Edukasi & Penguatan Keluarga Disabilitas Mental: Poltekesos Bandung Hadirkan Ruang Belajar dan Dukungan di Desa Karangmuncang

Kegiatan edukasi dan penguatan keluarga penyandang disabilitas mental digelar Poltekesos Bandung di Desa Karangmuncang untuk memperkuat kapasitas dan dukungan keluarga. Kuningan – 1miliarsantri.net: Mahasiswa Program Studi Rehabilitasi Sosial Politeknik Kesejahteraan Sosial (Poltekesos) Bandung menyelenggarakan kegiatan Edukasi dan Penguatan Keluarga Disabilitas Mental bertema “Menguatkan Keluarga, Menenangkan Jiwa” pada Rabu, 3 Desember 2025, bertempat di GOR Balai Desa Karangmuncang, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Kegiatan ini diikuti oleh enam keluarga/wali penyandang disabilitas mental serta seorang penyintas disabilitas mental yang kini telah bekerja di sebuah pabrik roti. Acara tersebut menjadi wadah bagi keluarga untuk belajar bersama, saling berbagi pengalaman, dan memperoleh penguatan dari para narasumber. Dalam sambutannya, Ketua Pelaksana Jihan Luthfiyah Ariani menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang untuk memberikan ruang edukasi sekaligus dukungan bagi keluarga penyandang disabilitas mental. “Kami merancang kegiatan ini sebagai ruang belajar bersama untuk memperkuat kapasitas keluarga dalam memberikan pendampingan, dukungan emosional, serta penanganan dasar bagi anggota keluarga dengan disabilitas mental,” ujarnya. Ia menambahkan, “Semoga kegiatan ini tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga menghadirkan ketenangan, kekuatan, dan rasa saling mendukung antar sesama keluarga.” Acara kemudian dibuka secara resmi oleh Kepala Desa Karangmuncang, Dede Masdeni, yang menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan kegiatan ini. “Kami sangat menyambut baik kegiatan ini. Keluarga penyandang disabilitas mental perlu mendapatkan perhatian khusus, dan kegiatan seperti ini membantu mereka merasa lebih diperhatikan dan tidak sendirian,” ungkapnya. Ia menegaskan, “Pemerintah Desa Karangmuncang akan selalu mendukung upaya yang membawa manfaat bagi masyarakat, termasuk kegiatan pemberdayaan keluarga seperti ini.” Kepala Seksi Kesejahteraan (Kasi Kesra) Desa Karangmuncang, Mahpud, turut menekankan pentingnya kegiatan tersebut bagi masyarakat desa. “Kegiatan ini bukan hanya memberikan edukasi, tetapi juga membuka ruang bagi keluarga untuk saling menguatkan dan memahami kondisi yang mereka hadapi,” ujarnya. Ia berharap agar kegiatan serupa dapat terus berlanjut, mengingat dampak positifnya sangat dirasakan oleh masyarakat. Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber utama. Lukman Mulyadi, Ketua LKS Rumah Antara Graha Berdaya, menekankan pentingnya peran keluarga dalam proses pemulihan. “Keluarga adalah garda terdepan. Ketika keluarga kuat, proses pemulihan akan jauh lebih stabil,” tuturnya. Narasumber kedua, Ence Hadiat Rohanda, A.Ks., M.Si., selaku Kepala Pemberdayaan Sosial dan Penanganan Fakir Miskin Dinas Sosial Kabupaten Kuningan, memberikan penjelasan mengenai berbagai layanan sosial yang dapat diakses oleh keluarga. “Ada banyak dukungan dan program pemerintah yang bisa dimanfaatkan. Yang penting keluarga mengetahui jalurnya dan tidak segan untuk mengaksesnya,” jelasnya. Setelah sesi pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan sharing session dan diskusi terbuka. Para keluarga tampak antusias berbagi pengalaman tentang dinamika merawat anggota keluarga dengan disabilitas mental. Salah satu wali peserta menyampaikan rasa lega dan syukurnya. “Biasanya kami bingung sendiri. Di sini kami jadi tahu cara menghadapi, dan ternyata banyak keluarga lain yang mengalami hal yang sama,” ujarnya. Sebagai bentuk dukungan tambahan, panitia turut menyerahkan bantuan sosial kepada para keluarga peserta. Acara ini juga dihadiri perangkat desa, Tenaga Kesejahteraan Sosial yang menangani isu disabilitas, serta mahasiswa KKN Poltekesos Bandung Kelompok 4. Mahasiswa berharap kegiatan ini dapat menghadirkan kekuatan baru bagi keluarga serta menumbuhkan rasa kebersamaan antar peserta—selaras dengan tema kegiatan, “Menguatkan Keluarga, Menenangkan Jiwa.” Penulis : Erhan Herdiyanto dan Thamrin Humris Editor : Thamrin Humris Foto istimewa

