Istilah dan Gambaran Santri Pesantren

Dengarkan Artikel Ini

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Santri adalah seseorang yang menuntut Ilmu dan memperdalam agama Islam di pesantren, mereka juga menetap di pesantren hingga lulus atau menuntaskan pendidikan nya. Ciri seorang santri identik dengan hidup sederhana dan menerima apa adanya (qonaah) seperti makan, berpakaian, tempat tidur. Dengan pola sederhana Ini seorang santri diajarkan untuk tidak berlebih-lebihan dalam kenikmatan dunia. Seorang santri biasanya diajarkan untuk saling berbagi, bertoleransi, empati, berakhlak, dan Budi pekerti.

Tidak hanya itu saja, seorang santri juga diajarkan untuk belajar bersabar, terutama dalam bentuk mengantri, contoh nya seperti: antri mengambil makan, antri mandi, antri mengaji dan masih banyak lagi, dengan diajarkan nya mengantri kita dapat memahami bahwa semua hal itu harus di awali dengan proses dan kesabaran bukan secara instan.

Sedangkan istilah santri itu sendiri terdapat dua macam pembagian kategori :

  1. Santri kalong adalah santri yang di sekitar pesantren dan tidak menetap di dalam pesantren.
  2. Santri mukim: adalah santri yang merantau dan menetap di pesantren.

Bedasarkan pengertian diatas dapat kita simpulkan bahwa santri kalong itu hanya mengikuti pelajaran dan tidak menetap sedangkan santri mukim itu mengikuti pelajaran dan menetap. Mereka pulang ke rumah setahun dua kali atau setahun sekali bahkan ada beberapa pesantren yang menerapkan peraturan untuk pulang tiga tahun sekali.

Seorang santri yang menetap di pesantren tidak hanya mempelajari atau memperdalam ilmu agama saja, namun juga di didik untuk menaati dan menerapkan semua peraturan yang di buat oleh pesantren, biasanya peraturan yang di buat dari pesantren itu dimulai dari bangun tidur sampai tidur kembali.

Setiap orang yang menuntut ilmu itu pasti ada cobaan terkadang ada rasa malas bahkan terlintas dalam pikiran untuk menyerah, terlebih seseorang yang memutus kan untuk menghafal Al-Qur’an atau seseorang yang terpaksa menghafalkan Al-Qur’an karena orang tuanya.

Menghafal Al-Qur’an itu butuh perjuangan dan pengorbanan merelakan tidak tidur siang dan menunda tidur malam untuk menghafalkan Al-Qur’an. Dalam situasi ini lah seorang santri butuh semangat dan kekuatan yang tinggi untuk menghadapi itu semua dan menguatkan niat dalam hati untuk selalu bersabar dalam menghafal Al-Qur’an.

Keadaan ini lah seorang santri selalu mengingat (nyengkal moto jiret weteng) artinya : perbanyak lah tirakat tahan lah lapar( puasa) atau bisa di simpulkan bahwa menuju kesuksesan yang sesungguhnya itu harus di landasi ketekunan dan kesabaran dalam menuntut ilmu.

Menghafal kan Al Qur’an dan mempertahankan hafalan agar tidak hilang dari pikiran dan hidup kita menjadi lebih tenang, nyaman, dan tertata dalam menghadapi suatu hal.


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca