Kebenaran Risalah Jin Islam

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Segala Ketentuan dari Allah adalah benar, termasuk diantaranya menjadikan kebeneran risalah Islam tidak hanya diamini golongan manusia, tetapi juga dari bangsa jin. Berikut ini sejumlah fakta terkait dengan islamnya jin terhadap Islam dan syariatnya yang dirangkum dari berbagai sumber: وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (beribadah) kepada-Ku.” (QS Adz-Dzaariyat [51]: 56). Ayat ini juga menunjukkan kepada umat manusia, bahwa jin yang diciptakan Allah dari api pun bisa menerima kebenaran Alquran dan Islam. Sementara, manusia yang diciptakan Allah dari tanah dan diberi kelebihan berupa akal, ternyata belum sepenuhnya menerima Islam. Seharusnya, mereka berkaca dari keterangan ayat ini. Ibnu Mas’ud menyatakan, dirinya ikut menyaksikan malam turunnya ayat Jin ini. Rasulullah SAW bersabda; ”Aku didatangi juru dakwah dari kalangan jin. Lalu kami pergi bersamanya, dan aku bacakan Alquran kepada mereka.” Setelah mereka mendengarkannya dengan sungguh-sungguh dan memahami hakikat Kalamullah (Alquran), mereka segera bertolak dan bergerak menuju kaumnya untuk memberi kabar gembira dan mengajarkan apa-apa yang telah mereka pahami dan dengarkan dari Rasulullah SAW Kendati demikian, diamnya para sahabat ini dalam merespons ayat Alquran ini masih lebih baik dibandingkan dengan orang-orang kafir Quraisy yang enggan mengimani dan meyakini kebenaran Alquran dan ajaran Islam. Baca juga :

Read More

PBNU Berharap Pertikaian di Rempang Segera Dihentikan

Jakarta — 1miliarsantri.net : Hingga saat ini kondisi dan situasi terkait sengketa tanah di Pulau Rempang, Kepulauan Riau masih memanas. Kekisruhan tersebut juga terkait dengan proyek Eco-City di Pulau Rempang. Pendekatan yang dianggap kurang persuasif membuat situasi tidak terkendali sehingga menjadi isu nasional. Berbagai upaya dan himbauan dari berbagai pihak terus berdatangan, termasuk dari Ketua Komisi Rekomendasi Munas dan Konbes NU 2023, Ulil Abshar Abdallah. Dia meminta agar pendekatan keamanan dan kekerasan dalam sengketa tanah rakyat harus dihentikan. Hal tersebut merujuk kepada sengketa tanah di Pulau Rempang, Kepulauan Riau. Dan rekomendasi tersebut merupakan hasil Munas dan Konbes NU 2023 di Jakarta. “Pertumbuhan ekonomi dan peningkatan investasi tidak boleh dicapai dengan melanggar hak-hak rakyat kecil pada akhirnya pembangunan adalah sarana saja yang menjadi tujuan adalah manusia itu sendiri. Karena itu kemaslahatan manusia haruslah menjadi pertimbangan pokok,” ujar Ulil saat membacakan hasil rekomendasi, Selasa (19/09/2023). Selanjutnya, PBNU mendorong kepada semua pihak untuk coolingdown. Setelah itu pemerintah harus mendengar aspirasi rakyat sebaik mungkin sehingga kepentingan investasi tidak mengorbankan hak rakyat kecil. Rekomendasi terakhir terkait Pulau Rempang adalah mengajak warga Rempang bersabar dan berdoa agar dicapai solusi terbaik. Sehingga membawa kemaslahatan kepada semua terutama masyarakat. “Kami berharap kepada semua pihak agar tidak bertindak anarkis karena semua bisa dibicarakan secara baik-baik tanpa menimbulkan banyak korban,” pungkasnya. (wink) Baca juga :

Read More

Nasib Tragis Menimpa Santri Yang Hendak Ngaji, Meninggal Tertimpa Dinding Masjid

Padang — 1miliarsantri.net : Nasib malang menimpa Gian Septiawan Ardani (8 tahun) murid TPQ Masjid Raya Lubuk Minturun, yang meninggal tertimpa dinding tempat wudhu di Masjid Raya Lubuk Minturun, Kota Padang, Senin (18/09/2023). Akibat tertimpa dinding yang ditabrak pelajar SMP yang naik motor dengan gaya freesytle, Gian mengalami cidera kepala sangat serius. Berdasarkan pantauan dilokasi kejadian pada Selasa (19/09/2023) malam WIB, dinding pembatas antara parkiran dan tempat wudhu yang berada di samping masjid tidak memiliki pondasi. Dinding tersebut hanya melekat pada tiang yang berbahan baja ringan. Pengurus Masjid Raya Lubuk Minturun, Desriadi, mengatakan pihaknya akan melakukan rapat bersama RT RW serta tokoh masyarakat terkait dinding pembatas tempat wudhu masjid yang mengakibatkan satu orang anak meninggal. “Dirapatkan dulu sama RT RW dan tokoh masyarakat,” ujar Desriadi saat dihubungi 1miliarsantri.net, Selasa (19/09/2023). Desriadi mengaku baru mengetahui insiden yang dialami Gian satu jam setelah kejadian. Sehingga, ia tidak mengetahui kronologi secara pasti. Desriadi hanya melihat kejadian melalui rekaman kamera CCTV. Menurut Desriadi, Gian biasanya mengaji sehabis Shalat Ashar. Namun sebelum jam masuk, biasanya melangsungkan shalat terlebih dahulu. “Kronologinya ya seperti yang di video. Anak kita ini masih belajar mengaji iqra. Mengajinya sore, setelah Ashar. Sebelum mengaji ambil wudhu siap-siap shalat Ashar,” terangnya. Desriadi menambahkan, tiba-tiba datang anak SMP dengan standing-standing sepeda motor. Diluar kendali menabrak dinding. Takdir sudah menimpa Gian hingga menyebabkan meninggal dunia. Detik-detik korban tertimpa dinding beton ini terekam CCTV hingga beredar di media sosial. Terlihat, korban yang memakai seragam mengaji berlari menuju tempat wudhu. Di sana, sudah terdapat temannya. Lalu korban mengambil wudhu ditemani rekanya. Di saat bersamaan, terdapat dua orang pelajar SMP berdiri dan telah memarkirkan sepeda motor Mio putih. Juga terdapat bapak-bapak bermain handphone di atas sepeda motornya. Tak lama berselang, datang dua orang pelajar lainnya dengan mengendarai sepeda motor Mio hitam. Saat sampai di parkiran masjid, pelajar yang berbonceng turun dari sepeda motor Mio hitam ini. Namun, kemudian pengemudi sepeda motor hitam malah melakukan freestyle motor gaya standing hingga hilang kendali. Sepeda motor menabrak dinding beton, lalu korban tertimpa hingga dinyatakan tewas. Korban mengalami cedera kepala berat dan meninggal dunia dibawa ke RSUP Djamil Padang. Kepala Unit Penegakan Hukum (Kanit Gakkum) Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polresta Padang, Iptu Arisman, mengatakan insiden itu terjadi pada Senin (18/09/2023) sekitar pukul 15.00 WIB. “Benar telah terjadi laka lantas sepeda motor Yamaha Mio Sporty BA 2837 AM Hilang kendali tabrak beton. Korban saat itu sedang ambil wudhu,” terang Arisman Selasa (19/09/2023). Arisman menyebut dinding beton tersebut merupakan pembatasan parkiran di area masjid. Di balik dinding merupakan tempat wudhu, posisi berada di bawah. “Sepeda motor ini belok kiri arah parkiran masjid, sesampai di TKP hilang kendali, ban motor depan terangkat menabrak beton pembatas parkiran. Beton roboh tertimpa anak yang sedang mengambil wudhu di balik beton,” ujarnya. Menurut Arisman, kasus ini masih ditangani Unit Penegakan Hukum Satlantas Polresta Padang. Arisman belum merinci bagaimana penyelesain kasus dan status pelajar SMP yang menabrak dinding beton. (mik) Baca juga :

