Abdurrahman bin Auf

Benarkah Kekayaan Abdurrahman bin Auf Melebihi Elon Musk? Begini Rahasia Bisnis Berkahnya!

Surabaya – 1miliarsantri.net: Siapa sangka sosok sahabat Nabi yang ikhlas hijrah dari Mekah ke Madinah tanpa membawa harta bendanya dan terputus koneksi bisnisnya.  Selama hijrah modal bertahan hidup hanya dengan keyakinan dan semangat bekerja. Tak disangka beberapa tahun kemudian, ia menjadi pengusaha Muslim terkaya dalam sejarah Islam, bahkan tiga kali lebih kaya daripada Elon Musk jika dikonversikan ke mata uang sekarang. Dialah Abdurrahman bin Auf sahabat Nabi  yang dikenal bukan hanya karena kekayaannya, tetapi karena keberkahan bisnis dan kedermawanannya. Ketika hijrah Di Madinah, ia dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Ar-Rabi’ seorang Anshar kaya raya yang menawarinya separuh kekayaan dan keluarganya. Namun Abdurrahman menolak dengan halus, seraya berkata, “Semoga Allah memberkahi keluargamu dan hartamu. Tunjukkan saja padaku dimana pasar.” Modal awalnya hanya dua hingga empat dinar sekitar 10 jutaan14,5  dan diimbangi dengan modal mentalitas berupa tekad kuat dan kecerdasannya berbisnis.  Ia mulai berdagang bahan kebutuhan pokok, membaca pola pasar, hingga akhirnya dikenal sebagai pedagang paling dipercaya. Menjelang wafatnya, hartanya mencapai kurang lebih 3,1 miliar dinar emas yang  setara dengan Rp 1-14 kuadriliun dalam nilai saat ini. Angka yang bahkan melampaui kekayaan Elon Musk sebagai orang terkaya di dunia saat ini, hartanya mencapai Rp 3.500-4000 triliun.  Apa resep bisnis sukses dunia akhirat ala Abdurrahman Bin Auf?. Inilah 5 teladan beliau yang bisa diambil.pelajaran bagi siapapun yang membangu bisnis barokah. 1. Jeli Membaca Pasar dan Kebutuhan Masyarakat Hal pertama yang dilakukan oleh Abdurrahman memulai dengan riset pasar sederhana dengan mendatangi pasar Qainuqa’. Hal yang diamatinya adalah kebutuhan masyarakat, barang apa yang laris, dan siapa pesaingnya. Hasilnya risetnya mendorongnya untuk usaha  kebutuhan pokok seperti keju, kurma, dan minyak samin memiliki perputaran cepat.  Keputusan cerdas itu membuatnya cepat mendapat pelanggan tetap. Ia tidak menunggu peluang datang, tapi menciptakan peluang dari kebutuhan masyarakat.  Prinsip ini sejalan dengan hadis Nabi: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.” (HR. Thabrani) 2. Modal Kecil, Integritas Besar Abdurrahman menolak pinjaman, hadiah, bahkan investasi dari orang lain. Ia hanya mengandalkan uang tunai dan kerja keras. Prinsipnya sederhana bahwa  uang halal dari usaha sendiri lebih berkah daripada modal besar dari tangan orang lain. Dalam setiap transaksi, ia jujur menjelaskan kondisi barang. Jika ada cacat, ia sampaikan. Kejujuran ini menjadi branding terbaik yang membuatnya dipercaya semua orang daei Muslim maupun non-Muslim.  Rasulullah  bersabda: “Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para nabi, shiddiqin, dan syuhada.” (HR. Tirmidzi) Integritas inilah pondasi semua kesuksesan karena kepercayaan tidak bisa dibeli, hanya bisa dibangun. Baca juga: Apakah AI untuk UMKM Syariah Sudah Sesuai dengan Prinsip Agama? Ternyata Begini Penjelasan Faktanya! 3. Keuntungan Kecil, Perputaran Besar Abdurrahman tidak pernah mencari margin besar. Ia menjual barang dengan laba tipis namun volume tinggi. Prinsipnya, lebih baik untung kecil tapi terus berputar, daripada sekali besar lalu mati. Ketika orang lain menimbun barang menunggu harga naik, namun Abdurrahman bin Auf  justru menjual cepat agar. Tujuannya agar uangnya terus berputar, arus kas lancar, likuiditas terjaga, dan rezeki mengalir tanpa henti. Sikap itu menunjukkan bahwa keberkahan lebih utama daripada akumulasi kekayaan. 4. Kolaborasi dan Kemitraan yang Adil Kesuksesan Abdurrahman tidak lahir dari keserakahan individu. Ia membangun kemitraan yang saling menguntungkan salah satunya dengan sahabat Utsman bin Affan. Ia juga pernah membantu membangun pasar baru ketika pasar lama dikuasai segelintir pedagang besar. Ia menawarkan sistem sewa yang adil dan membuka peluang bagi banyak orang untuk berdagang. Strategi ini bukan sekadar bisnis, tapi pemberdayaan ekonomi umat. Di sinilah letak nilai sosial dalam bisnis Islam yaitu kolaborasi, bukan kompetisi destruktif. 5. Menjadikan Bisnis Sebagai Jalan Sedekah Kekayaan tidak membuat Abdurrahman sombong. Ia justru semakin dermawan. Dalam sejarah disebutkan, ia pernah memberi santunan 400 dinar (≈ Rp 480 juta) untuk setiap veteran Perang Badar  dan jumlah mereka lebih dari 100 orang. Ia juga sering membebaskan budak, memberi modal kepada fakir, dan menafkahkan sebagian besar hartanya di jalan Allah. Allah berfirman: وَمَثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَٰلَهُمُ ٱبْتِغَآءَ مَرْضَاتِ ٱللَّهِ وَتَثْبِيتًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍۭ بِرَبْوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلٌ فَـَٔاتَتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ فَإِن لَّمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ ۗ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ Artinya: “Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.” (Al-Baqarah:265) Ia memahami bahwa harta hanyalah titipan. Bisnis bukan tujuan akhir, tapi sarana untuk menebar manfaat dan keberkahan. Baca juga: Cara Menjalankan Usaha Tanpa Riba, Panduan Bisnis Halal dari Nol Refleksi untuk Menjadi Abdurrahman bin Auf di Era Digital Kisah ini bukan sekadar nostalgia sejarah. Di era digital, prinsip Abdurrahman bin Auf tetap hidup dan bisa kita praktekkan dalam bentuk: Abdurrahman bin Auf mengajarkan bahwa sukses bukan sekadar kaya, tetapi bermanfaat dan diridhai Allah SWT. Dan setiap pengusaha Muslim hari ini memiliki peluang untuk menapaki jalan yang sama, memulai dari kecil, dengan niat besar, dan hasil yang berkah tak terhingga. Penulis : Iftitah Rahmawati Editor : Thamrin Humris dan Ainun Maghfiroh Sumber foto: Ilustrasi

Read More
Womenpreneur

Sosok Khadijah Binti Khuwailid: Inspirasi Womenpreneur Muslimah Dalam Membangun Bisnis Berkah

Surabaya – 1miliarsantri.net: Dulu sebelum cahaya Islam masuk di Mekkah, perempuan dipandang sebelah mata dalam segala lini kehidupan termasuk niaga. Ditengah itu lahir sosok perempuan yang menembus batas yaitu Khadijah binti Khuwailid. Ia bukan sekedar pedagang sukses dengan kekayaan berlimpah. Dalam catatan sejarah, namanya disebut sebagai saudagar paling terhormat di Quraisy dengan jaringan niaga yang menjangkau Syam hingga Yaman. Namun di balik kekayaan itu terdapat sistem bisnis yang visioner. Jika dibedah hari ini, mengandung prinsip profesional, berisiko, dan penuh spiritualitas. Investasi Sosial dan Spiritualitas dalam Bisnis Dalam menjalankan usahanya, Khadijah menerapkan dua sistem bisnis yang visioner yaitu memberi upah kepada  pegawai  dan bagi hasil kepada partner bisnisnya.  Sistem upah ala Kahdijah dengan merekrut karyawan untuk menjual barang dagangan ke luar Makkah, seperti ke Yaman dan Syam. Para pekerja mendapat bayaran layak, bahkan bonus jika berhasil menjual lebih banyak. Pembayaran selalu tepat waktu, yang mencerminkan prinsip Islam:  “Berikanlah upah kepada pekerja sebelum kering keringatnya.” (HR. Ibnu Majah) Selain itu Khadijah menerapkan sistem bagi hasil dengan menginvestasikan modalnya kepada pengusaha lain yang dipercaya untuk mengelola perdagangan. Keuntungan dibagi secara adil sesuai kesepakatan, menegaskan bahwa ia telah menerapkan prinsip profit sharing ala syariah sejak berabad-abad lalu. Dengan berbagi modal dan peluang kepada para pengusaha kecil, menumbuhkan ekonomi umat dengan prinsip berbagi hasil, bukan berbagi belas kasihan. Itulah bentuk filantropi produktif yang jarang disadari: membantu dengan memberdayakan. Rasulullah  bersabda:  “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad) Kedua sistem ini menunjukkan bahwa bisnis Khadijah bukan sekadar mencari laba, tapi membangun keadilan dan ekonomi keberlanjutan. Bagi Khadijah, memberi manfaat tidak berhenti pada sedekah, tetapi pada penciptaan lapangan kerja, keadilan dalam bagi hasil, dan kepercayaan terhadap kemampuan orang lain. Mewarisi Modal, Menanam Kepercayaan Khadijah memulai bisnis di usia muda, sekitar 20 tahun. Ia sebenarnya lahir di keluarga pebisnis, ayahnya Khuwailid bin Asad dikenal sebagai pengusaha kaya yang disegani di Quraisy. Dan ayahnya juga dikenal sebagai pribadi rendah hati dan suka menolong orang-orang miskin. Khadijah mewarisi harta besar dari ayah, suami pertama Abu Halah bin Zurarah  dan suami kedua Atiq bin A’idz. Dua suaminya yang telah wafat. Namun alih-alih menikmati kekayaan itu, ia justru menggerakkannya menjadi modal usaha. Ia sadar bahwa  harta  yang diam akan membeku, tapi uang yang dikelola dengan amanah akan bertumbuh. Khadijah mempekerjakan banyak orang, mengirim kafilah dagang ke Yaman dan Syam. Di saat para saudagar Quraisy tergoda dengan praktik riba, ia memilih jalan bersih dengan tidak menjual khamar, tidak menindas pekerja, tidak menimbun keuntungan. “Kejujuran adalah laba terbesar,” begitu prinsip yang diyakininya. Baca juga: Sudah Dibuka! Begini Syarat dan Cara Daftar Program Magang Berbayar Pemerintah Keberanian Merekrut Orang Asing Namun, ada satu sisi menarik dari manajemen Khadijah yaitu berani memperkerjakan orang yang belum ia kenal dekat. Dalam dunia bisnis, keputusan ini mengandung risiko tinggi karena di tangan orang asing harta bisa dibawa lari, barang bisa diselewengkan, reputasi bisa rusak. Tetapi Khadijah memiliki satu keunggulan yang jarang dimiliki pebisnis lain yaitu naluri mengenali integritas manusia. Ketika ia merekrut Muhammad bin Abdullah, pemuda jujur dari Bani Hasyim. Khadijah tidak hanya melihat keterampilan, tapi akhlak dan kejujurannya. Dan benar, hasilnya melampaui ekspektasi. Perdagangan Muhammad ke Syam membawa keuntungan berlipat, tapi yang lebih berharga bagi Khadijah bukan laba, melainkan kejujuran yang langka. Dari sinilah pelajaran penting muncul.  Dalam bisnis, kepercayaan adalah aset yang lebih mahal daripada modal. Khadijah tidak memilih pekerja karena nama besar, tapi karena kepribadian yang bersih dan amanah. Akhlak Sebagai Pondasi Reputasi Bagi Khadijah, reputasi bukan soal citra tapi cermin dari hati. Ia dikenal dengan gelar Ath-Thahirah (yang suci) karena kejujuran dan kesetiaannya dalam berdagang. Ia tak pernah menipu takaran, tak pernah mengelabui harga. Ia hidup dengan keyakinan bahwa keuntungan terbesar bukan di neraca laba, tapi di catatan amal. Sabda Rasulullah SAW: “Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para nabi, orang-orang benar, dan para syuhada.” (HR. Tirmidzi) Dan Khadijah, bahkan sebelum wahyu turun, telah menapaki jalan itu. Dari Harta ke Surga: Jiwa Dermawan yang Hidup Kekayaan Khadijah tidak membuatnya lupa berbagi. Ia gemar bersedekah sejak muda, dan setelah menikah dengan Nabi Muhammad SAW, seluruh hartanya digunakan untuk mendukung dakwah Islam. Allah berfirman: مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ Artinya:  “Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti (orang-orang yang menabur) sebutir biji (benih) yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261) Baginya, sedekah bukan mengurangi harta, tetapi memperluas keberkahan. Dari modal dunia, Khadijah menanam pahala akhirat. Baca juga: Ketika Perusahaan Asuransi Syariah Sudah Berkembang di Inggris Jejak Abadi Womenpreneur Muslimah Sejati Siti Khadijah adalah cermin bahwa kesuksesan sejati bukan diukur dari banyaknya harta, tapi dari cara seseorang memperlakukan rezekinya.  Ia pandai mengelola modal, berani mempercayai manusia, adil dalam sistem bisnis, dan dermawan dalam berbagi. Jika dunia mengenalnya sebagai pengusaha sukses, Islam mengenalnya sebagai wanita yang pertama beriman dan berkorban. Dari naluri lahir keberanian, dari amanah lahir kepercayaan, dan dari keduanya  lahirlah keberkahan yang abadi. Penulis : Iftitah Rahmawati Editor : Thamrin Humris dan Ainun Maghfiroh Sumber foto: Ilustrasi

Read More
Writerpreneur Muslim

Keren Banget! Peluang Emas Writerpreneur Muslim, Menulis Sebagai Ladang Bisnis dan Dakwah

Surabaya – 1miliarsantri.net: Tujuh tahun berkarir di dunia kepenulisan digital menyadarkanku satu hal penting. Bahwa menulis bukan hanya tentang merangkai kata, tapi juga memberdayakan diri.  Dari menulis artikel di media maupun agency,  menjadi copywriter di perusahaan, hingga menerbitkan buku, semuanya membuka pintu rezeki yang tak pernah kuduga. Pundi-pundi rupiah datang dari karya yang berawal dari ide. Tapi di sisi lain, menulis juga menjadi ladang pahala karena setiap kalimat yang menyebarkan kebaikan menjadi amal jariyah. Kini, dunia digital menghadirkan peluang baru bagi para penulis untuk berdaya secara ekonomi dan spiritual. Fenomena ini dikenal dengan istilah writerpreneur,  penulis berjiwa pengusaha. Apa Itu Writerpreneur? Istilah writerpreneur berasal dari gabungan kata writer (penulis) dan entrepreneur (wiraswasta). Writerpreneur adalah seseorang yang tidak hanya menulis, tetapi juga mengelola karya tulisnya sebagai bentuk usaha. Ia bukan sekadar penulis yang bekerja di balik meja, melainkan kreator yang mengubah ide menjadi sumber penghidupan berkelanjutan. Dalam ekosistem penulisan modern, dikenal pula peran seperti author, co-author, dan co-writer. Seorang author adalah pemilik gagasan utama dalam tulisan. Co-author berperan dalam pengembangan ide dan substansi. Dan co-writer membantu memperhalus bahasa dan struktur tulisan agar mudah dicerna. Kini, writerpreneur memadukan semua peran itu sekaligus: membangun ide, mengembangkan, mengaktualisasikan lewat tulisan dan memasarkannya.  Tak heran jika banyak penulis digital kini bertransformasi menjadi content strategist, copywriter, bahkan publisis sebagai penghubung karya dengan publik melalui berbagai kanal komunikasi digital. Baca juga: Bank Syariah Indonesia (BSI): Solusi Pinjaman Modal Usaha Tanpa Jaminan Berbasis Syariah Menulis Sebagai Dakwah Dalam Islam, menulis memiliki nilai spiritual yang tinggi. Melalui tulisan, pesan kebaikan dapat menjangkau banyak orang meski penulisnya telah tiada. Seperti petuah bijak dari Ali Bin Abi Thalib “Karena semua penulis akan meninggal kecuali karyanya, maka tulislah sesuatu yang baik, yang akan membahagiakanmu di akhirat kelak.” Nasehat itu  mengandung makna mendalam bahwa menulis adalah jalan mulia untuk meninggalkan jejak kebaikan di dunia. Dalam konteks modern, writerpreneur dapat menjadi dai digital yaitu menyebarkan nilai Islam melalui artikel, e-book, dan media sosial dengan pendekatan yang relevan dan inspiratif. Dan seorang penulis sejatinya sedang menjalankan misi kenabian yaitu menyampaikan kebenaran dan mengajak manusia menuju kebaikan. Menulis Sebagai Bisnis Selain bernilai dakwah, menulis juga membuka peluang besar di bidang bisnis. Di era digital, penulis tak lagi bergantung pada penerbit besar. Mereka dapat menerbitkan e-book, menjual kursus menulis, membuka jasa ghostwriting, hingga menjadi content creator di media sosial. Writerpreneur yang cerdas akan memanfaatkan kekuatan personal branding dan strategi digital marketing untuk menjangkau pembaca yang lebih luas. Dengan begitu, karya bukan hanya menanam pahala, tapi mengundang pundi rezeki. Kini, siapa pun dapat memulai bisnis tulisan dari rumah hanya bermodal ide, gawai, dan koneksi internet. Setidaknya, ada tiga keuntungan utama berbisnis tulisan di era digital ini: Dunia kepenulisan tidak menuntut modal besar. Cukup dengan kemampuan berpikir kreatif dan kemauan belajar, seseorang bisa menawarkan jasa penulisan artikel, copywriting, atau konten media sosial. Setiap tulisan yang bernilai dan bermanfaat bisa menjadi sumber penghasilan yang halal. Era digital memberi kesempatan bagi penulis untuk menjangkau pembaca dan klien dari berbagai negara. Melalui platform seperti blog, marketplace jasa, atau media sosial, karya penulis bisa dikenal luas. Satu tulisan bahkan bisa menginspirasi banyak orang sekaligus mendatangkan rezeki global. Inilah keistimewaan bisnis menulis. Selain menjadi sumber pendapatan, setiap tulisan bernilai kebaikan akan menjadi amal jariyah. Islam menempatkan pekerjaan yang bermanfaat bagi orang lain sebagai ibadah. Rasulullah  bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad) Dengan demikian, bisnis menulis bukan sekadar cara mencari nafkah, tetapi jalan untuk berdaya secara ekonomi sekaligus beramal untuk kehidupan yang lebih berkah. Baca juga: Lebih dari Sekadar Bebas Riba, Ini Hikmah Bertransaksi di Unit Usaha Syariah Menulis untuk Berdaya dan Berdakwah Menjadi penulis bukan sekadar profesi, tetapi peran peradaban. Seorang writerpreneur berada di dua dunia sekaligus, dunia ekonomi yang menumbuhkan kemandirian dan dunia dakwah yang menumbuhkan keberkahan. Di era digital, kemampuan menulis bukan hanya alat untuk mencari nafkah, tetapi juga sarana untuk menyebarkan nilai-nilai Islam dengan cara yang kreatif dan berpengaruh.  Maka, jika pena adalah kekuatanmu, jangan ragu untuk menjadikannya sumber rezeki sekaligus jalan menuju ridha Ilahi. Penulis : Iftitah Rahmawati Editor : Thamrin Humris dan Ainun Maghfiroh Sumber foto: Ilustrasi

Read More
QRIS

Fakta Penggunaan QRIS dalam Bisnis Modern dan Syariah untuk Menyatukan Efisiensi Teknologi dan Keberkahan Transaksi

Surabaya – 1miliarsantri.net: Sekarang hampir semua transaksi bisa dilakukan hanya dengan memindai kode QRIS. Mau beli gorengan di pinggir jalan, belanja online, bahkan sedekah di masjid, semuanya bisa dilakukan tanpa uang tunai. Praktis, cepat, dan efisien. Tapi muncul pertanyaan penting, apakah transaksi dengan QRIS ini sesuai dengan ajaran Islam, terutama dalam bisnis syariah?. QRIS dalam Bisnis Modern,  Cepat, Aman, dan Transparan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) adalah sistem pembayaran digital yang dibuat oleh Bank Indonesia. Dengan satu kode QR, pembeli bisa membayar lewat berbagai aplikasi keuangan seperti GoPay, OVO, DANA, atau M-Banking. Contohnya, seorang pedagang minuman cukup menyediakan satu kode QRIS di gerobaknya. Lalu pembeli tinggal memindai kode itu. Dan uang langsung masuk ke rekening si pedagang. Sistem ini sangat membantu pelaku usaha, terutama UMKM, karena: Dari sisi bisnis modern, QRIS mempercepat transaksi dan membuat laporan keuangan jadi lebih rapi. Namun, dalam Islam, kecepatan dan efisiensi saja tidak cukup. Transaksi juga harus adil, jujur, dan bebas dari hal yang haram. Baca juga: Hanya NU yang Ajukan Usaha Tambang QRIS dalam Bisnis Syariah, Harus Amanah, Adil, dan Halal Islam memandang transaksi ekonomi sebagai bagian dari ibadah. Maka setiap bentuk transaksi harus menjaga tiga hal penting, yakni amanah (kejujuran), keadilan, dan kejelasan akad. Lalu, mari kita lihat satu per satu dengan contoh nyata agar lebih mudah dipahami: 1. Amanah dan Transparansi Dalam bisnis digital, semua transaksi QRIS otomatis terekam. Tidak bisa dimanipulasi. Misalnya, seorang penjual baju online menerima pembayaran melalui QRIS. Nominal yang dibayar pembeli akan langsung tercatat sesuai harga. Ini mencegah adanya kecurangan atau “mark up” harga. Rasulullah  bersabda:  “Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para nabi, orang-orang shiddiq, dan para syuhada.” (HR. Tirmidzi) Dengan QRIS, catatan transaksi menjadi bukti nyata bahwa penjual menjalankan amanah dan kejujuran dalam bisnisnya. 2. Keadilan dan Kepastian Nilai Dalam transaksi tunai, kadang uang kembalian tidak pas  bahkan diganti permen. Dengan QRIS, nilai uang yang dibayar selalu sesuai, tidak lebih dan tidak kurang. Ini menunjukkan prinsip ‘adl (keadilan) yang dijunjung Islam. Allah SWT berfirman dalam Q.S. Al-Mutaffifin ayat 1–3: وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِيْنَۙ ۝١الَّذِيْنَ اِذَا اكْتَالُوْا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُوْنَۖ۝٢وَاِذَا كَالُوْهُمْ اَوْ وَّزَنُوْهُمْ يُخْسِرُوْنَۗ Artinya: “Celakalah bagi orang-orang yang curang, yaitu yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi; dan apabila menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” QRIS membantu memastikan bahwa setiap transaksi berlangsung adil antara penjual dan pembeli. 3. Kejelasan Akad dan Sumber Dana Islam melarang transaksi yang mengandung ketidakjelasan (gharar) atau riba. Karena itu, Fatwa DSN-MUI No.116/DSN-MUI/IX/2017 menegaskan bahwa uang elektronik boleh digunakan selama: Contohnya, jika seseorang mengisi saldo e-wallet dari gajinya yang halal, lalu membayar makanan melalui QRIS, maka transaksi itu sah dan halal. Namun jika saldo berasal dari hasil judi atau pinjaman berbunga, maka hukumnya menjadi haram,  bukan karena QRIS-nya, tetapi karena sumber dananya. Baca juga: Usaha Syariah ‘Meraih Laba’ Tanpa Kehilangan Berkah QRIS dan Ibadah Sosial di Era Digital Kini banyak masjid menyediakan QRIS untuk zakat, infak, dan sedekah. Misalnya, saat khutbah Jumat, jamaah bisa langsung memindai kode di layar masjid untuk bersedekah. Ini memudahkan umat yang tidak membawa uang tunai. Hal ini sesuai dengan semangat Islam yang memberikan kemudahan. Dengan QRIS, berbuat baik menjadi lebih mudah dan cepat, tanpa mengurangi nilai ibadahnya. QRIS bukan sekadar inovasi teknologi, tapi juga sarana menuju ekonomi yang jujur, adil, dan penuh berkah. Selama digunakan dengan cara yang benar dan sumber dana yang halal, QRIS justru menjadi alat bantu umat Islam dalam bertransaksi dan beramal dengan lebih aman dan efisien. Teknologi bukan penghalang syariah, melainkan jembatan menuju kemaslahatan. Dengan QRIS, kita bisa membuktikan bahwa bisnis modern dan nilai Islam bisa berjalan beriringan dengan cepat dalam layanan, bersih dalam niat, dan berkah dalam hasil. Penulis : Iftitah Rahmawati Editor : Thamrin Humris dan Ainun Maghfiroh Sumber foto: digivestasi.com

