Gaza Update-Jubir Pejuang Palestina: Kesepakatan Pertukaran Tawanan Menandai Jalan untuk Mengakhiri Perang Genosida

Fase pertama pertukaran tawanan Palestina dan Israel merupakan titik balik mengakhiri perang genosida Gaza – 1miliarsantri.net: Juru bicara gerakan perlawanan Palestina, Hazem Qassem, menyebut kesepakatan tahap pertama pertukaran tawanan sebagai momen bersejarah yang menandai arah baru menuju berakhirnya perang genosida di Jalur Gaza. Dalam pernyataannya setelah proses pertukaran yang dimediasi oleh Mesir dan Turki, serta melibatkan Qatar dan Amerika Serikat, Qassem menegaskan bahwa kesepakatan ini bukan sekadar langkah kemanusiaan, melainkan juga pencapaian politik dan simbol persatuan nasional Palestina. Momen Persatuan dan Ketahanan Nasional Qassem menggambarkan tahap pertama pertukaran tawanan ini sebagai momen persatuan dan ketahanan nasional. Ia menekankan bahwa seluruh proses dijalankan dengan presisi, profesionalisme, dan koordinasi mendalam di antara berbagai faksi Palestina. Menurutnya, kesepakatan ini menunjukkan bahwa keteguhan dan solidaritas rakyat Palestina mampu meraih kemenangan, di saat agresi militer gagal mencapai tujuannya. Kesepakatan Dijalankan Secara Transparan dan Bertanggung Jawab Pertukaran ini mencakup tahanan dengan hukuman seumur hidup, serta mereka yang ditahan selama agresi terbaru di Gaza. Lebih dari 1.700 tahanan dari Jalur Gaza dan sekitar 250 dari Tepi Barat dan Yerusalem dijadwalkan mendapatkan kembali kebebasan mereka. Visi Nasional di Atas Kepentingan Politik Gerakan perlawanan menegaskan bahwa negosiasi ini tidak dilandasi oleh kepentingan politik, melainkan oleh visi nasional bersama. Semua tahanan diperlakukan sebagai bagian dari satu tubuh rakyat Palestina yang tengah memperjuangkan martabat dan kebebasan. Qassem menambahkan bahwa kesepakatan ini adalah titik balik penting — bukan hanya dalam dinamika politik, tetapi juga dalam kesadaran kolektif rakyat Palestina, yang semakin menyadari kekuatan persatuan di tengah penderitaan panjang akibat blokade dan agresi. Rakyat Palestina Menyambutnya Sebagai Kemenangan Kemanusiaan Ketika perayaan kegembiraan yang tenang menyebar ke seluruh kota dan kamp Palestina, perjanjian itu dipuji sebagai kemenangan kemanusiaan dan penegasan kembali ketahanan. Keadaan ini mencerminkan momen yang rapuh namun vital, sekilas keadilan di tengah kehancuran, dan pengingat bahwa persatuan tetap menjadi kekuatan Gaza yang paling abadi.*** Penulis : Thamrin Humris Editor : Thamrin Humris Sumber : SAFA AGENCY

Read More

Update Perang Gaza Hari Ini: AS Habiskan Rp540 Triliun, Israel Klaim Tarik Pasukan Tahap Pertama

Laporan terbaru dari Gaza: Serangan drone Israel menewaskan warga sipil, AS telah keluarkan $34 miliar untuk mendukung Israel sejak 2023, sementara 200 ribu warga Palestina mulai kembali ke Gaza Utara pasca gencatan senjata. Gaza – 1miliarsantri.net: Situasi di Jalur Gaza kembali menjadi sorotan dunia setelah serangkaian perkembangan penting terjadi dalam 24 jam terakhir. Konflik yang telah berlangsung lebih dari dua tahun ini menunjukkan dinamika baru, baik di tingkat diplomatik maupun militer. Trump: Gaza Harus Punya Pemerintahan Tanpa Militer Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan menginginkan agar Gaza memiliki pemerintahan sendiri, namun tanpa kekuatan militer. Pernyataan ini dikutip dari laporan Haaretz yang mengungkap pandangan pejabat senior AS mengenai masa depan Gaza pasca-konflik. Langkah ini dinilai sebagai bagian dari strategi AS untuk membentuk stabilitas politik di wilayah tersebut, meski banyak pihak menilai bahwa tanpa kekuatan pertahanan, Gaza akan tetap berada di bawah bayang-bayang dominasi Israel. Serangan Drone Israel Kembali Tewaskan Warga Sipil Menurut laporan Pertahanan Sipil Palestina, sebuah serangan pesawat nirawak (drone) Israel menghantam wilayah Khan Younis di Gaza selatan pada Jumat (10/10) pukul 18.00 waktu setempat. Serangan tersebut menewaskan sedikitnya dua orang dan melukai beberapa lainnya.Serangan ini kembali menyoroti rentannya keamanan warga sipil di tengah proses gencatan senjata yang baru berjalan. AS Sudah Habiskan $34 Miliar untuk Dukung Israel Sebuah studi dari Brown University membeberkan bahwa Amerika Serikat telah menghabiskan hampir $34 miliar (sekitar Rp540 triliun) untuk mendukung operasi militer Israel sejak pecahnya perang pada 7 Oktober 2023. Laporan ini menimbulkan kritik tajam dari publik AS sendiri, yang menilai dana pajak mereka seharusnya digunakan untuk kepentingan domestik, bukan pembiayaan konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Netanyahu: Pasukan Akan Tetap di Gaza Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa pasukan Israel akan tetap berada di Gaza hingga kelompok Ha-as sepenuhnya melucuti senjatanya. Pernyataan ini disampaikan melalui Reuters, dan dinilai sebagai sinyal bahwa Israel belum siap menarik diri sepenuhnya dari wilayah tersebut. Penarikan Pasukan Tahap Pertama Selesai Meski demikian, militer AS mengonfirmasi bahwa Israel telah menyelesaikan tahap pertama penarikan pasukannya dari Gaza, sesuai perjanjian gencatan senjata dengan Hamas. Langkah ini dianggap sebagai titik awal menuju stabilitas, meskipun situasi di lapangan masih penuh ketegangan. 200 Ribu Warga Kembali ke Gaza Utara Badan Pertahanan Sipil Gaza melaporkan bahwa sekitar 200.000 warga Palestina telah kembali ke wilayah utara setelah gencatan senjata mulai berlaku. Mereka kembali ke rumah-rumah yang sebagian besar hancur akibat serangan udara sebelumnya, dengan kondisi infrastruktur yang sangat terbatas. Korban Tewas Masih Bertambah Kementerian Kesehatan Palestina menyatakan bahwa pasukan Israel masih melakukan operasi militer terbatas, menewaskan sedikitnya 17 warga Palestina dan melukai 71 lainnya hanya dalam 24 jam terakhir. Data ini menunjukkan bahwa meski status gencatan senjata diumumkan, pelanggaran di lapangan masih terus terjadi. Rapuhnya Keamanan dan Penderitaan Rakyat Palestina Perkembangan terbaru di Gaza mencerminkan betapa rapuhnya situasi keamanan dan diplomasi di wilayah tersebut. Sementara dunia menyerukan perdamaian, realitas di lapangan menunjukkan penderitaan rakyat Palestina belum berakhir. Dunia kini menunggu apakah langkah-langkah politik dan gencatan senjata ini benar-benar menjadi awal dari akhir konflik yang telah menelan begitu banyak korban jiwa.*** Penulis : Thamrin Humris Editor : Thamrin Humris Foto : Channel Whatsapp FREE PALESTINE Sumber : Free Palestine, Middle East Eye, Haaretz, Reuters, Brown University

Read More

Khalil al-Hayya: Kami Telah Menerima Jaminan dari Para Mediator dan Amerika bahwa Perang di Gaza Telah Berakhir Sepenuhnya

Gaza – 1miliarsantri.net | PEMIMPIN Gerakan Hamas di Jalur Gaza sekaligus ketua delegasi perundingannya, Khalil al-Hayya, pada hari Kamis (09/10/2025) mengungkapkan bahwa Hamas telah menerima jaminan dari para mediator dan dari pemerintah Amerika Serikat bahwa perang Israel terhadap Jalur Gaza “telah berakhir sepenuhnya”, sambil mengumumkan tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri perang, memulai penerapan gencatan senjata permanen, serta melakukan pertukaran tahanan antara warga Palestina dan tawanan Israel. Al-Hayya dalam pernyataan bergambar mengatakan:“Hari ini kami umumkan bahwa telah tercapai kesepakatan untuk mengakhiri perang dan agresi terhadap rakyat kami, serta memulai penerapan gencatan senjata permanen, penarikan pasukan pendudukan, masuknya bantuan, pembukaan perlintasan Rafah dua arah, dan pertukaran tahanan.” Ia juga mengungkapkan bahwa sebanyak 250 tahanan seumur hidup dan 1.700 tahanan dari penduduk Jalur Gaza yang ditangkap setelah 7 Oktober 2023 akan dibebaskan, selain juga pembebasan semua anak-anak dan perempuan. Al-Hayya menambahkan:“Kami telah menerima jaminan dari saudara-saudara mediator dan dari pemerintah Amerika Serikat, yang semuanya menegaskan bahwa perang telah berakhir sepenuhnya. Kami akan melanjutkan kerja sama dengan kekuatan nasional dan Islam untuk menyelesaikan langkah-langkah berikutnya, bekerja demi kepentingan rakyat Palestina, menentukan nasibnya sendiri, dan menegakkan hak-haknya hingga terwujud negara merdeka dengan Yerusalem sebagai ibu kotanya.” Ia juga berkata:“Kami telah menangani rencana Presiden Amerika (Donald Trump) dengan penuh tanggung jawab, dan kami memberikan tanggapan yang menjamin kepentingan rakyat kami, hak-hak kami, serta menghentikan pertumpahan darah, dan yang mencakup visi kami untuk menghentikan perang.” Al-Hayya melanjutkan:“Delegasi kami datang ke Republik Arab Mesir dengan penuh tanggung jawab dan sikap positif, yang memungkinkan kami bersama kekuatan perlawanan untuk mencapai kesepakatan yang kami persembahkan kepada rakyat kami yang mulia.” Kepada warga Gaza, al-Hayya berkata:“Dunia berdiri takjub menyaksikan apa yang telah kalian berikan berupa pengorbanan, keteguhan, kesabaran, dan keikhlasan. Kalian telah menjalani perang yang belum pernah disaksikan dunia sebelumnya. Kalian menghadapi tirani musuh, kekejaman tentaranya, pembantaian, dan kebiadabannya.” Pemimpin Hamas itu mengatakan bahwa setelah lebih dari dua tahun perang di Gaza,“Kami berdiri di hadapan kepahlawanan para pejuang perlawanan yang berjuang dari titik nol. Mereka seperti gunung yang kokoh di hadapan tank, kendaraan, dan pasukan pendudukan. Mereka menggagalkan satu per satu rencana musuh — mulai dari rencana pengusiran, kelaparan, hingga penciptaan kekacauan, dan lainnya.” Ia menyampaikan penghormatan kepada rakyat Palestina di seluruh tempat keberadaannya, kepada para mediator di Mesir, Qatar, dan Turki, serta kepada mereka yang turut serta dalam pertempuran melawan pendudukan di Yaman, Lebanon, dan tempat lainnya. Ia juga menyampaikan salam kepada seluruh pihak yang bersolidaritas di seluruh dunia dengan perjuangan Palestina, dan kepada para peserta konvoi dukungan dan kebebasan di darat maupun laut. Ia menutup dengan mengatakan:“Salam untuk Gaza, salam untuk para lelaki Gaza, salam untuk para perempuan Gaza, salam untuk anak-anak Gaza, salam untuk para orang tua Gaza, untuk para syuhada Gaza, untuk para korban luka Gaza, untuk para tahanan Gaza, salam untuk para pemimpin syahid yang agung.” Sebelumnya pada hari yang sama, para mediator dalam perundingan di Sharm el-Sheikh, Mesir, mengenai perang genosida di Jalur Gaza yang terkepung mengumumkan tercapainya kesepakatan untuk gencatan senjata. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Kamis juga mengonfirmasi tercapainya kesepakatan antara pendudukan Israel dan Gerakan Hamas. Ia menulis di akun platform “Truth Social”:“Saya dengan senang hati mengumumkan bahwa Israel dan Hamas telah menandatangani tahap pertama dari rencana perdamaian kami,” seraya menambahkan bahwa kesepakatan itu berarti semua sandera akan segera dibebaskan dan Israel akan menarik pasukannya ke garis yang telah disepakati, yang keduanya merupakan langkah awal menuju perdamaian yang kuat dan langgeng. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majid al-Ansari, juga mengumumkan bahwa telah tercapai kesepakatan atas semua butir dan mekanisme pelaksanaan tahap pertama dari gencatan senjata di Gaza, yang akan mengarah pada penghentian perang, pembebasan tawanan Israel dan tahanan Palestina, serta masuknya bantuan kemanusiaan. Sementara itu, Gerakan Hamas menyatakan bahwa kesepakatan tersebut mencakup penarikan pasukan pendudukan dari Jalur Gaza, masuknya bantuan, dan pertukaran tahanan. Hamas juga menyeru Trump, negara-negara penjamin, serta berbagai pihak Arab, Islam, dan internasional lainnya agar memastikan pemerintah pendudukan melaksanakan seluruh kewajiban dalam kesepakatan itu, serta tidak dibiarkan mengingkari atau menunda-nunda pelaksanaannya. (***) Penulis: Abdullah al-Mustofa Editor: Toto Budiman Sumber berita dan foto: Al-Araby al-Jadid