Read More

Kumpulan Kejadian KKN Mahasiswa 2025, dari Pengalaman Buruk Hingga Pembelajaran Berkesan

Bekasi – 1miliarsantri.net : Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan program yang bertujuan untuk memberikan wadah bagi mahasiswa dalam mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang didapatkan selama proses pembelajaran di perguruan tinggi. Selama kurang lebih dua bulan, para mahasiswa tinggal di desa-desa dan daerah terpencil, menjalankan program pengabdian kepada masyarakat. Namun, di balik kegiatan ini, banyak cerita unik, mulai dari pengalaman buruk, pembelajaran yang berkesan, hingga momen yang sangat membekas di hati para peserta. Tidak  hanya itu, KKN juga diharapkan dapat memberikan berbagai manfaat bagi mahasiswa dalam hal mengembangkan soft skills, mematangkan kepribadian dalam rangka menumbuhkan jiwa kebangsaan atau cinta tanah air serta memberikan rasa percaya diri sebagai bekal menghadapi realitas kehidupan sosial kemasyarakatan. Dikutip dari situs kemdiktisaintek.go.id, Perguruan tinggi menjadikan Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebagai kegiatan kurikuler yang memadukan Tri Dharma Perguruan Tinggi, pendidikan, penelitian serta pengabdian kepada masyarakat sekaligus dalam satu rangkaian kegiatan. Berdasarkan hal tersebut maka jelas bahwa rangkaian program KKN ini diselenggarakan secara terencana, terstruktur, bertahap serta dirancang dan dipersiapkan secara matang, dengan tujuan untuk menghasilkan berbagai perubahan positif yang berkelanjutan, dalam rangka menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat melalui mahasiswa dan masyarakat itu sendiri. Penyelenggaraan KKN ini juga diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang memiliki empati dan kepedulian terhadap permasalahan di masyarakat serta memiliki skill kepemimpinan yang unggul. Maka untuk mendukung hal tersebut, sudah banyak perguruan tinggi di Indonesia menjadikan program KKN sebagai mata kuliah wajib, sehingga mahasiswa diwajibkan untuk mengikuti program KKN sebelum menyelesaikan masa studinya di perkuliahan. Namun pada pelaksanaannya, tidak jarang muncul permasalahan baik dari masyarakat maupun mahasiswa yang sedang melaksanakan KKN. Pada tahun 2025, diketahui telah terjadi beberapa kejadian pada pelaksanaan KKN di beberapa perguruan tinggi , diantaranya sebagai berikut: Kejadian KKN UGM di Maluku Tenggara Dikutip dari situs ugm.ac.id, kejadian KKN yang melibatkan mahasiswa UGM di Maluku Tenggara itu terjadi pada Selasa, 1 Juli 2025 di perairan Debut, Maluku Utara pada pukul 15.28 WIT. Insiden kecelakaan ini terjadi pada saat tujuh mahasiswa KKN-PPM UGM yang sedang melakukan salah satu program KKN yaitu pengambilan pasir di Pulau Wahru dalam rangka program Revitalisasi Terumbu Karang dengan Metode Artificial Patch Reef (APR). Keberangkatan mahasiswa dengan menggunakan dua speedboat pada pukul 11.00 WIT ini mengalami kendala akibat gelombang pasang dan angin kencang sehingga menyebabkan salah satu speedboat terbalik. Akibatnya, dua