Pengaruh Media Sosial Terhadap Perkembangan Akhlak Anak, Awas Dampak Negatifnya

Gresik – 1miliarsantri.net : Pengaruh media sosial tidak bisa dilepaskan dari lini kehidupan masyarakat modern saat ini. Media sosial memiliki peranan penting dalam menghubungkan interaksi antar individu atau kelompok yang berada di dunia. Berbagai informasi dapat diperoleh tanpa terbatas jarak. Mulai dari pendidikan, kesehatan, agama, olahraga, berita dalam negeri, luar negeri, dan sebagainya. Semua dapat diakses dalam jaringan dengan mudah. Kemudahan akses informasi, tentunya memberikan pengaruh bagi penggunanya. Banjir informasi membuat kita harus selektif dalam mengonsumsi media sosial. Karena pengaruh media sosial dapat memberikan dampak positif atau negatif bagi penggunanya. Begitu juga pengaruh media sosial dalam perkembangan akhlak anak. Apa yang dilihat, diamati akan ditiru dalam berperilaku sehari-hari. Anak-anak akan menganggap benar perilaku yang dikerjakan, karena melihat contoh dari apa yang dilihat sebelumnya. Apa itu Media Sosial ? Tracy L. Tuten dan Michael R. Solomon dalam Ambar (2017) menjelaskan bahwa “Media sosial adalah sarana untuk komunikasi, kolaborasi, serta penanaman secara daring diantara jaringan orang-orang, masyarakat, dan organisasi yang saling terkait dan saling tergantung dan diperkuat oleh kemampuan dan mobilitas teknologi.” Sehingga media sosial sebagai tempat untuk berkomunikasi antara komunikator dalam penyampaian pesan yang telah dibuat agar sampai ke komunikan secara virtual sesuai perkembangan teknologi. Media sosial terus mengalami perkembangan dan beragam. Beberapa contoh media sosial yang populer saat ini yaitu tiktok, youtube, instagram, dan facebook. Namun tipe konten yang menarik bagi anak-anak adalah video. Menurut data BPS (Badan Pusat Statistika) dalam (Komdigi, 2024) menunjukkan bahwa 39,71 % anak usia dini menggunakan telepon seluler dan 35,57 % diantaranya telah mengakses internet. Meskipun data tersebut tidak terlalu tinggi, namun pengawasan orang tua tetap harus dilakukan, agar anak menjadi terarah untuk melihat konten yang positif. Pengaruh Media Sosial terhadap Akhlak Anak Media sosial memengaruhi pengguna melalui konten yang disajikan. Konten itu sangat beragam dan dapat pengguna pilih sesuai kebutuhan. Konten yang sering pengguna lihat akan tersimpan dalam algoritma media sosial yang digunakan dan mendapatkan penawaran konten terkait. Jika pengguna pada usia dewasa dengan mudah memilah sumber informasi mana yang akan diterima. Namun jika pengguna masih anak-anak, apalagi masih dalam proses perkembangan menulis dan membaca, maka mencarinya melalui perintah suara. Anak-anak tersebut akan memilih konten acak, sesuai apa yang disajikan dalam media sosial. Karena kemampuan mereka belum sampai pada membedakan konten yang baik dan tidak. Apa yang dilihat secara terus menerus, akan dilakukan anak-anak dalam berperilaku sehari-hari. Bisa dikatakan media sosial sebagai guru virtual bagi anak-anak. Pengaruh positif media sosial dalam bidang edukasi anak-anak, seperti mengajarkan sikap jujur, saling membantu, sopan santun kepada orang yang lebih tua, berdo’a sebelum dan selesai melakukan kegiatan, dan lain sebagainya. Hal tersebut dapat dipengaruhi atau distimulus dari konten cerita animasi. Sebagai contoh orang tua atau guru melakukan pendampingan kepada anak, untuk belajar berdo’a akan makan dan sesudah makan melalui tayangan video yang diputar berulang serta memberikan pemahaman adab dalam makan. Maka anak tersebut dengan mudah menghafalkan do’a tersebut dan dilakukan setiap akan makan dan selesai makan. Begitu juga memutar video, tentang contoh bersikap jujur melalui cerita interaktif dan diberi stimulus pertanyaan tentang sikap apa yang dapat diteladani dari video tersebut. Lalu diberi pemahaman dan implikasi dari cerita tersebut. Dampak Negatif Media Sosial Tidak hanya memberikan dampak positif, media sosial juga bisa memberikan dampak negatif kepada anak-anak. Seperti berkata kasar, berkelahi, bullying, pornografi, dll. Contoh konten yang berisi kejailan memukul, mendorong, mengolok teman (dalam konteks bercanda). Sedangkan pada usia anak, tidak semua paham antara konteks bercanda dan realitas. Baca juga : Cara Menanamkan Nilai Etika Islami Dalam Dunia Digital, Tanggung Jawab Siapa? Konten-konten yang tidak terfilter berdasarkan usia anak-anak dan kurangnya pengawasan dari orang tua, menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi perilaku negatif. Karena mereka mendapatkan akses media sosial, tentunya melalui perangkat orang tua. Jadi pengaruh media sosial dapat bersifat positif ataupun negatif terhadap perkembangan akhlak anak, dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut, terdapat faktor yang memengaruhi, seperti memilih konten positif, kontrol dari orang tua, berdiskusi atas konten yang telah dilihat, pembiasaan berperilaku baik. (**) Penulis : Zubaidatul Fitriyah Editor : Toto Budiman dan Iffah Faridatul Hasanah Sumber : Ambar. (2017). ’20 Pengertian Media Sosial Menurut Para Ahli’, 8 Juni. Tersedia di: https://pakarkomunikasi.com/pengertian-media-sosial-menurut-para-ahli (Diakses: 28 Agustus 2025). Komdigi. (2025). ’Komitmen Pemerintah Melindungi Anak di Ruang Digital’, 27 Februari. Tersedia di: https://www.komdigi.go.id/berita/artikel/detail/komitmen-pemerintah-melindungi-anak-di-ruang-digital (Diakses: 29 Agustus 2025).

Read More

Awas Ancaman Hukuman Berat Bagi Pemimpin yang Dzolim Terhadap Rakyatnya

Situbondo – 1miliarsantri.net : Seorang pemimpin pastinya sosok yang adil, bijaksana, dan mengayomi rakyatnya. Namun, kenyataannya tidak selalu demikian. Ada juga pemimpin yang justru bertindak sebaliknya, mengabaikan hak rakyat, bertindak sewenang-wenang, bahkan menindas demi kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. Nah, di sinilah pentingnya kita membahas hukum pemimpin yang dzolim. Sebab kepemimpinan dalam Islam bukan sekadar sebagai jabatan, melainkan amanah besar yang akan dimintai pertanggungjawaban di dunia dan di akhirat kelak. Ancaman hukuman berat menanti, bagi model pemimpin yang dzolim. Kita semua tentu ingin dipimpin oleh orang yang adil. Tapi bagaimana kalau kenyataannya berbeda? Bagaimana pandangan Islam terhadap seorang pemimpin yang dzolim? Yuk, kita bahas dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Hukum Pemimpin yang Dzolim dalam Islam Sebelum masuk ke hukum pemimpin yang dzolim, kita perlu tahu dulu arti kata “dzolim” itu sendiri. Dalam bahasa Arab, “dzolim” berarti menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Jadi, ketika seorang pemimpin sudah menggunakan kekuasaannya untuk merugikan rakyatnya, mengabaikan keadilan, atau menutup mata terhadap penderitaan warganya, maka itu termasuk perbuatan yang dzolim. Dalam Islam, kepemimpinan adalah amanah yang berat. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda bahwa setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban kelak atas kepemimpinannya. Bahkan, jika ada satu saja rakyat yang terdzalimi karena kelalaiannya dalam memimpin, maka itu akan menjadi beban di akhirat kelak. Jadi, bukan main-main urusan ini. Nah, sekarang kita sampai pada inti pembahasan hukum pemimpin yang dzolim. Dalam pandangan Islam, kedzaliman adalah perbuatan yang sangat dilarang. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an, “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang dzolim” (QS. Ali Imran: 57). Artinya, pemimpin yang dzolim akan mendapatkan murka Allah, apalagi jika kedzalimannya merugikan banyak orang. Hukumnya jelas haram. Tidak ada alasan yang bisa membenarkan seorang pemimpin untuk menindas rakyatnya, sekalipun dengan dalih kepentingan negara. Baca juga : Pemimpin Qur’ani Namun, meskipun kita sudah tahu hukumnya haram, Islam juga mengajarkan untuk tetap bersabar dan menghindari pemberontakan yang dapat menimbulkan kerusakan yang lebih besar, kecuali jika kedzalimannya sudah sampai pada batas yang tidak bisa ditoleransi lagi. Di sinilah pentingnya nasihat, doa, dan usaha yang bijak untuk meluruskan pemimpin tanpa menambah masalah. Kalau kita pikir-pikir, kedzaliman itu seperti penyakit menular. Ketika pemimpin sudah tidak mempunyai sifat keadilan, rakyat akan kehilangan kepercayaan, keadilan hukum hancur, dan kesejahteraan pun akan menurun. Dalam sejarah Islam, kita bisa melihat bahwa banyak kerajaan atau kekuasaan runtuh bukan karena musuh dari luar, melainkan karena pemimpin di dalamnya dzolim dan tidak memperhatikan rakyatnya. Kedzaliman itu seperti bom waktu, tinggal tunggu saatnya meledak. Baca juga : mengasah kepemimpinan Bahkan di dunia modern sekarang, kedzaliman pemimpin bisa menyebabkan krisis ekonomi, konflik sosial, hingga perpecahan bangsa. Semua itu diawali dari satu hal hilangnya rasa takut kepada Allah dan rasa tanggung jawab terhadap rakyat. jika kita dihadapkan pada pemimpin yang dzolim, tentunya hati ini merasakan campur aduk, marah, kecewa, dan sedih. Tapi sebagai umat Islam, kita diajarkan untuk bersikap bijak. Sebagai warga negara kita tetap harus menjalankan kewajiban kita, selama tidak disuruh untuk bermaksiat kepada Allah. Jika perintahnya bertentangan dengan agama, maka kita punya hak untuk menolak dengan cara yang benar. Dari pembahasan tadi, kita bisa menyimpulkan bahwa hukum pemimpin yang dzolim dalam Islam adalah haram, dan kedzaliman itu termasuk dalam dosa besar. Pemimpin adalah amanah, bukan sekadar posisi terhormat. Setiap kezaliman yang dilakukan akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah di akhirat. Kita sebagai rakyat memang punya keterbatasan dalam mengubah keadaan, tapi itu bukan alasan untuk diam saja. Nasihat, doa, dan sikap yang benar adalah bentuk perlawanan yang paling mulia terhadap kedzaliman. Ingat, kekuasaan itu sementara, tapi hisab di akhirat berlaku selamanya. Semoga kita semua dijauhkan dari pemimpin yang dzolim, dan semoga Allah selalu memberikan kita pemimpin yang adil, bijaksana, dan takut kepada-Nya. Sebab, hanya dengan kepemimpinan yang adil, rakyat bisa hidup dengan aman, damai, dan sejahtera. Dan pada akhirnya, memahami hukum pemimpin yang dzolim membuat kita sadar betapa besar tanggung jawab seorang pemimpin di mata Allah. (***) Penulis : Iffah Faridatul Hasanah Editor : Toto Budiman Foto : Ilustrasi Ai

Read More

Pentingnya Membentuk Akhlak Mulia Dalam Dunia yang Penuh Tantangan

Situbondo – 1miliarsantri.net : Di tengah maraknya informasi yang tidak ada habisnya, teknologi yang semakin canggih, dan godaan di mana-mana, ada satu hal yang tidak pernah ketinggalan zaman. Yaitu pengaplikasian akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari. Akhlak mulia ibarat kompas yang selalu menunjukkan arah meskipun sedang berada di tengah badai kehidupan. Tidak peduli kamu siapa atau dari latar belakang apa, memiliki akhlak mulia akan membuat hidup jauh lebih tenang, dihargai orang lain, dan pastinya lebih bermakna. Kalau dipikir-pikir, banyak orang sukses secara materi, tapi hidupnya tidak bahagia karena mengabaikan nilai-nilai akhlak. Sebaliknya, ada orang yang mungkin hidup sederhana, tapi dihormati banyak orang karena selalu menjaga sikap, tutur kata, dan kejujuran. Nah, di sinilah pentingnya membentuk akhlak mulia, apalagi di zaman yang penuh tantangan seperti sekarang ini. Mengapa Akhlak Mulia Itu Penting? Di dalam kehidupan sehari-hari, akhlak mulia bisa menjadi modal sosial yang membuka pintu rezeki, pertemanan, dan peluang. Bahkan menurut agama, akhlak mulia merupakan salah satu ukuran utama kemuliaan seseorang. Nabi Muhammad sendiri diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Akhlak mulia mencakup banyak hal mulai dari kejujuran, rendah hati, menghormati sesama, sampai sabar dalam menghadapi setiap masalah. Kalau semua orang punya bekal ini, hubungan antarmanusia akan lebih damai. Bayangin saja, kalau semua orang tidak gampang marah, tidak suka menipu, dan bisa menghargai perbedaan, dunia ini akan jauh lebih adem. Selain itu, akhlak mulia juga menentukan bagaimana orang lain memandang kita. Kadang orang tidak akan ingat apa yang kita katakan, tapi mereka akan selalu ingat bagaimana kita memperlakukan mereka. Dan percaya deh, nama baik itu tidak bisa dibeli dengan uang. Di dunia yang penuh tantangan saat ini, membentuk akhlak mulia memang butuh kesadaran penuh. Kita tidak bisa berharap sifat ini muncul begitu saja tanpa usaha. Berikut beberapa langkah yang bisa kita coba, yaitu: Pertama, Mulai dari niat yang tulus. Kalau kita mau berubah jadi pribadi yang lebih baik, niat itu harus kuat. Tidak cuma untuk kelihatan baik di mata orang, tapi karena memang mau jadi orang yang bermanfaat. Kedua, Biasakan hal kecil yang baik setiap hari. Seperti membalas chat dengan sopan, mengucapkan terima kasih, atau membantu orang tanpa pamrih. Hal-hal kecil ini akan membentuk kebiasaan yang lama-lama jadi karakter kita. Ketiga, Pilih lingkungan yang mendukung. Percaya atau tidak, lingkungan itu mempunyai pengaruh besar terhadap akhlak. Jika sering berkumpul dengan orang yang positif, kita akan ikut terbawa positif juga. Sebaliknya jika lingkungannya toxic, kita bisa ikut terpengaruh ke arah yang tidak baik. Dan yang terakhir, jangan lupa evaluasi diri. Tidak ada manusia yang sempurna, tetapi jika kita ada kemauan untuk terus memperbaiki diri, akhlak mulia akan semakin kuat dalam diri kita. Baca juga : akhlak islami Mempunyai akhlak mulia itu seperti investasi jangka panjang. Mungkin tidak akan langsung kelihatan hasilnya, tapi efeknya akan luar biasa. Orang akan lebih percaya, lebih nyaman untuk berinteraksi, dan kita juga akan lebih damai dalam hati. Orang yang mempunyai akhlak mulia biasanya lebih mudah melewati masalah. Bukan karena masalahnya hilang, tapi karena dia punya kesabaran, kebijaksanaan, dan cara pandang yang positif. Dan yang paling penting, akhlak mulia bisa menjadi warisan yang kita tinggalkan. Anak, keluarga, atau orang di sekitar akan mencontoh apa yang kita lakukan. Di dunia yang penuh tantangan ini, akhlak mulia merupakan pegangan hidup yang tidak boleh kita lepas. Dia bukan sekadar teori, tapi panduan nyata untuk menghadapi setiap situasi dengan bijak dan hati yang tenang. Tidak peduli zaman berubah secepat apa, akhlak mulia akan selalu relevan dan dibutuhkan. Jadi, yuk kita mulai dari diri sendiri, membiasakan hal-hal kecil yang baik, dan menularkannya ke orang lain. Karena pada akhirnya, akhlak mulia yang akan menentukan bagaimana kita dikenang. Akhlak yang baik bukan hanya menjadi bekal untuk meraih ridha Allah, tetapi juga kunci untuk menciptakan kehidupan yang harmonis, penuh kasih sayang, dan saling menghargai. Oleh karena itu, membiasakan diri untuk berperilaku terpuji harus menjadi prioritas dalam setiap langkah kehidupan, agar kita tidak hanya menjadi pribadi yang dihormati manusia, tetapi juga dicintai oleh Sang Pencipta. (***) Penulis : Iffah Faridatul Hasanah Editor : Toto Budiman Foto : Ilustrasi Ai

