Mahasiswa Indonesia yang Jadi Penerjemah Khutbah Jumat di Masjid Nabawi

Dengarkan Artikel Ini

Saat menerjemahkan khutbah, Dzakwan berada di salah satu ruangan di dekat pintu 9 Masjid Nabawi yang dipakai sebagai ruang translator. Ruangan lantai pertama untuk Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Hausa, Bahasa Mandarin, dan Bahasa Persia. Sedangkan ruangan di lantai dua untuk Bahasa Urdu, Bahasa Prancis, Bahasa Turki, Bahasa Bangali, dan Bahasa Rusia.

“Setiap ruangan berukuran 15×15 meter. Di dalam ruangan itu dibuat kubikel seperti ruangan kerja redaksi di sebuah media massa,” papar pria asal Karanganyar, Jawa Tengah ini.

Masing-masing penerjemah mendapat satu bagian kubikel. Biasanya, kata dia, para penerjemah sudah mendapat naskah khutbah satu hari sebelumnya atau pada Kamis.

Mereka lalu membuat naskah versi terjemahan. Namun sering pula mereka mendapatkan salinan revisi khutbah Jumat beberapa jam sebelum Sholat Jumat berlangsung.

Di Masjid Nabawi ada 10 khatib tetap yang sekaligus menjadi imam sholat fardhu. Khatib Jumat di Masjid Nabawi memang selalu membawa teks, tetapi disebut Dzakwan, terkadang ada improvisasi dari khatib.

“Jadi yang disampaikan tidak ada di naskah. Ada yang puitis juga,” sambungnya.

Saat bertugas, Dzakwan menggunakan laptop dan mikrofon serta memakai headset. Laptop, kata mahasiswa yang sudah 7 tahun tinggal di Madinah itu, dipakai untuk mencari ayat yang kadang-kadang tidak ada dalam teks tapi dibaca oleh khatib.


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca