Gaza yang Dijanjikan: Kota Pintar Bernilai Miliaran Dolar, Bentuk Penjajahan Wajah Baru

Gaza – 1miliarsantri.net : Di atas tanah yang berlumur debu dan darah, Gaza kembali dijanjikan keajaiban—bukan berupa kebebasan yang lama dirindukan rakyatnya, melainkan gedung-gedung kaca berkilau, jalan tol raksasa, dan pulau buatan yang menyerupai mimpi Dubai. Mewujudkan sebuah Kota Pintar bernilai miliaran dolar. Namun, di balik narasi pembangunan itu, seorang anak kecil yang duduk di antara reruntuhan masih menggenggam batu, bukan kunci rumah; masih menatap langit kosong, bukan cahaya masa depan. Inilah ironi yang menusuk: ketika pihak-pihak yang berkepentingan sibuk merancang Gaza sebagai kota pintar bernilai miliaran dolar, rakyat Gaza justru dihadapkan pada risiko kehilangan satu-satunya hal yang tersisa—tanah, martabat, dan hak untuk menentukan masa depannya sendiri. Sebuah bentuk penjajahan wajah baru sedang berlangsung secara kasat mata. Nama yang Megah: The GREAT Trust Rencana itu diberi nama The GREAT Trust (The Gaza Reconstitution, Economic Acceleration and Transformation Trust). Di atas kertas, ia terdengar monumental—sebuah Gaza baru, bukan hanya bangkit dari kehancuran, tetapi “diciptakan kembali”. Gaza yang digadang-gadang bukan lagi kubu perlawanan, melainkan jantung ekonomi Mediterania. Gaza yang diimajinasikan bernilai ratusan miliar dolar, dengan gedung futuristik dan jalan tol lebar bernama MBS Ring dan MBZ Highway. Bagi  kalangan tertentu, mimpi itu terdengar seperti utopia. Namun bagi yang lain, ia justru menyerupai distopia. Gaza Sebagai Papan Catur Bagi para arsitek proyek ini, Gaza bukan sekadar wilayah kecil yang luluh lantak. Ia adalah simpul sejarah dan geografi. Terletak di jalur perdagangan kuno—dari Mesir menuju Babilonia, dari India menuju Eropa—Gaza disebut “harta terabaikan”. Tetapi, dalam lensa mereka, Gaza juga dianggap masalah: sebuah “outpost Iran” di tepi Mediterania, sekaligus batu sandungan bagi arsitektur Abrahamic yang coba dibangun Amerika bersama Israel dan negara-negara Teluk. Karena itu, proyek ini bukan murni pembangunan fisik, melainkan rekayasa geopolitik. Hamas harus disingkirkan, Gaza harus ditata ulang, dan rakyatnya diarahkan pada masa depan baru—meskipun bukan masa depan yang mereka pilih sendiri. Kota Pintar dan Pulau Buatan Dalam dokumen rencana, Gaza masa depan digambarkan spektakuler. Enam hingga delapan kota pintar berbentuk irisan, lengkap dengan sekolah modern, rumah sakit internasional, kawasan hijau, dan industri ringan. Semua layanan berbasis digital dengan sistem identitas tunggal, diawasi kecerdasan buatan. Sumber foto: The Guardian Di sepanjang pantai, berdiri resort mewah bertajuk “Gaza Riviera”, dilengkapi pulau buatan yang meniru Palm Jumeirah di Dubai. Sementara di perbatasan, direncanakan kawasan manufaktur berteknologi tinggi bernama “Elon Musk Smart Manufacturing Zone”. Tak jauh dari situ, pusat data raksasa American Data Safe Haven akan menyimpan miliaran data regional dengan regulasi Amerika. Gaza pun diproyeksikan bukan sekadar ruang hidup rakyat Palestina, tetapi etalase modernitas global—futuristik, steril, dan menguntungkan investor. Namun, pertanyaan mendasar tetap menghantui: siapa yang benar-benar akan berjalan di jalan-jalan kota pintar itu? Apakah anak kecil yang kini duduk di atas puing akan memiliki rumah di dalamnya? Atau Gaza baru hanya akan menjadi milik mereka yang punya modal, paspor, dan akses politik? Tanah Gaza Jadi Token Digital Aspek paling kontroversial bukan sekadar megahnya rancangan, melainkan skema pendanaannya. Gaza akan diubah menjadi “land trust”. Lebih dari 30% tanah publik disewakan untuk jangka 25–99 tahun. Tanah itu kemudian “ditokenisasi” lewat blockchain, dijadikan aset digital yang bisa diperdagangkan. Investor global dapat membeli token, memiliki sebagian Gaza secara virtual, dan meraup keuntungan nyata. Sumber foto: The Guardian

Read More

Maulid Nabi Muhammad Dalam Tradisi Perayaan Dunia dan Nusantara

Perayaan Maulid Nabi Di Kalangan Umat Islam di Timur Tengah, Afrika, Asia dan Nusantara Kota Bekasi – 1miliarsantri.net: Umat Islam di berbagai belahan dunia merayakan Maulid Nabi. Maulid Nabi merupakan peringatan hari kelahiran Rasulullah yang diperingati setiap 12 Rabiul Awal dalam kalender Hijriyah. Selain sebagai ungkapan syukur, perayaan ini mencerminkan kekayaan budaya umat Islam di seluruh dunia. Muhammad bin Abdullah, dikenal sebagai Nabi Muhammad SAW merupakan utusan terakhir Allah yang mengemban risalah Islam dan membawa rahmat bagi semesta. Kelahiran Nabi Muhammad menjadi waktu yang istimewa bagi umat Islam untuk mengenang sosok agung pembawa risalah Islam dan merefleksikan nilai-nilai luhur yang beliau wariskan. Sejarah Lahirnya Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasallam Nabi Muhammad SAW lahir pada hari Senin, 12 Rabiul Awal Tahun Gajah (sekitar 570 M) di Makkah. Tahun Gajah dinamai demikian karena pada tahun itu pasukan bergajah pimpinan Abrahah hendak menghancurkan Kaʿbah, namun Allah mengirimkan burung ababil yang menggagalkan penyerangan mereka sebagaimana tercantum dalam Surah Al-Fil:1–5. Lahir dari pasangan Abdullah bin Abdul Muthalib dan Aminah binti Wahab, keturunan Bani Hasyim. Sejak dalam kandungan, Aminah mengalami berbagai tanda luar biasa: mimpi bertemu Nabi Ibrahim, cahaya yang menerangi dunia, dan kedamaian spiritual yang mendalam. Riwayat sejarah juga mencatat beberapa fenomena luar biasa menyertai kelahiran beliau: padamnya api sesembahan Majusi yang telah menyala lebih dari seribu tahun, runtuhnya balkon-balkon istana Kisra di Persia, dan terpancar cahaya terang dari Makkah hingga negeri Syam sebagai isyarat kelahiran pembawa rahmat bagi semesta. Sejarah Perayaan Maulid Nabi Muhammad Di Dunia Islam, Tradisi Maulid Nabi tidak dilakukan pada masa Rasulullah maupun para sahabat. Perayaan ini mulai dikenal pada abad ke-4 Hijriyah oleh Dinasti Fatimiyyun di Mesir. khususnya saat Khalifah al-Mu‘izz li-Dīnillāh mempelopori perayaan hari kelahiran Rasulullah sebagai momen penghormatan dan penguatan identitas keislaman. Sultan Salahuddin al-Ayyūbī kemudian mengadopsi dan menyebarluaskan tradisi ini pada abad ke-12 M sebagai sarana meningkatkan semangat keumatan di tengah Perang Salib. Sementara itu, tokoh seperti Khaizuran binti Atha pada 170 H/786 M memerintahkan warga Madinah dan Makkah untuk merayakan Maulid di masjid Nabawi dan rumah-rumah mereka, menjadikannya praktik yang lebih meluas pada masa itu. Raja Al-Mudhaffar Abu Sa’id Kukburi dari Irbil dikenal sebagai tokoh yang mempopulerkan Maulid dengan perayaan besar dan sedekah hingga 300.000 dinar. Maulid Nabi Di Timur Tengah MESIR : Perayaan Maulid dikenal sebagai Moulid al-Nabi, festival ini berlangsung sepanjang bulan. Jalanan dihiasi lampu warna-warni, masyarakat membuat dan membagikan permen tradisional halawet al-moulid, anak-anak mendapat hadiah, serta digelar zikir bersama, pembacaan sirah, dan parade budaya. IRAK dan SURIAH : Nuansanya lebih khidmat dengan majelis zikir, pembacaan Al-Qur’an, dan tausiyah kelahiran Rasulullah di masjid-masjid besar. Jamaah datang mengenakan pakaian terbaik untuk memperkuat rasa ukhuwah. Maulid Nabi Di Benua Afrika SUDAN : Tradisi didominasi dzikir dan pembacaan qasidah. Kelompok Sufi menampilkan tarian dzikir berkelompok sebagai ekspresi kekuatan spiritual dan cinta kepada Rasulullah.

Read More

Biadab! Israel Bersiap Hentikan Semua Bantuan Kemanusiaan Ke Gaza Utara dan Lakukan Pengusiran Paksa

Zionis Israel Berencana Menghentikan Bantuan Udara dan Blokir Konvoi Darat Gaza, Palestina – 1miliarsantri.net: Tindakan otoritas Israel yang bersiap mengentikan semua bentuk bantuan kemanusiaan ke Gaza Utara, ditenggarai sebagai upaya yang disengaja untuk meklakukan pengusiran paksa terhadap lebih dari 1 juta warga sipil. Media Israel memberitakan, apa yang direncanakan oleh pemerintahan Benyamin Netanyahu mencakup penghentian pengiriman bantuan udara dan pemblokiran konvoi darat yang sudah langka, yang secara efektif merampas pasokan makanan, obat-obatan, dan kebutuhan pokok Kota Gaza dan sekitarnya. Kejahatan Perang Menurut Hukum Internasional Mengutip SAFA Press Agency beberapa Kelompok Hak Asasi Manusia telah memperingatkan bahwa kebijakan tersebut merupakan senjata kelaparan dan pengungsian paksa, tindakan yang dianggap sebagai kejahatan perang menurut hukum internasional. Apa yang dilakukan penjajah Israel menimbulkan konsekuensi yang sangat buruk bagi warga Palestina yang bertahan di Gaza Utara. Keluarga-keluarga di utara bertahan hidup dengan pakan ternak dan air yang tidak diolah, sementara rumah sakit tidak dapat beroperasi dan perawatan medis hampir tidak ada. Tentara Israel Menjadikan Pencari Bantuan Sebagai Sasaran Tembak

Read More

Robot Militer Israel Bawa 5 Ton Bahan Peledak, Gaza Hancur Jadi Puing-Puing

Zionis Israel Gunakan Robot Bermuatan 5 Ton Bahan Peledak, 300 Rumah Di Gaza Rata Dengan Tanah Gaza – 1miliarsantri.net: Tindakan barbar dan tidak berperikemanusiaan dipertontonkan militer zionis Israel. Tentara pendudukan Yahudi itu terus melanjutkan agresinya di Kota Gaza dengan cara baru yang mematikan dan menjadikan Gaza ladang pembantaian, sementara dunia dan negara-negara Arab seolah diam membisu menyaksikan Gaza mati perlahan. Militer zionis menggunakan robot jebakan bermuatan bahan peledak hingga 5 ton untuk menghancurkan rumah warga, alun-alun, dan infrastruktur sipil. Serangan intensif ini terutama terjadi di Jabalia Al-Balad, Nazla, Abu Iskandar, serta lingkungan Al-Zaytoun dan Al-Sabra. Mereka menggunakan robot yang M113, yang merupakan kendaraan pengangkut personel buatan Amerika yang sudah tua. Kendaraan ini dimodifikasi sarat bahan peledak dan dikendalikan dari jarak jauh. Tentara Israel mengarahkannya ke lokasi sipil tertentu sebelum diledakkan, sering kali pada larut malam atau saat fajar, untuk memaksimalkan kerusakan sekaligus menyebarkan ketakutan dan memaksa warga mengungsi. Skala Kehancuran Mengutip SAFA Press Agency serangan ini pertama kali tercatat pada invasi ke Kamp Jabalia, Gaza utara, Mei dan Oktober 2024, sebelum meluas ke wilayah lain. Menurut laporan lapangan, lebih dari 85% rumah dan infrastruktur hancur di Shujaiya dan Al-Tuffah, serta sekitar 70% di Al-Zaytoun, Al-Sabra, Jabalia Al-Nazla, dan Al-Balad. Suara ledakan bom mobil ini bisa terdengar hingga 40 km dari pusat ledakan, menandakan daya rusak luar biasa. Sementara itu, Euro-Med Human Rights Monitor mencatat: Israel menghancurkan sekitar 300 rumah per hari di Kota Gaza dan Jabalia, menggunakan sekitar 15 kendaraan peledak dengan total muatan 100 ton bahan peledak. Alat Pembunuhan Massal Direktur Kantor Media Pemerintah di Gaza, Ismail Al-Thawabteh, menyebut robot peledak ini sebagai “alat pembunuhan jarak jauh” yang jelas melanggar hukum humaniter internasional.

Read More

Ketika Generasi Muda Amerika Bangkit Membela Palestina, Pertanda Hati yang Terbuka

Gaza – 1miliarsantri.net : Di tengah gemuruh berita internasional yang semakin bising, sebuah suara berbeda muncul dari jantung Amerika. Suara itu datang dari generasi muda—Generasi Z dan Milenial awal—yang mulai memandang perang Israel-Palestina dengan hati yang lebih terbuka. Bukan lagi sekadar data statistik atau jargon politik, melainkan gelombang empati yang tumbuh, menggeser paradigma lama yang selama puluhan tahun membungkus kebijakan luar negeri Amerika. Pertanyaan yang tertinggal untuk Santri Indonesia: tetap diam, atau ikut bergerak melawan ketidakadilan Israel? Sebuah survei terbaru yang dirilis oleh University of Maryland Critical Issues Poll (Agustus 2025) menunjukkan adanya pergeseran besar dalam pandangan publik Amerika. Survei yang dilakukan pada 29 Juli hingga 7 Agustus 2025 dengan melibatkan 1.514 responden dewasa ini menemukan fakta mengejutkan. Sumber foto: University of Maryland Untuk pertama kalinya, simpati masyarakat Amerika terhadap Palestina melampaui dukungan pada Israel. Sekitar 28 persen responden menyatakan empati pada Palestina, sementara hanya 22 persen yang berpihak pada Israel. Lebih dari seperempat responden merasa simpati pada kedua belah pihak, dan sisanya memilih tidak berpihak sama sekali. Angka-angka ini tampak sederhana, namun sesungguhnya menyimpan cerita penting: generasi muda Amerika mulai menggugat narasi lama yang selama puluhan tahun menguasai politik Washington. Gelombang dari Generasi Z Perubahan paling tajam datang dari kelompok usia 18–34 tahun. Di rentang ini, 37 persen responden menyatakan simpati pada Palestina, sementara hanya 11 persen yang memilih Israel. Angka ini bukan sekadar statistik; ia adalah cermin dari hati nurani generasi yang tumbuh bersama internet, menyaksikan langsung gambar-gambar Gaza yang hancur, mendengar suara anak-anak yang menangis, dan membaca kisah keluarga yang tercerabut dari tanahnya. Generasi ini terbiasa membongkar narasi, mempertanyakan otoritas, dan membandingkan fakta dengan realitas di lapangan. Mereka menyaksikan penderitaan Palestina tidak melalui pidato politisi, melainkan melalui layar ponsel mereka—video pendek, kesaksian warga sipil, dan berita alternatif yang tak bisa lagi ditutup-tutupi. Bagi mereka, ini bukan soal politik luar negeri yang jauh, melainkan isu kemanusiaan yang nyata. Sumber foto: Aljazeera – AFP   Pergeseran Hati di Kampus dan Media Sosial Jika masuk ke kampus-kampus besar Amerika hari ini, mural, spanduk, hingga aksi duduk-diam mahasiswa yang menyerukan satu kata—Free Palestine—mudah ditemukan. Media sosial menjadi ruang utama yang membentuk kesadaran ini. Video anak-anak Gaza yang kehilangan rumah, ibu yang menangis di tenda pengungsian, atau suara takbir yang bercampur dengan ledakan, tersebar luas di media sosial. Solidaritas ini bukan sekadar ikut-ikutan. Bagi Generasi Z, membela Palestina menjadi bagian dari identitas mereka sebagai generasi yang menolak ketidakadilan. Isu rasisme, perubahan iklim, hingga kemerdekaan Palestina, semuanya mereka lihat sebagai satu benang merah: perjuangan untuk keadilan. Politik Amerika di Ambang Perubahan Pergeseran opini ini merembes ke ranah politik. Partai Demokrat kini menghadapi dilema: basis pemilih mudanya semakin keras menuntut agar pemerintah menghentikan dukungan buta kepada Israel. Sementara di Partai Republik—yang selama ini identik dengan pro-Israel—terlihat perpecahan internal. Jika 52 persen Republikan berusia di atas 35 tahun masih memihak Israel, angka itu anjlok menjadi hanya 24 persen di kalangan Republikan muda. Tekanan ini bisa mengubah wajah politik luar negeri Amerika di masa depan. Generasi Z adalah pemilih masa depan, dan suara mereka akan semakin dominan seiring memudarnya generasi lama. Tidak mustahil suatu hari kelak, ada presiden Amerika dari generasi ini yang berani menekan Israel menghentikan penjajahannya. Kata yang Dulu Tabu: Genosida

Read More

Tragedi Kemanusiaan Jurnalis di Gaza dan Kematian Jurnalisme Barat

Gaza – 1miliarsantri.net : Pada 25 Agustus 2025, langit Khan Younis kembali dipenuhi dentuman ketika dua serangan udara beruntun menghantam Nasser Hospital—satu-satunya rumah sakit besar di selatan Gaza. Tragedi kemanusiaan dalam serangan pertama menewaskan warga sipil dan jurnalis, lalu serangan kedua atau double-tap strike mengenai tim penyelamat dan rekan media yang datang. Di antara korban tewas adalah Hussam al-Masri (Reuters), Mariam Abu Dagga (Associated Press), Mohammed Salama (Al Jazeera), Moaz Abu Taha (Reuters), dan Ahmed Abu Aziz (Middle East Eye), beberapa di antaranya meregang nyawa saat kamera mereka masih menyala, menyiarkan detik-detik terakhir hidup mereka. Seolah nyawa jurnalis di Gaza yang memberitakan kebenaran fakta tentang genosida yang berlangsung secara massif, dianggap sebagai ancaman serius bagi Israel. Peristiwa ini menambah daftar panjang jumlah jurnalis Palestina yang tewas di Gaza sejak perang dimulai pada Oktober 2023, mencapai lebih dari 240 orang, angka yang menjadikan Gaza sebagai salah satu medan paling mematikan bagi wartawan dalam sejarah modern. (Reuters, 27/08/25). Namun di tengah gelombang duka itu, solidaritas global dari sesama jurnalis justru terasa nyaris sunyi, meninggalkan pertanyaan pahit yang terus menggema: ke mana suara kebebasan pers dunia ketika para wartawan Gaza menjadi sasaran, dan mengapa tidak ada gelombang solidaritas? “Saya Kehilangan Kata-Kata” Profesor studi media di Doha Institute for Graduate Studies, Mohamad ElMasry, mengaku tidak bisa lagi menyembunyikan rasa frustrasinya. “Israel telah berperang melawan jurnalisme sejak awal perang,” katanya kepada Al Jazeera. “Mereka tidak menyembunyikannya. Mereka sangat terbuka tentang ini.” Yang lebih mengejutkannya adalah sikap komunitas global. “Pertanyaan saya: di mana para jurnalis internasional? Di mana The New York Times? Di mana CNN? Di mana media arus utama Barat? Ketika jurnalis Charlie Hebdo terbunuh pada 2015, itu memicu kemarahan global berbulan-bulan. Itu jadi berita utama di semua media Barat. Dan saya memuji mereka atas solidaritasnya. Tapi sekarang, di mana kemarahan itu?” Kekecewaan ElMasry mencerminkan jurang moral yang kian melebar: kematian jurnalis di Paris dihormati sebagai tragedi global, sementara kematian jurnalis di Gaza diperlakukan sebagai catatan kaki. Keheningan yang Mengiris Kontras ini sulit diabaikan. Tahun 2015, ribuan orang turun ke jalan di Eropa membawa slogan “Je suis Charlie.” Politisi, seniman, hingga kepala negara memberikan pernyataan solidaritas. Media Barat memimpin kampanye global membela kebebasan pers. Kini, ketika jumlah jurnalis Palestina yang terbunuh jauh lebih banyak, responsnya nyaris nihil. Tidak ada headline besar yang mendominasi halaman depan koran internasional selama berbulan-bulan. Tidak ada hashtag mendunia yang memobilisasi solidaritas publik. Tidak ada pawai besar yang menuntut perlindungan pers. Diamnya media Barat, bagi banyak pengamat, lebih menyakitkan daripada bom itu sendiri. Karena di balik diam itu, tersimpan pesan bahwa nyawa wartawan Palestina dianggap kurang berharga Impunitas yang Terus Berulang Lembaga seperti CPJ (Committee to Protect Journalists) dan Human Rights Watch mencatat pola lama: tentara Israel berkali-kali menarget wartawan, namun hampir tak pernah ada yang dimintai pertanggungjawaban. Kasus Shireen Abu Akleh pada 2022 masih segar di ingatan—ditembak meski mengenakan rompi pers, dan sampai kini belum ada pelaku yang diadili. Impunitas ini memberi sinyal berbahaya: bahwa membungkam jurnalis Palestina tidak akan menimbulkan konsekuensi internasional. Dan selama media Barat memilih diam, pola ini akan terus berulang. Bias Narasi: Jurnalisme Kolonialis Mengapa newsroom besar begitu enggan bersuara? ElMasry menilai ini bukan sekadar kelalaian, melainkan konsekuensi dari bias naratif. Media Barat sering menggantungkan diri pada narasi resmi Israel, lalu mengulanginya tanpa verifikasi independen.

Read More

Fakta Menyakitkan Bayi Gaza Diberi Minum Air Garam: Kisah Nestapa Orang Tua di Tenda Pengungsian

Gaza – 1miliarsantri.net : Di tengah teriknya musim panas Gaza, di sebuah tenda pengungsian yang hanya diselimuti kain tipis, seorang ayah terpaksa memberikan air bercampur garam kepada bayinya yang baru berusia 10 bulan. Fakta menyakitkan bayi Gaza diberi minum air garam, adalah kisah nestapa di tenda pengungsian. Bukan karena ia tak peduli, melainkan karena itulah satu-satunya “minuman” yang bisa ia berikan ketika susu dan makanan tak lagi terjangkau. Kisah memilukan ini datang dari keluarga Alaa al-Ramlawi, pengungsi dari wilayah utara Gaza yang kini berlindung di Kamp al-Bureij. Di tenda panas yang nyaris tak bisa menahan sengatan matahari, ia tinggal bersama anak-anaknya yang masih kecil. Si bungsu, bayi perempuan, menangis lapar setiap hari. Tapi susu formula yang seharusnya menjadi haknya, hanya bisa dibayangkan. Alaa mengaku dengan nada getir bahwa dirinya tidak mampu membeli susu atau bahkan popok untuk anak-anaknya. Ia mengatakan, ia terpaksa memberi air bercampur garam kepada bayinya agar perutnya tidak kosong. Ia sendiri merasa hancur sebagai seorang ayah, tetapi tidak ada pilihan lain. Kondisi fisiknya pun memperparah keadaan. Kakinya cedera parah dan telah dipasangi plat besi, membuatnya sulit bekerja. Tanpa pekerjaan dan tanpa penghasilan, mustahil baginya untuk membeli kebutuhan anak-anak. Susu formula memang tersedia di pasar Gaza, tetapi dengan harga sekitar 200 shekel per kaleng—jumlah yang sama dengan gaji sebulan penuh buruh harian. Bagi keluarga miskin seperti Alaa, harga itu setara dengan jurang pemisah antara hidup dan mati. Buah Simalakama yang Menyayat Hati Ibu Palestina Istri Alaa mengakui bahwa ia tahu air bercampur garam berbahaya bagi anak-anak, tetapi dengan getir ia bertanya, “Lalu apa yang harus kulakukan? Apakah mereka harus mati?” Baginya, menyodorkan botol berisi cairan asin memang menyakitkan, namun tetap lebih baik daripada melihat mereka kelaparan hingga kehilangan nyawa. “Di dalam hati, aku ingin menangis, hatiku hancur dari dalam, tapi aku tidak bisa melakukan apa pun,” ucapnya. Anak-anak yang hanya tahu rasa asin Di tenda itu, dua anak lain, Injood (3 tahun) dan Mahmoud (5 tahun), tumbuh dengan rasa asin air garam. Saat ditanya, Injood dengan polos menyebut bahwa ia “minum air garam.” Bagi usianya yang masih belia, itu sudah menjadi kebiasaan, bukan lagi hal aneh. Mahmoud, dengan wajah pucat dan suara lirih, mengaku minum air garam karena lapar. Ia berkata ingin sekali makan roti dari tepung putih, tetapi sudah hampir 20 hari ia tidak menyentuh sepotong pun. Terakhir kali ia makan roti adalah ketika seorang tetangga iba memberikan 2 kilogram tepung. Sejak saat itu, ia hanya bertahan dengan falafel murah, satu porsi dibagi bersama saudara-saudaranya, ditambah air dan garam agar perut tidak sakit. “Anak-anak Gaza kini tidak lagi sekadar kekurangan susu atau popok,” kata pewawancara Al Jazeera dalam laporannya, “tetapi mereka tidak punya makanan sama sekali, kecuali garam yang diyakini bisa menahan perut dari kerusakan.” Ironi di balik blokade Situasi tragis ini terjadi meskipun ada laporan bahwa sebagian barang telah masuk ke Gaza. Namun bagi sekitar 80 persen warga, harga-harga terlalu tinggi untuk dijangkau. Sehingga, masuknya barang-barang itu justru hanya mempertebal luka—seolah ada makanan di pasar, tetapi mustahil untuk dibeli.

