Stop Stigma! Hari Santri 2025 Jadi Momentum Bangkitnya Citra Positif Pesantren

Bondowoso – 1miliarsantri.net : Peringatan Hari Santri 2025 diharapkan menjadi momentum penting untuk menghentikan berbagai stigma negatif terhadap pesantren dan santri. Selama ini, masih ada sebagian kalangan yang memandang pesantren secara keliru, dianggap tertutup, ketinggalan zaman, atau bahkan dikaitkan dengan isu-isu radikalisme. Padahal, faktanya pesantren merupakan benteng moral, pusat pendidikan karakter, serta penjaga nilai-nilai kebangsaan yang berperan besar dalam membangun peradaban Indonesia. Pesantren dan Santri: Pilar Pendidikan dan Kebangsaan Sejak awal berdirinya, pesantren bukan hanya lembaga pendidikan agama, tetapi juga pusat pembentukan karakter dan nasionalisme. Para ulama dan santri telah berkontribusi besar dalam perjuangan kemerdekaan, menjaga keutuhan bangsa, serta memajukan masyarakat lewat dakwah, pendidikan, dan ekonomi kerakyatan. Dalam konteks modern, pesantren telah berkembang menjadi lembaga pendidikan yang adaptif terhadap zaman. Banyak pesantren kini memiliki program teknologi digital, kewirausahaan, hingga pelatihan vokasional untuk membekali para santri dengan keterampilan abad ke-21. Hal ini membuktikan bahwa pesantren tidak tertinggal, tetapi justru terus berinovasi menjawab tantangan global. Menurut laporan dari Gagasan Kalbar, Hari Santri Nasional 2025 mengusung semangat baru: “Stop Stigma, Saatnya Pesantren Bangkit dan Bersinar.” Tema ini menegaskan pentingnya membangun citra positif pesantren di tengah masyarakat serta menepis segala bentuk kesalahpahaman yang selama ini berkembang. Baca juga: Hari Santri 2025: Pesantren Didorong Berdaya di Sektor Wisata Religi Melawan Stigma, Membangun Citra Baru Isu miring yang kadang muncul terhadap pesantren sering kali berakar dari ketidaktahuan. Beberapa kasus yang dilakukan oleh oknum individu kerap digeneralisasi, seolah mencerminkan seluruh dunia pesantren. Padahal, mayoritas pesantren di Indonesia berkomitmen kuat terhadap nilai moderasi beragama, toleransi, dan cinta tanah air. Melalui Hari Santri 2025, Kementerian Agama dan berbagai organisasi keagamaan berkomitmen memperkuat narasi positif tentang pesantren. Media dan masyarakat diajak untuk menyoroti kontribusi nyata santri dalam pendidikan, sosial, dan pembangunan ekonomi. Kegiatan seperti Festival Santri Nusantara, Pameran Ekonomi Pesantren, serta Santri Digital Camp menjadi ajang untuk menampilkan wajah pesantren yang modern, kreatif, dan berdaya saing tinggi. Ini sekaligus membuktikan bahwa santri bukan hanya ahli dalam ilmu agama, tetapi juga mampu berkontribusi dalam bidang sains, teknologi, dan seni. Pesantren sebagai Ruang Inklusif dan Solutif Salah satu langkah penting dalam menghapus stigma adalah menunjukkan bahwa pesantren adalah ruang inklusif dan terbuka bagi semua kalangan. Di banyak pesantren, santri tidak hanya belajar kitab kuning, tetapi juga diajarkan nilai-nilai kewarganegaraan, dialog lintas iman, serta kepedulian sosial. Pesantren juga aktif dalam gerakan kemanusiaan, mulai dari tanggap bencana, pemberdayaan masyarakat, hingga ekonomi mikro berbasis syariah. Program-program seperti Pesantren Ramah Anak, Pesantren Hijau, dan Pesantren Digital adalah contoh nyata transformasi lembaga ini menuju arah yang lebih progresif dan solutif. Dengan pendekatan tersebut, pesantren semakin diakui sebagai pusat pendidikan yang menyeimbangkan antara spiritualitas, intelektualitas, dan produktivitas. Di era modern, citra santri bukan lagi sebatas orang yang tekun mengaji, tetapi juga pemimpin muda yang inovatif dan adaptif terhadap perubahan zaman. Hari Santri 2025: Momen Kebangkitan Citra Pesantren Momentum Hari Santri tahun 2025 menjadi panggilan moral bagi seluruh elemen bangsa untuk melihat pesantren secara lebih adil dan objektif. Pemerintah, masyarakat, dan media diharapkan berperan aktif dalam menyebarkan narasi positif tentang dunia pesantren. Pesantren perlu terus didukung agar menjadi pusat pembelajaran sepanjang hayat, tempat lahirnya generasi berakhlak mulia sekaligus berdaya guna dalam pembangunan bangsa. Semangat “Dari Pesantren untuk Indonesia dan Dunia” menjadi pengingat bahwa nilai-nilai luhur yang tumbuh di pesantren, kejujuran, kerja keras, kesederhanaan, dan keikhlasan yang merupakan fondasi penting dalam membangun peradaban. Hari Santri 2025 bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi ajakan reflektif untuk menghentikan stigma dan membangun optimisme baru. Saatnya pesantren berdiri tegak dengan citra positif: lembaga yang mendidik, menginspirasi, dan berkontribusi nyata bagi kemajuan bangsa. Baca juga: Burkina Faso Klaim Raup US$ 18 Miliar dari Tambang Emas Sejak Traoré Memimpin Penulis: Glancy Verona Editor: Toto Budiman Ilustrasi by AI Kata Kunci:

Read More

Hari Santri 2025: Pesantren Didorong Berdaya di Sektor Wisata Religi

Bondowoso – 1miliarsantri.net : Menjelang peringatan Hari Santri 2025, Kementerian Agama (Kemenag) menegaskan pentingnya pesantren untuk terus bertransformasi menjadi pusat pemberdayaan masyarakat, termasuk dalam sektor wisata religi. Gagasan ini disampaikan oleh Staf Khusus Menteri Agama bidang Media dan Komunikasi Publik, Wibowo Prasetyo, dalam rangkaian kegiatan Road to Hari Santri 2025. Ia menekankan bahwa pesantren tidak hanya menjadi lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai motor penggerak ekonomi dan budaya berbasis nilai-nilai Islam Nusantara. Pesantren Sebagai Penggerak Ekonomi dan Wisata Religi Menurut Wibowo, keberadaan pesantren yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia menjadi kekuatan strategis dalam mengembangkan wisata religi. Pesantren memiliki modal spiritual, sosial, dan kultural yang unik, kombinasi yang sangat potensial untuk menarik wisatawan baik domestik maupun mancanegara. “Pesantren bisa menjadi pusat pengembangan wisata religi yang mengedepankan nilai edukatif dan spiritual. Dengan dukungan pemerintah dan masyarakat, potensi ini bisa memberi manfaat ekonomi sekaligus memperkuat karakter bangsa,” ujarnya seperti dilansir dari Kemenag.go.id.  Dalam pandangannya, wisata religi tidak hanya berarti ziarah ke makam ulama atau tokoh Islam, tetapi juga mencakup kegiatan seperti tur edukasi pesantren, festival budaya Islam, dan wisata kuliner halal. Semua itu bisa menjadi daya tarik yang menonjolkan kearifan lokal pesantren sebagai bagian dari kebudayaan nasional. Baca juga: Burkina Faso Klaim Raup US$ 18 Miliar dari Tambang Emas Sejak Traoré Memimpin Potensi Besar Pesantren di Sektor Wisata Indonesia memiliki lebih dari 36 ribu pesantren, dengan jutaan santri yang tersebar di berbagai daerah. Banyak di antaranya berdiri di lokasi strategis yang memiliki nilai sejarah dan spiritual tinggi. Misalnya, pesantren-pesantren tua seperti Lirboyo (Kediri), Tebuireng (Jombang), dan Darul Ulum (Rejoso) yang sejak lama menjadi pusat ziarah dan studi keislaman. Kemenag menilai bahwa jika dikelola secara profesional, pesantren-pesantren ini dapat menjadi destinasi unggulan dalam paket wisata religi nasional. Tak hanya memberikan nilai tambah ekonomi bagi lingkungan sekitar, pengembangan wisata berbasis pesantren juga bisa memperkuat citra Islam Indonesia yang damai, terbuka, dan berperadaban. Selain itu, banyak pesantren kini sudah mulai berinovasi dengan mendirikan kafe santri, galeri produk halal, hingga homestay syariah. Langkah-langkah kreatif ini menjadi bukti bahwa pesantren memiliki potensi kewirausahaan dan kemandirian ekonomi yang besar. Dukungan Pemerintah untuk Pemberdayaan Pesantren Pemerintah, melalui Kementerian Agama, berkomitmen mendukung pesantren agar lebih berdaya di sektor wisata dan ekonomi kreatif. Dukungan tersebut mencakup pelatihan pengelolaan pariwisata, digitalisasi promosi, serta akses permodalan bagi unit usaha pesantren. Program seperti Santripreneur, Pesantren Go Digital, dan Pesantren Produktif menjadi bagian dari strategi besar pemerintah dalam menjadikan pesantren sebagai pusat ekonomi umat. Dengan demikian, pesantren tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu agama, tetapi juga ekosistem sosial-ekonomi yang mandiri dan berkelanjutan. Wibowo menegaskan bahwa arah pembangunan pesantren ke depan harus sejalan dengan misi moderasi beragama dan kemandirian ekonomi. “Pesantren harus mampu menjadi model pembangunan berkelanjutan, mengajarkan nilai-nilai spiritual sekaligus memberdayakan masyarakat sekitar,” tuturnya. Sinergi Santri, Pemerintah, dan Masyarakat Dalam momentum Road to Hari Santri 2025, kolaborasi antara pesantren, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi kunci utama. Banyak daerah kini mulai mengangkat identitas pesantren sebagai bagian dari branding wisata lokal. Contohnya, di beberapa kota santri seperti Tasikmalaya, Kudus, dan Pekalongan, kegiatan keagamaan seperti haul, festival santri, dan ziarah wali telah menjadi agenda rutin yang menarik wisatawan. Dengan dukungan infrastruktur, promosi digital, dan kemitraan lintas sektor, pesantren dapat menjadi destinasi wisata yang bukan hanya menawarkan pengalaman religius, tetapi juga edukatif dan inspiratif. Baca juga: Sastra Santri: Merawat Tradisi Islam Nusantara Lewat Kata dan Karya Menyongsong Hari Santri 2025: Pesantren Sebagai Lentera Peradaban Peringatan Hari Santri ke-10 tahun 2025 menjadi momentum refleksi dan aksi nyata bagi dunia pesantren. Dari lembaga pendidikan tradisional, pesantren kini berkembang menjadi kekuatan sosial-ekonomi yang relevan dengan tantangan zaman. Dengan semangat “Dari Pesantren untuk Dunia”, pesantren diharapkan terus menjadi pusat inspirasi, tempat ilmu, iman, dan amal berpadu membangun peradaban. Dan melalui sektor wisata religi, pesantren dapat menunjukkan wajah Islam Indonesia yang sejuk, inklusif, dan berdaya guna bagi bangsa serta dunia. Penulis: Glancy Verona Editor: Toto Budiman Ilustrasi by AI

Read More

Dari Pesantren untuk Dunia: 10 Tahun Santri Menjaga Nilai Bangsa dan Peradaban

Bondowoso – 1miliarsantri.net : Tahun 2025 menjadi momentum istimewa bagi dunia pesantren di Indonesia. Hari Santri yang diperingati setiap 22 Oktober kini telah memasuki usia satu dekade. Sejak ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo pada 2015, Hari Santri Nasional bukan hanya menjadi perayaan simbolik bagi kaum santri, tetapi juga tonggak pengakuan terhadap kontribusi besar pesantren dalam menjaga nilai kebangsaan, membangun karakter bangsa, dan berkontribusi bagi peradaban dunia. Peringatan 10 Tahun Hari Santri 2025 mengusung semangat “Dari Pesantren untuk Dunia”, sebuah tema yang mencerminkan kiprah santri Indonesia dalam menebarkan nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin ke seluruh penjuru bumi. Pesantren kini tak lagi dipandang sebagai lembaga pendidikan tradisional semata, melainkan pusat pembentukan manusia berakhlak, berpengetahuan, dan berdaya saing global. Perjalanan Satu Dekade: Santri Sebagai Penjaga Nilai Kebangsaan Sejak awal berdirinya, pesantren menjadi benteng moral dan spiritual bangsa. Para kiai dan santri telah berperan penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, terutama dalam menjaga semangat nasionalisme yang berakar pada nilai keislaman. Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang digagas oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari menjadi bukti sejarah bahwa santri adalah pejuang bangsa yang rela berkorban demi kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia. Dalam satu dekade terakhir, semangat itu terus dijaga melalui berbagai program yang digerakkan oleh pemerintah, ormas Islam, dan lembaga keagamaan. Pesantren kini tidak hanya fokus pada pendidikan agama, tetapi juga pengembangan ekonomi mandiri, inovasi lingkungan, hingga penguatan moderasi beragama. Melalui pendekatan ini, santri turut memperkuat identitas kebangsaan yang inklusif dan damai, menjadikan pesantren sebagai laboratorium sosial yang menghasilkan generasi cinta tanah air dan siap berkontribusi di level global. Baca juga: Semarak Hari Santri 2025, PCNU Purwakarta Hadirkan Kegiatan Bernuansa Religi dan Cinta Tanah Air Pesantren dan Kiprah Global: Santri Mendunia Perjalanan santri Indonesia kini telah melampaui batas geografis. Banyak alumni pesantren yang menempuh pendidikan di luar negeri, menjadi pendakwah di mancanegara, atau mengabdi melalui lembaga kemanusiaan internasional. Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai pesantren mampu beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan jati dirinya. Program seperti “Santri untuk Dunia” yang digagas oleh berbagai lembaga zakat dan organisasi Islam menjadi wujud nyata kiprah santri dalam menjawab tantangan global. Melalui diplomasi budaya dan pendidikan, santri berperan menyebarkan nilai-nilai perdamaian, toleransi, dan kemanusiaan di tengah dunia yang penuh gejolak. Salah satu contoh konkret adalah kontribusi santri dalam kegiatan dakwah digital dan literasi global. Banyak pesantren kini mengembangkan platform dakwah kreatif melalui media sosial dan kanal daring, membawa pesan Islam moderat kepada masyarakat luas, bahkan hingga lintas negara. Pesantren dan Kemandirian Ekonomi Umat Selain bidang keilmuan dan dakwah, pesantren juga mulai menumbuhkan ekonomi kemandirian berbasis komunitas. Banyak pesantren yang mendirikan unit usaha mikro, koperasi santri, hingga pesantren wisata dan pertanian berkelanjutan. Inovasi ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan ekonomi umat sekaligus memperlihatkan bahwa pesantren mampu menjadi motor penggerak pembangunan di tingkat lokal. Lembaga-lembaga seperti BAZNAS dan Kementerian Agama turut berperan dalam mendorong pengembangan Pesantren Produktif dan Pesantren Hijau, yang tidak hanya fokus pada aspek spiritual, tetapi juga keberlanjutan ekonomi dan lingkungan. Dengan demikian, pesantren mampu menunjukkan wajah Islam yang seimbang antara ibadah, ilmu, dan amal sosial. Hari Santri 2025: Momentum Refleksi dan Aksi Memasuki 10 tahun peringatan Hari Santri, semangat pesantren semakin relevan dengan tantangan zaman. Dunia modern menuntut integrasi antara spiritualitas dan kemajuan teknologi, antara kearifan lokal dan jejaring global. Dalam konteks ini, pesantren hadir sebagai jembatan antara nilai keislaman dan kemajuan peradaban. Peringatan Hari Santri 2025 di berbagai daerah, termasuk di Lampung dan Jawa Timur, diramaikan dengan kegiatan doa bersama, bakti sosial, seminar kebangsaan, hingga gerakan peduli lingkungan. Semua kegiatan tersebut menegaskan bahwa santri bukan hanya penjaga moral bangsa, tetapi juga penggerak perubahan sosial. “Santri adalah simbol keseimbangan antara iman, ilmu, dan amal. Mereka tidak hanya belajar agama, tetapi juga menebarkan nilai kemanusiaan yang universal,” ujar salah satu pengurus BAZNAS Lampung dalam wawancara resmi. Baca juga: Said Didu Beberkan Kelangkaan BBM di SPBU Swasta Akibat Korupsi Pertamina 2018–2023 Dari Santri untuk Dunia Dari pesantren-pesantren di pelosok Indonesia, lahirlah generasi yang siap berkiprah untuk kemajuan bangsa dan dunia. Mereka membawa pesan perdamaian, keberkahan, dan cinta tanah air yang berakar kuat pada nilai-nilai Islam. Sepuluh tahun perjalanan Hari Santri menjadi pengingat bahwa peran santri tidak akan pernah lekang oleh waktu. Dari pesantren, lahirlah cahaya ilmu dan akhlak yang terus menerangi peradaban manusia. Penulis: Glancy Verona Editor: Toto Budiman Ilustrasi by AI

Read More

25 Pesantren di Pekalongan Siap Wujudkan Pesantren Hijau Sambut Hari Santri 2025

Bondowoso – 1miliarsantri.net : Dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional 2025, sebanyak 25 pesantren di Kabupaten Pekalongan berkomitmen mewujudkan konsep Pesantren Hijau. Program ini menjadi langkah konkret dalam mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan kepedulian terhadap lingkungan. Melalui pelatihan dan pendampingan, pesantren diharapkan mampu menjadi pelopor perubahan menuju kehidupan yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Dilansir dari NU Online, kegiatan pelatihan ini merupakan kolaborasi antara Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) PBNU, Kementerian Agama (Kemenag), serta Pemerintah Kabupaten Pekalongan. Inisiatif ini tidak hanya berfokus pada penghijauan lingkungan pesantren, tetapi juga menanamkan kesadaran ekologis kepada santri sebagai bagian dari ibadah dan tanggung jawab moral terhadap alam. Pesantren Hijau: Integrasi Agama dan Ekologi Konsep Pesantren Hijau berangkat dari pemahaman bahwa Islam mengajarkan keseimbangan antara manusia dan alam. Dalam pandangan Islam, menjaga lingkungan merupakan bagian dari amanah Allah yang harus dipertanggungjawabkan. Melalui program ini, pesantren di Pekalongan berupaya menghidupkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan pelatihan yang diikuti para perwakilan pesantren mencakup berbagai aspek, mulai dari pengelolaan sampah berbasis pesantren, konservasi air dan energi, hingga pembuatan taman dan kebun produktif di lingkungan pondok. Santri juga dibekali dengan pengetahuan tentang daur ulang, pemanfaatan energi terbarukan, dan sistem pertanian organik. Menurut perwakilan LPBI PBNU, tujuan utama program ini adalah membentuk ekosistem pesantren yang mandiri, bersih, dan peduli lingkungan. “Santri bukan hanya diajarkan mengaji, tapi juga diajak memahami makna rahmatan lil ‘alamin melalui tindakan nyata menjaga bumi,” ungkapnya. Baca juga: Semarak Hari Santri 2025 Warnai Pesantren: Dari MBG hingga Aksi Peduli Lingkungan 25 Pesantren Berkomitmen Jadi Contoh Nasional Kabupaten Pekalongan menjadi salah satu daerah di Jawa Tengah yang paling aktif mengembangkan program Pesantren Hijau. Sebanyak 25 pesantren dari berbagai kecamatan, seperti Kajen, Bojong, Wiradesa, dan Kedungwuni, terlibat dalam pelatihan ini. Mereka akan menjadi percontohan bagi pesantren lain di wilayah Jawa Tengah. Para pengasuh pesantren menyambut baik inisiatif ini. Menurut mereka, gerakan pesantren hijau bukan sekadar kegiatan seremonial menyambut Hari Santri, tetapi sebuah gerakan jangka panjang yang sejalan dengan misi dakwah Islam yang ramah lingkungan. “Kami ingin santri memiliki kesadaran ekologis yang tinggi. Lingkungan yang bersih adalah bagian dari ibadah. Menanam pohon dan mengelola sampah adalah wujud cinta kepada ciptaan Allah,” ujar salah satu pengasuh pesantren peserta pelatihan. Selain pelatihan teknis, kegiatan ini juga mencakup pendampingan dan monitoring jangka panjang. Setiap pesantren akan diminta membuat rencana aksi lingkungan, seperti pembuatan bank sampah, pengelolaan air limbah, hingga pembangunan ruang hijau terbuka. Menyambut Hari Santri dengan Semangat Hijau Pelaksanaan program ini menjadi bagian dari semarak peringatan Hari Santri 2025 yang mengusung tema “Santri Mandiri, Pesantren Maju, Indonesia Berdaya.” Dalam konteks ini, kemandirian pesantren tidak hanya diukur dari sisi ekonomi dan pendidikan, tetapi juga dari kemampuan menjaga keberlanjutan lingkungan. Pemerintah Kabupaten Pekalongan mendukung penuh inisiatif ini dan berharap gerakan tersebut dapat menular ke seluruh lembaga pendidikan keagamaan di wilayahnya. Dinas Lingkungan Hidup juga terlibat dalam menyediakan bibit tanaman serta memberikan edukasi tentang pengelolaan sampah terpadu. “Santri harus menjadi agen perubahan. Ketika pesantren hijau berhasil diwujudkan, maka akan muncul generasi santri yang tidak hanya saleh secara spiritual, tapi juga peduli terhadap masa depan bumi,” kata perwakilan Kemenag Pekalongan. Baca juga: Presiden Prabowo Bentuk Komite Percepatan Pembangunan Papua, Dipimpin Velix Wanggai Pesantren Sebagai Laboratorium Ekologi Umat Pesantren sejak lama dikenal sebagai lembaga yang mandiri dan memiliki sistem kehidupan komunal. Hal ini menjadi potensi besar untuk menerapkan praktik ramah lingkungan secara berkelanjutan. Dengan pembiasaan hidup hijau seperti menanam, mengelola air, dan memanfaatkan energi secara bijak, pesantren dapat menjadi laboratorium ekologi bagi masyarakat sekitar. Melalui gerakan Pesantren Hijau, para santri diharapkan menjadi pionir dakwah lingkungan di era modern. Mereka tidak hanya menyampaikan ajaran agama, tetapi juga mengajak masyarakat menjaga bumi sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual. Dengan semangat kebersamaan, pelatihan ini menjadi bukti nyata bahwa pesantren siap menghadapi tantangan zaman dengan langkah yang lebih hijau dan berkelanjutan. Saat Hari Santri 2025 tiba, masyarakat akan melihat wajah baru pesantren, lembaga yang tidak hanya mendidik jiwa dan akal, tetapi juga menumbuhkan kepedulian terhadap alam. Penulis: Glancy Verona Editor: Toto Budiman Ilustrasi by AI

Read More

Semarak Hari Santri 2025 Warnai Pesantren: Dari MBG hingga Aksi Peduli Lingkungan

Bondowoso – 1miliarsantri.net : Peringatan Hari Santri Nasional 2025 menjadi momentum penuh semangat di berbagai pesantren di seluruh Indonesia. Tak hanya diisi dengan kegiatan keagamaan, tahun ini Hari Santri juga diramaikan dengan berbagai program sosial dan lingkungan yang mencerminkan kepedulian santri terhadap masyarakat dan alam sekitar. Berdasarkan laporan dari Kemenag.go.id, semarak Hari Santri 2025 berlangsung dengan beragam kegiatan, mulai dari program Makanan Bergizi Gratis (MBG), layanan cek kesehatan gratis, hingga aksi tanam pohon dalam gerakan Satu Santri Satu Pohon. Rangkaian kegiatan ini menunjukkan bahwa santri masa kini tak hanya berfokus pada aspek spiritual, tetapi juga aktif dalam menjaga kesehatan dan kelestarian lingkungan. MBG dan Cek Kesehatan Gratis: Santri Sehat, Bangsa Kuat Salah satu kegiatan utama dalam peringatan Hari Santri 2025 adalah pelaksanaan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di berbagai pesantren. Program ini bertujuan untuk meningkatkan gizi para santri sekaligus mendukung kesehatan mereka agar dapat belajar dan beraktivitas dengan optimal. Kegiatan ini juga diiringi dengan cek kesehatan gratis yang melibatkan tenaga medis dari Kementerian Agama dan dinas kesehatan setempat. Para santri mendapatkan pemeriksaan umum, pengecekan tekanan darah, serta penyuluhan tentang pola hidup sehat. “Santri harus kuat, sehat, dan cerdas. Karena itu, peringatan Hari Santri tahun ini tidak hanya berisi kegiatan seremonial, tetapi juga aksi nyata untuk menjaga kesehatan para santri,” ujar perwakilan Kemenag dalam sambutannya. Selain menjaga kesehatan, program ini juga menjadi wujud nyata perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan santri. Kolaborasi antara pesantren, pemerintah daerah, dan masyarakat sekitar membuat pelaksanaan program ini berjalan lancar dan mendapat sambutan positif. Baca juga: Aksi Damai Himpunan Alumni Santri Lirboyo di Brebes Warnai Gelombang Protes Nasional terhadap Trans7 Aksi Satu Santri Satu Pohon: Wujud Kepedulian terhadap Lingkungan Tidak hanya peduli pada kesehatan, para santri juga menunjukkan komitmennya terhadap kelestarian alam melalui gerakan Satu Santri Satu Pohon. Program ini menjadi salah satu simbol penting dalam peringatan Hari Santri 2025, menggambarkan bahwa santri turut berperan aktif dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Aksi menanam pohon dilakukan secara serentak di ratusan pesantren di seluruh Indonesia. Jenis pohon yang ditanam pun beragam, mulai dari pohon buah, tanaman obat keluarga, hingga