BMKG Catat 1.598 Gempa Susulan di Utara Flores, Magnitudo Terbesar M6,2

FLORES, NTT — 1miliarsantri.net|Aktivitas kegempaan masih berlangsung di wilayah utara Pulau Flores setelah gempa utama berkekuatan M7,7 yang terjadi pada 15 Agustus 2026 pukul 04.58.24 WIB. Berdasarkan data pada aplikasi resmi Info BMKG yang dirangkum hingga 17 Agustus 2026, tercatat 1.598 kejadian gempa susulan. Pendataan gempa susulan tersebut mencakup periode 15 Agustus 2026 hingga 17 Agustus 2026 pukul 07.00 WIB. Magnitudo gempa susulan bervariasi, dengan kejadian terbesar mencapai M6,2. Pusat-pusat gempa susulan terdistribusi di wilayah sebelah utara Pulau Flores. Gempa utama pada 15 Agustus 2026 tercatat berlokasi sekitar 30 kilometer timur laut Mbay–Nagekeo, Nusa Tenggara Timur. Sejumlah entri peringatan dini tsunami pada aplikasi BMKG juga mencantumkan waktu kejadian yang sama dan lokasi yang serupa. Update Informasi Gempa NTT per 17 Agustus 2026 Pada 17 Agustus 2026 pukul 10.48.05 WIB, BMKG mencatat gempa berkekuatan M5,1 dengan kedalaman 10 kilometer. Episentrum gempa tersebut berada 41 kilometer barat laut Mbay–Nagekeo, pada koordinat 8,30° Lintang Selatan dan 121,28° Bujur Timur. Getaran gempa M5,1 dilaporkan dirasakan dengan intensitas IV MMI di Kabupaten Ende dan Kabupaten Nagekeo. BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan.

Read More

DPP SPEK Sampaikan Belasungkawa atas Gempa Flores–NTT M7,7

Jakarta — 1miliarsantri.net | Dewan Pengurus Pusat Sarjana Penggerak Ekonomi Kerakyatan (DPP SPEK) menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas bencana Gempa Bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang sejumlah wilayah di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Berdasarkan data sementara pembaruan lapangan pada Minggu, 16 Agustus 2026 pukul 09.00 WITA, Gempa Flores-NTT mengakibatkan 51 orang meninggal dunia, 64 orang mengalami luka berat, lebih dari 5.000 warga mengungsi, serta tercatat 341 aktivitas gempa susulan. Data tersebut masih dapat berubah seiring berlangsungnya proses pendataan, evakuasi, dan penanganan darurat di wilayah terdampak. DPP SPEK menyampaikan duka cita kepada keluarga korban dan seluruh masyarakat Flores yang terdampak bencana. DPP SPEK mendoakan agar para korban meninggal dunia mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, para korban luka segera memperoleh kesembuhan, serta keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan. “Bencana ini tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik, tetapi juga mengguncang rasa aman, kehidupan sosial, dan perekonomian masyarakat. Karena itu, penanganan darurat dan proses pemulihan harus dilakukan secara cepat, terpadu, dan berkelanjutan,” demikian sikap DPP SPEK dalam pernyataan belasungkawanya, yang disampaikan oleh M.Harun Ichsan Indradewa dan Bunyamin, SE. DPP SPEK juga mengapresiasi kerja tim gabungan yang terdiri atas Basarnas, BNPB, TNI, Polri, BPBD, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, relawan, dan masyarakat dalam melakukan evakuasi serta memenuhi kebutuhan dasar warga terdampak. DPP SPEK mengajak seluruh elemen masyarakat untuk ikut membantu proses tanggap darurat dan pemulihan pascagempa. Bantuan diharapkan disalurkan melalui kanal resmi pemerintah dan lembaga kemanusiaan yang kredibel, dengan memprioritaskan kebutuhan para pengungsi seperti air bersih, makanan siap saji, beras, obat-obatan, selimut, perlengkapan bayi, dan kebutuhan kelompok rentan.

Read More

Update Gempa Flores-NTT M7,7: Korban Tembus 51 Jiwa, Ribuan Warga Masih Mengungsi

Update gempa Flores-NTT M7,7: korban meninggal mencapai 51 orang dan 64 warga luka berat. Lebih dari 5.000 jiwa mengungsi, sementara operasi SAR dan penanganan darurat terus diperluas. FLORES, NTT — Gempa Flores-NTT M7,7 kembali menunjukkan dampak memilukan setelah jumlah korban meninggal dunia terus bertambah. Hingga Minggu (16/8/2026) pukul 09.00 WIB, sedikitnya 51 orang meninggal dunia dan 64 warga mengalami luka berat akibat gempa dahsyat yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) sehari sebelumnya. Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii menyampaikan angka tersebut dalam konferensi pers pada Minggu pagi. Menurutnya, penambahan korban terutama berasal dari proses evakuasi di Kabupaten Manggarai Timur dan Manggarai, termasuk wilayah Reo. “Per pukul 09.00 tadi pagi hari ini, bahwa total korban meninggal dunia ada 51,” kata Syafii dalam konferensi pers, sebagaimana informasi yang diterima dari laporan penanganan bencana. Operasi SAR Diperluas, Pencarian Korban Terus Berjalan Pasca gempa Flores-NTT M7,7, tim SAR gabungan masih bergerak melakukan pencarian, pertolongan dan evakuasi di sejumlah lokasi terdampak di Pulau Flores. Operasi terus diperluas karena masih terdapat wilayah yang membutuhkan pendataan dan pemeriksaan lebih lanjut. Kondisi medan dan kerusakan infrastruktur menjadi tantangan tersendiri bagi petugas. Karena itu, proses pencarian korban dilakukan secara bertahap dengan melibatkan unsur Basarnas, BPBD, TNI, Polri, tenaga kesehatan, pemerintah daerah serta unsur terkait lainnya. Basarnas sendiri merupakan lembaga yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan pencarian dan pertolongan di Indonesia. Kepala Basarnas saat ini adalah Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, yang menjabat sejak 2025. Lebih dari 5.000 Warga Bertahan di Pengungsian Sementara itu, data terbaru BNPB menunjukkan skala dampak bencana semakin terlihat. Dalam pemutakhiran per Minggu (16/8) pukul 00.00 WIB, lebih dari 5.000 jiwa tercatat mengungsi. Kabupaten Sikka menjadi salah satu wilayah dengan jumlah pengungsi terbesar, yakni 3.356 jiwa. Sebanyak 1.356 orang berada di GOR Samador, sedangkan sekitar 2.000 lainnya mengungsi secara mandiri di 10 titik. Di Kabupaten Manggarai, BNPB mencatat sekitar 2.078 jiwa mengungsi, sementara di Nagekeo terdapat sekitar 500 jiwa. Pengungsian juga tercatat di sejumlah wilayah di luar NTT yang ikut merasakan dampak guncangan. Kondisi di lapangan membuat kebutuhan dasar menjadi perhatian utama. BNPB menyebut para penyintas, khususnya di Manggarai, membutuhkan tenda darurat, beras, obat-obatan, selimut, tempat tidur lapangan, tikar, air bersih hingga genset. Ratusan Rumah dan Fasilitas Publik Rusak Dampak gempa Flores-NTT M7,7 tidak hanya menelan korban jiwa, tetapi juga menyebabkan kerusakan besar terhadap rumah dan fasilitas umum. Berdasarkan data sementara BNPB, sebanyak 914 rumah rusak berat, 126 rumah rusak sedang dan 317 rumah rusak ringan. Selain itu, kerusakan juga terjadi pada fasilitas pendidikan, kesehatan dan kantor pemerintahan. BNPB mencatat sedikitnya 93 fasilitas pendidikan, 36 fasilitas kesehatan dan 38 kantor pemerintah terdampak gempa. Angka tersebut masih dapat berubah karena tim gabungan dan BPBD terus melakukan pendataan serta verifikasi di lapangan. 341 Aktivitas Gempa Susulan Tercatat

Read More

BREAKING NEWS: Gempa M7,7 Guncang Flores NTT, BMKG Keluarkan Peringatan Dini Tsunami

Flores, NTT— 1miliarsantri.net |Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 terjadi pada Sabtu pagi, 15 Agustus 2026 pukul 04.58.24 WIB. Berdasarkan pemutakhiran informasi BMKG, pusat gempa berada 30 kilometer Timur Laut Mbay, Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT). Gempa tercatat pada koordinat 8,41° LS dan 121,39° BT, dengan kedalaman 15 kilometer. BMKG menetapkan status P.D. Tsunami 2 dan mengeluarkan pemutakhiran peringatan dini tsunami untuk wilayah NTB, NTT, Sulawesi Selatan (Sulsel), dan Sulawesi Tenggara (Sultra). Dalam pemodelan BMKG, sejumlah wilayah masuk kategori SIAGA, antara lain bagian utara Manggarai, Ngada, Manggarai Barat, Selayar, Ende, Sikka, Jeneponto, dan Bantaeng. Sementara wilayah lainnya berada dalam kategori WASPADA. Masyarakat di wilayah pesisir diminta memperhatikan arahan pemerintah daerah dan BMKG serta menjauhi pantai dan tepian sungai apabila berada di wilayah berstatus waspada. Data gempa BMKG:

Read More

125 Tahun Bung Karno: Putra Sang Fajar yang Menggali Pancasila dan Menyalakan Api Nasionalisme Indonesia

Memperingati 125 tahun kelahiran Bung Karno, Proklamator dan Presiden Pertama Republik Indonesia. Kisah historis tentang perjalanan Soekarno, penggalian Pancasila di Ende, kedekatannya dengan tokoh Islam, serta warisan nasionalisme yang terus menginspirasi bangsa. Jakarta — 1miliarsantri.net | BUNG KARNO lahir 125 tahun yang lalu, tepat pada 6 Juni 1901, hanya 17 hari setelah letusan Gunung Kelud mengguncang Pulau Jawa. Di saat fajar mulai menyingsing dan dunia memasuki abad ke-20, lahirlah seorang anak laki-laki yang kelak mengubah arah sejarah bangsa Indonesia. Anak itu adalah Kusno Sosrodiharjo, yang kemudian dikenal dunia sebagai Ir. Soekarno, Proklamator Kemerdekaan dan Presiden Pertama Republik Indonesia. Dalam kepercayaan masyarakat Jawa dan Bali, letusan gunung bukan semata-mata bencana, melainkan bagian dari keseimbangan kosmis alam semesta. Kelahiran seorang anak pada masa-masa seperti itu diyakini membawa harapan dan keberkahan bagi banyak orang. Sejarah kemudian membuktikan bahwa Bung Karno bukan hanya menjadi kebanggaan keluarganya, tetapi juga menjadi tokoh yang mengantarkan Indonesia menuju gerbang kemerdekaan dan martabat bangsa yang merdeka. Perjalanan hidup Bung Karno adalah kisah panjang tentang perjuangan, pengorbanan, pemikiran, dan cinta yang mendalam kepada tanah air. Dari seorang anak yang sering sakit-sakitan hingga namanya diubah menjadi Soekarno, ia tumbuh menjadi pemimpin pergerakan yang berinteraksi langsung dengan berbagai lapisan masyarakat. Dari setiap perjumpaan dan pengalaman hidupnya, lahir gagasan-gagasan besar yang membentuk arah perjuangan bangsa Indonesia. Marhaenisme dan Keberpihakan kepada Rakyat Kecil Ketika berada di Bandung, Soekarno bertemu dengan seorang petani sederhana bernama Marhaen. Pertemuan tersebut melahirkan konsep Marhaenisme, sebuah gagasan perjuangan yang berpihak kepada rakyat kecil dan tertindas. Bagi Soekarno, kemerdekaan tidak hanya berarti bebas dari penjajahan, tetapi juga membebaskan rakyat dari kemiskinan, kebodohan, dan ketidakadilan. Karena itulah ia dikenal sebagai “Penyambung Lidah Rakyat“. Melalui pidato-pidatonya yang membakar semangat, Soekarno mampu menerjemahkan penderitaan dan harapan rakyat Indonesia menjadi kekuatan perjuangan yang menggugah kesadaran nasional. Ende: Tempat Bung Karno Menggali Pancasila Salah satu fase terpenting dalam kehidupan Soekarno terjadi saat ia diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda ke Ende, Flores, pada tahun 1934 hingga 1938.Bagi sebagian orang, pengasingan adalah hukuman. Namun bagi Soekarno, Ende menjadi ruang perenungan yang melahirkan gagasan besar tentang dasar negara Indonesia. Di bawah sebuah pohon sukun yang kini dikenal sebagai Pohon Pancasila, Soekarno merenungkan masa depan bangsa yang majemuk. Dari perenungan itulah lahir nilai-nilai yang kemudian dirumuskan menjadi Pancasila, dasar negara Republik Indonesia. Menariknya, selama berada di Ende, Soekarno menjalin hubungan yang sangat dekat dengan masyarakat Muslim setempat dan para tokoh agama Islam. Ia aktif berdiskusi tentang keislaman, kebangsaan, kemanusiaan, serta masa depan Indonesia bersama para ulama dan pemimpin komunitas Islam Ende. Soekarno juga banyak berinteraksi dengan para tokoh Muhammadiyah dan pemuka agama yang menjadi sahabat diskusinya. Dialog-dialog tersebut memperkaya pemikirannya tentang pentingnya persatuan antara nilai-nilai agama dan kebangsaan.

Read More

Ahli Waris ‘Sahabat Bung Karno’ Minta Pemda Ende Buka Pintu Sejarah Dengan Jujur

Ende – 1miliarsantri.net: Bung Karno, Islam, Orang Ende sahabat si Bung (termasuk 47 pemain Tonil) dan Pancasila adalah satu kesatuan rangkaian sejarah yang tidak terpisahkan dan tak akan lekang dimakan waktu, saat Bangsa Indonesia memperingati “Hari Lahir Pancasila, 1 Juni tiap tahun. Sejarah Dicatat Dengan Jujur Pada 14 Januari 1934, seorang tokoh pergerakan nasional bernama Ir. Soekarno tiba di Ende sebagai tahanan politik, yang diasingkan oleh Pemerintah kolonial Belanda. Bung Karno dibuang ke Ende karena ketakutan Belanda terhadap gagasan kebangsaan dan kemerdekaan yang dibawanya. Selama empat tahun lebih, hingga 18 Oktober 1938, Bung Karno tinggal di lingkungan yang jauh dari pusat pergerakan politik, di sebuah kota kecil di Pulau Flores, yang tenang namun menyimpan denyut kebangkitan bangsa. Berkaitan dengan sejarah tersebut, tidaklah berlebihan harapan yang diungkapkan oleh Lukman Pua Rangga yang biasa disapa Pak Guru Luken. Dia mengatakan, “Kami tidak menuntut penghargaan berlebihan. Kami hanya ingin sejarah dicatat dengan jujur, bahwa Bung Karno tidak sendiri di Ende. Perjuangan ini adalah perjuangan bersama antara pemimpin dan rakyat.” Harapan tersebut disampaikan Lukman dalam sambutannya pada Malam Renungan Hari Lahir Pancasila di hadapan Bupati dan Wakil Bupati Ende, Muspika Kabupaten Ende serta disaksikan oleh segenap masyarakat Ende yang turut serta menghadiri acara tersebut, Ahad/Minggu (1/6/2025). Ide-Ide Kebangsaan Melalui Seni Pertunjukan Lukman menjelaskan, “Bahwa perjuangan ini adalah perjuangan bersama, antara pemimpin dan rakyat. Bahwa sejarah lahir bukan hanya dari pena dan pidato, tetapi juga dari tangan-tangan penuh lumpur yang menyiapkan panggung untuk sandiwara, yang menghafal naskah dengan terbata-bata, yang berjuang dengan cinta, bukan kata-kata.” Bung Karno hidup di antara masyarakat pesisir yang sebagian besar tidak mengenyam pendidikan formal. Dari sanalah, Iahir sebuah bentuk perjuangan yang luar biasa, tidak melalui senjata atau pidato politik, tapi melalui seni dan budaya. Tonil Kelimutu, dan Naskah Perlawanan Soekarno Melalui Panggung Teater Bung Karno membentuk sebuah kelompok Sandiwara bernama “Sandiwara Kelimutu.” Melalui kelompok inilah beliau menyisipkan pesan-pesan kebangsaan, semangat perlawanan, dan cinta tanah air.

Read More