cara nabung di tengah inflasi

Jangan Panik! Ini Cara Nabung di Tengah Inflasi Biar Tetap Untung

Jakarta Timur – 1miliarsantri.net: Inflasi lagi gila-gilanya. Harga bahan pokok naik, ongkos transport makin mahal, bahkan segelas kopi kekinian aja sekarang bisa bikin mikir dua kali.  Tapi tenang, meski kondisi ekonomi lagi nggak stabil, bukan berarti kamu nggak bisa nabung. Justru di saat seperti ini, kemampuan ngatur keuangan jadi skill penting banget. Nah, biar kamu tetap bisa menabung tanpa merasa sesak, yuk praktekkan di bawah ini cara nabung di tengah inflasi biar tetap untung dan tenang! 1. Ubah Pola Pikir Kalau Nabung Bukan Sisa, Tapi Kewajiban Kesalahan paling umum saat inflasi adalah menunda menabung dengan alasan nanti kalau ada lebih. Padahal, justru di tengah harga yang naik, kamu harus lebih disiplin. Jadi, ubah mindset kamu, menabung bukan dari sisa uang, tapi bagian tetap dari pendapatan. Contoh gampangnya, begitu gajian masuk, langsung sisihkan 10–20% untuk tabungan. Anggap aja itu biaya masa depan. Baru deh sisanya kamu pakai buat kebutuhan lain. Dengan begitu, tabungan kamu nggak akan hilang di tengah pengeluaran yang makin membengkak. 2. Pisahkan Uang Berdasarkan Tujuan Inflasi bikin semuanya terasa mendesak, tapi kamu tetap perlu punya strategi yang terukur. Coba gunakan konsep amplop digital, bisa pakai aplikasi keuangan atau rekening terpisah untuk tiap kebutuhan. Misalnya: Rekening A: untuk kebutuhan sehari-hari Rekening B: untuk tabungan jangka pendek (liburan, gadget, dll.) Rekening C: untuk tabungan jangka panjang (dana darurat, investasi, atau dana haji) Dengan sistem ini, kamu nggak gampang tergoda buat pakai uang tabungan untuk hal-hal impulsif. Baca juga: Boleh Nggak Sih Muslim Jadi Seniman? Ini Jawaban & Batasannya! 3. Cari Tempat Aman untuk Nilai Uang Kamu Menabung di bank memang aman, tapi kalau inflasi tinggi, nilai uang kamu bisa tergerus. Jadi, kamu perlu tempat parkir uang yang lebih cerdas, tetap halal, tapi bisa mengimbangi inflasi. Beberapa alternatifnya yang dapat kamu lakukan bisa berupa: Intinya, jangan biarkan uang kamu diam. Cari instrumen halal yang bisa bantu uangmu tumbuh tanpa melanggar prinsip keuangan syariah. 4. Bedakan Kebutuhan vs Keinginan Inflasi sering bikin orang panik belanja. Takut harga naik lagi, akhirnya malah boros. Padahal, salah satu kunci bertahan di masa sulit adalah membedakan antara butuh dan ingin. Tanya diri kamu sebelum beli sesuatu: “Kalau aku nggak beli ini, hidupku bakal terganggu nggak?” Kalau jawabannya “nggak,” berarti itu cuma keinginan. Simpan uangnya, tambahkan ke tabungan, atau gunakan untuk hal yang lebih produktif. 5. Terapkan Prinsip Keuangan Syariah Keuangan syariah punya prinsip yang bisa banget jadi panduan di masa sulit kayak sekarang. Dan beberapa prinsip pentingnya, yakni: Dengan prinsip ini, kamu nggak cuma jaga stabilitas finansial, tapi juga keberkahan rezeki. Karena yang penting bukan cuma banyak uangnya, tapi berkahnya. 6. Tetap Produktif, Jangan Hanya Menghemat Menghemat penting, tapi kalau penghasilan stagnan sementara harga naik, ya tetap aja tekor. Jadi, selain nabung, kamu perlu cari cara biar penghasilanmu ikut tumbuh. Misalnya: Ingat, dalam Islam, kerja keras dan mencari rezeki halal itu ibadah. Jadi jangan takut mencoba, asal dilakukan dengan cara yang benar. 7. Jaga Ketenangan Hati Inflasi bisa bikin stres, apalagi kalau kamu lihat saldo menipis tapi harga makin naik. Tapi di sinilah pentingnya tawakal dan manajemen hati. Selama kamu berusaha, berdoa, dan tetap disiplin, Allah akan cukupkan rezekimu dengan cara yang tak terduga. Kadang, bukan penghasilan yang kurang, tapi pengelolaan kita yang belum tepat. Jadi jangan panik. Tarik napas, evaluasi, dan pelan-pelan perbaiki pola keuanganmu. Baca juga: 8 Cara Seru Solo Traveling Halal yang Menyenangkan dan Tetap Jaga Iman Nabung Bukan Soal Uang, Tapi Soal Sikap Menabung di masa inflasi memang terasa berat, tapi bukan berarti nggak mungkin. Kuncinya ada di pola pikir dan kebiasaan. Kalau kamu bisa disiplin, bijak membedakan kebutuhan, dan berani belajar soal investasi halal, kamu nggak cuma selamat dari inflasi tapi juga jadi lebih tangguh secara finansial. Jadi, mulai sekarang jangan tunggu nanti kalau keadaan membaik. Mulailah hari ini, meski cuma sedikit. Karena dalam Islam, yang sedikit tapi konsisten lebih dicintai Allah daripada yang banyak tapi terputus-putus. Penulis : Vicky Vadila Muhti Editor : Thamrin Humris dan Ainun Maghfiroh Sumber foto: Ilustrasi

Read More
solo traveling

8 Cara Seru Solo Traveling Halal yang Menyenangkan dan Tetap Jaga Iman

Jakarta Timur – 1miliarsantri.net: Jalan-jalan sendirian alias solo traveling sekarang udah jadi tren banget. Banyak orang yang pengin menemukan diri sendiri lewat perjalanan, entah buat healing, nyari inspirasi hidup, atau sekadar pengin rehat dari rutinitas. Tapi, buat seorang Muslim, solo traveling nggak sekadar soal destinasi dan foto-foto estetik. Ada hal yang lebih penting, gimana caranya tetap aman, nyaman, dan nggak kehilangan arah, baik arah jalan maupun arah iman. Yup, jalan sendiri memang seru, tapi juga penuh tantangan. Nah, biar perjalanan kamu tetap seru dan berkah, yuk simak tips solo traveling halal berikut ini! 1. Niatin dari Awal Kalau Traveling Bukan Cuma Buat Senang-Senang Segala sesuatu tergantung niatnya. Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” Jadi, sebelum berangkat, luruskan niat dulu. Solo traveling bisa jadi ibadah kalau tujuannya untuk mengenal ciptaan Allah, belajar hal baru, dan memperluas pandangan hidup. Saat kamu melihat gunung, laut, atau budaya baru, coba renungkan betapa luas dan indah ciptaan Allah itu. Dengan begitu, perjalananmu bukan cuma menyegarkan pikiran, tapi juga menumbuhkan rasa syukur. 2. Riset Tujuanmu dengan Matang Solo traveler itu harus ekstra siap. Kamu nggak bisa asal pergi tanpa tahu seluk-beluk destinasi. Apalagi kalau kamu pengin traveling halal, karena ada beberapa hal yang wajib kamu perhatikan, seperti: Riset ini penting bukan cuma buat keamanan, tapi juga buat menjaga kenyamanan dan keimanan kamu selama di perjalanan. Baca juga: Ramadhan 2026 Sudah Di Depan Mata! Ini Tips Biar Ibadah Tetap Jalan Meski Banyak Kerjaan 3. Berpakaian Sopan, Tapi Tetap Nyaman Banyak solo traveler Muslim yang kadang bingung soal pakaian, pengin tampil gaya, tapi juga pengin tetap syar’i. Kuncinya adalah menyesuaikan tanpa meninggalkan prinsip.Gunakan pakaian yang menutup aurat tapi tetap praktis untuk jalan jauh. Misalnya, pilih hijab yang simpel dan nggak mudah kusut, atau pakaian longgar berbahan adem. Ingat, kamu nggak harus tampil mencolok buat terlihat keren. Kadang, justru kesederhanaan itu yang bikin aura kamu lebih menenangkan dan berkelas. 4. Jaga Waktu Ibadah, Di Mana Pun Kamu Berada Ini nih yang paling sering terlupakan. Saat lagi seru-serunya jalan, kadang kita suka lupa waktu shalat. Padahal, traveling bisa jadi ladang pahala besar kalau kamu tetap disiplin ibadah. Gunakan aplikasi pengingat waktu shalat dan arah kiblat di HP kamu. Manfaatkan juga keringanan syariat. Kalau kamu sedang bepergian jauh, Islam memperbolehkan jama’ dan qashar shalat, lho. Cari tempat yang bersih untuk wudhu. Kalau nggak memungkinkan, kamu bisa tayamum sementara. Ingat, Allah nggak pernah membebani hamba-Nya di luar kemampuan. Jadi, nggak ada alasan buat ninggalin ibadah di perjalanan. 5. Gunakan Dana dengan Bijak dan Halal Solo traveling artinya kamu sendirian ngatur semua pengeluaran. Karena itu, penting banget buat punya budget plan yang jelas. Hindari pinjaman berbunga atau transaksi yang mengandung riba. Bawa uang tunai secukupnya dan simpan terpisah di beberapa tempat (buat jaga-jaga kalau ada yang hilang). Gunakan kartu atau dompet digital syariah kalau ada, sekarang banyak sekali platform keuangan yang udah berprinsip halal. Perjalanan halal bukan cuma soal makanan, tapi juga soal cara kamu mengatur rezeki.  6. Temukan Komunitas atau Teman Muslim di Destinasi Solo traveling bukan berarti kamu harus selalu sendirian. Kamu bisa tetap berinteraksi dengan orang baru, asal tahu batasnya. Gabung ke komunitas traveler Muslim atau cari grup online yang bisa bantu kamu di tempat tujuan. Banyak banget komunitas yang siap berbagi info tentang tempat halal, masjid terdekat, sampai tips keselamatan. Selain bikin perjalanan lebih aman, interaksi kayak gini juga bisa memperluas silaturahmi, dan itu sendiri udah jadi ibadah.  7. Hati-Hati dengan Dunia Digital Di zaman serba online, semua orang pengin update perjalanan mereka di media sosial. Tapi hati-hati, jangan sampai pamer berlebihan malah bikin hati kamu sombong atau malah mengundang risiko keamanan. Sebelum posting, tanya ke diri sendiri, “Apakah ini sekadar berbagi, atau sedang mencari validasi?” Gunakan media sosial buat menginspirasi, bukan sekadar menunjukkan gaya hidup. Karena di balik setiap klik dan unggahan, ada tanggung jawab moral dan spiritual juga.  8. Nikmati Momen, Jangan Lupa Refleksi Solo traveling sering jadi waktu terbaik buat merenung. Di tengah sunyi perjalanan, kamu bisa ngobrol sama diri sendiri dan sama Allah. Gunakan momen itu buat muhasabah, apa yang udah kamu syukuri, apa yang bisa kamu perbaiki, dan apa yang pengin kamu capai ke depan. Kadang, perjalanan jauh justru bikin kita semakin dekat dengan Tuhan. Baca juga: Boleh Nggak Sih Muslim Jadi Seniman? Ini Jawaban & Batasannya! Traveling Boleh Sendiri, Tapi Jangan Sendirian dari Allah Solo traveling halal bukan cuma tentang destinasi, tapi juga tentang perjalanan batin. Kamu bisa pergi sejauh apa pun, tapi kalau masih menjadikan Allah sebagai kompas hidup, kamu nggak akan pernah tersesat. Jadi, siapapun kamu baik perempuan, laki-laki, mahasiswa, atau pekerja kantoran, kalau pengin solo traveling, jalan aja. Tapi bawa niat baik, adab yang benar, dan iman yang kuat. Karena sejatinya, perjalanan paling indah bukan cuma yang membawa kita ke tempat baru, tapi yang membawa kita lebih dekat kepada Allah. Penulis : Vicky Vadila Muhti Editor : Thamrin Humris dan Ainun Maghfiroh Sumber foto: Ilustrasi

Read More

Tren Donasi Online Saat Bencana: Antara Cepat, Transparan, dan Tantangan Hoaks

Bogor- 1miliarsantri.net : Beberapa menit setelah berita gempa atau banjir besar terjadi, lini masa media sosial langsung dipenuhi tautan donasi. Ada yang datang dari lembaga resmi, komunitas relawan, hingga individu yang bergerak spontan. Fenomena donasi online bencana kini sudah menjadi kebiasaan baru masyarakat Indonesia, oleh karena langkah-langkahnya yang cepat, mudah, dan bisa dilakukan hanya dengan beberapa kali klik di layar ponsel. Salah satu daya tarik utama donasi online adalah kecepatannya. Ketika gempa melanda Cianjur pada 2022, misalnya, sejumlah platform crowdfunding melaporkan dana miliaran rupiah terkumpul hanya dalam hitungan hari. Ribuan orang dari berbagai daerah bisa ikut berdonasi tanpa harus hadir langsung di lokasi bencana. Kekuatan donasi online juga terlihat dari peran komunitas. Relawan muda bisa menggalang dana melalui Instagram atau TikTok, lalu menyalurkannya ke korban yang membutuhkan. Kecepatan ini membuat bantuan darurat, seperti makanan, selimut, dan obat-obatan, bisa segera sampai di lokasi. Bagi korban, setiap jam sangat berarti dan donasi online menjawab kebutuhan itu. Baca juga: Mengapa Zakat Perlu Dikeluarkan, Bagaimana Konsepnya dalam Ekonomi Islam? Transparansi dan Akuntabilitas Meski cepat, donasi online hanya bisa bertahan jika ada kepercayaan. Banyak platform kini menekankan transparansi yang mana menampilkan jumlah donasi masuk, laporan penyaluran, hingga dokumentasi langsung dari lapangan. Contohnya, beberapa lembaga mengunggah video distribusi bantuan agar publik bisa melihat bahwa dana benar-benar sampai pada korban. Transparansi seperti ini bukan hanya menjaga kepercayaan donatur, tapi juga memotivasi lebih banyak orang untuk ikut berdonasi. Melihat bukti nyata bahwa bantuan tersalurkan, publik merasa yakin dan terdorong untuk berbagi lagi di momen bencana berikutnya. Baca juga: Shalat Subuh: Awal Hari yang Menentukan Keberkahan Hidup Tantangan Hoaks dan Penyalahgunaan Namun, tren positif ini tidak lepas dari tantangan. Di balik semangat berbagi, muncul pula oknum yang menyalahgunakan kepercayaan publik. Pernah ada kasus tautan donasi palsu yang menyebar di WhatsApp dengan mengatasnamakan lembaga besar. Ada pula individu yang menggalang dana secara personal namun tidak jelas penyalurannya. Hoaks seperti ini merugikan dua pihak sekaligus yakni korban bencana yang seharusnya menerima bantuan, dan masyarakat yang akhirnya kehilangan kepercayaan untuk berdonasi. Karena itu, penting bagi donatur untuk selalu mengecek kredibilitas penggalangan dana, memastikan lembaga atau komunitas yang bergerak memiliki rekam jejak yang jelas. Donasi online saat bencana adalah wujud nyata kepedulian masyarakat yang makin adaptif dengan perkembangan zaman. Cepat, praktis, dan bisa menjangkau siapa pun yang ingin membantu. Namun, kecepatan itu harus diimbangi dengan transparansi dan kewaspadaan terhadap hoaks. Pada akhirnya, menjadi donatur cerdas berarti tidak hanya memberi, tetapi juga memastikan bahwa setiap rupiah yang kita salurkan benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan. Penulis : Salwa Widfa Utami Foto Ilustrasi AI Editor : Iffah Faridatul Hasanah dan Toto Budiman

Read More

Shalat Subuh: Awal Hari yang Menentukan Keberkahan Hidup

Bogor – 1miliarsantri.net : Bayangkan, saat dunia masih terlelap dalam gelapnya malam, ada sekelompok orang yang sudah bergegas mengambil air wudhu, menenangkan diri, dan berdiri menghadap Allah di waktu Subuh. Momen singkat itu ‘dua rakaat Shalat Subuh’ bukan hanya kewajiban, tetapi juga titik awal yang dapat menentukan kualitas seluruh hari kita. Waktu Subuh adalah transisi alami, dari tidur menuju aktivitas, dari gelap menuju terang. Mereka yang rutin menunaikan Shalat Subuh merasakan perubahan nyata badan lebih segar, pikiran lebih jernih, hati lebih tenang. Tak sedikit orang sukses yang memulai hari sebelum matahari terbit, memanfaatkan ketenangan pagi untuk merancang langkah-langkah besar dalam hidup mereka. Shalat Subuh yang khusyuk bisa menjadi “pemantik semangat.” Satu doa yang tulus dan fokus di pagi hari, meski singkat, dapat membentuk energi positif yang menuntun kita menjalani aktivitas dengan produktivitas dan ketenangan. Sebaliknya, melewatkan Subuh sering kali membuat pagi terasa terburu-buru, malas, bahkan kehilangan arah. Baca juga: Jual Beli Online dalam Pandangan Islam, Sah atau Masih Perlu Kehati-hatian? Keberkahan yang Mengalir dalam Hidup Keberkahan Subuh tak hanya soal energi fisik, tetapi juga spiritual dan sosial. Nabi Muhammad ﷺ menegaskan bahwa waktu pagi adalah saat Allah menurunkan rahmat dan keberkahan. Doa di waktu Subuh pun diyakini lebih mustajab. Orang yang menjaga Shalat Subuh secara rutin sering mengalami: Lebih dari itu, Subuh berjamaah membangun kebersamaan, memperluas jejaring sosial, dan menanamkan disiplin diri. semua itu adalah bagian dari keberkahan yang menyertai orang yang istiqomah menjaga Shalat Subuh. Baca juga: Mengapa Zakat Perlu Dikeluarkan, Bagaimana Konsepnya dalam Ekonomi Islam? Memulai Kembali Jika Terlewat Bagi yang sering melewatkan Subuh, jangan berkecil hati. Dampaknya bisa terasa seperti hati yang gelisah, aktivitas terasa berat, dan ritme hidup menjadi tidak stabil. Namun, setiap langkah untuk kembali menjaga Subuh adalah investasi spiritual yang besar. Mulai dari hal sederhana dengan tidur lebih awal, pasang alarm, atau saling mengingatkan dengan teman. Konsistensi sedikit demi sedikit akan membawa perubahan besar. Shalat Subuh adalah titik awal keberkahan hidup. Dua rakaat singkat di pagi hari bisa memberi energi, ketenangan, disiplin, dan keberkahan yang menyertai setiap langkah kita. Subuh bukan hanya kewajiban, tetapi juga kesempatan emas yang Allah sediakan setiap hari. Pertanyaannya: apakah kita siap meraih keberkahan itu, atau membiarkannya lewat begitu saja? Penulis : Salwa Widfa Utami Foto Ilustrasi AI Editor : Toto Budiman dan Iffah Faridatul Hasanah

Read More

Peran Ulama dalam Melawan Ketidakadilan Pemerintahan: Bersuara atau Diam?

Bogor – 1miliarsantri.net : Dalam sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia, ulama selalu hadir sebagai penuntun umat sekaligus penegak keadilan. Mereka tidak hanya berperan dalam ibadah, tapi juga berani turun tangan ketika rakyat menghadapi penindasan. Kini, di tengah dinamika politik Indonesia yang sering diwarnai konflik kepentingan, praktik korupsi, hingga kebijakan yang tidak pro-rakyat, pertanyaan penting kembali muncul, apakah ulama sebaiknya bersuara lantang melawan ketidakadilan, atau justru memilih diam? Sejak masa kolonial, ulama menjadi benteng terakhir rakyat dalam menghadapi ketidakadilan. Salah satunya KH Hasyim Asy’ari dengan resolusi jihadnya menolak penjajahan, KH Ahmad Dahlan melawan arus kebodohan lewat pendidikan, hingga Buya Hamka yang berani mengkritik rezim Orde Lama, semuanya menunjukkan bahwa ulama tidak hanya mengajarkan bab ibadah, tetapi juga menjaga agar kekuasaan tidak keluar dari koridor keadilan. Peran ini masih relevan hingga kini. Di tengah maraknya korupsi, kontroversi regulasi, hingga politik uang, ulama tetap diharapkan sebagai penyeimbang. Mereka menegaskan bahwa politik sejati adalah amanah, bukan ajang perebutan kepentingan. Suara ulama juga punya legitimasi moral yang kuat, sering kali masyarakat lebih percaya ucapan seorang kiai dibanding politisi. Bahkan, ketika publik gamang menghadapi kebijakan kontroversial seperti kenaikan harga kebutuhan pokok atau isu hukum yang timpang, ulama hadir memberi arah dan mengingatkan pemerintah agar tidak abai terhadap penderitaan rakyat. Baca juga: Dari Resolusi Jihad ke Revolusi Adab: Ketika Layar Televisi Menguji Martabat Santri Lalu Bagaimana Mereka Menjalani Peran; Diam atau Bersuara? Sikap ulama terhadap pemerintah memang beragam. Sebagian memilih jalur vokal, menentang kebijakan zalim secara terbuka di mimbar, tulisan, maupun media. Mereka percaya diam hanya akan memperpanjang penderitaan rakyat. Kritik ulama pada isu kenaikan harga, pengekangan kebebasan berpendapat, atau praktik oligarki adalah bentuk keberanian moral yang jarang dimiliki tokoh lain. Ulama vokal berfungsi sebagai alarm sosial, menggugah nurani penguasa sekaligus menguatkan suara rakyat kecil. Namun, ada juga ulama yang memilih jalan berbeda. Diam mereka bukan tanda ketakutan, melainkan strategi. Mereka membangun pendidikan, ekonomi, dan ketahanan sosial umat agar bisa mandiri menghadapi ketidakadilan. Menurut pandangan ini, kritik frontal terkadang menimbulkan kegaduhan, sementara perubahan nyata lahir dari penguatan akar rumput. Diam mereka juga tidak sepenuhnya hening, tapi sering kali tersirat dalam doa, nasihat, atau simbol-simbol dakwah yang sarat makna. Dengan cara itu, ulama tetap melawan, hanya saja lewat jalur yang lebih halus dan berjangka panjang. Kedua pilihan ini kerap menimbulkan salah paham. Ulama yang bersuara lantang dianggap politis, sementara ulama yang diam dituding tidak peduli. Padahal, keduanya sama-sama bagian dari perjuangan. Bersuara maupun diam hanyalah strategi, yang membedakan adalah metode, bukan tujuan. Yang terpenting adalah konsistensi ulama untuk berpihak pada umat, menjaga agar kekuasaan tidak kebablasan, dan mengingatkan rakyat bahwa suara keadilan tidak boleh padam. Baca juga: Ini Fakta Feodalisme di Pesantren? Benarkah Seperti di Zaman Kolonial? Mengapa Peran Ulama Masih Krusial? Politik tanpa kontrol moral akan cenderung liar. Ulama hadir sebagai pengingat bahwa kekuasaan harus berpihak pada keadilan. Suara mereka baik lewat kritik, pendidikan, maupun gerakan sosial tetap menjadi penyeimbang dalam iklim politik yang sering tidak sehat. Ketika ulama berani bersuara, umat tidak merasa sendirian. Dan ketika mereka memilih strategi diam, umat belajar kesabaran dan kemandirian. Bersuara atau diam, keduanya adalah strategi. Namun yang terpenting adalah konsistensi ulama berpihak pada kebenaran dan rakyat. Dalam kondisi politik yang rawan kepentingan, masyarakat membutuhkan ulama yang mampu menjaga nurani bangsa. Karena tanpa ulama, suara keadilan akan mudah tenggelam di tengah hiruk-pikuk kekuasaan. Penulis : Salwa Widfa Utami Sumber foto: Ilustrasi Editor : Toto Budiman dan Iffah Faridatul Hasanah

