Pendapatan Warga Israel Krisis Pangan dan Terlilit Hutang

Tell Aviv — 1miliarsantri.net : Menurut survei NGO lembaga filantropi Israel, Latet’s Mission, pasca penyerangan bertubi-tubi yang dilakukan pasukan zionis Israel terhadap penduduk Palestina mengakibatkan pendapatan warga Israel menurun secara signifikan sekitar 20% sejak 7 Oktober 2023. Selain itu, 45% warga Israel khawatir akan kesulitan ekonomi akibat peperangan yang terus berlangsung. 85% warga yang hidup dalam kemiskinan melaporkan kesulitan memastikan pasokan air panas atau listrik yang diperlukan untuk mengoperasikan peralatan rumah tangga. Selain itu, Latet’s menyebutkan, persentase orang yang menderita utang telah meningkat dibandingkan survei tahun lalu. Laporan kemiskinan dari Institut Asuransi Israel, yang didasarkan pada data dari seluruh warga Israel, diperkirakan akan segera dirilis. Latet’s memperkirakan sekitar 710.000 keluarga di Israel hidup dalam kondisi kerawanan pangan. Setengah dari mereka menderita krisis pangan parah, yang didefinisikan sebagai gangguan pola makan dan penurunan jumlah pangan karena kesulitan ekonomi. Perkiraan Letet’s didasarkan pada survei terhadap sekitar 500 keluarga antara Juli dan September. Survei lain dengan jumlah peserta yang sama selama November, dan lebih tinggi dibandingkan survei yang dikeluarkan oleh Institut Asuransi Nasional, yang pada 2021 menunjukkan bahwa 522.000 keluarga mengalami krisis pangan di Israel. Dalam survei terpisah, yang melibatkan sekitar 1.300 orang yang menerima bantuan dari badan amal pangan, sekitar 80% warga mengatakan, makanan yang mereka beli tidak cukup. Setengah dari mereka telah mengurangi atau mengabaikan makanan karena kesulitan ekonomi. (gun) Baca juga :

Read More

MUI Gelar FGD Merumuskan Strategi Dakwah Dalam Menjaga Persatuan dan Kesatuan Bangsa Jelang Pemilu 2024

Jakarta — 1miliarsantri.net : Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui Komisi Dakwah mengadakan Fokus Group Discussion (FGD), di Aula Buya Hamka MUI Pusat, Kamis (21/12/2023). Kegiatan ini merumuskan strategi dakwah dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa menjelang Pemilu 2024. FGD juga dimaksudkan mempersatukan manhaj (metode) dakwah pada semua agama dalam mempersatukan bangsa menjelang pemilu. Menurut Ketua MUI KH M. Cholil Nafis, situasi menjelang pemilu ini cukup menghawatirkan. Sudah mulai ada gangguan terhadap kedamaian Pemilu. Menurutnya, pintu masuk paling mudah untuk menciptakan gangguan terhadap pemilu melalui narasi keagamaan atau politisasi agama. Bahkan, fenomena gangguan melalui benturan internal umat beragama dan antar umat beragama mulai nampak. “Dengan kumpulnya tokoh-tokoh agama dan bersepakat dalam pemilu damai ini maka potensi kerawanan sosial dapat diminimalisasi,” ulasnya. Hadir dalam FGD ini Paulus C Siswantoko (Sekretaris KWI), Maylen TNI (Purn) Dr. Putu Sastra Winparta (Wakil Ketua Bidang Ideologi dan Kesatuan Bangsa – Sabha Walaka – PHDI), Dr. Drs. Chandra Setiawan, M.M., Ph.D (Ketum MATAKIN), Pdt. Jimmy Marcos Immanuel Sormin (Sekretaris PGI), dan Prof. Dr. Philip Kuntjoro Widjaja (Ketum Permabudhi). Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat, Dr. KH. Ahmad Zubaidi, MA mengatakan, FGD ini menyepakati 7 point sebagai komitmen tokoh-tokoh agama dalam mendukung pemilu damai: Tujuh poin itupun telah dideklarasikan oloh 6 perwakilan tokoh agama sebagai komitmen bersama mengawal pemilu damai. (wink) Baca juga :