Read More

Taliban Ingatkan AS soal Perjanjian Doha Usai Trump Desak Ambil Alih Pangkalan Bagram

Indramayu – 1miliarsantri.net: Pemerintah Taliban menolak keras pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang kembali mendesak agar Washington mengambil alih Pangkalan Udara Bagram. Klaim Trump ini muncul empat tahun setelah penarikan penuh pasukan AS dari Afghanistan pada 2021, yang dianggap sebagai salah satu titik balik paling dramatis dalam politik internasional abad ke-21. Dalam pernyataannya pada Sabtu (20/9), Trump menyebut adanya pembicaraan dengan pihak Afghanistan mengenai kemungkinan mengembalikan kehadiran militer AS di Bagram.  Ia bahkan menyatakan, “Kami ingin Bagram kembali, dan kami ingin itu segera terjadi.” Namun, Trump tidak menjelaskan apakah hal itu berarti pengerahan pasukan baru atau strategi diplomasi dengan Taliban. Taliban Tegas Ingatkan Perjanjian Doha Pernyataan Trump langsung ditanggapi oleh juru bicara utama Taliban, Zabihullah Mujahid, pada Minggu (21/9). Ia menekankan bahwa Amerika Serikat terikat dengan komitmen Perjanjian Doha 2020, yang ditandatangani pada masa pemerintahan Trump sendiri. “AS telah berjanji tidak akan menggunakan atau mengancam kekuatan terhadap integritas teritorial maupun kemerdekaan politik Afghanistan, serta tidak mencampuri urusan internal negara kami,” tulis Mujahid di platform X. Nada serupa juga disampaikan oleh Kepala Staf Kementerian Pertahanan Taliban, Fasihuddin Fitrat, yang menolak kemungkinan menyerahkan Bagram atau wilayah lain kepada pihak asing. “Menyerahkan sejengkal pun tanah kami kepada siapa pun adalah sesuatu yang tidak mungkin,” tegasnya dalam pidato televisi lokal. Penolakan keras Taliban juga tidak lepas dari fakta bahwa Bagram memiliki nilai simbolis dan strategis. Pada Agustus 2023, Taliban merayakan tiga tahun penguasaan pangkalan itu dengan parade militer besar-besaran, memamerkan peralatan peninggalan militer AS. Acara tersebut sempat memancing perhatian Gedung Putih, sekaligus mempertegas kontrol Taliban atas infrastruktur strategis peninggalan Amerika. Trump, Kritik Penarikan Pasukan, dan Kepentingan Politik Sejak awal, Trump kerap mengkritik proses penarikan pasukan yang dilakukan oleh Presiden Joe Biden pada 2021. Ia menyebut keputusan itu penuh “ketidakmampuan besar” dan menciptakan kekosongan strategis yang menguntungkan Taliban maupun kelompok ekstremis lain. Dalam kunjungannya ke Inggris pekan lalu, Trump bahkan memberi sinyal bahwa Taliban mungkin bersedia membuka jalan bagi kembalinya pasukan AS. Alasannya, Taliban kini menghadapi krisis ekonomi, minimnya legitimasi internasional, konflik internal, serta ancaman dari kelompok militan saingan seperti ISIS-K. “Kami mencoba mendapatkannya kembali karena mereka membutuhkan sesuatu dari kami,” kata Trump, merujuk pada kemungkinan kesepakatan baru dengan Taliban. Namun, analis menilai pernyataan ini juga memiliki muatan politik domestik. Isu Afghanistan kerap dipakai Trump untuk menyerang Biden, sekaligus menegaskan citranya sebagai pemimpin yang lebih tegas dalam urusan keamanan nasional. Baca Juga: Total Ada 25 Hari! Berikut SKB 3 Menteri tentang Daftar Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama 2026 Komunikasi AS–Taliban Masih Berjalan Meskipun Amerika Serikat tidak memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Taliban, komunikasi melalui jalur khusus tetap berlangsung. Isu yang sering menjadi jembatan adalah kasus sandera dan pertukaran tahanan. Maret lalu, Taliban membebaskan seorang warga negara Amerika yang diculik lebih dari dua tahun sebelumnya. Taliban juga mengaku telah mencapai kesepakatan pertukaran tahanan dengan utusan AS, meski Gedung Putih tidak pernah mengumumkan detail perjanjian tersebut. Foto-foto yang dirilis Taliban memperlihatkan Menteri Luar Negeri Amir Khan Muttaqi duduk berdampingan dengan Adam Boehler, utusan khusus Trump untuk urusan sandera. Potret ini menunjukkan bahwa meskipun secara politik berseteru, kedua pihak masih membuka ruang komunikasi ketika menyangkut kepentingan praktis. Kontroversi terbaru mengenai Pangkalan Bagram menyoroti betapa rapuhnya hubungan antara Taliban dan Amerika Serikat pasca-penarikan 2021. Bagi Taliban, mempertahankan kedaulatan penuh atas Afghanistan adalah syarat mutlak untuk mendapatkan legitimasi domestik. Sementara bagi Trump, isu ini menjadi senjata politik untuk menekan Biden sekaligus memperlihatkan ketegasan menjelang pemilu. Perjanjian Doha masih menjadi landasan hukum yang dikutip Taliban untuk menolak segala bentuk intervensi. Namun, dinamika krisis Afghanistan dari ekonomi, legitimasi politik, hingga ancaman terorisme mungkin membuka ruang bagi negosiasi baru. Pertanyaannya, apakah langkah Trump murni strategi diplomasi, atau sekadar manuver politik dalam negeri? Baca Juga: Peringatan Hari Jantung Sedunia 2025, Sejarah hingga Cara Memperingati Penulis: Rodatul Hikmah Editor: Glancy Verona Ilustrasi by AI

Read More

Foto Udara Pelabuhan Gaza Sebelum dan Sesudah Agresi: Bukti Kehancuran yang Tak Bisa Disembunyikan

Foto Bukti Kehancuran Pelabuhan Gaza, Suara yang Lebih Jujur dari Propaganda Gaza, Palestina – 1miliarsantri.net: Foto udara Pelabuhan Gaza sebelum dan sesudah agresi menjadi saksi bisu kehancuran. Khaled Safi menyerukan agar dunia menyebarkan kebenaran dan menyingkap propaganda penjajah Israel. Kehancuran Gaza-Palestina, Suara yang Lebih Jujur dari Propaganda Zionis Israel Khaled Safi, influencer Palestina, kembali mengingatkan dunia bahwa apa pun yang dilakukan penjajah untuk mempercantik citranya, fakta kehancuran Gaza tidak bisa disembunyikan. Dalam unggahan terbarunya, ia membagikan foto udara pelabuhan Gaza sebelum dan sesudah agresi, sebagaimana ditulis Free Palestine. Sebarkan kebenaran dan singkap kepalsuan propagandanya. Kehancuran Gaza berbicara lebih keras daripada semua retorika mereka dan lebih jujur ​​daripada semua klaim mereka.” dikutip dari t.me/freepalestine. Mengungkap Kepalsuan Propaganda Khaled Safi menegaskan bahwa dunia harus terus mengungkap kebenaran. Foto-foto seperti ini penting untuk: Seruan untuk Dunia Foto udara pelabuhan Gaza sebelum dan sesudah agresi adalah bukti visual yang tak terbantahkan tentang penderitaan rakyat Gaza. Seperti kata Khaled Safi, kehancuran ini lebih jujur daripada semua klaim propaganda. Dunia harus terus menyuarakan kebenaran, mendukung keadilan, dan tidak membiarkan tragedi ini terlupakan. Kehancuran Gaza bukan sekadar berita. Ini adalah realitas kemanusiaan yang harus disaksikan dunia. Setiap foto, setiap bukti, adalah panggilan untuk bertindak—agar genosida berhenti dan Palestina bisa hidup merdeka.*** Penulis : Thamrin Humris Editor : Thamrin Humris Sumber : Channel WhatsApp Free Palestine Foto : Abdallah El Hajj

Read More

Krisis Kemanusiaan Gaza: Penghancuran dan Blokade Sistemik dan Masif

65 ribu warga Gaza tewas, rumah sakit hancur, bayi tanpa inkubator. Kesaksian parlemen Italia bongkar strategi kelaparan yang disengaja. Dunia ditantang: sampai kapan hanya diam tanpa beraksi? Suara Saksi Mata di Tengah Krisis Sistemik Italia, Palestina – 1miliarsantri.net | KRISIS kemanusiaan di Gaza bukan sekadar deretan angka statistik. Ia adalah kisah manusia, penuh luka dan kehilangan, yang terkuak melalui kesaksian seorang anggota parlemen Italia di hadapan majelisnya. Pidato tersebut mengguncang ruang sidang: bukan hanya karena deskripsinya yang memilukan, tetapi juga karena keberaniannya mengungkap pola kebijakan yang disengaja—bukan sekadar “dampak sampingan perang.” Kesaksian ini menyingkap tiga dimensi utama yang saling berkaitan: penghancuran infrastruktur sipil, blokade bantuan kemanusiaan, dan kelumpuhan institusi internasional. Tiga pilar inilah yang menopang analisis, sekaligus memperlihatkan wajah krisis yang jauh melampaui tragedi lokal—ia adalah ujian moral bagi dunia internasional. Infrastruktur Sipil: Target yang Disengaja Rumah sakit, sekolah, jaringan air, hingga kamp pengungsian adalah fondasi kehidupan masyarakat. Namun di Gaza, fondasi ini nyaris seluruhnya diruntuhkan. Kesaksian itu menyebut: 90% fasilitas kesehatan hancur, sekolah-sekolah rata dengan tanah, jaringan air tak lagi mengalir, bahkan kamp pengungsi ikut menjadi sasaran serangan. Akibatnya, penyakit yang bisa dicegah berubah menjadi penyebab kematian massal. Luka ringan bisa berakhir tragis karena ketiadaan fasilitas medis. Dari catatan parlemen Italia, lebih dari 65.000 warga sipil telah terbunuh. Namun yang lebih mengerikan: jumlah kematian tak langsung akibat runtuhnya layanan kesehatan dan sanitasi diprediksi melampaui korban serangan bom itu sendiri. Kelaparan sebagai Senjata Perang Kesaksian yang paling mencengangkan datang dari perbatasan Rafah. Seorang anggota parlemen Italia menceritakan bagaimana ia melihat konvoi truk bantuan sepanjang 15 kilometer dihentikan. Barang-barang yang ditolak masuk sungguh mencengangkan: kasur, inkubator bayi, hingga obat bius. Blokade ini bukan masalah logistik, melainkan keputusan politik yang disengaja. Dan dampaknya langsung terasa pada nyawa manusia: Barang Bantuan yang Diblokir Implikasi Kemanusiaan Langsung Kasur / Matras Pengungsi tidur di lantai dingin, rentan hipotermia, penyebaran penyakit meningkat. Inkubator Bayi Bayi prematur kehilangan akses perawatan kritis, angka kematian neonatal melonjak. Bahan Anestesi Operasi darurat dilakukan tanpa bius, melahirkan praktik medis yang kejam dan tidak manusiawi. Ketika barang-barang yang jelas bersifat kemanusiaan dianggap “ancaman,” maka jelas tujuannya bukan lagi keamanan, melainkan penghukuman kolektif. Asimetri Konflik yang Tak Terbantahkan Banyak pihak menyebut konflik ini sebagai “perang.” Namun kesaksian parlemen Italia menolak istilah itu. Bagaimana mungkin menyebutnya perang, jika di satu sisi ada “tentara paling kuat dan canggih di dunia,” sementara di sisi lain ada warga sipil tak bersenjata yang dibombardir tanpa henti? Penghancuran fasilitas kesehatan hingga penolakan inkubator bayi tidak bisa dianggap “pertempuran seimbang.” Ia adalah ekspresi asimetri kekuatan yang brutal. Dalam konteks ini, aturan hukum yang berlaku bukan sekadar hukum perang tradisional, melainkan Konvensi Jenewa Keempat—yang mewajibkan kekuatan pendudukan melindungi rakyat sipil, bukan memusnahkannya. Seruan untuk Akuntabilitas Pidato itu lalu bergeser dari narasi penderitaan menjadi seruan politik: dunia internasional harus berhenti sekadar mengecam dan mulai bertindak nyata. Pertanyaan retoris yang ditujukan kepada Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, mengena di jantung persoalan: “Apa batas maksimal Anda? Kapan waktunya Anda akan mengatakan ‘ya’ untuk sanksi?” Pertanyaan itu menunjukkan absurditas situasi: puluhan ribu nyawa melayang, namun tindakan nyata dari komunitas global masih sebatas pernyataan. Kesaksian ini menuntut bukan sekadar sanksi simbolis terhadap individu, tetapi sanksi menyeluruh terhadap pemerintah yang mengkoordinasikan kebijakan penghukuman kolektif tersebut. Dari Kesaksian ke Imperatif Global Kesaksian anggota parlemen Italia ini mengubah cara kita memandang krisis Gaza. Ia menyingkap bahwa penderitaan bukanlah bencana alam, melainkan hasil strategi yang terencana. Dari penghancuran infrastruktur hingga penggunaan kelaparan sebagai senjata, semua menunjukkan pola yang jelas. Satu kesimpulan muncul: komunitas internasional tak lagi bisa bersembunyi di balik retorika. Ada imperatif moral sekaligus strategis untuk bertindak. Implementasi sanksi menyeluruh terhadap pemerintah Israel menjadi langkah mendesak—bukan demi politik, tetapi demi kemanusiaan itu sendiri. Krisis Gaza bukan sekadar tragedi regional; ia adalah cermin global. Apa yang dipilih dunia hari ini akan menentukan wajah peradaban kita esok: apakah berani menegakkan nilai kemanusiaan universal, atau membiarkan suara saksi mata terkubur di balik puing-puing. (***) Penulis: Abdullah al-Mustofa Editor: Toto Budiman Sumber: Kanal Youtube Aljazeera Mubasher Foto: Kanal Youtube AlJazeera Mubasher, Plan International, ABC News

Read More

Di Balik Ilusi Solusi Dua Negara, Rakyat Palestina Masih Bertahan

Palestina – 1miliarsantri.net | Solusi dua negara kerap dijual sebagai jalan keluar konflik, namun bagi rakyat Palestina, ia lebih mirip ilusi yang menambah luka lama. Di balik jargon diplomasi, mereka hidup dalam trauma kolektif, kehilangan arah, dan keputusasaan yang merayap. Meski begitu, di tengah reruntuhan, harapan masih tumbuh: kekuatan rakyat yang menolak menyerah, serta solidaritas dunia yang mulai melihat perjuangan Palestina sebagai isu kemanusiaan sejati. Manusia di Balik Narasi Politik Ketika para pemimpin dunia sibuk berdebat tentang solusi politik, dari meja perundingan hingga ruang sidang internasional, ada hal mendasar yang sering terlupakan: manusia. Bukan sekadar angka korban atau statistik di layar televisi, melainkan kehidupan yang terkoyak, keluarga yang tercerai-berai, dan komunitas yang kehilangan arah. Semua jargon diplomasi kerap menutupi kenyataan pahit di lapangan: penderitaan yang tiada henti. Bencana yang Lebih dari Sekadar Angka Konflik yang berkepanjangan melahirkan luka kemanusiaan yang tak tertandingi. Ia bukan hanya soal rumah yang hancur atau ekonomi yang runtuh. Yang lebih menakutkan adalah jejak psikologis yang melekat—trauma kolektif yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sebuah masyarakat dipaksa hidup dengan rasa takut, kehilangan, dan harapan yang dikubur hidup-hidup setiap hari. Trauma ini tak hanya melumpuhkan jiwa, tetapi juga melemahkan kemampuan rakyat untuk berperan dalam menentukan masa depan politik mereka sendiri. Gelombang Putus Asa Dalam kondisi serba tertekan, keputusasaan menjadi wabah yang merayap cepat. Ketika janji politik tak kunjung ditepati, ketika pihak yang seharusnya membela justru dituding ikut melanggengkan sistem kolonial, rakyat merasa terbuang. Mereka hidup tanpa kompas, seolah ditinggalkan untuk mengarungi masa depan sendirian. Frustrasi ini bukan hanya melemahkan semangat perjuangan, tapi juga merusak tatanan sosial yang menjadi penopang kehidupan sehari-hari. Ilusi Politik yang Tak Pernah Usai Di meja diplomasi, istilah “solusi dua negara” kerap disebut sebagai jalan keluar. Namun bagi banyak rakyat, itu lebih mirip ilusi ketimbang solusi. Syarat-syarat yang tidak adil hanya akan melahirkan versi baru dari perjanjian lama yang gagal. Energi, waktu, dan dana terbuang untuk sesuatu yang sudah terbukti rapuh, sementara di lapangan, pembersihan etnis terus berjalan tanpa henti. Harapan rakyat pun semakin terkikis, tergantikan oleh rasa skeptis pada semua bentuk kesepakatan yang lahir dari luar suara mereka. Harapan yang Tumbuh dari Akar Rumput Namun, di tengah reruntuhan harapan, ada cahaya kecil yang terus menyala: kekuatan rakyat. Gerakan rakyat di Palestina, meski penuh keterbatasan, tetap menjadi sumber energi yang tak tergantikan. Lebih dari itu, opini publik global mulai bergeser. Dari jalan-jalan kota di Barat hingga ruang-ruang akademik, muncul gelombang solidaritas yang menyoroti Palestina bukan sekadar isu politik, melainkan perjuangan kemanusiaan melawan kolonialisme. Rakyat Sebagai Penentu Dukungan global tentu penting, tetapi kunci utama tetap ada pada kebangkitan rakyat di tanah mereka sendiri. Perlawanan sipil yang otentik, terhubung dengan energi solidaritas internasional, menjadi jalan paling nyata untuk merebut kembali martabat. Inilah cara rakyat menemukan kembali kompas perjuangannya—bukan dengan mengandalkan koordinasi luar yang melemahkan, tetapi dengan meyakini bahwa keadilan adalah hak yang mereka miliki sepenuhnya. Hidup yang Menolak Menyerah Pada akhirnya, kekuatan sejati tidak lahir dari meja perundingan, melainkan dari rakyat yang menolak menyerah pada keputusasaan. Dari keluarga yang tetap menyalakan lampu di rumah yang setengah runtuh, dari anak-anak yang tetap belajar meski sekolah mereka hancur, dari doa-doa yang terus dipanjatkan di balik deru bom. Mereka adalah benih kehidupan yang membuktikan bahwa meski bekas luka menganga, harapan tak pernah benar-benar padam. (***) Penulis: Abdullah al-Mustofa Editor: Toto Budiman Sumber:  ملتقى فلسطين (Palestine Forum) Foto: ABC News, IRNA

Read More

Pengakuan Dunia, Derita Gaza: Legitimasi di Atas Kertas, Air Mata di Bawah Reruntuhan

Gaza – 1miliarsantri.net | Saat para pemimpin dunia berkumpul, memberikan pengakuan resmi atas status kenegaraan Palestina—sebuah kabar yang disiarkan di seluruh penjuru dunia—timbul sebuah pertanyaan krusial dari balik puing-puing: Apakah pengakuan di atas kertas bisa menghentikan kesengsaraan? Pergerakan diplomatik dari negara-negara Barat seperti Prancis, Inggris, Kanada, dan lainnya yang mengakui negara Palestina memang disambut sebagai penegasan legitimasi. Namun, bagi mereka yang hidup di tengah operasi militer yang masih berlangsung dan kelaparan hebat, pengakuan itu terasa “tidak berharga”. Fokus utama, jauh melampaui peta dan batas negara, adalah kebutuhan paling mendasar: diakui sebagai manusia biasa. Suara di Tengah Fajar yang Kelabu Kenyataan di Gaza saat ini adalah medan perang yang menghancurkan. Seluruh wilayah berada dalam reruntuhan. Hampir semua penduduk Palestina telah mengungsi. Dalam konteks penderitaan ini, Adeeb Abu Khalid, seorang pengungsi dari Kota Gaza, menyampaikan inti dari harapan mereka: “Yang penting bagi kami adalah perang berhenti,”. Ia menambahkan bahwa saat ini, mereka hidup dalam kelaparan, diliputi kesengsaraan. Data Kementerian Kesehatan Gaza menunjukkan betapa parahnya situasi ini, dengan setidaknya 65.000 orang tewas, di mana sekitar setengahnya adalah perempuan dan anak-anak. Di tengah statistik yang mengerikan ini, pengakuan internasional terasa begitu jauh. Huda Masawabi, seorang pengungsi lainnya, mengungkapkan perasaannya secara lugas, menyatakan bahwa yang ia harapkan hanyalah agar Allah membuat orang-orang di luar sana mengakui mereka, atau setidaknya memperlakukan mereka sebagai “manusia biasa semata”. Air Mata dan Drama ‘Serial TV’ Bagi banyak orang, pergerakan diplomatik ini hanyalah sebuah tontonan yang tidak memiliki dampak jangka pendek di lapangan. Di Tepi Barat, wilayah yang diimpikan menjadi jantung negara Palestina masa depan, kenyataan dipertentangkan dengan perluasan permukiman Israel dan peningkatan kekerasan pemukim. Tragedi kemanusiaan terekam dalam momen yang tak terlupakan, seperti tangisan pilu Omar Al-Zaqzouq, yang berusia 7 tahun, yang berduka di atas jenazah adik laki-lakinya, Malek, yang baru berusia 2 tahun, terbunuh dalam serangan militer. Melihat pemandangan ini, Murad Banat, seorang pria Palestina yang mengungsi, merasakan keputusasaan atas janji-janji yang diberikan dunia. Ia menyebut pengakuan terbaru ini “hanya omong kosong”. Ia membandingkan dunia yang menonton mereka dengan teater: “Semua orang menonton kami seperti drama. Seperti serial TV, setiap hari ada serial TV,”. Mohammad Hammad dari Kamp Jenin juga merasakan hal serupa, menegaskan bahwa semua pengakuan ini “tidak ada artinya,” karena mereka masih berada di bawah pendudukan. Secercah Harapan di Tengah Keteguhan Meskipun keraguan menyelimuti, ada juga yang menemukan sedikit penghiburan dari dukungan global ini. Bagi sebagian orang, pengakuan negara ini memperkuat tekad mereka. Saeed Abu Elaish, seorang petugas medis yang kehilangan banyak anggota keluarga, termasuk istri dan dua putrinya, percaya bahwa pengakuan tersebut merupakan seruan untuk menghentikan genosida dan pembantaian di Gaza, serta penghentian perambahan pemukim di Tepi Barat. Naser Asaliya, seorang pengungsi dari Kota Gaza, berharap pengakuan ini akan memberikan dampak positif, apa pun keadaannya. “Kami adalah orang-orang yang terlanda musibah, dan kami mengharapkan apa pun yang membuat kami bahagia, tidak peduli betapa sederhananya, apa pun yang mendukung kami, memperkuat keteguhan kami di tengah blokade yang tidak adil ini,” katanya. Intinya, apa yang diinginkan oleh rakyat Palestina bukanlah sekadar negara nominal, tetapi negara yang berdaulat penuh yang menjaga perbatasannya, idealnya berdasarkan batas 5 Juni 1967. Selama perang belum berhenti dan kesengsaraan masih membayangi, legitimasi sejati yang mereka dambakan bukanlah pengakuan diplomatik, melainkan pengakuan atas hak mereka untuk hidup, dalam damai, sebagai manusia yang utuh dan berdaulat.  (***) Penulis: Abdullah al-Mustofa Editor: Toto Budiman Sumber: The Associated Press Foto: The New Arab, Anadolu Ajansi, The Wall Street Journal Youtube Channel

Read More

Peringatan Hari Jantung Sedunia 2025, Sejarah hingga Cara Memperingati

Jakarta – 1miliarsantri.net : Penyakit jantung masih menempati penyebab kematian tertinggi di dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Untuk diketahui, penyakit jantung atau kardiovaskular merupakan penyebab kematian tertinggi di dunia, dengan sekitar 17,9 juta orang meninggal setiap tahunnya akibat penyakit ini. Dikutip dari situs ayosehat.kemkes.go.id, penyakit jantung merujuk pada kondisi yang mempengaruhi fungsi normal jantung yang berkaitan dengan kemampuan jantung untuk memompa darah dengan efektif sehingga menyebabkan gangguan pada sirkulasi darah serta berpotensi menjadi ancaman yang serius bagi Kesehatan. Faktor Penyebab Penyakit Jantung? Penyebab penyakit jantung dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah sebagai berikut: Banyaknya kasus kematian global akibat penyakit jantung, melatarbelakangi Federasi Jantung Dunia (WHF) untuk meningkatkan kesadaran serta memberikan edukasi pada masyarakat tentang pencegahan dan mempromosikan gaya hidup sehat melalui peringatan Hari Jantung Sedunia pada tanggal 29 September. Peringatan ini menjadi wadah untuk membuka wawasan dan pemahaman mengenai betapa vitalnya menjaga kesehatan jantung dalam kehidupan sehari-hari. Pentingnya Hari Jantung Sedunia juga terletak pada perannya sebagai pengingat bagi masyarakat akan urgensi menjaga kesehatan jantung. Dalam menyikapi fakta ini, maka penting bagi setiap individu untuk mengambil tindakan pencegahan. Beberapa langkah untuk menjaga kesehatan jantung meliputi mengonsumsi makanan sehat, berolahraga secara teratur, tidak merokok, dan mengontrol tekanan darah serta kolesterol. Baca juga: BI Jaga Momentum, Bunga Acuan Diturunkan Bertahap dari 5 hingga 4,75 Persen Hari Jantung Sedunia 2025 Peringatan Hari Jantung Sedunia pertama kali digelar pada tahun 2000 oleh Federasi Jantung Dunia (World Heart Federation). Sejak itu, setiap tahun, tema berbeda diusung untuk meningkatkan kesadaran dan memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang pentingnya kesehatan jantung. Peringatan Hari Jantung Sedunia 2025 mengangkat tema “Jangan Lewatkan Detak Jantung” (Don’t Miss A Beat), yang bermakna mengajak masyarakat untuk tidak mengabaikan kesehatan jantung serta mengambil tindakan nyata dalam mencegah penyakit kardiovaskular. Tidak hanya itu, peringatan Hari Jantung Sedunia 2025 ini juga sebagai bentuk kewaspadaan dini dalam mendeteksi masalah jantung sedini mungkin sehingga mendorong masyarakat untuk melakukan tindakan preventif seperti melakukan gaya hidup sehat serta melakukan tindakan positif untuk menjaga kesehatan jantung. Cara Memperingati Hari Jantung Sedunia Pada Hari Jantung Sedunia, berbagai organisasi kesehatan dan rumah sakit menyelenggarakan berbagai kegiatan seperti seminar, kampanye kesehatan, dan pemeriksaan kesehatan gratis. Hal ini bertujuan untuk memberikan informasi dan edukasi kepada masyarakat tentang kesehatan jantung. Pemeriksaan kesehatan gratis yang dilakukan adalah untuk membantu masyarakat memantau kondisi jantung mereka serta mengambil langkah-langkah pencegahan jika diperlukan. Oleh karena itu, mari manfaatkan peringatan Hari Jantung Sedunia untuk memperbaiki pola hidup, menjaga kesehatan jantung, dan membawa dampak positif bagi kesejahteraan diri sendiri dan masyarakat pada umumnya. Selamat Hari Jantung Sedunia 2025! Semoga peringatan ini membawa dampak positif dalam upaya menjaga kesehatan jantung dan mengurangi angka penyakit kardiovaskular di seluruh dunia. Baca juga: Ekonomi Kreatif: Kekuatan Baru Indonesia dalam Persaingan Global Penulis: Gita Rianti D Pratiwi Editor: Glancy Verona Ilustrasi by AI

