perang yang menghancurkan. Seluruh wilayah berada dalam reruntuhan. Hampir semua penduduk Palestina telah mengungsi. Dalam konteks penderitaan ini, Adeeb Abu Khalid, seorang pengungsi dari Kota Gaza, menyampaikan inti dari harapan mereka: “Yang penting bagi kami adalah perang berhenti,”. Ia menambahkan bahwa saat ini, mereka hidup dalam kelaparan, diliputi kesengsaraan. Data Kementerian Kesehatan Gaza menunjukkan betapa parahnya situasi ini, dengan setidaknya 65.000 orang tewas, di mana sekitar setengahnya adalah perempuan dan anak-anak. Di tengah statistik yang mengerikan ini, pengakuan internasional terasa begitu jauh. Huda Masawabi, seorang pengungsi lainnya, mengungkapkan perasaannya secara lugas, menyatakan bahwa yang ia harapkan hanyalah agar Allah membuat orang-orang di luar sana mengakui mereka, atau setidaknya memperlakukan mereka sebagai “manusia biasa semata”. Air Mata dan Drama ‘Serial TV’ Bagi banyak orang, pergerakan diplomatik ini hanyalah sebuah tontonan yang tidak memiliki dampak jangka pendek di lapangan. Di Tepi Barat, wilayah yang diimpikan menjadi jantung negara Palestina masa depan, kenyataan dipertentangkan dengan perluasan permukiman Israel dan peningkatan kekerasan pemukim. Tragedi kemanusiaan terekam dalam momen yang tak terlupakan, seperti tangisan pilu Omar Al-Zaqzouq, yang berusia 7 tahun, yang berduka di atas jenazah adik laki-lakinya, Malek, yang baru berusia 2 tahun, terbunuh dalam serangan militer. Melihat pemandangan ini, Murad Banat, seorang pria Palestina yang mengungsi, merasakan keputusasaan atas janji-janji yang diberikan dunia. Ia menyebut pengakuan terbaru ini “hanya omong kosong”. Ia membandingkan dunia yang menonton mereka dengan teater: “Semua orang menonton kami seperti drama. Seperti serial TV, setiap hari ada serial TV,”. Mohammad Hammad dari Kamp Jenin juga merasakan hal serupa, menegaskan bahwa semua pengakuan ini “tidak ada artinya,” karena mereka masih berada di bawah pendudukan. Secercah Harapan di Tengah Keteguhan Meskipun keraguan menyelimuti, ada juga yang menemukan sedikit penghiburan dari dukungan global ini. Bagi sebagian orang, pengakuan negara ini memperkuat tekad mereka. Saeed Abu Elaish, seorang petugas medis yang kehilangan banyak anggota keluarga, termasuk istri dan dua putrinya, percaya bahwa pengakuan tersebut merupakan seruan untuk menghentikan genosida dan pembantaian di Gaza, serta penghentian perambahan pemukim di Tepi Barat. Naser Asaliya, seorang pengungsi dari Kota Gaza, berharap pengakuan ini akan memberikan dampak positif, apa pun keadaannya. “Kami adalah orang-orang yang terlanda musibah, dan kami mengharapkan apa pun yang membuat kami bahagia, tidak peduli betapa sederhananya, apa pun yang mendukung kami, memperkuat keteguhan kami di tengah blokade yang tidak adil ini,” katanya. Intinya, apa yang diinginkan oleh rakyat Palestina bukanlah sekadar negara nominal, tetapi negara yang berdaulat penuh yang menjaga perbatasannya, idealnya berdasarkan batas 5 Juni 1967. Selama perang belum berhenti dan kesengsaraan masih membayangi, legitimasi sejati yang mereka dambakan bukanlah pengakuan diplomatik, melainkan pengakuan atas hak mereka untuk hidup, dalam damai, sebagai manusia yang utuh dan berdaulat.  (***) Penulis: Abdullah al-Mustofa Editor: Toto Budiman Sumber: The Associated Press Foto: The New Arab, Anadolu Ajansi, The Wall Street Journal Youtube Channel

Read More
Masjid Nabawi

3 Wisata Religi Madinah Selain Masjid Nabawi

Surabaya – 1miliarsantri.net: Dulu kalau mendengar kota  Madinah yang diingat hanya Masjid Nabawi dan Quba. Tapi setelah mengunjungi Madinah di akhir tahun 2024 jadi tahu bahwa ada 3 masjid dekat Masjid Nabawi yang menyimpan jejak bersejarah sahabat nabi. Pertama kali masuk Masjid Nabawi melalui gate 310. Dalam perjalanannya kesana melewati Masjid Al-Ghamamah dan Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq. Selain itu merasa bersyukur karena  lokasi hotel di Madinah “Manazel Al-Falah” berderet dengan Masjid Ali bin Abi Thalib bahkan hanya semenit menuju Masjid Nabawi melalui gate 315. Saat hari terakhir di Madinah, tepatnya setelah subuh memberanikan diri untuk jalan sendiri mengunjungi 3 masjid bersejarah itu. Yang dari awal memandangnya ada sebuah ketertarikan hati untuk mengunjunginya. Mengunjungi masjid-masjid bersejarah ini adalah salah satu cara untuk menghidupkan syiar Islam serta menguatkan iman. Dan tanpa basa basi lagi, yuk langsung lihat daftar 3 masjid berseharah tersebut di bawah ini! 1. Masjid Ali bin Abi Thalib Masjid ini mudah ditemukan ketika keluar dari gate 315 Masjid Nabawi tepatnya di jalan As-Salam. Jarak dari Masjid Nabawi sekitar 290 meter. Masjid ini pertama kali dibangun pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz (87–93 H). Lalu pada tahun 1411 H, Raja Fahd memperlebar masjid  hingga 682 meter dan menambahkan menara setinggi 26 meter. Dulunya lokasi masjid ini merupakan teras rumah Ali bin Abi Thalib. Bahkan Nabi Muhammad pernah shalat ied di masjid Ali.  Masjid ini dibangun untuk mengenang pengabdian Ali bin Abi Tablin  yang merupakan sahabat sekaligus menantu Nabi Muhammad. Arsitektur masjidnya bernuansa putih sederhana yang memiliki satu kubah utama dan satu menara pucuk hitam. Masjid Ali bin Abi Thalib mengingatkan kita bahwa keberanian dan keteguhan hati harus diiringi dengan kerendahan hati. Ali bin Abi Thalib bukan hanya menantu Rasulullah, tetapi juga sosok yang setia pada kebenaran, sehingga masjid ini menjadi simbol pengabdian tanpa pamrih. Baca juga: Sejarah Partai Syarikat Islam, Sebelum Terlahirnya Boedi Oetomo dan Sumpah Pemuda 2. Masjid Al-Ghamamah Pertama kali mau shalat Maghrib di Masjid Nabawi, pernah melewati sebuah masjid yang kubahnya penuh dengan burung merpati dan dinaungi awan sore menyejukkan. Melihat masjid itu serasa dibawa ke zaman Nabi, karena bangunan tua yang indah. Ternyata itu adalah Masjid Ghamamah/Al-Mushalla. Masjid ini mudah ditemukan ketika keluar dari gate 310 Masjid Nabawi. Dengan Masjid Nabawi berjarak sekitar 300 meter. Al-Ghamamah berada di sekitar Pasar Tamar. Masjid ini pertama kali dibangun oleh Khalifah Umar bin Khattab tepatnya di posisi tempat shalat rasulullah. Bangunan masjid Ghamamah terkini merupakan renovasi dari Sultan Abdul Majid al-Ustmani. Di era  Raja Fahd pernah diperbaiki kembali pada 1411 H. Arsitektur masjid ini ada tiga kubah besar yang selalu dihinggapi burung merpati dan ada menara puncaknya. Didominasi dengan warna cream. Dan dinding masjidnya dari batu alam berwarna abu-abu.  Sebelumnya area masjid ini merupakan lapangan lapang di kawasan al-Manakha. Pada tahun kedua hijrah, rasulullah pernah shalat Idul Fitri atau Idul Adha. Masjid ini dinamakan “Al-Ghamamah” yang dalam bahasa arab berarti “awan”. Dulu di lokasi masjid ini Nabi Muhammad melaksanakan shalat istisqa dan berdoa agar turun hujan dikala penduduk Madinah diserang kekeringan akut yang membuat masyarakat kesusahan. Setelah istiqomah itu, muncullah awan yang menjadi tanda turun hujan deras. Abu Hurairah ra meriwayatkan: “Setiap kali Rasulullah melewati Al-Mushalla (tempat shalat), beliau menghadap kiblat lalu berdoa.” (HR. Bukhari). Kisah turunnya hujan di Masjid Ghamamah ini memberikan pelajaran bahwa kunci menghadapi masa sulit adalah bersabar. Dan ketika hidup terasa kering tetaplah terus berdoa sepenuh hati maka karunia Allah akan datang. Yang pasti berdoa dan berharap kepada Allah tidak akan pernah mengecewakan. Allah pasti mendengar dan akan mengabulkannya di waktu terbaik. Masjid Al-Mushalla dibuka untuk shalat sunnah seperti Dhuha dan tahiyatul masjid. Tapi cuma bisa diakses untuk jamaah laki-laki. Baca juga: Umar bin Khattab: Pilar Keadilan dan Ketegasan dalam Sejarah Islam 3. Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq Setelah mengunjungi Masjid Al-Ghamamah bisa langsung berkunjung ke Masjid Abu Bakar Ash-Shidiq, soalnya berseberangan hanya berjarak 40 meter. Sedangkan jarak ke Masjid Nabawi hanya 335 meter. Masjid bersejarah ini dulunya rumah Abu Bakar. Dan di lokasi inilah menjadi tempat shalat Idul Fitri dan Idul Adha oleh Rasulullah. Walau nabi sudah tiada, Abu Bakar meneruskan kebiasaan baik untuk shalat di area itu. Hal itu menunjukkan kesetiaan yang tulus. Masjid ini dibangun oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz sekitar tahun 50 H. Bentuk masjid sekarang itu merupakan hasil renovasi Sultan Mahmud II pada tahun 1255. Dan pada tahun 1411 H direnovasi oleh Raja Fahd tanpa memperbaharui bangunan asli. Yang paling khas dari masjid ini adalah bentuk daun pintu yang disinyalir sebagai pintu asli dari rumah Abu Bakar. Masjid Abu Bakar tidak sebegitu lebar dibandingkan Masjid Ghamamah. Masjid ini ada satu kubah utama yang selalu dihinggapi burung merpati dan ada satu menara besar agak menggelembung. Dan dinding masjid dari batu alam berwarna abu-abu. Shalat di masjid ini menghadirkan refleksi mendalam. Abu Bakar dikenal dengan ketulusan dan kerendah hatiannya. Rasulullah bersabda: “Tidak ada seorang pun yang lebih utama setelah para Nabi daripada Abu Bakar.” (HR. Thabrani). Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq menyimpan pesan tentang kepemimpinan yang tulus dan rendah hati. Abu Bakar tidak mencari kehormatan, tetapi ia mengabdi sepenuhnya untuk menjaga amanah umat.  Kesetiaannya pada Rasulullah dan Islam menjadi teladan bahwa kekuatan seorang pemimpin bukanlah pada kekuasaan, melainkan pada kejujuran, kesetiaan, dan pengorbanan. Perjalanan singkat menyusuri tiga masjid ini membuat penulis merasa seakan berjalan di lorong sejarah. Dari Masjid Ali, ke Masjid Ghamamah, hingga Masjid Abu Bakar, setiap langkah diwarnai kisah tentang iman, doa, dan kepemimpinan. Jika kamu berkesempatan umroh, sempatkanlah menapaki jejak ini. Insya Allah, wisata religi Madinah ke tiga masjid bersejarah ini akan menambah makna perjalanan spiritual Anda, menghidupkan syiar, dan menguatkan iman di tanah penuh berkah. Penulis : Iftitah Rahmawati Editor : Thamrin Humris dan Ainun Maghfiroh Sumber foto: Ilustrasi

Read More
Sejarah Saqifah Bani Sa’idah

Sejarah Saqifah Bani Sa’idah, Tempat Baiat Abu Bakar Sebagai Pelayan Umat yang Rendah Hati

Surabaya – 1miliarsantri.net: Sehari menjelang meninggalkan Madinah menuju Mekkah, sore itu muthawif  mengajak menelusuri tempat bersejarah di depan pelataran Masjid Nabawi.  Sebuah taman kecil yang terasa sederhana namun penuh makna. Setelah itu di Tengah teriknya matahari muthawif memberikan kajian sejarah tempat ini kepada rombongan umroh. Muthawif menerangkan, “Inilah Saqifah Bani Sa’idah, tempat bersejarah yang menjadi saksi lahirnya kepemimpinan Islam pasca wafatnya Rasulullah.” Saat melihatnya, pikiran terbayang pada peristiwa 14 abad silam, di mana para sahabat berkumpul untuk mencari sosok yang akan menggantikan Rasulullah sebagai pemimpin umat. Sejarah Saqifah Bani Sa’idah Saqifah Bani Sa’idah dulunya adalah bangunan beratap milik kabilah Bani Sa’idah dari suku Khazraj, salah satu suku besar di Madinah.  Tempat itu digunakan untuk musyawarah dan pertemuan kaum Anshar. Di depannya terdapat halaman luas serta sumur milik Bani Sa’idah, sehingga sering menjadi titik berkumpul masyarakat. Kini, bangunan itu telah menjadi taman berpagar yang hampir selalu terkunci, hanya sesekali dibuka untuk wisatawan religi. Meski sederhana, tempat ini menyimpan peristiwa monumental: musyawarah pemilihan khalifah pertama umat Islam. Baca juga: Sejarah dan Perkembangan Musik Dalam Peradaban Islam Musyawarah Tiga Calon Khalifah Setelah Rasulullah wafat pada tahun 11 Hijriah, kaum Anshar berkumpul di Saqifah Bani Sa’idah untuk memilih pemimpin Madinah. Mereka mengusulkan Sa’ad bin Ubadah sebagai calon. Namun ketika kaum Muhajirin hadir, mereka berpendapat bahwa bukan hanya Madinah yang butuh pemimpin, tetapi seluruh umat Islam. Tiga tokoh muncul sebagai calon, Sa’ad bin Ubadah dari Anshar, Ali bin Abi Thalib dari keluarga Bani Hasyim, dan Abu Bakar Ash-Shiddiq dari Muhajirin Quraisy. Diskusi berlangsung hangat, hingga akhirnya Umar bin Khattab menyatakan baiat kepada Abu Bakar. Umat pun sepakat memilihnya sebagai khalifah pertama karena kedekatannya dengan Rasulullah dan kepemimpinannya yang bijak. Pidato Abu Bakar Sebagai Khalifah Setelah dibaiat, Abu Bakar Ash-Shiddiq menyampaikan pidato bersejarah di hadapan umat Islam. Dengan penuh kerendahan hati, beliau berkata: “Wahai manusia! Aku telah diangkat untuk mengendalikan urusanmu, padahal aku bukanlah orang yang terbaik di antaramu. Maka jika aku benar, bantulah aku; jika aku salah, luruskanlah aku. Orang kuat di antaramu akan aku pandang lemah sampai aku ambil hak darinya. Orang lemah di antaramu akan aku pandang kuat sampai aku kembalikan haknya kepadanya. Taatilah aku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika aku menyelisihi Allah dan Rasul-Nya, maka tidak ada kewajiban bagimu untuk mentaatiku. Berdirilah kalian untuk shalat, semoga Allah merahmati kalian.” Pidato ini menunjukkan bahwa kepemimpinan dalam Islam bukanlah soal kekuasaan, melainkan amanah. Abu Bakar menempatkan dirinya bukan sebagai penguasa mutlak, tetapi sebagai pelayan umat yang lapang dada dikoreksi jika keliru. Baca juga: Gua Hira, Tempat Sejarah Sangat Penting Bagi Umat Islam Hikmah yang Bisa Dipelajari Peristiwa di Saqifah Bani Sa’idah mengajarkan pentingnya musyawarah dalam menentukan pemimpin. Al-Qur’an menegaskan: وَالَّذِيْنَ اسْتَجَابُوْا لِرَبِّهِمْ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَۖ وَاَمْرُهُمْ شُوْرٰى بَيْنَهُمْۖ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَۚ Artinya:  (juga lebih baik dan lebih kekal bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhan dan melaksanakan salat, sedangkan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka. Mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.(QS. Asy-Syura: 38). Selain itu, pidato Abu Bakar meneguhkan bahwa seorang pemimpin sejati adalah yang rendah hati, berani dikritik, dan menjadikan ketaatan kepada Allah sebagai ukuran utama. Hal ini menjadi teladan bagi siapa pun yang dipercaya memegang amanah, baik sebagai pemimpin umat, pemimpin keluarga, maupun pemimpin diri sendiri. Penulis : Iftitah Rahmawati Editor : Thamrin Humris dan Ainun Maghfiroh Sumber foto: Ilustrasi