Read More
Merawat orang tua

Kisah Inspiraf: Hilangkan Stres Saat Merawat Orang Tua Sakit degan Cara Self Care Agar Lebih Tegar dan Optimis

Surabaya – 1miliarsantri.net: Merawat orang tua yang sakit seringkali menjadi ujian batin. Di satu sisi, ada cinta dan bakti. Di sisi lain, muncul kelelahan fisik dan emosional. Banyak anak merasa bersalah karena kadang ingin menyerah, padahal mereka juga manusia. Di saat merawat orang tua sakit hari-hari dihabiskan di rumah sakit, dirumah harus mengurus semua keperluan. Begitu banyak  Tantangan Tak Terduga dalam Merawat Orang Tua Sakit yang tanpa disadari membuat caregiver mudah stress bahkan depresi.  Penulis pernah mengalami masa tersulit dalam merawat orang tua sakit. Lima tahun lamanya, rasanya hidup hanya fokus untuk perawatan bapak tanpa tahu kapan akan membaik. Kadang tubuh terasa lelah, mata  sembab, bahkan sempat berpikir “Harus sampai kapan dan apakah sanggup terus begini?”.  Saat itu penulis sadar, bukan hanya bapak yang butuh dirawat, sebagai caregiver  pun butuh merawat batin sendiri. Dalam Islam, kesabaran di situasi ini sangat mulia. Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa yang menginginkan ridha Allah, hendaklah ia berbuat baik kepada orang tuanya.” (HR. Bukhari). Namun agar hati tetap kuat, dibutuhkan keseimbangan antara iman dan kesehatan mental. Berikut lima refleksi spiritual agar merawat orang tua bukan sekadar beban, tapi menjadi perjalanan jiwa yang penuh lapang. 1. Curhat dan Menangislah di Hadapan Allah Ketika penulis merasa suntuk, lelah fisik dan mental. Tempat yang paling nyaman adalah bersujud lama setiap shalat sembari meluapkan tangisan dibalut curhatan pilu. Dalam setiap air mata menetes berharap dikuatkan pundak, pikiran, dan hati untuk super kuat dan sabar menghadapi bapak yang kesehatannya selalu menurun. Entah kenapa  setelah menangis itu selalu datang ketenangan. Allah berfirman: الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28) Menurut Imam Al-Ghazali, menangis dalam doa adalah bentuk kelembutan hati dan tanda cinta hamba kepada Tuhannya. Jadi jangan menahan air mata, biarkan menjadi cara menyembuhkan jiwa yang letih. Dalam setiap sujud, sampaikan lelah dan harapan. Sebab kadang, yang menyembuhkan bukan jawaban, tapi ketenangan setelah berdoa. Dalam psikologi, menangis disebut emotional release yaitu cara alami tubuh membuang stres dan hormon kortisol yang menumpuk. Saat seseorang menangis dalam doa, ia tidak hanya melepaskan beban emosional, tapi juga menumbuhkan rasa aman karena merasa didengar. 2. Menemukan Cahaya Lewat Ibadah Bersama Ketika jawaban dokter tidak memberikan kepastian, penulis mengajak bapak untuk mengaji bersama. Walau aku yang mengaji lalu bapak mengikutinya, tapi suasana begitu khidmat. Kadang suara kami bergetar, tapi ayat demi ayat terasa menenangkan. Seolah Allah berbicara langsung kepada kami, bahwa dalam kesulitan, kesakitan masih ada kasih sayang Allah yang menyertai.  Dari quality time itu penulis menemukan makna bahwa tidak ada waktu yang sia-saia ketika membersamai orang tua yang sakit.  Sebagaimana firman Allah:  وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu…” (QS. Al-Isra: 23) Merawat orang tua bukan beban, tapi ladang pahala. Saat lelah datang, ingatlah, Mungkin di dunia, tangan kita yang menyuapi mereka, tapi di akhirat tangan merekalah yang akan menarik kita menuju rahmat Allah/surga. Dalam Islam, ibadah keluarga seperti doa bersama, zikir, dan tilawah menjadi ladang pahala. Secara psikologis, kegiatan ini membangun shared meaning, makna bersama yang menumbuhkan optimisme. Selain itu psikologi menyebut kegiatan spiritual bersama orang yang kita cintai dapat meningkatkan bonding dan hormon oksitosin dimana hormon kasih sayang yang menenangkan jiwa. Ketika membaca Al-Qur’an bersama orang tua, hati kita tidak hanya tenang, tapi juga saling menguatkan dalam iman. Baca juga: Jangan Panik! Ini Cara Nabung di Tengah Inflasi Biar Tetap Untung 3. Mengeluh dengan Ibu, Mendapatkan Arti Sabar Dinamika merawat orang tua sakit adalah terbatasnya mobilitas termasuk ketika mudik tidak bisa bersama-sama bahkan mau pergi untuk healing saja merasa bersalah karena kepikiran bapak yang terbaring dirumah. Saat itu penulis merasa jenuh merawat bapak, sebelum tidur biasanya deep talk sama ibu. Suatu kali penulis  bertanya pada ibu, “Kenapa keluarga kita diuji dengan bapak sakit bertahun-tahun, mau liburan nggak bisa, harus hemat juga, kenapa kok berat ujian ini bu?” Beliau menjawab lembut, “Nak, dibalik ujian itu ada tanda Allah sayang sama hambanya, dengan ujian Allah ingin hambanya naik kelas/derajatnya naik lebih mulia. Dan percayalah nak setiap puasa ada hari raya, setiap hujan ada pelangi, setiap ujian pasti ada hikmah.” Kalimat itu menampar sekaligus memeluk. Penulis akhirnya belajar bahwa sabar bukan berarti tidak lelah, tapi tetap memilih bersyukur meski keadaan tak berubah. Kalimat sederhana itu jika ditelaah secara  psikologis menumbuhkan positive reframing yaitu kemampuan melihat kebaikan dalam kesulitan. Inilah sabar sejati, bukan tanpa air mata, tapi tetap bersyukur meski mata basah.  Allah sudah menegaskan: وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ Artinya: “Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155) Sabar bukan berarti menahan emosi tanpa keluh, tapi kemampuan menerima dan tetap berbuat baik di tengah luka. Rasa jenuh dan putus asa itu manusiawi. Dalam psikologi, berbagi cerita pada orang yang dipercaya adalah bentuk self-compassion, cara menenangkan diri lewat empati. Nabi Ayyub a.s. pun pernah mengeluh kepada Allah ketika diuji sakit:  4. Bersedekah dan Melihat Hikmah dari Ujian Ketika bapak sakit tak kunjung sembuh, aku teringat sabda Nabi: “Obatilah orang-orang sakit di antara kalian dengan sedekah.” (HR. Baihaqi) Di tahun 2022 penulis berinisiatif saat Idul Adha berkurban kambing di masjid terdekat sebagai ikhtiar untuk meringankan rasa sakit bapak dan sebagai bentuk ikhlas dalam menghadapi apapun ujian. Namun menjelang akhir tahun 2022, bapak telah dipanggil oleh Allah. Dari Situ aku sadar bahwa dalam kesakitan tidak dijawab dengan kesembuhan melainkan dengan ketiadaan yang mengajari diri ini lebih ikhlas dan pasrah kepada Sang Pencipta. Di saat diri masih trauma akan kehilangan bapak, 2 tahun kemudian Allah memberi hadiah dengan mengundang  aku dan ibu berangkat umrah melalui jalan yang tidak disangka-sangka. Dari situ penulis menyakini bahwa Allah tidak pernah menutup pintu balasan bagi orang yang sabar dan ikhlas. Sedekah tak hanya menolong orang lain, tapi juga menyehatkan jiwa. Penelitian psikologi positif menunjukkan bahwa memberi atau membantu orang lain memicu produksi dopamin dan serotonin (hormon kebahagiaan). Saat seseorang memberi dari hatinya, ia sesungguhnya sedang menyembuhkan diri. Dari sisi spiritual, Allah…

Read More