Perang Iran vs Amerika Serikat dan Israel Memasuki Hari ke-26, Simak Timeline Lengkapnya

Timeline Perang Iran vs Amerika & Israel 2026: 26 Hari yang Mengubah Timur Tengah, Dari “Epic Fury” hingga Ancaman Perang Regional Timur Tengah — 1miliarsantri.net: Konflik besar antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel pecah pada akhir Februari 2026 dan berkembang menjadi salah satu eskalasi militer (perang) paling berbahaya dalam sejarah modern Timur Tengah. Serangan udara, rudal balistik, pembunuhan tokoh penting, hingga ancaman penutupan jalur minyak dunia membuat situasi berubah cepat dari hari ke hari. Berikut timeline lengkap hari ke-1 hingga hari ke-26 yang menggambarkan bagaimana perang ini berkembang secara dramatis. Timeline Perang Iran vs Amerika & Israel 2026 Hari ke-1 — 28 Februari 2026 Operasi “Epic Fury” Dimulai, Pemimpin Tertinggi Iran Tewas Perang dimulai dengan operasi gabungan Amerika Serikat dan Israel bernama Epic Fury. Dalam 12 jam pertama, hampir 900 target dihantam serangan udara dan rudal di berbagai wilayah Iran, termasuk di ibu kota Tehran. Target utama meliputi fasilitas militer, peluncur rudal, sistem pertahanan udara, hingga pusat komando IRGC. Dalam serangan awal ini, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan tewas bersama puluhan pejabat senior. Iran langsung membalas dengan puluhan rudal balistik ke Israel, menghantam wilayah Tel Aviv dan Haifa. Rudal juga diarahkan ke Pangkalan AS di Bahrain, Qatar, UAE, Kuwait, dan Arab Saudi. Korban sipil pertama jatuh di kedua pihak. Hari ke-2 — 1 Maret 2026 Serangan Balasan Iran Membesar, Korban Sipil Meningkat Tajam Iran meluncurkan gelombang rudal besar ke Israel. Sebuah rudal menghantam shelter di Beit Shemesh, menewaskan sembilan warga Israel dan melukai puluhan lainnya. Serangan balasan AS-Israel berlanjut ke infrastruktur komando Iran. Korban sipil Iran meningkat drastis, termasuk insiden tragis di Minab yang menewaskan sekitar 170 orang, sebagian besar anak-anak. Kelompok Hezbollah mulai aktif membantu Iran dengan serangan roket ke Israel utara, menandai konflik mulai meluas secara regional. Hari ke-3 — 2 Maret 2026 Selat Hormuz Ditutup, Dunia Terancam Krisis Energi Iran mengumumkan penutupan total Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dunia. Harga minyak global langsung melonjak tajam. Serangan Iran ke pangkalan AS di negara Teluk terus berlanjut. Israel untuk pertama kalinya menyerang fasilitas nuklir Natanz. Korban tewas di Iran mencapai ratusan, sementara AS-Israel mengklaim superioritas udara mulai tercapai di beberapa wilayah. Hari ke-4 hingga Hari ke-7 — 3–6 Maret 2026 Tehran Dibombardir, Infrastruktur Energi Iran Hancur Serangan udara AS-Israel meningkat intensitasnya ke Tehran, pangkalan rudal, dan fasilitas energi. Pelabuhan serta depot minyak mengalami kerusakan besar. Iran tetap meluncurkan rudal meski jumlahnya menurun akibat banyak peluncur hancur. Beberapa serangan masih mencapai area Tel Aviv. Hezbollah meningkatkan serangan roket ke Israel utara, sementara evakuasi massal dimulai di Lebanon selatan. Hari ke-8 — 7 Maret 2026 Fasilitas Sipil Terseret, Korban Terus Bertambah Serangan Israel menghantam universitas dan rumah sakit di Tehran. Laporan korban sipil meningkat tajam. Iran membalas dengan menyerang kilang minyak di Haifa. Israel merespons dengan gelombang udara besar-besaran. Hari ke-9 hingga Hari ke-14 — 8–13 Maret 2026 Perang Meluas ke 20 Provinsi Iran Serangan AS-Israel menjangkau lebih dari 20 provinsi Iran. Kebakaran depot minyak memicu fenomena “hujan hitam” tercemar di Tehran. Iran menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi baru. Serangan rudal Iran terus berlanjut meski lebih sporadis. Konflik Hezbollah-Israel meningkat, dan Israel mulai menyiapkan invasi darat terbatas ke Lebanon selatan. Hari ke-15 hingga Hari ke-17 — 14–16 Maret 2026 Tokoh Senior Iran Dibunuh

Read More

Trumph Meradang Karena Sekutunya Tak Satu Suara Lawan Iran, Tanda Kekalahan Amerika Serikat Atas Iran?

MIDDLE EAST – 1 miliarsantri.net: Serangan balasan Iran bukan sekadar simbolis. Rudal dan drone dilaporkan menghantam berbagai instalasi militer Amerika di kawasan Teluk—menciptakan dentuman yang tak hanya merobek langit malam, tetapi juga mengguncang dominasi lama Washington di wilayah panas tersebut. Alih-alih mendapat bantuan dari negara sekutunya, Amerika justru dibiarkan pusing menghadapi gelombang serangan balasan Iran yang menghancurkan berbagai fasilitas militernya di Qatar, Bahrain, hingga Uni Emirat Arab. Di tengah kekacauan itu, zionis Israel dilaporkan dalam kondisi porak-poranda setelah puluhan rudal dan drone kamikaze Iran menghantam Tel Aviv dan wilayah lainnya—menyisakan kepanikan dan puing-puing yang belum sempat dibersihkan. Tanda-tanda kekalahan Amerika mulai terasa nyata dan mengerikan. Serangan Iran tak hanya merusak pangkalan militer AS di Teluk, tetapi juga membuka fakta pahit: sekutu-sekutu utama memilih diam, menolak terlibat dalam konflik yang semakin tak terkendali. Sementara itu, Selat Hormuz—urat nadi energi dunia—mulai lumpuh, menciptakan efek domino yang mengguncang ekonomi global dan menebar ketakutan di pasar internasional. Di sisi lain, China dan Rusia berdiri di bayang-bayang konflik. Mereka tidak bergerak secara frontal, namun sikap diam yang condong kepada Iran menjadi sinyal kuat bahwa peta kekuatan dunia sedang bergeser secara perlahan namun pasti. Di media sosial, beredar luas meme yang menggambarkan kondisi Donald Trump saat ini—terlihat kebingungan di tengah tekanan yang kian menghimpit, namun tetap berusaha tegar mencari dukungan dari sekutu yang justru menjauh. Di balik layar, tekanan politik dan militer semakin menyesakkan.

Read More

Musim Dingin di Palestina: Satu Keluarga Bertahan Hidup di Atas Banjir & Reruntuhan Khan Younis

Satu keluarga berjuang bertahan hidup di atas banjir dan reruntuhan Khan Younis di tengah badai musim dingin, banjir parah, dan krisis kemanusiaan yang memburuk di Gaza. Khan Younis, Palestina – 1miliarsantri.net: Musim dingin di Jalur Gaza tahun ini memperburuk penderitaan warga Palestina yang sudah puluhan bulan hidup dalam perang, pengungsian, dan kehancuran infrastruktur. Di Khan Younis, sebuah keluarga berjuang mempertahankan hidup di atas banjir dan reruntuhan rumah mereka, tempat perlindungan terakhir di tengah kondisi cuaca ekstrem dan keterbatasan bantuan. Cuaca Ekstrem dan Banjir Musim Dingin di Gaza Musim dingin membawa hujan deras dan angin kencang ke wilayah yang telah hancur akibat perang. Badai musim dingin yang baru-baru ini melanda membawa curah hujan tinggi, mengubah kamp-kamp pengungsian menjadi kolam lumpur dan banjir, serta memaksa keluarga yang sudah rentan berjuang untuk bertahan di tengah air yang terus meningkat. Keluarga tersebut terpaksa bertahan hidup di atas banjir, menggunakan reruntuhan bangunan sebagai alas yang sedikit lebih tinggi, karena tenda tipis yang mereka miliki tidak lagi mampu melindungi dari air dan angin musim dingin. Dalam beberapa kasus, hujan telah merobek atau meruntuhkan struktur tenda, meninggalkan banyak orang tanpa tempat berlindung yang layak sama sekali. Reruntuhan Sebagai Tempat Berteduh Seiring waktu, banyak warga Palestina yang rumahnya hancur akibat serangan dilaporkan memutuskan tinggal di reruntuhan tersebut karena tak ada pilihan lain. Di Khan Younis dan sekitar al-Mawasi, keluarga-keluarga berkumpul di atas puing puing beton dan batu, mencoba membuat lantai yang lebih tinggi untuk menghindari genangan. Namun, reruntuhan pun tak selalu aman. Banyak struktur bangunan yang rapuh retak dan runtuh lebih lanjut di bawah tekanan hujan deras dan angin. Langkah-langkah darurat untuk melindungi diri — seperti menutup celah dengan plastik atau kain tebal — hanya memberikan perlindungan sementara terhadap dinginnya musim dan derasnya air hujan. Dampak Banjir dan Risiko Kesehatan Banjir dan tenda yang basah membuat kondisi hidup semakin tidak manusiawi. Banyak keluarga kehilangan harta benda terakhir mereka, termasuk pakaian, selimut, makanan, dan barang-barang penting lainnya. Dalam banyak kasus, anggota keluarga — terutama anak-anak dan orang tua — menunjukkan tanda-tanda sakit akibat paparan dingin dan lembap yang terus menerus.

Read More

Kisah Inspiratif dari Tenda Pengungsi Gaza ‘Empat Bersaudari Sukses Menghafal Al-Quran’ di Tengah Perang dan Kelaparan

Gaza – 1miliarsantri.net: Di tengah kecamuk perang yang tak henti-hentinya melanda Jalur Gaza, sebuah kisah inspiratif muncul dari tenda-tenda pengungsian yang panas dan sesak, membuktikan bahwa cahaya Al-Quran dapat bersinar bahkan dalam kegelapan yang paling pekat. Empat bersaudari dari keluarga Al-Masri, yang kini menjadi penghafal Al-Quran, telah mengukir prestasi luar biasa, dengan tiga di antaranya berhasil menghafal seluruh Al-Quran Di tengah deru konflik yang tak henti, ketiganya berhasil menuntaskan hafalan Al-Qur’an, di bawah bimbingan saudari tertua mereka. Tim Al Jazeera Mubasher, yang melaporkan langsung dari salah satu tenda pengungsian keluarga Al-Masri, bertemu dengan keempat bersaudari ini. Mereka adalah Alma (17 tahun), Hala (20 tahun), Sama (15 tahun), dan Nada (22 tahun), sang pembimbing. Nada sendiri telah menyelesaikan hafalan Al-Qurannya pada September 2023. Perjalanan Menuju Hafalan di Tengah Cobaan Perjalanan menghafal Al-Quran ini jauh dari mudah. Alma mengungkapkan bahwa prosesnya sangat sulit dan penuh banyak kesulitan, termasuk pengalaman pengungsian, kelaparan, dan pengusiran. Namun, dengan ketekunan, ia berhasil menjadi hafizah dan merasakan perasaan indah yang tak terlukiskan. Hala mengidentifikasi panas yang sangat menyengat, tempat yang sempit, kurangnya ketenangan, dan suara bom yang dekat sebagai rintangan terberat yang mereka hadapi. Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa mereka mengatasi kesulitan ini dengan tekad dan kesabaran. Motivasi mereka tak hanya datang dari keinginan pribadi, melainkan juga dari harapan untuk dapat memakaikan mahkota kepada orang tua mereka di Hari Kiamat. Sama, yang termuda di antara, menggambarkan perjalanannya sebagai sulit tapi manis. Ia juga menyoroti kondisi yang memburuk: pengungsian, pengusiran, kehilangan orang-orang terkasih, kelaparan, dan ketiadaan tempat yang layak untuk menghafal akibat pendudukan Israel yang menghancurkan semua masjid. Namun, ia menyatakan, “dengan tekad dan kegigihan kami, kami berhasil mewujudkan impian kami”. Nada, Sang Pembimbing dan Pelopor Cahaya Nada, sang pembimbing, memegang peran sentral dalam keberhasilan saudari-saudarinya. Nada sangat berterima kasih kepada ayahnya, Kamel Al-Masri, yang menjadi alasan utama di balik perjalanannya dan mendukungnya secara finansial serta moral. Nada adalah benih pertama yang, setelah menghafal Al-Quran, bertekad untuk membimbing saudari-saudarinya. Perjalanan hafalan bersama ini dimulai pada Januari 2024, di tengah masa pengungsian mereka ke Rafah. Nada menyusun jadwal yang ketat untuk hafalan dan muroja’ah. Seluruh tenda pengungsian mereka pun berubah menjadi halaqah tahfiz. Nada juga menegaskan bahwa penghancuran masjid, pusat pendidikan, dan impian mereka tidak menghalangi mereka untuk menghafal Al-Quran. Menyebarkan Cahaya Al-Quran di Tengah Krisis

Read More

Pertahanan Nasional Penting Di Tengah Ancaman Global, Ini Pesan Presiden Prabowo

Bandung – 1miliarsantri.net: Amanat Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto “Pertahanan Nasional Penting Di Tengah Ancaman Global”, hal tersebut ditegaskan Presiden dalam Upacara Gelar Pasukan Operasional dan Kehormatan Militer di Komplek Pusat Pendidikan dan Pelatihan Komando Pasukan Khusus (Pusdiklat Kopassus), Batujajar, Jawa Barat, Ahad (Minggu-red) 10/08/2025. Pertahanan Indonesia Berbasis Pertahanan Rakyat Semesta Tekad bangsa Indonesia untuk mempertahankan setiap jengkal tanah air dari ancaman global ditegaskan Presiden dalam amanatnya, Presiden Prabowo juga menekankan bahwa sistem pertahanan Indonesia berbasis pertahanan rakyat semesta, di mana seluruh rakyat siap terlibat membela negara. Mengutip presidenri.go.id, Presiden Prabowo juga menekankan bahwa sistem pertahanan Indonesia berbasis pertahanan rakyat semesta, di mana seluruh rakyat siap terlibat membela negara. “Kalau kita mempertahankan bangsa kita, kita pertahankan tiap kampung, tiap dukuh, tiap lembah, tiap bukit, tiap gunung, tiap kecamatan, tiap kabupaten, tiap provinsi, tiap jengkal tanah kita pertahankan. Dari pada dijajah kembali, lebih baik kita mati,” tegasnya. Baca juga: Presiden Prabowo Naik Woosh Usai Hadiri Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia Tahun 2025 Indonesia menurut Presiden adalah bangsa yang cinta damai, namun Indonesia  tidak akan ragu memperkuat pertahanan demi menjaga kedaulatan. Presiden Prabowo mengatakan, “Bangsa Indonesia tidak suka perang. Bangsa Indonesia ingin damai, tapi bangsa Indonesia telah mengalami pengalaman pahit. Setiap kali kita mau bangkit, kita diganggu. Setiap kali kita mau menyejahterakan rakyat kita, kita diganggu.” Baca juga: Prabowo Negosiasi Tarif Impor Dengan Trump: Demi Rakyat, Bukan Segelintir Elit! Kondisi Global Pelajaran Penting Bagi Indonesia Perang yang masih terjadi di bebagai belahan dunia menjadi sorotan, menurut Presiden hal tersebut dapat dijadikan pelajaran penting bagi Indonesia.

Read More

Gadis Kecil Gaza: ‘Kembalikan Ibuku Dari Surga’

Gaza – 1miliarsantri.net: Tangis sosok gadis kecil Gaza “Kembalikan Ibuku Dari Surga”, seolah mewakili jutaan kesedihan kolektif anak-anak Gaza yang nyaris tiap hari kehilangan orang tua, kehilangan sosok Ibu yang menyayanginya. Nariman Abdullah Al-Eisa yang berusia empat tahun, sosok gadis kecil di Gaza-Palestina, satu diantara ribuan anak dalam cerita yang menyayat hati. Hidupnya telah hancur akibat sebuah serangan udara zionis israel. Momen dimana dia kehilangan ibunya, kehilangan kaki kanan dan mata kanannya. Malam itu 26 Juni, Nariman bercengkrama bersama sang Ibu di rumah mereka, di dekat Al-Samer Junction, saat rudal zionis menghantam rumahnya. Ibundanya syahid (terbunuh) seketika dan Anas saudara laki-lakinya ikut terluka tertimpa puing-puing bangunan yang hancur. Baca juga: Arab Saudi Mengutuk Keras Eskalasi Militer Israel Di ‘Gaza’ Palestina Nariman, Gadis Kecil Gaza “Kehilangan Segala-galanya” Mengutip SAFA Press Agency, sang ayah, Abdullah Al-Eisa mengisahkan ketika nenek Nariman mencoba menenangkan dan menjelaskan kepada sang cucu. “Ibumu pergi bersama Tuhan, dia di surga”, namun Nariman tidak mengerti mengapa pelukan hangat ibundanya tidak ada lagi. Abdullah berupaya memulihkan kondisi fisik Nariman, bekerja sama dengan pihak Palang Merah (Red Cross) dan Médecins Sans Frontières untuk mendapatkan penanganan dan tindakan medis mendesak di luar negeri. Dia berharap Nariman dapat menerima prostetik, perawatan psikologis dan mungkin merebut kembali fragmen masa kecil yang telah dicuri perang. Baca juga: Negara-negara Eropa Mulai Mengakui Kemerdekaan Palestina

Read More