Masjid Pantai Bali, Ikon Smart Masjid di Pesisir Jembrana: Wisata Religi, Manasik Haji, dan Motor Ekonomi Umat

Masjid Pantai Bali di Desa Cupel, Jembrana, hadir sebagai Smart Masjid dengan fasilitas manasik haji terlengkap di Bali. Ikon wisata religi dan pusat transformasi sosial ekonomi pesisir. Jembrana, Bali — 1miliarsantri.net: Masjid Pantai Bali merupakan simbol peradaban dan transformasi pesisir yang mengusung visi sebagai “Smart Masjid” hadir bukan sekadar sebagai tempat ibadah. Masjid ini tumbuh menjadi ikon peradaban, pusat edukasi keislaman, destinasi wisata religi, sekaligus motor penggerak ekonomi masyarakat pesisir Bali. Berlokasi di kawasan pantai Desa Cupel, Kabupaten Jembrana, masjid ini menjadi simbol harmoni antara spiritualitas, budaya, arsitektur, dan pembangunan berkelanjutan. Keberadaannya memperlihatkan integrasi nilai-nilai keagamaan dengan penguatan sosial dan ekonomi masyarakat setempat. Dukungan Tokoh Nasional dan Internasional Masjid Pantai Bali mendapatkan dukungan luas dari berbagai tokoh nasional dan internasional. Di antaranya Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla, Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon, almarhum Kyai Muhammad Jazir, Imam Besar Islamic Cultural Center New York Shamsi Ali, dai kondang Mamah Dedeh, mantan Menpora Adhyaksa Dault, pakar ekonomi syariah Adiwarman Karim, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno, da’i nasional Bachtiar Natsir, novelis Habiburrahman El Shirazy, Omar Mitha, serta musisi sekaligus pendakwah Derry Sulaiman. Dukungan ini menunjukkan bahwa Masjid Pantai Bali tidak hanya bernilai lokal, tetapi memiliki makna strategis secara nasional bahkan global. Pelopor Manasik Haji Pertama di Bali Masjid Pantai Bali menjadi pelopor fasilitas manasik haji terlengkap di Pulau Bali. Fasilitas tersebut dilengkapi dengan replika Ka’bah, Hijr Ismail, Maqam Ibrahim, replika bangunan Masjidil Haram, Jamarat, serta area Sa’i antara Shafa dan Marwah. Keberadaan sarana ini menjadikan Masjid Pantai Bali sebagai pusat edukasi ibadah haji dan umrah terpadu yang representatif, edukatif, dan bernilai spiritual tinggi bagi umat Islam di Bali dan sekitarnya. Kolaborasi Penthahelix: Model Pembangunan Lintas Sektor Masjid Pantai Bali merupakan hasil kolaborasi model Penthahelix yang melibatkan berbagai unsur strategis. AkademisiAlumni ITB, UI, UGM, IPB, ITERA, Trisakti, STIAMI, dan sejumlah perguruan tinggi lainnya. PemerintahKementerian Pariwisata, Kementerian Kebudayaan, Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Pemerintah Kabupaten Jembrana, serta Balai Pantai PUPR Provinsi Bali. Dunia UsahaBank Indonesia, Bank Syariah Indonesia, Bank Tabungan Negara, Perusahaan Listrik Negara (PLN), serta Paragon Technology and Innovation (Wardah). Lembaga dan KomunitasDewan Masjid Indonesia (DMI) Pusat, DMI dan MUI Provinsi Bali, Yayasan Masjid Pantai Nusantara (YMPN), Wakaf Salman ITB, DT Peduli, Kitabisa, Badan Wakaf Indonesia (BWI) serta DKM Masjid Pantai. Media MassaRadio Rasil, Minanews, Republika, Diskominfo Jembrana, Mudanews, 1miliarsantri.net, dan berbagai media lainnya. Kolaborasi ini menjadikan Masjid Pantai Bali sebagai model pembangunan berbasis kerja sama lintas sektor yang terintegrasi dan berkelanjutan.

Read More

Loloan, Mutiara Wisata Religi di Ujung Barat Bali

Bali – 1miliarsantri.net : Jembrana, kabupaten yang terletak di ujung barat Pulau Bali, sering kali terlupakan dalam peta pariwisata Bali yang lebih banyak menyoroti Denpasar, Ubud, atau Badung. Padahal, daerah ini menyimpan sejarah panjang dan keunikan budaya yang berbeda dari citra Bali pada umumnya. Salah satu permata tersembunyi itu adalah kawasan Loloan, yang bukan hanya kaya akan nilai sejarah dan budaya, tapi juga memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata religi Islami. Sejarah Loloan bermula pada abad ke-17, ketika rombongan pelaut Bugis dari Sulawesi Selatan mendarat dan bermukim di pesisir Jembrana. Mereka diterima dengan tangan terbuka oleh kerajaan setempat, bahkan diangkat menjadi prajurit kerajaan karena keberanian dan loyalitas mereka. Salah satu tokoh penting dari masa itu, Daeng Nachoda, diberi wewenang mendirikan pelabuhan bernama Bandar Pancoran. Kedatangan mereka menjadi awal terbentuknya komunitas Muslim yang menetap dan berkembang di Jembrana. Wilayah yang mereka dirikan kemudian dikenal sebagai Loloan, yang berasal dari bahasa Bugis dan berarti “sungai yang luas dan panjang”. Saat ini, Loloan terbagi menjadi dua wilayah administratif: Loloan Timur dan Loloan Barat. Jejak budaya Bugis-Melayu masih tampak nyata melalui arsitektur rumah panggung, kebiasaan masyarakat, dan nilai-nilai sosial yang terus hidup hingga kini. Salah satu ciri khas paling menonjol dari Loloan adalah kehidupan keberagamaan masyarakatnya. Relasi sosial antara komunitas Muslim dan masyarakat Bali lainnya berjalan harmonis dengan konsep “menyama braya”—falsafah kebersamaan khas Bali yang berarti saudara dalam hidup bermasyarakat. Nilai ini telah menjadi pilar dalam menjaga toleransi dan kebersamaan selama berabad-abad. Dari harmoni tersebut tumbuhlah tradisi-tradisi keagamaan yang unik dan khas, salah satunya adalah wisata religi. Loloan memiliki sejumlah makam para ulama dan wali yang menjadi tempat ziarah, seperti makam Wali Pitu di Loloan Barat, dan makam Syarif Tue serta Buyut Lebai di Loloan Timur. Sejak 1990-an, kawasan ini ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah, bahkan luar pulau. Selain ziarah, para pengunjung juga bisa menginap di rumah-rumah panggung warga, mencicipi kuliner khas seperti plecing ayam pedas, dan merasakan suasana kampung yang tenang dan spiritual. Peziarah sedang berdoa di makam Syarif Tue Loloan alias Syarif Abdullah bin Yahya Al Qodri Namun pandemi COVID-19 sempat memukul geliat wisata religi di Loloan. Tak ada peziarah datang, penginapan kosong, dan ekonomi warga pun lesu. Baru sejak awal 2022, aktivitas mulai pulih perlahan. Para wisatawan domestik kembali datang, mengikuti protokol kesehatan, dan menghidupkan kembali denyut kehidupan kampung. Syair Perpisahan Ramadan Tak hanya wisata religi, Loloan juga menyimpan satu lagi tradisi istimewa yakni Wida’, syair-syair perpisahan yang dilantunkan saat sepuluh malam terakhir Ramadan. Tradisi ini hanya ditemukan di Loloan. Dalam syair Wida’, para ulama tempo dulu meluapkan kesedihan akan perginya bulan suci. Lantunannya dilakukan tengah malam antara pukul 12 hingga 2 dini hari, dalam lengkingan nada tinggi dan panjang, menggema memecah keheningan kampung. Para pelantunnya, disebut pewida’, menyampaikan kesedihan mendalam lewat syair yang mereka gubah dalam langgam Bugis-Melayu. Syair yang paling sering dilantunkan adalah syair Rakbi, salah satu jenis syair yang secara tematik dan musikal penuh duka cita.

Read More