Sukses Event Pertama, Bengkel Hijrah Iklim 2.0 akan Digelar Awal Desember 2023 di Salatiga
Ia pun menceritakan salah satu cara untuk menyampaikan gagasannya adalah dengan cara melalui pendekatan emosional.
“Karena jika lingkungan di masa depan ini rusak maka yang paling merasakan adalah anak muda,” kata Lida.
Sementara itu, alumni BHI 1.0 yang lain, Koordinator Program di Serikat Perempuan Kinasih & Salawaktu Movement, Aniati Tokomadoran, menceritakan pengalamannya melakukan advokasi iklim di kalangan pesantren dan masyarakat pedesaan. Ia juga mengungkapkan bahwa memunculkan kesadaran di kalangan tersebut juga tak kalah sulitnya.
“Dalam beberapa kesempatan mereka tidak menyadari bahwa apa yang mereka lakukan sudah merupakan bagian dari mitigasi iklim. Dari situ saya jadi menyadari bahwa isu krisis iklim ini terlihat eksklusif dan memakai bahasa yang terlalu tinggi, sehingga sulit diterima oleh masyarakat desa,” kata perempuan yang akrab dipanggil Ani tersebut.
Peneliti Departemen Sosiologi dan Pusat Kajian Kepemudaan Fisipol UGM, Ragil Wibawanto, menyampaikan memang terdapat sejumlah tantangan dalam melakukan sosialisasi perubahan iklim di antaranya adalah sulitnya melibatkan generasi yang lebih senior mengingat mereka memiliki cara pandang tersendiri yang sangat berbeda dari generasi muda yang berusia di bawahnya.
“Oleh karena itu keluarga saya kira menjadi lembaga sosial yang penting dalam isu ini,” kata Ragil.
Selain itu, Ragil memaparkan bagaimana pengenalan isu lingkungan di ranah pendidikan masih dalam tahap sosialisasi. Sedangkan implementasi program dari pemerintah masih jauh dari kondisi ideal.
“Masih terdapat gap dalam pengenalan isu lingkungan di ranah pendidikan yang perlu dikontekstualisasikan,” pungkas alumnus Australian National University (ANU) Australia itu. (yus)
Baca juga :
- Gempa Bumi M5.2 Kembali Mengguncang Pulau Flores dan Sekitarnya
- Peluang Emas! Pendaftaran Beasiswa Santri BAZNAS 2026 Resmi Dibuka, Kuota 2.500 Orang
- RESPALDA Al Huda Rawasapi Bawa Pulang Dua Prestasi dari LKBB PION XV SMAN 5 Bekasi
- Update Gempa Susulan Flores M7,7: Tembus 10.232 Kejadian, Pola Mulai Menurun
- Banjarnegara Diguncang Gempa Darat M2.5, Tidak Berpotensi Taunami
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


