Kekuatan Sunyi Sedekah Diam-Diam di Tengah Kehidupan Modern

Malang – 1miliarsantri.net : Di tengah hiruk pikuk media sosial dan budaya pamer yang semakin mendominasi kehidupan modern, praktik sedekah diam-diam menjadi bentuk kedermawanan yang semakin langka, namun justru kian bermakna. Di era ketika setiap bantuan sosial seringkali direkam, dipublikasikan, dan dikapitalisasi demi citra, munculnya kesadaran untuk berbagi secara tersembunyi menawarkan napas segar dalam lanskap filantropi. Sedekah yang dilakukan tanpa diketahui orang lain bukan hanya bentuk ketulusan, tetapi juga representasi nilai spiritual yang dalam. Inilah kekuatan sunyi yang perlu terus dirawat dalam kehidupan sosial masyarakat. Spirit Keikhlasan dalam Sedekah Diam-Diam Sedekah diam-diam tidak hanya menyangkut tindakan memberi, tetapi juga menyangkut bagaimana hati bekerja dalam keheningan. Dalam praktik ini, tidak ada ekspektasi pujian atau balasan dari manusia, hanya hubungan langsung antara pemberi dan Allah. Hal ini memberikan kekuatan moral yang besar karena menempatkan keikhlasan sebagai inti dari tindakan. Di saat banyak aksi sosial terjebak dalam ajang pembuktian diri, memberi dalam diam menjaga esensi luhur dari filantropi itu sendiri. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman,   “Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir,   maka itu  lebih baik bagimu…” (QS Al-Baqarah: 271). Ayat ini menegaskan bahwa sedekah yang dilakukan dalam kerahasiaan memiliki keutamaan tersendiri, terutama dalam menjaga hati dari riya dan menjaga martabat penerima. Lebih dari sekadar ibadah personal, sedekah diam-diam juga menyimpan kekuatan sosial. Ia menghindarkan penerima dari rasa malu atau perasaan inferior karena bantuan yang diterima tidak diumumkan secara publik. Dalam banyak kasus, bantuan yang diberikan secara rahasia justru lebih menyentuh dan memberi rasa aman bagi yang menerimanya. Maka dari itu, praktik ini seharusnya menjadi inspirasi dalam menata ulang praktik pemberian dalam masyarakat yang mulai kehilangan makna tulus dalam berbagi. Sedekah Diam-Diam sebagai Kontrapolisi Budaya Pamer Budaya visual dalam era digital menempatkan eksistensi sebagai sesuatu yang harus ditampilkan. Banyak orang merasa perlu menunjukkan segala bentuk kebaikan, termasuk saat bersedekah. Namun, sedekah diam-diam hadir sebagai perlawanan terhadap narasi tersebut. Ia mengajarkan bahwa tidak semua kebaikan harus diumumkan, dan bahwa kebajikan sejati justru terletak dalam ketidaknampakan. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW menyebut tujuh golongan yang akan mendapat naungan di hari kiamat, salah satunya adalah :     “seseorang yang bersedekah, lalu ia menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diberikan tangan kanannya.” (HR Bukhari dan   Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa nilai tertinggi dalam sedekah adalah keikhlasan yang sempurna sampai-sampai diri sendiri pun tidak merasa sedang “memberi”. Inilah bentuk spiritual tertinggi dari amal sosial. Jauh lebih penting, masyarakat perlu diberi ruang untuk menumbuhkan kepercayaan bahwa memberi tanpa disaksikan publik tetap bernilai. Bahkan, nilai spiritual dan sosialnya bisa jauh lebih besar. Praktik ini mengembalikan kemurnian dalam tindakan sosial, membebaskannya dari kepentingan ego dan tekanan eksistensial. Dengan begitu, sedekah diam-diam bisa menjadi bentuk revolusi sunyi terhadap budaya konsumtif dan narsistik yang menggerus nilai-nilai kesederhanaan. Membangun Budaya Sedekah Diam-Diam Sejak Dini Penting untuk membangun kesadaran tentang nilai sedekah diam-diam sejak usia dini. Pendidikan keluarga dan lingkungan sekolah bisa menjadi ruang awal untuk mengenalkan konsep memberi dengan keikhlasan tanpa pamrih. Anak-anak perlu belajar bahwa berbagi bukan soal dilihat orang lain, tetapi tentang merasakan kebahagiaan ketika bisa meringankan beban sesama secara tulus. Masyarakat juga bisa menciptakan ekosistem filantropi yang mendukung aksi tanpa eksposur, seperti kotak amal anonim, rekening bantuan tanpa identitas, atau program sosial yang tidak mencantumkan nama donatur. Semua ini memungkinkan lebih banyak orang terlibat dalam kebaikan tanpa merasa harus menonjolkan diri. Di tengah dunia yang makin bising oleh citra dan pengakuan, sedekah diam-diam adalah suara sunyi yang menguatkan nilai-nilai kemanusiaan. Ia menjadi jembatan antara keikhlasan personal dan dampak sosial, serta penyeimbang dalam kehidupan yang makin penuh kepentingan. Sudah saatnya, praktik sedekah diam-diam dikembalikan sebagai budaya utama dalam filantropi kita. Penulis : Ramadani Wahyu Editor : Iffah Faridatul Hasanah & Toto Budiman

Read More

Menyingkap Khazanah Keislaman Indonesia yang Tersembunyi

Malang – 1miliarsantri.net : Indonesia memiliki kekayaan luar biasa dalam bidang keislaman yang belum banyak tergali. Khazanah keislaman Indonesia, berupa manuskrip klasik, tradisi pesantren, pemikiran Islam lokal, hingga praktik sosial keagamaan, tersebar luas di berbagai wilayah. Namun, sebagian besar dari warisan intelektual dan budaya ini masih tersembunyi di balik minimnya riset, dokumentasi, serta perhatian publik dan negara. Padahal, bila dikelola dan dikembangkan dengan serius, khazanah keislaman Indonesia bisa menjadi salah satu kekuatan lunak bangsa di kancah global. Keberadaan pesantren sebagai pusat pendidikan Islam tradisional telah lama menjadi penjaga utama khazanah keislaman Indonesia. Melalui pengajaran kitab kuning dan penanaman nilai-nilai moral serta spiritualitas Islam, pesantren membentuk karakter keislaman yang khas, inklusif, moderat, dan berakar pada nilai-nilai lokal. Di pesantren inilah tafsir, fikih, akhlak, hingga filsafat Islam berkembang dalam konteks Nusantara. Namun sayangnya, banyak catatan, manuskrip, dan tradisi lisan yang diwariskan secara turun-temurun belum terdokumentasi dengan baik. Potensi besar ini berisiko hilang bila tidak segera digarap secara serius. Ekspresi Lokal Khazanah Keislaman Indonesia Selain itu, gagasan Islam Nusantara sebagai ekspresi lokal dari ajaran Islam merupakan bagian penting dari khazanah keislaman Indonesia. Corak Islam yang tumbuh di bumi Nusantara memperlihatkan kemampuan ajaran Islam beradaptasi dengan budaya lokal tanpa kehilangan substansi nilai-nilainya. Misalnya, dari praktik budaya seperti sekaten di Jawa, tabuik di Sumatera Barat, hingga zikir saman di Aceh, terlihat bahwa nilai-nilai Islam tumbuh berdampingan dengan kearifan lokal. Ini menjadi bukti bahwa Islam di Indonesia memiliki kekhasan yang bisa dijadikan model harmonisasi agama dan budaya di dunia global yang cenderung polaristik. Namun, masih banyak tantangan yang dihadapi dalam menggali potensi ini. Kurangnya dokumentasi dan riset akademik menjadi masalah utama. Banyak manuskrip klasik masih tersimpan dalam kondisi tidak layak di pesantren-pesantren kecil atau rumah-rumah keturunan ulama. Proses digitalisasi berjalan lambat dan belum menjadi prioritas nasional. Di sisi lain, masih terbatasnya akademisi yang memiliki kemampuan mengkaji teks-teks klasik dalam bahasa Arab Pegon atau Jawi turut menghambat proses penggalian pengetahuan ini. Hal ini diperparah dengan kurangnya dukungan institusional terhadap program studi yang fokus pada Islam lokal atau khazanah pesantren. Khazanah Keislaman Indonesia Kontemporer Dalam konteks kontemporer, sebenarnya khazanah keislaman Indonesia juga mencakup bidang ekonomi dan filantropi Islam. Potensi zakat, infak, sedekah, dan wakaf sangat besar. Namun, data menunjukkan bahwa potensi ekonomi syariah yang mencapai ratusan triliun rupiah baru dimanfaatkan sebagian kecil saja. Padahal jika digarap dengan serius dan transparan, lembaga-lembaga zakat dan wakaf bisa menjadi instrumen keuangan sosial yang tidak hanya memperkuat solidaritas umat, tetapi juga mengentaskan kemiskinan dan ketimpangan sosial. Sayangnya, potensi ini sering kali terbentur oleh regulasi yang tumpang tindih, lemahnya tata kelola, dan minimnya literasi masyarakat. Upaya Strategis Khazanah Keislaman Indonesia Perlu ada upaya strategis yang melibatkan berbagai pihak baik negara, pesantren, kampus, masyarakat sipil, dan media massa untuk menggali, merawat, serta mempromosikan khazanah keislaman Indonesia ke ranah publik. Hal Ini bukan hanya soal pelestarian budaya, tetapi juga membangun fondasi pemikiran dan spiritualitas Islam yang kontekstual dan mampu menjawab tantangan zaman. Apalagi di tengah menguatnya arus globalisasi dan digitalisasi, posisi Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia seharusnya bisa menjadi pusat rujukan Islam yang damai, dinamis, dan berakar kuat pada tradisi. Membangun kesadaran kolektif akan pentingnya khazanah keislaman Indonesia adalah pekerjaan panjang yang perlu dimulai sekarang. Jika tidak, kita akan kehilangan aset peradaban yang sangat berharga. Karena itulah, pelestarian dan pengembangan khazanah keislaman Indonesia tidak boleh lagi menjadi proyek elit atau akademisi semata, melainkan harus menjadi gerakan bersama yang menempatkan tradisi Islam lokal sebagai bagian dari masa depan umat Islam Indonesia dan dunia. Khazanah keislaman Indonesia adalah warisan sekaligus potensi yang harus dirawat, digali, dan diperjuangkan agar tidak sekadar menjadi bagian dari masa lalu, tetapi juga pijakan untuk masa depan yang lebih berkeadaban. Penulis : Ramadani Wahyu Editor : Iffah Faridatul Hasanah & Toto Budiman

Read More

Purbaya Effect Dalam Timbangan Ekonomi Islam

Penulis : HM Ali Moeslim (Penulis Buku dan Pembimbing Hajj & Umroh) BismillahirrahmaanirrahiimSATU MENTERI yang diangkat melalui reshufle Kabinet dengan gaya “koboy”, hadir pada gelaran panggung ekonomi Indonesia, disambut bak’ arsitek keuangannya yang baru, yaitu Purbaya Yudhi Sadewa. Penunjukannya sebagai Menteri Keuangan pada 8 September 2025 menarik perhatian dunia. Menggantikan sosok pendahulunya yang ikonis, Purbaya kini memikul tugas berat di tengah tantangan global dan domestik. Efek Purbaya adalah istilah yang digunakan oleh media dan analis keuangan untuk merujuk pada reaksi pasar dan pergeseran ekspektasi kebijakan ekonomi usai Purbaya Yudhi Sadewa menjadi Menteri Keuangan. Istilah ini secara khusus dikaitkan dengan pendekatan kebijakan fiskal Purbaya yang dianggap lebih agresif dan berfokus pada stimulus pertumbuhan melalui intervensi likuiditas. Sejumlah kebijakan yang ia terapkan mencerminkan pendekatan ekonomi yang agresif dan tidak konvensional. Misalnya, injeksi dana pemerintah sebesar Rp 200 triliun yang semula mengendap di lima bank BUMN untuk mempercepat sirkulasi uang di sektor riil. Selain itu, ia membuka kanal pengaduan masyarakat terkait praktek kecurangan di bea cukai, memberantas peredaran rokok ilegal, menghentikan penggunaan APBN untuk membayar utang proyek KCIC, hingga menindak tegas praktek impor pakaian ilegal. Jika kita perhatikan, kebijakan-kebijakan tersebut bukanlah hal yang sepenuhnya baru dalam teori ekonomi, namun menjadi simbol perlawanan terhadap budaya birokrasi yang lamban dan penuh kepentingan. Kehadiran Purbaya tampak seperti angin segar bagi perekonomian nasional, menghadirkan semangat baru dalam reformasi kebijakan fiskal dan moneter. Namun di balik optimisme tersebut, muncul pertanyaan mendasar. Apakah pendekatan ofensif ini mampu menciptakan keseimbangan ekonomi yang berkeadilan? atau justru mengulang pola ekonomi kapitalistik yang berorientasi pada pertumbuhan tanpa pemerataan? Kemudian bagaimana dalam prinsip politik ekonomi Islam? Saat ini dunia modern dikuasai oleh sistem ekonomi kapitalis. Sistem ini memang berhasil membawa kemajuan besar dalam bidang materi dan teknologi. Tetapi di sisi lain juga menimbulkan banyak masalah serius seperti kesenjangan antara si kaya dan si miskin, krisis keuangan yang berulang, dan menurunnya nilai moral dalam kegiatan ekonomi. Tentu sebagai muslim, kita tawarkan sistem ekonomi Islam. Islam hadir menawarkan cara yang berbeda. Sistem ini tidak hanya berfokus pada keuntungan dan efesiensi ekonomi, tetapi juga menekankan keadilan, pemerataan, dan keberkahan dalam kehidupan manusia. Sebelumnya, Kapitalisme berlandaskan pada tiga pilar filosofis utama, yakni; Pertama, sekularisme, yaitu pemisahan antara agama dengan negara dan ekonomi. Dalam pandangan ini, kegiatan ekonomi dijalankan sepenuhnya berlandaskan rasionalitas manusia tanpa campur tangan nilai-nilai ketuhanan. Kedua, kebebasan individu (individualisme). Setiap individu dianggap memiliki hak ngutlak atas kepemilikan dan kebebasan untuk mengejar kepentingannya sendiri. Gagasan The Invisible Hand dari Adam Smith diyakini akan menuntut kepentingan pribadi tersebut menuju kebaikan bersama. Ketiga, hak kepemilikan pribat yang absolut. Individu memiliki kebebasan penuh untuk memiliki, menggunakan, dan mengembangkan hartanya tanpa batasan. Kecuali oleh hukum positif yang dibuat oleh manusia sendiri. Dari prinsip ini, praktek-praktek seperti bunga (riba), spekulasi (ghoror), dan monopoli (ikhtiqaar), dianggap sah selama ada kesepakatan antara pihak-pihak yang bertransaksi. Adapun dalam sistem ekonomi Islam, ia berdiri di atas fondasi yang sepenuhnya berbeda. Pertama adalah Tauhid, yakni pengakuan bahwa kedaulatan tertinggi hanyalah milik Allah. Seluruh aktivitas ekonomi harus tunduk pada aturan syariat yang bersumber dari Al-Quran dan Sunnah. Kedua, Keseimbangan atau Rububiyah. Manusia sebagai khalifah di muka bumi memiliki tanggung jawab untuk memakmurkan bumi dengan prinsip keadilan dan keseimbangan.Tidak semata-mata demi kepentingan pribadi, tetapi juga untuk kemaslahatan masyarakat. Ketiga, Keadilan Sosial atau Al-Adl. Kekayaan tidak boleh hanya berputar di kalangan orang-orang kaya. Tujuan utama sistem ekonomi Islam adalah terwujudnya keadilan distribusi dan keadilan prosedural. Keempat, adalah maslahat. Setiap kebijakan dan aktivitas ekonomi harus berorientasi pada kemaslahatan umat,yakni mendatangkan kebaikan dan menolak segala bentuk kemudaratan. Dalam Islam, uang bukan komoditas, melainkan alat tukar (medium of exchange), Uang tidak boleh “beranak” menjadi uang, tanpa adanya aktivitas ekonomi riil, melibatkan risiko dan usaha nyata seperti jual-beli, sewa, atau bagi hasil. Setiap bentuk riba diharamkan secara tegas, sebagai gantinya, Islam menawarkan sistem bagi hasil (mudarobah dan musyarakah), jual-beli, (murabahah, salam atau istisna) dan sewa (ijaroh). Ustadz Dwi Chondro Triyono menganalogikan sistem ekonomi itu seperti tubuh manusia, uang adalah darah dan sistem moneter adalah jantungnya. Dalam kapitalisme, jantungnya tersumbat oleh riba, Uang hanya berputar di sekitar lembaga keuangan besar dan para pemilik modal. Sementara sektor riil dan masyarakat bawah kekurangan aliran modal. Akibatnya tubuh ekonomi nasional tampak hidup tetapi sebenarnya tengah sekarat, negap-megap secara struktural. Sementara dalam Islam jantung ekonomi berdenyut sehat karena aliran uang tidak tersumpat oleh bunga, Ia beredar melalui sektor real, kerjasama produktif, dan distribusi zakat. Negara bertindak seperti dokter yang memastikan darah ekonomi sampai kepada semua organ, terutama yang lemah dan kekurangan. Jika kita analogikan dengan kebijakan Purbaya, pendekatannya tetap mempertahankan mekanisme bunga dan dominasi pasar finansial dalam menggerakkan ekonomi, dapat dikategorikan sebagai bentuk sirkulasi tertutup dimana darah ekonomi tidak mengalir merata. Uang cenderung berputar dalam lingkaran terbatas, antara lain bank, investor besar, dan pasar modal. Sementara sektor rilis seperti pertanian, perikanan, dan UMKM hanya mendapatkan sisa aliran ekonomi modal yang kecil dan berbiaya tinggi. Jika kebijakan tersebut disandingkan dengan prinsip ekonomi Islam,tampak bahwa sistem Islam menawarkan paradigma yang lebih menyeluruh, menjaga kesehatan jantung ekonomi tanpa mengorbankan kelancaran aliran darah ke seluruh tubuh masyarakat. Oleh karena itu, meskipun Purbaya Yudi Sadewa tampak berupaya memberikan angin segar bagi perbaikan ekonomi Indonesia melalui kebijakan fiskal dan moneter, namun selama kerangka yang digunakan masih bersandar pada sistem ekonomi kapitalistik ribawi,maka bangsa ini tidak akan benar-benar lepas dari siklus krisis. Upaya perbaikan tersebut hanya akan menjadi penundaan terhadap krisis berikutnya, bukan penyembuhan mendasar atau penyakit sistemik ekonomi itu sendiri. Hal ini menegaskan bahwa sistem buatan manusia itu lemah dan memiliki keterbatasan, karena tidak menjalankan sistem yang berlandaskan wahyu. Wallahu a’lam bishawab Bandung, 10 November 2025 M / 19 Jumadil Ula1446 H HM Ali Moeslim  Foto istimewa Editor : Thamrin Humris

Read More

Presiden Prabowo Resmi Luncurkan Program Digitalisasi Pembelajaran Hingga Daerah 3T

Interaktive Flat Panel (Papan Interaktif Digital/PID) diharapkan tersebar luas menjangkau seluruh wilayah Indonesia Bekasi – 1miliarsantri.net: Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto secara resmi meluncurkan Program Digitalisasi Pembelajaran untuk Indonesia Cerdas. Peresmian tersebut berlangsung dalam sebuah acara yang digelar terpusat di SMP Negeri 4 Kota Bekasi, Senin, 17 November 2025. Pada kesempatan tersebut, Presiden Prabowo melakukan dialog secara virtual dengan para guru dan siswa-siswi dari berbagai daerah untuk meninjau pemanfaatan perangkat papan interaktif digital (PID) atau Interactive Flat Panel (IFP) dalam proses pembelajaran di sekolah yang digelar di SMPN 4 Kota Bekasi. Presiden menegaskan, teknologi tersebut telah mendorong perubahan signifikan dalam cara siswa memahami materi. Diapun mengingatkan pentingnya menjaga fasilitas pembelajaran yang telah diberikan kepada sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. Panel Interaktif Digital Sangat Membantu Proses Belajar Mengajar Dalam kesempatan yang sama, seorang guru perwakilan SMA Negeri 2 Binjai, Sumatra Utara, menyampaikan bahwa panel interaktif digital sangat membantu guru dan siswa mengakses berbagai bahan ajar secara lebih luas dan interaktif. Mengutip laman resmi presidenri.go.id, perwakilan guru dari SMA Negeri 2 Binjai mengatakan “Kami sebagai guru dan juga peserta didik sangat terbantu dalam proses pembelajaran, di mana di dalam belajar kami bisa banyak mengakses berbagai bahan dan juga konten-konten yang membantu proses pembelajaran di Rumah Pendidikan, terutama di Ruang Murid, jadi anak-anak bisa belajar dari lab maya.” Siswa Makin Antusias PID menghadirkan pembelajaran yang jauh lebih menyenangkan dan membuat murid lebih aktif dalam memahami materi, hal tersebut disampaikan oleh perwakilan guru dari SMPN 2 Bangkalan. “Harapan kami ke depan, kami bisa lebih memaksimalkan lagi Papan Interaktif Digital ini, sehingga bisa membentuk generasi yang berkemajuan,” ujar perwakilan guru dari SMPN 2 Bangkalan. Perwakilan guru SDN 01 Benoa di Bali juga mengungkapkan bagaimana siswa makin antusias melalui gim edukasi yang tersedia di Rumah Pendidikan. Dia berharap, perangkat ini terus mendorong peningkatan capaian belajar di sekolah. “Anak-anak sangat antusias sekali, bersemangat dan makin interaktif belajarnya Bapak. Harapan saya dengan adanya papan interaktif digital ini dapat membantu ketercapaian pembelajaran siswa. Terima kasih Bapak,” katanya. Perluasan PID Ke Seluruh Sekolah Di Indonesia Presiden sangat senang dengan manfaat yang dirasakan oleh guru maupun murid-murid, menurutnya teknologi tersebut telah mendorong perubahan signifikan dalam cara siswa memahami materi.  Presiden Prabowo turut menyampaikan apresiasi dan menegaskan komitmen pemerintah untuk memperluas penggunaan PID ke seluruh sekolah di Indonesia. Presiden juga menyebut rencana penambahan konten edukasi dan pemanfaatan perangkat tersebut sebagai siaran pendidikan jarak jauh. “Saya senang bahwa ini dirasakan manfaatnya. Murid-murid lebih semangat, lebih cepat bisa menangkap pelajaran. Saya hanya titip harus dijaga, dirawat, jangan sampai rusak karena ini juga milik murid-murid, milik rakyat semuanya. Kita berkepentingan bahwa ini bisa dijaga,” tutur Presiden Prabowo. “Syukur, terima kasih, bermanfaat, tolong dijaga. Dan kita akan berupaya terus supaya lebih banyak lagi konten, lebih banyak lagi bahan yang bisa dikirim. Nanti juga bisa ada siaran pendidikan dari jarak jauh,” Pungkas Presiden.*** Penulis : Thamrin Humris Editor : Thamrin Humris Sumber : presidenri.go.id Foto : presidenri.go.id

Read More

Unit K9 Bersama Tim Gabungan Masih Terus Berjuang Temukan 13 Warga Korban Longsor Cilacap

Cilacap – 1miliarsantri.net: Hingga hari ini Tim Gabungan yang terdiri dari Polresta Cilacap, Polda Jawa Tengah, Basarnas, TNI, BPBD, serta relawan yang dibantu Unit K9, masih melakukan pencarian terhadap korban tanah longsor di desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap. Media Hub Polri melaporkan, bergabungnya Unit K9 yang beranggotakan 8 (delapan) ekor anjing pelacak hingga 15/11/2025 berhasil menemukan 10 korban tewas akibat longsor di Desa Cibeunying. Hingga saat ini masih tersisa 13 korban yang belum ditemukan. Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Pol Artanto, menyampaikan apresiasinya atas kerja keras seluruh unsur SAR gabungan yang bekerja tanpa henti sejak kejadian. Ia menyebut bahwa kemampuan anjing pelacak dari Unit K9 yang diterjunkan di lokasi terbukti memainkan peran penting dalam mempercepat temuan lokasi korban. Segenap Tim Redaksi 1miliarsantri.net mengucapkan turut berbelasungkawa atas meninggalnya sejumlah warga Desa Cibeunying, Kec. Majenang, Kab. Cilacap yang menjadi korban tanah longsor.*** Penulis : Thamrin Humris Editor : Thamrin Humris Sumber : Media Hub Polri Foto : Media Hub Polri dan Antara

Read More

Polri Gelar Operasi Zebra 2025: Mulai Hari ini Pengendara Wajib Waspadai Pelanggaran Berikut…

