Abdurrahman bin Auf

Benarkah Kekayaan Abdurrahman bin Auf Melebihi Elon Musk? Begini Rahasia Bisnis Berkahnya!

Surabaya – 1miliarsantri.net: Siapa sangka sosok sahabat Nabi yang ikhlas hijrah dari Mekah ke Madinah tanpa membawa harta bendanya dan terputus koneksi bisnisnya.  Selama hijrah modal bertahan hidup hanya dengan keyakinan dan semangat bekerja. Tak disangka beberapa tahun kemudian, ia menjadi pengusaha Muslim terkaya dalam sejarah Islam, bahkan tiga kali lebih kaya daripada Elon Musk jika dikonversikan ke mata uang sekarang. Dialah Abdurrahman bin Auf sahabat Nabi  yang dikenal bukan hanya karena kekayaannya, tetapi karena keberkahan bisnis dan kedermawanannya. Ketika hijrah Di Madinah, ia dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Ar-Rabi’ seorang Anshar kaya raya yang menawarinya separuh kekayaan dan keluarganya. Namun Abdurrahman menolak dengan halus, seraya berkata, “Semoga Allah memberkahi keluargamu dan hartamu. Tunjukkan saja padaku dimana pasar.” Modal awalnya hanya dua hingga empat dinar sekitar 10 jutaan14,5  dan diimbangi dengan modal mentalitas berupa tekad kuat dan kecerdasannya berbisnis.  Ia mulai berdagang bahan kebutuhan pokok, membaca pola pasar, hingga akhirnya dikenal sebagai pedagang paling dipercaya. Menjelang wafatnya, hartanya mencapai kurang lebih 3,1 miliar dinar emas yang  setara dengan Rp 1-14 kuadriliun dalam nilai saat ini. Angka yang bahkan melampaui kekayaan Elon Musk sebagai orang terkaya di dunia saat ini, hartanya mencapai Rp 3.500-4000 triliun.  Apa resep bisnis sukses dunia akhirat ala Abdurrahman Bin Auf?. Inilah 5 teladan beliau yang bisa diambil.pelajaran bagi siapapun yang membangu bisnis barokah. 1. Jeli Membaca Pasar dan Kebutuhan Masyarakat Hal pertama yang dilakukan oleh Abdurrahman memulai dengan riset pasar sederhana dengan mendatangi pasar Qainuqa’. Hal yang diamatinya adalah kebutuhan masyarakat, barang apa yang laris, dan siapa pesaingnya. Hasilnya risetnya mendorongnya untuk usaha  kebutuhan pokok seperti keju, kurma, dan minyak samin memiliki perputaran cepat.  Keputusan cerdas itu membuatnya cepat mendapat pelanggan tetap. Ia tidak menunggu peluang datang, tapi menciptakan peluang dari kebutuhan masyarakat.  Prinsip ini sejalan dengan hadis Nabi: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.” (HR. Thabrani) 2. Modal Kecil, Integritas Besar Abdurrahman menolak pinjaman, hadiah, bahkan investasi dari orang lain. Ia hanya mengandalkan uang tunai dan kerja keras. Prinsipnya sederhana bahwa  uang halal dari usaha sendiri lebih berkah daripada modal besar dari tangan orang lain. Dalam setiap transaksi, ia jujur menjelaskan kondisi barang. Jika ada cacat, ia sampaikan. Kejujuran ini menjadi branding terbaik yang membuatnya dipercaya semua orang daei Muslim maupun non-Muslim.  Rasulullah  bersabda: “Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para nabi, shiddiqin, dan syuhada.” (HR. Tirmidzi) Integritas inilah pondasi semua kesuksesan karena kepercayaan tidak bisa dibeli, hanya bisa dibangun. Baca juga: Apakah AI untuk UMKM Syariah Sudah Sesuai dengan Prinsip Agama? Ternyata Begini Penjelasan Faktanya!

Read More

5 Fase Penulisan Al-Qur’an Sejak Masa Rasulullah Hingga Saat Ini

Bekasi – 1miliarsantri.net: Al-Qur’an adalah kalam Allah, firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ melalui Malaikat Jibril. Al-Qur’an bukanlah ciptaan manusia, melainkan wahyu illahi yang menjadi pedoman hidup bagi umat manusia, khususnya seluruh umat Islam. Banyak yang bertanya, apakah Al-Qur’an saat ini sama dengan Al-Qur’an saat diterima Nabi Muhammad Salallahu Alaihi Wasallam ataukah berbeda? Baca juga : Investasi Akhirat ‘Bantu Bebaskan Lahan’ Untuk Pondok Pesantren Al Quran Fajar Ashshiddiq Patut diketahui, secara prinsip Isi Al-Qur’an sejak Rasulullah menerima wahyu pertama hingga saat ini adalah sama. Firman Allah yang diterima Nabi Muhammad selama 23 tahun itu tercatat dengan baik dari masa ke masa dan dalam pemeliharaan Allah. “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9). 5 Fase Penulisan Al-Qur’an Sejak pertama kali Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad, terdapat 5 (lima) fase penulisan kitabullah yang perlu dipahami. Tidak ada perbedaan isi Al-Qur’an, yang berbeda hanya cara penulisannya. Fase Pertama: Penulisan Langsung, yang mana penulisan setiap potongan ayat saat itu juga ketika wahyu diturunkan, Rasulullah ﷺ kemudian memanggil para sahabat untuk menuliskan dihadapannya. Ada 4 sahabat nabi yang menuliskan ayat-ayat Allah yang diterima oleh Nabi Muhammad, diantara mereka ada yang merupakan penghafal Al-Qur’an. Para sahabat itu, Zaid bin Tsabit, Muawiyah Ibn Abi Sufyan, Ubaid bin Ka’ab (penghafal qur’an) dan Zubair Nawab. Baca juga : ‘Spirit Mencetak Pemimpin Qurani Menuju Indonesia Emas 2045’, Dipilih Jadi Tema ‘Wisuda Akbar Ke-XI’ Ponpes Darul Hijrah se Jawa Timur Zaid bin Tsabit mengatakan, Rasul mendiktekan Al-Qur’an dan meminta sahabat membaca sesudahnya, lalu Rasulullah mengkoreksi bacaannya/tulisannya. Lalu diijinkan untuk disampaikan kepada sahabat-sahabat dan kaum muslimin Madinah saat itu. Pada fase tersebut, ayat-ayat Qur’an ditulis dalam bentuk potongan pada media seperti pelepah kurma, papan, batu, kulit binatang dan lainnya, belum dalam bentuk buku yang tersusun rapi seperti saat ini.

Read More