Read More

Sasar Disabilitas Tuna Rungu, BMM dan LPPOM Gelar ToT (Training of Trainer) Al-Qur’an Isyarat

Surabaya – 1miliarsantri.net : Sebagai langkah nyata dalam memperluas akses dakwah dan pembelajaran Al-Qur’an bagi penyandang disabilitas tuna rungu, Baitulmaal Muamalat (BMM) bersama LPPOM Jawa Timur menggelar kegiatan Training of Trainer (ToT) Al-Qur’an Isyarat yang berlangsung selama 2 (dua) hari pada 29 – 30 Oktober 2025, di Ruang Rapat Lantai 2 Islamic Center, Surabaya. Program Training of Trainer ini bertujuan untuk membekali sahabat tuna rungu, serta para guru, relawan dan pendamping agar mampu mengajarkan Al-Qur’an dengan metode isyarat yang mudah dipahami, komunikatif dan tetap sesuai dengan kaidah tajwid. Melalui pelatihan ini, harapannya semakin banyak masyarakat tuli yang dapat membaca, memahami serta mencintai Al-Qur’an serta mengenal nilai-nilai Islam. Dalam sambutannya, Muhammad Riandy selaku Kepala Divisi Wakaf Baitulmaal Muamalat menyampaikan apresiasi atas inisiatif penyelenggaraan program tersebut. Ia berharap kegiatan ini menjadi langkah besar dalam mewujudkan pendidikan inklusif, khususnya dalam bidang pengajaran Al-Qur’an. “Mudah-mudahan tiga juta teman tuli di Indonesia dapat menikmati dan mempelajari Al-Qur’an isyarat. Dengan begitu, pendidikan inklusif di bidang pengajaran Al-Qur’an benar-benar bisa dirasakan oleh teman-teman tuna rungu,” ujarnya. Sementara itu, Drs. H. Joesoef Syah, M.S., Apt., selaku perwakilan dari LPPOM Jawa Timur, menambahkan harapannya agar program ini mampu memberdayakan masyarakat tuna rungu dalam menyebarkan nilai-nilai Al-Qur’an. “Diharapkan melalui program ini, teman-teman tuna rungu dapat turut mensyiarkan ayat-ayat Al-Qur’an, seperti surah Al-Baqarah, sehingga mereka dan keluarga mereka terhindar dari mengonsumsi makanan dan minuman yang haram,” tuturnya. Dalam sambutan yang disampaikan oleh Dr. H. Moh Arwani, M.Ag, M.HI selaku Kepala Bidang Penerangan Agama Islam dan Pemberdayaan Zakat Wakaf Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur menerangkan bahwa, program Training of Training ini sejalan dengan visi dan misi kementerian agama, salah satunya yaitu meningkatkan literasi alquran yang ramah, khususnya untuk semua lapisan masyarakat tanpa ada diskriminasi. Baca juga : Literasi Sehat Berinternet dipilih sebagai Tema Pelatihan Cyberheroes 2025 PT Telkom dan BMM Bagaimana Kegiatan ini Berlangsung ? Dalam kegiatan ToT ini, peserta mendapatkan berbagai materi, antara lain : Pengenalan Bahasa isyarat Indonesia (BISINDO) dan pemahaman psikologi penyandang tuli, agar para pengajar dapat menyampaikan materi dengan empati dan pendekatan pembelajaran yang tepat. Kegiatan ini juga diisi dengan sesi praktik langsung, pembekalan metode pembelajaran Al-Qur’an bagi sahabat tuna rungu, serta diskusi interaktif antara peserta dan fasilitator. BMM tidak hanya membekali peserta dengan kemampuan menerjemahkan ayat-ayat Al-Qur’an ke dalam bahasa isyarat, tetapi juga menanamkan nilai empati dan semangat dakwah tanpa batas bagi seluruh masyarakat. Melalui semangat “Dengan Isyarat, Raih Syafaat”, kegiatan ini menjadi bukti bahwa tidak ada keterbatasan dalam mendekat kepada Allah. Bahasa kasih dan dakwah dapat menjangkau siapa pun dan dengan cara apa pun. Baca juga : Awas Dampak Kejahatan Cyber Meluas, PT Telkom dan BMM Gencarkan Literasi Digital di Kalangan Pelajar Sebagai lembaga amil zakat yang berkomitmen terhadap pemberdayaan umat, BMM memandang pentingnya menghadirkan pendidikan Al-Qur’an yang ramah disabilitas khususnya tuna rungu. Selama ini, keterbatasan komunikasi seringkali menjadi penghalang bagi teman-teman tuna rungu untuk belajar membaca dan memahami kandungan Al-Qur’an. Melihat kondisi tersebut, BMM berinisiatif mengadakan pelatihan bagi calon pelatih yang nantinya dapat menjadi penggerak dakwah Al-Qur’an isyarat di berbagai daerah. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari komitmen BMM dalam mewujudkan inklusi sosial dan kesetaraan akses pendidikan keagamaan bagi semua kalangan, tanpa memandang keterbatasan fisik. Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan semakin banyak lembaga pendidikan, masjid, dan komunitas dakwah yang terbuka terhadap pembelajaran Al-Qur’an berbasis inklusi.(**) Kontributor : Warda Hikmatul Mardiyah Editor : Iffah Faridatul Hasanah dan Toto Budiman Foto : Dokumentasi BMM Jatim

Read More
Cara Efektif Didik Anak Muslim

6 Cara Efektif Didik Anak Muslim yang Cerdas Digital Tapi Tetap Taat

Jakarta Timur – 1miliarsantri.net: Kamu sadar nggak sih, zaman sekarang anak-anak udah lebih jago main gadget daripada orang tuanya? Belum genap lima tahun, mereka udah bisa buka YouTube, pakai voice command, bahkan ngobrol sama chatbot. Dunia memang berubah cepat banget. Kehadiran Artificial Intelligence (AI) bikin segalanya lebih praktis tapi di sisi lain, juga jadi tantangan besar buat para orang tua Muslim. Pertanyaannya sekarang, gimana caranya mendidik anak yang tetap cerdas digital tapi nggak kehilangan nilai-nilai Islam di tengah derasnya arus teknologi ini? Yuk, kita cari tahu jawabannya bersama-sama melalui penjelasan di bawah ini. 1. Pahami Dulu Dunia Digital Itu Bukan Musuh, Tapi Alat Banyak orang tua yang panik dan buru-buru nyalahin teknologi. Padahal sebenarnya, AI dan teknologi digital itu netral. Yang bikin baik atau buruk tergantung siapa yang pakai dan buat apa. Sebagai orang tua Muslim, mindset-nya harus diubah dulu, jangan menjauhkan anak dari teknologi, tapi arahkan mereka supaya bisa memanfaatkannya dengan bijak dan halal. Misalnya, ajarkan anak cara mencari ilmu lewat platform edukatif, atau gunakan AI sebagai alat bantu belajar Al-Qur’an dan bahasa Arab. Ada banyak aplikasi yang bisa bantu mereka baca huruf hijaiyah, belajar tajwid, sampai memahami tafsir dengan cara interaktif. Jadi, daripada gadget jadi distraksi, ubah jadi media dakwah kecil-kecilan di rumah. 2. Bangun Literasi Digital Sejak Dini Zaman AI menuntut anak-anak punya kemampuan literasi digital, bukan cuma bisa main gadget. Artinya, mereka harus paham cara kerja teknologi, tahu mana informasi yang benar dan mana yang hoaks, serta bisa menjaga privasi dan etika online. Kamu bisa mulai dengan cara sederhana, misalnya: Jelaskan bahwa jejak digital itu nyata. Segala yang diunggah bisa jadi catatan amal, baik atau buruk. Ini bisa dikaitkan dengan konsep hisab dalam Islam, biar mereka lebih paham makna tanggung jawab digital. Baca juga: Anak Zaman Sekarang Susah Lepas HP? Yuk Terapkan Pola Parenting Islami di Era Digital 3. Gunakan AI dengan Cara Islami Banyak orang tua takut anaknya kecanduan AI tools, padahal kalau diarahkan dengan benar, AI bisa jadi teman belajar yang luar biasa. Misalnya, gunakan ChatGPT atau aplikasi sejenis untuk bantu mereka bikin rangkuman pelajaran, menulis cerita Islami, atau menjawab pertanyaan seputar sejarah Islam. Tapi tetap, kamu perlu dampingi dan kurasi kontennya. Ajarkan anak konsep niat sebelum menggunakan teknologi: bahwa setiap klik, pencarian, atau karya yang mereka buat bisa bernilai ibadah kalau diniatkan untuk kebaikan. Bayangin, anak-anak Muslim bisa jadi generasi yang bukan cuma jago teknologi, tapi juga punya kesadaran spiritual yang kuat. Keren, kan?  4. Jadikan Rumah Sebagai Madrasah Digital Salah satu tantangan terbesar di era ini adalah anak belajar lebih banyak dari internet daripada dari orang tuanya sendiri. Nah, supaya nilai-nilai Islam tetap melekat, rumah harus jadi tempat pertama anak belajar adab digital. Dan di sini, kita juga sertakan beberapa cara mudah yang bisa kamu coba: Kalau suasana rumah kondusif dan orang tua jadi contoh, anak akan lebih mudah meniru kebiasaan baik. 5. Tanamkan Nilai Iman di Tengah Dunia Virtual Mau sehebat apapun teknologi, fondasi utama anak tetap iman dan akhlak. AI bisa bantu mereka jadi pintar, tapi hanya iman yang bisa bikin mereka jadi manusia yang benar. Gunakan momen digital buat memperkuat nilai-nilai itu. Misalnya: Dengan begitu, anak nggak cuma melek teknologi, tapi juga tahu arah hidupnya. 6. Seimbangkan Dunia Nyata dan Dunia Maya Salah satu dampak negatif dari AI adalah anak bisa terlalu nyaman di dunia digital. Mereka punya teman virtual, game online, dan hiburan tanpa batas. Tapi di sisi lain, interaksi sosial dan spiritual bisa berkurang. Solusinya? Bantu anak menemukan keseimbangan. Ajak mereka sering ke masjid, ikut kajian anak muda, atau kegiatan sosial. Beri ruang untuk eksplorasi di dunia nyata, seperti olahraga, seni, atau kegiatan alam. Tunjukkan bahwa dunia nyata juga seru, dan kehidupan offline bisa jadi ladang pahala yang besar. Baca juga: Boleh Nggak Sih Muslim Jadi Seniman? Ini Jawaban & Batasannya! Didik Dengan Hikmah, Bukan Rasa Takut Parenting di era AI memang nggak mudah. Dunia berubah cepat, informasi datang tanpa filter, dan teknologi kadang lebih pintar dari kita. Tapi ingat, Islam sudah kasih panduan sejak lama: “Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya.” Artinya, tugas kita bukan melindungi anak dari perubahan, tapi membekali mereka agar bisa hidup dengan nilai Islam di tengah perubahan itu. Jadi, jangan takut sama AI. Gunakan sebagai alat bantu, bukan ancaman. Jadilah orang tua yang bukan cuma mengontrol, tapi juga menemani. Dengan begitu, kamu bisa mencetak generasi Muslim yang cerdas digital, kuat iman, dan siap jadi pemimpin masa depan. Penulis : Vicky Vadila Muhti Editor : Thamrin Humris dan Ainun Maghfiroh Sumber foto: Ilustrasi

Read More
Konsep Zakat dalam ekonomi Islam

Mengapa Zakat Perlu Dikeluarkan, Bagaimana Konsepnya dalam Ekonomi Islam?