Korlantas Polri Gelar Operasi Zebra 2025 Mulai 17 hingga 30 November 2025, Perhatikan Pelanggaran Yang Disasar Mulai Senin. Jakarta – 1miliarsantri.net: Pengendara kendaraan bermotor wajib mempersiapkan diri menghadapi gelaran Operasi Zebra 2025 yang akan digelar oleh Korlantas Polri mulai hari ini, Senin 17 November 2025, jangan sampai sahabat 1miliarsantri.net melakukan pelanggaran yang berujung kena tilang. Operasi Zebra 2025 bertujuan untuk menekan angka pelanggaran dan kecelakaan sekaligus meningkatkan disiplin berlalu lintas menjelang masa libur panjang Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Operasi ini menjadi tahapan awal untuk menyiapkan kondisi tertib di jalan raya, sekaligus mengedukasi masyarakat agar disiplin berlalu lintas menjelang libur panjang Nataru. Operasi Zebra Di Seluruh Wilayah Indonesia Mengutip Divisi Humas Polri, Operasi ini menjadi langkah strategis untuk menciptakan kondisi lalu lintas yang aman, tertib, dan lancar menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Kesiapan itu disampaikan Kabagops Korlantas Polri Kombes Pol Aries Syahbudin dalam Rapat Evaluasi Pelaksanaan Tugas Bidang Regident & Rakernis Gakkum T.A. 2025 yang digelar di Hotel Aryaduta, Bandung, bebrapa waktu yang lalu. Dalam paparannya, Kombes Pol Aries menjelaskan bahwa Operasi Zebra menjadi bagian penting untuk mempersiapkan Operasi Lilin, dengan fokus pada manusia, kendaraan, serta sarana dan prasarana jalan. “Operasi Zebra bukan semata penegakan hukum, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat agar tertib dan selamat di jalan raya,” ujar Aries. SASARAN UTAMA OPERASI ZEBRA Kombes Pol Aries menjelaskan, Operasi Zebra 2025 diarahkan melalui tiga sasaran utama: Mempersiapkan Operasi Lilin, berdasarkan hasil analisis Kamseltibcarlantas tiga bulan terakhir, dan menanggapi fenomena yang berkembang di masyarakat, termasuk penertiban balap liar yang kini jadi perhatian khusus. Pelanggaran yang menjadi fokus adalah: Kendaraan tidak memenuhi persyaratan teknis laik jalan, Pengendara yang tidak menggunakan sabuk keselamatan, Pengendara yang tidak memakai helm SNI, Menggunakan ponsel saat berkendara, Melanggar rambu atau marka jalan, Melanggar lampu Apill, Pelanggaran tata cara pemuatan angkutan barang dan Balapan liar. Korlantas Polri menegaskan fokus utama pelaksanaan Operasi Zebra 2025 adalah peningkatan keselamatan seluruh pengguna jalan, khususnya pejalan kaki. Operasi Zebra 2025 digelar di seluruh Indonesia mulai hari ini Senin 17 November hingga 30 November 2025.*** Penulis : Thamrin Humris Editor : Thamrin Humris Sumber : Korlantas Polri Foto : ilustrasi copilot

