UAH : Misteri Hari Kiamat Adalah Rahasia dan Milik Allah

Jakarta – 1miliarsantri.net : Hari kiamat merupakan peristiwa kehancuran menyeluruh pada bumi dan alam semesta berikut semua isinya. Pada hari kiamat nanti, tak ada satupun planet yang tersisa, termasuk bumi. Semua mahluk hidup akan mati, termasuk para malaikat. Namun, tidak ada satupun mahluk yang tahu kapan hari kiamat akan terjadi. Allah SWT telah mengatur waktunya sedetail mungkin, mencangkup detik, menit, jam, hingga harinya, sampai momentum. Dalam bahasa Arab disebut sa’ah. اِنَّ اللّٰهَ عِنْدَهٗ عِلْمُ السَّاعَةِۚ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَۚ وَيَعْلَمُ مَا فِى الْاَرْحَامِۗ وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًاۗ وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌۢ بِاَيِّ اَرْضٍ تَمُوْتُۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ “Sesungguhnya hanya di sisi Allah ilmu tentang hari Kiamat; dan Dia yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal.” (QS Lukman: 34) Ustadz Adi Hidayat (UAH) menjelaskan, kata sa’ah yang disebutkan dalam ayat tersebut menunjukkan kesan waktu spesifik. Detail kapan terjadi hari kiamat hanya diketahui oleh Allah SWT. “Jadi yang pertama Allah ingin sampaikan bahwa hak prerogatif Allah yang tidak diturunkan kepada mahluk manapun pengetahuannya, yang pertama kali tentang kiamat karena itu kalau Anda mendengarkan kiamat terjadi tanggal sekian, bulan sekian, tahun sekian langsung dapat ditepis,” ulas UAH, Rabu (21/6/2023). Rasulullah SAW saja tidak tahu kapan terjadi hari kiamat. Padahal, beliau adalah manusia yang paling dicintai oleh Allah SWT. Demikian pula Malaikat Jibril yang sama sekali tidak tahu kapan terjadi hari kiamat. “Jibril saja tidak tahu, jadi kalau ada yang mengatakan ‘hati-hati kiamat terjadi tanggal sekian’. Jibril saja tidak tahu, apalagi kamu,” ujar UAH.

Read More

Wukuf di Arofah Tanggal 27 Juni 2023

Makkah – 1miliarsantri.net : Puncak pelaksanaan ibadah haji 1444 H / 2023 M sudah semakin dekat. Rangkaian masyair ini akan dimulai dengan dilakukan nya Wukuf di Arafah pada tanggal 9 Zulhijah 1444 H. Kepala Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Daerah Kerja (Daker) Makkah, Khalilurrahman mengatakan, Pemerintah Saudi telah memutuskan bahwa pelaksanaan wukuf di Arafah 9 Zulhijah 1444 H bertepatan pada Selasa, 27 Juni 2023. “Berdasarkan sidang isbat Pemerintah Arab Saudi, maka diputuskan bahwa wukuf di Arofah dilakukan tanggal 9 Zulhijah, atau bertepatan dengan tanggal 27 Juni 2023. Informasinya sudah dipublish hari ini,” tuturnya kepada tim Media Center Haji (MCH) PPIH Arab Saudi, Senin malam (19/6/2023). Mengingat pelaksanaan puncak haji yang tinggal sepekan lagi, Khalilurrahman mengimbau para jamaah untuk senantiasa menjaga kesehatan dan fisiknya. Para jamaah nantinya akan mulai digeser dari pemondokan di Makkah menuju tenda-tenda di Arafah pada 8 Zulhijah 1444 H atau Senin, 26 Juni 2023. “Mengingat puncak haji tahun ini musim kemarau di mana cuaca di Arafah kemudian di Makkah itu mencapai 45 derajat Celsius, maka imbauannya yang terpenting pertama adalah jamaah wajib konsumsi minuman yang cukup, makanan bergizi yang cukup, dan beristirahat,” katanya. Jamaah diminta tidak banyak beraktivitas keluar ruangan terutama sejak H-5 pelaksanaan puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Jamaah juga diimbau tidak memaksakan diri menjalankan ibadah-ibadah sunnah di Masjidil Haram yang kondisinya sudah semakin sesak. “Jangan banyak keluar, ketika nanti pada H-5 atau H-3 diharapkan jamaah haji benar-benar istirahat total dari aktivitas fisik yang berlebihan yang nanti bisa menghambat kondisi (kesehatan dan fisik) jamaah haji,” tutur Kholilurrahman.

