Penyintas Gempa Flores: Jangan Saling Mencakar dalam Situasi Saat Ini
Penulis: Zulkasim Achmad Jenggo, S.Pd | Penulis, Guru MAN Ende dan Jurnalis Warga
Warga masyarakat yang mendirikan tenda paska gempa karena rumahnya masih berdiri dan tidak mengalami kerusakan signifikan justru menuai protes dan kecaman dari sesama penyintas yang mengalami kerugian lebih besar akibat kerusakan rumah yang lebih parah. Kondisi ini kemudian memunculkan tensi yang cukup tinggi di media sosial, seperti Facebook, Instagram, WhatsApp, TikTok, dan berbagai platform lainnya.
Alasan sebagian penyintas yang rumahnya tidak mengalami kerusakan signifikan memilih mendirikan tenda juga cukup masuk akal. Mereka mengalami trauma psikologis akibat gempa susulan (aftershocks) yang terjadi berulang-ulang, bahkan hingga ribuan kali. Dalam situasi seperti ini, persoalannya bukan semata-mata mengenai kerusakan bangunan, melainkan juga mengenai kondisi mental yang terus-menerus diguncang oleh teror gempa susulan.
Baca juga: BMKG Catat 1.598 Gempa Susulan di Utara Flores, Magnitudo Terbesar M6,2: Penyintas Gempa Flores: Jangan Saling Mencakar dalam Situasi Saat IniRasa takut dan kepanikan yang berlangsung terus-menerus dapat berdampak serius terhadap kondisi psikologis maupun fisik seseorang. Dalam situasi tertentu, kepanikan yang berlebihan bahkan dapat memperburuk kondisi kesehatan dan membahayakan keselamatan jiwa.
Selain itu, sebagian penyintas juga tinggal bersama orang tua lanjut usia yang memiliki keterbatasan dalam melakukan upaya mitigasi secara cepat dan leluasa. Mereka juga memiliki anak-anak kecil yang belum sepenuhnya memahami apa yang harus dilakukan ketika gempa kembali terjadi.
Jika kemudian bantuan dari pemerintah, lembaga swadaya masyarakat (LSM), maupun pihak lain datang dalam bentuk selimut, makanan, mi instan, atau kebutuhan lainnya, tentu patut disyukuri. Jika bantuan belum datang, kita juga harus tetap mampu menjaga ketenangan dan tidak saling menyalahkan.
Sebab, persoalan ini sesungguhnya bukan semata-mata tentang bantuan sembako. Ada persoalan lain yang tidak kalah penting, yaitu trauma psikologis.
Para penyintas membutuhkan terapi trauma dan pendampingan psikologis secara intensif dari tenaga kesehatan, psikolog, dokter, atau ahli yang kompeten agar mereka dapat kembali merasa aman dan mampu menjalani kehidupan secara normal.
Kita semua adalah penyintas gempa bumi Flores. Karena itu, sudah semestinya kita saling menguatkan, bukan saling mencurigai, menyalahkan, apalagi iri hati hanya karena persoalan bantuan yang belum merata. Hingga saat ini, masih banyak penyintas yang tinggal di bawah tenda dan belum mendapatkan bantuan yang memadai.
Baca juga: BREAKING NEWS: Gempa M6,4 Guncang Simalungun, Sumatera Utara, BMKG Sebut Tidak Berpotensi Tsunami: Penyintas Gempa Flores: Jangan Saling Mencakar dalam Situasi Saat Ini

