Gaza

Langkah Damai atau Strategi Politik? Israel Tarik Pasukan IDF dari Gaza Setelah Gencatan Senjata

Bondowoso – 1miliarsantri.net: Israel resmi menarik sebagian pasukan militernya (IDF) dari Jalur Gaza setelah Kabinet Perang yang dipimpin Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyetujui gencatan senjata permanen dengan Hamas, Jumat (10/10). Langkah ini menjadi bagian penting dari kesepakatan perdamaian yang diharapkan bisa menghentikan konflik berkepanjangan di kawasan tersebut. Menurut laporan dari CNN, penarikan pasukan IDF dimulai sejak pukul 12.00 waktu setempat. Namun, penarikan pasukan IDF dari Gaza tidak dilakukan secara menyeluruh. Hanya beberapa area yang kini dikosongkan, sementara wilayah lainnya tetap dijaga untuk mengantisipasi potensi ancaman baru. Baca juga: Rangkaian Peringatan Hari Santri Nasional Resmi Dibuka Menteri Agama, Ini Makna Logo Hari Santri Nasional 2025 IDF Tetap Siaga di Beberapa Wilayah Gaza Dalam pernyataan resminya, IDF menjelaskan bahwa pasukan kini memposisikan diri di sepanjang garis penempatan baru sebagai bagian dari persiapan gencatan senjata Israel-Hamas dan proses pemulangan sandera. Meski begitu, Juru Bicara IDF, Avichay Adraee, menegaskan bahwa warga dilarang mendekati area yang masih menjadi zona operasi militer karena dianggap berbahaya. Beberapa lokasi yang disebut masih berisiko tinggi antara lain Beit Hanoun, Beit Lahiya, Shejaiya, hingga wilayah Khan Younis dan Rafah di bagian selatan. Adraee memperingatkan bahwa pasukan masih aktif di area tersebut untuk menyingkirkan ancaman yang dianggap mengganggu stabilitas keamanan. Baca juga: Hari Santri Nasional Apakah Libur? Cek Daftar Libur Nasional 2025 Berikut Ini! Gencatan Senjata Israel-Hamas, Awal Damai atau Sekadar Strategi?

Read More

Kesaksian Mengerikan Aktivis Global Sumud Flotilla (GSF): Disiksa, Dipaksa Berlutut, hingga Diperlakukan Seperti Binatang di Tahanan Israel

Tegal – 1miliarsantri.net : Kisah memilukan datang dari para aktivis Global Sumud Flotilla (GSF) yang ditangkap setelah kapal pembawa bantuan kemanusiaan ke Gaza dibajak oleh militer Israel. Mereka mengaku mengalami berbagai bentuk penyiksaan selama berada di balik jeruji tahanan Zionis, mulai dari kekerasan fisik, perlakuan tidak manusiawi, hingga pelarangan akses terhadap obat-obatan penting. Organisasi hukum Adalah, yang menjadi kuasa hukum para aktivis, mengungkap sejumlah pelanggaran serius yang dilakukan otoritas Israel. Dalam pertemuan dengan lebih dari 80 peserta GSF di Penjara Ktziot, Israel selatan, Adalah menyebut banyak di antara mereka diperlakukan dengan cara-cara kejam. “Beberapa aktivis dipaksa berlutut dengan tangan terikat kabel selama setidaknya lima jam,” ungkap Adalah, seperti dikutip dari CNN Indonesia, Senin (5/10/2025). Lebih jauh, Adalah mengungkap bahwa para tahanan tidak diperbolehkan mengakses obat-obatan penting, termasuk obat tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan kanker. “Para peserta ditahan di sel yang penuh sesak, dan beberapa peserta dipaksa tidur di lantai dalam kondisi yang keras dan tidak sehat,” lanjut pernyataan itu. Tidak berhenti di situ, kekerasan fisik juga menjadi bagian dari penderitaan mereka. Salah satu aktivis mengalami luka pada tangannya akibat penganiayaan. Ada pula yang ditutup matanya dan diborgol dalam waktu lama. “Beberapa peserta melaporkan bahwa mereka diinterogasi oleh petugas tak dikenal, dan yang lainnya melaporkan penganiayaan serta penyiksaan oleh sipir penjara,” imbuh Adalah. Baca juga: Titik Balik Iklim: Terumbu Karang Dunia Hadapi Kemunduran Besar Bantahan Israel dan Versi yang Bertolak Belakang Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Israel membantah tuduhan penyiksaan tersebut. Mereka menyebut kesaksian para aktivis sebagai “kebohongan” dan mengklaim telah memenuhi seluruh hak hukum para tahanan. “Semua hak hukum para tahanan sepenuhnya ditegakkan,” tulis Kemlu Israel melalui platform X. Dalam pernyataan kepada CNN, pihaknya juga menegaskan bahwa makanan, air, dan obat-obatan telah diberikan. “Tentu saja mereka menerima makanan, air, dan obat-obatan, dan mereka tidak dianiaya,” ujar perwakilan Israel. Namun, pernyataan itu jelas bertolak belakang dengan kesaksian para aktivis yang telah dibebaskan maupun dideportasi. Greta Thunberg Jadi Korban Penyiksaan Di antara para korban perlakuan brutal itu adalah aktivis lingkungan asal Swedia, Greta Thunberg. Ia termasuk dalam rombongan GSF yang ditangkap saat kapal mereka dicegat ketika hampir mencapai Gaza. Kesaksian dari sesama aktivis menyebut Greta mengalami penyiksaan dari pasukan Israel.

Read More

Titik Balik Iklim: Terumbu Karang Dunia Hadapi Kemunduran Besar

Surabaya – 1miliarsantri.net : Sebuah laporan internasional terbaru yaitu Global Tipping Points Report 2025, menyimpulkan bahwa ekosistem terumbu karang air hangat global telah melewati tipping point termal yang tak lagi memungkinkan pemulihan normal. Laporan ini disusun oleh sekitar 160 ilmuwan dari 23 negara bekerja sama dengan institusi seperti University of Exeter dan Stockholm Resilience Centre. Menurut publikasi pendukung, ambang tipping point terumbu karang diperkirakan di kisaran 1,0-1,5 Celsius pemanasan global dibanding era pra-industri, dengan nilai pusat sekitar 1,2 Celsius. Dengan kondisi pemanasan global saat ini yang telah mencapai kurang lebih 1,4 Celsius, sistem karang berada dalam fase overshoot, yaitu kondisi di mana tekanan lingkungan telah melewati batas toleransi mereka. Laporan menyatakan bahwa peluang untuk mempertahankan terumbu karang yang sehat dalam skala besar setelah melebihi 1,5 Celsius adalah sangat rendah (kemungkinan > 99% telah melewati batas aman). Meningginya Angka Kematian Karang secara Massal Sejak Januari 2023, lebih dari 80% terumbu karang di berbagai negara mengalami peristiwa bleaching hebat akibat lonjakan suhu laut. Dalam kondisi semacam ini, alga simbion (zooxanthellae) yang hidup di dalam jaringan karang keluar, menyebabkan karang kehilangan warna (memutih) dan dalam banyak kasus, mati jika stres suhu berlanjut. Fenomena ini telah menjadi peristiwa pemutihan global terburuk dalam catatan modern, dan banyak karang tidak memiliki waktu untuk pulih sebelum gelombang panas laut berikutnya. Akibatnya, struktur ekosistem mulai rusak seperti karang mati digantikan oleh alga atau substrat kosong, mengurangi keanekaragaman dan produktivitas biologis. Baca juga: Santri Asal DKI Jakarta Tembus Final MQK Internasional 2025 Dampak pada Masyarakat Pesisir Terumbu karang merupakan pondasi ekosistem pesisir yang menyediakan habitat bagi ikan, pelindung pantai dari gelombang, dan tulang punggung pariwisata laut. Hingga 1 miliar orang bergantung secara langsung atau tidak langsung pada kondisi karang sehat untuk mata pencaharian. Jika kerusakan terus meluas, sektor perikanan lokal bisa mengalami penurunan tangkapan, wisata pantai menurun, dan pantai menjadi lebih rentan terhadap erosi atau bencana laut. Situasi ini menempatkan masyarakat pesisir pada risiko sosial-ekonomi tinggi. Sebagai indikasi lokal, Great Barrier Reef Australia melaporkan penurunan karang terbesar dalam 39 tahun terakhir.

Read More

PBB Sebut 562 Pekerja Bantuan Tewas di Gaza Sejak 2023, Termasuk 376 dari Staf PBB

Tegal – 1miliarsantri.net: Konflik yang tak kunjung usai di Jalur Gaza terus menelan korban, bukan hanya dari kalangan warga sipil, tetapi juga para pekerja kemanusiaan yang berada di garis depan memberikan bantuan. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan bahwa sedikitnya 562 pekerja bantuan tewas sejak pecahnya perang pada 7 Oktober 2023. Angka itu kembali bertambah setelah seorang staf kemanusiaan meninggal akibat serangan Israel pada Kamis (2/10/2025). Dalam pernyataan resmi pada Jumat (3/10/2025), Juru Bicara PBB Stephane Dujarric menyampaikan bahwa korban terbaru adalah anggota tim Medecins Sans Frontieres (MSF) yang tewas dalam serangan di Deir al-Balah. Insiden tersebut juga menyebabkan empat orang lainnya mengalami luka serius ketika tim sedang menunggu bus untuk menuju rumah sakit MSF. “Ini adalah staf ke-14 dari Medecins Sans Frontieres yang tewas di Gaza sejak dimulainya konflik ini pada 7 Oktober 2023,” kata Dujarric, dikutip dari Anadolu. Korban diidentifikasi sebagai Omar Hayek (42), seorang terapis okupasi yang telah bekerja dengan MSF sejak 2018. Organisasi kemanusiaan internasional itu menyatakan duka mendalam atas kematian Hayek. “Semua staf mengenakan rompi MSF, yang dengan jelas mengidentifikasi mereka sebagai pekerja kemanusiaan medis,” lanjut Dujarric. MSF pun mengecam keras serangan tersebut dan menyebut pembunuhan terhadap stafnya sebagai tindakan yang tidak dapat diterima. Baca juga: Hari Santri Nasional Apakah Libur? Cek Daftar Libur Nasional 2025 Berikut Ini! Situasi Kian Memburuk PBB menegaskan bahwa pembunuhan terhadap para pekerja bantuan adalah indikasi nyata bahwa situasi di Gaza semakin memburuk dari hari ke hari. Menurut data yang dihimpun oleh Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), dari total 562 pekerja yang tewas, setidaknya 376 di antaranya merupakan staf PBB. “Di lapangan, rekan-rekan kemanusiaan kami memperingatkan bahwa situasi di Gaza utara terus memburuk dengan cepat. Operasi militer dan serangan besar-besaran yang menghantam permukiman dan bangunan telah meningkatkan jumlah korban tewas dan terus menimbulkan kerusakan di wilayah tersebut,” tutur Dujarric.

Read More

Israel Ancam Lanjutkan Serangan ke Gaza Setelah Pemulangan Sandera: Dunia Khawatir Genosida Baru

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa serangan militer ke Gaza akan dilanjutkan setelah semua sandera dipulangkan. Pernyataan ini memicu kekhawatiran dunia terhadap potensi genosida baru di Jalur Gaza Tel Aviv – 1miliarsantri.net: Dunia internasional kembali dikejutkan oleh pernyataan keras Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, yang menegaskan bahwa pasukan pendudukan Israel (IDF) akan melanjutkan operasi militernya di Jalur Gaza setelah semua sandera yang tersisa dipulangkan. Pernyataan tersebut disampaikan Katz melalui akun resminya di platform X (Twitter) pada Rabu malam. Ia secara terbuka menentang kesepakatan gencatan senjata terbaru yang baru saja dicapai antara Israel dan kelompok perlawanan Hamas. Menurutnya, tantangan terbesar Israel setelah pemulangan para sandera adalah penghancuran seluruh jaringan terowongan bawah tanah yang disebut sebagai “terowongan teror Hamas”. Katz menegaskan bahwa langkah ini akan dilakukan baik oleh militer Israel (IDF) maupun melalui mekanisme internasional yang dipimpin oleh Amerika Serikat. “Saya telah menginstruksikan IDF untuk bersiap melaksanakan misi tersebut. Inilah makna utama penerapan prinsip demiliterisasi Gaza dan pelucutan senjata Hamas,” lanjutnya. Kecaman dan Kekhawatiran Dunia Internasional Pernyataan Katz langsung memicu kecaman luas dari berbagai organisasi kemanusiaan dan pengamat politik internasional. Banyak pihak menilai bahwa pernyataan tersebut merupakan indikasi nyata ancaman genosida lanjutan terhadap warga sipil Palestina di Gaza, yang hingga kini masih berjuang bertahan di tengah blokade dan kehancuran. Lembaga pemantau HAM di Timur Tengah, Middle East Monitor, menyebut bahwa sikap Israel tersebut berpotensi menggagalkan proses perdamaian yang baru saja disepakati melalui perjanjian gencatan senjata sementara. Selain itu, para pengamat menilai bahwa dukungan Amerika Serikat dalam mekanisme penghancuran Hamas dapat semakin memperburuk situasi kemanusiaan di Gaza, mengingat ribuan warga sipil telah menjadi korban sejak awal agresi militer Israel. Konteks Politik dan Militer di Gaza

Read More

Gaza Update-Jubir Pejuang Palestina: Kesepakatan Pertukaran Tawanan Menandai Jalan untuk Mengakhiri Perang Genosida

Fase pertama pertukaran tawanan Palestina dan Israel merupakan titik balik mengakhiri perang genosida Gaza – 1miliarsantri.net: Juru bicara gerakan perlawanan Palestina, Hazem Qassem, menyebut kesepakatan tahap pertama pertukaran tawanan sebagai momen bersejarah yang menandai arah baru menuju berakhirnya perang genosida di Jalur Gaza. Dalam pernyataannya setelah proses pertukaran yang dimediasi oleh Mesir dan Turki, serta melibatkan Qatar dan Amerika Serikat, Qassem menegaskan bahwa kesepakatan ini bukan sekadar langkah kemanusiaan, melainkan juga pencapaian politik dan simbol persatuan nasional Palestina. Momen Persatuan dan Ketahanan Nasional Qassem menggambarkan tahap pertama pertukaran tawanan ini sebagai momen persatuan dan ketahanan nasional. Ia menekankan bahwa seluruh proses dijalankan dengan presisi, profesionalisme, dan koordinasi mendalam di antara berbagai faksi Palestina. Menurutnya, kesepakatan ini menunjukkan bahwa keteguhan dan solidaritas rakyat Palestina mampu meraih kemenangan, di saat agresi militer gagal mencapai tujuannya. Kesepakatan Dijalankan Secara Transparan dan Bertanggung Jawab Pertukaran ini mencakup tahanan dengan hukuman seumur hidup, serta mereka yang ditahan selama agresi terbaru di Gaza. Lebih dari 1.700 tahanan dari Jalur Gaza dan sekitar 250 dari Tepi Barat dan Yerusalem dijadwalkan mendapatkan kembali kebebasan mereka.

Read More

Update Perang Gaza Hari Ini: AS Habiskan Rp540 Triliun, Israel Klaim Tarik Pasukan Tahap Pertama

Laporan terbaru dari Gaza: Serangan drone Israel menewaskan warga sipil, AS telah keluarkan $34 miliar untuk mendukung Israel sejak 2023, sementara 200 ribu warga Palestina mulai kembali ke Gaza Utara pasca gencatan senjata. Gaza – 1miliarsantri.net: Situasi di Jalur Gaza kembali menjadi sorotan dunia setelah serangkaian perkembangan penting terjadi dalam 24 jam terakhir. Konflik yang telah berlangsung lebih dari dua tahun ini menunjukkan dinamika baru, baik di tingkat diplomatik maupun militer. Trump: Gaza Harus Punya Pemerintahan Tanpa Militer Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan menginginkan agar Gaza memiliki pemerintahan sendiri, namun tanpa kekuatan militer. Pernyataan ini dikutip dari laporan Haaretz yang mengungkap pandangan pejabat senior AS mengenai masa depan Gaza pasca-konflik. Langkah ini dinilai sebagai bagian dari strategi AS untuk membentuk stabilitas politik di wilayah tersebut, meski banyak pihak menilai bahwa tanpa kekuatan pertahanan, Gaza akan tetap berada di bawah bayang-bayang dominasi Israel. Serangan Drone Israel Kembali Tewaskan Warga Sipil Menurut laporan Pertahanan Sipil Palestina, sebuah serangan pesawat nirawak (drone) Israel menghantam wilayah Khan Younis di Gaza selatan pada Jumat (10/10) pukul 18.00 waktu setempat. Serangan tersebut menewaskan sedikitnya dua orang dan melukai beberapa lainnya.Serangan ini kembali menyoroti rentannya keamanan warga sipil di tengah proses gencatan senjata yang baru berjalan. AS Sudah Habiskan $34 Miliar untuk Dukung Israel Sebuah studi dari Brown University membeberkan bahwa Amerika Serikat telah menghabiskan hampir $34 miliar (sekitar Rp540 triliun) untuk mendukung operasi militer Israel sejak pecahnya perang pada 7 Oktober 2023. Laporan ini menimbulkan kritik tajam dari publik AS sendiri, yang menilai dana pajak mereka seharusnya digunakan untuk kepentingan domestik, bukan pembiayaan konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Netanyahu: Pasukan Akan Tetap di Gaza Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa pasukan Israel akan tetap berada di Gaza hingga kelompok Ha-as sepenuhnya melucuti senjatanya. Pernyataan ini disampaikan melalui Reuters, dan dinilai sebagai sinyal bahwa Israel belum siap menarik diri sepenuhnya dari wilayah tersebut. Penarikan Pasukan Tahap Pertama Selesai

Read More

Khalil al-Hayya: Kami Telah Menerima Jaminan dari Para Mediator dan Amerika bahwa Perang di Gaza Telah Berakhir Sepenuhnya

Gaza – 1miliarsantri.net | PEMIMPIN Gerakan Hamas di Jalur Gaza sekaligus ketua delegasi perundingannya, Khalil al-Hayya, pada hari Kamis (09/10/2025) mengungkapkan bahwa Hamas telah menerima jaminan dari para mediator dan dari pemerintah Amerika Serikat bahwa perang Israel terhadap Jalur Gaza “telah berakhir sepenuhnya”, sambil mengumumkan tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri perang, memulai penerapan gencatan senjata permanen, serta melakukan pertukaran tahanan antara warga Palestina dan tawanan Israel. Al-Hayya dalam pernyataan bergambar mengatakan:“Hari ini kami umumkan bahwa telah tercapai kesepakatan untuk mengakhiri perang dan agresi terhadap rakyat kami, serta memulai penerapan gencatan senjata permanen, penarikan pasukan pendudukan, masuknya bantuan, pembukaan perlintasan Rafah dua arah, dan pertukaran tahanan.” Ia juga mengungkapkan bahwa sebanyak 250 tahanan seumur hidup dan 1.700 tahanan dari penduduk Jalur Gaza yang ditangkap setelah 7 Oktober 2023 akan dibebaskan, selain juga pembebasan semua anak-anak dan perempuan. Al-Hayya menambahkan:“Kami telah menerima jaminan dari saudara-saudara mediator dan dari pemerintah Amerika Serikat, yang semuanya menegaskan bahwa perang telah berakhir sepenuhnya. Kami akan melanjutkan kerja sama dengan kekuatan nasional dan Islam untuk menyelesaikan langkah-langkah berikutnya, bekerja demi kepentingan rakyat Palestina, menentukan nasibnya sendiri, dan menegakkan hak-haknya hingga terwujud negara merdeka dengan Yerusalem sebagai ibu kotanya.” Ia juga berkata:“Kami telah menangani rencana Presiden Amerika (Donald Trump) dengan penuh tanggung jawab, dan kami memberikan tanggapan yang menjamin kepentingan rakyat kami, hak-hak kami, serta menghentikan pertumpahan darah, dan yang mencakup visi kami untuk menghentikan perang.” Al-Hayya melanjutkan:“Delegasi kami datang ke Republik Arab Mesir dengan penuh tanggung jawab dan sikap positif, yang memungkinkan kami bersama kekuatan perlawanan untuk mencapai kesepakatan yang kami persembahkan kepada rakyat kami yang mulia.” Kepada warga Gaza, al-Hayya berkata:“Dunia berdiri takjub menyaksikan apa yang telah kalian berikan berupa pengorbanan, keteguhan, kesabaran, dan keikhlasan. Kalian telah menjalani perang yang belum pernah disaksikan dunia sebelumnya. Kalian menghadapi tirani musuh, kekejaman tentaranya, pembantaian, dan kebiadabannya.” Pemimpin Hamas itu mengatakan bahwa setelah lebih dari dua tahun perang di Gaza,“Kami berdiri di hadapan kepahlawanan para pejuang perlawanan yang berjuang dari titik nol. Mereka seperti gunung yang kokoh di hadapan tank, kendaraan, dan pasukan pendudukan. Mereka menggagalkan satu per satu rencana musuh — mulai dari rencana pengusiran, kelaparan, hingga penciptaan kekacauan, dan lainnya.” Ia menyampaikan penghormatan kepada rakyat Palestina di seluruh tempat keberadaannya, kepada para mediator di Mesir, Qatar, dan Turki, serta kepada mereka yang turut serta dalam pertempuran melawan pendudukan di Yaman, Lebanon, dan tempat lainnya. Ia juga menyampaikan salam kepada seluruh pihak yang bersolidaritas di seluruh dunia dengan perjuangan Palestina, dan kepada para peserta konvoi dukungan dan kebebasan di darat maupun laut. Ia menutup dengan mengatakan:“Salam untuk Gaza, salam untuk para lelaki Gaza, salam untuk para perempuan Gaza, salam untuk anak-anak Gaza, salam untuk para orang tua Gaza, untuk para syuhada Gaza, untuk para korban luka Gaza, untuk para tahanan Gaza, salam untuk para pemimpin syahid yang agung.” Sebelumnya pada hari yang sama, para mediator dalam perundingan di Sharm el-Sheikh, Mesir, mengenai perang genosida di Jalur Gaza yang terkepung mengumumkan tercapainya kesepakatan untuk gencatan senjata. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Kamis juga mengonfirmasi tercapainya kesepakatan antara pendudukan Israel dan Gerakan Hamas. Ia menulis di akun platform “Truth Social”:“Saya dengan senang hati mengumumkan bahwa Israel dan Hamas telah menandatangani tahap pertama dari rencana perdamaian kami,” seraya menambahkan bahwa kesepakatan itu berarti semua sandera akan segera dibebaskan dan Israel akan menarik pasukannya ke garis yang telah disepakati, yang keduanya merupakan langkah awal menuju perdamaian yang kuat dan langgeng. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majid al-Ansari, juga mengumumkan bahwa telah tercapai kesepakatan atas semua butir dan mekanisme pelaksanaan tahap pertama dari gencatan senjata di Gaza, yang akan mengarah pada penghentian perang, pembebasan tawanan Israel dan tahanan Palestina, serta masuknya bantuan kemanusiaan. Sementara itu, Gerakan Hamas menyatakan bahwa kesepakatan tersebut mencakup penarikan pasukan pendudukan dari Jalur Gaza, masuknya bantuan, dan pertukaran tahanan. Hamas juga menyeru Trump, negara-negara penjamin, serta berbagai pihak Arab, Islam, dan internasional lainnya agar memastikan pemerintah pendudukan melaksanakan seluruh kewajiban dalam kesepakatan itu, serta tidak dibiarkan mengingkari atau menunda-nunda pelaksanaannya. (***) Penulis: Abdullah al-Mustofa

Read More

Taliban Ingatkan AS soal Perjanjian Doha Usai Trump Desak Ambil Alih Pangkalan Bagram

Indramayu – 1miliarsantri.net: Pemerintah Taliban menolak keras pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang kembali mendesak agar Washington mengambil alih Pangkalan Udara Bagram. Klaim Trump ini muncul empat tahun setelah penarikan penuh pasukan AS dari Afghanistan pada 2021, yang dianggap sebagai salah satu titik balik paling dramatis dalam politik internasional abad ke-21. Dalam pernyataannya pada Sabtu (20/9), Trump menyebut adanya pembicaraan dengan pihak Afghanistan mengenai kemungkinan mengembalikan kehadiran militer AS di Bagram.  Ia bahkan menyatakan, “Kami ingin Bagram kembali, dan kami ingin itu segera terjadi.” Namun, Trump tidak menjelaskan apakah hal itu berarti pengerahan pasukan baru atau strategi diplomasi dengan Taliban. Taliban Tegas Ingatkan Perjanjian Doha Pernyataan Trump langsung ditanggapi oleh juru bicara utama Taliban, Zabihullah Mujahid, pada Minggu (21/9). Ia menekankan bahwa Amerika Serikat terikat dengan komitmen Perjanjian Doha 2020, yang ditandatangani pada masa pemerintahan Trump sendiri. “AS telah berjanji tidak akan menggunakan atau mengancam kekuatan terhadap integritas teritorial maupun kemerdekaan politik Afghanistan, serta tidak mencampuri urusan internal negara kami,” tulis Mujahid di platform X. Nada serupa juga disampaikan oleh Kepala Staf Kementerian Pertahanan Taliban, Fasihuddin Fitrat, yang menolak kemungkinan menyerahkan Bagram atau wilayah lain kepada pihak asing. “Menyerahkan sejengkal pun tanah kami kepada siapa pun adalah sesuatu yang tidak mungkin,” tegasnya dalam pidato televisi lokal. Penolakan keras Taliban juga tidak lepas dari fakta bahwa Bagram memiliki nilai simbolis dan strategis. Pada Agustus 2023, Taliban merayakan tiga tahun penguasaan pangkalan itu dengan parade militer besar-besaran, memamerkan peralatan peninggalan militer AS. Acara tersebut sempat memancing perhatian Gedung Putih, sekaligus mempertegas kontrol Taliban atas infrastruktur strategis peninggalan Amerika. Trump, Kritik Penarikan Pasukan, dan Kepentingan Politik Sejak awal, Trump kerap mengkritik proses penarikan pasukan yang dilakukan oleh Presiden Joe Biden pada 2021. Ia menyebut keputusan itu penuh “ketidakmampuan besar” dan menciptakan kekosongan strategis yang menguntungkan Taliban maupun kelompok ekstremis lain. Dalam kunjungannya ke Inggris pekan lalu, Trump bahkan memberi sinyal bahwa Taliban mungkin bersedia membuka jalan bagi kembalinya pasukan AS. Alasannya, Taliban kini menghadapi krisis ekonomi, minimnya legitimasi internasional, konflik internal, serta ancaman dari kelompok militan saingan seperti ISIS-K.

Read More

Foto Udara Pelabuhan Gaza Sebelum dan Sesudah Agresi: Bukti Kehancuran yang Tak Bisa Disembunyikan

Foto Bukti Kehancuran Pelabuhan Gaza, Suara yang Lebih Jujur dari Propaganda Gaza, Palestina – 1miliarsantri.net: Foto udara Pelabuhan Gaza sebelum dan sesudah agresi menjadi saksi bisu kehancuran. Khaled Safi menyerukan agar dunia menyebarkan kebenaran dan menyingkap propaganda penjajah Israel. Kehancuran Gaza-Palestina, Suara yang Lebih Jujur dari Propaganda Zionis Israel Khaled Safi, influencer Palestina, kembali mengingatkan dunia bahwa apa pun yang dilakukan penjajah untuk mempercantik citranya, fakta kehancuran Gaza tidak bisa disembunyikan. Dalam unggahan terbarunya, ia membagikan foto udara pelabuhan Gaza sebelum dan sesudah agresi, sebagaimana ditulis Free Palestine. Sebarkan kebenaran dan singkap kepalsuan propagandanya. Kehancuran Gaza berbicara lebih keras daripada semua retorika mereka dan lebih jujur ​​daripada semua klaim mereka.” dikutip dari t.me/freepalestine. Mengungkap Kepalsuan Propaganda Khaled Safi menegaskan bahwa dunia harus terus mengungkap kebenaran. Foto-foto seperti ini penting untuk:

Read More