Read More

Beberapa Langkah Tazkiyatun Nafs Yang Bisa Dilakukan Setiap Muslim

Surabaya – 1miliarsantri.net : Sebagai manusia yang tidak luput dari dosa dan noda, umat Islam harusnya selalu berusaha untuk membersihkan diri secara lahir dan batin. Menghilangkan segala bentuk yang bisa menggugurkan pahala dan amaliah-amaliah lain nya. Inilah yang disebut tazkiyatun nafs. Tazkiyatun nafs terdiri dari dua kata, yakni tazkiyah dan nafs. Tazkiyah berasal dari kata zakka yang artinya penyucian, pembinaan, serta penumbuhan jiwa menuju kehidupan spiritual yang lebih tinggi. Dalam Ensiklopedi Islam, nafs (nafsu) dipahami sebagai organ rohani manusia yang memiliki pengaruh paling besar di antara anggota rohani lainnya. Organ ini mengeluarkan instruksi kepada anggota jasmani untuk melakukan suatu tindakan. Al-Ghazali menjelaskan bahwa tazkiyatun nafs merupakan pembersihan diri dari sifat kebuasan, kebinatangan, dan setan untuk kemudian mengisi dengan sifat-sifat terpuji. Untuk menyucikan jiwa, ada tiga fase yang mesti dilalui. Apa saja? TathahhurSaid Hawwa dalam Menyucikan Jiwa: Konsep Tazkiyaun Nafs Terpadu menerangkan bahwa tathahhur artinya mengangkat serta menyucikan jiwa dari beragam penyakit hati seperti kufur, nifak, kefasikan, kemusyrikan, riya, kedengkian, dan lain sebagainya. Pada tahap ini, penyucian jiwa diawali dengan taubat serta berjanji tidak akan mengulangi segala perbuatan yang bisa mengotori diri.

Read More

Doa Rasulullah SAW Agar Terbebas Dari Hutang

Yogyakarta – 1miliarsantri.net : Setiap orang pasti memiliki ujian hidup masing-masing, salah satunya ketika diberi ujian hidup memiliki hutang menumpuk. Namun sebagai insan yang beriman, kita diharuskan tetap ikhtiar untuk melunasinya. Selain itu, juga dianjurkan berdoa agar ujian hidup seperti utang ini segera bisa diselesaikan. Dikutip dari kitab ‘Bahjatun Nazhirin Syarhu Raiyadhush Shaalihiin’, karya Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, dijelaskan bahwa salah satu petunjuk berupa doa yang diajarkan dalam sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam ini, bisa menjadi solusi untuk masalah hidup tersebut. Dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya seorang sahaya mukatab (sahaya yang sedang membayar kemerdekaan dirinya dengan angsuran kepada tuannya) pernah datang kepada dia lalu berkata: “Sesungguhnya saya tidak mampu untuk membayar angsuran kemerdekaan saya. Karena itu, bantulah saya.” ‘Ali berkata: “Maukah kuajari beberapa kalimat yang telah diajarkan kepadaku oleh Rasulullah shallaahu ‘alayhi wa sallam? Andaikata kamu mempunyai utang sebesar gunung pun, pasti Allah melunasinya untukmu, maka, ucapkanlah:

Read More

Riyadho ala Pesantren Salafiyah Bihaaru Bahri ‘Asali Fadlaailir Rahmah Turen Malang

Malang – 1miliarsantri.net : Perjalanan hidup manusia sering kali mengalami jatuh bangun dan pelbagai cobaan yang datang silih berganti. Terkadang banyak diantara nya yang dengan sabar menghadapi semua ujian tersebut dengan selalu mendekatkan diri pada Allah SWT. Namun banyak juga diantara nya yang benar-benar tidak kuat menghadapi ujian tersebut dan akhirnya mengakhiri kehidupan dengan cara yang sangat tragis. Bagi sebagian orang mungkin sudah pernah mendengar atau bahkan datang langsung ke Pondok Pesantren (Ponpes) Salafiyah Bihaaru Bahri ‘Asali Fadlaailir Rahmah, yang awal nya viral dikatakan sebagai Masjid Tiban Turen atau Masjid yang dibangun oleh bangsa Jin. Pesantren yang dirintis oleh Romo KH. Ahmad Bahru Mafdlaluddin Shaleh Al Mahbub Rahmat ‘Alam pada tahun 1963 dan resmi menjadi Pondok Pesantren tahun 1978 ini mengajarkan ilmu kehidupan kepada para santri nya. Purwanto, salah satu murid Pesantren, sekaligus Sekretaris Pengurus Harian mengatakan, tujuan utama nya adalah sebagai sarana atau media untuk membersihkan hati dari berbagai macam penyakit hati agar seseorang lebih Iman dan Cinta kepada Tuhan Allah SWT, serta sebagai sarana atau media pendidikan dan pembelajaran. “Pondok diperuntukkan bagi semua ummat, tanpa membedakan agama dan keyakinan serta aliran, ras dan suku bangsa, serta perbedaan-perbedaan lain nya. Disini lebih banyak diajarkan nilai tasawuf nya,” terang nya kepada 1miliarsantri.net. Dia menambahkan, bangunan Pesantren ini terdiri dari 10 lantai, dimana masing-masing lantai mengandung arti dan menyerap seluruh permasalahan yang pernah terjadi atau yang pernah dialami oleh para santri. “Dulu Romo Kiai hanya memiliki 10 santri saja yang kesemuanya memiliki permasalahan yang berbeda-beda, kemudian beliau meminta kepada para santri itu untuk beli tikar sebagai alas untuk santri itu sendiri dalam menjalankan riyadho. Kemudian Romo Kiai menjabarkan permasalahan para santri tersebut kedalam bentuk bangunan yang ada di Pesantren,” terang Purwanto. Bisa dikata, dari masing-masing tempat di Pesantren yang memiliki luas 8 hektare ini memiliki filosofi dan arti tersendiri, diantara nya misalkan ada santri yang memiliki masalah mengenai rumah tangga, maka ditempatkan pada lokasi yang sudah di istikharahi Romo Kiai Ahmad.

Read More

Mengenali Sufi Nusantara Dalam Mengembangkan Kasusatraan

Yogyakarta – 1miliarsantri.net : Kebanyakan diantara kaum mistik justru turut memperkaya kebudayaan Islam. Mereka adalah orang-orang yang menjalani tradisi-tradisi tertentu untuk merasakan emosi mengenal Tuhan (makrifatullah). Dalam sejarah, praksis demikian disebut sebagai tasawuf. Orang-orang yang mengamalkannya dinamakan sebagai sufi, darwis, ‘urafa, atau salik. Namun, tasawuf dituding sebagai penyebab kemunduran peradabaan Islam, yakni usai masa keemasan. Menurut Prof Abdul Hadi WM dalam buku Cakrawala Budaya Islam, tuduhan demikian tidak berdasarkan argumentasi yang historis. Sebab, para sufi justru terbukti memberikan sumbangsih penting bagi peradaban Islam. Contoh nyatanya pada ranah kesusastraan. Betapa banyak sufi yang berpengaruh besar bagi perkembangan dunia sastra. Untuk sekadar menyebutkan beberapa nama, deretan sufi berikut ini tercatat sebagai figur sastrawan penting yang pengaruhnya terasa hingga kini: Mansur al-Hallaj, Ibn al-‘Arabi, Ibn Sina, Umar Khayyam, ‘Attar, Jalaluddin Rumi, Sa’adi, Hafizh, dan Hamzah Fansuri. Terkait Hamzah Fansuri, Abdul Hadi memandang, tokoh ini merupakan penyair sufi terbesar dari Nusantara. Penyair-sufi Aceh itu juga berperan, melalui karya-karyanya, sebagai peletak dasar standar bahasa Melayu—yang menjadi basis bahasa Indonesia. Kesusastraan Melayu turut dipengaruhi kebudayaan-kebudayaan luar, khususnya Arab dan Persia. Hamzah Fansuri, misalnya, pun terpengaruh pemikiran dan tulisan Fariduddin ‘Attar, seorang penyair Iran dari abad ke-13. Sebenarnya, bukan hanya Hamzah Fansuri. Banyak penulis Melayu klasik yang turut dipengaruhi Arab-Persia pada abad ke-16 hingga ke-17. Abdul Hadi memaparkan, perumpamaan burung yang dipakai syair-syair Melayu terinspirasi dari Mantiq al-Tayr karya ‘Attar. Demikian pula dengan penciptaan motif burung pada berbagai bentuk seni hias, semisal ukiran atau batik Nusantara. Juru dakwah Islam di Tanah Jawa pasca-Majapahit, Wali Sanga juga kerap memakai amsal burung untuk menyampaikan hikmah pencarian jati diri. Misalnya, Sunan Bonang yang melakukannya melalui pertunjukan wayang. Dalam wayang, ada gagasan bahwa manusia merupakan bayangan semata sehingga segala gerak-geriknya tergantung dan bersumber pada kehendak Sang Pencipta. Hal ini kiranya tak mengherankan, sebab Sunan Bonang sendiri pernah mempelajari karya-karya ahli tasawuf Persia ketika beliau berguru di Pasai. Dalam penulisan kitab keagamaan (sastra kitab) pengaruh Persia juga kelihatan. Risalah-risalah tasawuf Hamzah Fansuri, seperti Syarab al-Asyiqin, Asrar al-Arifin, dan Muntahi mengambil banyak rujukan dari teks-teks dan syair-syair tasawuf penulis Persia. Kitab fikih karangan ulama Aceh abad ke-17 M Nuruddin al-Raniri Sirat al-Mustaqim ditulis menggunakan sumber Syarh al-Aqa’id al-Nasfiyyah karangan ulama Persia Sa’d al-Mas’ud al-Taftazani. Pengaruh Persia juga kuat dalam penyusunan kitab perundangan-undangan, seperti Undang-Undang Malaka dan Undang-Undang adat Aceh. Sumber-sumber Persia memainkan peranan menonjol bagi sastra sufistik Melayu. Begitu pula pengaruhnya yang cukup mendalam terhadap kebudayaan Melayu atau kebudayaan Islam Nusantara. Abdul Hadi dalam Pengaruh Parsi Terhadap Sastra Sufistik Melayu Islam menjelaskan pengaruh Persia tampak dalam doa-doa, perbendaharaan kata, corak penulisan hikayat, puisi karya bercorak sejarah, adab, dan risalah kegaamaan yang lazim disebut kitab.

Read More

Siapakah Sebenarnya Samiri

Jakarta – 1miliarsantri.net : Samiri adalah pengikut Nabi Musa ‘Alaihissalam yang membangkang dan membuat patung anak lembu emas sehingga mendorong Bani Israel ke dalam penyembahan berhala. Pendapat bahwa Samiri adalah Dajjal, dipopulerkan oleh Muhammad Isa Dawud. Tetapi pendapat ini tidak memiliki landasan dari Qur’an maupun hadits. Kisah Samiri sendiri merupakan bagian dari sejarah Bani Israel, sehingga perincian kisahnya dapat merujuk ke Sumber Israiliyat. Namun Sumber Israiliyat harus dipilah, ada yang dapat diterima dan ada yang harus ditolak. Contoh yang harus ditolak adalah versi Sumber Israiliyat bahwa Nabi Harun ‘Alaihissalam yang membuat patung anak lembu emas. (Kitab Keluaran 32:2–5) Al Qur’an membantah versi tersebut, dan menyatakan bahwa Nabi Harun sudah meminta Bani Israel untuk mengikutinya, tidak menyembah patung anak lembu. Tetapi Bani Israel beralasan bahwa mereka menunggu kedatangan Nabi Musa untuk memutuskan perkara tersebut. (QS. Thaha: 90–91) Walau versi Sumber Israiliyat tentang pembuat patung anak lembu harus ditolak, namun ada keterangan dalam Sumber Israiliyat mengenai sosok Samiri, yaitu Zimri bin Salu. Kisah ini bermula saat Bani Israel hendak memasuki tanah Kanaan. Raja Balak dari Kerajaan Moab yang takut terhadap Bani Israel, kemudian meminta bantuan ulama dari Pethor, yaitu Balaam bin Beor. Raja Balak meminta Balaam untuk berdoa mengutuk Bani Israel, “Sebab aku tahu: siapa yang kauberkati, dia beroleh berkat, dan siapa yang kaukutuk, dia kena kutuk.” (Kitab Bilangan 22:6) Balak membawa Balaam ke puncak Gunung Pe’or sehingga dapat melihat Bani Israel di dataran di bawahnya. Tetapi Balaam malah mendoakan keberkatan untuk Bani Israel, dan menyampaikan ramalan akan kehancuran Moab dan musuh Bani Israel lainnya. (Kitab Bilangan 24:2–19) Namun demikian, Balaam memberi tahu Balak cara agar Bani Israel melakukan dosa, yaitu melalui godaan perempuan. (Kitab Bilangan 31:16) Ketika Bani Israel memasuki wilayah Moab, terjadilah perzinahan dengan perempuan Moab. Perempuan-perempuan itu lalu mengajak mereka kepada berhala Moab. (Kitab Bilangan 25:1–2) Salah satu Bani Israel yang berzina dengan perempuan Moab adalah Zimri (Samiri). Samiri berzina dengan Kozbi binti Zur, anak perempuan seorang kepala kaum di Moab. (Kitab Bilangan 25:14–15) Narasi kisah ini sesuai dengan hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ “Sesungguhnya fitnah yang pertama kali terjadi pada Bani Israel adalah karena wanita.”