Read More

Total Ada 25 Hari! Berikut SKB 3 Menteri tentang Daftar Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama 2026

Bekasi – 1miliarsantri.net: Tahun 2025 yang sudah memasuki bulan ke 9 atau Bulan September, menandakan bahwa tidak kurang dari 4 bulan lagi tahun 2025 akan segera berganti menjadi tahun 2026. Pergantian tahun selalu menjadi momen yang Istimewa karena membawa harapan baru akan kehidupan yang lebih baik.   Momen pergantian tahun tentu diikuti dengan berbagai rencana baru. Pada setiap bulannya akan ditemui hari libur Nasional bahkan cuti bersama yang biasanya menjadi hal yang paling ditunggu oleh sebagian besar pekerja. Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama merupakan kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama keluarga atau orang-orang terdekat serta sejenak melepas penat dari aktivitas pekerjaan yang melelahkan. Mengenai penetapan Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama tahun 2026, pemerintah secara resmi telah menetapkan total sebanyak 25 hari yang terdiri dari 17 hari libur Nasional serta 8 hari cuti Bersama Ketetapan tersebut tertuang dalam Keputusan Bersama (SKB) Nomor 1497 Tahun 2025, Nomor 2 Tahun 2025, dan Nomor 5 Tahun 2025 mengenai Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2026 yang ditandatangani oleh Menteri Agama, Menteri Tenaga Kerja, dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB). Baca juga: Peringatan Hari Jantung Sedunia 2025, Sejarah hingga Cara Memperingati Pada surat tersebut disebutkan bahwa penetapan Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama dilaksanakan dalam rangka efisiensi dan efektivitas hari kerja serta memberi pedoman bagi instansi pemerintah dan swasta dalam melaksanakan hari libur Nasional dan cuti bersama tahun 2026 Selain itu, untuk diketahui bahwa penetapan cuti bersama tersebut nantinya akan mengurangi hak cuti tahunan pegawai/karyawan/pekerja sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang berlaku pada setiap unit kerja atau satuan organisasi, lembaga atau perusahaan. Daftar Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama tahun 2026 berdasarkan SKB 3 Menteri Hari Libur Nasional 2026 Cuti Bersama 2026 Baca juga: BI Jaga Momentum, Bunga Acuan Diturunkan Bertahap dari 5 hingga 4,75 Persen Penulis: Gita Rianti D Pratiwi Editor: Glancy Verona Ilustrasi By AI

Read More

Peringatan Hari Jantung Sedunia 2025, Sejarah hingga Cara Memperingati

Jakarta – 1miliarsantri.net : Penyakit jantung masih menempati penyebab kematian tertinggi di dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Untuk diketahui, penyakit jantung atau kardiovaskular merupakan penyebab kematian tertinggi di dunia, dengan sekitar 17,9 juta orang meninggal setiap tahunnya akibat penyakit ini. Dikutip dari situs ayosehat.kemkes.go.id, penyakit jantung merujuk pada kondisi yang mempengaruhi fungsi normal jantung yang berkaitan dengan kemampuan jantung untuk memompa darah dengan efektif sehingga menyebabkan gangguan pada sirkulasi darah serta berpotensi menjadi ancaman yang serius bagi Kesehatan. Faktor Penyebab Penyakit Jantung? Penyebab penyakit jantung dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah sebagai berikut: Banyaknya kasus kematian global akibat penyakit jantung, melatarbelakangi Federasi Jantung Dunia (WHF) untuk meningkatkan kesadaran serta memberikan edukasi pada masyarakat tentang pencegahan dan mempromosikan gaya hidup sehat melalui peringatan Hari Jantung Sedunia pada tanggal 29 September. Peringatan ini menjadi wadah untuk membuka wawasan dan pemahaman mengenai betapa vitalnya menjaga kesehatan jantung dalam kehidupan sehari-hari. Pentingnya Hari Jantung Sedunia juga terletak pada perannya sebagai pengingat bagi masyarakat akan urgensi menjaga kesehatan jantung. Dalam menyikapi fakta ini, maka penting bagi setiap individu untuk mengambil tindakan pencegahan. Beberapa langkah untuk menjaga kesehatan jantung meliputi mengonsumsi makanan sehat, berolahraga secara teratur, tidak merokok, dan mengontrol tekanan darah serta kolesterol. Baca juga: BI Jaga Momentum, Bunga Acuan Diturunkan Bertahap dari 5 hingga 4,75 Persen Hari Jantung Sedunia 2025 Peringatan Hari Jantung Sedunia pertama kali digelar pada tahun 2000 oleh Federasi Jantung Dunia (World Heart Federation). Sejak itu, setiap tahun, tema berbeda diusung untuk meningkatkan kesadaran dan memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang pentingnya kesehatan jantung. Peringatan Hari Jantung Sedunia 2025 mengangkat tema “Jangan Lewatkan Detak Jantung” (Don’t Miss A Beat), yang bermakna mengajak masyarakat untuk tidak mengabaikan kesehatan jantung serta mengambil tindakan nyata dalam mencegah penyakit kardiovaskular. Tidak hanya itu, peringatan Hari Jantung Sedunia 2025 ini juga sebagai bentuk kewaspadaan dini dalam mendeteksi masalah jantung sedini mungkin sehingga mendorong masyarakat untuk melakukan tindakan preventif seperti melakukan gaya hidup sehat serta melakukan tindakan positif untuk menjaga kesehatan jantung. Cara Memperingati Hari Jantung Sedunia Pada Hari Jantung Sedunia, berbagai organisasi kesehatan dan rumah sakit menyelenggarakan berbagai kegiatan seperti seminar, kampanye kesehatan, dan pemeriksaan kesehatan gratis. Hal ini bertujuan untuk memberikan informasi dan edukasi kepada masyarakat tentang kesehatan jantung. Pemeriksaan kesehatan gratis yang dilakukan adalah untuk membantu masyarakat memantau kondisi jantung mereka serta mengambil langkah-langkah pencegahan jika diperlukan. Oleh karena itu, mari manfaatkan peringatan Hari Jantung Sedunia untuk memperbaiki pola hidup, menjaga kesehatan jantung, dan membawa dampak positif bagi kesejahteraan diri sendiri dan masyarakat pada umumnya. Selamat Hari Jantung Sedunia 2025! Semoga peringatan ini membawa dampak positif dalam upaya menjaga kesehatan jantung dan mengurangi angka penyakit kardiovaskular di seluruh dunia. Baca juga: Ekonomi Kreatif: Kekuatan Baru Indonesia dalam Persaingan Global Penulis: Gita Rianti D Pratiwi Editor: Glancy Verona Ilustrasi by AI

Read More

Yaman Sukses Serang Israel, Bom Jatuh Tepat Di Jantung Pelabuhan Kota Eliat

Pertahanan Israel Iron Dome kembali jebol oleh serangan Drone Houthi dari Yaman Eliat, Israel -1miliarsantri.net: Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah serangan yang diklaim oleh kelompok Houthi di Yaman berhasil menembus sistem pertahanan udara Israel. Sebuah drone bermuatan bahan peledak dilaporkan jatuh di pelabuhan Kota Eilat, wilayah strategis yang terletak di pesisir Laut Merah. Sebuah pesawat tak berawak (drone) yang diluncurkan dari Yaman mengenai kawasan pusat Kota Eilat, Israel, hingga menyebabkan puluhan orang luka dan menimbulkan gangguan operasional di area pelabuhan. Kelompok Houthi di Yaman mengklaim serangan tersebut, sementara Israel menyatakan akan menanggapi insiden ini. Video serangan dipublikasikan oleh channel Telegram PalestinaPost. Insiden ini bukan hanya menimbulkan korban luka, tetapi juga memicu kekhawatiran baru tentang keamanan maritim dan pariwisata di kawasan tersebut. Detik-detik serangan Dikutip dari Reuters, Pada Rabu malam, sebuah drone asal Yaman dilaporkan jatuh di wilayah dekat pelabuhan Eilat—kawasan yang strategis di pesisir Laut Merah. Petugas medis setempat dan layanan darurat melaporkan puluhan korban luka, termasuk beberapa yang berada dalam kondisi serius. Laporan awal menyebutkan sistem pertahanan udara Israel sempat mencoba mencegat tetapi gagal sepenuhnya menghentikan objek tersebut sebelum memasuki area kota. Klaim dan respons Kelompok Houthi yang berbasis di Yaman mengklaim bertanggung jawab atas peluncuran drone sebagai bagian dari aksi solidaritas terhadap Palestina dan sebagai balasan atas operasi udara Israel di wilayah Yaman. Pihak Israel mengecam serangan ini dan memperingatkan akan ada respons militer jika ancaman terhadap infrastruktur dan warga negaranya terus berlanjut. Pernyataan resmi dan kecaman internasional mengikuti insiden ini. Serangan Yaman Berdampak Pada Pariwisata Menurut The Guardian, Pelabuhan Eilat—yang juga melayani aktivitas komersial dan wisata—mengalami gangguan sementara. Aktivitas penumpang dan kargo dipengaruhi karena upaya evakuasi dan pemeriksaan keamanan yang meningkat. Kota Eilat, sebagai tujuan wisata, menghadapi kekhawatiran turis dan operator hotel terkait keamanan jangka pendek. Potensi Eskalasi Pemerintah zionis Israel belum merespon serangan tersebut, timbul pertanyaan “Israel akan membalas langsung ke Yaman, atau memilih strategi diplomatik melalui sekutu internasional?” Potensi eskalasi dapat terjadi dengan skenario: Operasi Militer Terbatas: Israel melancarkan serangan udara ke basis Houthi di Yaman, Eskalasi Regional: Konflik meluas dengan melibatkan Iran secara lebih langsung, atau Tekanan Diplomatik: Israel bersama AS mendorong Dewan Keamanan PBB untuk menjatuhkan sanksi lebih keras terhadap Houthi.. Serangan drone Houthi ke pelabuhan Kota Eilat menjadi titik balik dalam konflik Timur Tengah. Bukan hanya menimbulkan kerusakan fisik dan korban luka, tetapi juga memperlihatkan kerentanan Israel terhadap serangan jarak jauh. Peringatan Keras untuk Israel Kerentanan Pertahanan Iron Dome Bagi Israel, serangan ini menjadi peringatan keras bahwa keamanan nasional tidak hanya terancam dari utara (Lebanon) atau barat (Gaza), tetapi juga dari selatan yang selama ini dianggap relatif aman. Dampak terhadap perdagangan, pariwisata, dan keamanan regional diperkirakan masih akan terasa dalam waktu lama. Dengan keterlibatan aktor-aktor besar seperti AS dan Iran, konflik ini berpotensi berkembang menjadi krisis internasional yang lebih serius.*** Penulis : Thamrin Humris Editor : Thamrin Humris Sumber :  PalestinaPost

Read More
masjid Ghamamah

Masjid Ghamamah Madinah, Tempat Bersejarah yang Memberi Banyak Hikmah!

Surabaya – 1miliarsantri.net: Dalam perjalanan pertama kali menjajaki Masjid Nabawi melalui gate 310, ada satu masjid di sekitar sana  yang berhasil membuat hati terkesima. Langit sore menjelang maghrib ada awan-awan putih berkerumun di kubah masjid Ghamamah. Bahkan banyak merpati yang singgah di kubah, sesekali terbang beriringan menciptakan keindahan di sore itu. Karena baru pertama kali di Madinah, jadi penasaran kenapa Masjid Ghamamah/Al-Musalla (melihat penjelasan di papan sejarah depan masjid) begitu memikat hati. Peristiwa Awan Mendung yang Menjadi Rahmat Nama “Ghamamah” sendiri berarti “awan mendung”. Julukan ini merujuk pada peristiwa istimewa yang dialami Rasulullah ketika melaksanakan shalat Ied di lapangan tempat masjid ini berdiri. Dikisahkan bahwa Rasulullah pernah melaksanakan shalat Idul Fitri dan Idul Adha di Masjid Ghamamah. Saat itu, masyarakat Madinah berkumpul untuk beribadah bersama. Menariknya, ketika beliau memimpin shalat, sebuah awan menaungi sehingga tempat itu tidak terik meski di bawah sinar matahari. Hal ini menjadi isyarat betapa kasih sayang Allah menaungi Nabi dan umatnya. Doa Nabi Meminta Hujan Saat Madinah Paceklik (Shalat Istisqa) Salah satu peristiwa paling terkenal di Masjid Ghamamah adalah ketika Madinah mengalami musim paceklik panjang. Tanah gersang, sumur-sumur mengering, dan hewan ternak mati kekurangan air.  Dalam kondisi sulit itu, Rasulullah berdiri di Masjid Ghamamah dan memanjatkan doa meminta hujan. Doa yang pernah dibacakan Nabi Muhammad ketika memohon turunnya hujan pernah diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah: اللَّهمَّ اسْقِ عِبَادَكَ وَبَهَائِمَكَ وَانْشُرْ رَحْمَتَكَ وَأَحْيِ بَلَدَكَ الْمَيِّتَ Artinya: “ Ya Allah, turunkanlah hujan kepada hamba-hamba-Mu dan binatang-binatang (ciptaan)-Mu, sebarkanlah rahmat-Mu, dan hidupkanlah negeri-Mu yang sebelumnya mati (gersang).” Tak lama setelah beliau menengadahkan tangan, awan mendung berkumpul dan hujan turun dengan derasnya. Masyarakat pun bersujud syukur. Kisah ini menjadi bukti nyata bahwa doa seorang hamba yang ikhlas mampu mendatangkan pertolongan Allah. Nabi bersabda: الدُّعَاءُ سِلاَحُ المُؤْمِنِ وَعِمَادُ الدِّيْنِ وَنُوْرُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ “Sesungguhnya doa adalah senjata orang beriman, tiang agama, dan cahaya langit dan bumi.” (HR. Hakim). Kisah Nabi Muhammad Kecil di Tengah Kekeringan Menariknya, bahkan sebelum beliau diangkat menjadi Nabi, Muhammad kecil sudah pernah merasakan pahitnya musim paceklik. Sejarah mencatat, ketika itu kakeknya, Abdul Muthalib membawanya bersama kaum Quraisy untuk berdoa meminta hujan. Doa Abdul Muthalib bersama cucunya terkabul, hujan pun turun setelah sekian lama musim kemarau di Makkah. Kisah ini menunjukkan bahwa sejak kecil, Nabi Muhammad  sudah menjadi sosok yang dihubungkan dengan rahmat Allah. Kehadirannya membawa harapan di tengah kesulitan, sebagaimana hujan yang menghidupkan kembali tanah yang mati. Baca juga: Sejarah Jilbab Dalam Peradaban Pra-Islam Hikmah Peristiwa di Masjid Ghamamah Dari peristiwa ini, ada beberapa hal yang bisa ambil pelajaran sebagai hikmah, seperti: 1. Allah mendengar dan mengabulkan setiap doa di waktu yang tepat Peristiwa di Masjid Ghamamah menegaskan bahwa doa bukan sekadar ucapan, melainkan pengakuan atas kuasa Allah. Allah menegaskan dalam Al-Qur’an Al-Baqarah 186: وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِى وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ Artinya: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. Kisah doa hujan ini membuktikan bahwa doa adalah senjata mukmin, bahkan di saat situasi terlihat mustahil. 2. Kesabaran menanti pertolongan Allah Musim paceklik sering membuat manusia putus asa. Namun, Rasulullah menunjukkan kesabaran hingga pertolongan Allah datang di waktu terbaik. Allah berfirman: فَاصْبِرْ اِنَّ وَعْدَ اللّٰهِ حَقٌّ وَّلَا يَسْتَخِفَّنَّكَ الَّذِيْنَ لَا يُوْقِنُوْنَࣖ Artinya:  “Maka, bersabarlah engkau (Nabi Muhammad)! Sesungguhnya janji Allah itu benar. Jangan sampai orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu membuat engkau bersedih. (QS. Ar-Rum: 60) Dari peristiwa ini, kita bisa belajar bahwa pertolongan Allah bukan terlambat, tetapi selalu datang pada saat yang paling tepat. Baca juga: Sejarah Perjuangan Islam Melawan Penjajah di Indonesia: Sejarah yang Terlupakan Wisata Religi yang Memberikan Energi Hati Mengunjungi Masjid Ghamamah Madinah bukan sekadar wisata religi, melainkan perjalanan hati. Saat melangkah di masjid ini, bayangkan Rasulullah berdiri dengan penuh harap lalu Allah kabulkan doanya dengan turunnya hujan. Kisah ini mengajarkan bahwa doa, kesabaran, dan rahmat Allah adalah kunci menghadapi hidup. Seperti hujan yang menyapa bumi yang haus, doa pun mampu menghidupkan kembali hati yang kering. Penulis : Iftitah Rahmawati Editor : Thamrin Humris dan Ainun Maghfiroh Sumber foto: Ilustrasi

Read More
demo

Ada Demo di Zaman Nabi? Ternyata Begini Cara Menyampaikan Aspirasi yang Tepat Tanpa Anarkis!

Surabaya – 1miliarsantri.net: Pertengahan Agustus dan September telah terjadi demo hampir di seluruh wilayah Indonesia. Semua itu berawal dari demo yang terjadi di Pati lantaran kebijakan kenaikan pajak dan sikap arogan pemimpin daerah. Dalam kehidupan bernegara tak dapat dielakkan akan terjadi pro kontra terhadap kebijakan yang menimbulkan protes atau aspirasi oleh masyarakat. Hal itu pun pernah terjadi di era Nabi Muhammad. Namun bagaimana realitas demo umat Islam terdahulu?. Tidak Ada Demo Massal, Tapi Ada Penyampaian Aspirasi Dalam catatan sejarah, Rasulullah tidak pernah menganjurkan umatnya untuk melakukan demonstrasi massal seperti di era modern. Namun, bukan berarti umat Islam pada masa itu tidak memiliki ruang untuk menyampaikan pendapat. Rasulullah justru memberikan teladan bahwa aspirasi boleh disampaikan, selama dilakukan dengan cara yang santun dan tidak menimbulkan kerusakan. Misalnya, ketika terjadi perjanjian Hudaibiyah, sebagian sahabat merasa keberatan dengan isi perjanjian tersebut. Mereka menyampaikan protes dan kebingungan kepada Rasulullah. Meski sempat kecewa, para sahabat akhirnya tunduk pada keputusan beliau. Dari sini terlihat bahwa penyampaian aspirasi di era Nabi lebih berbentuk musyawarah dan dialog langsung, bukan gerakan massa yang menekan dengan keributan. Musyawarah Sebagai Ruang Aspirasi Al-Qur’an sendiri menegaskan pentingnya musyawarah sebagai jalan bermartabat untuk menyampaikan pendapat. Allah  berfirman: وَالَّذِيْنَ اسْتَجَابُوْا لِرَبِّهِمْ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَۖ وَاَمْرُهُمْ شُوْرٰى بَيْنَهُمْۖ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَۚ Artinya: (juga lebih baik dan lebih kekal bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhan dan melaksanakan salat, sedangkan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka. Mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka (QS. Asy-Syura: 38). Ayat ini menjadi dasar bahwa sejak masa Nabi, umat Islam memiliki ruang untuk menyampaikan suara dan keberatan. Namun dengan cara musyawarah, bukan dengan tindakan anarkis. Baca juga: Sejarah Alquran Braille di Indonesia Aksi Protes di Era Nabi Muhammad Beberapa peristiwa dalam sejarah Islam menunjukkan bahwa sahabat berani menyampaikan aspirasi mereka, mulai dari peristiwa: Semua ini menunjukkan bahwa protes di era Nabi disampaikan melalui komunikasi langsung, terbuka, dan penuh adab. Pandangan Ulama Tentang Aksi Massa Sejumlah ulama kontemporer menilai bahwa aksi demonstrasi boleh dilakukan selama damai dan tidak melanggar syariat. Syekh Yusuf al-Qaradawi dalam fatwanya menyebutkan bahwa unjuk rasa dapat menjadi sarana amar ma’ruf nahi munkar, asal tidak disertai kerusakan dan kekerasan. Namun, perlu dicatat bahwa teladan Rasulullah  lebih menekankan pada musyawarah dan dialog. Hal ini sejalan dengan hadis: “Agama itu adalah nasihat.” (HR. Muslim). Hadis ini menekankan bahwa kritik dan aspirasi sebaiknya disampaikan dalam bentuk nasihat, bukan kemarahan. Baca juga: Sejarah Perjuangan Islam Melawan Penjajah di Indonesia: Sejarah yang Terlupakan Belajar dari Sejarah Dari sejarah protes muslim di era Nabi, kita bisa belajar bahwa penyampaian aspirasi sudah ada sejak dahulu, meski bentuknya berbeda dengan demonstrasi modern. Rasulullah membuka ruang dialog, mendengarkan sahabat, dan menghargai perbedaan pendapat. Semua dilakukan dengan prinsip musyawarah, adab, dan menjaga persatuan umat. Dengan demikian, jika di zaman sekarang umat Islam ingin menyampaikan aspirasi, teladan Nabi  mengajarkan untuk melakukannya dengan cara damai, beradab, dan tetap menjaga ukhuwah. Semoga informasinya bermanfaat! Penulis : Iftitah Rahmawati Editor : Thamrin Humris dan Ainun Maghfiroh Sumber foto: Ilustrasi

Read More

Menyentuh Pasangan Halal Dapat Membatalkan Wudhu? Awas Ibadah Shalat Tidak Sah

Bondowoso – 1miliarsantri : Dalam keseharian, bersentuhan dengan pasangan halal adalah hal yang hampir tidak bisa dihindari. Ada kalanya hanya sekadar bergandengan tangan, menyentuh bahu, atau bahkan tidak sengaja bersentuhan saat beraktivitas bersama. Situasi inilah yang membuat pertanyaan tentang apakah menyentuh pasangan halal akan membatalkan wudhu menjadi penting. Kita tentu tahu bahwa wudhu merupakan syarat utama untuk menunaikan shalat, dan shalat tidak akan sah tanpa wudhu yang benar. Sebab kita tidak ingin ibadah shalat yang dilakukan dengan penuh kesungguhan justru tidak diterima hanya karena kesalahan dalam memahami hukum wudhu. Karena itu, penting bagi kita untuk memahami bagaimana hukum Islam memandang hal ini, agar ibadah tetap sah dan hati menjadi lebih tenang Pendapat Ulama tentang Hal yang Membatalkan Wudhu Jika kita bertanya apakah menyentuh pasangan halal membatalkan wudhu, ternyata para ulama memiliki perbedaan pandangan. Tidak ada satu jawaban tunggal yang mutlak, melainkan ada perbedaan ijtihad berdasarkan pemahaman mereka terhadap dalil Al-Qur’an dan hadis. Sebagian ulama berpendapat bahwa menyentuh istri bisa membatalkan wudhu, terutama jika dilakukan dengan syahwat. Pendapat ini banyak merujuk pada ayat dalam Al-Qur’an surat An-Nisa: 43, yang menyebutkan tentang “lamastumun nisa” (menyentuh perempuan). Ada yang menafsirkan kata itu sebagai bersentuhan fisik, sehingga wudhu batal karenanya. Namun, ada juga ulama yang menafsirkan bahwa maksud ayat tersebut bukan sekadar sentuhan biasa, melainkan hubungan intim. Maka, sentuhan tanpa syahwat tidak otomatis membatalkan wudhu. Inilah kenapa perbedaan pendapat muncul, dan kita sebagai orang awam perlu memahami konteksnya. Kalau kita bayangkan, tentu tidak mungkin dalam rumah tangga kita selalu menghindari sentuhan dengan pasangan. Jadi, wajar kalau kita ingin tahu lebih jauh tentang apakah menyentuh istri membatalkan wudhu. Dalam praktiknya, mayoritas ulama bersepakat bahwa sentuhan dengan syahwat lebih besar kemungkinan membatalkan wudhu. Tapi jika sekadar bersentuhan tanpa niat dan tanpa rasa syahwat, sebagian ulama menyebut wudhu tetap sah. Baca Juga : tips praktis menjaga ibadah shalat Seperti ketika sedang berjalan lalu tanpa sengaja menyentuh tangan istri atau suami, tentu berbeda hukumnya dengan sentuhan yang disertai keintiman. Jadi, dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa lebih tenang beribadah dengan memahami perbedaan ini. Saat kita dihadapkan pada perbedaan pandangan ulama tentang apakah menyentuh istri membatalkan wudhu, maka yang terbaik adalah mengambil sikap yang membuat hati kita lebih tenang. Jika ragu, kita bisa memperbarui wudhu agar ibadah menjadi lebih khusyuk. Tapi jika sedang dalam kondisi yang sulit, seperti di perjalanan atau dalam keadaan terbatas, maka mengikuti pendapat ulama yang lebih ringan juga diperbolehkan. Baca Juga : 4 Janji Allah untuk Pecinta Shalat Tahajud Islam selalu memberikan kelapangan kepada umatnya, dan tidak pernah bermaksud menyulitkan. Karena itu, memahami hukum seperti ini sebaiknya tidak dijadikan beban, melainkan sebagai bentuk ikhtiar agar ibadah kita tetap terjaga kualitasnya. Dari pembahasan di atas, kita bisa melihat bahwa ulama memiliki perbedaan dalam menjawab pertanyaan apakah menyentuh istri membatalkan wudhu. Sebagian mengatakan batal, terutama jika disertai syahwat, sementara sebagian lain menilai tidak batal kecuali ada hubungan intim. Sebagai umat Islam, kita bisa memilih pendapat yang sesuai dengan keyakinan kita, seraya tetap menjaga kesucian wudhu untuk ibadah. Yang paling penting bukan hanya soal apakah menyentuh istri membatalkan wudhu atau tidak, melainkan bagaimana kita menjaga ibadah agar lebih khusyuk dan bernilai di hadapan Allah. Dengan sikap hati-hati, insyaAllah kita akan lebih tenang dalam beribadah.(**) Penulis : Iffah Faridatul Hasanah Editor : Toto Budiman Foto : Ilustrasi AI

Read More