Read More

Pulau ‘Kunti-Ciletuh Geopark’ Keindahannya Menarik Hati, Apa Kabarnya Kini?

Pulau Indah Dan Mempesona Kini Tertutup Bagi Wisatawan Sukabumi – 1miliarsantri.net: Pulau Kunti (Kuntilanak-red) merupakan nama sebuah tanjung kecil yang berada di kawasan Ciletuh Geopark-Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Spot wisata yang indah untuk menikmati panorama, snorkeling, dan melihat terumbu karang. Meskipun namanya terdengar menyeramkan, Pulau Kunti masuk dalam kawasan konservasi dan tidak boleh dimasuki manusia untuk menjaga ekosistem dan mendukung status geopark-nya. Ciletuh Geopark yang menyimpan indah dan mistisnya Pulau Kunti kembali mendapatkan predikat “GREEN CARD” untuk status keanggotaan UNESCO Global Geopark, bersama Geopark Caldera Toba dan Geopark Rinjani. Keistimewaan Pulau Kunti Pulau Kunti di kawasan Geopark Ciletuh-Palabuhanratu, Sukabumi, bukan sekadar destinasi wisata biasa—ia menyimpan jejak geologi purba, legenda lokal, dan pesona alam yang memikat. Berikut beberapa keunikan yang membuatnya istimewa: Warisan Geologi Purba, Pulau Kunti sebenarnya bukan pulau, melainkan tanjung yang terbentuk dari proses subduksi lempeng tektonik jutaan tahun lalu. Batuan di sana berusia sekitar 55–65 juta tahun, menjadikannya salah satu geosite utama di Geopark Ciletuh. Fenomena Alam Yang Mistis, “Kunti” berasal dari gema suara mirip tawa Kuntilanak yang muncul saat ombak besar menghantam rongga-rongga batuan. Suara ini menyerupai tawa kuntilanak, sehingga memunculkan kesan mistis yang melekat pada namanya. Pemandangan Eksotis dan Ekosistem Laut, Pulau ini menawarkan terumbu karang yang indah dan air laut jernih, cocok untuk snorkeling dan diving. Di sekitarnya terdapat satwa eksotis seperti elang Jawa dan rusa, menjadikannya bagian dari kawasan suaka margasatwa. Akses Menantang dan Petualangan Seru, Untuk mencapainya, pengunjung harus menempuh jalur ekstrem dengan tanjakan dan turunan curam sejauh ±40 km dari pusat Sukabumi. Namun, pemandangan sepanjang perjalanan dan di lokasi sangat memuaskan bagi pencinta alam dan petualangan. Jika tertarik berkunjung ke Pulau Kunti berada di ujung semenanjung area Gunung Badak, kawasan Hutan Suaka Margasatwa Cikepuh atau Cagar Alam Cibanteng, dengan keindahan pasir putih, serta deretan karang sisa lava gunung api, persiapkan rencananya dengan matang, selamat berlibur.** Penulis : Thamrin Humris Editor : Thamrin Humris Foto istimewa UNESCO Global Geopark dan Tangkapan layar YouTube AMANRUPIGOY

Read More

Meneladani Sifat-sifat Nabi Muhammad SAW dalam Kehidupan Sehari-hari

Gresik – 1miliarsantri.net : Nabi Muhammad SAW adalah nabi terakhir yang diutus Allah untuk menyempurnakan agama Islam. Banyak perjuangan yang dilakukan beliau dalam menyiarkan ajaran islam. Berbagai perlawanan dari kaum Kafir Quraisy menentang ajaran yang dibawa nabi. Mereka lebih percaya dengan bangunan yang diciptakan sendiri, yaitu berhala. Tetapi Nabi Muhammad SAW tidak pernah menyerah dalam perjalanannya. Begitu luas kesabaran yang dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW. Sampai beliau, tidak ada sedikit niat untuk membalas perilaku buruk dari orang-orang disekitarnya. Tabiat baik yang selalu dilakukannya patut kita contoh dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun sebagai manusia, seringkali kita melakukan kesalahan dan tidak bisa meniru secara penuh tabiat nabi. Namun kita perlu mengenal sifat-sifat yang dimiliki nabi dan membiasakan sejak dini dalam keseharian. Mengenal Sifat-sifat Nabi Muhammad Begitu banyak sifat baik yang dimiliki Nabi Muhammad SAW, namun yang paling utama dan sering diperdengarkan ada empat. Menurut H. Tuaini (Kanwil Kemenag Kalteng, 2023) sifat-sifat terpuji nabi yang dapat dijadikan suri tauladan, yaitu: Shiddiq (Jujur) Shiddiq berarti jujur, kejujuran Nabi Muhammad dalam berdagang, membuatnya menjadi orang terpandang. Beliau selalu menyatakan kondisi barang yang dijual kepada pembeli, tanpa menutup kecacatan sedikitpun. Sehingga akad jual beli terjadi dengan penuh kejujuran dan tidak ada kerisauan antar penjual dan pembeli. Sebagai contoh dalam kehidupan sehari-hari, jika kita melakukan kesalahan mengolah data dalam bekerja, maka harus segera melakukan perbaikan dan mengakui kesalahan atas perbuatan yang telah dilakukan. Jangan sampai menutupi kesalahan dan menimbunnya sampai berlarut-larut. Karena kebohongan sekali, dapat menuntut kebohongan lainnya. Apalagi sampai menyalahkan teman disekitarnya. Pentingnya kejujuran dalam bertindak, sehingga orang akan terbiasa berperilaku jujur dan menindak sesuatu yang salah atau kebohongan. Amanah (Dapat Dipercaya) Dapat dipercaya atau amanah, nabi dipercaya untuk menyiarkan agama islam pada zaman jahiliyah. Pada saat itu, masyarakat masih menyembah berhala dan masih mempercayai benda-benda mati tersebut memiliki roh atau kekuatan. Datangnya misi islam yang dibawa nabi, tentunya mendapat perlawanan dari masyarakat. Karena mereka sudah terbiasa dengan ajaran yang mereka anut, tiba-tiba muncul ajaran baru. Nabi tidak tinggal diam, beliau terus menyebarkan agama islam dari cara yang sembunyi-sembunyi sampai bisa secara terang-terangan dan memiliki banyak pengikut. Sehingga nabi dapat dipercaya dalam menyelesaikan misinya. Contoh saat ini, jika kita diberi amanah sebagai panitia dalam perayaan Maulid Nabi oleh atasan, maka kita jalankan tugas yang diberikan sampai tuntas. Jangan sampai kabur dari tanggung jawab yang telah diterima. Jika terdapat halangan, maka bisa didelegasikan kepada rekan lainnya, namun kontrol tanggung jawab tetap dipegang. Sehingga mencerminkan sifat dapat dipercaya. Fathonah (Cerdas) Cerdas arti dari fathonah, kecerdasan nabi terlihat sejak kecil. Beliau berpikir kritis, tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Meskipun beliau memiliki kecerdasan, namun tidak pernah sombong atas apa yang bisa dilakukannya. Kesuksesannya dalam berdagang tidak lepas dari kecerdasan beliau dalam strategi perdagangan. Giat belajar dan haus akan ilmu dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, untuk meneladani sifat ini. Tidak hanya cerdas secara intelektual, namun juga cerdas emosional. Jadi belajar mengatur emosi dan menyalurkannya dalam sesuatu yang positif. Berpikir kritis dan berdiskusi tentang sesuatu yang pernah dilihat atau dibaca juga dapat dilakukan untuk mengasah kecerdasan seseorang. Baca juga : pentingnya-evaluasi-diri-seorang-muslim-kunci-meningkatkan-iman-dan-amal/ Tabligh (Menyampaikan) Tabligh yaitu menyampaikan, ini berkaitan dengan penyampaian firman Allah. Nabi Muhammad mendapat wahyu dari Allah melalui malaikat jibril, mengenai ajaran islam. Setelah nabi mendapatkan wahyu tersebut, dibagikan kepada umat islam pada masa itu. Jadi apa yang diperintah Allah, kebenaran ajaran Allah, selalu nabi sampaikan kepada umatnya. Pada zaman sekarang ini, seperti seorang guru yang menyampaikan ilmu kepada murid-muridnya. Ia mengajarkan sesuatu yang benar dan menjelaskan sesuatu yang salah agar tidak dilakukan. Ini juga bisa kita lakukan, jika mendapatkan kebenaran ilmu dan disebarkan kepada teman-teman sekitar untuk melakukan hal yang baik. Jadi sifat-sifat nabi yang dapat diteladani dalam kehidupan sehari-hari yaitu shiddiq, amanah, fathonah, dan tabligh. Meskipun sifat utama yang dimiliki Nabi Muhammad SAW terpaparkan empat. Namun kita patut meneladani sifat-sifat lainnya yang dimiliki nabi, seperti adil, rendah hati, bijaksana, dan masih banyak lagi. Meneladani sifat-sifat Nabi Muhammad ﷺ adalah jalan mulia untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menghidupkan cahaya iman dalam keseharian kita. Dengan kelembutan tutur kata, keteguhan sabar, dan kasih sayang kepada sesama, beliau telah menunjukkan bahwa akhlak adalah inti dari keimanan. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang mampu mengikuti jejaknya, menebarkan kebaikan di mana pun berada, dan kelak digolongkan sebagai umat yang mendapat syafaatnya. Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad.(***) Penulis : Zubaidatul Fitriyah Editor : Iffah Faridatul Hasanah Sumber foto : AI Sumber : Kanwil Kemenag Kalteng, (2023) ‘Empat Sifat Teladan Nabi Muhammad SAW untuk Dicontoh’, 7 Oktober. Tersedia di: https://kalteng.kemenag.go.id/kanwil/berita/519768/Kabag-TU-Empat-Sifat-Teladan-Nabi-Muhammad-SAW-Untuk-Dicontoh- (Diakses: 29 Agustus 2025).

Read More

Yuk Pahami Awas Keliru! Bolehkah Al-Qur’an Digital dibuka Tanpa Memiliki Wudhu?

Gresik – 1miliarsantri.net : Al-qur’an adalah kalam Allah yang indah. Mushaf, al-qur’an terjemahan bahkan al-qur’an digital merupakan beberapa bentuk al-qur’an yang ada. Pada masa digitalisasi ini, membuat aplikasi al-qur’an digital lebih diminati kalangan muda. Karena aksesnya yang mudah, tidak memakan tempat penyimpanan yang besar, dan juga mudah dibawa. Membaca kitab suci umat islam ini, dianjurkan untuk berwudhu terlebih dahulu. Karena menjaga kesucian diri untuk melantunkan bacaan di dalamnya. Tetapi, jika al-qur’an yang kita bawa adalah versi digital, apakah tetap harus berwudhu atau diperbolehkan tanpa wudhu?. Melihat secara fisik keduanya berbeda, namun isi di dalamnya tetap sama. Apakah perbedaan tersebut akan berpengaruh dalam tata cara memegang, membuka dan membaca al-qur’an. Lantas apa yang membedakan al-qur’an digital dengan mushaf? Mari mengenal lebih dekat tentang al-qur’an digital. Apa yang Dimaksud Al-Qur’an Digital? Al-qur’an digital merupakan aplikasi dalam gawai yang menyajikan tulisan ayat-ayat al-qur’an. Tampilan ayat al-qur’an digital sesuai dengan apa yang ada di versi cetak. Untuk versi digital tidak lagi berbentuk buku, melainkan ayat yang bergulir ke bawah menyesuaikan ukuran layar gawai. Pengguna dapat membacanya berdasarkan surat atau juz yang sudah dikelompokkan dalam aplikasi. Dalam versi digital terdapat fitur bacaan latin, tentunya memudahkan pengguna baru yang ingin membaca al-qur’an, tetapi belum lancar membaca huruf arab. Tidak hanya itu, pengguna juga bisa mempelajari arti dari ayat yang dibaca melalui terjemahan al-qur’an, mendengarkan murotal, melihat jadwal sholat, dan menentukan arah kiblat dalam satu aplikasi al-qur’an digital. Sedangkan mushaf adalah ayat al-qur’an murni yang dibukukan. Sehingga di dalamnya tidak ada huruf latin ataupun terjemahan. Semua dalam tulisan arab, maka perlakuan antara memegang dan membaca mushaf dengan al-qur’an digital terdapat perbedaan.  Hukum Memegang dan Membuka Al-Qur’an Digital Tanpa Wudhu Menurut ustadz Adi Hidayat dalam saluran Channel Hikmah (2018) diperbolehkan untuk memegang atau membuka al-qur’an digital tanpa berwudhu. Namun, untuk memegang mushaf dianjurkan (diutamakan) berwudhu terlebih dahulu. Tetapi jika tidak memiliki wudhu tetap boleh. Meskipun tetap diperbolehkan, alangkah baiknya kita sebagai umat muslim tetap menjaga wudhu sebelum membuka al-qur’an baik digital ataupun mushaf. Al-qur’an digital dan mushaf itu berbeda dalam media perantaranya. Jika mushaf adalah lembaran yang tersusun dalam bentuk kitab atau buku dan hanya ayat al-qur’an saja di dalamnya. Maka al-qur’an digital yang disentuh adalah gawai (smartphone, tablet, laptop) dan di dalamnya terdapat ayat al-qur’an, tulisan latin, terjemahan, dan tajwid. Apabila aplikasi al-qur’an digital tersebut kita tutup, maka sudah beralih fungsi menjadi gawai penyedia berbagai aplikasi yang akan digunakan pengguna. Dari perbedaan tersebut, kita tidak diperbolehkan membawa mushaf ke tempat yang tidak suci, seperti kamar mandi. Sedangkan smartphone boleh dibawa ke mana saja. Hukum Membaca Al-Qur’an Digital Tanpa Wudhu             Membaca al-qur’an tanpa wudhu juga diperbolehkan dan tetap dianggap sah, dengan berwudhu lebih baik daripada tidak, pungkas ustadz Adi Hidayat dalam Channel Hikmah (2018). Sehingga tidak ada larangan untuk membaca al-qur’an digital tanpa memiliki wudhu. Apabila ingin membaca al-qur’an saat berada di tengah perjalanan tanpa berwudhu, diperbolehkan. Tetapi jika berada di suatu tempat yang terdapat akses air bersihnya, sebaiknya berwudhu. Karena membaca kalam Allah dalam keadaan menjaga kesucian diri sangat dianjurkan dan lebih baik.             Berwudhu menjadi salah satu adab dalam membaca al-qur’an. Maka perlu diperhatikan, meskipun tidak wajib. Selain itu, dalam membaca al-qur’an, sebaiknya menggunakan pakaian yang sopan, bersih dan menghadap ke arah kiblat. Membaca al-qur’an digital tanpa berwudhu tetap diperbolehkan, yang tidak boleh adalah saat seorang perempuan muslim memiliki hadats besar (haid). Hal tersebut dilarang, karena orang haid tidak dalam kondisi suci. Sehingga tidak diperbolehkan untuk sholat ataupun membaca al-qur’an.              Jadi hukum memegang, membuka dan membaca al-qur’an digital tanpa berwudhu diperbolehkan dan tetap sah. Namun yang lebih baik, jika dalam kondisi memiliki wudhu. Karena membaca kalam Allah yang suci, seyogianya kita juga dalam kondisi yang suci atau terhindar dari hadats kecil dan besar. (**) Penulis : Zubaidatul Fitriyah Editor : Toto Budiman dan Iffah Faridatul Hasanah Sumber foto : https://share.google/WkPmurdPIcDx9H9zh Sumber : Channel Hikmah. (2018). Membaca Al Qur’an dari HP? Ustadz Adi Hidayat, LC., MA. 18 Maret 2018. Tersedia di: https://youtu.be/V3zLURIExFA?si=kdBHiwxDqKoE4XWM (Diakses: 26 Agustus 2025).

Read More

Pentingnya Evaluasi Diri Seorang Muslim, Kunci Meningkatkan Iman dan Amal

Bekasi – 1miliarsantri.net : Manusia diberikan waktu 24 jam dalam sehari, tidak kurang dan tidak lebih. Namun, pada setiap amal yang dikerjakan, seringkali manusia merasa masih memiliki kekurangan dalam banyak hal. Disinilah pentingnya evaluasi diri bagi seorang muslim. Dikarenakan, ada yang mengisi waktunya dengan keburukan, bahkan ada juga yang tidak mengisi harinya dengan kebaikan apapun. Oleh sebab itu, evaluasi diri seorang muslim sangat penting untuk dilakukan, mengingat semua amalan di dunia yang kelak akan dihisab di akhirat kelak. Maka ada baiknya evaluasi diri atau menghisab diri sendiri dilakukan terlebih dahulu, sebelum kelak hari hisab itu datang dilaksanakan pada waktunya. Berikut kutipan Fudhail bin Iyadh dalam buku Dahsyatnya Evaluasi Diri Seorang Muslim, ” Barang siapa yang menghisab dirinya sebelum dihisab, maka hisabnya akan ringan pada hari kiamat kelak, ia akan mampu menjawab semua pertanyaan, dan ia akan mendapatkan tempat kembali yang sangat baik. Barangsiapa yang tidak menghisap dirinya sendiri, maka penyesalannya akan abadi, ia akan merasakan siksaan yang berkepanjangan, dan kesalahan-kesalahannya akan menuntunnya menuju kesia-sian dan kecelakaan. Orang yang pintar adalah orang melihat dirinya sendiri, kemudian mengevaluasi dan mencelanya, beramal untuk apa yang akan terjadi setelah kematian, sibuk dengan aibnya dan berusaha memperbaikinya.” Pentingnya Evaluasi Diri Seorang Muslim dalam Islam Setiap muslim telah ditunjukkan dua jalan oleh sang pencipta-Nya, yaitu jalan  ketakwaan dan jalan kefujuran (jalan kemaksiatan). Jika bisa memilih, maka semua muslim pasti ingin menempuh jalan pertama. Namun, dalam perjalanan seringkali muncul banyak godaan yang membuat hati menyimpang. Evaluasi diri menjadi solusi bagi setiap jiwa yang sedang tersesat dalam kemaksiatan ataupun keburukan lainnya. Evaluasi diri membentengi diri setiap muslim untuk merenungi hari-hari yang telah dijalani, apakah sudah diisi dengan ketaatan atau sebaliknya, membiarkan diri dipenuhi dengan kemungkaran kepada Allah SWT. Tidak melakukan evaluasi diri berarti meninggalkan sesuatu yang penting dalam diri, yaitu perbaikan hati. Akibatnya, diri akan mudah dipengaruhi oleh bujuk rayu setan, bujukan berbuat maksiat, jauh dari ketaatan, suka melakukan kebatilan dan tidak peduli dengan amal kebajikan. Ibn al-Qayyim al-Jauziyah-Rahimahullah, dalam kitab ighatsatulLahfan min Mashayidisy Syaithan, mengatakan, ”Meninggalkan evaluasi dan terus menerus meninggalkannya, menganggap remeh semua masalah dan selalu seperti ini akan mengantarkan menuju kehancuran. Ini adalah keadaaan orang-orang yang tertipu oleh dunia. Mereka memejamkan matanya dari efek-efek yang diakibatkan oleh nafsunya dan terus menjalankan keinginannya serta tidak mau meminta maaf, sehingga dirinya meremehkan evaluasi dan tidak melihat akibat yang akan terjadi. Jikalah sudah begitu, maka melakukan perbuatan dosa menjadi hal yang mudah baginya, dan ia akan susah membebaskan diri darinya walaupun sudah menyadarinya. Sebagaimana diketahui, menjaga lebih mudah dari mengobati, begitu juga halnya dengan meninggalkan sesuatu yang disenangi dan sudah menjadi kebiasaan.” Faedah Evaluasi Diri bagi Seorang Muslim Beberapa faedah atau manfaat yang akan didapatkan bagi muslim yang gemar mengevaluasi diri, diantaranya adalah: 1. Mengenal aib diri sendiri, saat dimana seorang muslim merenung dan memikirkan diri sendiri maka akan terbukalah ingatan-ingatan lama yang memperlihatkan jumlah kesalahan serta kronologi kejadiannya. 2. Bertobat dan menyesal, setelah mengetahui kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat, menuntun diri untuk menyesali dan membuka jalan bertobat kepada Allah. 3. Merasa menyesal di hadapan Allah 4. Mengenal kemuliaan Allah, setelah bertobat dan menyadari bahwa Allah tidak langsung memberikan azab bagi setiap kesalahan yang diperbuat, sebaliknya Allah tetap membukakan pintu tobat dan pengampunan, maka saat inilah seorang muslim menyadari kemuliaan Allah. 5. Zuhud, membuat diri menjauhi dan membebaskan diri dari sifat tercela seperti ujub dan sombong. 6. Menjadi pribadi yang lebih baik, dengan lebih taat menjalankan perintah Allah dan bersungguh-sungguh meninggalkan larangannya. Jenis-jenis Evaluasi Diri dalam Islam Evaluasi diri terbagi menjadi dua, diantaranya adalah: Evaluasi sebelum beramal, yang artinya adanya proses perenungan terlebih dahulu, mengenai kemampuan diri untuk melakukannya. Setelah itu, proses evaluasi diri baru akan dilakukan. Contoh: Apakah seorang mampu mengerjakan sholat malam atau tidak? Berapa rakaat mampu melakukannya? Apakah mampu menjaga shalat Dhuha? Apakah bisa membaca Al-Quran satu juz dalam sehari atau tidak? Evaluasi sesudah beramal, yang terdiri dari beberapa jenis yaitu pertama mengevaluasi diri dalam ketaatan yang belum dikerjakan secara maksimal. Kedua, mengevaluasi diri dalam suatu amalan yang seharusnya meninggalkannya lebih baik daripada mengerjakannya. Ketiga, mengevaluasi diri terhadap hal mubah yang dikerjakan. Pada akhirnya, evaluasi diri bagi seorang muslim bukan sekadar merenung atas kekurangan, melainkan upaya untuk kembali mendekat kepada Allah dengan hati yang lebih bersih dan niat yang lebih tulus. Setiap kesalahan adalah pengingat bahwa kita manusia yang lemah, namun setiap kesempatan untuk memperbaiki diri adalah tanda kasih sayang Allah yang tak pernah putus. Semoga dengan muhasabah, kita senantiasa diberi kekuatan untuk memperbaiki langkah, meluruskan niat, dan menjalani hidup dengan penuh ketaatan serta harapan akan ridha-Nya. (**) Sumber : Sati, Pakih. 2012. Dahsyatnya Evaluasi Diri Seorang Muslim. Surakarta: Ziyad Visi Media Sumber foto : https://alwaie.net/ibrah/muhasabah-diri/ https://islamic-center.or.id/muhasabah-akhir-tahun/ https://www.daaruttauhiid.org/harap-dan-takut-kepada-allah/ Penulis: Gita Rianti D Pratiwi Editor : Toto Budiman dan Iffah Faridatul Hasanah

Read More

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Jadi Momen Paling Dinanti Umat Muslim Sedunia

Bekasi – 1miliarsantri.net : Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu perayaan paling bersejarah dalam agama Islam. Maulid Nabi, atau dalam bahasa Arab disebut Milad, berarti “hari lahir”, yang berarti peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Sebagai salah satu momen paling dinanti umat muslim sedunia, Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu tradisi penting dalam Islam. Di mana umat muslim merayakan kelahiran Nabi Muhammad ke dunia sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta. Maulid Nabi bukan hanya sekadar peringatan sejarah, tetapi juga sebuah momen untuk meningkatkan rasa cinta dan penghargaan terhadap Nabi serta mendalami ajaran-ajarannya yang luhur. Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW juga memiliki makna spiritual dalam kehidupan umat Islam, diantaranya sebagai bentuk merefleksikan ajaran-ajaran Nabi, kebijaksanaan dan teladan hidupnya. Peringatan ini juga menjadi momen untuk mendalamkan rasa cinta dan kasih sayang kepada Rasulullah sebagai utusan Allah. Sejarah Peringatan Maulid Nabi Tradisi peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pertama kali dilakukan oleh seorang penguasa Muslim bernama Muzhaffaruddin Al-Kaukabri pada awal abad ke-7 Hijriyah. Ia adalah Raja Irbil, yang wilayahnya kini merupakan bagian dari Irak. Persiapan untuk peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini dilakukan dengan sangat meriah dan penuh dedikasi. Sejak tiga hari sebelum hari peringatan, ribuan kambing dan unta disembelih untuk hidangan para hadirin yang akan menghadiri perayaan tersebut. Para ulama, mulai dari zaman Sultan Al-Muzhaffar dan seterusnya hingga saat ini, menganggap peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai suatu hal yang baik dan bermakna serta melihatnya sebagai momen penting untuk memahami, merenungkan serta meningkatkan rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Indonesia Peringatan Maulid Nabi di Indonesia diwarnai dengan berbagai kegiatan oleh berbagai kalangan Masyarakat. Beberapa cara perayaan melibatkan pembacaan puisi-puisi pujian kepada Nabi, ceramah agama, serta pawai atau karnaval yang menggambarkan kehidupan dan ajaran Nabi Muhammad. Namun, dalam semua variasinya, esensi dari peringatan ini tetap sama yaitu untuk merayakan kehadiran Nabi Muhammad SAW di dunia, merenungkan ajarannya, dan memperkuat rasa persaudaraan di antara umat Muslim. Peringatan Maulid Nabi menurut tradisi Sunni jatuh pada tanggal 12 Rabiulawal dalam penanggalan Hijriyah. Sedangkan menurut tradisi Syiah, peringatan ini jatuh pada tanggal 17 Rabiulawal. Sementara itu pada tahun 2025, Maulid Nabi yang merupakan Hari lahir Nabi besar Muhammad SAW, akan jatuh pada bulan September tepatnya pada tanggal 5 September 2025. Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW adalah kesempatan bagi umat Islam untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, mengenang ajaran Nabi Muhammad SAW, serta meningkatkan semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap sesama. Ada banyak kegiatan yang dapat dilakukan untuk memperingati Maulid Nabi. Kegiatan-kegiatan tersebut bertujuan agar umat Islam dapat lebih memahami dan mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Berikut adalah 10 contoh kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dapat dijadikan referensi Maulid Nabi Muhammad 12 Rabiul Awal tahun 2025: 1. Majelis Dzikir dan Sholawat Bersama Salah satu kegiatan utama dalam  peringatan Maulid adalah mengadakan majelis dzikir dan sholawat bersama. Dalam kegiatan ini, umat berkumpul untuk bersama-sama mengingat dan memuji Nabi Muhammad SAW melalui dzikir dan sholawat. 2. Tausyiah dan Ceramah Agama Kegiatan tausyiah dan ceramah agama diadakan untuk memberikan pemahaman lebih dalam tentang kehidupan, ajaran, dan akhlak mulia Nabi Muhammad SAW. Ustadz atau ulama akan memberikan pengajaran dan penjelasan yang mendalam tentang betapa agungnya sosok Nabi Muhammad SAW. 3. Pentas Seni Islami Pentas seni Islami menjadi cara kreatif untuk merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW. Para peserta dapat menampilkan seni seperti drama, tari, musik, atau puisi yang mengangkat tema tentang kehidupan dan ajaran Nabi Muhammad SAW. 4. Lomba-lomba Islami Lomba-lomba Islami seperti lomba adzan, lomba tilawah Al-Quran, dan lomba ceramah keagamaan sering diadakan untuk menguji pengetahuan agama dan ketrampilan umat terkait Islam. Ini juga menjadi ajang meningkatkan semangat berkompetisi dengan sehat. 5. Pawai Ta’aruf Pawai ta’aruf adalah kegiatan di mana umat Islam berjalan bersama membawa spanduk atau tanda yang memperkenalkan diri dan kelompok mereka. Pawai ini diisi dengan dzikir, sholawat, dan semangat kebersamaan dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. 6. Kajian Islam dan Diskusi Keagamaan Kajian Islam dan diskusi keagamaan menjadi kegiatan yang memungkinkan para peserta untuk membahas topik-topik keagamaan terkini, isu-isu sosial, dan hal-hal yang terkait dengan ajaran Nabi Muhammad SAW. 7. Bakti Sosial dan Kemanusiaan Dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, umat juga sering mengadakan kegiatan bakti sosial, seperti mengunjungi panti asuhan, memberikan bantuan makanan kepada yang membutuhkan, atau mengadakan pengobatan gratis sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama. 8. Kegiatan Khusus Anak-anak Kegiatan khusus untuk anak-anak juga sering diadakan dalam peringatan Maulid. Ini bisa berupa ceramah khusus, pentas seni anak, lomba mewarnai, atau kegiatan edukatif lain yang disesuaikan dengan pemahaman anak-anak tentang kehidupan Nabi Muhammad SAW. 9. Doa Bersama dan Zikir Tidak ketinggalan, umat Islam juga melakukan doa bersama dan zikir untuk memohon keberkahan, keselamatan, dan kebahagiaan bagi seluruh umat manusia serta meneladani ajaran Nabi Muhammad SAW. 10. Pameran dan Bazar Islami Pameran dan bazar Islami adalah kegiatan di mana umat dapat memamerkan dan menjual produk-produk Islami, seperti buku-buku keagamaan, pakaian muslim, makanan halal, dan berbagai barang-barang lain yang berkaitan dengan Islam. (*) Sumber: Berbagai sumber Penulis: Gita Rianti D Pratiwi Foto Ilustrasi AI Editor : Toto Budiman dan Iffah Fariddatul Hasanah

