Rabu Wekasan: Hari Sial atau Tradisi Islam Nusantara?

Dengarkan Artikel Ini

Beberapa sumber klasik seperti Tarikh at-Tabari dan Sirah Ibnu Ishaq mencatat bahwa perjalanan-perjalanan militer Nabi dan para sahabat banyak dilakukan di bulan ini, sehingga masyarakat kala itu mengasosiasikan Safar sebagai bulan “bergeraknya bala tentara” atau “masa ujian”.

Di sisi lain, dalam literatur sufi dan tasawuf, bulan Safar dipahami secara simbolis sebagai periode “pembongkaran” atau pembersihan jiwa dari sifat buruk.

Beberapa tarekat menyebut Safar sebagai momentum untuk muhasabah dan memperbanyak zikir tolak bala. Tradisi ini berkembang pesat di kawasan Asia Selatan dan kemudian ikut memengaruhi budaya Islam di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Dengan latar belakang historis dan kultural seperti ini, tak heran jika masyarakat Muslim Jawa kemudian mengembangkan interpretasi lokal terhadap bulan Safar.

Mereka memadukan nilai-nilai Islam dengan budaya lokal, dan menjadikan Rabu terakhir bulan ini (Rabu Wekasan) sebagai waktu yang penting untuk berdoa, sedekah, dan memohon perlindungan dari segala bala.

Rabu wekasan, Antara Keyakinan dan Kekhawatiran

Sebagian masyarakat meyakini Rabu Wekasan sebagai hari yang penuh risiko. Pandangan ini biasanya didasarkan pada cerita turun-temurun yakni musibah besar kerap datang di bulan Safar. Karena itu, doa bersama, sedekah, dan pembacaan surat Yasin atau shalawat dilakukan sebagai bentuk ikhtiar menolak bala.

Di sejumlah daerah Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga Madura, Rabu Wekasan dirayakan layaknya perayaan kecil, masyarakat berkumpul di masjid atau mushala, membaca doa khusus, lalu menutupnya dengan makan bersama.


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca