Forum Persaudaraan Umat Islam Ende: ‘Selamat Hari Lahir Pancasila’ 1 Juni

Forum Persaudaraan Umat Islam Ende (FPUI) mengucapkan “Selamat Hari Lahir Pancasila” 1 Juni Dari bumi Ende, tanah perenungan sejarah bangsa, Forum Persaudaraan Umat Islam Ende (FPUI) mengajak seluruh elemen masyarakat untuk meneguhkan kembali semangat persatuan, gotong royong, toleransi, dan cinta tanah air dalam bingkai Pancasila sebagai dasar negara dan pemersatu bangsa. Ende bukan sekadar nama dalam sejarah Indonesia. Di kota inilah, dalam masa pengasingan tahun 1934–1938, Bung Karno merenungkan nilai-nilai luhur kebangsaan yang kelak menjadi fondasi berdirinya Indonesia. Di bawah rindangnya Pohon Sukun Ende, beliau menggali gagasan besar tentang kebangsaan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial—yang kemudian lahir sebagai Pancasila, jiwa bangsa Indonesia. Momentum Hari Lahir Pancasila menjadi pengingat bahwa keberagaman bukan alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk bersatu. Sebagai anak bangsa, mari kita rawat persaudaraan, menjaga harmoni antarumat beragama, dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari demi Indonesia yang damai, adil, dan bermartabat.

Read More

Ahli Waris ‘Sahabat Bung Karno’ Minta Pemda Ende Buka Pintu Sejarah Dengan Jujur

Ende – 1miliarsantri.net: Bung Karno, Islam, Orang Ende sahabat si Bung (termasuk 47 pemain Tonil) dan Pancasila adalah satu kesatuan rangkaian sejarah yang tidak terpisahkan dan tak akan lekang dimakan waktu, saat Bangsa Indonesia memperingati “Hari Lahir Pancasila, 1 Juni tiap tahun. Sejarah Dicatat Dengan Jujur Pada 14 Januari 1934, seorang tokoh pergerakan nasional bernama Ir. Soekarno tiba di Ende sebagai tahanan politik, yang diasingkan oleh Pemerintah kolonial Belanda. Bung Karno dibuang ke Ende karena ketakutan Belanda terhadap gagasan kebangsaan dan kemerdekaan yang dibawanya. Selama empat tahun lebih, hingga 18 Oktober 1938, Bung Karno tinggal di lingkungan yang jauh dari pusat pergerakan politik, di sebuah kota kecil di Pulau Flores, yang tenang namun menyimpan denyut kebangkitan bangsa. Berkaitan dengan sejarah tersebut, tidaklah berlebihan harapan yang diungkapkan oleh Lukman Pua Rangga yang biasa disapa Pak Guru Luken. Dia mengatakan, “Kami tidak menuntut penghargaan berlebihan. Kami hanya ingin sejarah dicatat dengan jujur, bahwa Bung Karno tidak sendiri di Ende. Perjuangan ini adalah perjuangan bersama antara pemimpin dan rakyat.” Harapan tersebut disampaikan Lukman dalam sambutannya pada Malam Renungan Hari Lahir Pancasila di hadapan Bupati dan Wakil Bupati Ende, Muspika Kabupaten Ende serta disaksikan oleh segenap masyarakat Ende yang turut serta menghadiri acara tersebut, Ahad/Minggu (1/6/2025). Ide-Ide Kebangsaan Melalui Seni Pertunjukan Lukman menjelaskan, “Bahwa perjuangan ini adalah perjuangan bersama, antara pemimpin dan rakyat. Bahwa sejarah lahir bukan hanya dari pena dan pidato, tetapi juga dari tangan-tangan penuh lumpur yang menyiapkan panggung untuk sandiwara, yang menghafal naskah dengan terbata-bata, yang berjuang dengan cinta, bukan kata-kata.” Bung Karno hidup di antara masyarakat pesisir yang sebagian besar tidak mengenyam pendidikan formal. Dari sanalah, Iahir sebuah bentuk perjuangan yang luar biasa, tidak melalui senjata atau pidato politik, tapi melalui seni dan budaya. Tonil Kelimutu, dan Naskah Perlawanan Soekarno Melalui Panggung Teater Bung Karno membentuk sebuah kelompok Sandiwara bernama “Sandiwara Kelimutu.” Melalui kelompok inilah beliau menyisipkan pesan-pesan kebangsaan, semangat perlawanan, dan cinta tanah air.

Read More