Sosok Khadijah Binti Khuwailid: Inspirasi Womenpreneur Muslimah Dalam Membangun Bisnis Berkah
Surabaya – 1miliarsantri.net: Dulu sebelum cahaya Islam masuk di Mekkah, perempuan dipandang sebelah mata dalam segala lini kehidupan termasuk niaga. Ditengah itu lahir sosok perempuan yang menembus batas yaitu Khadijah binti Khuwailid.
Ia bukan sekedar pedagang sukses dengan kekayaan berlimpah. Dalam catatan sejarah, namanya disebut sebagai saudagar paling terhormat di Quraisy dengan jaringan niaga yang menjangkau Syam hingga Yaman. Namun di balik kekayaan itu terdapat sistem bisnis yang visioner. Jika dibedah hari ini, mengandung prinsip profesional, berisiko, dan penuh spiritualitas.
Investasi Sosial dan Spiritualitas dalam Bisnis
Dalam menjalankan usahanya, Khadijah menerapkan dua sistem bisnis yang visioner yaitu memberi upah kepada pegawai dan bagi hasil kepada partner bisnisnya. Sistem upah ala Kahdijah dengan merekrut karyawan untuk menjual barang dagangan ke luar Makkah, seperti ke Yaman dan Syam. Para pekerja mendapat bayaran layak, bahkan bonus jika berhasil menjual lebih banyak. Pembayaran selalu tepat waktu, yang mencerminkan prinsip Islam:
“Berikanlah upah kepada pekerja sebelum kering keringatnya.” (HR. Ibnu Majah)
Selain itu Khadijah menerapkan sistem bagi hasil dengan menginvestasikan modalnya kepada pengusaha lain yang dipercaya untuk mengelola perdagangan. Keuntungan dibagi secara adil sesuai kesepakatan, menegaskan bahwa ia telah menerapkan prinsip profit sharing ala syariah sejak berabad-abad lalu.
Dengan berbagi modal dan peluang kepada para pengusaha kecil, menumbuhkan ekonomi umat dengan prinsip berbagi hasil, bukan berbagi belas kasihan. Itulah bentuk filantropi produktif yang jarang disadari: membantu dengan memberdayakan.
Rasulullah bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ahmad)
Kedua sistem ini menunjukkan bahwa bisnis Khadijah bukan sekadar mencari laba, tapi membangun keadilan dan ekonomi keberlanjutan. Bagi Khadijah, memberi manfaat tidak berhenti pada sedekah, tetapi pada penciptaan lapangan kerja, keadilan dalam bagi hasil, dan kepercayaan terhadap kemampuan orang lain.
Mewarisi Modal, Menanam Kepercayaan
Khadijah memulai bisnis di usia muda, sekitar 20 tahun. Ia sebenarnya lahir di keluarga pebisnis, ayahnya Khuwailid bin Asad dikenal sebagai pengusaha kaya yang disegani di Quraisy. Dan ayahnya juga dikenal sebagai pribadi rendah hati dan suka menolong orang-orang miskin.
Khadijah mewarisi harta besar dari ayah, suami pertama Abu Halah bin Zurarah dan suami kedua Atiq bin A’idz. Dua suaminya yang telah wafat. Namun alih-alih menikmati kekayaan itu, ia justru menggerakkannya menjadi modal usaha.
Ia sadar bahwa harta yang diam akan membeku, tapi uang yang dikelola dengan amanah akan bertumbuh. Khadijah mempekerjakan banyak orang, mengirim kafilah dagang ke Yaman dan Syam.
Di saat para saudagar Quraisy tergoda dengan praktik riba, ia memilih jalan bersih dengan tidak menjual khamar, tidak menindas pekerja, tidak menimbun keuntungan. “Kejujuran adalah laba terbesar,” begitu prinsip yang diyakininya.
Baca juga: Sudah Dibuka! Begini Syarat dan Cara Daftar Program Magang Berbayar Pemerintah
Keberanian Merekrut Orang Asing
Namun, ada satu sisi menarik dari manajemen Khadijah yaitu berani memperkerjakan orang yang belum ia kenal dekat. Dalam dunia bisnis, keputusan ini mengandung risiko tinggi karena di tangan orang asing harta bisa dibawa lari, barang bisa diselewengkan, reputasi bisa rusak.
Tetapi Khadijah memiliki satu keunggulan yang jarang dimiliki pebisnis lain yaitu naluri mengenali integritas manusia. Ketika ia merekrut Muhammad bin Abdullah, pemuda jujur dari Bani Hasyim. Khadijah tidak hanya melihat keterampilan, tapi akhlak dan kejujurannya.
Dan benar, hasilnya melampaui ekspektasi.
Perdagangan Muhammad ke Syam membawa keuntungan berlipat, tapi yang lebih berharga bagi Khadijah bukan laba, melainkan kejujuran yang langka.
Dari sinilah pelajaran penting muncul. Dalam bisnis, kepercayaan adalah aset yang lebih mahal daripada modal. Khadijah tidak memilih pekerja karena nama besar, tapi karena kepribadian yang bersih dan amanah.
Akhlak Sebagai Pondasi Reputasi
Bagi Khadijah, reputasi bukan soal citra tapi cermin dari hati. Ia dikenal dengan gelar Ath-Thahirah (yang suci) karena kejujuran dan kesetiaannya dalam berdagang. Ia tak pernah menipu takaran, tak pernah mengelabui harga. Ia hidup dengan keyakinan bahwa keuntungan terbesar bukan di neraca laba, tapi di catatan amal.
Sabda Rasulullah SAW:
“Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para nabi, orang-orang benar, dan para syuhada.”
(HR. Tirmidzi)
Dan Khadijah, bahkan sebelum wahyu turun, telah menapaki jalan itu.
Dari Harta ke Surga: Jiwa Dermawan yang Hidup
Kekayaan Khadijah tidak membuatnya lupa berbagi. Ia gemar bersedekah sejak muda, dan setelah menikah dengan Nabi Muhammad SAW, seluruh hartanya digunakan untuk mendukung dakwah Islam.
Allah berfirman:
مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ
Artinya: “Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti (orang-orang yang menabur) sebutir biji (benih) yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261)
Baginya, sedekah bukan mengurangi harta, tetapi memperluas keberkahan. Dari modal dunia, Khadijah menanam pahala akhirat.
Baca juga: Ketika Perusahaan Asuransi Syariah Sudah Berkembang di Inggris
Jejak Abadi Womenpreneur Muslimah Sejati
Siti Khadijah adalah cermin bahwa kesuksesan sejati bukan diukur dari banyaknya harta, tapi dari cara seseorang memperlakukan rezekinya. Ia pandai mengelola modal, berani mempercayai manusia, adil dalam sistem bisnis, dan dermawan dalam berbagi.
Jika dunia mengenalnya sebagai pengusaha sukses, Islam mengenalnya sebagai wanita yang pertama beriman dan berkorban. Dari naluri lahir keberanian, dari amanah lahir kepercayaan, dan dari keduanya lahirlah keberkahan yang abadi.
Penulis : Iftitah Rahmawati
Editor : Thamrin Humris dan Ainun Maghfiroh
Sumber foto: Ilustrasi
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

