Hijab Skena: Modest Fashion yang Digemari GenZ
Di sisi lain, geliat bisnis ini juga melahirkan berbagai brand lokal baru yang fokus pada produksi hijab estetik ramah kantong. Mereka tak hanya menjual produk, tapi juga membangun narasi melalui tagline yang menyuarakan kepercayaan diri, empowerment, dan cinta diri. Inilah yang menjadikan hijab skena tidak semata-mata fesyen, tetapi juga gerakan sosial yang mendukung semangat kewirausahaan dan pemberdayaan perempuan muda.
Tren hijab dan literasi agama
Dalam konteks pendidikan, tren hijab skena juga menyentuh dunia literasi agama. Survei yang dilakukan oleh Cakrawala Institute pada 2022 mencatat bahwa 54% muslimah Gen Z merasa tidak cukup mendapatkan literasi keislaman yang kontekstual di lingkungan formal.
Hal ini mendorong komunitas hijab untuk mengadakan kelas tafsir, diskusi tentang nilai-nilai hijrah, serta pembelajaran tentang adab berpakaian secara interaktif. Semua dikemas dalam forum yang ringan dan ramah, dengan pendekatan non-doktrinal.
Kegiatan ini juga disertai dengan kampanye tentang kesehatan mental, self-care, dan relasi tubuh, menandakan bahwa Gen Z tidak hanya fokus pada penampilan luar, tetapi juga memperhatikan keseimbangan batin. Mereka belajar memahami bahwa berhijab bukan semata simbol kesalehan, tetapi pilihan sadar yang dilandasi refleksi diri dan nilai spiritual yang personal.
Namun, fenomena hijab skena juga tidak lepas dari kritik. Sebagian kalangan menilai bahwa gaya ini berisiko menggeser esensi hijab menjadi sekadar tren atau gaya hidup konsumtif. Isu lain seperti adanya tekanan sosial terhadap bentuk tubuh dan warna kulit juga muncul, terutama saat konten hijab estetik terlalu distandarisasi pada satu tipe penampilan.

Meskipun begitu, Gen Z memiliki kesadaran kritis yang cukup tinggi untuk mengelola dinamika tersebut, termasuk membentuk wacana tandingan lewat media sosial tentang “hijab no filter” atau “hijab for all body types.”
Ke depan, tren hijab skena diprediksi akan terus berkembang seiring laju digitalisasi dan kesadaran individu dalam membentuk identitas religius yang kontekstual. Gaya ini tidak lagi dimaknai sebagai dikotomi antara religius atau tidak, tetapi sebagai spektrum pemaknaan yang luas, inklusif, dan penuh warna.
Dengan dorongan komunitas, kreativitas digital, dan kesadaran spiritual yang terus berkembang, hijab di kalangan Gen Z bertransformasi menjadi simbol kekuatan narasi baru. Narasi yang menempatkan perempuan muslimah muda sebagai agen perubahan, baik di ranah sosial, ekonomi, maupun budaya. Bukan sekadar menutupi kepala, tetapi juga membuka jalan bagi ekspresi yang otentik, sadar, dan bermakna.
Kontributor : Saputra
Editor : Toto Budiman
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