Read More

Mitos dan Doa Tolak Bala di Bulan Safar, Amalan untuk Melindungi Diri

Malang – 1miliarsantri.net : Dalam kalender Hijriah, bulan Safar sering mendapat perhatian khusus dari sebagian umat Islam di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Safar bulan kedua setelah Muharam, sering dikaitkan dengan berbagai mitos, khususnya tentang datangnya bala atau kesialan. Keyakinan ini diwariskan turun-temurun, meski tidak semuanya memiliki dasar yang kuat dalam ajaran Islam. Di sisi lain, tradisi masyarakat yang berkembang justru melahirkan beragam praktik keagamaan, seperti doa tolak bala, shalat sunnah, hingga sedekah bersama. Praktik ini menjadi bagian dari khazanah Islam Nusantara, yang menarik untuk ditelusuri makna historis maupun religiusnya. Dalam sebagian tradisi, bulan Safar dianggap sebagai waktu turunnya berbagai musibah, penyakit, atau peristiwa buruk. Pada hari tertentu di bulan safar, ada anggapan bahwa bala diturunkan ke muka bumi, sehingga masyarakat melakukan berbagai ritual doa dan sedekah untuk menangkalnya. Doa Tolak Bala di Bulan Safar, untuk menjaga keselamatan dan kesejahteraan Meski anggapan tentang kesialan bulan Safar ditolak, tradisi membaca doa tolak bala tetap hidup dalam masyarakat. Bagi sebagian umat, doa bukan sekadar ritual simbolis, melainkan bentuk permohonan perlindungan kepada Allah SWT dari segala keburukan yang mungkin menimpa. Nah, berikut ini beberapa doa yang sering dibaca pada bulan Safar antara lain: 1. Doa Nabi Muhammad SAW: “Allahumma inni a’udzu bika min al-barashi, wal-jununi, wal-judzami, wa sayyi’il-asqam.” (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari penyakit belang, gila, kusta, dan segala penyakit buruk lainnya). 2. Doa Selamat dan Tolak Bala: “Bismillahil ladzi la yadurru ma’asmihi syai’un fil-ardhi wa la fis-sama’i wa huwa sami’ul alim.” (Dengan nama Allah yang bersama nama-Nya tidak ada sesuatu pun yang membahayakan di bumi dan di langit, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui). Selain berdoa, sebagian masyarakat juga melakukan shalat sunnah empat rakaat di hari rabu terakhir bulan safar dengan niat memohon keselamatan. Tak hanya itu, ada pula tradisi sedekah bersama hingga membaca surat Yasin tiga kali dengan doa khusus. Doa pertama, yaitu memohon panjang umur, kedua memohon dijauhkan dari musibah, ketiga memohon kecukupan rezeki. Antara Mitos dan Spiritualitas di Bulan Safar Kepercayaan terhadap mitos di bulan Safar sering kali dipandang sebagai bentuk sinkretisme antara budaya lokal dan ajaran Islam. Beberapa ulama tradisional bahkan menilai bahwa meski secara teologis mitos tersebut memang tidak berdasar, ritual doa dan sedekah yang tumbuh darinya justru dapat memperkuat spiritualitas dan solidaritas sosial. Ulama seperti Ibnu Rajab al-Hanbali secara jelas menolak keyakinan bahwa bulan Safar memiliki nasib buruk khusus. Dalam karya beliau Lathā’iful Maʿārif, Ia menegaskan bahwa bulan Safar tidak berbeda dengan bulan lainnya, kesialan maupun kebaikan bisa terjadi kapan pun, tanpa tergantung bulan tertentu. Pandangan ini selaras dengan hadis Nabi saw.:“Tidak ada penyakit menular (secara mutlak), tidak ada kepercayaan buruk pada bulan Safar.” (HR. Bukhari dan Muslim) . Lembaga seperti MUI secara tegas menyatakan bahwa keyakinan semacam itu perlu diluruskan. Mereka menegaskan bahwa tidak ada dalil syar’i yang melarang menikah atau memulai usaha pada bulan Safar karena dianggap sial. Ulama kontemporer seperti Syaikh Shalih al-Fauzan juga menyatakan bahwa menganggap bulan Safar membawa musibah adalah bentuk syirik kecil dan merusak akidah. Di sisi lain, dalam tradisi Islam Nusantara, muncul pemaknaan yang lebih fleksibel: mitos tersebut memang tidak diakui secara tekstual, tetapi praktik doa, sedekah, dan ikhtiar spiritual tetap dianggap sebagai ekspresi nilai spiritual dan sosial masyarakat Islam Nusantara. Di banyak daerah Indonesia, doa tolak bala di bulan Safar biasanya dilakukan secara berjamaah di masjid atau mushala. Warga berkumpul membaca doa, tahlil, atau manaqib, lalu menutupnya dengan makan bersama. Di Aceh, terdapat tradisi kenduri tolak bala, yakni makan bersama setelah membaca doa di bulan Safar. Di Jawa, dikenal tradisi slametan Rabu Wekasan, yang diisi dengan pembacaan doa keselamatan. Sedangkan di Madura, masyarakat biasa menggelar acara serupa di rumah-rumah dengan menghadirkan tetangga sekitar. Tradisi ini menunjukkan bagaimana doa dan kebersamaan dipandang sebagai cara menangkal mara bahaya. Meski berakar pada mitos, praktik tersebut tetap memberikan nilai sosial, yakni mempererat persaudaraan dan kepedulian antarwarga. Pada akhirnya, bulan Safar tidak bisa dipandang semata sebagai bulan penuh kesialan. Bagi umat Islam, setiap bulan adalah sama-sama ciptaan Allah dan memiliki potensi keberkahan. Yang lebih penting adalah bagaimana menjadikan momentum ini sebagai pengingat untuk memperbanyak doa, memperkuat ikatan sosial, dan meningkatkan kualitas ibadah. Dengan demikian, doa tolak bala di bulan Safar dapat dipahami bukan karena mitosnya, tetapi sebagai ekspresi keimanan dan kebersamaan umat. Penulis : Ramadani Wahyu Foto Ilustrasi Editor : Iffah Faridatul Hasanah

Read More

Rabu Wekasan: Hari Sial atau Tradisi Islam Nusantara?