Read More

Kemenag Siap Luncurkan Al Quran Terjemahan 26 Bahasa Daerah Dalam Bentuk Audio

Jakarta — 1miliarsantri.net : Kementerian Agama (Kemenag) telah menyusun Al-Qur’an dalam terjemahan 26 bahasa daerah Indonesia antara lain dalam bahasa Banyumas, Sunda, Bugis, dan Melayu Ambon. Hal tersebut disampaikan Kepala Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi (LKKMO) Balitbang Diklat Kementerian Agama Isom Yusqi. Dikatakan nya terjemah bahasa daerah ini akan dihadirkan dalam versi audio pada 2024. Menurut Isom, dari 26 terjemah Al-Qur’an dengan bahasa daerah, ada enam yang sudah hadir dalam versi digital. Program ini dibahas bersama saat Rapat Koordinasi Puslitbang LKKMO di Lombok, 13-16 Desember 2023 lalu. Selain evaluasi 2023, rakor membahas rencana program tahun depan. “Program penerjemahan Al-Qur’an ke dalam bahasa daerah harus dikembangkan lebih baik lagi. Setelah diterjemahkan, divalidasi, didigitalisasi kemudian dikembangkan lagi dalam bentuk audio dengan disuarakan menggunakan logat bahasa daerah tersebut agar lebih membumi dan lebih mudah dipahami oleh pemilik bahasanya,” terang Isom kepada 1miliarsantri.net, Ahad (24/12/2023). Isom menambahkan, semisal ada event-event tertentu jika ada pembacaan ayat Al-Qur’an, maka harus dilanjutkan dengan pembacaan terjemahnya dalam bahasa daerah. Tentu hal ini menjadi sesuatu yang membanggakan bagi masyarakat pemilik bahasa. Penerjemahan Al-Qur’an dalam berbagai bahasa daerah, kata Isom. merupakan implementasi dari Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Dalam UU tersebut diatur tentang penggunaan bahasa daerah. “Jadi program Puslitbang LKKMO memiliki landasan payung hukum yang kuat,” sebut Ishom. Upaya menghadirkan terjemah dalam versi audio dibahas dalam rapat Komisi Penerjemahan Al-Qur’an. Komisi ini merekomendasikan agar hasil terjemahan Al-Qur’an yang berjumlah 26 dikembangkan dalam bentuk e-pub beraudio secara bertahap dan dimulai pembuatannya pada 2024. Disepakati juga tagline penerjemahan Al-Qur’an bahasa daerah, yakni “Literasi Kitab Suci, Membangun Negeri.” “Langkah Puslitbang LKKMO ini diharapkan menjadi penyemangat dalam mendekatkan masyarakat dengan kitab sucinya sekaligus memelihara bahasa ibu sebagai salah satu identitas budaya bangsa,” pungkasnya. (rid) Baca juga :