Read More

Pohon Kamper Disebut Dalam Al-Qur’an, Ternyata Tumbuh Subur Di Indonesia

Bekasi – 1miliarsantri.net: Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa Al-Qur’an yang diturunkan di Jazirah Arab ternyata menyebut tentang “kamper” atau kāfūr, sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Insan ayat 5, Allah berfirman: اِنَّ الْاَبْرَارَ يَشْرَبُوْنَ مِنْ كَأْسٍ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُوْرًاۚ “Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan akan minum dari gelas yang campurannya adalah kāfūr.” (QS. Al-Insan: 5) Dalam tafsir, kafur digambarkan sebagai minuman surga yang sejuk dan harum. Namun yang menarik, pohon kamper—sumber kapur barus alami—justru tumbuh subur di Nusantara, bukan di tanah Arab. Kamper (kāfūr) Dari Ayat ke Fakta Disebutkan dalam Al-Qur;an, namun di Arab Saudi tidak ada pohon kamper, sementara di Indonesia “Pohon Kamper” dengan nama latin “Dryobalanops aromatica” tumbuh menjulang tinggi hingga 60 meter. Pohon ini menghasilkan kapur barus yang sejak ribuan tahun lalu jadi komoditas dagang. Sejarah perdagangan membuktikan bangsa Arab dan Persia berlayar jauh ke Sumatera dan Kalimantan untuk mencari kapur barus, menjadikannya salah satu rempah paling berharga di jalur perdagangan internasional. Hikmah Di Balik Ayat Tentang Kamper Universalitas Wahyu – Al-Qur’an menyebut tanaman yang tidak tumbuh di Arab, menegaskan pesan wahyu berlaku lintas geografi. Simbol Kesucian – Kamper dipakai dalam pemulasaraan jenazah karena aromanya yang suci dan menenangkan, selaras dengan gambaran minuman surga. Jejak Peradaban – Penyebutan kamper mengingatkan pada hubungan dagang kuno antara Timur Tengah dan Nusantara. Pesan Ekologi – Kini pohon kamper terancam punah. Ayat ini bisa dibaca sebagai pengingat untuk menjaga kelestarian alam. Barus atau kapur barus (Dryobalanops aromatica), biasa juga disebut kamper sumatra, kamper melayu, atau kamper borneo, adalah spesies tumbuhan yang sudah mulai langka yang termasuk dalam famili Dipterocarpaceae. Nama spesies aromatica diambil dari bahasa Latin: aromaticus yang berarti seperti rempah-rempah, dan mengacu pada bau damar (resin).  Pohon kamper adalah contoh nyata bagaimana ayat Al-Qur’an menyentuh realitas lintas budaya. Ia bukan sekadar tumbuhan tropis, melainkan simbol spiritual, sejarah perdagangan, dan pesan ekologis yang relevan hingga kini. Yuk ikuti terus rubrik khazanah dan bangkitkan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan hidup.*** Penulis : Thamrin Humris Editor : Thamrin Humris Sumber dan Foto : bing.com, wikipedia

Read More

FIFA Puskas Award 2025 Lahirkan Kejutan, Ada Rizky Ridho-Pemain Indonesia Pertama Masuk Nominasi

11 Pemain Dunia Resmi Masuk Nominasi Tahun 2025, Termasuk Pemain Indonesia Rizky Ridho yang bersaing dengan bintang dunia seperti Lamine Yamal (Barcelona) & Declan Rice (Arsenal) Zurich, Swiss – 1miliarsantri.net: Puskas Award adalah penghargaan FIFA untuk gol terindah yang pertama kali diberikan pada 2009 untuk menghormati legenda Hungaria, Ferenc Puskás. Tahun 2025 kembali menominasikan 11 pesepa bola dari berbagai negara. 11 Pemain masuk nominasi Puskas Award 2025, mengejutkan, ada Rizky Ridho yang bersaing dengan bintang dunia seperti Lamine Yamal (Barcelona) dan Declan Rice (Arsenal). Rizky Ridho, pemain bertahan Persija Jakarta / Timnas Indonesia masuk nominasi karena gol jarak jauhnya ke gawang Arema FC pada Maret 2025 lalu. Dia menjadi pemain pertama Indonesia dan pemain ASEAN ke-2 yang masuk nominasi. 11 Nominator Puskas Award 2025 Penghargaan ini dinamai sesuai nama striker legendaris Hungaria, Ferenc Puskás, yang terkenal karena gol-gol individu yang spektakuler. Penghargaan ini merayakan gol-gol paling spektakuler selama periode kualifikasi, yang berlangsung dari 11 Agustus 2024 hingga 2 Agustus 2025. Berikut 11 nama pemain sepak bola dunia lintas negara dengan gol-gol individu spektakuler yang masuk sebagai nominator Puskas Award 2025 mengutip FIFA : Proses Gol Rizky Ridho Rizky Ridho mencetak gol yang masuk nominasi Puskas Award saat Persija bertandang ke masrkas Arema FC, pada 9 Maret 2025. Berawal di menit ke-61 dan detik ke-33, kapten Persija Jakarta, Rizky Ridho, berada di dekat bendera sudut timnya. Sepuluh detik kemudian, bek tengah tersebut membuka skor setelah pertukaran umpan yang rapi, dia berlari cepat ke setengah lapangan area lawan. Ridho memutuskan menembak dari jarak jauh (tengah lapangan di sisi kanan area permainan Arema FC). Tendangan jarak jauh yang berani, melambung tinggi di atas kiper dan melengkung dan menghujam tepat di bawah mistar gawang, sementara sang penjaga gawang hanya terdiam dan mati langkah tanpa mampu menjangkau bola sepakan punggawa Timnas Indonesia.*** Penulis : Thamrin Humris Editor : Thamrin Humris Sumber : FIFA Foto : FIFA

Read More