Read More

Perbedaan Hari Raya Menurut Buya Hamka

Jakarta – 1miliarsantri.net : Perbedaan waktu ketika Hari Raya, terutama dalam penentuan Idul Fitri, tampaknya bukan hanya terjadi pada kurun waktu terakhir ini, namun sudah pernah terjadi dibeberapa tahun sebelumnya, seperti pada suatu hari di tahun 1975, Buya Hamka pernah ditanya soal perbedaan waktu Idul Adha di Indonesia dengan negara Arab Saudi? Buya Hamka menerangkan, ketika waktu itu Departemen Agama memutuskan Hari Raya Idul Adha 1395 H, jatuh pada Sabtu 13 Desember 1975. Tiba-tiba Kedutaan Besar Arab Saudi di Jakarta menyiarkan bahwa Idul Adha jatuh hari Jumat, 12 Desember 1975. Perbedaan tersebut mengakibatkan terjadi dua kubu di masyarakat. Ada golongan yang menganjurkan agar Sholat Idul Adha dilaksanakan pada Jumat, dikarenakan sudah wukuf pada Kamis. Ada yang berkeras mempertahankan keputusan semula, yaitu sholat Hari Raya Haji hari Sabtu, 13 Desember 1975, sesuai keputusan Departemen Agama setelah mendengar pertimbangan dari pimpinan majelis ulama dan ahli-ahli hisab dan rukyah di Indonesia. Hamka mengawali jawaban dengan mengatakan, jika bersatu permulaan puasa, Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha di seluruh dunia Islam, sehingga sama puasa kaum Muslimin, sama berbuka dan sama Hari Raya Haji, adalah satu hal yang baik sekali. Apalagi pada zaman sekarang dengan adanya alat-alat telekomunikasi yang cepat dapat menyampaikan berita di seluruh dunia, hal yang seperti itu mungkin bisa dicapai. Itulah sebabnya, jumhur ulama memandang persatuan umat dalam mengerjakan ibadah puasa dan hari raya adalah sangat dituntut. Menurut Hamka, sangat sulit tercapai seluruh umat bisa berbarengan waktunya melaksanakan awal Ramadhan, sholat Idul Fitri, dan Idul Adha. Hanya pada negara-negara yang berdekatan saja yang bisa sama, yaitu yang satu mathla’. Adapun yang berjauhan mathla’, seperti antara Andalus (sebelah barat) dan Khurasan (sebelah timur) tidak dapat dipersamakan. Pendapat ini diperkuat melalui hadits yang pernah terjadi pada zaman sahabat-sahabat Rasulullah, yaitu sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Kuraib. Bahwa ia datang ke Syam. la sampai di sana pada akhir bulan Sya’ban menjelang masuk bulan Ramadhan, la sendiri turut melihat bulan (rukyah hilal) ketika berada di Syam. “Saya melihat bulan itu pada malam Jumat.” Setelah beberapa hari di Syam, Kuraib kembali ke Madinah pada ujung bulan Ramadhan. Ia berkata, “Lalu bertanya kepadaku Ibnu Abbas dan dibicarakannya juga soal hilal itu. la bertanya, “Kapan kalian melihat hilal Saya jawab, “Malam Jumat.” Lalu Ibnu Abbas bertanya lagi, “Engkau sendiri melihat?” Kuraib menjawab, “Ya, saya lihat dan orang ramai pun melihatnya, maka puasalah orang ramai pada besoknya dan puasa pula Muawiyah itu sendiri?” Lalu, Ibnu Abbas berkata, “Namun, kami melihat hal itu pada malam Sabtu, dan kami teruslah puasa sampai kami cukupkan bilangan tiga puluh hari, atau kami lihat hilal nanti.” Lalu Kuraib bertanya, “Tidakkah kallan padukan saja dengan Rukyah Muawiyah dan puasanya.” Ibnu Abbas menjawab, “Tidak. Karena begitulah diperintahkan Rasulullah SAW kepada kita. Hadits ini disalin secara bebas, dirawikan oleh Imam Ahmad, Muslim, dan at -Tirmidzi. “Hadits ini adalah hassan, shahh, dan gharib. Amalan menurut hadis ini pada sisi ahli ilmu, yaitu bahwa tiap tap negeri dengan rukyahnya sendiri.”