mahasiswa meninggal dunia, sementara lima mahasiswa dikabarkan selamat. Dua mahasiswa UGM yang menjadi korban dalam insiden kecelakaan ini, Septian Eka Rahmadi salah satu mahasiswa Program Studi Teknologi Informasi UGM dan Bagus Adi Prayogo, mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM. Untuk diketahui, pelaksanaan KKN UGM ini rencananya berlangsung pada tanggal 20 Juni hingga 8 Agustus 2025. Akibat insiden ini Wakil Rektor UGM, Arie Sujito dalam wawancara bersama Kompas TV menyatakan akan melakukan evaluasi dan pembenahan: ’’Peristiwa ini, kita akan evaluasi dari sisi kenapa ini bisa terjadi, bagaimana pembenahan kedepan yang terbaik dan kami terbuka atas input, terbuka atas catatan karena bagaimanapun kita mencintai prinsip kemanusiaan itu, dan tentu kita akan terus membenahi beberapa aspek safety itu. Selama ini sudah kita lakukan tapi peristiwa ini tentu harus menjadi catatan tambahan ulang untuk bisa membenahi mereka lebih baik, saya kira itu,’’ujar Arie Sujito. Kejadian KKN di Lumajang Pelaksanaan KKN di Lumajang menimbulkan polemik di kalangan mahasiswa yang sedang melaksanakan KKN. Bagaimana tidak? Sebanyak empat sepeda motor mahasiswa dinyatakan hilang akibat digondol pecuri di beberapa Lokasi di Lumajang. Dari empat unit sepeda motor yang hilang tersebut, diketahui tiga diantaranya milik mahasiswa Universitas Jember dan satu milik mahasiswa dari Universitas Islam Negeri KH. Achmad Shidiq (UIN KHAS) Jember. Para mahasiswa yang awalnya tersebar di 102 desa di Kabupaten Lumajang pada akhirnya ditarik lebih cepat akibat kasus pencurian motor ini. Dilansir dari detik Jatim, Koordinator Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Universitas Lumayang, Eko Romadhon menyatakan bahwa setelah diadakan rapat besar dengan penanggung jawab (PIC) dari delapan kampus, pada akhirnya diambil Keputusan untuk menarik mahasiswa lebih cepat dari waktu yang ditentukan sebelumnya. ‘’Mulai hari Sabtu, seluruh mahasiswa dari 8 perguruan tinggi Jember dan Lumayang menarik 1.328 mahasiswa KKN untuk Kembali ke kampus masing-masing dan untuk selanjutnya masih kita pikirkan lagi apakah akan ditempatkan di Lumajang atau tempat yang lain’’Ujar Eko. Tidak hanya itu, buntut dari kasus ini memunculkan aksi dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) se-Kabupaten Lumajang, Jawa Timur yang mendesak Kapolres Lumajang AKBP Alex Sandy Siregar untuk mundur dari jabatannya. Tuntutan ini dilatarbelakangi oleh kasus pencurian empat sepeda motor milik mahasiswa yang terjadi dalam rentang waktu tiga hari di tiga Lokasi yang berbeda, yaitu Kantor Desa Alun-alun, Kecamatan Ranuyoso dan rumah Kepada Desa Tempet Tengah, Kecamatan Tempeh. Dilansir dari Kompas.com, Ketua Umum HMI Komisariat Lumajang menyatakan bahwa Kapolres Lumajang dinilai telah gagal memberikan rasa aman bagi masyarakat dan peserta KKN di wilayah tersebut.** Penulis: Gita Rianti D Pratiwi Editor : Ainun Maghfiroh dan Thamrin Humris Sumber: Berbagai Sumber Foto Istimewa : tangkapan layar youtube

Read More