Ilmu hadits

Keutamaan Ilmu Hadits dan Kemuliaan Ahli Hadits

Surabaya – 1miliarsantri.net: Ilmu hadits merupakan salah satu cabang ilmu Islam yang paling mulia. Hal itu juga sudah disetujui oleh Sufyan al-Tsauri. Ia pernah berkata: “Aku tidak mengetahui sesuatu yang lebih baik daripada ilmu hadis bagi orang yang mencari keridhaan Allah Subhanahu wata’ala. Manusia membutuhkannya bahkan dalam urusan makan dan minum mereka, dan itu lebih baik daripada salat dan puasa sunah karena belajar ilmu hadits itu hukumnya fardhu kifayah.” Pernyataan ini menegaskan bahwa menuntut ilmu hadits bukan sekadar ibadah tambahan, tetapi merupakan kewajiban bagi umat Islam secara kolektif (fardhu kifayah). Ilmu ini menjadi dasar setiap perintah dan larangan dalam syariat Islam, sehingga menguasainya berarti memahami fondasi agama secara mendalam. Apa Itu Ilmu Hadits? Ilmu hadits adalah ilmu yang mempelajari perkataan, perbuatan, dan persetujuan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Ilmu ini mencakup beberapa aspek: Dengan memahami ilmu hadits, seorang muslim dapat meneladani Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam secara akurat, karena ilmu ini menampilkan kondisi kehidupan beliau, baik dalam ibadah maupun kebiasaan sehari-hari. Baca juga: Makna Sejarah dalam Islam, Beda dengan History ala Sekuler Keutamaan Menuntut Ilmu Hadits Menuntut ilmu hadits memiliki banyak keutamaan yang telah disebutkan dalam berbagai hadits. Dan beberapa keuntamaan tersebut di antaranya adalah: 1. Mendekatkan Diri dengan Rasulullah Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: عن ابن مسعود رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم اولى الناس بي يوم القيامه اكثرهم علي صلاة رواه الترمذي حسنه “Orang-orang yang paling dekat denganku pada Hari Kiamat adalah mereka yang paling banyak mendoakanku.”(HR. At-Tirmidzi, hasan) Para ulama ahli hadits termasuk golongan yang paling banyak mendoakan Nabi, karena mereka senantiasa menyebut dan mempelajari sunnah dalam pengkajian mereka. Dengan demikian, menuntut ilmu hadits tidak hanya memperdalam pemahaman agama, tetapi juga meningkatkan kedekatan spiritual dengan Rasulullah. 2. Mendapatkan Doa Khusus dari Nabi Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu juga meriwayatkan: عن ابن مسعود رضي الله عنه قال سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول نظر الله امرا سمع منا شيئا فبلغه كما سمع فرب مبلغ اوعى من سامعا رواه الترمذي وقال حسن صحيح “Semoga Allah membaguskan wajah orang yang mendengar sesuatu dariku dan menyampaikannya sebagaimana ia mendengarnya. Sebab, banyak orang yang menyampaikan lebih hafal daripada yang mendengarkan.”(HR. At-Tirmidzi, hasan shahih) Doa ini menunjukkan bahwa ahli hadits memiliki keistimewaan yang tidak diberikan kepada orang lain, karena mereka menjadi perantara penyebaran sunnah secara benar. 3. Menjadi Khalifah Nabi dalam Menyebarkan Ilmu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: عن ابن عباس رضي الله عنهما قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم اللهم ارحمه خلفائي قلنا يا رسول الله ! فمن خلفاؤك ؟ قال الذين ياتون من بعد يرضون احاديث وسنه فيعلمونها الناس رواه الطبراني في الاوسط “Ya Allah, rahmatilah para khalifahku.”Ketika ditanya siapa para khalifah itu, beliau menjawab:“Mereka yang datang setelahku meriwayatkan hadis-hadisku dan mengajarkannya kepada orang-orang.”(HR. At-Tabarani dalam Al-Awsat) Dengan menuntut dan menyebarkan ilmu hadits, seorang muslim menjadi khalifah yang melanjutkan misi Nabi dalam menyampaikan petunjuk Allah kepada umat manusia. Ini adalah bentuk keberkahan dan tanggung jawab besar bagi setiap perawi hadits. Kemuliaan Ahli Hadits Ahli hadits memiliki kedudukan yang mulia, karena mereka: 1. Menjaga Keaslian Hadits Ahli hadits berperan menangkal pemalsuan atau perubahan terhadap sunnah oleh orang-orang yang melampaui batas. Rasulullah bersabda: قال صلى الله عليه وسلم يحمل هذا العلم من كل خلف عدوله ينفون عنه تحريف الغالين وانتحال المبطلون وتاويل الجاهلين رواه البيهقي في المدخل وذكر القسطلاني رحمه الله انه يسير بطرقه حسنا “Ilmu ini akan dibawa oleh orang-orang yang adil dari setiap generasi, yang akan menangkalnya dari perubahan yang dilakukan oleh orang-orang yang melampaui batas, rekayasa para pemalsu, dan penafsiran orang-orang bodoh.”(HR. Al-Baihaqi dalam Al-Madkhal) 2. Menjadi Sumber Pengetahuan dan Hikmah Para ulama hadits bukan hanya menghafal, tetapi juga memahami konteks hadits, sehingga dapat memberikan penjelasan yang akurat dan bermanfaat bagi umat. 3. Mendapat Pahala Dunia dan Akhirat Dengan belajar, mengamalkan, dan menyebarkan ilmu hadits, seorang muslim memperoleh pahala besar, karena usaha mereka menyebarkan sunnah adalah amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. Baca juga: Beberapa Sejarah Perang Islam Yang Dilakukan Dalam Bulan Ramadhan Mengamalkan Ilmu Hadits dalam Kehidupan Sehari-hari Mengamalkan ilmu hadits bukan sekadar membaca dan menghafal. Tetapi, seorang ahli hadits harus: Dengan demikian, ilmu hadits tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga membentuk karakter dan keimanan yang kokoh. Ilmu hadits memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan seorang muslim. Menuntut ilmu ini adalah fardhu kifayah, memberikan kemuliaan dan keberkahan dunia akhirat, serta menjadikan para ahli hadits sebagai khalifah yang meneruskan sunnah Rasulullah. Keutamaan menuntut ilmu hadits terlihat dari doa khusus Nabi, kedekatan spiritual dengan beliau, dan tanggung jawab menjaga keaslian sunnah. Dengan mempelajari dan mengamalkan ilmu hadits, seorang muslim tidak hanya memahami hukum-hukum Islam, tetapi juga meneladani kehidupan Rasulullah secara nyata, sehingga menjadi pribadi yang lebih mulia dan berakhlak mulia. Penulis: Imam Zakaria Editor: Ainun Maghfiroh Sumber foto: Ilustrasi Sumber artikel: Manhal lathif, Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliky

Read More
penyakit hati

Waspadai! Ini Induk Penyakit Hati yang Harus Dihindari

Surabaya – 1miliarsantri.net: Induk penyakit hati merupakan sumber dari berbagai sifat tercela yang dapat merusak jiwa dan amal manusia. Sifat-sifat buruk ini tidak hanya mengotori hati, tetapi juga menjauhkan manusia dari rahmat Allah SWT. Mengobati penyakit hati bukanlah perkara mudah, sebab manusia sering lalai dalam melakukan introspeksi diri dan lebih sibuk mengejar kemewahan duniawi dibanding akhirat. Imam Al-Ghazali rahimahullah dalam kitab Ihya Ulumuddin telah banyak menjelaskan tentang pentingnya menjaga hati dari sifat tercela. Dari sekian banyak penyakit hati, ada tiga sifat utama yang menjadi akar perusak hati manusia, yaitu hasad (dengki), riya’ (pamer ibadah), dan ujub (merasa paling hebat). Ketiga sifat ini dikenal sebagai induk penyakit hati, karena darinya lahir berbagai sifat buruk lainnya. Apabila seorang Muslim mampu menjaga dirinya dari tiga sifat ini, maka ia akan lebih mudah menjaga hatinya dari penyakit-penyakit lain. Sebaliknya, jika seseorang membiarkan dirinya terjerumus dalam hasad, riya’, dan ujub, maka ia akan sulit terbebas dari dosa hati yang lain. Mengapa Penyakit Hati Berbahaya? Hati merupakan pusat kendali manusia. Rasulullah SAW bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Namun jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim). Penyakit hati tidak terlihat secara kasat mata, tetapi dampaknya jauh lebih berbahaya dibanding penyakit fisik. Orang yang terjangkit penyakit hati bisa kehilangan pahala, amal, bahkan terjerumus dalam siksa Allah SWT. Oleh karena itu, memahami induk penyakit hati menjadi langkah penting dalam menjaga kebersihan jiwa. Baca juga: Rekam Jejak Sejarah 10 Muharram dalam Islam yang Penuh Keagungan Spiritual Tiga Induk Penyakit Hati yang Harus Dihindari Dan di bawah ini, langsung kita akan sajikan penjelasan secara lebih lengkap dan terperinci tentang 3 induk penyakit hati yang harus benar-benar dihindari: 1. Hasad (Dengki) Hasad adalah perasaan tidak suka ketika orang lain mendapatkan nikmat, baik berupa ilmu, harta, kedudukan, maupun kebahagiaan. Bahkan, orang yang hasad sering berharap agar nikmat tersebut hilang dari saudaranya. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda: اياكم والحسد فان الحسد يأكل الحسنات كما تأكل النار الحطب “Waspadalah terhadap rasa dengki, karena dengki dapat menghabiskan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Dawud). Bentuk-Bentuk Hasad Ada tiga bentuk utama hasad yang sering muncul dalam diri manusia, yaitu: Dampak Hasad Cara Mengobati Hasad 2. Riya’ (Pamer Amal) Riya’ adalah melakukan amal kebaikan bukan karena Allah, melainkan untuk mendapatkan pujian manusia. Sifat ini disebut juga sebagai syirik kecil, karena seseorang tidak lagi murni beribadah kepada Allah. Rasulullah SAW memperingatkan dalam sebuah hadis tentang orang yang beramal demi pujian: ان الشهيد يؤمر به يوم القيامه الى النار فيقول يا ربي استشهدت في سبيلك فيقول الله تعالى بل اردت ان يقال انك شجاع وقد قيل ذالك وذلك اجرك وكذلك يقال للعالم والحج والقارئ “Orang yang syahid akan diperintahkan pada hari kiamat untuk menuju neraka. Ia berkata, ‘Ya Rabb, aku mati syahid di jalan-Mu.’ Allah berfirman, ‘Engkau ingin dikatakan sebagai pemberani, dan itu telah dikatakan. Maka itulah balasanmu.’ Begitu juga dengan orang alim, orang berhaji, dan orang yang membaca Al-Qur’an jika niatnya bukan karena Allah.” (HR. Muslim). Tanda-Tanda Riya’ Cara Menghindari Riya’ 3. Ujub, Takabur, dan Fakhr Ujub adalah merasa kagum pada diri sendiri, takabur adalah merasa lebih tinggi dari orang lain, sedangkan fakhr adalah membanggakan diri secara berlebihan. Ketiga sifat ini sangat berbahaya karena membuat seseorang meremehkan orang lain. Iblis terlaknat menjadi contoh pertama sifat takabur. Ketika Allah memerintahkannya untuk sujud kepada Nabi Adam, ia berkata: انا خير منه خلقتني من نار وخلقته من طين “Aku lebih baik darinya, Engkau menciptakanku dari api sedangkan Engkau menciptakannya dari tanah.” (QS. Al-A’raf: 12). Ciri-Ciri Takabur Cara Mengobati Ujub dan Takabur Dengan pola pikir seperti ini, hati akan lebih rendah hati, jauh dari ujub, takabur, dan fakhr. Baca juga: Gua Hira, Tempat Sejarah Sangat Penting Bagi Umat Islam Pentingnya Membersihkan Hati dari Induk Penyakit Membersihkan hati adalah kewajiban setiap Muslim. Sebab, amal yang dikerjakan tanpa hati yang bersih bisa kehilangan nilainya di sisi Allah. Seseorang bisa saja rajin beribadah, tetapi jika hatinya penuh hasad, riya’, dan ujub, maka amalnya terancam tidak diterima. Allah berfirman dalam QS. Asy-Syu’ara: 88-89: “(Yaitu) pada hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” Induk penyakit hati yang terdiri dari hasad, riya’, dan ujub merupakan tiga sifat tercela yang wajib dijauhi. Hasad membuat manusia iri terhadap nikmat orang lain, riya’ merusak niat ibadah, sementara ujub dan takabur menumbuhkan kesombongan yang hanya memperbesar dosa. Mengobati penyakit hati membutuhkan latihan, kesabaran, dan muhasabah diri secara terus-menerus. Caranya adalah dengan memperbanyak syukur, memperbarui niat, menanamkan kerendahan hati, serta selalu berdoa agar Allah menjaga hati kita. Pada akhirnya, yang menentukan kemuliaan seorang hamba bukanlah pujian manusia, melainkan bagaimana ia menghadap Allah dengan hati yang bersih. Oleh sebab itu, mari kita berusaha membersihkan diri dari induk penyakit hati agar mendapatkan ridha Allah SWT dan husnul khatimah di akhir hayat. Penulis: Imam Zakaria Editor: Ainun Maghfiroh Sumber foto: Ilustrasi Sumber artikel: Manhal lathif, Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliky

Read More
Hadits Qudsi

Apa Perbedaannya Hadits Qudsi dan Al-Qur’an? Cari Tahu Di sini Yuk!

Surabaya – 1miliarsantri.net: Hadits Qudsi berasal dari kata al-Quds yang berarti kemurnian dan penyucian. Hadits ini sering disebut sebagai hadits ilahi karena disandarkan kepada Allah (Ilah) serta disebut pula hadits rabbani karena dinisbatkan kepada Rabb, yaitu Tuhan Yang Maha Tinggi. Secara terminologi, hadits qudsi adalah perkataan yang disandarkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dinisbatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, selain dari Al-Qur’an. Contoh hadits qudsi adalah riwayat Imam Muslim (2577): يا عبادي اني حرمت الظلم على نفسي وجعلته محرما عليكم فلا تظالموا       الحديث Allah SWT berfirman: “Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku telah menjadikannya haram di antara kalian. Maka janganlah kalian saling menzalimi.” Hadits qudsi tetap disebut hadits karena disampaikan melalui lisan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, ia dinamakan qudsi (suci) sebab maknanya datang dari Allah Yang Maha Suci. Dengan demikian, hadits qudsi memiliki kedudukan istimewa sebagai perantara penyampaian pesan Allah selain Al-Qur’an. Baca juga: Sejarah Partai Syarikat Islam, Sebelum Terlahirnya Boedi Oetomo dan Sumpah Pemuda Perbedaan Hadits Qudsi dan Al-Qur’an Al-Qur’an memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh hadits qudsi. Dan beberapa perbedaan antara keduanya dapat dirinci sebagai berikut: 1. Kedudukan sebagai Mukjizat Al-Qur’an adalah mukjizat yang kekal sepanjang masa. Ia terpelihara dari perubahan, pergantian, dan penyelewengan. Setiap huruf, kata, dan gaya bahasa dalam Al-Qur’an diturunkan dengan penuh kesempurnaan. Sedangkan hadits qudsi tidak memiliki kedudukan sebagai mukjizat. 2. Cara Periwayatan Al-Qur’an tidak boleh diriwayatkan hanya berdasarkan makna. Setiap lafaz harus sama persis dengan yang diturunkan. Sementara hadits qudsi bisa diriwayatkan berdasarkan makna, meskipun tetap harus menjaga maksud yang benar. 3. Hukum Membaca dan Menyentuh Al-Qur’an memiliki aturan khusus, yaitu: 4. Fungsi dalam Ibadah Sholat Al-Qur’an dibaca di dalam sholat sebagai rukun sahnya ibadah. Sementara hadits qudsi tidak digunakan sebagai bacaan sholat. 5. Penyebutan Nama Kitab suci umat Islam disebut dengan istilah Al-Qur’an. Sementara kumpulan hadits qudsi tetap masuk dalam kategori hadits. 6. Pahala Membaca Membaca Al-Qur’an bernilai ibadah. Setiap huruf yang dibaca dihitung sebagai sepuluh kebaikan. Adapun membaca hadits qudsi berpahala sebagai ilmu, tetapi tidak memiliki ketentuan pahala per huruf sebagaimana Al-Qur’an. 7. Hukum Jual Beli Menurut riwayat Imam Ahmad, menjual mushaf Al-Qur’an adalah haram. Sedangkan menurut Imam Syafi’i, hukumnya makruh. Sementara hadits qudsi tidak memiliki hukum khusus seperti ini. 8. Struktur Ayat dan Surah Al-Qur’an terdiri dari ayat-ayat dan surah yang jelas jumlah dan susunannya. Hal ini tidak berlaku pada hadits qudsi. 9. Asal Usul Wahyu Al-Qur’an seluruh kata-kata dan maknanya berasal dari Allah melalui wahyu. Adapun hadits qudsi, maknanya berasal dari Allah tetapi disampaikan dengan lafaz dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Baca juga: Sejarah Jilbab Dalam Peradaban Pra-Islam Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa perbedaan hadits qudsi dan Al-Qur’an terletak pada asal lafaz, fungsi dalam ibadah, keistimewaan hukum, serta pahala membacanya. Al-Qur’an memiliki kelebihan sebagai mukjizat yang abadi, sementara hadits qudsi adalah sabda Rasulullah yang menyampaikan makna dari Allah. Dengan memahami perbedaan ini, umat Islam dapat menempatkan keduanya pada posisi yang benar sesuai ajaran agama. Penulis: Imam Zakaria Editor: Ainun Maghfiroh Sumber foto: Ilustrasi Sumber artikel: Manhal lathif, Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliky

Read More
Tradisi Maulid Nabi di Betawi

Begini Uniknya Tradisi Maulid Nabi di Betawi

Malang – 1miliarsantri.net : Tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW di Indonesia tidak pernah lepas dari ekspresi budaya lokal yang membentuk kekhasan di setiap daerah. Di tengah kota metropolitan seperti Jakarta, khususnya di kalangan masyarakat Betawi, peringatan Maulid bukan hanya menjadi bentuk penghormatan terhadap kelahiran Rasulullah, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya yang terus dilestarikan lintas generasi. Bagi masyarakat Betawi, Maulid Nabi adalah momen spiritual sekaligus sosial yang mengikat hubungan antarwarga, keluarga, bahkan antar-kampung. Lebih dari sekadar pembacaan sejarah kelahiran Nabi melalui kitab Barzanji, peringatan Maulid di tanah Betawi berlangsung dengan semarak, menyatukan nilai religius, tradisi lokal, dan kebersamaan komunal. Kitab Barzanji dalam Setiap Hajatan Kitab Barzanji menjadi elemen utama dalam perayaan Maulid Nabi di berbagai wilayah Indonesia, tak terkecuali di Betawi. Kitab yang berisi syair-syair pujian kepada Nabi dan kisah hidupnya ini dibacakan dengan irama khas, menciptakan suasana khidmat sekaligus hangat. Menariknya, di kalangan masyarakat Betawi, pembacaan Barzanji tidak hanya terbatas pada bulan Maulid (Rabi’ul Awal), tetapi juga hadir dalam berbagai kegiatan lainnya. Mulai dari acara tasyakuran, khitanan, akad nikah, hingga peringatan kematian, kitab Barzanji selalu menjadi pengiring utama. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya keterikatan masyarakat Betawi terhadap sosok Nabi Muhammad SAW, sekaligus memperlihatkan bagaimana unsur spiritual menyatu dalam siklus kehidupan masyarakatnya. Lebih dari itu, sebagian masyarakat Betawi mulai membaca Maulid sejak bulan Rabi’ul Awal hingga Rajab. Keyakinan ini berangkat dari pemahaman bahwa ketiga bulan tersebut adalah masa yang dipenuhi berkah kelahiran Rasulullah. Tak heran jika tradisi pembacaan Barzanji dapat berlangsung berbulan-bulan, mewarnai malam-malam warga dengan lantunan doa dan pujian. Petasan sebagai Penanda Kegembiraan Salah satu aspek yang membedakan tradisi Maulid Nabi di Betawi dengan daerah lain adalah hadirnya petasan. Meskipun bagi sebagian masyarakat hal ini tampak sebagai elemen hiburan semata, petasan memiliki makna historis dan simbolis yang dalam. Penggunaan petasan dalam budaya Betawi merupakan bentuk akulturasi dengan tradisi Tionghoa, yang sejak dulu menggunakan petasan sebagai penolak bala dan pengusir roh jahat. Masyarakat Betawi kemudian mengadaptasi elemen ini dalam berbagai hajatan, termasuk Maulid Nabi, sebagai bentuk kegembiraan dan simbol ajakan kepada warga sekitar untuk turut hadir. Secara fungsional, petasan menjadi semacam “kode” undangan. Ketika suara petasan terdengar, warga dari kampung-kampung sekitar akan tahu bahwa sedang ada perayaan. Mereka pun akan datang berbondong-bondong, membawa serta makanan, kerabat, dan semangat gotong royong. Menariknya, pada masa lampau, petasan yang digunakan bersifat tradisional. Bambu diisi dengan potassium, lalu diledakkan menggunakan air dan percikan api, menghasilkan suara nyaring yang menggema di antara rumah-rumah panggung. Kini, sebagian besar masyarakat menggunakan petasan buatan pabrik, namun makna sosialnya tetap bertahan. Diawali dengan Tawasul dan Doa Bersama Kekuatan spiritual dalam tradisi Maulid Betawi juga tampak pada urutan ritual yang dilakukan. Pembacaan Maulid selalu diawali dengan tawasul, yakni pembacaan surat Al-Fatihah yang dihadiahkan kepada arwah para leluhur atau kerabat yang telah wafat. Tawasul menjadi jembatan antara dunia yang fana dan alam keabadian, menghadirkan nuansa spiritual yang dalam. Setelah tawasul, dilanjutkan dengan pembacaan surat Yasin dan tiga surat pendek dari Al-Qur’an: Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. Barulah kemudian acara inti dimulai dengan pembacaan Barzanji. Bagi masyarakat Betawi, rangkaian ini bukan sekadar rutinitas, melainkan bagian dari pengamalan ajaran Nabi Muhammad SAW yang senantiasa menganjurkan umatnya untuk mendoakan sesama, menjaga hubungan antar-generasi, dan memperkuat ikatan ukhuwah. “Surat Yasin dan Barzanji adalah pengikat rohani kami,” ujar Haji Munir, tokoh masyarakat di daerah Condet, Jakarta Timur. “Kami ingin anak-anak muda tetap mengenal siapa Nabi mereka, dan bagaimana seharusnya hidup meneladani beliau.” Tradisi yang Menyesuaikan Zaman Perubahan sosial dan modernisasi tidak serta-merta menghapus tradisi Maulid di Betawi. Meski Jakarta kini berubah menjadi kota megapolitan dengan hiruk-pikuk keseharian, tradisi ini masih terus dipertahankan di berbagai kampung tua, terutama di wilayah seperti Condet, Kampung Melayu, Kemayoran, hingga Marunda. Namun, tentu saja ada penyesuaian. Generasi muda kini mulai menggabungkan pembacaan Maulid dengan tampilan multimedia, dokumentasi digital, bahkan live streaming untuk menjangkau keluarga yang jauh. Meski bentuknya berubah, substansi spiritual tetap menjadi fondasi utama. Di tengah arus globalisasi dan gempuran budaya pop, Maulid Nabi di Betawi menjadi semacam jangkar identitas yang menghubungkan warga urban dengan nilai-nilai luhur, tradisi leluhur, dan keteladanan Rasulullah. Ia menjadi pengingat bahwa modernitas tak harus mengorbankan akar budaya dan spiritualitas. Penulis : Ramadani Wahyu Foto Ilustrasi AI Editor : Iffah Faridatul Hasanah dan Toto Budiman

Read More
Khazanah Pesantren

Khazanah Pesantren, Dari Kitab Kuning ke Ruang Siber

Malang – 1miliarsantri.net : Di antara menara-menara surau dan riuhnya lodak santri, khazanah pesantren telah lama menjadi benteng keilmuan Islam tradisional seperti kitab kuning, sorogan, bandongan, bahkan bahtsul masail. Kini, khazanah pesantren menghadapi era baru saat kitab kuning tak lagi terbatas di ruang kelas atau mushala, tetapi meluas ke jaringan siber (digital). Transformasi ini tidak hanya tentang digitalisasi teks atau arsip, namun tentang bagaimana nilai-nilai luhur pesantren tetap hidup dan relevan di zaman yang makin serba cepat dan layar menyala. Digitalisasi sebagai Wujud Kontemporer Khazanah Pesantren Khazanah pesantren sangat identik dengan kitab kuning, karya ulama klasik yang ditulis dalam bahasa Arab atau campuran Arab-Pegon, menyimpan ajaran tafsir, fikih, ushul, akhlak, dan tasawuf. Kini perubahan zaman membawa khazanah pesantren ke ruang siber. Pemerintah lewat Kementerian Agama (Kemenag) menginisiasi proyek seperti aplikasi Tarkib Digital, repository kitab kuning Nusantara, dan platform “Rumah Kitab” sebagai media pembelajaran online berbasis kitab kuning. Inovasi-inovasi ini membuktikan khazanah pesantren tidak stagnan, tetapi adaptif terhadap kebutuhan generasi kekinian yang ingin belajar agama lewat gadget. Pengajian kitab kuning secara daring sudah praktis dan menjangkau santri di pelosok, memungkinkan khazanah pesantren tetap menyala walaupun tanpa bangunan fisik. Tantangan Memelihara Khazanah Pesantren di Era Siber Tidak semua hal dalam digitalisasi khazanah pesantren berjalan mulus. Ada tantangan keilmuan, seperti kitab kuning kadang dipotong-potong atau disederhanakan agar cocok dengan format digital singkat, sehingga kedalaman teks atau konteks tradisional terabaikan. Ada pula tantangan teknis, yaitu akses internet di daerah terpencil masih bermasalah, koleksi kitab kuning asli belum semuanya terdigitalisasi, dan ada kendala hak cipta atau sanad ilmu. Selain itu, khazanah pesantren di ruang siber berpotensi kehilangan suasana spiritual pengajian tradisional seperti tatap muka, wudu, suasana kitab, bertanya langsung ke kiai. semua ini yang sulit diganti oleh layar. Peluang Memperkuat Khazanah Pesantren ke Depan Meskipun ada tantangan, ada pula peluang besar agar khazanah pesantren makin berkembang di ruang siber. Salah satunya dengan mengembangkan pendidikan pesantren hybrid, kombinasi tatap muka kitab kuning dan pendalaman digital melalui video, aplikasi, dan forum online. Metode blendedlearning ini memungkinkan pelestarian tradisi sekaligus penyebaran ilmu yang lebih luas. Selain itu, khazanah pesantren bisa diperkuat dengan peningkatan literasi digital bagi santri dan kiai, memahami cara menulis konten daring yang akurat, memilih teks yang sahih, dan menjaga sanad ilmu. Para pengelola platform digital pesantren dapat memberi pelatihan, membuat portal digital yang interaktif, menyediakan naskah digital serta audio kitab kuning dengan kualitas baik. Terakhir, peluang kolaborasi antar pesantren, lembaga pendidikan Islam, dan pemerintah sangat penting. Dukungan infrastruktur, misalnya internet cepat, server repository naskah, dan regulasi perlindungan teks tradisional, akan memperkuat posisi khazanah pesantren di Indonesia sebagai warisan budaya dan ilmu yang bernilai tinggi. Khazanah pesantren, dari kitab kuning ke ruang siber, bukan hanya soal memelihara teks lama dalam format baru. Lebih dari itu, khazanah pesantren adalah jembatan yang menjaga agar tradisi keilmuan, spiritualitas, dan karakter santri tidak hilang dalam gelombang digitalisasi. Dengan khazanah pesantren terus dijaga dengan kesungguhan, adaptasi inovatif, dan penghormatan terhadap nilai-nilai tradisi, warisan ilmu yang disimpan di pesantren akan tetap hidup dan relevan bagi generasi mendatang khazanah pesantren. Penulis : Ramadani Wahyu Foto Ilustrasi Editor : Iffah Faridatul Hasanah dan Toto Budiman

Read More

Menyentuh Pasangan Halal Dapat Membatalkan Wudhu? Awas Ibadah Shalat Tidak Sah

Bondowoso – 1miliarsantri : Dalam keseharian, bersentuhan dengan pasangan halal adalah hal yang hampir tidak bisa dihindari. Ada kalanya hanya sekadar bergandengan tangan, menyentuh bahu, atau bahkan tidak sengaja bersentuhan saat beraktivitas bersama. Situasi inilah yang membuat pertanyaan tentang apakah menyentuh pasangan halal akan membatalkan wudhu menjadi penting. Kita tentu tahu bahwa wudhu merupakan syarat utama untuk menunaikan shalat, dan shalat tidak akan sah tanpa wudhu yang benar. Sebab kita tidak ingin ibadah shalat yang dilakukan dengan penuh kesungguhan justru tidak diterima hanya karena kesalahan dalam memahami hukum wudhu. Karena itu, penting bagi kita untuk memahami bagaimana hukum Islam memandang hal ini, agar ibadah tetap sah dan hati menjadi lebih tenang Pendapat Ulama tentang Hal yang Membatalkan Wudhu Jika kita bertanya apakah menyentuh pasangan halal membatalkan wudhu, ternyata para ulama memiliki perbedaan pandangan. Tidak ada satu jawaban tunggal yang mutlak, melainkan ada perbedaan ijtihad berdasarkan pemahaman mereka terhadap dalil Al-Qur’an dan hadis. Sebagian ulama berpendapat bahwa menyentuh istri bisa membatalkan wudhu, terutama jika dilakukan dengan syahwat. Pendapat ini banyak merujuk pada ayat dalam Al-Qur’an surat An-Nisa: 43, yang menyebutkan tentang “lamastumun nisa” (menyentuh perempuan). Ada yang menafsirkan kata itu sebagai bersentuhan fisik, sehingga wudhu batal karenanya. Namun, ada juga ulama yang menafsirkan bahwa maksud ayat tersebut bukan sekadar sentuhan biasa, melainkan hubungan intim. Maka, sentuhan tanpa syahwat tidak otomatis membatalkan wudhu. Inilah kenapa perbedaan pendapat muncul, dan kita sebagai orang awam perlu memahami konteksnya. Kalau kita bayangkan, tentu tidak mungkin dalam rumah tangga kita selalu menghindari sentuhan dengan pasangan. Jadi, wajar kalau kita ingin tahu lebih jauh tentang apakah menyentuh istri membatalkan wudhu. Dalam praktiknya, mayoritas ulama bersepakat bahwa sentuhan dengan syahwat lebih besar kemungkinan membatalkan wudhu. Tapi jika sekadar bersentuhan tanpa niat dan tanpa rasa syahwat, sebagian ulama menyebut wudhu tetap sah. Baca Juga : tips praktis menjaga ibadah shalat Seperti ketika sedang berjalan lalu tanpa sengaja menyentuh tangan istri atau suami, tentu berbeda hukumnya dengan sentuhan yang disertai keintiman. Jadi, dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa lebih tenang beribadah dengan memahami perbedaan ini. Saat kita dihadapkan pada perbedaan pandangan ulama tentang apakah menyentuh istri membatalkan wudhu, maka yang terbaik adalah mengambil sikap yang membuat hati kita lebih tenang. Jika ragu, kita bisa memperbarui wudhu agar ibadah menjadi lebih khusyuk. Tapi jika sedang dalam kondisi yang sulit, seperti di perjalanan atau dalam keadaan terbatas, maka mengikuti pendapat ulama yang lebih ringan juga diperbolehkan. Baca Juga : 4 Janji Allah untuk Pecinta Shalat Tahajud Islam selalu memberikan kelapangan kepada umatnya, dan tidak pernah bermaksud menyulitkan. Karena itu, memahami hukum seperti ini sebaiknya tidak dijadikan beban, melainkan sebagai bentuk ikhtiar agar ibadah kita tetap terjaga kualitasnya. Dari pembahasan di atas, kita bisa melihat bahwa ulama memiliki perbedaan dalam menjawab pertanyaan apakah menyentuh istri membatalkan wudhu. Sebagian mengatakan batal, terutama jika disertai syahwat, sementara sebagian lain menilai tidak batal kecuali ada hubungan intim. Sebagai umat Islam, kita bisa memilih pendapat yang sesuai dengan keyakinan kita, seraya tetap menjaga kesucian wudhu untuk ibadah. Yang paling penting bukan hanya soal apakah menyentuh istri membatalkan wudhu atau tidak, melainkan bagaimana kita menjaga ibadah agar lebih khusyuk dan bernilai di hadapan Allah. Dengan sikap hati-hati, insyaAllah kita akan lebih tenang dalam beribadah.(**) Penulis : Iffah Faridatul Hasanah Editor : Toto Budiman Foto : Ilustrasi AI

Read More

Ulama Nusantara yang Berpengaruh, Tapi Jarang Dibahas di Sekolah

Bogor – 1miliarsantri.net : Saat berbicara tentang ulama besar dalam sejarah Islam, banyak dari kita langsung teringat pada nama-nama dari Timur Tengah seperti Imam Syafi’i, Imam Bukhari, atau Ibnu Sina. Padahal, di Nusantara sendiri ada banyak ulama besar yang pengaruhnya sangat kuat, baik dalam bidang dakwah, pendidikan, politik, hingga budaya. Namun jarang dibahas secara mendalam dalam kurikulum sekolah formal. Mereka adalah para ulama yang tidak hanya mengajarkan agama, tetapi juga berjuang melawan penjajahan, membangun masyarakat, hingga merumuskan gagasan pendidikan dan kebudayaan. Dengan mengulas kembali kiprah mereka, masyarakat akan memahami bahwa sejarah bangsa tidak hanya dipenuhi dengan tokoh politik dan pahlawan perang, tetapi juga dengan ulama-ulama visioner yang kontribusinya sangat besar bagi lahirnya Indonesia yang berdaulat, religius, dan berbudaya. Mengenal kembali sosok-sosok ini penting. Selain memperluas wawasan sejarah, juga membangkitkan rasa bangga sebagai bagian dari bangsa yang memiliki jejak keilmuan Islam yang sangat kaya. Mengapa Ulama Lokal Kurang Diangkat dalam Pembelajaran? Salah satu alasan mengapa banyak ulama Nusantara “terlupakan” adalah karena narasi sejarah yang cenderung sentralistik dan kurang memberi ruang pada tokoh lokal. Selain itu, keterbatasan referensi dan kurangnya minat baca sejarah juga membuat nama-nama mereka tidak sepopuler tokoh-tokoh luar negeri. Padahal, kontribusi mereka luar biasa dalam menyebarkan Islam yang ramah, membaur dengan budaya lokal, dan relevan dengan konteks masyarakat saat itu bahkan hingga kini. Beberapa Ulama Nusantara yang Layak Dikenal 1. Syekh Yusuf Al-Makassari (Makassar, Sulawesi Selatan) Beliau adalah tokoh ulama dan pejuang anti-kolonial yang dihormati tidak hanya di Indonesia, tapi juga Afrika Selatan. Ia dikenal sebagai ulama sufi yang juga menulis banyak karya spiritual dan sosial-politik. 2. Syekh Nawawi Al-Bantani (Banten) Dikenal sebagai “Imam Masjidil Haram” asal Nusantara karena pernah menjadi pengajar tetap di Makkah. Karyanya dalam bidang tafsir, fikih, dan tasawuf menjadi rujukan ulama dunia Islam hingga saat ini. 3. Tuanku Imam Bonjol (Sumatera Barat) Selain sebagai pemimpin perang Padri, beliau juga dikenal sebagai ulama reformis yang ingin memurnikan ajaran Islam dari praktik menyimpang. Ia memperjuangkan pembaruan agama berbasis pemahaman yang mendalam. 4. KH Ahmad Dahlan & KH Hasyim Asy’ari Dua nama besar ini dikenal sebagai pendiri organisasi besar: Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Kontribusi mereka sangat besar dalam pendidikan dan pemikiran Islam di Indonesia, namun kadang dibahas hanya sebatas “nama besar” tanpa menggali ajaran dan perjuangannya. Baca Juga : Kisah KH Miftachul Akhyar Jadi Ulama Besar Ulama dan Pendidikan: Warisan Nyata Salah satu warisan terbesar para ulama Nusantara adalah sistem pendidikan pesantren. Di sinilah lahir ribuan santri, kader ulama, bahkan tokoh-tokoh pergerakan nasional. Sistem ini membuktikan bahwa ulama bukan hanya tokoh agama, tapi juga pendidik, pemikir, dan pemimpin sosial. Namun, sejarah besar ini sering kali luput dalam pelajaran sekolah. Kurikulum jarang menggambarkan kontribusi ulama sebagai bagian dari pembangunan bangsa secara utuh. Baca Juga : perjuangan santri dan ulama Pentingnya Reinterpretasi Sejarah Mengingat kembali ulama Nusantara bukan sekadar nostalgia. Ini adalah bagian dari jihad intelektual, membangun kesadaran sejarah yang utuh dan adil. Generasi muda perlu tahu bahwa Islam di Indonesia berkembang melalui pendekatan damai, adaptif, dan penuh kebijaksanaan, bukan dengan kekerasan atau pemaksaan. Membicarakan ulama Nusantara adalah membicarakan akar kita sendiri. Mereka adalah pilar penting dalam perkembangan Islam di Indonesia. Dengan mengenal mereka lebih dekat, kita bukan hanya belajar sejarah, tapi juga belajar tentang keteladanan, keilmuan, dan semangat perjuangan yang tak lekang oleh waktu. Sudah saatnya sekolah-sekolah, media, dan komunitas Muslim lebih banyak mengangkat sosok-sosok ini. Karena menghormati ulama adalah bagian dari mencintai ilmu dan merawat jati diri bangsa. Ulama Nusantara yang jarang dibahas di sekolah sejatinya menyimpan lautan ilmu, perjuangan, dan keteladanan yang bisa menjadi cermin bagi generasi muda. Mereka bukan hanya penjaga agama, tetapi juga pejuang peradaban yang mengajarkan kemandirian, toleransi, dan cinta tanah air. Mengangkat kembali kisah-kisah mereka berarti menghidupkan warisan luhur yang selama ini terpendam, agar cahaya perjuangan mereka terus menerangi langkah bangsa. Semoga generasi sekarang mampu meneladani semangat itu, menjadikannya bekal untuk membangun Indonesia yang bermartabat, berilmu, dan berakhlak mulia. (***) Penulis: Salwa Widfa Utami Editor : Iffah Faridatul Hasanah Foto Ilustrasi AI

Read More

Tradisi Jabutan dalam Perayaan Maulid Nabi di Jawa Timur

Gresik – 1miliarsantri.net : Perayaan Maulid Nabi di malam 12 Rabiul Awal atau lebih dikenal dengan bulan Mulud (dalam bahasa jawa), menjadi waktu pengingat umat muslim akan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Perayaan Maulid Nabi Setiap tahunnya diperingati dalam acara muludan dengan membaca rowi dan sholawat nabi. Beberapa daerah di Jawa Timur memiliki tradisi unik dalam melaksanakan muludan yaitu jabutan. Tradisi peraayaan maulid nabi tersebut masih dilestarikan sampai saat ini, seperti di daerah Gresik, Surabaya, Malang, dll. Selama bulan Mulud dapat kita jumpai di musholla, masjid, sekolah ikut memeriahkan acara perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Semua umat muslim menyambut gembira dengan harapan mendapat syafa’at dari nabi kelak di akhirat. Selain menjadi bulan pengingat kelahiran nabi, perayaan maulid nabi di bulan ini menjadi waktu yang ditunggu anak-anak, remaja, dewasa, dan orang tua untuk melakukan tradisi jabutan. Prosesi Tradisi Jabutan dalam Perayaan Maulid Nabi Tradisi jabutan di Masjid Darul Muttaqin Tradisi jabutan yang dimiliki daerah Jawa Timur, masih ada sampai saat ini. Jabutan merupakan sesuatu yang diambil dengan cara menjabut. Tradisi jabutan berarti mengambil sesuatu yang diikat serta digantungkan di atas dan diambil saat tiba pembacaan Fahtazzal. Barang yang biasanya digantung adalah makanan ringan, uang, bunga, aksesoris, bumbu dapur, peralatan rumah tangga, dll. Setiap daerah memiliki barang yang dipajang berbeda-beda sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan masyarakat sekitar. Tradisi secara turun temurun ini, turut meramaikan perayaan acara maulid nabi dan mengundang antusias masyarakat untuk hadir. Masyarakat yang hadir bebas memilih tempat duduk sesuai dengan incaran apa yang akan diambil dari barang yang digantung. Namun tidak boleh asal mengambil, masyarakat harus membaca rowi dan sholawat nabi dalam diba’ terlebih dahulu, secara berurutan. Untuk mengingat dan menyambut dengan suka cita akan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada saat pembacaan Fahtazzal baru diperbolehkan untuk menjabut barang-barang yang digantungkan dan dilanjut berdiri membaca sholawat Ya Nabi Salam Alaika. Begitu ramai dan gembira masyarakat untuk menjabut barang-barang tersebut dan diharapkan sesuatu yang diambil menjadi berkah maulid nabi. Baca juga : Rahasia Maulid Nabi yang Jarang Diketahui Prosesi Tradisi Perayaan Maulid Nabi Maulid Nabi di Musholla Darun Na’im Perayaan maulid nabi di mulai dengan mengkhatamkan 30 juz al-qur’an di pagi sampai siang hari. Dibaca secara bergiliran oleh masyarakat setempat. Secara sukarela masyarakat memberikan barang atau uang untuk digantungkan sebagai tradisi jabutan. Sebagian masyarakat turut membantu menggantungkan barang tersebut dengan tali yang diikat dari ujung dinding ke ujung lainnya. Sedangkan di malam hari masyarakat membawa makanan atau minuman untuk berkat. Ada pula yang memberikan uang dalam amplop di dalam hidangan yang dibawa, sebagai sedekah dalam muludan. Acara dimulai dengan membaca sholawat nabi dan rowi secara bergantian. Ditengah-tengah pembacaan tersebut berlangsung tradisi jabutan, yang menjadi tradisi turun temurun sejak mereka kecil menurut pendapat masyarakat setempat. Dan tetap dilakukan secara terus menerus sampai generasi saat ini. Baca juga : sejarah peringatan maulid Nabi Kemudian ditutup dengan membaca do’a bersama. Makanan atau minuman yang dibawa dengan nampan oleh masyarakat setiap rumah, ditukar dengan milik masyarakat yang lain. Sehingga yang didapat di nampan akan bervariasi, seperti nasi kuning, ketan, buah, roti, jeli, es, susu, makanan ringan, dll. Nampan tersebut menjadi berkat untuk dibawa pulang kembali. Tradisi jabutan di berbagai kota yang ada di Jawa Timur, sudah ada sejak lama. Dimana masyarakat golongan tua turut merasakan saat mereka masih anak-anak dulu. Hanya saja berbeda pada variasi barang yang digantung dan makanan yang dibawa, telah mengalami pergeseran sesuai perkembangan zaman. Bacaan rowi, sholawat nabi, barang dan makanan yang didapat saat maulid nabi menjadi pengingat masyarakat akan kehadiran Nabi Muhammad SAW dan menjadi berkah bagi umat pengikutnya. (**) Penulis : Zubaidatul Fitriyah Editor : Toto Budiman & Iffah Faridatul Hasanah Foto : Dokumentasi 1MS