Malang – 1miliarsantri.net : Bagi sebagian masyarakat Muslim di Jawa, kedatangan Rabu terakhir di bulan Safar kerap menimbulkan rasa was-was. Hari itu dikenal dengan sebutan Rabu Wekasan, yang dalam keyakinan sebagian orang diyakini sebagai hari turunnya berbagai musibah. Namun, di sisi lain, ada pula yang melihatnya sebagai bagian dari kekayaan tradisi Islam Nusantara yang sarat makna spiritual. Benarkah Rabu Wekasan adalah hari sial, atau sekadar tradisi kultural yang dibalut ajaran Islam? mari kita kupas bersama. Istilah Wekasan berasal dari bahasa Jawa, berarti “penghabisan” atau “terakhir”. Rabu Wekasan merujuk pada Rabu terakhir bulan Safar dalam kalender Hijriah. Beberapa teks Arab klasik menyinggung bahwa Safar kerap dikaitkan dengan masa ujian, perjalanan, atau penyakit. Dalam kitab al-Azkar karya Imam Nawawi, disebutkan bahwa sebagian masyarakat Arab pra-Islam meyakini Safar sebagai bulan sial karena diyakini banyak musibah terjadi. Mereka menghindari bepergian, menikah, bahkan memulai usaha di bulan tersebut. Kepercayaan ini berasal dari tradisi jahiliah. Namun, ditegaskan oleh Nabi Muhammad SAW bahwa hal itu keliru. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda: “Tidak ada thiyarah (takhayul buruk), tidak ada adwa (penularan tanpa izin Allah), tidak ada haamah (burung pertanda maut), dan tidak ada Safar.” (HR. Bukhari dan Muslim). Meski demikian, secara historis bulan Safar tercatat sebagai bulan yang cukup rawan. Misalnya, beberapa perang besar dalam sejarah Islam seperti Perang Bi’r Ma’unah (4 H) dan Perang Khandaq (5 H) terjadi pada bulan Safar. Beberapa sumber klasik seperti Tarikh at-Tabari dan Sirah Ibnu Ishaq mencatat bahwa perjalanan-perjalanan militer Nabi dan para sahabat banyak dilakukan di bulan ini, sehingga masyarakat kala itu mengasosiasikan Safar sebagai bulan “bergeraknya bala tentara” atau “masa ujian”. Di sisi lain, dalam literatur sufi dan tasawuf, bulan Safar dipahami secara simbolis sebagai periode “pembongkaran” atau pembersihan jiwa dari sifat buruk. Beberapa tarekat menyebut Safar sebagai momentum untuk muhasabah dan memperbanyak zikir tolak bala. Tradisi ini berkembang pesat di kawasan Asia Selatan dan kemudian ikut memengaruhi budaya Islam di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Dengan latar belakang historis dan kultural seperti ini, tak heran jika masyarakat Muslim Jawa kemudian mengembangkan interpretasi lokal terhadap bulan Safar. Mereka memadukan nilai-nilai Islam dengan budaya lokal, dan menjadikan Rabu terakhir bulan ini (Rabu Wekasan) sebagai waktu yang penting untuk berdoa, sedekah, dan memohon perlindungan dari segala bala. Rabu wekasan, Antara Keyakinan dan Kekhawatiran Sebagian masyarakat meyakini Rabu Wekasan sebagai hari yang penuh risiko. Pandangan ini biasanya didasarkan pada cerita turun-temurun yakni musibah besar kerap datang di bulan Safar. Karena itu, doa bersama, sedekah, dan pembacaan surat Yasin atau shalawat dilakukan sebagai bentuk ikhtiar menolak bala. Di sejumlah daerah Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga Madura, Rabu Wekasan dirayakan layaknya perayaan kecil, masyarakat berkumpul di masjid atau mushala, membaca doa khusus, lalu menutupnya dengan makan bersama. Praktik ini memperlihatkan bagaimana tradisi keagamaan bertransformasi menjadi medium sosial yang memperkuat solidaritas warga. Rabu Wekasan dalam Perspektif Islam Nusantara Islam Nusantara dikenal lentur dalam merangkul budaya lokal. Doa-doa dan amalan Rabu Wekasan dapat dilihat sebagai bentuk lokalitas yang diberi ruh keislaman. Tradisi ini mungkin tidak ditemukan di tanah Arab, tetapi tumbuh subur di Jawa, Madura, dan sebagian Sumatera, selaras dengan semangat dakwah Wali Songo yang memadukan Islam dengan kearifan lokal. Berikut ini tradisi Islam Nusantara saat Rabu Wekasan tiba. 1. Shalat Sunah Tolak BalaSalah satu amalan yang umum dilakukan saat Rebo Wekasan adalah melaksanakan shalat sunah dua rakaat yang diniatkan untuk memohon perlindungan dari bala. Di beberapa tempat, seperti Banten dan Cirebon, shalat ini biasanya dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 06.00–07.00. Lalu, jamaah akan duduk bersama untuk makan bareng atau membawa bekal dari rumah masing-masing. 2. Pembagian Air KembangDi wilayah seperti Serang, Rebo Wekasan juga diwarnai dengan ritual pembagian air kembang. Air ini merupakan campuran air biasa dengan bunga-bunga tertentu, seperti melati atau kenanga, yang telah didoakan sebelumnya oleh tokoh agama atau sesepuh kampung. Kadang-kadang air ini juga dilengkapi dengan secarik kertas berisi rajah (tulisan Arab) yang dipercaya membawa perlindungan. Masyarakat biasanya menyimpan air ini di rumah, atau digunakan untuk mandi, sebagai simbol penolak bala. 3. Haul dan Wisata ReligiDi beberapa daerah seperti Tegal, Rebo Wekasan juga menjadi momentum untuk melaksanakan haul atau peringatan wafat tokoh-tokoh agama. Misalnya, di Bukit Sitanjung, warga mengunjungi makam Mbah Panggung, ulama yang dianggap berjasa dalam penyebaran Islam. Kegiatan ini kerap diiringi hiburan rakyat dan ziarah massal, sehingga selain sebagai bentuk penghormatan, juga menjadi bagian dari wisata religi tahunan yang memperkuat tradisi Islam lokal. 4. Tirakatan dan Doa BersamaDi Gresik dan beberapa wilayah Jawa Timur, masyarakat menyambut Rebo Wekasan dengan tirakatan, yakni malam renungan dan doa bersama. Kegiatan ini dilakukan di rumah-rumah, langgar, atau masjid dengan mengisi malam dengan dzikir, tahlilan, dan pembacaan doa keselamatan. 5. Kirab Air SalamunTradisi khas juga dapat ditemukan di Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kudus. Setiap tahun pada malam Rebo Wekasan, warga menggelar Kirab Air Salamun. Air Salamun adalah air suci yang diambil dari sumur peninggalan seorang wali. Dalam kirab ini, air dibawa dalam prosesi arak-arakan yang diikuti oleh masyarakat sambil memanjatkan doa keselamatan. Kirab ini juga dilengkapi dengan gunungan hasil bumi dan pertunjukan budaya, mencerminkan semangat gotong royong dan kearifan lokal. 6. Pembagian Air SalamunSetelah prosesi kirab, air Salamun akan dibagikan kepada masyarakat yang hadir. Banyak warga yang membawanya pulang untuk disimpan atau diminum, karena air ini diyakini membawa keberkahan dan dapat digunakan untuk pengobatan. Kepercayaan ini telah mengakar sejak lama dan menjadi bagian penting dari identitas spiritual masyarakat setempat. Tak hanya ritual keagamaan, kegiatan ini juga mempererat hubungan sosial antarwarga, karena diselenggarakan secara gotong-royong. Penulis : Ramadani Wahyu Foto Ilustrasi Editor : Iffah Faridatul Hasanah

Read More