Bondowoso – 1miliarsantri.net : Dalam kehidupan masyarakat Muslim, konsep zakat dalam ekonomi Islam bukan sekadar kewajiban agama, melainkan juga sistem sosial yang memiliki dampak besar terhadap kesejahteraan bersama. Zakat menjadi salah satu instrumen penting yang menghubungkan spiritualitas dengan ekonomi, karena di dalamnya terkandung nilai keadilan, kepedulian, dan pemerataan harta. Dengan kata lain, zakat bukan hanya bentuk ibadah, tetapi juga solusi dalam menjaga keseimbangan ekonomi umat. Zakat memiliki posisi strategis dalam struktur ekonomi Islam. Melalui zakat, harta yang berputar di masyarakat tidak hanya berpusat pada golongan kaya, melainkan juga tersalurkan kepada mereka yang membutuhkan. Hal ini menjadi pembeda utama antara sistem ekonomi Islam dan sistem ekonomi konvensional yang sering kali berorientasi pada akumulasi kekayaan. Dengan memahami konsep zakat dalam ekonomi Islam, kita dapat melihat bagaimana Islam mengajarkan keseimbangan antara hak individu dan kepentingan sosial. Makna dan Kewajiban Zakat dalam Islam Sebelum memahami lebih jauh peran ekonominya, penting bagi kita untuk mengenali makna zakat itu sendiri. Zakat berasal dari kata “zaka” yang berarti suci, tumbuh, dan berkah. Artinya, zakat bukanlah sekadar pengeluaran harta, melainkan juga penyucian jiwa dan kekayaan. Dalam ajaran Islam, zakat wajib dikeluarkan oleh setiap Muslim yang telah mencapai nisab (batas minimum harta) dan haul (masa satu tahun). Dari sisi sosial, zakat mengandung makna solidaritas dan tanggung jawab sosial antar sesama. Melalui konsep zakat dalam ekonomi Islam, kekayaan tidak dibiarkan menumpuk di tangan segelintir orang. Allah menegaskan dalam Al-Qur’an agar harta tidak hanya beredar di kalangan orang kaya saja. Oleh karena itu, zakat menjadi bentuk nyata pengendalian terhadap kesenjangan sosial dan ekonomi. Baca juga : transparansi pengelolaan zakat Ketika seseorang menunaikan zakat, sesungguhnya ia sedang menumbuhkan keberkahan dalam hartanya sendiri. Harta yang dikeluarkan tidak akan berkurang, justru akan dibalas dengan kelimpahan rezeki dalam bentuk lain. Inilah keindahan konsep zakat dalam ekonomi Islam, di mana aspek spiritual dan ekonomi berjalan selaras. Zakat Sebagai Pilar Ekonomi Umat Ketika kita berbicara tentang pembangunan ekonomi berbasis nilai-nilai Islam, maka zakat merupakan salah satu pilar utamanya. Dalam sistem ekonomi Islam, zakat menempati posisi yang sama pentingnya dengan larangan riba (bunga) dan anjuran bekerja keras secara halal. Semua itu dirancang agar harta yang beredar di masyarakat tetap bersih, adil, dan produktif. Baca juga : UU Pengelolaan Zakat Penerima Zakat (Asnaf) Penerapan konsep zakat dalam ekonomi Islam dapat menjadi solusi atas berbagai persoalan ekonomi modern, seperti kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan sosial. Banyak lembaga amil zakat kini mengelola dana zakat tidak hanya untuk konsumtif, tetapi juga produktif. Seperti dengan memberikan modal usaha kepada masyarakat kecil, membiayai pendidikan, dan meningkatkan keterampilan. Berdasarkan QS. At-Taubah: 60, ada 8 golongan yang berhak sebagai penerima zakat, diantaranya : Peran zakat dalam sistem ekonomi Islam menjadi instrument redistribusi kekayaan yang adil tanpa paksaan pasar. Berbeda dengan pajak, zakat berorientasi pada keberkahan dan tanggung jawab moral kepada Allah. Dari pembahasan di atas, kita dapat memahami bahwa konsep zakat dalam ekonomi Islam bukan hanya kewajiban keagamaan, tetapi juga strategi sosial dan ekonomi yang luar biasa. Ia menjaga keseimbangan antara spiritualitas dan kesejahteraan, antara individu dan masyarakat. Dengan menunaikan zakat, seseorang tidak hanya membersihkan hartanya, tetapi juga ikut menjaga keadilan dan pemerataan dalam kehidupan ekonomi umat. Dengan zakat, ekonomi Islam menegaskan bahwa kesejahteraan sejati tidak hanya diukur dari akumulasi kekayaan, tetapi kemanfaatan dan keberkahan harta bagi sesama. Melalui konsep zakat dalam ekonomi Islam, kita belajar bahwa kemakmuran bukanlah milik pribadi, melainkan amanah yang harus disalurkan untuk kemaslahatan bersama. Maka, sudah seharusnya zakat menjadi bagian dari gaya hidup setiap Muslim yang peduli akan keadilan dan kesejahteraan sosial.(***) Penulis : Iffah Faridatul Hasanah Editor : Toto Budiman Foto Ilustrasi AI