pohon peneduh. Gerakan ini diharapkan dapat menjadi langkah kecil namun berdampak besar bagi masa depan lingkungan Indonesia. Menurut Kemenag, gerakan ini juga menjadi bentuk dakwah ekologis, ajakan untuk mencintai alam sebagai bagian dari ibadah. “Menanam pohon bukan hanya menjaga bumi, tapi juga bagian dari ajaran Islam untuk merawat ciptaan Allah,” ujar salah satu pengasuh pesantren yang ikut dalam kegiatan tersebut. Selain menanam pohon, beberapa pesantren juga menggelar kegiatan bersih lingkungan, pengelolaan sampah, serta edukasi tentang pemanfaatan energi ramah lingkungan. Semua kegiatan ini menggambarkan semangat Santri Hijau Indonesia, yaitu santri yang berperan dalam menjaga lingkungan hidup. Santri Zaman Now: Peduli Sosial dan Inovatif Rangkaian kegiatan Hari Santri 2025 memperlihatkan wajah baru santri Indonesia. Mereka kini tidak hanya dikenal sebagai penjaga nilai-nilai keislaman, tetapi juga sebagai agen perubahan sosial. Kegiatan seperti bazar santri, pelatihan kewirausahaan, dan edukasi digital turut digelar di berbagai daerah. Dengan semangat “Santri Mandiri, Pesantren Maju, Indonesia Berdaya”, perayaan Hari Santri 2025 menjadi momentum untuk menegaskan peran penting santri dalam membangun bangsa yang sehat, produktif, dan berdaya saing. Pemerintah melalui Kementerian Agama terus memberikan dukungan kepada pesantren agar tetap menjadi pusat pembentukan karakter bangsa. Salah satunya dengan penguatan program pendidikan berbasis kemandirian ekonomi dan digitalisasi pesantren. Baca juga: Presiden Prabowo Bentuk Komite Percepatan Pembangunan Papua, Dipimpin Velix Wanggai Pesan Moral Hari Santri 2025 Perayaan Hari Santri tahun ini tidak hanya menjadi ajang syukur, tetapi juga refleksi bagi seluruh santri dan masyarakat pesantren. Santri diharapkan terus menjaga semangat kebersamaan, kepedulian sosial, serta tanggung jawab terhadap lingkungan. Kegiatan seperti MBG, cek kesehatan gratis, dan penanaman pohon menjadi simbol bahwa santri siap berkontribusi nyata bagi kesejahteraan masyarakat dan kelestarian alam. “Santri harus jadi pelopor perubahan. Menjadi santri berarti menjadi insan yang tidak hanya berilmu, tetapi juga peduli dan beraksi untuk kemaslahatan bersama,” ungkap salah satu peserta acara di pesantren Al-Mubarok, Indramayu. Dengan semangat tersebut, Hari Santri 2025 menjadi bukti bahwa pesantren terus berkembang sebagai lembaga pendidikan yang adaptif dan responsif terhadap isu-isu kemanusiaan dan lingkungan. Santri kini menjadi bagian penting dari gerakan nasional menuju Indonesia yang sehat, hijau, dan berdaya. Penulis: Glancy Verona Editor: Toto Budiman Ilustrasi by AI

Read More

Hari Santri 2025: Menag Canangkan Direktorat Eselon I Khusus Pesantren

Bondowoso – 1miliarsantri.net : Peringatan Hari Santri Nasional 2025 menjadi momen penting bagi dunia pesantren di Indonesia. Dalam acara pembukaan Hari Santri yang digelar Kementerian Agama (Kemenag), Menteri Agama (Menag) Nazaruddin Umar mengumumkan rencana pembentukan Direktorat Eselon I khusus pesantren. Langkah ini disebut sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam memperkuat peran pesantren sebagai lembaga pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat. Menurut Menag, pesantren memiliki kontribusi besar dalam sejarah perjuangan bangsa serta pembangunan moral dan spiritual masyarakat Indonesia. Karena itu, penguatan struktur kelembagaan di Kemenag yang secara khusus menangani urusan pesantren dinilai sangat mendesak. “Pesantren bukan hanya lembaga pendidikan. Ia adalah pusat pembentukan karakter, moralitas, dan bahkan ekonomi umat. Karena itu, sudah saatnya pesantren memiliki direktorat khusus di tingkat Eselon I yang fokus mengurus kebijakan, program, dan pengembangannya,” ujar Nazaruddin Umar saat membuka peringatan Hari Santri 2025 di Jakarta, seperti dikutip dari Kemenag.go.id Pesantren Sebagai Pilar Pendidikan dan Kebangsaan Sejak dulu, pesantren telah menjadi bagian penting dari sistem pendidikan Indonesia. Lembaga ini tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga membentuk karakter mandiri, tangguh, dan berjiwa kebangsaan. Menag menilai bahwa penguatan pesantren akan membantu menciptakan keseimbangan antara spiritualitas, intelektualitas, dan kemandirian ekonomi santri. “Santri hari ini adalah penerus ulama masa depan. Maka, pesantren harus diperkuat bukan hanya secara fisik, tapi juga secara kelembagaan agar mampu menghadapi tantangan zaman,” tutur Menag. Pemerintah sendiri telah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk mendukung pesantren, seperti Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren dan alokasi dana abadi pesantren. Namun, Nazaruddin Umar menilai bahwa dukungan struktural di tingkat pusat masih perlu diperkuat agar koordinasi dan implementasi kebijakan lebih efektif. Baca juga: Pemerintah Tanggapi Isu Dapur Fiktif dalam Program MBG Rencana Pembentukan Direktorat Khusus Pesantren Pembentukan Direktorat Eselon I ini nantinya akan menjadi lembaga tertinggi di bawah Kementerian Agama yang fokus pada urusan pesantren. Selama ini, urusan pesantren berada di bawah Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) yang masih termasuk dalam Ditjen Pendidikan Islam. Dengan adanya direktorat khusus, diharapkan pengelolaan pesantren menjadi lebih fokus dan terkoordinasi, mulai dari pengembangan kurikulum, kesejahteraan guru dan santri, hingga digitalisasi administrasi pesantren. “Kami ingin memastikan bahwa kebijakan terhadap pesantren tidak sekadar bersifat administratif, tetapi substantif. Direktorat ini nantinya akan mengawal transformasi pesantren menjadi lembaga pendidikan yang modern tanpa kehilangan ruh keislamannya,” jelas Menag. Selain itu, rencana ini juga sejalan dengan semangat Hari Santri 2025 yang mengusung tema ‘Santri Mandiri, Pesantren Maju, Indonesia Berdaya’. Tema ini menegaskan bahwa kemandirian pesantren harus menjadi pilar bagi kebangkitan ekonomi umat dan ketahanan sosial bangsa. Harapan untuk Masa Depan Pesantren Menag berharap pembentukan Direktorat Eselon I dapat segera terealisasi dalam waktu dekat setelah mendapat kajian mendalam dari pihak Kemenag dan Kementerian PAN-RB. Langkah ini akan menandai babak baru bagi tata kelola pesantren di Indonesia. Dalam kesempatan yang sama, Nazaruddin Umar juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, ormas Islam, dan masyarakat pesantren untuk memperkuat nilai-nilai keislaman dan kebangsaan. “Pesantren harus menjadi pusat kebudayaan Islam Indonesia yang ramah, toleran, dan berkeadaban. Santri tidak boleh hanya unggul dalam ilmu agama, tetapi juga harus siap berkontribusi dalam sains, teknologi, dan sosial kemasyarakatan,” ujar Menag. Langkah strategis ini disambut positif oleh berbagai kalangan pesantren. Banyak pengasuh pondok pesantren menyambut baik inisiatif tersebut karena dinilai akan memberikan perhatian lebih terhadap pengembangan pesantren secara menyeluruh, termasuk dalam bidang fasilitas, pendanaan, dan pembinaan SDM. Baca Juga: Ekspor Nikel RI ke China Capai US$ 2,73 Miliar, Tantangan Diversifikasi Masih Mengemuka Pesantren dan Transformasi Digital Selain memperkuat kelembagaan, pemerintah juga mendorong pesantren agar tidak tertinggal dalam transformasi digital. Direktorat khusus nantinya akan mengembangkan program digitalisasi data pesantren, sistem pelaporan daring, dan pelatihan literasi digital bagi santri dan pengajar. Upaya ini diharapkan bisa membantu pesantren beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan karakter khasnya. Dengan demikian, pesantren dapat tetap menjadi pusat pendidikan Islam yang berakar kuat di tradisi, namun terbuka terhadap inovasi. Menag menutup sambutannya dengan pesan bahwa Hari Santri bukan sekadar peringatan seremonial, melainkan momentum refleksi bagi seluruh umat Islam di Indonesia. “Hari Santri harus menjadi pengingat bahwa kemerdekaan bangsa ini tidak lepas dari perjuangan para santri. Dan hari ini, kita teruskan perjuangan itu dengan cara memperkuat pesantren,” pungkasnya. Penulis: Glancy Verona Editor: Toto Budiman Ilustrasi by AI

Read More