Riyadh — 1miliarsantri.net : Arab Saudi merupakan sebuah negara kerajaan terbesar di Semenanjung Arabia. Secara geografis, negeri itu berbatasan dengan Laut Merah di barat; Yordania di barat laut; Irak dan Kuwait di utara; Oman di tenggara; Yaman di selatan; dan Teluk Persia, Qatar, dan Uni Emirat Arab di timur. Sekitar 75 persen penduduk kerajaan tersebut menetap di perkotaan. Hanya sebagian kecil masyarakat, yakni umumnya suku-suku Arab badui, yang hingga kini masih menjadi penggembala atau petani di daerah padang pasir. Selain Riyadh sebagai ibu kota, kota-kota pentingnya adalah Makkah al-Mukarramah, Madinah al-Munawwarah, Jeddah, dan Zahran. Seperti dijelaskan dalam Ensiklopedia Islam, sejarah panjang yang dilalui Arab Saudi dimulai ketika suku-suku bangsa keturunan Nabi Ibrahim AS tinggal di Semenanjung Arabia sejak ribuan tahun silam. Peran bangsa Arab Ismailiyah (keturunan Nabi Ismail bin Ibrahim) semakin penting dalam percaturan dunia sesudah Nabi Muhammad SAW mengembangkan Islam. Ketika Rasulullah SAW wafat, syiar agama tauhid telah menyebar ke seluruh penjuru Jazirah Arab. Dalam tiga fase pertama masa Khulafaur rasyidin, Semenanjung Arab masih menjadi pusat pemerintahan. Kondisi berubah ketika Ali bin Abi Thalib menjabat khalifah. Demi menghindari Madinah dari kecamuk konflik politik, menantu Rasulullah SAW itu memindahkan ibu kota daulah Islam ke Kufah (Irak). Menyusul dengan berakhirnya masa Khulafaur rasyidin dan dimulainya era Dinasti Umayyah, pusat pemerintahan kian “menjauh” dari Jazirah Arab. Demikian pula keadaannya ketika Kekhalifahan Abbasiyah, yang beribu kota di Baghdad (Irak), tegak selama lebih dari lima abad. Ketika Kekhalifahan Turki Utsmaniyah berkuasa sejak abad ke-14 M, Jazirah Arab bisa dikatakan semata-mata menjadi pusat keagamaan, alih-alih politik-pemerintahan dunia Islam. Pada awal abad ke-16 M, Turki menguasai Semenanjung Arabia, terutama bagian utara dan barat laut. Memasuki akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 M, bangsa-bangsa Barat—utamanya Britania Raya—mulai menanamkan pengaruhnya. Menjelang Perang Dunia I, tidak ada kekuasaan politik yang benar-benar kokoh di Semenanjung. Sebab, para penguasa (amir) setempat saling berebut kekuasaan dan wilayah satu sama lain. Dari sekian banyak keamiran di Jazirah Arab, yang paling menonjol dan akhirnya bertahan lama ialah Bani Saud. Dinasti ini berpusat di Dariyah, daerah dekat Kota Riyadh kini. Sejak abad ke-17 M, dinasti yang didirikan oleh Saud bin Muhammad al-Muqrin (wafat 1726) ini mulai meluaskan wilayahnya sedikit demi sedikit. Ekspansi yang dilakukannya terutama ke arah timur sehingga kekuasaannya mencakup negeri-negeri Bahrain, Uni Emirat Arab (UEA), dan sebagian Oman kini. Anak keturunan Saud menarget perluasan wilayah hingga Hijaz, tempat dua kota suci berada. Pada 1744, Muhammad bin Saud menggalang persekutuan dengan Muhammad bin Abdul Wahab (wafat 1792), seorang tokoh agama yang hendak memurnikan keimanan umat Islam. Wahabisme, demikian nama gerakannya populer disebut, berupaya membasmi penyelewengan atau bidah dalam praktik-praktik beragama, semisal berdoa di kuburan dengan mengharap “berkah” dan pemujaan “orang-orang suci.” Bani Saud tertarik dengan gagasan Wahabisme yang dalam pandangannya mengusung pembaruan. Di samping itu, paham ini dapat menguntungkannya dalam konteks politik regional di Jazirah Arab. Bertemunya dua kepentingan itu ternyata mendatangkan manfaat ganda. Pada satu sisi, khususnya antara tahun 1773–1818, gabungan kekuatan Bani Saud dan Wahabisme dapat mempersatukan masyarakat Islam di Jazirah Arab untuk pertama kalinya sejak masa-masa awal