Sejarah Panjang Perlawanan Pajak di Pati dari Demak hingga Era Modern, Buntut Kenaikan Pajak 250% Oleh Bupati Sudewo

Pati – 1miliarsantri.net: Pati mengalami gonjang-ganjing akibat kebijakan pajak yang dirasa sangat memberatkan masyarakatnya. Kebijakan Bupati menaikan pajak secara drastis, PBB naik 250%, masyarakat sangat terbebani. Potret perlawanan pajak di Pati kembali menggema. Protes warga Pati yang viral di media sosial mendapatkan tanggapan serius dari Presiden Prabowo melalui Sekjen Partai Gerindra. Fenomena perlawanan pajak di Pati tahun 2025 memang terasa seperti dejavu sejarah yang berulang. Perlawanan pajak dari Demak hingga era modern terus berulang. Di balik demonstrasi besar-besaran yang mengguncang pemerintahan Bupati Sudewo, tersimpan jejak panjang perlawanan sipil yang telah mengakar sejak era kolonial. Berikut rangkuman sejarah dan konteksnya, sebuah tulisan yang diangkat oleh R Temmy Setiawan seorang facebookers asal Jogjakarta. ERA KERAJAAN​Berawal dari Pajak Hasil Bumi ​Sejarah perlawanan pajak di Pati dimulai pada era Kerajaan Demak sekitar tahun 1500-an. Di bawah kepemimpinan Tombronegoro, masyarakat Pati memprotes keras kenaikan pajak hasil bumi sebesar 30% yang memberatkan. Perlawanan ini berlanjut pada tahun 1540-an ketika Ki Penjawi memimpin perlawanan terhadap kenaikan kuota setoran pajak sebesar 20%, yang pada akhirnya membuat Pati mengalihkan kesetiaan mereka ke Kerajaan Pajang. ​Pada masa Kerajaan Mataram, perlawanan kembali memuncak. Upeti beras naik hingga 40% pada 1620-an di era Adipati Pragola I, yang membuat Pati menolak kewajiban setor beras secara besar-besaran. Puncaknya adalah pemberontakan besar di bawah Adipati Pragola II pada 1627-1628, di mana kenaikan pajak sebesar 50% menjadi alasan utama penolakan membayar upeti kepada Sultan Agung. Perlawanan ini berlanjut hingga era Pragola III pada 1670-an, di mana kenaikan pajak sebesar 35% oleh Amangkurat I kembali memicu perlawanan. ERA KOLONIAL ​Melawan Penindasan Penjajah ​Memasuki masa kolonial, semangat perlawanan masyarakat Pati tidak surut. Pada tahun 1740, perlawanan terhadap kenaikan bea perdagangan VOC sebesar 25% terjadi, dipimpin oleh pengikut Sunan Kuning. Perlawanan ini mencapai puncaknya pada Geger Pecinan (1741-1743) di mana rakyat Pati, di bawah pengaruh pengikut Untung Surapati, ikut menyerbu pos VOC yang memungut pajak pelabuhan hingga 40%. ​Pajak yang memberatkan juga berlanjut di era Daendels dan Raffles (1811-1816), di mana kenaikan sewa tanah tahunan sebesar 30% memicu perlawanan lokal yang dipimpin oleh Ki Kromo Pati. Penderitaan rakyat semakin parah dengan diberlakukannya Cultuurstelsel (Tanam Paksa) pada tahun 1830. Beban tanam paksa setara dengan 66% hasil panen, yang membuat petani Pati melakukan mogok tanam sebagai bentuk protes. Perlawanan ini melahirkan tokoh legendaris seperti Samin Surosentiko pada 1880-an yang menolak pajak kolonial atas tanah dan hasil bumi yang naik 25%.

Read More

Jejak Islam di Kerajaan Demak dan Mataram : Awal Peradaban Islam di Nusantara

Surabaya – 1miliarsantri.net : Membahas tentang awal peradaban Islam di Nusantara, rasanya seperti membuka halaman awal dari sebuah kisah besar yang membentuk jati diri bangsa ini. Kita semua tahu, Indonesia bukan hanya kaya budaya dan suku, tapi juga punya sejarah panjang dalam perkembangan agama, khususnya agama Islam. Proses masuknya Islam ke tanah air bukan suatu yang instan. Ia tumbuh perlahan menyesuaikan diri dengan budaya lokal, dan pada akhirnya melahirkan kerajaan-kerajaan Islam yang berjaya di masa lampau, seperti Demak dan Mataram. Jika kamu pernah bertanya bagaimana Islam bisa begitu mengakar di Indonesia, terutama di Jawa? maka menelusuri jejak awal peradaban Islam di Nusantara lewat Kerajaan Demak dan Mataram adalah langkah yang menarik. Yuk, kita ulas bersama-sama! Awal Peradaban Islam di Nusantara antara Demak dan Mataram Islam masuk ke Nusantara lewat berbagai jalur : perdagangan, dakwah, perkawinan, hingga kesenian. Namun, perubahan besar mulai terasa ketika kerajaan-kerajaan bercorak Islam mulai berdiri dan memegang kekuasaan. Dua di antaranya yang punya pengaruh besar dalam awal peradaban Islam di Nusantara adalah Kerajaan Demak dan Mataram Islam. Kerajaan Demak sering disebut sebagai kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. Berdiri sekitar abad ke-15, Demak muncul setelah melemahnya Kerajaan Majapahit. Salah satu tokoh yang berperan penting di balik kejayaan Demak adalah Raden Patah. Ia dipercaya sebagai pendiri sekaligus raja pertama di kerajaan Demak. Kerajaan Demak begitu istimewa dalam sejarah awal peradaban Islam di Nusantara karena statusnya sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa, Demak juga aktif menyebarkan ajaran Islam lewat jalur politik dan militer. Salah satu misinya adalah menyerang kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha yang masih bertahan, seperti di Blambangan (Banyuwangi) dan Majapahit. Tak hanya lewat kekuatan senjata, Demak juga dikenal karena perannya dalam pembangunan spiritual dan budaya. Masjid Agung Demak adalah bukti nyata peran besar kerajaan ini dalam menyebarkan Islam. Masjid tersebut konon didirikan oleh para Wali Songo, yang mempunyai peran vital dalam dakwah Islam saat itu.

Read More