Keberadaan Santri Kalong di Tasikmalaya Sudah Mulai Terkikis

Dengarkan Artikel Ini

Tasikmalaya — 1miliarsantri.net : Keberadaan santri kalong di berbagai pondok pesantren wilayah Tasikmalaya mulai memudar. Namun, bukan berarti keberadaan santri kalong, terutama di wilayah Tasikmalaya sudah benar-benar menghilang.

Ketua Forum Pondok Pesantren (FPP) Kabupaten Tasikmalaya KH Anwar Nashori mengatakan santri kalong itu merupakan anak-anak di sekitar lingkungan pesantren yang mengikuti kegiatan mengaji. Namun, tak seperti santri mukim yang mondok di pesantren, santri kalong biasanya makan dan tidur di rumahnya masing-masing setelah kegiatan mengaji selesai.

Menurut dia, keberadaan santri kalong di pondok pesantren wilayah Kabupaten Tasikmalaya masih cukup banyak. Hanya saja, pola para santri kalong itu untuk mengikuti kegiatan mengaji mulai berubah.

“Kalau dulu, santri kalong itu mengaji setiap waktu, tapi makan dan tidur di rumah. Seperti itu mungkin sudah jarang. Karena sekarang ada sekolah, jadi memang tergerus karena sistem pendidikan. Namun, masih tetap ada secara presentase, jadi ngajinya setelah sekolah, paling maghrib-isya,” kata dia saat dihubungi 1miliarsantri.net, Rabu (20/09/2023).

Kiai Anwar mencontohkan, di pondok pesantren yang dipimpinnya di wilayah Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya, keberadaan santri kalong masih ada. Para santri kalong itu biasanya akan ikut mengaji di lingkungan pondok pesantren setelah sholat magrib hingga isya bersama santri mukim lainnya.

Ia menilai, keberadaan santri kalong itu juga masih banyak ditemui di pondok pesantren salafiyah dan pesantren kombinasi. Hanya saja, pihak pesantren tidak terlalu mengurus secara intens para santri kalong.

“Jadi hanya mengaji saja. Santri kalong itu masuknya pendidikan nonformal. Tidak ada ijazahnya. Jadi seperti madrasah sepulang sekolah,” sambungnya.

Menurut Kiai Anwar, keberadaan santri kalong itu juga bisa menjadi parameter keterkaitan masyarakat dengan pondok pesantren. Ia menilai, ketika di pesantren itu masih banyak santri kalong, artinya ikatan pesantren dengan masyarakat cukup kuat.

Namun, apabila keberadaan santri kalong mulai tergerus, kemungkinan ada jarak antara pesantren dengan lingkungan masyarakat di sekitarnya.

“Bukan berarti bermusuhan, tapi seperti ada jarak. Sebab, kekuatan pesantren itu awalnya dari masyarakat. Berbaur. Santri kalong itu salah satu parameternya,” kata dia.

Perwakilan Hubungan Masyarakat (Humas) Pesantren Idrisiyyah, Sandra Yusuf, di pesantrennya keberadaan santri kalong sudah mulai tergerus sejak 10 tahun terakhir. Saat ini, khusus untuk tingkatan SMP ke atas, seluruh santri di Pesantren Idrisiyyah diharuskan untuk mondok.

“Sebelumnya masih ada yang ngalong. Datang ke pesantren hanya saat jadwal mengaji. Kalau sekarang masih ada, tapi hanya di tingkat SD,” terangnya kepada 1miliarsantri.net.

Menurut dia, santri kalong itu biasanya akan belajar mengaji di lingkungan pesantren setelah pulang sekolah di luar pesantren. Para santri kalong itu akan mengaji bersama santri mukim lainnya. Pengajian untuk santri kalong juga biasa dilakukan pada setelah magrib.

Sandra menjelaskan, santri kalong di pesantrennya itu hanya ada untuk tingkatan SD atau diniyah. Jumlahnya disebut bisa mencapai 150 orang.


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca