Malam Lailatul Qadar: Malam Penuh Kemuliaan yang Dinantikan Umat Islam

Jakarta — 1miliarsantri.net: Bulan Ramadhan selalu membawa suasana spiritual yang mendalam bagi umat Islam. Di antara malam-malam yang penuh keberkahan itu, terdapat satu malam yang sangat istimewa dan dinantikan oleh kaum muslimin, yaitu Malam Lailatul Qadar. Malam ini disebut sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan, sehingga setiap muslim berharap dapat meraihnya dengan memperbanyak ibadah. Hal ini tidak terlepas dari keutamaan besar yang dijanjikan Allah SWT bagi siapa saja yang menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan ibadah. Malam Lailatul Qadar adalah malam penuh kemuliaan yang lebih baik dari seribu bulan. Simak pengertian, waktu terjadinya, keutamaan, dalil Al-Qur’an dan hadits sahih, serta suasana ibadah umat Islam di berbagai belahan dunia. Pengertian Malam Lailatul Qadar Secara bahasa, kata “Lailatul Qadar” berasal dari bahasa Arab. Dengan demikian, Lailatul Qadar dapat diartikan sebagai malam kemuliaan atau malam penetapan takdir oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.”(QS. Al-Qadr: 1-3) Ayat ini menunjukkan betapa agungnya malam tersebut. Nilai ibadah pada malam Lailatul Qadar bahkan melebihi ibadah selama seribu bulan (sekitar 83 tahun). Makna Spiritual Lailatul Qadar Bagi umat Islam, Lailatul Qadar memiliki beberapa makna yang sangat penting untuk diketahui: 1. Malam Turunnya Al-Qur’an Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup manusia mulai diturunkan pada malam yang penuh berkah ini. 2. Malam Penuh Rahmat dan Ampunan Pada malam ini Allah membuka pintu ampunan bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh beribadah. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang melaksanakan shalat pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”(HR. Bukhari dan Muslim) Malam Turunnya Malaikat Dalam Surah Al-Qadr dijelaskan bahwa malaikat, termasuk Malaikat Jibril, turun ke bumi membawa keberkahan hingga terbit fajar. “Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.”(QS. Al-Qadr: 4) Malam Penuh Kedamaian Allah juga menyebut malam ini sebagai malam yang penuh keselamatan hingga terbit fajar. “Sejahteralah malam itu sampai terbit fajar.”(QS. Al-Qadr: 5) Kapan Terjadinya Malam Lailatul Qadar? Waktu pasti Lailatul Qadar tidak diketahui secara pasti. Namun, Nabi Muhammad SAW memberikan petunjuk untuk mencarinya pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Rasulullah Salallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.”(HR. Bukhari dan Muslim) Hadits lain juga menyebutkan: “Carilah Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir Ramadhan.”(HR. Bukhari) Sebagian ulama memiliki pendapat berbeda tentang tanggalnya. Pendapat Para Ulama Mayoritas ulama sepakat bahwa malam ini terjadi pada malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan dan dapat berpindah setiap tahun. Keutamaan Malam Lailatul Qadar Beberapa keutamaan besar dari malam ini antara lain: 1. Lebih Baik dari Seribu Bulan Ibadah satu malam pada Lailatul Qadar lebih baik dari ibadah selama lebih dari 83 tahun. 2. Turunnya Malaikat Membawa Rahmat Malaikat turun ke bumi membawa kedamaian dan keberkahan hingga fajar. 3. Pengampunan Dosa Orang yang beribadah dengan penuh keimanan akan mendapatkan ampunan dari Allah. 4. Malam Penuh Kedamaian Allah menyebut malam ini sebagai malam yang penuh keselamatan hingga terbitnya fajar. Suasana Malam Lailatul Qadar di Berbagai Belahan Dunia Keindahan Lailatul Qadar juga terasa di berbagai negara dengan tradisi ibadah yang berbeda. 1. Masjid-Masjid Dipenuhi Jamaah Di banyak negara Muslim seperti Arab Saudi, Turki, Indonesia, Pakistan, hingga Mesir, masjid-masjid dipenuhi jamaah yang melaksanakan shalat tarawih, tahajud, dan i’tikaf. 2. Membaca Al-Qur’an Sepanjang Malam Banyak umat Islam menghidupkan malam dengan membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan berdoa. 3. Suasana Haru dan Khusyuk Di kota-kota besar hingga desa kecil, malam Lailatul Qadar sering dipenuhi tangisan doa dan harapan akan ampunan Allah. 4. Sedekah dan Berbagi Sebagian umat Islam juga memanfaatkan malam ini untuk memperbanyak sedekah kepada yang membutuhkan. Hikmah Mengapa Waktu Lailatul Qadar Dirahasiakan Para ulama menjelaskan bahwa Allah tidak memberitahukan secara pasti kapan malam tersebut terjadi. Hikmahnya adalah agar umat Islam bersungguh-sungguh beribadah pada setiap malam Ramadhan, bukan hanya satu malam saja. Malam Lailatul Qadar merupakan anugerah besar dari Allah SWT Malam Lailatul Qadar merupakan anugerah besar dari Allah SWT bagi umat Nabi Muhammad SAW. Malam ini mengajarkan bahwa satu malam yang diisi dengan iman, doa, dan ibadah dapat bernilai lebih besar daripada puluhan tahun ibadah. Karena waktunya dirahasiakan, setiap muslim dianjurkan untuk menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadhan dengan shalat malam, membaca Al-Qur’an, berzikir, serta memohon ampunan kepada Allah. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang diberi kesempatan meraih kemuliaan malam Lailatul Qadar.*** Penulis dan Editor : Thamrin Humris

Read More

Ghibah Itu Membahayakan: Ancaman Hilangnya Pahala Ibadah karena Lisan

Ghibah bukan sekadar dosa lisan, tetapi dapat menghapus pahala puasa dan memindahkan amal kepada orang lain. Simak kisah teladan dan dalil Al-Qur’an serta hadits tentang bahaya ghibah. Oleh: Ibnu Hajar Mahbub Ada lima perkara yang dapat menghapus pahala puasa, dan di antara lima hal tersebut adalah ghibah. Dikisahkan dalam Kitab Majalisus Saniyyah, syarah Kitab Arbain Nawawie, dari Ikrimah bahwa seorang wanita yang bertubuh pendek masuk menemui Rasulullah ﷺ. Ketika wanita itu keluar, Siti Aisyah berkata: “Alangkah fasih bicaranya, hanya sayang dia pendek.” Maka Rasulullah ﷺ menegurnya: “Engkau telah menggunjingnya, wahai Aisyah.” Siti Aisyah berkata: “Saya mengatakan apa adanya.” Rasulullah ﷺ bersabda: “Tetapi engkau telah mengatakan apa yang paling buruk padanya.” Kisah ini menjadi pelajaran besar bahwa menyebutkan kekurangan seseorang, meskipun benar adanya, tetap termasuk ghibah apabila hal tersebut tidak disukainya. Dalil Al-Qur’an tentang Ghibah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an, Surah Al-Hujurat ayat 12: “Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya…” (QS. Al-Hujurat: 12) Ayat ini menggambarkan betapa menjijikkannya perbuatan ghibah, diumpamakan seperti memakan bangkai saudara sendiri. Perumpamaan ini menunjukkan beratnya dosa tersebut di sisi Allah. Hadits tentang Hakikat Ghibah Dalam hadits riwayat Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda: “Tahukah kalian apa itu ghibah?”Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”Beliau bersabda, “Engkau menyebut tentang saudaramu sesuatu yang ia tidak sukai.”Ditanyakan, “Bagaimana jika yang aku katakan itu benar ada pada dirinya?”Beliau menjawab, “Jika benar ada padanya, maka itulah ghibah. Jika tidak ada padanya, maka engkau telah berdusta (fitnah).” Hadits ini menegaskan bahwa mengatakan sesuatu yang benar tentang kekurangan seseorang tetap termasuk ghibah apabila ia tidak menyukainya. Gambaran di Hari Kiamat Konon, pada hari kiamat kelak seorang hamba diberi catatan amalnya. Ketika dilihatnya, ternyata di dalam catatan itu tidak terdapat sedikit pun catatan amal kebaikannya. Maka hamba itu bertanya kepada Allah: “Ya Rabb, mana pahala sholatku, mana pahala puasaku, dan mana pahala-pahala ketaatanku lainnya?” Lalu dikatakan kepadanya: “Semua amalmu lenyap dikarenakan oleh perbuatan ghibahmu ketika di dunia.” Di pihak lain, ada orang yang menerima catatan amalnya dengan tangan kanan. Ketika dibuka dan dilihatnya, terdapat banyak kebaikan yang tidak pernah dilakukannya di dunia. Lalu dikatakan kepadanya: “Ini adalah kebaikan yang diberikan dan dikirimkan oleh orang yang menghibahmu ketika di dunia.” Hal ini sejalan dengan hadits tentang orang yang bangkrut (muflis), di mana Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa orang yang bangkrut adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan pahala shalat, puasa, dan zakat, namun ia pernah mencaci, menuduh, memakan harta orang lain, dan menumpahkan darah. Maka pahala-pahalanya diberikan kepada orang-orang yang dizaliminya hingga habis, lalu dosa mereka dipikulkan kepadanya. Renungan: Menjaga Lisan, Menjaga Pahala Ghibah sering dianggap ringan karena hanya berupa ucapan. Padahal, dampaknya sangat berat. Ia bukan hanya melukai kehormatan sesama, tetapi juga dapat memindahkan pahala kebaikan kita kepada orang yang kita gunjing. Lisan yang tidak dijaga bisa menjadi sebab bangkrutnya amal di akhirat. Karena itu, menjaga ucapan adalah bagian dari menjaga ibadah. Semoga Allah menjaga lisan kita dari perkataan yang sia-sia, dari ghibah yang membinasakan pahala, serta menjadikan kita hamba-hamba yang selamat dunia dan akhirat. Aamiin.** Pondok ArenKamis, 19 Februari 202601 Ramadhan 1447 H Sumber : WAG Manajemen Masjid Umat Sejahtera (Pemosting : Abdul Syukur) Foto : Gambar ilustrasi Editor : Thamrin Humris

Read More

Muhammadiyah Mulai Melaksanakan Puasa Ramadhan 1447 H pada 18 Februari 2026: Penetapan, Metode dan Imbauan Sikap Bijak

Muhammadiyah resmi menentukan awal puasa Ramadhan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026 berdasarkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Artikel ini membahas dasar penetapan, perbedaan dengan pemerintah, serta ajakan sikap bijak umat. Jakarta — 1miliarsantri.net: Organisasi Islam terbesar kedua di Indonesia, Muhammadiyah, telah menetapkan awal ibadah puasa Ramadhan 1447 Hijriyah jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026 Masehi. Keputusan itu tertuang dalam Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1447 H. Penetapan tersebut juga telah diikuti pelaksanaan Salat Tarawih di sejumlah masjid di berbagai daerah pada Selasa malam (17/2/2026) sebagai malam pertama Ramadhan bagi warga Muhammadiyah. Dasar Penetapan: Kalender Hijriah Global Tunggal Muhammadiyah menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) sebagai dasar perhitungannya, menggantikan metode wujudul hilal yang sebelumnya digunakan. Metode ini memadukan tiga unsur utama yaitu prinsip, syarat, dan parameter (PSP) untuk menentukan awal bulan Hijriah secara global. Menurut KHGT, parameter tinggi hilal minimal 5 derajat dan elongasi minimal 8 derajat setelah ijtimak (konjungsi) harus terpenuhi di mana saja di permukaan bumi. Untuk awal Ramadhan 1447 H, ketentuan ini telah terpenuhi di wilayah Alaska, Amerika Serikat, sehingga Muhammadiyah memutuskan 18 Februari 2026 sebagai 1 Ramadhan. Pakar falak Muhammadiyah juga mencatat bahwa konjungsi jelang Ramadhan terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026 pukul 12.01 UTC. Perbedaan dengan Pemerintah dan Saran Sikap Umat Berbeda dengan Muhammadiyah, pemerintah melalui sidang isbat yang melibatkan hisab dan rukyatul hilal menetapkan awal puasa Ramadhan 1447 H jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Hal ini didasarkan pada ketentuan rukyat di wilayah Indonesia yang belum terpenuhinya posisi hilal secara visual. Perbedaan penetapan ini mendapat perhatian publik. Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengajak umat Islam bersikap bijaksana menanggapi perbedaan tersebut. Ia menekankan pentingnya saling menghormati pilihan ijtihad dan tidak saling menyalahkan, sebab tujuan puasa adalah untuk meningkatkan takwa. Makna Puasa dalam Perspektif Al-Qur’an dan Sunnah Islam mewajibkan puasa Ramadhan sebagaimana ditegaskan Allah SWT: Al-Qur’an menjelaskan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi sebuah ibadah yang melatih ketakwaan kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim). Hadis ini menegaskan dimensi spiritual puasa sebagai sarana pembinaan akhlak dan pengampunan dari Allah SWT. Respons Masyarakat dan Kegiatan Ramadhan Di berbagai daerah, warga Muhammadiyah telah menjalankan tarawih malam sebelumnya sebagai bagian dari menyambut puasa Ramadhan 1447 H. Di Jawa Barat, misalnya, lebih dari 400 masjid menggelar tarawih dengan 11 rakaat pada Selasa malam (17/2/2026). Sementara di Jawa Timur, diperkirakan jutaan warga Muhammadiyah akan melaksanakan tarawih dan puasa sejak 18 Februari 2026 sesuai ketetapan PP Muhammadiyah. Saling Menghormati Ijtihad Penetapan awal Ramadhan 1447 H oleh Muhammadiyah pada 18 Februari 2026 diwarnai perbedaan dengan pemerintah yang menetapkan 19 Februari 2026. Perbedaan ini terjadi akibat metode perhitungan yang berbeda dalam menentukan awal bulan Hijriah. Meskipun demikian, pimpinan Muhammadiyah mengimbau umat Islam untuk saling menghormati ijtihad tiap pihak. Dengan pemahaman yang matang dan sikap arif, umat Islam diharapkan menyambut puasa Ramadhan sebagai momentum meningkatkan ketakwaan dan kebersamaan.*** Editor : Thamrin Humris dan Toto Budiman Foto : Istimewa Sumber : Berbagai sumber

Read More

Bersih Masjidku-Bersih Negeriku: Mengenang dan Meneruskan Jejak Almarhum KH Muhammad Jazir ASP

Gerakan Bersih-Bersih Masjid Jawa–Bali yang digagas oleh tokoh Jogokariyan, KH. Muhammad Jazir ASP bersama beberapa Masjid dan didukung oleh Marbot Aplikasi adalah sebuah ikhtiar kolektif untuk memuliakan rumah Allah dan negeri ini. Bali – 1miliarsantri: Kegiatan Safari Bersih-Bersih Masjid adalah simbolisasi dan implementasi sebuah gerakan membangun Indonesia agar bisa berubah lebih baik lagi, membersihkan hati, meminimalisir korupsi, merawat kebersamaan dan menjaga alam yang menjadi amanah kita sebagai Khalifah fil ard, pemimpin di muka bumi. Masjid bukan hanya tempat sujud, tetapi pusat kehidupan: tempat membangun kejujuran, kebersihan, keberanian, kemandirian, dan perlawanan terhadap segala bentuk ketidakadilan, termasuk korupsi, manipulasi, dan penyalahgunaan amanah. Bersih sebagai prinsip hidup Rasulullah SAW yang memancarkan kejujuran. Kebersihan masjid adalah cermin kebersihan pengelolanya. Masjid yang bersih diharapkan akan melahirkan jama’ah yang jujur. Pengelolaan yang bersih melahirkan kepercayaan. Dan, dari kepercayaan itulah peradaban dibangun. Gerakan yang dilakukan oleh ratusan orang ini tidak berhenti pada sapu dan kain pel, tetapi menjelma menjadi gerakan moral: membersihkan niat dari pamrih, membersihkan amanah dari pengkhianatan, membersihkan dakwah dari kepentingan sempit. Dari Masjid Jogokariyan, Masjid Al-Falah Sragen, menuju Masjid Pantai Bali Sebagaimana jejak dakwah Pak Kyai Jazir yang tak pernah mengenal batas geografis, gerakan ini bermula dari Masjid Jogokariyan Yogyakarta dan Masjid Al-Falah Sragen, lalu dipusatkan selama 3 hari di Masjid Pantai Bali, desa Cupel, kec. Negara, kab. Jembrana, provinsi Bali. Masjid Pantai Bali menjadi simbol bahwa nilai-nilai kemasjidan: amanah, kebersamaan, transparansi, pelayanan jamaah, dan keberpihakan pada umat (Muslim dan Non Muslim) dapat tumbuh dan bersemi secara harmonis di mana pun, bahkan di wilayah dengan tantangan sosial dan demografis yang besar. Melanjutkan, Bukan Sekadar Mengenang Pak Kyai Jazir Gerakan Bersih-Bersih Masjid ini bukan hanya dengan mengenang, do’a dan air mata, tetapi dengan melanjutkan kerja-kerja sunyi beliau: memakmurkan masjid,menguatkan jamaah,menjaga amanah tanpa kompromi, dan menjadikan masjid benteng moral bangsa. Melanjutkan Gerakan Bersih-Bersih Masjid ini adalah bentuk nyata bahwa api perjuangan itu tidak akan padam, dan estafet dakwah terus berjalan dari generasi ke generasi. Dari Masjid untuk Negeri Ketika masjid bersih, jamaah akan jujur.Ketika jamaah jujur, kepemimpinan akan lahir dengan integritas.Dan ketika integritas menjadi budaya, negeri akan bersih dari korupsi dan kebusukan moral. Inilah pesan yang diwariskan oleh Pak Kyai Jazir kepada kita semua:Jika ingin mengubah negeri, mulailah dari masjid. Semoga Allah SWT menerima amal jariyah almarhum Pak Kyai Jazir,melapangkan kuburnya, menerangkan jalannya,dan menjadikan kami penerus perjuangan beliaudalam memuliakan masjid dan membangun peradaban yang Rahmatan lil ‘Alamiin.Aamiin.*** Sumber : Firmansyah Dimmy-Masjid Pantai Foto istimewa Editor : Thamrin Humris

Read More

Jumat Hari yang Istimewa Bagi Umat Islam — Keberkahan dan Keistimewaan yang Sering Kita Lupakan

Hari Jumat bukan sekadar hari biasa. Inilah hari penuh keberkahan dan ampunan bagi umat Islam. Bekasi – 1miliarsantri.net: Hari Jumat merupakan hari paling istimewa bagi umat Islam. Temukan berbagai keutamaan dan amalan yang dianjurkan pada hari Jumat agar hidup penuh berkah dan pahala. Jumat adalah hari yang istimewa dan penuh berkah jika umat Islam memahami keutamaan hari Jumat, apa saja amalan sunah yang dianjurkan Rasulullah, dan telah diikuti oleh para sahabatnya, para tabi’in hingga masa kita saat ini. Berikut rangkuman keistimewaan hari Jumat yang disajikan dalam rubrik Khazanah, dan insya Allah menjadi salah satu referensi dan literasi bagi umat Islam dalam rangka muhasabah diri. Sholawat di Hari Jumat dan Keistimewaannya Hari Jumat merupakan hari penuh rahmat dan ampunan, di mana amal ibadah dilipatgandakan pahalanya.Membaca sholawat di hari ini bukan hanya bentuk cinta kepada Rasulullah Salallahu Alaihi Wasallam, tetapi juga sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Rasulullah Salallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling dekat denganku pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak bersholawat kepadaku.”(HR. Tirmidzi) Hari yang Diciptakan dengan Penuh Kemuliaan Tahukah kamu, hari Jumat disebut sebagai sayyidul ayyam — penghulu segala hari?Rasulullah Salallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Sebaik-baik hari yang terbit matahari padanya adalah hari Jumat.” (HR. Muslim) Pada hari inilah Allah menciptakan Nabi Adam AS, memasukkannya ke surga, dan mengeluarkannya darinya. Bahkan, kelak kiamat pun terjadi pada hari Jumat. Maka tidak heran jika Jumat menjadi hari yang paling istimewa di sisi Allah Subhanahu Wata’ala. Waktu Berdoa yang Paling Mustajab Ada satu waktu di hari Jumat yang sangat dinantikan para mukmin — waktu mustajab, di mana doa tidak akan ditolak. Banyak ulama berpendapat waktu itu berada antara ashar hingga magrib. Bayangkan, hanya dengan memperbanyak doa di penghujung Jumat, kita bisa mendapatkan peluang diijabah langsung oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Cahaya di Antara Dua Jumat: Surah Al-Kahfi Setiap Jumat, umat Islam dianjurkan membaca Surah Al-Kahfi.Rasulullah Salallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Barang siapa membaca Surah Al-Kahfi pada hari Jumat, maka akan terpancar cahaya di antara dua Jumat.” (HR. Al-Hakim) Surah ini bukan hanya membawa cahaya dan ketenangan, tetapi juga perlindungan dari fitnah dunia, termasuk fitnah Dajjal. Cukup 20 menit membacanya — namun pahalanya mengalir sepanjang pekan. Shalat Jumat: Lebih dari Sekadar Kewajiban Shalat Jumat bukan hanya menggugurkan kewajiban mingguan bagi laki-laki Muslim, tapi juga simbol persaudaraan umat Islam.Dalam khutbah Jumat, kita diingatkan untuk kembali ke jalan kebenaran, memperbarui niat, dan memperbaiki amal. Rasulullah Salallahu Alaihi Wasallam memperingatkan: “Barang siapa meninggalkan tiga kali shalat Jumat tanpa uzur, maka Allah akan menutup hatinya.” (HR. Abu Dawud) Jumat: Waktu Penghapus Dosa Hari Jumat menjadi momentum luar biasa untuk pengampunan dosa. “Shalat lima waktu, dari Jumat ke Jumat, menghapus dosa di antara keduanya selama dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim) Setiap Jumat datang, Allah memberi kesempatan untuk memulai lembaran baru — penuh rahmat dan ampunan. Hari Terbaik untuk Sedekah dan Amal Baik Para ulama menganjurkan untuk memperbanyak sedekah di hari Jumat, karena pahalanya dilipatgandakan. Banyak umat Islam pada hari Jumat bersedekah dalam bentuk makanan dan minuman yang dibagikan di masji-masjid dan di berbagai tempat yang baik untuk membantu sesama. Waktu untuk Merenung dan Memperbaiki Diri Jumat bukan hanya hari beramal, tapi juga hari untuk muhasabah diri.Renungkan perjalanan hidup, perbanyak istighfar, dan siapkan hati untuk menjadi lebih baik di pekan berikutnya. Jadikan Jumat Sebagai Momentum Spiritual Hari Jumat adalah anugerah.Setiap langkah menuju masjid, setiap doa yang terucap, dan setiap ayat yang dibaca membawa keberkahan tersendiri. Mari jadikan Jumat bukan hanya rutinitas mingguan, tapi momen penyucian jiwa dan pengingat akan kasih sayang Allah Subhanahu Wata’ala. “Perbanyaklah shalawat di hari Jumat, karena shalawat kalian akan disampaikan langsung kepadaku.” — (HR. Abu Dawud) Semoga Allah Subhanahuwata’ala senantiasa merahmati dan memberkati umat Islam di segenap penjuru bumi. Umat yang senantiasa menjaga ketaatan dengan melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, dan saling nasihat-menasihati untuk kebaikan dan ketakwaan.*** Penulis : Thamrin Humris Editor : Thamrin Humris Foto Koleksi Pribadi dan iluistrasi istimewa

Read More

Maulid Nabi Muhammad Dalam Tradisi Perayaan Dunia dan Nusantara

Perayaan Maulid Nabi Di Kalangan Umat Islam di Timur Tengah, Afrika, Asia dan Nusantara Kota Bekasi – 1miliarsantri.net: Umat Islam di berbagai belahan dunia merayakan Maulid Nabi. Maulid Nabi merupakan peringatan hari kelahiran Rasulullah yang diperingati setiap 12 Rabiul Awal dalam kalender Hijriyah. Selain sebagai ungkapan syukur, perayaan ini mencerminkan kekayaan budaya umat Islam di seluruh dunia. Muhammad bin Abdullah, dikenal sebagai Nabi Muhammad SAW merupakan utusan terakhir Allah yang mengemban risalah Islam dan membawa rahmat bagi semesta. Kelahiran Nabi Muhammad menjadi waktu yang istimewa bagi umat Islam untuk mengenang sosok agung pembawa risalah Islam dan merefleksikan nilai-nilai luhur yang beliau wariskan. Sejarah Lahirnya Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasallam Nabi Muhammad SAW lahir pada hari Senin, 12 Rabiul Awal Tahun Gajah (sekitar 570 M) di Makkah. Tahun Gajah dinamai demikian karena pada tahun itu pasukan bergajah pimpinan Abrahah hendak menghancurkan Kaʿbah, namun Allah mengirimkan burung ababil yang menggagalkan penyerangan mereka sebagaimana tercantum dalam Surah Al-Fil:1–5. Lahir dari pasangan Abdullah bin Abdul Muthalib dan Aminah binti Wahab, keturunan Bani Hasyim. Sejak dalam kandungan, Aminah mengalami berbagai tanda luar biasa: mimpi bertemu Nabi Ibrahim, cahaya yang menerangi dunia, dan kedamaian spiritual yang mendalam. Riwayat sejarah juga mencatat beberapa fenomena luar biasa menyertai kelahiran beliau: padamnya api sesembahan Majusi yang telah menyala lebih dari seribu tahun, runtuhnya balkon-balkon istana Kisra di Persia, dan terpancar cahaya terang dari Makkah hingga negeri Syam sebagai isyarat kelahiran pembawa rahmat bagi semesta. Sejarah Perayaan Maulid Nabi Muhammad Di Dunia Islam, Tradisi Maulid Nabi tidak dilakukan pada masa Rasulullah maupun para sahabat. Perayaan ini mulai dikenal pada abad ke-4 Hijriyah oleh Dinasti Fatimiyyun di Mesir. khususnya saat Khalifah al-Mu‘izz li-Dīnillāh mempelopori perayaan hari kelahiran Rasulullah sebagai momen penghormatan dan penguatan identitas keislaman. Sultan Salahuddin al-Ayyūbī kemudian mengadopsi dan menyebarluaskan tradisi ini pada abad ke-12 M sebagai sarana meningkatkan semangat keumatan di tengah Perang Salib. Sementara itu, tokoh seperti Khaizuran binti Atha pada 170 H/786 M memerintahkan warga Madinah dan Makkah untuk merayakan Maulid di masjid Nabawi dan rumah-rumah mereka, menjadikannya praktik yang lebih meluas pada masa itu. Raja Al-Mudhaffar Abu Sa’id Kukburi dari Irbil dikenal sebagai tokoh yang mempopulerkan Maulid dengan perayaan besar dan sedekah hingga 300.000 dinar. Maulid Nabi Di Timur Tengah MESIR : Perayaan Maulid dikenal sebagai Moulid al-Nabi, festival ini berlangsung sepanjang bulan. Jalanan dihiasi lampu warna-warni, masyarakat membuat dan membagikan permen tradisional halawet al-moulid, anak-anak mendapat hadiah, serta digelar zikir bersama, pembacaan sirah, dan parade budaya. IRAK dan SURIAH : Nuansanya lebih khidmat dengan majelis zikir, pembacaan Al-Qur’an, dan tausiyah kelahiran Rasulullah di masjid-masjid besar. Jamaah datang mengenakan pakaian terbaik untuk memperkuat rasa ukhuwah. Maulid Nabi Di Benua Afrika SUDAN : Tradisi didominasi dzikir dan pembacaan qasidah. Kelompok Sufi menampilkan tarian dzikir berkelompok sebagai ekspresi kekuatan spiritual dan cinta kepada Rasulullah. MAROKO : Masyarakat menggelar majelis ilmu, membaca Burdat al-Bushiri, memperbanyak selawat, dan memasak couscous untuk dibagikan kepada tetangga sebagai simbol solidaritas. NIGERIA : Pawai akbar menelusuri kota, ribuan orang melantunkan shalawat, membawa bendera Islam, dan menampilkan kesenian daerah dalam rangka memeriahkan Maulid. Maulid Nabi Di Asia dan Nusantara TURKI : Dikenal sebagai Mevlid Kandili, umat Muslim menggelar pengajian, konferensi, dan kegiatan keagamaan di masjid-masjid besar. Maulid menjadi hari libur nasional, ditandai salat berjamaah dan pembacaan Al-Qur’an. PAKISTAN : Semua bangunan publik, masjid, dan rumah dihias lampu warna-warni. Konferensi Seerat di tingkat federal dan provinsi membahas kehidupan Nabi, lomba puisi naʽat, lomba baca Al-Qur’an, serta sedekah makanan dan permen kepada kaum dhuafa. INDIA : Sehari sebelum Maulid, jalanan, masjid, dan pasar dihiasi lampu warna-warni dan pita hijau—simbol Islam—sebagai persiapan menyambut perayaan keesokan harinya. MALAYSIA : Menjadi hari libur nasional. Umat mengisi Maulid dengan pengajian akbar, pembacaan manāqib, ceramah keagamaan, dan lomba-lomba Islami di masjid maupun sanggar dakwah. BRUNEI DARUSSALAM : Puncak acara berupa “Perarakan Agung” sejauh 4,3 km di Bandar Seri Begawan, dipimpin langsung oleh Sultan, dengan ribuan peserta melantunkan selawat sepanjang jalan. Malam sebelumnya digelar pembacaan Syaraful Anām di Istana Nurul Iman. INDONESIA : Peringatan Maulid bukan sekadar mengenang tanggal lahir Nabi Muhammad SAW, tetapi juga wujud syukur umat Islam atas kelahiran penerang kebenaran dan rahmat bagi semesta (rahmatan lil-‘ālamīn). Di Indonesia, Maulid berkembang menjadi tradisi lokal yang sarat dengan nuansa keagamaan, seperti pembacaan Barzanji, shalawat, dan pengajian. Hal ini tercermin dalam berbagai tradisi Maulid Nabi di tiap daerah sepeti : Tradisi-tradisi ini bukan sekadar seremoni, melainkan ekspresi cinta umat Islam Indonesia kepada Nabi Muhammad SAW. Perayaan Maulid menjadi sarana mempererat silaturahmi, memperkuat nilai-nilai sosial, dan menanamkan keteladanan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari. Di era digital, Maulid bisa menjadi momentum untuk menyebarkan nilai-nilai Islam melalui media kreatif—dari ilustrasi, podcast, hingga konten edukatif.*** Penulis : Oom Komariah Editor : Thamrin Humris Foto istimewa berbagai sumber

Read More

5 Adab Makan Ala Rasulullah untuk Hidup Sehat dan Penuh Berkah

Adab Makan Yang Diajarkan Nabi Muhammad SAW Jakarta Timur – 1miliarsantri.net: Sudah pernah mendengar istilah mindful eating yang kini populer di era modern? Cara makan penuh kesadaran, menikmati setiap suapan, menjaga porsi, serta tidak berlebihan memang dianggap sebagai gaya hidup sehat. Namun tahukah kamu, jauh sebelum istilah itu dikenal, Islam sudah mengajarkannya melalui tuntunan Rasulullah? Adab makan yang diajarkan Nabi Muhammad SAW bukan hanya mengatur etika ketika menyantap makanan, tetapi juga sarat dengan nilai kesehatan, spiritual, dan rasa syukur. Hal inilah yang membuat adab makan bukan sekadar kebiasaan, melainkan juga ibadah yang bernilai pahala. Dan dalam artikel ini, kita akan kembali mengingatkan 5 adab makan yang diajarkan Nabi Muhammad SAW yang relevan untuk kehidupan sehari-hari. Karena dengan mempraktikkannya, kamu tidak hanya menjaga kesehatan fisik, tetapi juga meraih keberkahan dari setiap rezeki yang Allah berikan. Daripada berlama-lama lagi, yuk langsung lihat 5 adab makan yang diajarkan Nabi Muhammad SAW untuk langsung kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari: 1. Memulai dengan Doa Adab makan yang diajarkan Nabi Muhammad SAW selalu diawali dengan doa. Membaca basmalah sebelum makan bukan hanya sekadar rutinitas, melainkan wujud kesadaran bahwa setiap rezeki berasal dari Allah. Rasulullah SAW bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian makan, hendaklah ia menyebut nama Allah. Jika ia lupa menyebut nama Allah di awal, hendaklah ia mengucapkan: Bismillahi awwalahu wa akhirahu” (HR. Abu Dawud). Dengan mengucapkan doa, kamu seolah memberi jeda sejenak sebelum makan, menenangkan hati, serta memusatkan niat agar makanan menjadi sumber keberkahan, bukan sekadar pemuas rasa lapar. Menariknya, kebiasaan ini sejalan dengan konsep modern mindful eating, yaitu berhenti sejenak sebelum makan untuk fokus pada apa yang ada di depanmu. 2. Tidak Berlebihan dalam Makan Adab makan yang diajarkan Nabi Muhammad SAW berikutnya adalah tidak berlebihan. Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan: Prinsip ini sangat penting, terutama di era modern ketika makanan mudah didapat dan gaya hidup konsumtif sering mendorong orang makan berlebihan. Padahal, Rasulullah SAW menganjurkan porsi yang seimbang: sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk air/minuman, dan sepertiga untuk udara. Dengan cara ini, tubuh tetap sehat, terhindar dari penyakit pencernaan, sekaligus melatih jiwa untuk tidak tamak. Di dunia kesehatan, konsep ini identik dengan healthy lifestyle, menjaga pola makan secukupnya, tidak overeating, serta lebih sadar akan nutrisi yang masuk ke tubuh. Dengan kata lain, ajaran Rasulullah SAW tentang adab makan sudah jauh mendahului pola hidup sehat modern. 3. Makan dengan Tangan Kanan Selain soal porsi, adab makan yang diajarkan Nabi Muhammad SAW juga menekankan cara makan. Rasulullah SAW bersabda: “Wahai anak muda, bacalah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang ada di hadapanmu” (HR. Bukhari dan Muslim). Menggunakan tangan kanan bukan hanya perkara sunnah, tetapi juga melatih kebersihan dan kedisiplinan. Di zaman sekarang, hal ini bisa dihubungkan dengan kesadaran fisik: tangan kanan lebih mudah dijaga kebersihannya, sementara makan dengan tangan kiri diidentikkan dengan kebiasaan yang kurang baik. Selain itu, makan dengan tangan kanan juga mencerminkan kesopanan. Di berbagai budaya, tangan kanan dianggap lebih mulia dan lebih pantas digunakan untuk aktivitas yang baik, termasuk makan. Dengan membiasakan diri, kamu tidak hanya mengikuti sunnah Nabi, tetapi juga menjaga adab sosial yang dihargai banyak orang. 4. Makan dengan Perlahan dan Tidak Tergesa Adab makan yang diajarkan Nabi Muhammad SAW berikutnya adalah makan dengan tenang, tidak terburu-buru, dan tidak rakus. Rasulullah SAW dikenal makan dengan penuh ketenangan, menikmati makanan secukupnya tanpa tergesa. Kebiasaan ini ternyata sangat bermanfaat bagi kesehatan. Makan perlahan membantu tubuh lebih cepat merasa kenyang sehingga mencegah makan berlebihan. Selain itu, pencernaan menjadi lebih baik karena makanan dikunyah dengan sempurna. 5. Bersyukur Setelah Makan Adab makan yang diajarkan Nabi Muhammad SAW selalu ditutup dengan rasa syukur. Setelah selesai makan, Rasulullah SAW mengajarkan untuk membaca hamdalah sebagai ungkapan terima kasih kepada Allah. Rasa syukur ini tidak hanya diucapkan di lisan, tetapi juga dihayati dalam hati, menyadari bahwa setiap makanan adalah karunia yang tidak semua orang bisa menikmatinya. Rasa syukur setelah makan memiliki makna yang mendalam. Pertama, mengingatkan kamu bahwa rezeki berasal dari Allah. Kedua, menumbuhkan empati kepada orang yang kurang beruntung. Ketiga, menjadikan makan sebagai ibadah, bukan sekadar aktivitas duniawi. Dengan demikian, bersyukur setelah makan tidak hanya membuat hati tenang, tetapi juga mendekatkan diri kepada Sang Pemberi Rezeki. Dari lima poin di atas, jelas bahwa adab makan yang diajarkan Nabi Muhammad SAW bukan sekadar aturan sederhana, melainkan panduan hidup yang menyeluruh. Mulai dari doa sebelum makan, tidak berlebihan, makan dengan tangan kanan, perlahan, hingga bersyukur setelahnya, semua mengandung hikmah besar bagi kesehatan, akhlak, dan spiritualitas. Di tengah tren modern yang sering menekankan gaya hidup sehat, sebenarnya ajaran Islam telah lama memberikan panduan terbaik. Dengan menerapkan adab makan yang diajarkan Nabi Muhammad SAW, kamu tidak hanya merawat tubuh, tetapi juga menghidupkan sunnah, menjaga etika, dan meraih keberkahan dalam setiap suapan. Semoga bermanfaat!*** Penulis : Zeta Zahid Yassa Editor : Ainun Maghfiroh dan Thamrin Humris Foto Ilustrasi

Read More

Tidak Kolot! Begini Gaya Hidup Minimalis ala Rasulullah yang Sederhana Tapi Hidup Penuh Berkah

Jakarta Timur – 1miliarsantri.net: Gaya Hidup Minimalis ala Rasulullah sering kali menjadi bahan renungan bagi banyak orang, terutama di tengah tren gaya hidup minimalis yang kian populer saat ini. Banyak yang menganggap minimalisme hanyalah sekadar mengurangi barang, hemat uang, atau menata ruangan agar terlihat rapi. Padahal, jauh sebelum istilah ini dikenal, Rasulullah SAW telah mencontohkan gaya hidup sederhana yang bukan hanya menenangkan jiwa, tetapi juga penuh dengan keberkahan. Bagaimana sebenarnya prinsip hidup minimalis ala Rasulullah? Mengapa gaya hidup ini penting untuk kita teladani di era yang serba konsumtif sekarang? Mari kita belajar lebih dalam, melalui penjelasaqn di bawah ini! Prinsip Utama dalam Gaya Hidup Minimalis ala Rasulullah Minimalis dalam Islam sering dikenal dengan istilah zuhud. Zuhud bukan berarti menjauhi dunia sepenuhnya, melainkan memandang dunia dengan secukupnya dan tidak berlebihan dalam urusan materi. Rasulullah SAW sendiri meski dikenal sebagai pedagang sukses, beliau memilih menjalani hidup yang sederhana. Beliau tidak dikuasai oleh harta, melainkan menjadikan harta sebagai sarana untuk berbuat kebaikan. Dan mari kita lihat, di bawag ini ada beberapa prinsip dari Gaya Hidup Minimalis ala Rasulullah bisa menjadi pedoman kita: 1. Mengutamakan kebutuhan daripada keinginan Rasulullah SAW selalu memilih sesuatu berdasarkan manfaatnya, bukan karena tren atau gengsi. Beliau tidak pernah menuruti hawa nafsu hanya untuk mengikuti arus zaman. Misalnya, pakaian beliau digunakan hingga benar-benar habis manfaatnya. Dari sini, kita bisa belajar untuk menahan diri agar tidak mudah tergoda pada hal-hal yang sebenarnya tidak diperlukan. 2. Kualitas lebih penting daripada kuantitas Rasulullah SAW lebih memilih memiliki barang sedikit, tetapi awet dan bermanfaat. Pakaian beliau dijahit ulang jika sobek, bukan langsung diganti baru. Sikap ini jelas berbeda dengan kebiasaan banyak orang sekarang yang sering membeli barang hanya karena diskon atau tren. Dengan prinsip ini, kita bisa menghemat sekaligus membuka ruang untuk berbagi kepada yang membutuhkan. 3. Kesederhanaan dalam konsumsi makanan Rasulullah SAW selalu makan secukupnya. Beliau mengajarkan untuk tidak berlebihan, bahkan bersabda agar perut diisi sepertiga makanan, sepertiga minuman, dan sisanya untuk udara. Kebiasaan ini bukan hanya menyehatkan, tetapi juga mengajarkan kita untuk tidak boros dan selalu menghargai nikmat Allah. Manfaat Menjalani Gaya Hidup Minimalis ala Rasulullah Jika ditanya apa manfaat mengikuti Gaya Hidup Minimalis ala Rasulullah, jawabannya bukan hanya soal hemat uang. Ada banyak keberkahan yang bisa kita rasakan jika konsisten menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, hidup menjadi lebih dekat dengan Allah SWT. Dengan gaya hidup sederhana, hati akan lebih mudah bersyukur dan terhindar dari sifat tamak. Kedua, pikiran menjadi lebih tenang. Memiliki sedikit barang berarti beban pikiran lebih ringan karena tidak banyak yang harus dipikirkan dan diurus. Ketiga, terbuka kesempatan lebih luas untuk beramal. Uang atau barang yang biasanya dipakai untuk hal-hal yang tidak penting bisa dialihkan menjadi sedekah atau membantu sesama. Cara Menerapkan Gaya Hidup Minimalis ala Rasulullah Kamu mungkin bertanya, bagaimana cara mempraktikkan gaya hidup ini dalam kehidupan modern? Sebenarnya mudah, asalkan ada niat dan komitmen. Pertama, evaluasi barang yang kamu miliki. Rasulullah SAW tidak menyimpan sesuatu yang tidak bermanfaat. Jadi, jika ada barang yang hanya memenuhi ruangan tanpa terpakai, lebih baik disedekahkan atau dijual. Kedua, pilih barang yang awet dan bermanfaat. Daripada membeli banyak barang murah yang cepat rusak, lebih baik memiliki sedikit barang berkualitas. Ketiga, biasakan diri untuk bijak dalam mengonsumsi makanan. Ambil porsi secukupnya dan usahakan tidak membuang makanan. Langkah kecil ini jika dilakukan terus-menerus akan membentuk kebiasaan positif. Bahkan, dalam jangka panjang akan membawa perubahan besar, baik untuk kehidupan pribadi maupun lingkungan sekitar. Minimalis Bukan Berarti Pelit Salah satu kesalahpahaman yang sering terjadi adalah menganggap gaya hidup minimalis identik dengan pelit. Padahal, justru sebaliknya. Rasulullah SAW adalah sosok yang sangat dermawan meski hidupnya sederhana. Hemat bukan berarti menahan harta untuk diri sendiri, tetapi lebih kepada menghindari pemborosan sehingga bisa dialokasikan untuk hal yang lebih bermanfaat, seperti menolong orang lain atau bersedekah. Jadi, Gaya Hidup Minimalis ala Rasulullah bukan membuatmu kikir, melainkan semakin terbuka hatimu untuk berbagi. Hidup sederhana tidak menutup pintu untuk berbuat kebaikan, malah justru memperluas kesempatan untuk itu. Dan sudah ada beberapa hadist telah menyebutkan tentang sikap zuhud Rasulullah SAW, salah satunya hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari: ”Telah menceritakan kepada kami [Utsman] telah menceritakan kepada kami [Jarir] dari [Manshur] dari [Ibrahim] dari [Al Aswad] dari [Aisyah] dia berkata; “Semenjak tiba di Madinah, keluarga Muhammad tidak pernah merasa kenyang dari makanan gandum hingga tiga malam berturut-turut sampai beliau meninggal,” (HR. Bukhari) Menjaga Diri dari Godaan Konsumerisme Di era media sosial, godaan konsumerisme begitu kuat. Promo besar-besaran, iklan kreatif, hingga tren viral sering membuat kita mudah tergoda untuk membeli sesuatu yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Inilah tantangan besar yang harus kita hadapi jika ingin konsisten dengan Gaya Hidup Minimalis ala Rasulullah. Untuk menghadapinya, kamu bisa mulai dengan langkah-langkah sederhana. Misalnya, batasi waktu berselancar di platform belanja online, terapkan “no spend day” atau hari tanpa belanja secara berkala, dan fokuskan pengeluaran pada hal-hal yang lebih berharga, seperti ilmu, pengalaman, atau amal kebaikan. Dengan begitu, kamu bisa melatih diri untuk lebih tahan terhadap godaan dan lebih bijak dalam mengatur keuangan. Kesederhanaan Jalan Menuju Ketenangan Hati dan Keberkahan Hidup. Pada akhirnya, Gaya Hidup Minimalis ala Rasulullah bukanlah sekadar soal mengurangi kepemilikan barang atau menata rumah agar rapi. Lebih dari itu, ini adalah cara hidup yang penuh kesadaran, mengutamakan keberkahan, dan menyeimbangkan kebutuhan dunia dengan akhirat. Rasulullah SAW mencontohkan bahwa kesederhanaan adalah jalan menuju ketenangan hati dan keberkahan hidup. Dengan menerapkan Gaya Hidup Minimalis ala Rasulullah, kamu bisa hidup lebih tenang, lebih dekat dengan Allah, dan lebih banyak berkontribusi positif untuk sesama. Jadi, jangan hanya menjadikan minimalisme sebagai tren, tetapi hiduplah dengan kesadaran bahwa kesederhanaan adalah bagian dari sunnah yang akan membawamu pada kebahagiaan sejati, di dunia maupun di akhirat.** Penulis: Vicky Vadila Muhti Editor : Ainun Maghfiro dan Thamrin Humris Foto ilustrasi

Read More

5 Prinsip Komunikasi dalam Al-Qur’an yang Sering Kita Lupakan

Tegal – 1miliarsantri.net: Komunikasi di era digital bukan lagi sekadar berbicara dari mulut ke mulut. Kita bisa mengutarakan pendapat lewat status, menyindir lewat story, berdebat bahkan saling menyerang lewat komentar di media sosial. Semua orang bisa berbicara, tapi pertanyaannya, berapa banyak dari kita yang masih menjaga adab? Kemajuan teknologi membuat komunikasi menjadi lebih mudah dan instan. Namun, di balik kemudahan itu, sering kali kita melupakan nilai-nilai dasar yang diajarkan Islam dalam berkomunikasi. Terkadang kita lupa bahwa dalam Islam, kata-kata bukan hanya alat sosial, tapi juga bagian dari ibadah. Berbicara itu ibadah, jika niat, isi, dan caranya lurus. Sayangnya, dalam hiruk-pikuk dunia maya, adab komunikasi ini makin sering diabaikan. Bahkan oleh kita yang mengaku sebagai santri, aktivis dakwah, atau pemuda Islam, sering lalai dari padanya. Baca juga: Moral Jurnalisme Dalam Nilai-Nilai Islam untuk Menyuarakan Kebenaran Di Era Kebisingan Komunikasi dalam Islam yang Bukan Sekadar Keterampilan Dalam pandangan Islam, cara kita berkomunikasi mencerminkan kualitas akhlak yang perlu dijaga dengan sungguh-sungguh. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa salah satu ciri keimanan seseorang tercermin dari bagaimana ia menjaga lisannya. Lebih baik kita diam daripada apa yang kita ucapkan adalah sesuatu yang tidak baik. Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47) Ucapan kita bukanlah hal sepele. Setiap kata yang keluar akan dimintai pertanggungjawaban. Al-Qur’an surat Qaf ayat 18 mengingatkan bahwa setiap ucapan kita tidak pernah luput dari pengawasan Allah SWT. مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ “Tiada suatu kalimat pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf :18) Ada malaikat yang senantiasa mencatat segala kata yang keluar dari lisan kita, sekecil apa pun itu. Artinya, berbicara bukan hanya soal keahlian menyusun kata. Namun, soal ketaatan dan tanggung jawab di hadapan Allah SWT. Baca juga: Fenomena Sound Horeg : Dampak Sosial dan Tinjauan Singkat dari Sudut Pandang Islam Lima Prinsip Komunikasi dalam Al-Qur’an Al-Qur’an mengajarkan sejumlah prinsip komunikasi yang seharusnya menjadi fondasi setiap muslim dalam berkata-kata, baik dalam kehidupan nyata maupun di dunia maya. Sayangnya, lima prinsip ini kerap kita lupakan: 1. Qaulan Sadida – Perkataan yang Benar Perkataan yang benar artinya jujur, tidak mengada-ada, tidak membelokkan fakta. Dalam era hoaks dan informasi yang simpang siur, prinsip ini menjadi sangat penting. Menyebar informasi yang belum jelas sumbernya atau melebih-lebihkan cerita adalah bentuk kelalaian terhadap qaulan sadida. 2. Qaulan Baligha – Perkataan yang Tepat dan Efektif Baligh berarti sampai dan mengena. Komunikasi yang baik bukan hanya benar, tapi juga efektif, tepat sasaran, dan mempertimbangkan kondisi audiens. Dalam dakwah misalnya, pesan yang disampaikan harus disesuaikan dengan tingkat pemahaman dan kebutuhan pendengarnya. 3. Qaulan Layyina – Perkataan yang Lembut Bahkan kepada Fir’aun yang zalim pun, Allah SWT perintahkan Nabi Musa untuk berbicara dengan lembut. Apalagi kita, kepada sesama umat muslim, saudara, bahkan teman di media sosial. Mengkritik boleh, menegur juga perlu, tapi semua itu tetap dalam bingkai kelembutan. 4. Qaulan Ma’rufa – Perkataan yang Baik Perkataan yang baik tidak menyakitkan, tidak merendahkan, dan tidak mempermalukan. Ini juga mencakup adab dalam bercanda, tidak menggunakan ejekan, sarkasme, atau sindiran yang menyakiti hati. 5. Qaulan Karima – Perkataan yang Mulia Komunikasi mulia adalah komunikasi yang penuh penghormatan, terutama kepada orang tua, guru, dan orang yang lebih tua. Termasuk juga cara kita menanggapi perbedaan pendapat, agar tetap santun meski tidak sepakat. Media Sosial Sebagai Ladang Ujian Adab Coba kita tengok media sosial hari ini. Tak sedikit akun media sosial yang gemar melontarkan sindiran atau mengomentari penampilan serta keputusan hidup orang lain. Ada juga yang merasa berdakwah, tapi ucapannya justru penuh cercaan. Padahal, Rasulullah SAW tidak pernah mencela, memaki, atau berkata kotor, meskipun terhadap musuhnya. Kita sering lupa bahwa mengetik komentar buruk nilainya sama dengan mengucapkannya langsung. Hanya beda medium, bukan beda pahala atau dosa. Jika prinsip-prinsip komunikasi Al-Qur’an tadi diterapkan di ruang digital, dunia maya akan jauh lebih damai. Namun sering kali kita lebih memilih kata-kata yang keras karena lebih viral, bukan karena lebih benar. Kata-Kata Mencerminkan Jiwa Dalam Islam, kualitas komunikasi mencerminkan kualitas hati. Orang yang jiwanya tenang, ucapannya pun tenang. Orang yang hatinya kotor, biasanya lidah dan jarinya juga mudah menyakiti. Bahkan dalam bercanda pun Islam memberi batas. Rasulullah SAW bersabda: “Celaka bagi orang yang berbicara lalu berdusta agar orang-orang tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi) Bercanda boleh, asal tidak menyakiti atau berdusta. Sebab setiap ucapan akan kembali kepada kita, entah sebagai pahala, atau beban di akhirat kelak. Baca juga: Antara Gaya dan Syariat! Pandangan Ulama’ Terhadap Trend Model Baju Muslim Terbaru Menghidupkan Kembali Adab Sebagai Tugas Santri Digital Menjaga adab bicara hari ini adalah bentuk revolusi sunyi. Tidak banyak yang melakukannya, karena kata-kata yang keras, kasar, atau provokatif lebih cepat menyebar. Namun justru di sinilah pentingnya peran santri digital, influencer muslim, dan pemuda Islam sebagai teladan di tengah kebisingan. Mengendalikan kata-kata, baik yang diucapkan maupun dituliskan, bukan hanya soal sopan santun. Melainkan juga bagian dari jihad dalam rangka menundukkan ego dan menahan gejolak emosi. Dan jihad ini tidak pernah kehilangan relevansinya. Kata Adalah Ladang Amal Kita bisa mengubah dunia, bukan hanya lewat orasi besar, tapi juga lewat komentar yang menyejukkan, status yang menginspirasi, dan pesan yang jujur. Kata-kata kita bisa jadi ladang pahala, jika diisi dengan kebaikan. Mari kita hidupkan kembali adab dalam komunikasi, baik secara langsung maupun lewat media sosial. Dunia ini sudah terlalu bising dengan kata-kata yang melukai. Saatnya kita hadir dengan kata-kata yang menyembuhkan. Karena dalam Islam, komunikasi adalah akhlak, dan setiap kata adalah ibadah. Penulis : Satria S Pamungkas (Tegal, Jawa Tengah) Foto ilustrasi Editor : Ainun Maghfiroh dan Thamrin Humris

Read More

Moral Jurnalisme Dalam Nilai-Nilai Islam untuk Menyuarakan Kebenaran Di Era Kebisingan

Jakarta – 1miliarsantri.net: Di tengah Banjir informasi di media sosial saat ini dipenuhi oleh hoaks dan disinformasi, jurnalisme menjadi semacam oase. Namun, di saat yang sama, banyak pula yang mempertanyakan, apakah jurnalisme masih punya moral? Apakah media massa saat ini masih memihak pada kebenaran atau justru jadi alat kekuasaan dan bisnis semata? Dalam perspektif Islam, pertanyaan ini semakin mendesak. Bagaimana seharusnya umat Islam memaknai jurnalisme? Apakah ada benang merah yang menghubungkan antara kerja jurnalistik dan nilai-nilai Islam? Dan mungkinkah seorang jurnalis muslim tetap profesional, sekaligus taat pada prinsip-prinsip agamanya? Jawabannya adalah sangat mungkin. Bahkan, Islam sejak awal mengajarkan nilai-nilai luhur yang selaras dengan prinsip dasar jurnalisme seperti kebenaran, keadilan, amanah, dan tanggung jawab sosial. Baca juga : Catatan Kelam Jurnalis Peliput Perang Gaza dan Beberapa Bentuk Pembunuhan Terhadap Wartawan Islam dan Tradisi Jurnalistik yang Bukan Hal Baru Islam adalah agama yang sangat menghargai ilmu pengetahuan dan penyebaran informasi yang jujur. Berkaitan dengan hal ini, Al-Qur’an melalui surat Al-Hujurat ayat 6 memberikan pesan penting agar umat Islam tidak menelan informasi mentah-mentah. Ketika ada kabar datang dari orang yang tak terpercaya, Allah SWT memerintahkan kaum beriman untuk menelusurinya dengan cermat terlebih dahulu. Ayat tersebut bukan hanya dasar dari prinsip tabayyun (verifikasi), tapi juga menjadi pondasi moral untuk kerja-kerja jurnalistik yang bertanggung jawab. Islam sejak awal sudah memperingatkan bahaya dari menyebarkan informasi tanpa cek fakta, persis seperti yang hari ini dilakukan jurnalis profesional. Rasulullah SAW sendiri dikenal sebagai sosok terpercaya atau Al-Amin. Beliau tidak hanya membawa wahyu, tapi juga menjadi penyampai pesan yang jelas, jujur, dan berintegritas. Nilai-nilai yang seharusnya dipegang oleh jurnalis muslim pada hari ini. Tidak hanya itu, tradisi intelektual Islam sejak awal sangat menekankan kehati-hatian dalam menyampaikan informasi. Ini bisa kita lihat dalam praktik periwayatan hadis. Kalau boleh dikatakan, hadis bisa dianggap sebagai bentuk awal “jurnalistik” dalam Islam, karena ia mengandalkan verifikasi sumber (sanad), isi berita (matan), dan kredibilitas perawi. Sebab, dalam tradisi Islam, tokoh seperti Imam Bukhari menerapkan proses penyaringan yang luar biasa ketat untuk memastikan sebuah hadis benar-benar sahih. Proses ini mencerminkan semangat yang sejalan dengan nilai-nilai jurnalisme, seperti ketelitian, kejujuran, dan tanggung jawab dalam menyampaikan informasi. Baca juga : “Mbegendeng” dan Perlawanan terhadap Kepalsuan Negara Nilai-Nilai Islam dalam Etika Jurnalistik Berikut adalah nilai-nilai Islam yang bisa menjadi landasan dalam kerja jurnalistik. 1. Kebenaran (ash-shidq) Tujuan utama jurnalistik adalah menyampaikan kebenaran. Ia adalah kompas moral bagi para jurnalis. Pun demikian dengan ajaran agama Islam, yang sangat menekankan pentingnya berkata jujur dan menghindari dusta. 2. Keadilan (al-‘adl) Jurnalisme menuntut agar setiap informasi disampaikan secara seimbang dan adil, dengan memberi tempat bagi berbagai perspektif, terutama bagi suara-suara yang kerap terpinggirkan. Yang demikian ini adalah nilai-nilai yang sangat dijunjung tinggi dalam ajaran agama Islam. 3. Verifikasi (tabayyun) Sebagaimana disebut dalam QS Al-Hujurat ayat 6, menyebarkan berita tanpa verifikasi adalah tindakan tercela. Jurnalis muslim wajib memeriksa fakta sebelum menulis atau menyebarkannya. 4. Amanah dan Tanggung Jawab Informasi adalah amanah. Menyalahgunakan informasi untuk kepentingan pribadi, politik, atau ekonomi adalah bentuk pengkhianatan terhadap publik. 5. Menghindari Ghibah dan Fitnah Dalam agama Islam, kita diperintahkan oleh Allah SWT untuk menjauhi ghibah (menggunjing) dan fitnah (menyebar kebohongan). Sementara dalam etika jurnalistik, seorang jurnalis tidak boleh melaporkan berita bohong. 6. Mengajak kepada Kebaikan dan Mencegah Kemungkaran Fungsi media bukan sekadar menyampaikan, tapi juga membentuk opini publik. Jurnalisme mengarahkan informasi untuk menebarkan nilai-nilai kebaikan. Ini sesuai dengan prinsip agama Islam. Mengapa Umat Islam Perlu Terlibat di Dunia Jurnalistik? Media adalah medan pertempuran opini. Jika umat Islam tidak aktif di sana, maka ruang informasi akan dikuasai oleh narasi-narasi yang bisa jadi bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Maka, keterlibatan muslim dalam dunia jurnalisme bukan sekadar pilihan, tapi keharusan. Sebab, hanya dengan begitu kita bisa: Tantangan dan Peluang yang Harus Dihadapi Tentu, menjadi jurnalis yang memegang teguh etika jurnalistik dan nilai-nilai Islam sekaligus bukan tanpa tantangan. Dunia media sering dihadapkan pada tekanan ekonomi, politik, dan ideologi sehingga membuat banyak jurnalis harus mengorbankan idealisme atau pekerjaannya. Namun justru di situlah peran nilai-nilai Islam menjadi penopang moral. Ketika jurnalis lain mulai tergelincir karena iming-iming popularitas atau uang, jurnalis muslim bisa bertahan karena punya nilai yang lebih tinggi dari sekadar rating dan klik. Di sisi lain, peluang juga terbuka lebar. Bahkan media Islam kini punya ruang yang makin besar berkat internet. Dari blog pribadi, YouTube, hingga media online seperti 1miliarsantri.net, semuanya bisa menjadi ladang dakwah penyebaran informasi yang sehat. Jurnalisme Bukan Sekadar Profesi, tapi Ibadah Kalau orientasi utama dalam Islam adalah ibadah, maka semua aktivitas yang membawa manfaat dan diniatkan karena Allah SWT bisa bernilai ibadah. Termasuk menulis berita. Termasuk meliput kebijakan zalim. Termasuk mengungkap kebenaran yang ditutupi. Maka jurnalisme bisa menjadi bentuk jihad bil qalam, berjuang lewat pena dan informasi. Namun tentu, ini butuh komitmen, ilmu, dan keberanian. Baca juga : Seorang Jurnalis Tewas saat Operasi Militer Israel di Rafah Saatnya Menulis dengan Nurani dan Iman Di era post-truth dan fake news, masyarakat haus akan informasi yang bisa dipercaya. Dan lebih dari itu, mereka butuh informasi yang memberi harapan dan arah. Pada titik inilah, jurnalisme yang berlandaskan nilai-nilai Islam menemukan perannya yang paling mulia. Kita butuh jurnalis yang tidak hanya tajam dalam menggali fakta, tapi juga lembut dalam menyampaikan. Kita butuh media yang bukan hanya cepat, tapi juga bijak. Kita juga membutuhkan narasi yang bukan hanya bersifat informatif saja, tetapi juga inspiratif. Karena pada akhirnya, menjadi jurnalis muslim bukan hanya tentang keterampilan menulis atau merekam. Namun juga soal keberpihakan pada nilai: kebenaran, keadilan, dan kasih sayang. Dan itu adalah inti dari Islam itu sendiri.** Penulis : Satria S Pamungkas (Tegal, Jawa Tengah) Foto ilustrasi Editor : Ainun Maghfiroh dan Thamrin Humris

Read More