Cara Menggali Dan Mengamalkan 4 Sifat Wajib Rasulullah Dalam Kehidupan

Bondowoso – 1miliarsantri.net: Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan kompleks ini, kita sering merasa kehilangan arah, kehilangan panutan yang benar-benar bisa dipercaya. Sosok yang mampu menjadi teladan sejati dalam ucapan dan tindakan kian sulit ditemukan. Namun, sejarah Islam menghadirkan pribadi agung yang menjadi jawaban dari semua kebutuhan akan teladan tersebut, para Rasul Allah, khususnya Nabi Muhammad SAW.  Apa yang membuat mereka begitu layak diteladani? Salah satunya adalah empat karakter utama yang menjadi fondasi kepribadian mereka, yang disebut sifat wajib Rasul. Keempat sifat ini tidak hanya menunjukkan kesempurnaan moral seorang utusan Allah, tetapi juga bisa dijadikan pedoman hidup oleh setiap manusia yang mendambakan kehidupan yang lurus, jujur, dan bermakna. Artikel ini akan membahas bagaimana kita bisa menggali dan mengamalkan sifat wajib Rasul dalam kehidupan sehari-hari secara nyata. Baca juga: Sholat Kafarat Adakah Dalilnya? Bagaimana Pandangan 4 Madzhab?, Ini Penjelasan Singkatnya Apa Itu Sifat Wajib Rasul? Sebelum mengamalkan, mari pahami terlebih dahulu bahwa sifat wajib Rasul adalah empat sifat utama yang pasti dimiliki oleh setiap Nabi dan Rasul. Sifat ini bukan hanya atribut kepribadian, melainkan syarat mutlak untuk membawa risalah Allah dengan sempurna. Tanpa keempat sifat ini, misi kerasulan tidak akan tersampaikan dengan baik dan tidak akan diterima oleh umat. Adapun sifat-sifat tersebut meliputi Shiddiq (jujur), Amanah (dapat dipercaya), Tabligh (menyampaikan), dan Fathonah (cerdas). Cara Menghidupkan Nilai-Nilai Rasul dalam Diri Kita Berikut penjelasan keempat sifat wajib Rasul beserta cara nyata untuk menghidupkannya dalam keseharian, agar kita tidak hanya mengenalnya secara teori, tetapi juga menjadikannya bagian dari karakter dan kepribadian yang mulia. Baca juga: 5 Warna Darah Haid Menurut Fiqih! Mana yang Termasuk Najis, Mana yang Tidak? 1. Shiddiq (Jujur dalam Segala Aspek Kehidupan) Shiddiq berarti jujur, baik dalam ucapan, perbuatan, maupun niat. Rasulullah SAW telah dikenal sebagai orang yang sangat jujur bahkan sebelum diangkat menjadi Nabi. Kejujuran bisa diterapkan dalam berbagai situasi, mulai dari tidak mencontek saat ujian, tidak berbohong saat izin kerja, hingga berkata jujur dalam hubungan sosial dan keluarga. Masyarakat yang dipenuhi oleh individu jujur akan menjadi masyarakat yang penuh kepercayaan dan aman. 2. Amanah (Bertanggung Jawab dan Bisa Dipercaya) Amanah mencerminkan tanggung jawab dan kepercayaan yang diemban dengan sungguh-sungguh. Rasulullah selalu menjaga titipan dan menyampaikan amanat, bahkan kepada musuh. Menjadi amanah bukan hanya soal memegang rahasia atau menjaga barang, tetapi juga dalam pekerjaan, tugas akademik, dan peran sosial. Seorang pemimpin, misalnya, harus amanah terhadap jabatan dan rakyatnya. Orang tua harus amanah terhadap anak dan keluarganya. 3. Tabligh (Menyampaikan Kebenaran Tanpa Takut) Tabligh berarti menyampaikan risalah Allah tanpa dikurangi atau ditambah. Rasul tidak pernah menyembunyikan wahyu, meski konsekuensinya berat. Dalam konteks modern, kita bisa meneladani tabligh dengan cara menyebarkan informasi yang benar, tidak menyebar hoaks, dan mengingatkan teman atau keluarga dengan cara yang santun bila mereka melakukan kesalahan. Kebenaran harus disampaikan dengan bijak dan adil, bukan dengan marah atau menyakiti. 4. Fathonah (Cerdas, Bijaksana, dan Visioner) Fathonah merupakan kecerdasan yang mencakup akal, emosi, dan spiritual. Rasulullah tidak hanya pandai dalam berdiplomasi, tetapi juga bijak dalam mengambil keputusan penting. Kecerdasan bukan hanya soal nilai akademik, tetapi juga mencakup cara kita memahami orang lain, menghadapi masalah, dan menentukan langkah. Bijak dalam menanggapi konflik, tidak mudah terpancing emosi, dan mampu berpikir panjang adalah bentuk nyata dari sifat fathonah. Keempat sifat wajib Rasul bukan sekadar ajaran yang tertulis di buku agama atau sekadar hafalan pelajaran di sekolah. Sifat-sifat ini merupakan cerminan dari keagungan akhlak Rasulullah SAW yang relevan dan bisa diamalkan di zaman sekarang. Ketika kita jujur (Shiddiq), dipercaya (Amanah), berani menyuarakan kebenaran (Tabligh), dan berpikir cerdas (Fathonah), kita sesungguhnya sedang meneladani Rasul dalam bentuk yang paling sederhana namun paling berdampak. Mulailah dari hal-hal kecil, dari lingkungan terdekat, dan dari diri sendiri. Sebab, dunia ini tidak kekurangan pengetahuan, tapi sangat kekurangan keteladanan. Jadilah bagian dari perubahan itu, dengan menjadikan sifat wajib Rasul sebagai peta hidup yang menuntun kita menuju kebaikan dan keberkahan dunia akhirat.** Penulis : Ainun Maghfiroh Foto ilustrasi Editor : Thamrin Humris

Read More

Tarif Dagang Adalah Daya Tawar Negara, Catatan Kritis Kesepakatan Indonesia Dan Amerika Serikat

Cimahi – 1miliarsantri.net: Kesepakatan perdagangan antara Amerika dan Indonesia yang diklaim oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump melalui media sosial miliknya Truth Social, mengejutkan berbagai pihak baik dalam maupun luar negeri. Ada yang memuji diplomasi Presiden RI Prabowo Subianto, namun ada juga yang menyesalkan kesepakatan tersebut yang disinyalir merugikan posisi Indonesia. Berikut, 1miliarsantri.net menyajikan sebuah catatan kritis yang ditulis oleh HM Ali Moeslim dalam perspektfi Islam dengan judul : “Tarif Dagang Adalah Daya Tawar Negara.” Kesepakatan Perdagangan Indonesia dan Amerika Serikat BENAR sebuah ungkapan “the beggars can’t be chooshers”, pengemis tidak bisa menjadi pemilih, berarti bahwa seseorang yang berada dalam posisi yang dibutuhkan atau meminta sesuatu dari orang lain tidak boleh pilih-pilih atau menuntut tentang apa yang mereka terima. Mereka harus berterima kasih atas apa pun yang ditawarkan kepada mereka. Baca juga : Presiden Prabowo Tegaskan Proyek Giant Sea Wall Akan Tetap dimulai Dengan Kekuatan Nasional Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Selasa (15/7) mengklaim telah mencapai kesepakatan perdagangan dengan Indonesia.Kesepakatan ia klaim tercapai setelah berbicara langsung dengan Presiden Prabowo Subianto. Satu-satunya detail yang diungkapkan Trump tentang kesepakatan tersebut adalah AS hanya akan mengenakan tarif impor atas produk Indonesia sebesar 19%, turun dari 32% sebelumnya. Tarif 19% Tidak Gratis Dinikmati Indonesia Namun, tarif 19 persen itu tidak gratis untuk bisa dinikmati Indonesia. Ada beberapa syarat yang harus dipatuhi Indonesia bila ingin menikmati tarif itu; Di sini kita bisa menilai, betapa lemahnya “daya tawar” Indonesia di mata Amerika Serikat. Daya tawar sebuah negara itu tidak muncul begitu saja, namun lahir dari usaha keras terukur membangun stabilitas dan integritas dalam negeri. Rasulullah Memelihara Dan Menjaga Urusan Kaum Muslimin Bagaimana dulu Rasulullah SAW mendirikan dan membangun stabilitas dan integritas negara Islam Madinah? Kita tahu Beliau berkedudukan sebagai kepala negara, Qadli dan Panglima Militer. Beliau memelihara dan menjaga berbagai urusan kaum Muslim dan penduduk lainnya, menyelesaikan perselisihan-perselisihan di antara mereka. Jadi, sejak tiba di Madinah, Beliau mendirikan Daulah atau Negara Islam. Negara tersebut dijadikan pusat pembangunan masyarakat yang berdiri di atas pondasi yang kokoh yakni aqidah dan syariah, di antaranya dengan membuat Piagam Madinah. Madinah saat itu merupakan pusat persiapan kekuatan yang cukup untuk melindungi negara dan menyebarkan dakwah. Setelah seluruh persoalan stabil dan terkontrol, Beliau mulai menghilangkan rintangan-rintangan fisik yang menghadang di tengah jalan penyebaran Islam. Rasulullah SAW bersabda; إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا، وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ “Sesungguhnya Allah akan memuliakan suatu kaum dengan kitab ini (Al Quran) dan menghinakan yang lain.” Kondisi dalam negeri Madinah menjadi stabil, terutama setelah guncangan hebat yang dirasakan oleh penduduk Madinah atas kekalahan kaum muslimin dalam perang Uhud. Stabilisasi dan integralisasi tercapai “hanya” dalam waktu 5 tahun. Baca juga : Etika Pergaulan dalam Islam: Panduan Bijak di Era Modern Rasulullah SAW Melakukan Hubungan Luar Negeri Tahun ke 6 Rasulullah SAW melakukan hubungan luar negeri yakni dengan mengirim surat kepada para Raja yang besar yang menguasai beberapa belahan dunia, surat-surat tersebut dikirimkan setelah Nabi Muhammad SAW kembali dari Perjanjian Hudaibiyah. Tujuan utama pengiriman surat adalah untuk mengajak para penguasa dan raja-raja untuk memeluk agama Islam. Beberapa tokoh yang menerima surat dari Nabi Muhammad SAW antara lain; Heraclius (Kaisar Romawi Timur), Khosrau II (Kaisar Persia), Najasyi (Raja Habasyah), Muqauqis (Raja Mesir), Al-Harits bin Abi Syimr al-Ghassani (Gubernur Suriah), Munzir bin Sawa al-Tamimi (Penguasa Bahrain), dari sinilah tergambar bahwa hubungan luar negeri negara Islam itu adalah dakwah. Khalifah Umar bin Khatab pernah menanyakan tarif dagang atau cukai kepada para saudagar di madinah yang berdagang (ekspor) yang diterapkan oleh negara luar di luar wilayah kekhalifahan. Khalifah bertanya kepada para saudagar Muslim yang mendatangi negara Etiopia, tentang berapa banyak negara tersebut mengambil pajak dari mereka. Mereka menjawab, “Mereka mengambil 10 dari dagangan kami.” Mendengar jawaban ini, Khalifah Umar menyuruh kepada para pegawainya untuk menarik pajak 10% dari barang dagangannya non-Muslim. Khalifah Umar juga bertanya kepada Utsman bin Hanif, “Berapa banyak orang kafir harbi mengambil dagangan jika kalian sampai ke negara mereka?” Jawab dia, “10%.” Mendengar jawaban ini, Khalifah Umar menginstruksikan kepada para pejabatnya untuk menarik pajak 10% atas barang dagangannya non-Muslim. Pemberlakuan Cukai Untuk Barang-Barang Ekspor dan Impor Diterapkan Khalifah Dalam Buku The Great Leader of Umar bin Al Khathab, Dr. Muhammad Ash-Shalabi menuturkan bahwa pemberlakuan cukai untuk barang-barang ekspor dan impor zaman Khalifah Umar telah diterapkan. Nama petugas penarik cukai adalah Al-‘Asyir. Pajak model ini belum ada pada masa Nabi Muhammad SAW. dan Khalifah pertama Abu Bakar. Sebab, masa tersebut adalah masa penyebaran dakwah, jihad di jalan Allah dan proses pendirian Negara Islam. Pada masa Umar bin al-Khaththab, wilayah Negara Islam semakin bertambah luas ke arah Barat maupun ke arah Timur. Sehingga pertukaran barang Negara Khilafah dengan yang lain adalah merupakan suatu tuntutan. Hal ini harus dimanfaatkan untuk kepentingan umat. Khalifah Umar bin aI-Khaththab memiliki ide untuk menerapkan pajak atas barang yang masuk ke Negara Islam. Sebagaimana halnya negara-negara non-Islam menerapkan pajak terhadap para pedagang Islam yang datang ke tempat mereka. Tujuan lain dari Khalifah Umar adaIah untuk melakukan perlakuan yang sama, hal ini disampaikan kepada para sahabat, para sahabat setuju, maka cukai dari kaum kafir adalah ijma’.*** Penulis : HM Ali Moeslim (Penulis dan Pembimbing Hajj & Umroh) Foto istimewa Editor : Thamrin Humris

Read More

5 Fase Penulisan Al-Qur’an Sejak Masa Rasulullah Hingga Saat Ini

Bekasi – 1miliarsantri.net: Al-Qur’an adalah kalam Allah, firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ melalui Malaikat Jibril. Al-Qur’an bukanlah ciptaan manusia, melainkan wahyu illahi yang menjadi pedoman hidup bagi umat manusia, khususnya seluruh umat Islam. Banyak yang bertanya, apakah Al-Qur’an saat ini sama dengan Al-Qur’an saat diterima Nabi Muhammad Salallahu Alaihi Wasallam ataukah berbeda? Baca juga : Investasi Akhirat ‘Bantu Bebaskan Lahan’ Untuk Pondok Pesantren Al Quran Fajar Ashshiddiq Patut diketahui, secara prinsip Isi Al-Qur’an sejak Rasulullah menerima wahyu pertama hingga saat ini adalah sama. Firman Allah yang diterima Nabi Muhammad selama 23 tahun itu tercatat dengan baik dari masa ke masa dan dalam pemeliharaan Allah. “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9). 5 Fase Penulisan Al-Qur’an Sejak pertama kali Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad, terdapat 5 (lima) fase penulisan kitabullah yang perlu dipahami. Tidak ada perbedaan isi Al-Qur’an, yang berbeda hanya cara penulisannya. Fase Pertama: Penulisan Langsung, yang mana penulisan setiap potongan ayat saat itu juga ketika wahyu diturunkan, Rasulullah ﷺ kemudian memanggil para sahabat untuk menuliskan dihadapannya. Ada 4 sahabat nabi yang menuliskan ayat-ayat Allah yang diterima oleh Nabi Muhammad, diantara mereka ada yang merupakan penghafal Al-Qur’an. Para sahabat itu, Zaid bin Tsabit, Muawiyah Ibn Abi Sufyan, Ubaid bin Ka’ab (penghafal qur’an) dan Zubair Nawab. Baca juga : ‘Spirit Mencetak Pemimpin Qurani Menuju Indonesia Emas 2045’, Dipilih Jadi Tema ‘Wisuda Akbar Ke-XI’ Ponpes Darul Hijrah se Jawa Timur Zaid bin Tsabit mengatakan, Rasul mendiktekan Al-Qur’an dan meminta sahabat membaca sesudahnya, lalu Rasulullah mengkoreksi bacaannya/tulisannya. Lalu diijinkan untuk disampaikan kepada sahabat-sahabat dan kaum muslimin Madinah saat itu. Pada fase tersebut, ayat-ayat Qur’an ditulis dalam bentuk potongan pada media seperti pelepah kurma, papan, batu, kulit binatang dan lainnya, belum dalam bentuk buku yang tersusun rapi seperti saat ini. Fase Kedua: Pengumpulan tulisan-tulisan sebelumnya dalam 1 shuhuf, kemudian ditulis ulang dalam lembaran kertas dikumpulkan menjadi satu / mushaf induk. Kegiatan penulisan tersebut dilakukan zaman Abubakar Siddik Radhiyallahu’Anhu (atas saran Umar Bin Khattab Radhiyallahu’Anhu). Baca juga : Ikatan Keluarga Minangkabau ‘IKM’ Ende Buka Taman Pendidikan Al-Qur’an ‘Al Istiqomah’ Fase Ketiga: Disalin Ulang, Mushaf induk zaman Abubakar, mushaf induk tersebut disalin ulang, atau diperbanyak istilah sekarang dicopy menjadi mushaf-mushaf yang banyak. Kegiatan tersebut berlangsung pada masa sahabat Utsman Bin Affan Radhiyallahu’Anhu. Kemudian mushaf-mushaf dikirim atau disebar ke negeri-negeri atau kota-kota kaum muslimin bersama qari yang mutkin (mumpuni keilmuannya). Seperti kota Makkah, Syam, Basyrah, Kuffah dan lainnya. Fase Keempat: Kaum Muslimin Menulis Ulang / Memperbanyak Mushaf. Mushaf yang dikirim dari Madinah bersama qari yang mutkin, misal ketika ada di Syam kemudian diperbanyak lagi / ditulis ulang (disalin) dan berlanjut seterusnya, namun tetap terjaga keasliannya. Baca juga : Gratis! ‘Pelatihan Guru Ngaji’ Pusat AlQuran Indonesia, Terbatas Untuk 100 Orang Fase Kelima: Muncullah Kitab-kitab yang ditulis para Ulama yang memberikan penetapan tentang kekhususan-kekhususan penulisan Qur’an (Ilmu Rasmil Masail). Mushaf meskipun dalam bahasa Arab ada pembahasan kaidah-kaidah antara penulisan dan pembacaannya. misalnya ayat “Maalikiyaumiddin” dalam penulisan tidak ada alif (hanya Mim, Lam, Kaf), namun mim dibaca panjang, ada yang juga yang dibaca pendek. inilah yang disebut kaidah-kaidah penulisan mushaf. Inilah lima fase penulisan Al-Qur’an, semoga artikel ini menjadi salah satu literasi bagi kaum muslimin bahwa Al-Qur’anul Karim ditulis dalam beberapa fase hingga saat ini.** Sumber: Catatan Pribadi Redaksi Dalam Kelas Khusus Tajwid Mushawwar Batch 4, Qothrunnadaa Learning Center (https://qothrunnadaa.id/). Penulis dan Editor : Thamrin Humris Foto : Ilustrasi

Read More

Dewan Masjid Indonesia Serukan ‘Qunut Nazilah’ Menyikapi Eskalasi Di Timur Tengah

Jakarta – 1miliarsantri.net: Kondisi Timur Tengah terus memanas ditandai meningkatnya eskalasi konflik yang melibatkan Iran dan zionis israel. Konflik yang meluas telah menjadi sorotan dunia dan menimbulkan kekhawatiran mendalam. Dewan Masjid Indonesia (DMI) sebagai organisasi yang menaungi berbagai masjid di seluruh Indonesia, memiliki peran penting dalam menyuarakan sikap umat Islam dan mendorong perdamaian. Lalu, bagaimana DMI menyikapi eskalasi ini? DMI yang diketuai DR. H.M. Jusuf Kalla, Wakil Presiden Indonesia ke-10 dan ke-12 telah mengambil sikap atas kondisi tersebut, dengan mengeluarkan Seruan resmi Dewan Masjid Indonesia bernomor 104.C/III/SE/PP-DMI/VI/2025, “Seruan Melakukan Qunuth Nazilah” diterbitkan di Jakarta tanggal 21 Dzulhijjah 1446H/17 Juni 2025M, ditandatangani oleh DR. H.M. Jusuf Kalla selaku Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal DMI, Dr Rahmat Hidayat, SE., MT. Seruan Dewan Melakukan Qunut Nazilah Seruan DMI ditujukan kepada Seluruh Pimpinan DMI Pusat, Wilayah, Dacrah, Cabang, dan Ranting, Seluruh Pimpinan Organisasi Otonom DMI di Semua Tingkatan, Pengurus DKM dan Takmir Masjid/Mushalla Seluruh Indonesia, dan Seluruh Umat Islam Indonesia. Dalam seruan tersebut, DMI menyatakan, “Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Segala puja dan puji hanya kepada Allah subhanahu wa Ta’alaa. Salam serta selawat kepada Rasulullah Muhammad Sallaallaahu Alaihi Wa Salam.“ “Sehubungan dengan eksalasi konflik di Timur Tengah, terutama akibat penyerangan Israel terhadap Iran dan terus terjadinya genosida Israel terhadap bangsa Palestina, dengan ini Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia (PP DMI) menyerukan kepada Pimpinan dan seluruh Anggota DMI, pengurus DKM/Takmir masjid/mushalla, dan umat Islam di seluruh Indonesia untuk melaksanakan qunuth nazilah (dalam rangkaian shalat Jum’at maupun sendiri-sendiri), serta memanjatkan doa untuk kemerdekaan Palestina dan keselamatan umat Islam di seluruh dunia.” Qunuth nazilah adalah doa qunuth (doa khusus) yang dibaca saat umat Islam menghadapi musibah besar, bencana, wabah, atau kesulitan yang menimpa. Tujuannya adalah memohon pertolongan dan perlindungan Allah Swt. Qunuth nazilah bisa dibaca pada setiap salat fardu/wajib.*** Penulis : Thamrin Humris Editor : Toto Budiman Foto istimewa

Read More

Menelusuri Sejarah Perang Badar Yang Mengubah Arah Peradaban Islam

Bondowoso – 1miliarsantri.net: Siapa sangka, di padang pasir yang tandus, sebuah pertempuran tak seimbang justru melahirkan kemenangan besar yang mengguncang kedudukan kaum musyrik Quraisy. Dengan hanya 313 pasukan, umat Islam mampu mengalahkan lebih dari seribu tentara Quraisy. Kejadian luar biasa ini telah tercatat dalam tinta sejarah Islam sebagai perang besar pertama yang menjadi pembeda antara yang hak dan yang batil. Dan sejarah Perang Badar ini, bukan hanya sekadar narasi tentang bentrokan dua pasukan, tetapi lebih dari itu, ia adalah kisah penuh keajaiban, strategi, dan iman yang tak tergoyahkan. Peristiwa ini menjadi titik balik penting dalam perjalanan dakwah Rasulullah SAW dan umat Islam.  Umat Islam dan generasi selanjutnya sangat wajib untuk mengetahui dan meneladani peristiwa ini. Itulah mengapa, kami Kembali membahas peristiwa ini, agar kita bisa terus ingat, dan menceritakan kepada anak cucu kita. Dan mari, kita langsung bahas kisah lengkap sejarah Perang Badar yang menggetarkan, di bawah ini. Awal Mula Meletusnya Perang Untuk memahami sejarah Perang Badar, kita harus kembali menelusuri situasi sosial dan politik yang memicu konflik ini. Ketika kaum muslimin hijrah ke Madinah, ketegangan antara mereka dengan kaum Quraisy di Makkah tidak mereda. Bahkan, kaum Quraisy semakin agresif dalam menindas dan memusuhi umat Islam. Mereka tidak hanya menyakiti secara fisik, tetapi juga menghalangi penyebaran dakwah dan menutup akses ekonomi bagi kaum muslimin. Pada saat itu, kafilah dagang Quraisy sedang dalam perjalanan pulang dari Syam menuju Makkah. Kafilah tersebut membawa harta kekayaan besar milik penduduk Makkah. Rasulullah SAW melihat hal ini sebagai peluang strategis untuk melemahkan kekuatan ekonomi musuh dan sekaligus menguatkan posisi umat Islam. Maka beliau bersabda, “Ini adalah kafilah Quraisy yang membawa harta benda mereka. Hadanglah kafilah itu, semoga Allah SWT memberikan rampasan itu kepada kalian.” Ketimpangan Kekuatan Pasukan Salah satu sisi paling menegangkan dari sejarah Perang Badar adalah ketimpangan jumlah dan perlengkapan pasukan. Kaum muslimin hanya berjumlah 313 orang, sementara pasukan Quraisy mencapai lebih dari 1.000 orang, lengkap dengan persenjataan dan kuda-kuda perang. Secara logika manusia, kekuatan yang tidak sebanding ini bisa dipastikan menjadi kekalahan telak bagi umat Islam. Namun yang membedakan sejarah Perang Badar dari pertempuran biasa adalah keyakinan para sahabat terhadap pertolongan Allah SWT. Mereka bukan hanya berangkat dengan semangat juang, tapi juga dengan iman yang dalam. Rasulullah SAW bahkan mengatur strategi brilian dengan lebih dahulu menguasai mata air di kawasan Badar. Ini memberi keuntungan taktis besar karena persediaan air sangat krusial dalam kondisi gurun yang gersang. Detik-detik Pertempuran yang Meliputi Taktik, Doa, dan Keajaiban Pertempuran besar dalam sejarah Perang Badar dimulai ketika Al-Aswad bin Abdul Asad Al-Makhzumi maju ke barisan depan dan berusaha merebut mata air. Ia dihadang oleh Hamzah bin Abdul Muthalib yang berhasil melumpuhkannya dengan tebasan pedang. Peristiwa ini menjadi pemicu pecahnya perang secara menyeluruh. Di tengah kekacauan, Rasulullah SAW terus berdoa kepada Allah SWT memohon kemenangan. Dalam sebuah riwayat disebutkan, Rasulullah SAW sempat tertidur sejenak dan melihat Jibril datang membawa pertolongan. Tidak lama kemudian, para sahabat mulai merasakan kehadiran kekuatan yang tidak mereka kenal. Tangan-tangan musuh tertebas, kepala-kepala mereka tumbang tanpa diketahui siapa yang melakukannya. Inilah momen penting dalam sejarah Perang Badar, bantuan para malaikat yang memperkuat barisan kaum muslimin. Hasil Akhir Pertempuran untuk Kemenangan Gemilang Umat Islam Sejarah mencatat bahwa pertempuran hanya berlangsung sekitar dua jam, namun dampaknya luar biasa. Tiga pemimpin pasukan Quraisy tewas, pasukan mereka mundur dengan kekalahan telak. Umat Islam tidak hanya menang secara fisik, tetapi juga secara moral dan spiritual. Peristiwa ini disebut dalam Al-Qur’an sebagai Yaum al-Furqan, hari pembeda antara kebenaran dan kebatilan. Kemenangan dalam sejarah Perang Badar bukan hanya kemenangan di medan tempur, melainkan juga kemenangan strategi, iman, dan keberanian. Sejak saat itu, Islam mulai diakui sebagai kekuatan baru yang tak bisa dipandang remeh. Dampak dari peristiwa ini sangat besar, baik secara politik maupun sosial, dan menjadi dasar kuat bagi dakwah Islam di tahun-tahun berikutnya. Hikmah Besar dari Sejarah Perang Badar Mengulas sejarah Perang Badar mengajarkan kita tentang pentingnya keyakinan, kesabaran, dan strategi dalam menghadapi ketidakpastian hidup. Meski kondisi tidak seimbang, dengan izin Allah SWT dan perjuangan yang tulus, kemenangan tetap bisa diraih. Perang Badar tidak hanya menjadi tonggak sejarah kemenangan umat Islam, tapi juga pelajaran abadi bahwa kebenaran, meski tampak lemah di awal, pasti akan menang pada akhirnya. Oleh karena itu, sejarah Perang Badar akan selalu menjadi bagian penting dalam perjalanan umat Islam yang patut dipelajari dan direnungkan. Semoga informasi ini bermanfaat, dan sampai jumpa di informasi menarik lainnya di 1miliarsantri.net.** Penulis : Ainun Maghfiroh Editor : Thamrin Humris Foto Istimewa

Read More

Menata Sandal Kyai, Ladang Berkah Santri

Surabaya – 1miliarsantri.net: Sangat mafhum dikalangan Pesantren bahwa santri tidak hanya berfokus pada belajar saja, tapi juga harus disertai dengan khidmah, khidmah kepada ilmu, khidmah kepada guru, khidmah kepada pondok dan sebagainya, berkhidmah merupakan ladang barokah yang menjadi bahan buruan para santri. Khidmah sendiri sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW dan para ulama’ lainnya, Seperti halnya Sahabat Ibn Abbas saat masih kecil menjadi Pelayan Nabi dengan melayani menyiapkan Air Wudhu’ untuk nabi, lalu nabi mendoakan Ibnu Abbas dengan doa yang juga sudah familiar di kalangan kita yakni “ اللّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ، وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ “(Ya Allah… Berilah Pemahaman Agama kepada Ibn Abbas dan Pengetahuan Takwil”. Tentu itu mungkin hal sepele hanya menyiapkan air tapi hasil berkahnya sangat luar biasa, sahabat Ibn Abbas menjadi sahabat yang paham agama luas dan pemahaman Tafsir Takwil yang luar biasa. Menata Sandal Guru/Kyai/Ulama Ada hal sepele yang mungkin juga jadi perhatian kita di pesantren namun banyak diburu santri, yakni Menata Sandal Guru/Kyai/Ulama. Ini sudah menjadi tradisi turun temurun sebagai ladang berkah, bagi santri ini menjadi hal yang harus dilakukan, menata sandal kyai, setiap hari menanti/menunggu terlebih dahulu di depan tempat dimana kyainya beranjak pergi atau masuk ke rumah. Mungkin bagi orang yang tidak pernah mondok, budaya santri membalik sandal kyai ini dinilai berlebihan. Entahlah, tapi yang pasti budaya santri membalik sandal kyainya sudah dilakukan sejak zaman Rasulullah hingga hari ini. Rasululullah Mendoakan Anak Kecil Yang Merapikan Sandalnya Suatu ketika ada seorang bocah namanya Salman, mungkin usianya masih belasan tahun. Dia selalu datang ke masjid ketika Rasulullah belum tiba di sana. Setelah Rasulullah tiba, dia dengan segera membalikkan dan merapikan sandal Rasulullah. Perbuatan itu dilakukannya setiap hari, sehingga membuat Rasulullah menjadi penasaran siapa sebetulnya yang selalu membalikkan sandalnya. Untuk mengetahui siapa gerangan yang membalik sandalnya, Rasulullah sengaja bersembuyi untuk mengetahui siapa yang selalu merapikan dan membalik sandalnya. Saat itu Rasulullah mendapati seorang anak kecil berusia belasan tahun yang tidak lain adalah Salman. Mengetahui hal itu, Rasulullah berdoa memohon kepada Allah agar Salman dijadikan orang alim dan ahli fikih. Singkat cerita, setelah Salman dewasa dia benar-benar menjadi orang alim dan seorang fuqaha atau ahli fikih. Kisah Pendiri Muhammadiyah Dan Pendiri Nahdlatul Ulama Kisah lelaku menata sandal ini juga pernah terjadi pada dua ulama besar Indonesia, masing-masing dari mereka mendirikan ormas terbesar di Indonesia, yaitu KH. Ahmad Dahlan, pendiri ormas Muhammadiyah dan KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Beliau berdua waktu nyantri di tempat Kiai Sholeh Darat Semarang selalu berebut untuk menata sandal Kiai Sholeh Darat. Melihat perbuatan kedua santrinya tersebut. Kedua santri ini akhirnya memperoleh tempat istimewa di mata Kiai Sholeh Darat. Dari hal yang mungkin dirasa sepele namun menyimpan rahasia keberkahan yang besar, sebuah sandal yang ditempelkan ke Guru bisa menjadi Relasi dan Wasilah mulia bagi yang mau untuk berkhidmah.Karena menurut ulama, lebih dari separuh ilmu didapat karena kuatnya hubungan emosional antara santri dan gurunya. قال بعضهم: سبعون فى مائة أنّ العلم ينال بسبب قوة الرابطة بين المريد وشيخه Bahwa tujuh puluh persen ilmu itu didapat karena kuatnya hubungan batin antara santri dan kyai_nya. Santri boleh ragu atas dirinya, tapi jangan sekali-kali seorang santri mempunyai keraguan atas gurunya, atas keberkahan gurunya. Dan alhamdulillah tradisi menata sandal kyai dengan cara membaliknya masih terus dilakukan dan dilestarikan para santri kepada gurunya di mana pun berada. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan keberkahan untuk kita semua dengan wasilah kecintaan & kepatuhan kita terhadap guru-guru. Penulis : Mukhid Khoirul AzibPesantren Mahasiswa AnnawawiJum’at 13 Juni 2026 Editor : Thamrin Humris dan Toto Budiman

Read More

Catatan Armuzna Haji 1446 H, Antara Harapan Dan Realitas Dalam Meraih Kemabruran Haji

Makkah – 1miliarsantri.net: Gus Mujab, sapaan akrab dari Ahmad Mujab Muthohhar (Pembimbing Ibadah Kloter 97 SUB), menyajikan sebuah catatan pelaksanaan ibadah haji dari Hotel 327, Syisah Makkah, 13 Dzulhijjah 1446 H/ 9 Juni 2025 M, dengan judul Catatan Armuzna Haji 1446H, “Antara Harapan Dan Realitas Dalam Meraih Kemabruran Haji.” Realitas Bagi Tamu Dan Pelayan Tamu-Tamu Allah Minimal ada tiga kacamata dalam mensikapi antara realitas dan harapan Pelaksanaan Haji 1446 H ini, selain kacamata Pemerintah Arab Saudi sendiri karena sebagai tuan rumah jutaan Tamu-Tamu Allah Subahanahu Wata’ala. Tiga Kacamata Yang Harus Dipakai Secara Utuh Pertama: Kacamata Pemerintah yang dalam hal ini diwakili Kementrian Agama Republik Indonesia selaku Operator Haji 1446 H. Kedua: adalah kacamata penerima layanan yaitu Jama’ah Haji itu sendiri, yang di dalamnya ada ratusan ribu jama’ah yang harus dilayani, didampingi dan diayomi kebutuhannya. Ketiga: adalah Kacamata Pelaksana di lapangan yang dalam hal ini ada PPIH Arab Saudi, yang didalamnya unsurnya banyak sekali, berikutnya adalah PPIH Embarkasi dan PPIH Kloter yang di dalamnya ada Ketua Kloter, Bimbad Kloter serta Dokter dan Perawat Kloter. Realitas Yang Tidak Selalu Indah Saat ini berseliweran kritik di sosmed, tentang pelaksanaan dan layanan Haji 1446 H. Bahkan kritik itu muncul dari orang-orang yang tidak merasakan langsung situasi di tanah suci, hanya berdasar video yang tersebar di sosmed. Bagi jama’ah sendiri, dalam merespon layanan Haji 1446 H, macam-macam modelnya. Ada yang mengeluh, ada yang mengkritik, ada juga yang tetap sabar tanpa sedikitpun berbicara di sosmed dengan tetap berprinsip ini adalah cara Allah menjamu Saya. Itulah realitas yang ada. Dan bahkan ada orang-orang yang dia berangkat gratis, dibiaya oleh Negara, diundang oleh Pemerintah Arab Saudi yang oleh sebagian orang dianggap tidak punya empati terhadap realitas kesulitan yang dialami oleh sebagian dari saudara-saudaranya yang saat ini menunaikan ibadah Haji melalui jalur haji reguler, dengan membagikan foto depan hotel mewah di depan haram, dan bahkan bergelimang makanan-makanan nikmat. Wal’iyadu billah. Do’akan Penerima Cobaan Supaya Kuat, Bukan Cari Kambing Hitam Bagi sebagian orang dan bahkan bagi mereka yang tidak merasakan langsung apa yang terjadi di tanah suci, mereka mengkritik habis-habisan pihak Kemenag karena dianggap tidak becus mengurus pelayanan Haji 1446 H. Sahabatku, saudaraku, jika kita bertanya pada mereka pemangku kebijakan yaitu Kementrian Agama, apakah mereka menginginkan problem-problem yang muncul saat ini?, “saya yakin kalau kita orang beriman pasti mereka ingin melayani dengan sebaik-baiknya kepada Tamu-Tamu Allah SWT.” “Saya tidak berusaha mencari apa akar masalah problem-problem ini, biarkan para pemangku kebijakan yang didalamnya, ada Kementrian Agama dan Para Pemangku Kepentingan termasuk di dalamnya timwas dari DPR dan DPD untuk melakukan evaluasi menyeluruh. “Evaluasi menyeluruh dengan mengajak pihak-pihak terkait seperti KBIHU yang memiliki peran luar biasa yang selalu bahu membahu dengan Para Petugas Kloter untuk melayani para jama’ah secara maksimal dengan situasi dan kondisi saat ini. Dan, “saya yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa semua pasti akan berusaha mengurai problem yang muncul dari layanan haji 1446 H ini.” Semua Mendapatkan Cobaan Dengan Porsi Yang Berbeda I. Ujian Daker Makkah dan Madinah. Ketika kita bertanya kepada teman-teman yang berkhidmah di Daker Makkah atau Madinah pasti mereka juga tidak menginginkan adanya problem- problem ini. Sebagian dari mereka sendiri bertutur, bagaimana mereka bekerja kadang hampir 22 jam, karena masalah yang muncul tidak berhenti-berhenti, ini seperti roda yang tidak berhenti sejak 1 Mei hingga 30 Mei. Embarkasi Surabaya saja tiap hari minimal ada dua penerbangan. Bisa dibayangkan kalau digabung dengan Embarkasi lain. Kalau muncul masalah semua. Bisa-bisa 24 jam permasalahan gak berhenti selama satu bulan penuh sampai puncak Armuzna. Teman-teman Daker bercerita ada yang kadang 2 sampai 3 hari belum tidur maksimal. II. Ujian bagi Petugas Kloter. Bagi saya sendiri, bersama petugas Kloter SUB 97, yang di kenal dengan Kloter Sapu Jagat, karena paling buncit, baru landing sudah dihadapkan problem hotel yang terpecah 38 hotel sesuai aplikasi. Namun realitasnya, hotel-hotel yang semesestinya menjadi tempat tinggal kami di Makkah, rata-rata sudah penuh. Sehingga Daker mencarikan kami hotel cadangan, itupun susah payah didapatkan. MasyaAllah. Belum lagi urusan anak terpisah hotel dengan orang tuanya, istri dengan suaminya, jama’ah KBIHU terpisah dengan sesama anggotanya plus pembimbingnya dan seterusnya. Belum selesai urusan hotel, dilanjutkan urusan koper yang harus kami anter ke hotel masing-masing jama’ah yang tercecer di 20 hotel. Beruntungnya Sektor dan Daker bergerak membantu kami. Problem berikutnya belum selesai, banyak jama’ah belum dapat kartu nusuk sementara wukuf sudah di depan mata. Ya Allah. Kami sampai ke Daker berulang-ulang. Ya Allah. La haula Wala Quwwata Illa Billah.Kami, para petugas Kloter harus memitigasi jama’ah tersebar di hotel berapa, apakah sudah dapat kamar belum, sudah dapat koper belum, sementara Karu dan Karom tidak maksimal karena efek tercecernya hotel yang berbeda-beda. Kami semua bergerak. Bimbad, Dokter harus bahu membahu dengan Ketua Kloter untuk mengurai permasalahan jama’ah. Mulai dari ngurusi koper bersama, data hotel dan cek hotel bersama. Semua bahu membahu. Kami tidak boleh mengeluh sebagai petugas. Apa kata dunia, petugas mengeluh terus jama’ah bagaimana? Belum lagi problem Armuzna. Penjemputan bus dari hotel yang tidak tepat waktu, penempatan tenda wukuf yang tidak teratur karena sengkarut harus satu Syarikah, hingga peristiwa ribuan jama’ah yang jalan kaki dari Mudzalifah ke Mina karena kemacetan bus yang luar biasa yang menyebabkan kaki melepuh, hingga problem-problem lainnya. La haula Wala Quwwata Illa Billah. III. Ujian bagi jama’ah. Ya Allah, kalau bagi mereka ujiannya lebih berat dari pada petugas. Sebagai petugas, kami sudah disetting untuk siap menerima keadaan seburuk apapun. Tapi jama’ah berbeda, mereka rata-rata sudah dilayani KBIHU ditanah air dengan baik, dilayani Kemenag Kota/Kabupaten dengan baik, tapi ketika di tanah suci mereka dihadapkan dengan hotel yg terpisah dengan keluarga, koper berhari-hari baru ketemu, muncul lagi masalah kafilah yang membuat bingung jama’ah. Belum lagi problem Armuzna. Ya Allah. Bersyukur Dan Bersabar Adalah Senjata Jitu Meraih Kemabruran Haji Ala kulli hal, semua diuji dengan ujian yang berbeda. Dan alhamdulillah hari ini sudah berada di ujung Armuzna. Semoga semua mendapatkan haji yang mabrur. Dianugrahkan sehat, kuat dan Ridho atas apa yg menjadi ketentuan Allah Subhanahu Wata’la. Patut menjadi pegangan kita semua, baik teman-teman yang di Kemenag, semua petugas, jama’ah dan KBIHU akan Sabda Manusia Mulia, panutan kita semua: Dari Shuhaib, ia berkata, Rasulullah shallallahu…

Read More

Secercah Harapan Dari Sumur Bor Ke-201, BMH: Santri Ponpes Al-Fatah Malang Kini Punya Akses Air Bersih!

Malang – 1miliarsantri.net: Air adalah kebutuhan mendasar bagi kehidupan, namun masih banyak pesantren tahfidz di pelosok yang kesulitan mengaksesnya. Rasulullah ﷺ bersabda, “Sedekah terbaik adalah memberi air” (HR. Ahmad). Melalui program Wakaf Sumur Bor ini, BMH mengajak para dermawan untuk menjadi bagian dari solusi yang nyata—menyediakan air bersih bagi para santri penghafal Al-Qur’an, sekaligus meraih pahala jariyah yang terus mengalir hingga akhir hayat. Bayangkan setiap tetes air yang mengalir dari sumur wakaf Anda menjadi saksi amal shaleh yang tak terputus. Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya di antara amalan yang tidak terputus pahalanya meskipun setelah wafat adalah sedekah jariyah” (HR. Muslim). Melalui program Wakaf Sumur Bor untuk Pondok Tahfidz Al-Qur’an, Anda bisa berkontribusi membuka sumber kehidupan sekaligus menyalakan semangat para penjaga Kalamullah. Siapa Sangka, Sebuah Sumur Bor Bisa Membawa Perubahan Besar Di tengah hiruk pikuk kehidupan, kabar baik datang dari Pondok Pesantren Al-Fatah di Turen, Malang. Berkat kedermawanan donatur pada hari Selasa, 26 Mei 2025, Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Baitul Maal Hidayatullah (BMH), meresmikan sumur bor untuk 235 santri yang mukim mondok di sana. Kini tak lagi kesulitan mendapatkan air bersih. Sumur Bor Ke-201 Ini bukan sumur biasa, ini adalah sumur bor ke-201 yang berhasil diwujudkan BMH, membuktikan bahwa gerakan kebaikan tak pernah surut! Bayangkan saja, dulu para santri harus berjuang dengan sumur gali manual yang sering keruh dan bahkan kering saat kemarau. Mandi, mencuci, memasak, hingga beribadah, semua jadi tantangan. Tapi kini, semua berubah. Akses air bersih yang lancar bukan hanya sekadar fasilitas, melainkan fondasi bagi semangat belajar dan beribadah. Tak Ada Lagi Air Keruh “Dulu airnya sering keruh dan kadang nggak keluar kalau siang. Sekarang alhamdulillah lancar. Jadi makin semangat menghafal karena nggak harus antre lama untuk mandi atau wudhu,” cerita Irwan, santri kelas tahfidz yang sudah menghafal 8 juz, dengan wajah sumringah. Di balik lantunan ayat-ayat suci yang dijaga oleh para santri tahfidz, ada perjuangan panjang menghadapi keterbatasan air bersih. Namun Anda bisa menjadi bagian dari keajaiban itu. Bersama BMH Jatim, mari wakafkan sumur bor untuk pondok tahfidz—biarkan setiap tetesnya menjadi doa yang terus mengalir untuk Anda dan keluarga tercinta. Kisah Irwan adalah secuil gambaran optimisme yang terus dipupuk oleh BMH. Inilah wujud nyata dari ikhtiar BMH yang tak kenal lelah. Kepala Divisi Program dan Pendayagunaan BMH Jawa Timur, Imam Muslim, menegaskan bahwa air adalah kebutuhan pokok yang berdampak langsung pada kualitas hidup dan pendidikan. “Sumur bor ini bukan sekadar fasilitas, tapi fondasi bagi semangat belajar dan beribadah para santri,” ujarnya. Komitmen Berkelanjutan BMH terus menunjukkan komitmennya untuk memastikan pesantren-pesantren di pelosok negeri mendapatkan infrastruktur dasar yang memadai. Dengan dukungan para donatur yang tak henti mengulurkan tangan, BMH terus menebarkan kebermanfaatan yang merata, khususnya di lingkungan pendidikan Islam.Ini adalah bukti bahwa gerakan kebaikan, sekecil apa pun, mampu menciptakan gelombang perubahan yang besar. Pernyataan ini bukan bualan, tapi cerminan dari dampak positif yang dirasakan langsung oleh ratusan santri. Kesehatan terjaga, kenyamanan meningkat, dan semangat menuntut ilmu pun berkobar. Ini adalah bukti bahwa gerakan kebaikan, sekecil apa pun, mampu menciptakan gelombang perubahan yang besar. Kisah dari Ponpes Al-Fatah ini menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa masih banyak tangan-tangan baik yang terus bergerak, membangun harapan, dan mewujudkan impian. Mari terus dukung lembaga-lembaga amil zakat seperti BMH, karena setiap tetes kebaikan yang kita sumbangkan, akan mengalirkan manfaat tak terhingga bagi sesama. Yuk sisihkan sebagian rezeki anda dengan turut berdonasi melalui rekening an. Baitul Maal Hidayatullah BCA 3890409767 dan konfirmasi donasi ke sdr. ARHAM di 0899-9699-1907. Bukankah ini optimisme kebaikan yang patut terus kita lanjutkan?*** Ikuti terus artikel Ziswaf untuk mendapatkan informasi aktual dan bermanfaat, yang disajikan oleh tim Redaksi 1miliarsantri.net. Penulis : Toto Budiman Editor : Thamrin Humris Sumber : BMH Jawa Timur Foto istimewa

Read More

Serba-Serbi ‘Qurban’ Yang Perlu Kamu Ketahui

Surabaya – 1miliarsantri.net: Umat Islam disegenap penjuru bumi bergembira menyongsong Hari Raya Qurban atau Iedul Adha, hari raya yang di dalamnya ada ritual ibadah yang sangat mulia yaitu berqurban, menyembelih hewan qurban terbaik sebagai bentuk ketaatan kepada Allah, sebagaimana telah dicontohkan dan dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Pengertian Qurban Qurban menurut etimologi diambil dari bahasa Arab قربا-يقرب -قرب   yang artinya “dekat”, sedangkan secara syara’ adalah “Mendekatkan diri kepada Allah dengan mengerjakan sebagian perintah-Nya.” Bisa juga dikatakan أضحية  “hewan sembelihan”, sedangkan secara syara’ adalah “Hewan yang dikurbankan pada hari tertentu ( 10-13 Dzulhijjah ) dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah. Maka kita biasa menyebutnya dengan ‘Iedhul Qurban/’Iedhul Adha. Kapan awal disyariatkannya qurban? Sebenarnya qurban sudah disyariatkan mulai zaman Nabi Adam ‘alaihissalam, yaitu ketika Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan Qobil dan Habil untuk mengkorbankan hartanya. Maka Qobil yang seorang petani dia memberikan hasil panennya yang biasa-biasa saja, sedangkan Habil yang seorang peternak dia memberikan domba ternak terbaik yang dimilikinya. Setelah mereka berkumpul untuk memberikan qurbannya, Allah menerima dan mengangkat qurban yang diberikan oleh Habil ke langit, yang nanti domba ini akan diberikan kepada Nabi Ibrahim ‘alahissalam sebagai ganti putranya ( Nabi Ismail ‘alahisalam ) untuk diqurbankan. Akan tetapi syari’at qurban dengan menyembelih hewan ternak pertama kali ini dilakukan oleh Nabi Ibrahim ‘alahissalam atas perintah Allah Subhanahu wata’ala, sebagaimana yang dikisahkan dalam Qs. as-Saffat ayat 102-107. Dan qurban pertama kali disyariatkan kepada ummat Baginda Nabi Muhammad Shalallahu ‘alahi wasalam pada tahun 2 Hijriyah, bersama dengan sholat ‘Ied dan zakat maal. Hukum berqurban Allah Subhanahu wata’ala berfirman; فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ “Maka, laksanakanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah!” Baginda Nabi Muhammad Shalallahu ‘alahi wasalam juga bersabda ; عَنْ َأبِي هُرَيْرَة: َأنَّ رَسُوْل اللهِ صلى الله عليه وسلم قال : مَنْ كَانَ لهُ سَعَة وَلمْ يَضَحْ فَلا يَقْربَنَّ مُصَلَّانَا (رواه احمد وابن ماجه) Artinya: “Dari Abu Hurairah, “Rasulullah SAW telah bersabda, barangsiapa yang mempunyai kemampuan, tetapi ia tidak berkurban maka janganlah ia mendekati (menghampiri) tempat shalat kami,” (HR Ahmad dan Ibnu Majah).Maka Syaikh Abu Bakar Syattho mengatakan dalam kitabnya; يسن متأكدا لحر قادر تضحية “Menyembelih hewan qurban itu sunnah mu’akkad bagi orang yang merdeka dan mampu.” Keutamaan berqurban عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ إِنَّهَا لَتَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلَافِهَا وَأَنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنْ اللَّهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنْ الْأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا Artinya: “Aisyah menuturkan dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda, “Tidak ada suatu amalan yang dikerjakan anak Adam (manusia) pada hari raya Idul Adha yang lebih dicintai oleh Allah dari menyembelih hewan. Karena hewan itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya, dan kuku-kuku kakinya. Darah hewan itu akan sampai di sisi Allah sebelum menetes ke tanah. Karenanya, lapangkanlah jiwamu untuk melakukannya”.” (Hadits Hasan, riwayat al-Tirmidzi: 1413 dan Ibn Majah: 3117). Ketentuan Hewan Qurban dan Waktu Penyembelihan Syarat hewan qurban ; – Kambing kibas usia 1 tahun atau yang sudah copot giginya meskipun belum genap setahun- kambing kacang usia 2-3 tahun. – Sapi usia 2 tahun. – Unta usia 5 tahun. Hewan-hewan tersebut tentu harus dalam kondisi yang sehat dan tidak ada cacat sedikitpun, dan hewan qurban disembelih dengan niat qurban karna Allah.Adapun waktu penyembelihan yaitu mulai naiknya matahari tanggal 10 Dzulhijjah sampai akhir dari hari tasyrik ( 13 Dzulhijjah ).** Penulis : Imam Zakaria / @aliif.miiim Editor : Thamrin Humris dan Toto Budiman

Read More

Mauidhoh Hasanah, Sebuah Catatan Tentang Orang Yang Bersabar Dan Dicukupkan Pahala Tanpa Batas

Bekasi – 1miliarsantri.net: Sahabat Fillah Diah Dewi Wiharti, menggoreskan sebuah catatan dengan tema ‘Mauidhoh Hasanah’, dengan judul “Hanya Orang Yang Bersabar Akan Dicukupkan Pahala Tanpa Batas.” Teruntuk saudaraku, Maha Suci Allah yang telah menciptakan rasa bahagia dan rasa sedih. Dua hal yang akan selalu menyertai manusia di dunia hingga ujung kehidupan di akhirat kelak. Allah Azza wa Jalla melarang kita bersedih, وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali ‘Imran: 139). Sesungguhnya kesedihan di dalam hati dan lemahnya badan hanyalah akan menambah musibah dalam jiwa. Tidak seharusnya seorang muslim itu bersikap lemah dan bersedih hati, karena mereka adalah orang-orang yang paling tinggi keimanannya dan harapan mereka terhadap balasan dari Allah Azza wa Jalla sangat besar. Maka tidak sepantasnya seorang Mukmin yang mengharapkan balasan akhirat dan juga dunia yang telah dijanjikan oleh Allah Azza wa Jalla, untuk bersedih dan lemah. (Taisiru Karimir-Rahman). Kecewa, Sedih Dan Tersakiti Adalah Ketetapan Allah Bukanlah kita tidak boleh bersedih hati atas sesuatu yang telah digariskan-Nya kepada kita, merasa kecewa dan tersakiti, bahkan hal itu adalah sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla. Dalam sebuah potongan hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثم يرسل إليه الملك فينفخ فيه الروح، ويؤمر بأربع كلمات: بكتب رزقه، وأجله، وعمله، وشقي أم سعيد “…Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara: menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan dan kebahagiaannya…” Bukan berarti seorang hamba itu dipaksa untuk menjalani takdir ini, tetapi hal itu menunjukkan bahwa keilmuan Allah Azza wa Jalla itu mencakup segalanya, termasuk kebahagiaan dan kesedihan seorang hamba. Semuanya telah diketahui oleh Allah Azza wa Jalla, dan Allah Azza wa Jalla tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang bertaqwa… (Syarah hadits ar Ba’in). Tertawa Dan Menangis Allah berfirman dalam Al-Qur’an, Surah An-Najm: 40-44: وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَى وَأَنَّهُ هُوَ أَمَاتَ وَأَحْيَا Syaikh Sa’di menjelaskan ayat tersebut dalam tafsir Taisiru Karimir-Rahman bahwa Allah Azza wa Jalla lah yang menjadikan sebab seseorang itu tertawa dan juga menangis, yaitu kebaikan dan keburukan, kebahagiaan dan kesedihan serta kegalauan dan kesedihan. Dan Allah Azza wa Jalla mempunyai hikmah yang sempurna di dalamnya. Jadikanlah semua itu sebagai cambuk hati untuk lebih mendekatkan diri kepada Rabb yang hati kita itu berada di antara jari-jemari-Nya. Tetap bersabar dengan kesabaran yang indah dalam setiap perkara yang dihadapi, karena Allah Azza wa Jalla tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang bersabar dan akan memberikan balasan yang manis atas kesabarannya.. . Sebagaimana dalam firman-Nya, dalam Surah Az-Zumar, ayat 10, قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَاب “Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Rabb-mu’. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” Syaikh As Sa’di mengatakan, bahwa ini berlaku umum untuk semua jenis kesabaran. Kesabaran atas takdir Allah Azza wa Jalla sehingga tidak marah dengan apa yang terjadi. Kesabaran atas maksiat dengan tidak melakukannya dan kesabaran dalam ketaatan kepada-Nya dengan menunaikannya… Allah Azza wa Jalla menjanjikan (dan janji Allah Azza wa Jalla itu akan teringat) kepada orang-orang yang sabar dengan balasan yang tiada batas, artinya tidak ada batasan dan ukuran. Hal tersebut dikarenakan keutamaan dan kedudukan sifat sabar di sisi Allah Azza wa Jalla dan hal itu selalu ada dalam setiap perkara…(Tafsir Taisiru Karimir-Rahman). Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa menambatkan hati kepada Allah Azza wa Jalla, Dzat Penggenggam Kebahagiaan, Kesedihan dan Pengabul Doa untuk meraih ridha-Nya…Aamiin Ya Rabb.** Sumber : Goresan pena Sahabat Fillah Diah Dewi Wiharti. Ditulis ulang oleh : Oom Komariah Editor : Thamrin Humris Gambar ilustrasi

Read More