Read More

Saat Rasulullah SAW Ditantang untuk Melawan Takdir Ajal

Surabaya — 1miliarsantri.net : Nabi Muhammad SAW kerap diejek dan diolok-olok oleh orang kafir Quraisy yang tidak mempercayai risalah Islam. Sampai suatu ketika, Nabi ditantang untuk melawan takdir seperti maut dan musibah agar dapat dihalau untuk membuktikan kenabiannya. Allah berfirman dalam Surat Yunus ayat 49: قُلْ لَّآ اَمْلِكُ لِنَفْسِيْ ضَرًّا وَّلَا نَفْعًا اِلَّا مَا شَاۤءَ اللّٰهُ ۗ لِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌ ۚاِذَا جَاۤءَ اَجَلُهُمْ فَلَا يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ “Qul lā amliku linafsī ḍarraw wa lā naf‘an illā mā syā’allāh(u), likulli ummatin ajal(un), iżā jā’a ajaluhum falā yasta’khirūna sā‘ataw wa lā yastaqdimūn(a).” Yang artinya, “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku tidak kuasa (menolak) mudarat dan tidak pula (mendatangkan) manfaat kepada diriku, kecuali apa yang Allah kehendaki.” Setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat pun dan tidak (pula) dapat meminta percepatan.” Pakar Ilmu Tafsir Prof Quraish Shihab dalam Tafsir Al Mishbah menafsirkan ayat tentang orang-orang musyrik yang berulang-ulang mengatakan, “Bilakah datang janji, yakni ancaman, Wahai Muhammad beserta pengikut-pengikutmu yaitu orang-orang yang benar, cobalah segera datangkan siksa itu.” Tujuan dari orang-orang musyrik tersebut adalah mengejek agar disegerakan datangnya siksa. Maka ayat ini merupakan jawaban dari pertanyaan orang-orang musyrik itu. Rasulullah SAW sendiri tidak mampu menolak kemudharatan dan tidak pula dapat mendatangkan kemanfaatan untuk dirinya sendiri. Jika demikian, bagaimana mungkin Rasulullah dapat menghadirkannya kepada orang lain? Apa yang akan terjadi kepada manusia adalah kehendak Allah yang waktu dan kadarnya telah ditetapkan oleh-Nya. Sehingga semua itu bersifat gaib dan Rasulullah tidak mengetahui hal tersebut. Ketika itu seakan-akan orang musyrik ada yang berkata, “Mengapa engkau tidak berdoa saja agar kami segera disiksa-Nya dan engkau bersama kaum Muslimin dapat dengan bebas melakukan apa yang dikehendaki-Nya?” Maka usul mereka yang seperti itu disanggah dengan ayat ini. Bahwa setiap umat mempunyai takdir ajal atau kebinasaan yang tidak dapat diajukan atau ditunda. Karena itu, tunggulah datangnya ajal itu. Apabila telah datang ajal mereka, yakni setiap orang, maka mereka tidak dapat memajukan atau memundurkannya walau sedetik. Adapun dalam Tafsir Kementerian Agama dijelaskan, Allah mengajarkan kepada Rasulullah SAW jawaban yang harus dikatakan kepada mereka dengan memerintahkan kepada Rasulullah agar mengatakan kepada mereka bahwa Rasulullah tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak pula mendatangkan kemanfaatan kepada dirinya. Sebab Rasulullah hanya utusan Allah yang tidak berkuasa untuk mempercepat ataupun memperlambat datangnya siksaan yang dijanjikan Allah kepada mereka, sebagaimana ia juga tidak dapat memperlambat datangnya pertolongan Allah yang dijanjikan oleh Allah kepada orang-orang Muslimin. Akan tetapi datangnya manfaat dan mudharat yang ditimpakan kepada manusia, tiada lain hanyalah atas kehendak Allah semata. Itu berarti apabila Allah menghendaki terjadinya sesuatu, maka hal itu tidak ada sangkut-pautnya dengan kehendak Rasul-Nya, karena kehendak itu hanyalah semata-mata milik Allah yang memelihara alam semesta. Tugas Rasul hanyalah menyampaikan kehendak Allah, bukan menciptakan kehendak. Apabila Rasulullah mengetahui akan hal-hal yang gaib, tidak lain hanya karena mengetahuinya dari wahyu Allah semata. (yat) Baca juga :

Read More

Pemuda-pemuda Palestina Yang Sudah Menjadi Tulang Punggung Keluarga Mereka

Gaza — 1miliarsantri.net : Penderitaan di Palestina melahirkan anak-anak kuat secara mental. Kondisi keras memaksa anak-anak tumbuh dengan tugas-tugas berat sperti yang dipikul orang tua. Umumnya, anak-anak di lokasi pengungsian turut andil dalam membantu kehidupan keluarga hingga mengatur urusan sehari-hari. Anak Adham Nusair (13 tahun) duduk di depan kompor primitif setelah sekian lama mengumpulkan kayu dan karton untuk menyalakan api. Dia hendak menyiapkan roti untuk keluarganya, yang mengungsi di Sekolah Menengah Doha di kota Rafah , di ujung selatan Strip. Keluarga Nusair mengungsi dari rumah mereka di kota Beit Hanoun, Jalur Gaza utara. “Keinginan saya adalah kembali ke Beit Hanoun dan membangun kembali rumah kami yang hancur,” katanya saat wawancara dengan Aljazeera, Selasa (19/12). Di ruang kelas tempat para pengugnsi, Adham seharusnya duduk di kursi menerima pendidikan formal di sekolah menengah. Namun kini, dia harus memikul tanggungjawab untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya. Pekerjaan Adham tidak mudah. Palestina saat ini, khususnya di Jalur Gaza, sedang mengalami krisis pangan. Menemukan makanan sangat susah. Itu merupakan terjemahan realistis dari peringatan-peringatan dari organisasi-organisasi internasional mengenai kelaparan yang dihadapi 2,3 juta warga Palestina. Terlepas dari kerasnya penderitaan yang dialami Adham dan teman-temannya, pemandangan anak-anak ini sudah tidak asing lagi di jalan-jalan dan lapangan umum. Di depan pintu pusat pengungsian di sekolah-sekolah negeri atau yang berafiliasi dengan UNRWA PBB di kota Rafah, berdiri di “stan penjualan” sederhana untuk menyediakan sebagian kebutuhan keluarga, berupa barang dagangan yang sudah langka di pasar. Pelajaran Hidup dari Realitas PalestinaSesaat sebelum fajar menyingsing, kedua bersaudara, Anas (12 tahun) dan Mahmoud (10 tahun), menemani sang ayah Ayman Rayhan (36 tahun), menuju sebuah warung kecil yang ia dirikan menggunakan kayu tua. Warung itu didirikan dekat pusat penampungan di sekolah UNRWA, tempat tinggal keluarganya yang beranggotakan 5 orang. Anas dan Mahmoud membantu ayah mereka, Ayman, menyiapkan roti, yang populer disebut “roti saj”. Mereka juga menyiapkannya di atas tungku primitif berbahan bakar kayu, untuk mengatasi krisis gas memasak yang parah. “Saya bekerja dengan ayah saya untuk memenuhi kebutuhan keluarga saya,” kata Anas. Ayman belum pernah menekuni profesi ini. Namun, ia menganggapnya sebagai sumber penghidupan, mengingat kebutuhan masyarakat akan roti siap pakai, akibat kelangkaan tepung yang parah, kenaikan harga-harga yang tersedia di pasar sekitar 12 kali lipat, dan ketidakmampuan mayoritas masyarakat yang menderita kemiskinan ekstrim untuk membelinya. Proses pembuatan roti diawali dari Ayman dengan menguleni, memotong, dan menggembungkan, lalu diteruskan kepada kedua putranya, Anas dan Mahmoud, yang bertugas menggulung adonan menjadi lingkaran-lingkaran berukuran sedang, kemudian mematangkan di kompor sebelum ditawarkan untuk dijual kepada orang yang lewat yang memadati jalanan Rafah. Tak jauh dari keluarga Rayhan, pengungsi dari Jabalia di Jalur Gaza utara, Ahmed Abu Assi (14 tahun) berseru kepada orang yang lewat sambil menggembar-gemborkan makanan panggang yang dibuat oleh para pengungsi di sebuah apartemen di lingkungan Zaytoun, Kota Gaza. “Kakek saya, yang mengemukakan ide tersebut, membeli sekantong tepung, dan para wanita menyiapkan kue-kue (makanan panggang) di rumah, dan saya membawanya setiap hari untuk menjualnya di pasar dari pagi sampai malam, supaya kami dapat membeli sayur-sayuran dan kebutuhan-kebutuhan lain sesuai dengan harganya,” ujar Ahmed. Ahmed merasa puas dengan apa yang didapatnya setiap hari dari menjual makanan yang dipanggang. “Saya menjual setiap hari semua yang disiapkan keluarga saya,” katanya. (zul) Baca juga :

Read More

Pelunasan Biaya Perjalanan Ibadah Haji dibuka mulai 9 Januari 2024

Jakarta — 1miliarsantri.net : Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) 1445 H/2024 M telah disepakati Pemerintah dan Komisi VIII sebesar Rp93,4 juta. Sementara Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih) yang harus dibayar jamaah rata-rata sebesar Rp56,04 juta. Untuk Pelunasan Bipih jamaah haji reguler dibuka 9 Januari 2024. “Pelunasan Bipih atau biaya yang dibayar jamaah haji reguler dibuka mulai 9 Januari 2024,” kata Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas kepada 1miliarsantri.net di Jakarta, Sabtu (23/12/2023). Menag menjelaskan, pelunasan biaya haji tahun ini bisa dilakukan dengan cara mencicil. Kebijakan ini diambil agar memudahkan jamaah haji. Untuk itu, meski pelunasan belum dibuka, jamaah sudah bisa mengangsurnya dari sekarang dengan cara menabung pada rekening masing-masing. “Sehingga, saat dibuka pelunasan, biayanya sudah terkumpul,” papar Menag. Menag menambahkan, Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) saat ini masih memproses terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) tentang BPIH. Di dalamnya akan diatur Bipih yang dibayar jamaah berdasarkan embarkasi keberangkatan. Ada 14 embarkasi, yaitu Aceh, Medan, Batam, Padang, Palembang, Jakarta – Pondok Gede, Jakarta – Bekasi, Kertajati, Solo, Surabaya, Lombok, Banjarmasin, Balikpapan, dan Makassar. Menurut Menag, pelunasan Bipih jamaah haji reguler akan dibagi dalam dua tahap. Pelunasan tahap pertama, dibuka dari 9 Januari – 7 Februari 2024. Pelunasan tahap kedua, dibuka dari 20 Februari – Maret 2024. Direktur Jenderal PHU Hilman Latif menambahkan, pelunasan tahap pertama dapat dilakukan jamaah yang memenuhi kriteria berikut: a) jamaah haji reguler sesuai nomor urut porsi keberangkatan 1445 H/2024 M;b) jamaah haji reguler yang masuk prioritas lanjut usia; sertac) jemaah haji reguler yang masuk dalam urutan nomor porsi cadangan. “Jika sampai akhir pelunasan tahap pertama masih ada sisa kuota, maka akan dibuka tahap kedua,” ujar Hilman. Pelunasan tahap kedua, lanjutnya, dibuka untuk jemaah yang memenuhi kriteria berikut:a) Jamaah yang mengalami gagal sistem atau gagal pembayaran pada pelunasan tahap pertama;b) Pendamping bagi Jamaah Haji lanjut usia;c) Jamaah Haji penggabungan suami/istri dan anak kandung/ orang tua terpisah;d) Pendamping bagi jamaah haji disabilitas.(wink) Baca juga :

Read More

Ketika Alquran Bantah Klaim Yahudi Sebagai Kaum Paling Cerdas

Jakarta — 1miliarsantri.net : Bangsa Yahudi kerap mengklaim diri sebagai kaum yang istimewa, unggul, dan pintar. Nyatanya tidak demikian, Alquran membantahnya berdasarkan jejak sejarah umat Yahudi dan Bani Israil. Allah SWT berfirman dalam Alquran Surat Al Baqarah ayat 78: وَمِنْهُمْ اُمِّيُّوْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ الْكِتٰبَ اِلَّآ اَمَانِيَّ وَاِنْ هُمْ اِلَّا يَظُنُّوْنَ “Wa minhum umiyyūna lā ya‘lamūnal-kitāba illā amāniyya wa in hum illā yaẓunnūn(a).” Yang artinya, “Di antara mereka ada yang umiy (buta huruf), tidak memahami Kitab (Taurat), kecuali hanya berangan-angan dan mereka hanya menduga-duga.” Dalam Tafsir Kementerian Agama dijelaskan, setelah kelakuan kelompok cendekia dan tokoh agama Yahudi dijelaskan pada ayat-ayat sebelumnya, ayat-ayat selanjutnya menjelaskan kelompok lain di kalangan Bani Israil. Yaitu bahwa di antara mereka ada yang buta huruf, tidak bisa membaca dan menulis, atau bodoh dan keras hati. Mereka tidak memahami makna dan pesan Kitab Taurat dengan pemahaman yang penuh penghayatan, kecuali hanya berangan-angan berupa kebohongan yang disajikan oleh pemuka agama mereka dan dikatakan sebagai kebenaran. Dan mereka hanya menduga-duga, sebab kalau pun mereka membacanya, itu tidak dilakukan dengan disertai pemahaman yang mendalam. Maka dalam ayat ini diberitahukan tentang orang-orang awam pengikut-pengikut mereka yang mengikuti saja kemauan pendeta-pendeta yang memutarbalikkan isi Taurat. Baik pemimpin atau pun pengikutnya, keduanya dalam kesesatan. Di antara orang-orang Yahudi itu ada golongan ummi yaitu orang-orang yang buta huruf, tidak dapat membaca dan menulis. Mereka hanya dapat menghafal Kitab Taurat, tetapi mereka tidak dapat memahami makna dan kandungan isinya, dan amal perbuatannya pun tidak dapat mencerminkan apa yang dimaksud oleh isi Taurat itu. Mereka adalah kaum yang hanya mendasarkan sesuatu kepada sangkaan saja, tidak sampai kepada martabat keyakinan yang berdasarkan keterangan-keterangan yang pasti tidak meragukan. Orang-orang Yahudi itu memang banyak ingkar terhadap kebenaran, meskipun kebenaran itu telah terang dan jelas. Mereka banyak mendustakan ayat-ayat Allah, dan paling banyak tertipu oleh dirinya sendiri serta suka memakan harta orang lain dengan cara haram, seperti riba, menipu dan suap. Mereka menganggap bahwa mereka adalah orang yang paling utama di antara bangsa di dunia.(yan) Baca juga :

Read More

Doa yang Dibaca Rasulullah SAW Setiap Sholat Hanya Untuk Umatnya

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Suatu hari, ada seseorang menemui Rasulullah SAW. Lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, kapankah hari kiamat itu terjadi?” Mendengar pertanyaan itu, Nabi SAW balik bertanya, “Apa yang sudah engkau persiapkan untuk menghadapi hari itu?” Orang itu menjawab, “Tidak ada, hanya saja aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Mendengar itu, Nabi SAW bersabda, “Engkau bakal bersama yang engkau cinta.” (HR al-Bukhari). Kita tidak melihat Rasulullah SAW karena tidak hidup pada zamannya. Bagaimana Nabi SAW berjuang mendakwahkan Islam dan menegakkan risalah Ilahi meskipun menghadapi banyak cobaan dan penentangan yang keras dari kaumnya. Bahkan, sampai dahi Nabi SAW berdarah karena terkena batu yang dilemparkan orang-orang Thaif. Kita tak juga tak melihat langsung bagaimana Nabi SAW rela meninggalkan Makkah, tanah kelahirannya, menuju Madinah demi menjaga iman dan harapan bahwa Islam akan bersinar di tanah yang baru, dan itu akhirnya terbukti. Meskipun kita tak melihat Rasulullah SAW secara langsung, tetapi kita membaca sirah atau perjalanan hidup Nabi SAW yang penuh dengan perjuangan. Nabi SAW melakukan itu tiada lain karena mencintai kita, umatnya, agar tidak salah jalan atau melenceng dari jalan yang lurus. Melalui Nabi SAW, Allah SWT menurunkan risalahnya untuk kita. Nabi SAW adalah rahmat bagi alam semesta. Nabi SAW mengasihi, menyayangi, dan mencintai kita sepenuh hati dan ingin sekali kita selamat di dunia dan akhirat kelak. Nabi SAW sangat mencintai kita, dan demi itu rela menderita di jalan dakwah. Dalam hadis diceritakan, Rasulullah SAW berbincang santai di rumahnya bersama Aisyah, istrinya. Aisyah menuturkan, “Ketika aku memandang wajah Rasulullah, hatiku terasa tenteram. Lalu, aku berkata kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, doakanlah aku.’ Beliau pun mengangkat tangannya berdoa, ‘Ya Allah, ampunilah Aisyah, seluruh dosanya yang lalu dan yang akan datang, dosanya yang terlihat dan yang tersembunyi’.” Mendengar itu, Aisyah begitu senang. Saking senangnya, sampai ia menjatuhkan kepalanya di pangkuan suaminya itu. Kemudian Nabi SAW bertanya, “Senangkah kamu dengan doaku tadi?” Aisyah menjawab, “Bagaimana mungkin aku tidak gembira dengan doamu, ya Rasulullah?” Beliau meneruskan, “Demi Allah, itu juga doaku untuk umatku di setiap shalat.” (HR Ibnu Hibban). Nabi SAW sangat mencintai kita dengan selalu mendoakan kita di setiap shalatnya. Lalu bagaimana dengan kita? Kita memang tak melihat Nabi SAW secara langsung, tetapi bisa merasakan cintanya itu yang membuat kita sudah seyogianya mencintai beliau. Cinta kita kepada Nabi SAW tak hanya dengan mengucapkan shalawat, tetapi juga mengikuti ajaran-ajarannya secara menyeluruh, baik itu pada ucapan, perbuatan, maupun sifat-sifatnya. Kita ikuti semua perintah Nabi SAW dan menjauhi semua larangannya. Itulah cinta kita kepadanya, seperti dalam ayat, “Katakanlah, ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ali ‘Imran [3]: 31). Ketika kita mencintai Rasulullah SAW dengan mengikutinya, maka Nabi SAW akan memberi kita syafaat di hari kiamat dan akan menjadi teman dekat kita. Kita akan bersamanya, seperti disebutkan pada hadis di awal. Di akhirat, kita akan bersama yang kita cintai di dunia. Kita masuk dalam lingkaran para nabi dan rasul serta orang-orang saleh. (yus) Baca juga :

Read More

Kefanaan Waktu Insaniyah dan Keabadian Waktu Illahiyah

Surabaya — 1miliarsantri.net : Pengetahuan dan kesadaran kita tentang waktu, tidak terlepas dari kesadaran dan pengetahuan kita tentang ruang. Kita berada di ruang bumi yang berputar pada porosnya serta mengitari pusat semesta dengan teratur. Keteraturan beredar dan berputarnya bumi pada poros dan jalurnya, beredarnya matahari dan bulan yang tetap tak berubah. Telah memampukan manusia sebagai makhluk berakal membangun sistem perhitungan waktu. Angka2 tahun, nama-nama bulan, nama-nama hari, angka-angka tanggal bahkan akhirnya terwujud dalam sistem kalender yang beragam berdasarkan perhitungan benda langit, dapat diciptakan. Kita mengenal kalender gregorian, kalender hijriyah, kalender çaka, kalender jawa, kalender china, kalender jepang, kalender maya, dan lain sebagainya. Kalender tersebut menghasilkan ilmu tentang semesta, tentang siklus dan liniernya sang “waktu”, tentang zodiac astrologi, ilmu falak dan astronomi, siklus pasaran, wuku, ilmu tentang musim dan cuaca bahkan ilmu meramal masa depan. Kalender menjadi sangat penting sebagai penanda dan pencatat peristiwa penting dalam hidup kemanusiaan. Kalender mencatat dan menandai hari lahir dan mati manusia, peristiwa peristiwa bersejarah, bangun dan runtuhnya peradaban, rencana2 masa depan manusia, juga menentukan hari2 suci keagamaan dan bahkan memperhitungkan bencana dan bahagia masa depan manusia. Juga me”ramal”kan seluruh semesta ini entah kapan pasti binasa. Kalender seharusnya menjadi rekakarya manusia yang menyadarkan dirinya betapa fana dan maya hidupnya. Beberapa hari ke depan, angka tahun 2023 sudah berganti menjadi 2024 dalam perhitungan kalender Gregorian berdasar peredaran matahari, yang dipakai sebagian besar umat manusia di dunia sebagai penanda perjalanan waktu. Ada sistem kalender lain yang didasarkan peredaran bulan atau kombinasi keduanya. Seperti sistem kalender Jawa karya Sultan Agung. Waktu bisa diukur dan diperhitungkan, sistem kalender bisa dibuat, karena kita berada di bumi sebagai bagian dari semesta yang perputaran dan peredaran kosmologisnya sangat teliti, detil dan presisi. Manusia sadar waktu, karena “diri” masih terbungkus jasad. Entah apa yang terjadi kalau jasad kita musnah karena kematian. Entah apa yang terjadi kalau planet bumi, ruang tempat tinggal semua makhluk, perputaran dan peredarannya bergeser nol koma nol derajat saja. Apalagi kalau tiba tiba semesta ini musnah atau rusak salahsatunya. Dimanakah gerangan “sang waktu”? Apakah ini yang disebut sebagai waktu abadi milik Sang Maha Transenden? Inikah yang disebut waktu Illahiyah? Kehadiran tahun baru Gregorian ini sering disambut dengan pesta dan hura hura dengan penuh suka cita bahkan lupa diri. Ada baiknya kita mengikuti jejak tradisi masyarakat Jawa ketika menyambut tahun baru 1 Suro dengan perilaku yang reflektif, laku prihatin, “withdrawl and return”, melakukan tapa kungkum, laku mbisu, mandi besar dan juga membersihkan atau jamasan benda benda pusaka. Sebagai laku perenungan dan membersihkan diri lahir batin. Sebab seiring berjalannya waktu, jasmani akan semakin rapuh dan semestinya jiwa semakin menguat. Kesadaran waktu adalah kesadaran spiritual, betapa fana dan tidak abadinya kehidupan ini. Seandainya ruang tiada, jasad tiada, bumi dan semesta tiada, dimanakah gerangan sang waktu? Keabadian yang tak terperi dan tak terbayangkan. Itulah maha misteri semesta tanpa ruang tanpa waktu, keabadian tak terperi yang hanya milik Tuhan. Dzat Transenden Maha Agung yang Hanya Satu bagi semua manusia dan seluruh isi semesta. (yat) Baca juga :

Read More

Lazisnu Kirim Bantuan Kemanusiaan Tahap Kedua Untuk Palestina

Jakarta — 1miliarsantri.net : Pimpinan Pusat (PP) Muslimat Nahdatul Ulama (NU) menyerahkan bantuan kemanusiaan tahap ke dua untuk Palestina melalui NU Care-Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Nahdatul Ulama (LAZISNU) sebesar Rp2.275.000.000 itu diserahkan Ketua Umum PP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa kepada Ketua LAZISNU PBNU Habib Ali Hasan Al Bahar, di lantai dasar gedung PBNU, Jakarta, Rabu malam (20/12/2023). “Insya Allah kita akan terus bergerak bersama memberikan bantuan semaksimal mungkin meringankan saudara kita, tidak hanya untuk yang ada di Gaza tetapi juga yang ada di Raffah dan Jordan karena sebagian sudah berpindah ke sana, sama membutuhkan bantuan,” terang Khofiffah. Bantuan yang diberikan berasal dari hasil iuran para pimpinan wilayah, pimpinan cabang, dan pimpinan pusat Muslimat NU, sebagai bagian dari upaya untuk membantu rakyat di Palestina yang mengalami musibah kemanusiaan. Dia mengatakan bahwa tidak mudah untuk dapat memastikan bantuan yang diserahkan bisa sampai langsung kepada para korban. Namun, dengan jejaring yang dimiliki LAZISNU, bantuan-bantuan tersebut secara nyata tersampaikan melalui laporan yang diterima untuk para penerima manfaat yakni rakyat Palestina. “Muslimat secara kolektif sama hati dan pikirannya karena tidak mudah bisa memastikan bantuan sampai, terima kasih LAZISNU,” sambungnya. Sementara itu, Ketua LAZISNU PBNU, Habib Ali Hasan Al Bahar, menyampaikan apresiasi sekaligus rasa bangganya atas bantuan yang kembali diserahkan oleh Muslimat NU. Dia memastikan bahwa bantuan yang diberikan segera disalurkan langsung ke jantung Kota Gaza melalui relasi yang dimiliki, termasuk melalui Grand Syekh Azhar Mesir yang juga memiliki Baitul Mal. “Terima kasih setinggi-tingginya kepada seluruh keluarga Muslimat NU. Sampai saat ini, dari keluarga besar Nahdatul Ulama yang memberikan bantuan dengan nyata dan terkoodinir dengan baik adalah Muslimat,” ungkapnya. Menurutnya, hingga saat ini LAZISNU telah menerima bantuan sebesar Rp30 miliar untuk rakyat Palestina, dan Rp3 miliar di antaranya berasal dari dari Muslimat NU. Bantuan yang telah disalurkan telah mencapai Rp7 miliar dengan jenis bantuan yang bermacam-macam melalui berbagai baitul zakat, termasuk melalui BAZNAS milik Pemerintah. (rid) Baca juga :

Read More