Lebih dari Sekadar Tradisi! Sejarah Makan Bubur Asyura Ternyata Penuh Makna
Di Kalimantan, makan bubur Asyura dilakukan dalam nuansa kekeluargaan yang sangat kental. Biasanya, keluarga besar berkumpul dan memasak bubur secara bergotong royong. Setelah matang, bubur dimakan bersama sambil memanjatkan doa-doa dan harapan untuk tahun yang lebih baik.
3. Aceh
Di Aceh, makan bubur Asyura tidak hanya menjadi kegiatan kuliner, tetapi juga menjadi ajang silaturahmi. Warga berkumpul di meunasah (surau) atau masjid untuk memasak dan membagikan bubur kepada masyarakat. Tradisi ini tetap dilestarikan dari generasi ke generasi sebagai bentuk pelestarian nilai budaya dan ajaran Islam.
Makan bubur Asyura bukan sekadar kebiasaan turun-temurun yang dilakukan setiap 10 Muharram. Lebih dari itu, tradisi ini merupakan pengingat akan sejarah perjuangan Nabi Nuh AS, simbol rasa syukur atas nikmat Allah, dan wujud kepedulian sosial dalam bingkai kebersamaan.
Di tengah modernitas yang semakin mengikis nilai-nilai tradisional, menjaga dan meneruskan tradisi makan bubur Asyura menjadi sangat penting. Karena dari satu mangkuk bubur, kita bisa merasakan hangatnya kebersamaan, nikmatnya berbagi, dan indahnya hidup dalam keberagaman.
Penulis : Ainun Maghfiroh
Editor : Toto Budiman
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

