Napak Tilas Pesantren Cokrokertopati Takeran Magetan Dalam Memberantas Komunis

Dengarkan Artikel Ini

Dalam perkembangan nya, Pondok Pesantren (Ponpes) Salafiyah Cokrokertopati juga menangani penyantunan anak yatim piatu dan mengalami kemajuan yang cukup signifikan, sehingga dibuka lah madrasah diniyah salafiyah. Hal tersebut terbukti dengan meningkatnya animo masyarakat yang menitipkan putra putrinya untuk belajar memahami kitab-kitab kuno atau disebut dengan kitab kuning di Pondok Pesantren Salafiyah Cokrokertopati Takeran Magetan Jawa Timur.

“Pondok ini dulunya memiliki sejarah yang sangat luar biasa, dimana embrio pencetusan Pancasila pertama itu lahirnya disini, Perjanjian Linggar Jakarta juga dicetuskan di pondok sini, dan juga lahirnya Masyumi pada saat itu juga berawal dari sini. Sehingga tahun 1948 menjadi incaran PKI dan 13 Kiai serta Ustad menjadi korban keganasan dan kebiadaban Partai Komunis Indonesia (PKI),” lanjutnya.

PKI yang pada saat itu mencari Mbah Kiai Imam Mursyid Muttaqien, dengan alasan hendak diajak bermusyawarah dikarenakan kondisi negara sedang gawat, dan mencari solusi kestabilan pangan untuk rakyat serta bagaimana mengatasi konflik yang saat itu terjadi.

Dikarenakan untuk kepentingan rakyat, terutama umat, maka Mbah Kyai Imam Mursyid berangkat bersama rombongan yang mengatasnamakan anak organisasi NU tersebut.

“Jadi PKI pada saat itu menculik para Kiai dengan memakai dalil Qur’an dan mengatasnamakan kepentingan umat, tapi sebetulnya mereka berbohong. Para Kiai diculik kemudian dibawa ke beberapa tempat, lalu dibantai dan dibunuh,” terang Mbah Zuhdi.

Untuk mengenang kebiadaban dan keganasan PKI yang terjadi di wilayah Madiun tahun 1948, setiap tanggal 30 September dilakukan tahlil Qubro yang diikuti seluruh santri dan jamaah Ponpes Cokrokertopati, dilanjutkan dengan Orasi dan pemutaran film G 30/PKI yang sempat dilarang oleh Pemerintah.

“Itu sejarah dan tidak boleh dilupakan. Kekejaman, kebiadaban PKI yang mengorbankan 13 Kiai Madiun dan Magetan itu wajib kita kenang supaya anak cucu kita juga lebih berhati-hati terhadap PKI yang sampai saat ini masih menghantui dan masih ada di Indonesia, PKI harus dibasmi dan dihilangkan agar Indonesia benar-benar menjadi negara yang berdaulat, adil dan makmur berdasarkan Pancasila,” tutup Mbah Kiai Zuhdi. (fq)


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca