Pahala Puasa Ramadhan: Hak Allah atau Bisa Diukur Manusia?

Bekasi — 1miliarsantri.net: Ramadhan adalah bulan penuh berkah yang di dalamnya setiap amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya. Kaum muslimin berlomba-lomba memperbanyak ibadah seperti puasa, shalat, membaca Al-Qur’an, sedekah, dan berbagai amal shalih lainnya. Namun muncul sebuah pertanyaan penting dalam kajian keislaman: apakah pahala puasa dan amal selama Ramadhan dapat “diukur” atau “ditentukan” oleh manusia, ataukah hal itu sepenuhnya menjadi hak prerogatif Allah? Para ulama sepakat bahwa manusia hanya bisa mengetahui janji pahala secara umum berdasarkan dalil, sedangkan penentuan besarnya pahala secara pasti adalah hak Allah semata. Puasa: Amal yang Pahalanya Langsung dari Allah Dalil paling kuat tentang keistimewaan puasa terdapat dalam hadits qudsi berikut. Rasulullah ﷺ bersabda: Hadits ini menunjukkan bahwa pahala puasa memiliki keistimewaan khusus. Ulama menjelaskan bahwa Allah tidak menyebutkan jumlah pahala puasa secara spesifik, berbeda dengan amal lain. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa maksud hadits ini adalah: Allah memberikan pahala puasa tanpa batas yang diketahui manusia. Al-Qur’an Menegaskan Pahala Dilipatgandakan oleh Allah Allah berfirman: Dalam ayat lain Allah berfirman:

Read More

Muhammadiyah Terbitkan Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1447 H/2026 M, Link Lengkap Cek Di Sini

Muhammadiyah resmi menerbitkan Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1447 H/2026 M untuk seluruh kota di Indonesia. Yogyakarta — 1miliarsantri.net: Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan 1447 H/2026 M, Muhammadiyah melalui Suara Muhammadiyah telah menerbitkan jadwal imsakiyah lengkap yang bisa diunduh oleh umat Muslim di Indonesia. Jadwal ini dirancang sebagai panduan waktu sahur (imsak), waktu subuh, serta waktu berbuka puasa. Dasar Perhitungan Waktu Imsak dan Subuh

Read More

Muhammadiyah Mulai Melaksanakan Puasa Ramadhan 1447 H pada 18 Februari 2026: Penetapan, Metode dan Imbauan Sikap Bijak

Muhammadiyah resmi menentukan awal puasa Ramadhan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026 berdasarkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Artikel ini membahas dasar penetapan, perbedaan dengan pemerintah, serta ajakan sikap bijak umat. Jakarta — 1miliarsantri.net: Organisasi Islam terbesar kedua di Indonesia, Muhammadiyah, telah menetapkan awal ibadah puasa Ramadhan 1447 Hijriyah jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026 Masehi. Keputusan itu tertuang dalam Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1447 H. Penetapan tersebut juga telah diikuti pelaksanaan Salat Tarawih di sejumlah masjid di berbagai daerah pada Selasa malam (17/2/2026) sebagai malam pertama Ramadhan bagi warga Muhammadiyah. Dasar Penetapan: Kalender Hijriah Global Tunggal Muhammadiyah menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) sebagai dasar perhitungannya, menggantikan metode wujudul hilal yang sebelumnya digunakan. Metode ini memadukan tiga unsur utama yaitu prinsip, syarat, dan parameter (PSP) untuk menentukan awal bulan Hijriah secara global. Menurut KHGT, parameter tinggi hilal minimal 5 derajat dan elongasi minimal 8 derajat setelah ijtimak (konjungsi) harus terpenuhi di mana saja di permukaan bumi. Untuk awal Ramadhan 1447 H, ketentuan ini telah terpenuhi di wilayah Alaska, Amerika Serikat, sehingga Muhammadiyah memutuskan 18 Februari 2026 sebagai 1 Ramadhan. Pakar falak Muhammadiyah juga mencatat bahwa konjungsi jelang Ramadhan terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026 pukul 12.01 UTC.

Read More

Wahyu Kalaseba: Titah Suci Yang Memanggil Putra Wayah Nusantara Untuk Bangkit

Jakarta – 1miliarsantri.net: Wahyu Kalaseba bukan sekadar ilham atau bisikan gaib dari ruang batin yang samar. Ia adalah petunjuk Ilahi, titah suci yang turun dari langit ke dalam ruang hening kesadaran seorang insan terpilih, yang bersih dari pamrih, yang hatinya lapang menampung cinta semesta dan yang jiwanya ikhlas memikul beban zaman. Wahyu itu telah menggema, bukan lagi rahasia yang hanya diketahui di balik tirai kabut pegunungan, getaran sunyi yang hanya terdengar dalam senyapnya gua dan di balik batu karang pantai. Wahyu Kalaseba telah memanggil putra wayah pilihan Nusantara, yang tersebar dari Sabang hingga Merauke, dari puncak gunung tertinggi hingga lembah yang terdalam. Ia datang bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk dijalankan, untuk dihidupkan, untuk dilaksanakan dengan sepenuh kesadaran jiwa dan raga. Masih banyak dari kita yang memilih menyepi—tirakat di atas gunung, menyatu dengan keheningan langit dan bumi, mencoba mengurai tabir rahasia kehidupan. Ada yang bersemedi di batu karang pesisir pantai, menanti bisikan ombak sebagai jawaban ilahi.

Read More