Read More

Ancaman Tarif AS Guncang Pasar, Tapi Raksasa Chip Malah Naik

Surabaya – 1miliarsantri.net: Pasar Asia kembali terguncang setelah mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman tarif 100 persen terhadap produk impor strategis, termasuk semikonduktor dan farmasi. Kebijakan ini menargetkan khususnya produk dari Tiongkok, dan memunculkan ketidakpastian di pasar global. Namun, reaksi pasar tidak sepenuhnya negatif. Saham raksasa teknologi seperti Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC), Samsung Electronics, dan SK Hynix justru melonjak dalam dua hari terakhir. Lonjakan ini terjadi setelah beredar laporan bahwa perusahaan yang memiliki pabrik di Amerika Serikat kemungkinan akan dikecualikan dari tarif tersebut. Investor melihat peluang besar bagi perusahaan yang telah lebih dahulu berinvestasi di manufaktur domestik AS. TSMC saat ini tengah membangun pabrik chip miliaran dolar di Arizona, sementara Samsung dan SK Hynix memperluas fasilitas di Texas. Langkah ini memberi keuntungan strategis karena mereka dapat memenuhi permintaan pasar AS tanpa terhalang tarif tinggi. Proteksionisme vs Realitas Rantai Pasok Global Meski narasi “America First” telah menjadi ciri khas Trump sejak 2016, kenyataannya memutus rantai pasok global bukan perkara mudah. Satu unit chip modern bisa melibatkan desain di AS, fabrikasi di Taiwan atau Korea Selatan, dan perakitan di Malaysia atau Tiongkok. Struktur produksi yang telah melebur dalam ekosistem lintas negara membuat pemisahan total menjadi tantangan besar. Perusahaan semikonduktor Tiongkok seperti SMIC menegaskan bahwa dampak tarif era Trump sebelumnya tidak sedramatis yang diperkirakan. Dukungan permintaan domestik serta program substitusi impor justru memperkuat posisi mereka. Bagi Beijing, tekanan eksternal menjadi pemicu untuk mempercepat kemandirian teknologi dan memperluas kapasitas produksi dalam negeri. Menurut laporan Brookings Institution, relokasi pabrik ke AS memang meningkatkan nilai tambah domestik, tetapi tidak menghapus ketergantungan pada pemasok global, terutama untuk bahan baku dan peralatan produksi. Kebijakan tarif lebih bersifat menggeser lokasi produksi daripada merevolusi rantai pasok. Di sisi lain, pemerintah Tiongkok secara terbuka menolak langkah tarif tambahan ini, menyebutnya berpotensi merusak stabilitas perdagangan global. Sikap serupa disuarakan oleh negara-negara Asia lain seperti Singapura, Malaysia, dan Jepang yang ekonominya bergantung pada ekspor elektronik dan komponen teknologi. Dampak Pasar dan Risiko bagi Industri AS Sendiri Ancaman tarif ini langsung terasa di pasar mata uang dan saham. Indeks dolar AS menguat karena investor memburu aset aman, sementara yen Jepang dan won Korea Selatan melemah. Bursa Tokyo dan Seoul mencatat penurunan akibat aksi ambil untung dan kekhawatiran akan volatilitas perdagangan. Namun, proteksionisme tidak serta merta menguntungkan industri chip dalam negeri AS. Produsen seperti Intel dan AMD masih mengandalkan komponen dan teknologi dari luar negeri untuk menjaga efisiensi biaya dan kecepatan inovasi. Jika tarif diberlakukan secara luas, biaya produksi bisa meningkat signifikan. Center for Strategic and International Studies (CSIS) memperingatkan bahwa kebijakan tarif yang terlalu agresif dapat menghambat proyek infrastruktur teknologi besar, termasuk pengembangan kecerdasan buatan (AI), layanan cloud, dan pusat data. Gangguan pasokan chip dapat memperlambat miliaran dolar investasi yang sedang berjalan di sektor digital.

Read More

Kesenjangan Regulasi AI Picu Kekhawatiran Negara Berkembang

Brussels – 1miliarsantri.net: Penerapan resmi Artificial Intelligence Act (AI Act) oleh Uni Eropa mulai 1 Agustus 2024 menandai era baru pengaturan kecerdasan buatan (AI) secara komprehensif. Regulasi ini diberlakukan bertahap selama 6 hingga 36 bulan ke depan, menjadi tonggak penting dalam memastikan penggunaan AI yang aman, transparan, dan menghormati hak asasi manusia. Namun, di balik kemajuan tersebut, muncul kekhawatiran serius bahwa kesenjangan regulasi antara Eropa dan negara-negara berkembang akan membuka celah bagi perusahaan teknologi global untuk memanfaatkan wilayah yang pengawasannya lemah sebagai lokasi eksperimen teknologi baru. AI Act: Standar Ketat Uni Eropa untuk Risiko Tinggi AI Act mengklasifikasikan sistem AI berdasarkan tingkat risiko. Sistem berisiko tinggi, seperti pengenalan wajah, penilaian otomatis dalam perekrutan, dan pemantauan massal, diwajibkan menjalani audit independen, memenuhi standar transparansi teknis, serta menyampaikan laporan berkala. Sementara itu, sistem yang dianggap menimbulkan risiko tak dapat diterima, seperti manipulasi perilaku menggunakan subliminal techniques atau social scoring oleh pemerintah, dilarang total. Tujuan utama AI Act adalah membangun kepercayaan publik terhadap AI sekaligus melindungi hak-hak dasar warga Eropa. Namun, laporan European Digital Rights (EDRi) pada Juli 2025 menyoroti fenomena regulatory arbitrage di mana perusahaan mencari pasar dengan regulasi longgar untuk menguji sistem yang mungkin gagal memenuhi standar ketat Eropa. Menurut EDRi, kondisi ini berpotensi menciptakan ekosistem global yang timpang, di mana masyarakat di negara dengan regulasi lemah menjadi “kelinci percobaan” teknologi berisiko tanpa perlindungan memadai. Negara Berkembang di Persimpangan Risiko dan Kebutuhan Organisasi pemantau hak digital seperti Access Now dan AlgorithmWatch menilai, tren penerapan AI di negara berkembang semakin mengkhawatirkan. Wilayah dengan perlindungan data rendah dan akses hukum terbatas menjadi target implementasi sistem AI skala besar, seperti pengenalan wajah di ruang publik atau penilaian otomatis untuk distribusi bantuan sosial. Masalah utamanya adalah mekanisme koreksi hampir tidak ada ketika sistem melakukan kesalahan, sehingga hak-hak warga terancam. Meski UNESCO telah merilis rekomendasi etika global AI sejak 2021, adopsinya masih minim. Data Global Partnership on Artificial Intelligence (GPAI) menunjukkan, hanya 12% negara di Afrika dan Asia Selatan yang telah memiliki kerangka hukum AI yang berjalan efektif hingga pertengahan 2025. Ketiadaan regulasi ini memperbesar ketimpangan digital dan membuka peluang terjadinya diskriminasi algoritmik. Laporan tahunan Center for AI and Digital Policy (CAIDP) pada 2025 menyebut, lebih dari 60% negara belum memiliki kebijakan AI yang mengikat secara hukum. Asia Tenggara dan Afrika Sub-Sahara disebut sebagai dua wilayah paling rentan karena ketergantungan tinggi pada platform asing dan lemahnya infrastruktur hukum.