Read More

Pentingnya Memahami Fase Takbiratul Ihram Agar Sempurna Dalam Sholat

Surabaya — 1miliarsantri.net : Salah satu rukun dalam sholat adalah takbiratul Ihram. Karenanya penting bagi kita sebagai orang Muslim untuk memperhatikan fase takbiratul ihram agar sempurna dan menjadikan khusyuk dalam sholat. Berikut ini sejumlah hal yang penting dalam takbiratul ihram agar mendukung keabsahan dan kesempurnaan sholat sebagaimana disebutkan Imam Al Ghazali dalam kitab Bidayat al-Hidayah: فإذا حضر قلبك ، فلا تترك الإقامة وإن كنت وحدك. وإن انتظرت حضور جماعة ، فأذن ثم أقم. Artinya: Maka bila telah hadir hatimu (untuk menunaikan sholat) maka jangan engkau tinggalkan mengumandangkan iqamat kendatipun engaku sendiri, bila engkau menunggu hadirnya jamaah maka adzanlah dulu kemudian iqamat. (Lihat kitab Bidayat al-Hidayah halaman 136 cetakan Darul Minhaj Lebanon Beirut). Teknisnya seseorang yang akan sholat mengangkat kedua tangannya sambil lisan membaca takbir dan dalam hati berniat menjanjikan sholat. Posisi tangan diangkat dengan jempol selurus daun telinga (bagian terbawah/lobule) sedang jari lainnya lurus sehingga ujungnya berada di atas daun telinga dan posisi bagian tangan atas lurus dengan kedua pundak. فإذا أقمت ، فانو بقلبك أداء فرض الظهر لله تعالى ، وليكن ذلك حاضرا في قلبك عند تكبيرة الإحرام ، ولا يعزب ذلك عنك قبل الفراغ من التكبير ، وارفع يديك عند التكبير بعد إرسالهما أولا إلى منكبيك وهما مبسوطتان ، وأصابعهما منشورة ، ولا تتكلف ضمهما ولا تفريجهما ، وارفع بحيث يحاذي إبهامك شحمة أذنك ورؤوس أصابعك أعالي أذنيك ، وتحاذي بكفيك منكبيك Artinya: “Bila engkau telah iqamat, maka niatlah dalam hatimu saya niat melaksanakan sholat fardhu Zuhur karena Allah Ta’ala. Dan hendaklah niat sholat itu hadir di dalam hatimu ketika membaca takbiratul ihram. Dan jangan hilangkan niat darimu sebelum selesai takbir. Dan angkatlah kedua tanganmu ketika takbir setelah melepas kedua tangan ke selurus pundakmu sedangkan kedua tangan di bentangkan, dan jari-jari tangan renggangkan, dan jangan engkau memaksa mengumpulkan tangan dan jangan memaksa di renggangkan jari-jari. Dan angkatlah tangan kedua tanganmu sekiranya lurus jempolnya tangan ke daun telinga. Ujung jarimu lurus bagian atas telingamu, dan lurus dua tangan kedua pundakmu.” (Lihat kitab Bidayat al-Hidayah halaman 137). فإذا استقرتا في مقرهما ، فكبر. ثم أرسلهما برفق ولا تدفع يديك عند الرفع والإرسال إلى قدام دفعا ، ولا إلى خلف ، ولا تنفضهما يمينا وشمالا. فإذا أرسلتهما ، فاستأنف رفعهما إلى صدرك. “Dan jika dua-duanya telah mapan di tempatnya, maka takbirlah dan lepas kedua tangan itu perlahan-lahan. Dan jangan mendorong kedua tanganmu ke arah depan ketika mengangkat tangan dan jangan mendorong ke belakang dan jangan mengkinaskan kedua tangan ke arah kanan dan kiri,bila telah melepas kedua tangan itu maka angkatlah kedua tangan itu ke arah dadamu.” (Lihat kitab Bidayat al-Hidayah halaman 137). وأكرم اليمين بوضعها على الشمال ، وانشر أصابع اليمنى في طول ذراعك اليسرى ، واقبض بها على كوعها ، Artinya: Dan muliakan tangan kanan dengan meletakannya di atas tangan kiri. Dan sebarkan jari tangan kanan ke tangan kiri. Dan genggam pergelanganmu. وقل بعد التكبير: الله أكبر كبيرا ، والحمد لله كثيرا ، وسبحان الله بكرة وأصيلا. ثم اقرأ : وجهت وجهي للذي فطر السماوات والأرض حنيفا مسلما وما أنا من المشركين ، إن صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين لا شريك له ، وبذلك أمرت وأنا من المسلمين. Dan ucapkanlah setelah takbir: Allahu Akbar Kabirow wal hamdulillahi Katsiraw wa subhanallahi bukrataw wa ashilah. Kemudian membaca: Inni wajjahtu wajhiya lilladzi fatoro samawati wal Ardhi’ Hanifah muslima wama ana minal musyrikin. Inna sholaty wanusuki wa mahyaya wamamati lillahi rabbil Al-Amin lasyarikalahu wabidzalika umirtu wana minal muslimin. (Lihat kitab Bidayat al-Hidayah halaman 138). (yat) Baca juga:

Read More

Museum Islam Nusantara Diharapkan Bisa Mempererat Akulturasi

Rembang — 1miliarsantri.net : Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Salahudin Uno, meresmikan Museum Islam Nusantara, yang berlokasi di komplek Masjid Jami’ Lasem, Rembang, Jawa Tengah, Sabtu (16/09/2023). Dalam sambutannya, Sandiaga menyebut Museum Islam Nusantara sarat dengan nilai akulturasi juga toleransi. Museum yang berlokasi di komplek Masjid Jami’ Lasem ini selain memadukan dua budaya juga berdiri di kawasan pecinan. “Menurut saya ini (museum) menggabungkan antara bangunan rumah gadang khas Sumatera Barat juga ada rumah adat Jawanya. Ini merupakan akulturasi dan penggabungan,” terang Sandiaga dalam sambutannya yang dikutip Senin (18/09/2023). Penggabungan dua arsitektur rumah adat itu, disebut Sandiaga, terinspirasi dari tokoh ulama Lasem, Kyai Ma’shum dan Kyai Baidhowi. “Ini terinspirasi oleh tokoh ulama Lasem, Kyai Ma’shum yang merupakan keturunan Sultan Minangkabau dan Kyai Baidhowi keturunan ningrat Jawa,” urainya. Museum Islam Nusantara sendiri memiliki koleksi artefak, naskah, manuskrip serta narasi tokoh-tokoh Islam yang kaya akan sejarah. Dimana bangunan museum terdiri dari tiga lantai dengan tiap jendelanya diukir ayat-ayat Al Quran. Wakil Ketua Komisi E DPRD Provinsi Jateng, Abdul Azis mengatakan, tujuan pembangunan museum adalah untuk mengenang sejarah Lasem dengan tiga fase sejarah peradaban Islam. “Fase pertama akhir abad 15, di mana peran Walisongo termasuk di dalamnya Sunan Bonang yang masuk ke Lasem untuk menyiarkan agama Islam. Kedua, fase abad ke 17 ada sosok Mbah Sambu selaku tokoh penting yang menurunkan genealogi nasab keilmuan agama hampir ke seluruh pelosok Jawa,” jelas Abdul Azis. Abdul Azis menambahkan, fase ketiga di abad 19 yang memunculkan tokoh-tokoh kharismatik seperti Mbah Maksum, Mbah Baedowi, dan juga Mbah Kholil, yang ketiganya berdakwah melalui pesantren. Museum Islam Nusantara tidak berdiri di lingkungan Muslim, sebab di belakang bangunan merupakan daerah Pecinan. Tercatat, ada 200 lebih bangunan Tionghoa kuno, salah satunya adalah Rumah Merah, yang bisa diakses semua masyarakat. Mengenai Lasem, lanjut Azis, dikenal sebagai Kota Pustaka dan Kota Toleransi, di mana keharmonisan antara Tionghoa, Arab, dan pribumi terjalin sejak ratusan tahun lalu. Pemilihan lokasi museum yang berada di kawasan Pecinan, diakui Abdul Azis sebagai ciri dan identitas masyarakat Lasem yang penuh toleransi. ”Ciri dan identitas serta toleransinya layak dan patut untuk dilestarikan dan itu merupakan bagian dari peninggalan Lasem,” tutup Abdul Azis. (lif) Baca juga :

Read More

Healing Terbaik Menurut Islam adalah Sholat

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Kita semua sering mendengar kata Healing yang akhirnya menjadi populer dalam beberapa tahun ini. Kata healing sendiri diambil dari bahasa Inggris yang diartikan sebagai proses penyembuhan setelah mengalami luka fisik atau emosional. Sementara dalam istilah kekinian, healing dimaknai sebagai proses penyembuhan untuk mendapatkan jiwa dan batin yang tenang. Umumnya, konsep healing diterapkan dalam bentuk berlibur. Healing dalam Islam dicontohkan Nabi Yakub AS, dalam surat Yusuf ayat 84. Yakub AS memiliki duka mendalam setelah kehilangan anak tercintanya, Yusuf. وَتَوَلّٰى عَنۡهُمۡ وَقَالَ يٰۤاَسَفٰى عَلٰى يُوۡسُفَ وَابۡيَـضَّتۡ عَيۡنٰهُ مِنَ الۡحُـزۡنِ فَهُوَ كَظِيۡمٌ Artinya Dan dia (Yakub) berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata, “Aduhai dukacitaku terhadap Yusuf,” dan kedua matanya menjadi putih karena sedih. Dia diam menahan amarah (terhadap anak-anaknya). Nabi Yakub pun mengadu kepada Allah SWT saat mengalami kesedihan mendalam. Pendakwah Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym mengatakan untuk mendapatkan ketenangan hati adalah dengan mengingat Allah SWT, melalui berdzikir. “Tapi yang paling sempurna adalah dalam shalat, di mana jiwa kita mendapatkan ketenangan yang tak tergantikan,” terang Aa Gym dalam kajian MQ Dakwah Digital, dikutip Senin (18/09/2023) Seperti disebutkan dalam surat Ar-Ra’d ayat 28 yang berbunyi, ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ Artinya: (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. “Karena dalam Shalat, kita menemukan kebahagiaan sejati dan ketenangan yang tidak dapat diukur dengan apapun,” lanjut pendiri Pondok Pesantren Daarut Tauhid, Bandung ini. “Dalam kehidupan yang seringkali penuh dengan hiruk-pikuk dan kegelisahan, mari kita jadikan Shalat sebagai jendela menuju kebahagiaan sejati dan ketenangan yang tiada tara, sebagai cara kita mendekatkan diri kepada Allah,” pungkasnya. (yus) Baca juga :

Read More

Ponpes Al Hamid Jakarta Merupakan Gagasan Gus Miek

Jakarta — 1miliarsantri.net : Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengadakan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Al Hamid, Cilangkap, Jakarta Timur. Di pesantren ini para ulama akan membahas sejumlah agenda penting menyangkut keumatan dan kebangsaan. Mengapa pesantren ini dijadikan tuan rumah munas dan konbes? Berikut profil Pesantren Al Hamid diolah dari berbagai sumber. Pesantren Al Hamid didirikan oleh seorang saudagar bernama H Hamid Djiman. Pendirian pesantren ini sebagai upaya memenuhi keinginan kiai yang sudah dianggap sebagai gurunya, yakni KH Chamim Thohari Djazuli atau yang dikenal dengan sapaan Gus Miek. Pesantren Al Hamid saat ini diasuh oleh KH Lukman Hakim Hamid, salah seorang putra H Hamid Djiman. Ia merupakan Katib Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta masa khidmah 2021-2026. Kiai Lukman pernah mengenyam pendidikan pesantren di Pondok Pesantren Tebuireng, Cukir, Jombang, Jawa Timur. Kiai Lukman juga merupakan menantu dari keluarga Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, Jawa Timur. Ia menikah dengan seorang putri dari KH Munif Djazuli, adik dari Gus Miek, yang notabene merupakan guru dari orang tuanya. H Hamid sendiri merupakan seorang jamaah Jantiko Mantab, majelis semaan Al-Qur’an yang diasuh Gus Miek. Ketika sang guru punya keinginan untuk mendirikan pesantren di ibukota Jakarta, ia pun langsung berupaya untuk mewujudkannya. Ia pun berhasil membebaskan sejumlah tanah untuk didirikan pesantren harapan gurunya. Guna memenuhi administrasi, ia pun membuat Yayasan Mantab Sejahtera yang juga diambil dari nama pengajian gurunya, Jantiko Mantab. Pada 2007, nama yayasannya berubah menjadi Yayasan Mantab Al Hamid. Kata Mantab tetap dipertahankan sebagai bentuk tafaulan, mengikuti gurunya. Tidak hanya membebaskan tanah dan mendirikan bangunan fisiknya, H Hamid juga berikhtiar mendirikan pesantren tersebut dengan mengirimkan anak-anaknya ke sejumlah pesantren untuk dapat mengisi dan mengembangkan pendidikannya. Di antara anak-anaknya itu ada yang dikirim ke Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur; Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Mojo, Kediri, Jawa Timur; Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Malang, Jawa Timur; hingga Pondok Pesantren Yanbu’ul Qur’an, Kudus, Jawa Tengah. Pada tahun 2002, pesantren ini mulai membuka pendaftaran santri dan siswa. Saat ini, Pesantren Al Hamid menerima santri dan siswa mulai dari tingkat kanak-kanak, ibtidaiyah (dasar), tsanawiyah (menengah pertama), hingga aliyah (menengah atas), yakni Taman Kanak-Kanak Islam Al Hamid, Madrasah Ibtidaiyah Terpadu Al Hamid, Madrasah Tsanawiyah Al Hamid, dan Madrasah Aliyah Al Hamid. Meskipun pesantren ini terletak di ibukota, tetapi pendidikan keagamaannya diberikan seperti di pesantren lainnya. Sebagaimana di pesantren-pesantren lain, para santri juga dibekali pengetahuan keagamaan berbasis kitab-kitab kuning karya para ulama klasik. Para santri juga dibiasakan untuk melakukan ibadah tertentu, tahlil, shalawat, dan latihan berpidato di hadapan publik, selain ekstrakurikuler lainnya. (rid) Baca juga :

Read More

Ketika Islam dan Budaya nya Sudah Mengakar di Jerman

Cologne — 1miliarsantri.net : Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier mengatakan, Islam adalah milik Jerman di tengah meningkatnya rasisme dan Islamofobia. Meningkatnya Islamofobia tersebut dipicu oleh propaganda kelompok dan partai sayap kanan yang mengeksploitasi krisis pengungsi dan berusaha untuk memicu ketakutan terhadap imigran. “Islam, agama Muslim, kehidupan Muslim, budaya Muslim telah mengakar di negara kami,” terang Steinmeier pada perayaan 50 tahun berdirinya Asosiasi Pusat Kebudayaan Islam (VIKZ) di Cologne. “Saat ini keberagaman Islam, keberagaman lebih dari 5 juta umat Islam, juga merupakan bagian dari negara kita,” ujarnya, seperti dilansir dari Anadolu Agency, Senin (18/9/2023). Steinmeier menekankan bahwa kebebasan beragama juga berarti melindungi hak-hak semua penganutnya. “Jerman adalah negara yang netral secara ideologi. Namun kebebasan beragama bukan berarti negara kita bebas dari agama. Tidak, itu berarti memberikan ruang bagi agama dan melindungi kebebasan umat beriman, semua umat beriman.” tegas Steinmeier. Pernyataan Steinmeier muncul setelah adanya laporan baru-baru ini yang mengatakan rasisme dan Islamofobia menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di Jerman. Menurut laporan organisasi non-pemerintah yang berbasis di Berlin, the Alliance Against Islamophobia and Muslim Hostility, per bulan Juni ada 898 insiden anti-Muslim tercatat di Jerman pada tahun 2022. Penelitian tersebut menyebutkan rasisme merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari umat Islam di Jerman, dengan kasus terbanyak adalah perempuan. Di antara kasus-kasus yang terdokumentasi di antaranya, 500 serangan verbal, termasuk pernyataan yang menghasut, penghinaan, ancaman, dan pemaksaan. Tercatat ada sebelas surat ancaman ke masjid-masjid yang mengancam akan melakukan kekerasan dan pembunuhan yang sering kali berlebihan. Surat-surat tersebut berisi simbol-simbol Nazi atau referensi pada era Nazi. Laporan tersebut mencatat 190 kasus diskriminasi dan 167 kasus “perilaku merugikan”. Kategori terakhir mencakup 71 kasus penganiayaan fisik, 44 kasus pengrusakan properti, tiga serangan pembakaran, dan 49 tindakan kekerasan lainnya. Selain itu, serangan bermotif rasial terhadap generasi muda dan anak-anak semakin meningkat, katanya. Ada kasus di mana perempuan diserang di hadapan anak-anaknya dan perempuan hamil ditendang atau dipukul di bagian perut. Penulis penelitian berasumsi bahwa jumlah kasus yang tidak dilaporkan tinggi karena tidak adanya pemberitaan media yang luas. Laporan situasi pertama mencakup data dari 10 pusat nasihat di lima negara bagian Jerman serta laporan melalui portal “I-Report”, statistik kekerasan bermotif politik, serta laporan polisi dan pers. Laporan tersebut menyebutkan, kejahatan anti-Muslim seringkali tidak diakui atau mereka yang terkena dampak tidak melaporkannya karena kurangnya kepercayaan pada pihak berwenang. Terkait itu, ada seruan untuk perluasan struktur pelaporan dan peningkatan kesadaran mengenai topik kekerasan pada Muslim oleh pihak berwenang, sekolah, dan sektor kesehatan. Sebagai negara berpenduduk lebih dari 84 juta jiwa, Jerman memiliki populasi Muslim terbesar kedua di Eropa Barat setelah Prancis. Berdasarkan angka resmi, Jerman adalah rumah bagi lebih dari 5 juta Muslim. (git/DW) Baca juga :

Read More

Menelusuri Sejarah Awal Diadakan Peringatan Maulid Nabi

Surabaya — 1miliarsantri.net : Memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW atau biasa dikenal sebagai Maulid Nabi telah menjadi tradisi bagi umat Islam di berbagai belahan dunia, tak terkecuali Indonesia. Peringatan Maulid Nabi pada 12 Rabiul Awal ini menjadi momen untuk membangkitkan dan menjaga semangat Nabi dalam diri umat. Kendati telah menjadi tradisi, namun masih terjadi silang pendapat tentang kapan sebenarnya Maulid Nabi mulai diperingati umat Islam. Jika ditelusuri dalam kitab tarikh (sejarah), perayaan Maulid Nabi tidak ditemukan pada masa sahabat, tabiin, hingga tabiit tabiin, dan empat imam mazhab (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafii, dan Imam Ahmad). Mereka adalah orang-orang yang sangat mencintai dan mengagungkan Nabi Muhammad SAW. Mereka pula kalangan yang paling bersemangat dan menghayati setiap ajaran-ajaran yang diwariskan olehnya. Beberapa kalangan berpendapat bahwa Maulid Nabi pertama kali muncul pada zaman Shalahuddin al-Ayyubi (1193 M). Shalahuddin disebut menganjurkan umatnya untuk melaksanaan perayaan Maulid Nabi guna membangkitkan semangat jihad kaum Muslim. Kala itu, Shalahuddin dan umat Islam memang berada dalam fase berperang melawan pasukan atau tentara Salib. Kendati demikian, pendapat tersebut juga masih diperdebatkan. Mereka yang menolak bahwa Shalahuddin sebagai pelopor maulid beralasan, tidak ditemukan catatan sejarah yang menerangkan perihal Shalahuddin menjadikan Maulid Nabi sebagai bagian dari perjuangannya dalam Perang Salib. Menurut beberapa pakar sejarah Islam, peringatan dan perayaan Maulid Nabi dipelopori oleh Dinasti Ubadiyyun atau disebut juga Fatimiyah (silsilah keturunannya disandarkan pada Fatimah). Al Maqrizi, salah satu tokoh sejarah Islam mengatakan, para khilafah Fatimiyah memang memiliki banyak perayaan sepanjang tahun. Antara lain perayaan tahun baru, hari Asyura, Maulid (hari kelahiran) Nabi, maulid Ali bin Ali Thalib, maulid Hasan dan Husain, maulid Fatimah al Zahra, perayaan malam pertama bulan Rajab, perayaan malam pertama bulan Syaban, perayaan malam pertama Ramadan, perayaan Idul Fitri dan Idul Adha, perayaan malam Al Kholij, perayaan hari Nauruz (tahun baru Persia), dan lainnya. (Al Mawa’izh wal I’tibar bi Dzikril Khutoti wal Atsar, 1/490. Dinukil dari Al Maulid, hal. 20 dan Al Bida’ Al Hawliyah, hal. 145-146) Asy Syekh Bakhit Al Muti’iy, seorang mufti dari Mesir, dalam kitabnya Ahsanul Kalam (hal.44) juga menyebut, yang pertama kali mengadakan enam perayaan maulid, salah satunya adalah Maulid Nabi adalah Al Mu’izh Lidnillah (keturunan Ubaidillah dari Dinasti Fatimiyah) pada 362 Hijriah. Selain mereka, dalam beberapa buku sejarah juga disebutkan bahwa Dinasti Fatimiyah memang yang menginisiasi perayaan Maulid Nabi. Perlu diketahui sebelumnya, pemerintahan Fatimiyah berdiri pada 909 Masehi di Tunisia. Enam dekade kemudian, mereka memindahkan pusat kekuasaan ke Kairo, Mesir. Dua tahun setelah masuknya Shalahuddin al-Ayubbi ke Mesir, yakni sekitar tahun 1171, Dinasti Fatimiyah runtuh. Adanya perayaan Maulid Nabi oleh Dinasti Fatimiyah disebutkan antara lain oleh dua sejarawan dan ilmuwan pada masa Dinasti Mamluk, beberapa abad setelah masa hidup Shalahuddin. Salah satu sejarawan tersebut adalah yang telah disebutkan sebelumnya, yakni al-Maqrizi (1442) dan al-Qalqashandi (1418). Al-Qalqashandi menyebutkan tentang perayaan Maulid Nabi oleh Dinasti Fatimiyah secara ringkas dalam kitab Subh al-A’sya jilid III (1914: 502-3). Perayaan itu dilakukan pada tanggal 12 Rabiul Awwal, dipimpin oleh Khalifah Fatimiyah dan dihadiri oleh para pembesar kerajaan seperti Qadhi al-Qudhat, Da’i al-Du’at, dan para pembesar kota Kairo dan Mesir. Acara tersebut diterangkan dibuka dengan pembacaan ayat suci Alquran dan khutbah oleh tiga penceramah. Kendati terdapat sumber referensi yang menyebutkan bahwa Dinasti Fatimiyah yang pertama kali menghelat Maulid Nabi, tetapi hal tersebut juga masih diperdebatkan. Sebab, Ibn Jubair ketika melakukan perjalanan hajinya melalui Mesir pada tahun 1183, tidak menyebutkan ada kebiasaan maulid di sana. Saat itu sudah dua belas tahun sejak runtuhnya Dinasti Fatimiyah dan Mesir telah diperintah oleh Shalahuddin. Pada Rabiul Awwal tahun itu, Ibn Jubair (w. 1217) masih belum menyeberang dari Mesir menuju Jeddah. Jika kebiasaan maulid di Mesir merupakan kebiasaan yang populer di tengah masyarakat sejak masa Fatimiyah, dan kemudian bersambung pada masa Shalahuddin, rasanya kecil kemungkinan hal ini akan terlewat dari pengamatan Ibn Jubair untuk kemudian ia tuangkan di dalam buku perjalanannya (The Travels of Ibn Jubayr/ Rihla). Menurut J Knappert dalam The Mawlid, para sufi sering merayakan Maulid Nabi di beberapa negara. Melalui perayaan ini mereka ingin mengajak umat Islam mengingat kembali ajaran Nabi dan beberapa pejuang Muslim. Namun, perayaan maulid ini dilakukan dengan akulturasi budaya setempat. Sehingga, perayaan Maulid di satu negara akan berbeda dengan negara lainnya. Maulid dirayakan dengan cara karnaval, prosesi di jalanan atau rumah, dan masjid yang dihiasi. Selain itu, dalam perayaan maulid juga dilakukan pembagian makanan, dan menceritakan kehidupan Muhammad yang diriwayatkan dengan pembacaan puisi oleh anak-anak. Ulama dan penyair merayakan maulid dengan membaca kasidah al-Burda Syarif,/ puisi terkenal abad ke-13 oleh Sufi dari Mesir Imam al-Bushiri. Al-Burda berisi sajak pujian kepada Nabi Muhammad SAW, pesan moral, nilai-nilai spiritual, dan semangat perjuangan. Pembacaan syair al-Burda banyak digunakan oleh beberapa negara dalam perayaan maulid, termasuk Indonesia. (yat) Baca juga :