Kekhalifahan. Pada sisi lain, bagi seluruh dunia Islam, gerakan pemurnian ini bergema dengan timbulnya gerakan perang terhadap bid’aah di berbagai negeri Muslim. Keberhasilan Dinasti Saud untuk memperluas wilayahnya di Semanjung Arab menyebabkan Kekhalifahan Turki Utsmaniyah menerjunkan pasukan guna merebut daerah itu kembali. Serangan awal Turki sempat berhasil. Satu per satu daerah-daerah yang dikuasai Bani Saud dapat direbut kembali. Bahkan, pada 1818 Turki sukses merebut Dariyah walaupun tidak sampai lama. Hingga akhir abad ke-19 M, Dinasti Saud dilanda serangan dari luar, terutama Turki Utsmaniyah, dan juga dari dalam. Perpecahan internal dipicu intrik-intrik politik para bangsawan, terutama yang berambisi merebut kekuasaan tunggal. Pada 1891, tokoh-tokoh kunci Bani Saud bahkan terpaksa hijrah ke Kuwait untuk mempertahankan diri. Barulah pada fajar abad ke-20 M, situasi mulai menguntungkan Dinasti Saud. Kontrol Istanbul kian melemah atas Jazirah Arab karena semakin merebaknya hegemoni Barat. Kekhalifahan Turki Utsmaniyah tampak semakin tak berdaya menghadapi imperialisme dan kolonialisme, yang menggerogoti dunia Islam—terutama kawasan-kawasan yang jauh dari Turki. Pada 1910, Turki terpaksa menyerahkan satu kota penting di Hijaz, Jeddah, kepada Britania Raya. Hal itu memicu riak-riak “ketidakpatuhan” orang-orang Arab pada Istanbul kian membesar. Sementara, di Najd yakni pusat pengaruh Dinasti Saud, muncul pemimpin muda yang berbakat: Abdul Aziz bin Saud. Ia sukses menyusun kekuatan bersenjata yang berasal dari suku-suku Arab Badui di Najd. Mereka menamakan diri Ikhwan (saudara). Dan, waktu singkat Abdul Aziz dan pasukannya dapat menguasai Riyadh, Hasa (1913), dan Asir (1923). Tinggal “selangkah” lagi ambisinya merebut Hijaz dapat mewujud. Pada 23 September 1932, Abdul Aziz bin Saud memproklamasikan berdirinya Kerajaan Arab Saudi. Ia sendiri menjadi raja pertamanya. Kepemimpinan lelaki kelahiran Riyadh itu disambut negara-negara Barat—termasuk Inggris, Prancis, dan Belanda—yang langsung mengumumkan pengakuan resmi. Sebelumnya, antara Juli 1915 dan Maret 1916, Britania Raya melalui Letnan Kolonel Sir Henry McMahon telah berkorespondensi dengan penguasa (syarif) Makkah, Husain bin Ali. Disepakatilah bahwa Inggris akan mengakui kemerdekaan Arab setelah Perang Dunia I usai sebagai kompensasi dari gerakan revolusi yang melawan Utsmaniyah. Pada 10 Juni 1916 di Makkah, Husain bin Ali memproklamasikan kemerdekaan Arab. Lelaki keturunan Bani Hasyim ini mengeklaim diri sebagai pemimpin orang-orang Arab yang menghuni kawasan antara Halab (Aleppo) di Syam hingga Aden di Yaman. Tujuannya agar seluruh wilayah tersebut bebas dari kontrol Turki Utsmaniyah. Secara finansial dan persenjataan, ia dan pendukungnya ditaja Inggris melalui pangkalan militer yang berkedudukan di Mesir. Dalam konteks itulah, nyata bahwa Inggris bermain “dua kaki” dalam melemahkan pengaruh Turki Utsmaniyah di Jazirah Arab. Britania Raya bukan hanya mendukung Syarif Makkah, tetapi juga Dinasti Saud. Pada akhirnya, kedua kekuatan Arab (yang anti-Turki Utsmaniyah) itu saling berhadap-hadapan. Pada 1924, pecahlah perang antara pasukan Abdul Aziz bin Saud di satu sisi dan pasukan Husain bin Ali di sisi lain. Perlu waktu dua tahun untuk Abdul Aziz keluar sebagai pemenang sesungguhnya. Hijaz pun jatuh ke tangan Dinasti Saud. Momen itu ditandai dengan keberhasilannya merebut Jeddah pada 8 Januari 1926. Sesudah itu, Husain bin Ali diizinkan keluar dari Jeddah untuk menuju Aqaba. Namun, Inggris lalu mengintervensi sehingga (mantan) syarif Makkah itu diasingkan ke Siprus dan wafat di sana. Dinasti Saud memerintah Kerajaan Arab Saudi…