Rumah Tahfidz Opung mengucapkan ‘Selamat Idul Adha 1447H’

“Semoga Cahaya Keikhlasan dan Ketaatan Menyertai Langkah Kita” Idul Adha mengajarkan kita makna pengorbanan, keikhlasan, dan ketaatan tanpa batas kepada Allah SWT. Sebagaimana teladan Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salaam yang dengan penuh keimanan menaati perintah Allah, serta Nabi Ismail ‘Alaihis Salaam yang menunjukkan ketundukan dan kesabaran luar biasa. Mari jadikan momentum Idul Adha 1447 H sebagai penguat semangat berbagi, memperbanyak kepedulian, dan menumbuhkan jiwa berkurban demi kemaslahatan sesama. Semoga setiap pengorbanan yang dilakukan dengan tulus menjadi jalan hadirnya keberkahan, keteguhan iman, serta limpahan rahmat Allah SWT bagi kita semua. Taqabbalallahu minna wa minkum, Barakallahu Fikum, Makna Qurban: Meneladani Ketaatan Nabi Ibrahim AS di Hari Idul Adha Idul Adha bukan sekadar perayaan tahunan umat Islam, tetapi momentum untuk meneladani nilai keikhlasan, pengorbanan, dan ketaatan kepada Allah SWT, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salaam dan putranya, Nabi Ismail ‘Alaihis Salaam. Perintah berqurban memiliki dasar kuat dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman: فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ“Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah).”(QS. Al-Qur’an Al-Kautsar: 2) Kisah agung qurban bermula dari ujian berat yang diberikan Allah kepada Nabi Ibrahim AS. Dalam mimpinya, beliau diperintahkan untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS. Dengan penuh keteguhan iman, Nabi Ibrahim menyampaikan perintah tersebut kepada anaknya, dan Nabi Ismail menjawab dengan penuh kepatuhan:

Read More

Serba-Serbi ‘Qurban’ Yang Perlu Kamu Ketahui

Surabaya – 1miliarsantri.net: Umat Islam disegenap penjuru bumi bergembira menyongsong Hari Raya Qurban atau Iedul Adha, hari raya yang di dalamnya ada ritual ibadah yang sangat mulia yaitu berqurban, menyembelih hewan qurban terbaik sebagai bentuk ketaatan kepada Allah, sebagaimana telah dicontohkan dan dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Pengertian Qurban Qurban menurut etimologi diambil dari bahasa Arab قربا-يقرب -قرب   yang artinya “dekat”, sedangkan secara syara’ adalah “Mendekatkan diri kepada Allah dengan mengerjakan sebagian perintah-Nya.” Bisa juga dikatakan أضحية  “hewan sembelihan”, sedangkan secara syara’ adalah “Hewan yang dikurbankan pada hari tertentu ( 10-13 Dzulhijjah ) dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah. Maka kita biasa menyebutnya dengan ‘Iedhul Qurban/’Iedhul Adha. Kapan awal disyariatkannya qurban? Sebenarnya qurban sudah disyariatkan mulai zaman Nabi Adam ‘alaihissalam, yaitu ketika Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan Qobil dan Habil untuk mengkorbankan hartanya. Maka Qobil yang seorang petani dia memberikan hasil panennya yang biasa-biasa saja, sedangkan Habil yang seorang peternak dia memberikan domba ternak terbaik yang dimilikinya. Setelah mereka berkumpul untuk memberikan qurbannya, Allah menerima dan mengangkat qurban yang diberikan oleh Habil ke langit, yang nanti domba ini akan diberikan kepada Nabi Ibrahim ‘alahissalam sebagai ganti putranya ( Nabi Ismail ‘alahisalam ) untuk diqurbankan. Akan tetapi syari’at qurban dengan menyembelih hewan ternak pertama kali ini dilakukan oleh Nabi Ibrahim ‘alahissalam atas perintah Allah Subhanahu wata’ala, sebagaimana yang dikisahkan dalam Qs. as-Saffat ayat 102-107. Dan qurban pertama kali disyariatkan kepada ummat Baginda Nabi Muhammad Shalallahu ‘alahi wasalam pada tahun 2 Hijriyah, bersama dengan sholat ‘Ied dan zakat maal. Hukum berqurban Allah Subhanahu wata’ala berfirman; فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ “Maka, laksanakanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah!” Baginda Nabi Muhammad Shalallahu ‘alahi wasalam juga bersabda ; عَنْ َأبِي هُرَيْرَة: َأنَّ رَسُوْل اللهِ صلى الله عليه وسلم قال : مَنْ كَانَ لهُ سَعَة وَلمْ يَضَحْ فَلا يَقْربَنَّ مُصَلَّانَا (رواه احمد وابن ماجه)

Read More