Read More

Tunduk Total kepada Allah SWT Dapat Menemukan Kebahagiaan Hakiki

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Kebahagiaan hakiki yang dimiliki manusia sejatinya hanya bisa didapatkan bila tunduk total kepada keputusan Allah SWT. Itu karena alam semesta diciptakan sedemikian kompleks untuk kebutuhan manusia. Allah SWT lalu menurunkan aturan syariat untuk mengatur hal-hal yang berkaitan kehidupan manusia. Aturan syariat itu juga selaras dengan hukum alam semesta. Misalnya, manusia punya hasrat kepada lawan jenis sebagai hukum alam semesta, maka hukum syariat mengatur agar terarah dan bisa merasakan kebahagiaan hakiki melalui pernikahan. Founder Formula Hati, Ustadz Muhsinin Fauzi, menerangkan tips agar seorang manusia bisa menemukan penghambaan total kepada Allah SWT. Di antaranya: Nilai sesuatu itu terasa pada saat tidak ada. Mungkin orang tidak memakai kacamata tidak merasakan nikmat mata sehat luar biasa. Jika manusia men-tafakuri terhadap nikmat-nikmat ini menggunakan pendekatan tazkiyatun nafs, maka keimanan akan menjadi lebih tebal. “Bagaimana hubungan dari rohani ke jasmani? Seseorang yang bahagia itu mendatangkan kebaikan baik untuk rohani maupun jasmaninya. Siapakah yang menggerakan semua itu? Semua hal yang terjadi di dalam tubuh kita itu ada zat yang Maha besar yang menggerakannya,” urai Ustadz Fauzi kepada 1miliarsantri.net, Ahad (17/09/2023). Ujian yang naik turun sering terjadi akan mengantarkan pada kesimpulan manusia tidak bisa mengendaliukan diri sendiri. Nasib manusia dan semua hal di dunia ditentukan oleh Allah SWT. “Kita hanya diberi sedikit ruang oleh Allah untuk memilih dan berusaha. Setiap diri kita tidak bisa mengendalikan orang lain maka kita bersiap untuk tidak mendapat perlakuan baik dari orang lain,” sambung Ustadz Fauzi. Rasulullah SAW akan tetap bersyukur saat lapar, begitupun saat kenyang. Rasa syukur jua terpatri saat tertimpa ujian. Itu karena konsep ujian dalam Islam merupakan cara Allah untuk memanggil hamba-Nya. “Sabda Nabi, kalau aku kenyang aku bersyukur, kalau aku lapar aku,” lanjut Ustadz Fauzi. Pertama, otak yang cerdas. Cerdas disini berarti paham. Itu karena bebal, terkadang data-data yang sudah ada itu tidak membuat orang-orang percaya atas Rabb-nya. Kedua, pengelolaan syahwat yang baik. Sekalipun sudah mengetahui kebenaran-kebenaran, terkadang seseorang masih berbuat menyalahi kebenaran. Dalam konteks ini, syahwat perlu dikelola. Ketiga, dinamika proses kehidupan. Kesadaran atas penghambaan ini bisa timbul dan tenggelam sepanjang dinamika hidup. Dengan demikian, manusia membutuhkan Allah sepanjang hidup untuk menjaga. “Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. [QS Fatir (35):15] Semakin seseorang memerlukan Allah, maka dia semakin mulia di hadapan-Nya. Sebaliknya, semakin tidak memerlukan Allah, maka dia semakin hina di hadapan-Nya. “Kemuliaan seseorang itu ketika ia memerlukan Allah. Orang yang tidak mau berdoa itu tidak lebih baik dibandingkan dengan orang yang terus berdoa kepada Allah,” tambah Ustadz Fauzi. Hidup bukan untuk ditanggung sendiri, karena manusia adalah hamba Allah. Setiap masalah tidak perlu dipikirkan sendiri, namun dikeluhkan kepada Allah. Ini akan terasa karena manusia adalah seorang hamba. Maka itu, ada beberapa ekspresi akhlak seseorang yang sudah kuat ketaatannya kepada Allah. Di antaranya rendah hati berarti tidak congkak dan tidak ujub, terasa ketulusannya dalam hidup, tidak perhitungan, berakhlak mudah, jinak yakni gampang taat dan diatur serta tidak menentang, hangat terhadap sesama, dan tidak menyakiti sesama. “Pekerjaan rumah bagi kita bersama adalah kemampuan untuk istiqomah dalam penghambaan kepada Allah SWT. Semoga Allah mudahkan kita semua untuk ini,” pungkas Ustadz Fauzi. (mif) Baca juga :

Read More