Read More

Yaman Sukses Serang Israel, Bom Jatuh Tepat Di Jantung Pelabuhan Kota Eliat

Pertahanan Israel Iron Dome kembali jebol oleh serangan Drone Houthi dari Yaman Eliat, Israel -1miliarsantri.net: Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah serangan yang diklaim oleh kelompok Houthi di Yaman berhasil menembus sistem pertahanan udara Israel. Sebuah drone bermuatan bahan peledak dilaporkan jatuh di pelabuhan Kota Eilat, wilayah strategis yang terletak di pesisir Laut Merah. Sebuah pesawat tak berawak (drone) yang diluncurkan dari Yaman mengenai kawasan pusat Kota Eilat, Israel, hingga menyebabkan puluhan orang luka dan menimbulkan gangguan operasional di area pelabuhan. Kelompok Houthi di Yaman mengklaim serangan tersebut, sementara Israel menyatakan akan menanggapi insiden ini. Video serangan dipublikasikan oleh channel Telegram PalestinaPost. Insiden ini bukan hanya menimbulkan korban luka, tetapi juga memicu kekhawatiran baru tentang keamanan maritim dan pariwisata di kawasan tersebut. Detik-detik serangan Dikutip dari Reuters, Pada Rabu malam, sebuah drone asal Yaman dilaporkan jatuh di wilayah dekat pelabuhan Eilat—kawasan yang strategis di pesisir Laut Merah. Petugas medis setempat dan layanan darurat melaporkan puluhan korban luka, termasuk beberapa yang berada dalam kondisi serius. Laporan awal menyebutkan sistem pertahanan udara Israel sempat mencoba mencegat tetapi gagal sepenuhnya menghentikan objek tersebut sebelum memasuki area kota. Klaim dan respons Kelompok Houthi yang berbasis di Yaman mengklaim bertanggung jawab atas peluncuran drone sebagai bagian dari aksi solidaritas terhadap Palestina dan sebagai balasan atas operasi udara Israel di wilayah Yaman. Pihak Israel mengecam serangan ini dan memperingatkan akan ada respons militer jika ancaman terhadap infrastruktur dan warga negaranya terus berlanjut. Pernyataan resmi dan kecaman internasional mengikuti insiden ini. Serangan Yaman Berdampak Pada Pariwisata Menurut The Guardian, Pelabuhan Eilat—yang juga melayani aktivitas komersial dan wisata—mengalami gangguan sementara. Aktivitas penumpang dan kargo dipengaruhi karena upaya evakuasi dan pemeriksaan keamanan yang meningkat. Kota Eilat, sebagai tujuan wisata, menghadapi kekhawatiran turis dan operator hotel terkait keamanan jangka pendek. Potensi Eskalasi Pemerintah zionis Israel belum merespon serangan tersebut, timbul pertanyaan “Israel akan membalas langsung ke Yaman, atau memilih strategi diplomatik melalui sekutu internasional?” Potensi eskalasi dapat terjadi dengan skenario: Operasi Militer Terbatas: Israel melancarkan serangan udara ke basis Houthi di Yaman, Eskalasi Regional: Konflik meluas dengan melibatkan Iran secara lebih langsung, atau Tekanan Diplomatik: Israel bersama AS mendorong Dewan Keamanan PBB untuk menjatuhkan sanksi lebih keras terhadap Houthi.. Serangan drone Houthi ke pelabuhan Kota Eilat menjadi titik balik dalam konflik Timur Tengah. Bukan hanya menimbulkan kerusakan fisik dan korban luka, tetapi juga memperlihatkan kerentanan Israel terhadap serangan jarak jauh. Peringatan Keras untuk Israel Kerentanan Pertahanan Iron Dome Bagi Israel, serangan ini menjadi peringatan keras bahwa keamanan nasional tidak hanya terancam dari utara (Lebanon) atau barat (Gaza), tetapi juga dari selatan yang selama ini dianggap relatif aman. Dampak terhadap perdagangan, pariwisata, dan keamanan regional diperkirakan masih akan terasa dalam waktu lama. Dengan keterlibatan aktor-aktor besar seperti AS dan Iran, konflik ini berpotensi berkembang menjadi krisis internasional yang lebih serius.*** Penulis : Thamrin Humris Editor : Thamrin Humris Sumber :  PalestinaPost

Read More