Read More

Presiden Prabowo Serahkan Pesawat A400M Kepada TNI AU, ini Spesifikasinya

Pesawat pertama A400M yang diterima Indonesia untuk memperkokoh kekuatan angkutan strategis Angkatan Udara diserahkan oleh Presiden RI kepada TNI AU Jakarta — 1miliarsantri.net: Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto didampingi Menteri Pertahanan RI, Sjafrie Sjamsoeddin menyerahkan satu unit pesawat angkut strategis A400M kepada Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU). Pesawat buatan Airbus, A400M diserahkan oleh Presiden Prabowo kepada Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau), untuk selanjutnya dioperasikan oleh TNI AU, diserahkan pada Senin, 3/11/2025 di Pangkalan Udara Halim Perdana Kusuma, Jakarta. Kegiatan ini disaksikan oleh Panglima TNI, pejabat dan undangan lainnya. Pesawat angkut strategis A400M merupakan pesawat multi role buatan Airbus, merupakan bagian dari realisasi kontrak pengadaan yang ditandatangani pada November 2021 untuk memperkokoh kekuatan angkutan strategis TNI AU, dikutip dari laman resmi Kementerian Pertahanan RI. Perintah Presiden RI Presiden mengungkapkan bahwa saat ini dua unit telah aktif dan pemerintah sedang menegosiasikan penambahan unit berikutnya. Presiden juga telah menginstruksikan agar pesawat A400M segera diperlengkapi dengan modul khusus. “Saya perintahkan kita segera pesan modul ambulans udara untuk A400M, dan juga saya sudah instruksikan untuk diperlengkapi dengan alat-alat untuk menghadapi kebakaran hutan,” tegas Presiden. Presiden Prabowo, menambahkan “TNI adalah alat negara yang ikut sangat besar peranannya dalam menghadapi bencana dan kita juga sebagai bagian dari komunitas dunia harus bantu negara-negara dalam kesulitan.” Spesifikasi Pesawat A400M TNI AU A400M adalah pesawat angkut udara unik dengan kemampuan strategis yang siap dikirim ke titik yang dibutuhkan.Ruang kargonya yang luas memungkinkan pengangkutan sebagian besar muatan berat dan berukuran besar berupa peralatan bantuan militer dan kemanusiaan yang sedang beroperasi, serta mengirimkannya ke landasan udara yang belum diaspal. Pesawat A400M dikenal memiliki kemampuan ganda (strategis dan taktis), mampu mengangkut muatan hingga 37 ton, atau 116 personel. Pesawat ini dapat dikonfigurasi untuk misi Evakuasi Medis (MEDEVAC) dan dilengkapi kemampuan Air-to-Air Refuelling (AAR) untuk difungsikan sebagai pesawat tanker, yang akan memperluas jangkauan operasi pesawat tempur TNI AU. Berikut spesifikasi Pesawat A400M berdasarkan data dari Airbus Defence & Space, yang dikutip dari Wikipedia: Karakteristik umum Kemampuan Hingga saat ini telah aktif 2 unit Pesawat A400M yang akan dioperasikan oleh TNI AU.*** Penulis : Thamrin Humris Editor : Thamrin Humris Sumber : Kementerian Pertahanan RI, Airbus, Wikipedia Foto istimewa Kemhan RI

Read More

Jual Beli Online dalam Pandangan Islam, Sah atau Masih Perlu Kehati-hatian?

Bondowoso – 1miliarsantri.net : Di era modern ini, kehidupan kita sudah tidak bisa lepas dari dunia digital. Hampir semua aktivitas kini dilakukan secara daring, termasuk urusan ekonomi seperti jual beli. Banyak di antara kita yang sudah terbiasa membeli pakaian, makanan, hingga kebutuhan sehari-hari melalui ponsel hanya dengan beberapa kali klik. Namun, pertanyaan penting yang sering muncul bagaimana sebenarnya jual beli online dalam pandangan Islam? Apakah transaksi semacam ini sah menurut syariat, atau justru perlu kehati-hatian agar tidak terjerumus dalam hal yang dilarang? Jual beli online memang menawarkan kemudahan luar biasa. Kita tidak perlu bertemu langsung, barang bisa dikirim ke rumah, dan pembayaran bisa dilakukan secara instan. Meski begitu, Islam sebagai agama yang mengatur segala aspek kehidupan tentu memiliki pandangan tersendiri mengenai hal ini. Karena dalam Islam, prinsip jual beli bukan hanya soal keuntungan, tetapi juga tentang kejujuran, keadilan, dan kerelaan antara dua pihak. Pandangan Islam terhadap Transaksi Digital Dalam fikih muamalah, jual beli (al-bay’) diartikan sebagai pertukaran barang dengan imbalan yang disepakati, baik berupa uang maupun benda lain, dengan dasar kerelaan dari kedua belah pihak. Maka, jual beli online pada dasarnya termasuk dalam kategori akad jual beli yang sah, selama terpenuhi rukun dan syaratnya. Namun, ada satu hal yang perlu diperhatikan. Karena jual beli online dilakukan tanpa tatap muka dan barang belum langsung diterima, maka potensi munculnya gharar (ketidakjelasan) cukup besar. Misalnya, barang yang dikirim tidak sesuai deskripsi, atau penjual menampilkan foto yang berbeda dari aslinya. Dalam pandangan Islam, gharar termasuk hal yang harus dihindari karena dapat merugikan salah satu pihak. Baca juga : Memanfaatkan Teknologi untuk Mengurangi Kecurangan dalam Pengelolaan Zakat Kehati-hatian dalam Bertransaksi Online Menurut Syariat Ketika kita memahami jual beli online dalam pandangan Islam, penting juga untuk menyadari bahwa Islam menganjurkan umatnya untuk berhati-hati dalam setiap transaksi. Rasulullah SAW bersabda : “Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para nabi, orang-orang yang jujur, dan para syuhada.” (HR. Tirmidzi). Hadis ini menegaskan pentingnya kejujuran dalam berdagang, termasuk di dunia maya sekalipun. Kehati-hatian bisa diwujudkan dengan beberapa langkah sederhana. Pertama, pastikan barang yang dijual jelas deskripsinya, mulai dari ukuran, warna, hingga kualitas. Kedua, pilih platform atau penjual yang terpercaya, memiliki ulasan baik, dan sistem pembayaran yang aman. Ketiga, hindari transaksi yang mengandung unsur penipuan, seperti penjual yang tidak transparan atau harga yang terlalu tidak masuk akal. Dengan begitu, jual beli online dalam pandangan Islam merupakan sesuatu yang sah dan diperbolehkan selama memenuhi rukun dan syarat jual beli yang telah diatur dalam syariat. Teknologi hanyalah alat yang terpenting adalah bagaimana kita menggunakannya dengan cara yang benar, jujur, dan amanah. Baca juga : Bank Syariah Indonesia (BSI): Solusi Pinjaman Modal Usaha Tanpa Jaminan Berbasis Syariah Sebagai umat Muslim, kita tentu ingin setiap aktivitas kita, termasuk berbelanja online, membawa keberkahan. Oleh karena itu, mari kita selalu berpegang pada prinsip kejujuran, transparansi, dan tanggung jawab dalam setiap transaksi. Dengan begitu, jual beli online bukan hanya menjadi sarana memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga menjadi ladang pahala yang diridai Allah SWT. Semoga dengan memahami jual beli online dalam pandangan Islam, kita semakin bijak dalam memanfaatkan kemajuan teknologi tanpa harus melanggar nilai-nilai agama yang kita anut. (**) Penulis : Iffah Faridatul Hasanah Editor : Toto Budiman Foto Ilustrasi AI

Read More