Read More

Mesir Teken Kontrak Impor Gas dari Israel

Kairo – 1miliarsantri.net : Pemerintah Mesir secara resmi menandatangani kontrak impor gas alam dari Israel senilai lebih dari 35 miliar dolar AS (sekitar Rp570 triliun). Kesepakatan ini akan berlaku selama dua dekade, dengan pasokan gas pertama dijadwalkan pada 2026. Gas akan disalurkan dari ladang Leviathan di Laut Mediterania menuju terminal pengolahan di Mesir melalui pipa bawah laut. Kesepakatan ini melibatkan perusahaan energi besar seperti NewMed Energy, Chevron, dan Israel Natural Gas Lines. Kontrak baru memungkinkan ekspor gas dari ladang Leviathan naik dari 4,5 miliar meter kubik per tahun menjadi hampir 12 miliar meter kubik pada 2029. Selama masa berlaku hingga 2040, total volume pasokan akan mencapai 130 miliar meter kubik. Mesir, yang beberapa tahun lalu masih menjadi eksportir gas, kini beralih menjadi importir akibat menurunnya produksi di ladang Zohr dan meningkatnya konsumsi domestik. Gas impor dari Israel akan diolah menjadi LNG (liquefied natural gas) di terminal Mesir, kemudian diekspor kembali terutama ke pasar Eropa. Langkah ini juga dimaksudkan untuk mempertahankan posisi Mesir sebagai pusat distribusi energi di kawasan Mediterania Timur. Namun, pengumuman kontrak ini terjadi di tengah konflik sengit Israel–Palestina di Gaza, yang membuat hubungan politik kedua negara memanas. Pemerintah Mesir sebelumnya secara terbuka mengutuk serangan Israel dan berperan sebagai mediator perundingan gencatan senjata antara Israel dan Hamas. Kontras antara retorika politik dan kebijakan energi ini memicu kritik, baik di dalam negeri maupun di komunitas internasional. Menteri Energi Israel, Eli Cohen, menyebut kontrak ini sebagai “yang terbesar dalam sejarah Israel” dan menganggapnya sebagai bukti keberhasilan diplomasi energi pasca Abraham Accords 2020. Bagi Mesir, kesepakatan ini dipandang lebih hemat biaya dibanding impor LNG langsung dari pasar global, mengingat negara itu sempat membeli hingga 160 kargo LNG pada awal 2025 untuk memenuhi kebutuhan energi. Krisis Energi dan Tekanan Geopolitik Perubahan posisi Mesir dari eksportir menjadi importir gas tidak lepas dari tantangan serius dalam sektor energi. Penurunan produksi domestik, lonjakan konsumsi, serta fluktuasi harga energi global mendorong Mesir mencari sumber pasokan yang lebih stabil dan ekonomis. Krisis pasokan semakin parah saat perang Israel–Iran meletus pada Juni 2025, menyebabkan penghentian sementara ekspor gas dari ladang Leviathan dan Karish. Selama periode tersebut, Mesir terpaksa beralih ke bahan bakar alternatif seperti solar dan LNG, yang biayanya lebih tinggi dan berdampak buruk terhadap lingkungan. Kondisi ini membuat Mesir semakin rentan terhadap gangguan pasokan energi. Setiap gejolak politik atau ketegangan keamanan di kawasan berpotensi mengganggu kelancaran suplai dan menekan perekonomian domestik. Penurunan pendapatan dari Terusan Suez, yang menjadi salah satu sumber devisa utama negara, turut memperburuk situasi. Sejumlah pengamat internasional memandang kesepakatan gas dengan Israel sebagai kompromi antara kebutuhan pragmatis dan tekanan politik. Mesir menghadapi pilihan sulit: mengamankan pasokan energi demi stabilitas ekonomi atau mempertahankan konsistensi sikap politik terhadap Israel. Dilema Moral dan Citra Diplomasi Mesir

Read More