Read More

Dakwah Ekologis dalam Kehidupan: Menyeru Manusia, Menyelamatkan Alam

Surabaya – 1miliarsantri.net : Dakwah ekologis dalam kehidupan bermaksud menjaga fitrah manusia dan alam sekitar tetap harmonis berdampingan. Manusia lahir, tumbuh, dan berkembang bersama dengan lingkungan sekitarnya. Namun, di era modern ini, dakwah ekologis perlu digencarkan kembali mengingat hubungan manusia dengan alam seringkali tidak lagi harmonis. Kerusakan hutan, pencemaran sungai, hingga perubahan iklim global menjadi bukti bahwa manusia kerap lalai menjaga bumi. Padahal, Islam menegaskan bahwa manusia diciptakan sebagai khalifah di muka bumi, yang tidak hanya mengatur kehidupan sosial, tetapi juga menjaga keseimbangan alam semesta. Dakwah ekologis yang menyeru manusia untuk menyelamatkan alam, perlu lebih sering disuarakan kepada masyarakat. Kehidupan di pondok pesantren bisa menjadi contoh nyata kedekatan manusia dengan alam. Saya sendiri tinggal di pondok yang terletak di tengah hamparan sawah hijau. Setiap pagi, Allah menghadirkan kicauan burung, semilir angin, dan keelokan gunung yang megah, seakan mengingatkan kita pada kebesaran-Nya. Kehidupan sederhana ini sesungguhnya adalah pelajaran bahwa manusia bisa hidup damai bersama alam, tanpa harus merusaknya. Landasan Teologis Dakwah Ekologis Al-Qur’an berulang kali menegaskan pentingnya menjaga bumi. Allah berfirman dalam QS. Al-A’raf: 56: وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا  “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya…” Ayat ini menjadi dasar tegas bahwa segala bentuk kerusakan lingkungan adalah perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Islam. Rasulullah SAW pun memberi teladan yang sama. Beliau bersabda: “Jika kiamat telah tiba, sementara di tangan salah seorang di antara kalian ada bibit tanaman, maka jika ia mampu menanamnya, hendaklah ia menanamnya.” (HR. Ahmad). Hadits ini menegaskan bahwa menjaga alam bukan sekadar aktivitas duniawi, tetapi juga amal shalih yang bernilai ibadah. Dengan demikian, dakwah ekologis adalah bagian dari amar ma’ruf nahi munkar: mengajak manusia menjaga bumi, dan melarang mereka merusaknya. Baca juga : Spirit Muslim Merawat Lingkungan: Jihad Ekologis dalam Menjaga Alam Pesantren dan Dakwah Ekologis Pesantren sejak lama dikenal sebagai pusat pendidikan agama sekaligus tempat melatih kesederhanaan hidup. Namun, dalam konteks dakwah ekologis, pesantren memiliki potensi besar sebagai pelopor gaya hidup ramah lingkungan. Pondok Berdekatan dangan Alam Pedesaan Kehidupan nyantri di ma’had tahfidzul qur’an Darul Hijrah Salam di Pandaan, yang saya alami sehari-hari adalah contoh bagaimana santri bisa hidup dekat dengan alam. Udara segar, lingkungan hijau, dan sawah yang luas mengajarkan arti kesederhanaan. Santri terbiasa hemat air, tidak berlebihan dalam makanan, serta menjaga kebersihan lingkungan pondok. Hal-hal sederhana ini sejatinya adalah praktik dakwah ekologis yang harus terus dipertahankan. Salah satu contoh lebih nyata adalah Pesantren Tholabie Ilmi di Malang. Pondok ini mengajarkan para santri bertani, beternak, dan bahkan merawat tanaman hidroponik dengan bantuan teknologi internet. Dengan pendekatan modern dan enterpreneurhip, pesantren tidak hanya mendidik santri memahami ilmu agama, tetapi juga membekali mereka dengan keterampilan menjaga alam dan sekaligus mencetak alumninya menjadi wirausaha di masa depan. Pesantren ini bisa menjadi model eco-pesantren enterpreneur yang mengintegrasikan dakwah, ilmu pengetahuan, dan ekologi. Baca juga : Ekonomi Hijau dan UMKM: Sinergi Baru untuk Pembangunan Berkelanjutan Relevansi dan Implementasi Dakwah ekologis menjadi semakin relevan di tengah krisis lingkungan global. Melalui pendekatan Islam, kita bisa mengubah cara pandang manusia: menjaga alam bukan sekadar kewajiban sosial, melainkan juga bagian dari iman. Implementasi dakwah ekologis bisa dimulai dari hal kecil: Dengan dakwah yang kreatif, pesantren dapat menjadi pionir dalam menyebarkan semangat menjaga lingkungan kepada masyarakat luas. Tantangan dan Solusi Memang, masih banyak tantangan dalam menjalankan dakwah ekologis. Kurangnya kesadaran masyarakat, gaya hidup konsumtif, serta minimnya edukasi lingkungan sering menjadi penghambat. Namun, Islam selalu menawarkan solusi. Dakwah harus dilakukan dengan sabar dan berkelanjutan. Kesimpulan Alam adalah amanah dari Allah yang harus dijaga, bukan dieksploitasi. Dakwah ekologis adalah bentuk nyata ibadah, karena dengan menjaga bumi, kita juga menjaga kehidupan generasi mendatang. Pesantren dengan segala kesederhanaannya telah memberi contoh bagaimana manusia bisa hidup selaras dengan alam. Dari pondok di tengah sawah hingga Pesantren Tholabie dengan teknologi ramah lingkungan, semua adalah wujud nyata bahwa Islam selalu relevan dengan isu ekologis. Saatnya kita menyadari bahwa menyelamatkan alam sama dengan menyelamatkan manusia. Dakwah ekologis bukan hanya seruan, tetapi juga aksi nyata. Dan aksi itu bisa kita mulai dari diri sendiri, dari hal-hal kecil, dan dari lingkungan terdekat kita. (**) Kontributor Santri : Zufar Rauf Budiman Editor: Glancy Verona Ilustrasi by AI

Read More

Bahasa Indonesia: Dari Bahasa Persatuan Menjadi Bahasa Internasional

Bahasa Indonesia Resmi Ditetapkan Menjadi Official Language Konferensi Umum (General Conference) UNESCO Bekasi – 1miliarsantri.net: Bahasa Indonesia bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga identitas bangsa. Sejak Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, Bahasa Indonesia ditetapkan sebagai bahasa persatuan yang mempersatukan beragam suku dan budaya. Kini, hampir satu abad kemudian, Bahasa Indonesia naik kelas menjadi bahasa internasional berkat keputusan UNESCO. Dikutip dari SETKAB Bahasa Indonesia berhasil ditetapkan sebagai bahasa resmi atau official language Konferensi Umum (General Conference) Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNESCO – PBB. Keputusan tersebut ditandai dengan diadopsinya Resolusi 42 C/28 secara konsensus dalam sesi Pleno Konferensi Umum ke-42 UNESCO, Senin (20/11/2023) di Markas Besar UNESCO di Paris, Prancis. Bahasa Indonesia Sejajar Dengan 9 Bahasa Dunia Lainnya Pengakuan UNESCO pada tahun 2023 menjadikan Bahasa Indonesia sejajar dengan beberapa bahasa lain yang sudah diakui lebih dulu, berikut urutan bahasa yang tekah ditetapkan sebagai bahasa intyernasional: Dampak Besar dan Tantangan Pengakuan Bahasa Indonesia Sebagai Bahasa Internasional Pengakuan ini menandai pentingnya bahasa Indonesia di kancah global, mengingat jumlah penuturnya mencapai lebih dari 275 juta orang. Pengakuan ini membawa Tiga Dampak Utama bagai Bangsa Indonesia umumnya dan Generasi Muda khususnya: Tantangan Bagi Bangsa Indonesia dan Generasi Muda : Meski sudah diakui UNESCO, ada tantangan besar, generasi muda harus menjaga kemurnian dan kreativitas dalam berbahasa. Dominasi bahasa asing di media sosial bisa menggeser kebiasaan berbahasa Indonesia. Kreativitas dalam sastra, musik, dan konten digital perlu terus ditumbuhkan agar bahasa Indonesia tetap hidup dan relevan.*** Penulis : Thamrin Humris Editor : Thamrin Humris Foto istimewa kolase WIKIPEDIA

Read More