Read More

As Syasi Pembuat Kunci Terkecil Yang Dikucilkan

Jakarta – 1miliarsantri.net : Dahulu ada seorang yang sangat ahli membuat kunci, bernama as-Syasi. Dia sangat terkenal di kota Marwa karena mampu membuat kunci yang sangat kecil hanya seberat satu Daniq. Satu daniq sama dengan 800 miligam. Kunci yang sangat kecil. Berkat karya nya ini, seluruh penduduk kota kagum dan memuji kunci itu. Kabar itu kemudian didengar oleh Abu Bakar, seorang lelaki paruh baya berusia 40 tahun. Lalu Abu Bakar membuat kunci yang yang beratnya empat kali lebih kecil dari kunci yang paling terkenal di kota Marwa itu. Dia pamerkan kunci kecil itu, dan orang-orang hanya memnganggap kunci itu bagus, tapi kabarnya tidak seviral kunci milik as-Syasi. Abu Bakar bergumam: Lihatlah segala sesuatu perlu kepada nasib. As-Syasi membuat kunci yang kecil dan kabar kehebatannya tersebar ke seluruh penjuru kota, aku membuat kunci yang empat kali lebih kecil dari kuncinya, tapi tak seorang pun yang menyebutnya. Lalu seorang menyahut, “Sebutan, reputasi dan kedudukan itu, hanya didapatkan dengan ilmu, bukan dengan kunci.” Kata itu menyadarkan Abu Bakar, lalu ia mencari syaikh di kota Marwa dan menyampaikan maksudnya. Lalu Syaikh itu menyampaikan ilmu pertama, kalimat pertama dalam kitab Mukhtasar Muzani, “Hadza kitabun Ikhtashartuhu”. ‘Ini adalah sebuah kitab yang telah aku ringkas… ‘ Sepulang ke rumah, Abu Bakar naik ke atas loteng rumahnya dan mengulang-ngulang, “Hadza kitabun Ikhtasartuhu” hingga malam suntuk menjelang fajar. Lalu ia tertidur. Ketika terbangun, Abu Bakar lupa apa yang ia hafalkan, ia sedih, dan malu jika bertemu dengan Syaikhnya.

Read More

Keunikan Sang Qadhi Iyadh: Adab Ulama terhadap Istrinya

Jakarta – 1miliarsantri.net : Syaikh Muhammad Hammad Al-Shiqili Rahimahullah, ulama Fes, Maroko, suatu hari menceritakan kisah unik namun penuh hikmah tentang Qadhi Iyadh Rahimahullah – Imam ahli hadith yang juga menguasai banyak ilmu lainnya seperti sejarah, fiqh, nahwu, bahasa, dan ilmu nasab — kepada Yusuf Abjik Assusi yang ia ceritakan dalam kitabnya. Suatu hari Qadhi Iyadh sedang mengunjungi beberapa temannya yang merupakan ulama ahli fiqh (fuqaha). Kemudian ia bertemu salah seorang dari mereka yang telah menyelesaikan kitabnya. Lalu Qadhi Iyadh kagum saat sekilas melihat karya temannya tersebut, sehingga ia memohon untuk meminjamkan padanya sebentar agar dapat membacanya dengan sempurna. Temannya, sang ahli fiqh, merespon dengan menegaskan bahwa kitab tersebut adalah satu-satunya naskah yang ia punya, jika kitab tersebut hilang maka ia tidak memiliki penggantinya. Mendengar hal itu, Qadhi Iyad menenangkan temannya tersebut dengan berjanji bahwa ia akan menjaga kitab tersebut dengan baik serta mengembalikannya langsung pada keesokan harinya. Qadhi Iyad dengan girang membawa kitab tersebut pulang ke rumah. Pada hari itu, ia memilih untuk tidak tidur semalaman demi membaca dan memperdalam karya temannya tersebut. Sedangkan ia memiliki istri yang mengajaknya berbincang namun sama sekali ia tak menghiraukannya saking asyiknya membaca. Pagi harinya, saat adzan Subuh, Qadhi Iyadh pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat berjamaah serta mengajarkan ilmu hingga siang hari. Selepasnya mengajar, ia bergegas pulang ke rumah dan setibanya disana, ia mencium aroma yang sangat asing lantaran belum pernah mencium aroma demikian sebelumnya. Sang Qadhi bertanya pada istrinya: “Wahai istriku, menu makan siang apakah yang telah kau siapkan untukku?” Sang istri menjawab: “nanti kau akan mengetahuinya sendiri.”

Read More