Kejadian Belanda Mengintervensi Kebijakan Keraton Jogja

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Kematian Raden Ronggo Prawirodirjo III membuat Kesultanan Yogyakarta di bawah Sultan Hamengkubuwono II diobok-obok oleh pemerintah kolonial Belanda. Perubahan radikal diajukan oleh Daendels, gubernur jenderal Belanda ke Keraton Yogyakarta. Pada 23 Desember 1810, ia memanggil para Residen Belanda dan patih keraton-keraton ke Semarang dan memberitahukan kepada mereka rencananya untuk memaksa Sultan turun tahta, dan menyerahkan kekuasaan kepada Putra Mahkota sebagai Pangeran Wali. Tiga hari kemudian, bersama pasukannya yang berkekuatan 3.200 serdadu, ia berderap menuju Yogya. Peter Carey dalam “Takdir Riwayat Pangeran Diponegoro : 1785 – 1855” Daendels dan pasukannya sudah sampai di gerbang tolnya yang lama di jalan antara Tempel dan Pisangan, ketika kabar tewasnya Raden Ronggo sampai kepadanya. Meskipun tidak perlu lagi mendatangi istana Sultan dengan kekuatan militer sebesar itu, marsekal tetap bersikeras maju terus. Hal ini karena ia membutuhkan imbalan uang untuk membayar opsir-opsir dan bala tentaranya, yang dilanda desersi sampai 70 orang per hari akibat bayaran yang kurang. Alhasil mereka diberikan imbalan uang sangat besar, wakil Daendels Van Braam menerima 10 ribu dolar Spanyol atau setara dengan satu juta dolar Amerika Serikat saat ini. Pieter Engelhard dan Residen sebelumnya, Gustaf Wilhelm Wiese, keduanya ditugaskan bersama Van Braam, untuk memetakan garis demarkasi perbatasan baru antara wilayah pesisir dan kerajaan, masing – masing mendapat 5.000 dolar Spanyol (setengah juta dolar AS sekarang). Panglima Komandan Ekspedisi, Brigadir Jenderal (pasca-1821, Letnan Jenderal) Hendrik Merkus de Kock yang menjabat pada 1779 – 1845), yang nanti akan kita jumpai lagi sebagai Panglima tertinggi bala tentara Belanda selama Perang Jawa, menerima jumlah yang sama. Uang bayaran sebesar itu merupakan langkah pertama upaya pemiskinan kesultanan, suatu kondisi yang membuat mantan pejabat VOC, seperti Wouter Hendrik van Ijsseldijk yang menjabat pada 1757-1817, terkejut mengunjungi keraton-keraton setelah restorasi kekuasan Belanda di tahun 1816. Daendels tiba di Yogya pada 28 Desember dan langsung menuju kediaman Residen, seraya memanggil Sultan untuk menemuinya di sana tanpa lebih dulu berkunjung ke keraton, sesuai adat kebiasaan yang berlaku. Sungguh suatu pelanggaran etika sopan santun yang sangat kasar. Pangeran Diponegoro melukiskan bagaimana persiapan perlawanan militer dilakukan menyambut kedatangan Daendels dengan Sumodiningrat yang suka perang, berdiri paling depan, namun Sultan terlalu banyak pertimbangan untuk sesegera mungkin bertindak. Pada tanggal 31 Desember tahun yang sama, Sultan setuju tanpa protes alias setuju dengan diam pada tuntutan gubernur jenderal. Sultan menandatangani sebuah pernyataan yang menyerahkan pemerintahan Yogyakarta kepada putra mahkota, yang akan memerintah sebagai “Pangeran Wall” dengan menyandang gelar yang sudah ada sebelumnya, Raja Putro Narendro Pangeran Adipati Anom Amangkunegoro. Sepintas, Daendels seperti telah membuat revolusi politik dan ia langsung sesumbar kepada Dewan Hindia di Batavia bahwa “demikianlah yang terjadi”. Namun, dalam kenyataan tidak ada perubahan apa pun. Sumber-sumber Jawa kemudian menjelaskan, bahwa Putra Mahkota bila bertindak tetaplah dengan seizin Sultan. Memang secara pemerintahan putra mahkota Sultan Hamengkubuwono III ditunjuk sebagai penguasa dan Sultan Yogya, namun kekuasaan tertinggi masih di tangan sultan sepuh dalam hal ini Sultan Hamengkubuwono II. Dia tetap memegang kendali di bidang keuangan dan tanah-tanah jabatan. Sultan juga masih tetap tinggal di keraton, sebuah konsesi yang disetujui Daendels atas permintaan langsung Putra Mahkota. (yus)

Read More

KH Miftachul Akhyar : Allah Akan Mengabulkan Apapun Permohonan Kita

Surabaya — 1miliarsantri.net : Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya sekaligus Rais aam PBNU, KH Miftachul Akhyar menjelaskan, tidak ada istilah gagal sebuah permohonan jika manusia menyandarkannya kepada Allah SWT. Apalagi Allah sudah berjanji ud’uni astajib lakum (mintalah kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan). “Tidak pernah ada istilah gagal sebuah permohonan kalau kita memohonnya. bersandar, pasrah kepada Allah. Apalagi Allah sudah berjanji ud’uni astajib lakum,” terang Kiai Miftach. Kiai Miftach menegaskan, intinya harus pasrah kepada Allah. Dikabulkan atau tidak, dikabulkan dalam waktu cepat atau lambat, itu hak Allah. Sebab, Allah itu mutlak. “Jangan kalau minta sekarang harus sekarang, kok Gusti Allah diatur-atur. Ya sudah minta, pasrahkan kepada Allah. Allah tahu yang terbaik. Kalau Allah memandang baik diberi hari ini, akan diberi hari ini. Kalau besok akan diberikan besok, kalau lusa ya lusa, pasti itu. Jadi sebuah permohonan tidak akan pernah gagal kalau disandarkan, dipasrahkan kepada Allah,” jelasnya. Kiai yang pernah menjabat Ketua MUI dalam waktu singkat ini mengungkapkan, sebaliknya permohonan akan mengalami kegagalan atau tidak menghasilkan, jika dipasrahkan kepada selain Allah. “Kalaupun menghasilkan pun ruwet, banyak tuntutan, banyak masalah kalau permohonan-permohonan itu kita sandarkan pada kekuatan kita sendiri, pada otak kita, pada kekayaan kita. Pokoknya kita diciptakan dalam keadaan fakir,” imbuhnya. Lebih lanjut, Kiai Miftach menjelaskan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan fakir itu sudah dijelaskan dalam Surat Fatir ayat 15, bahwa manusia itu sangat butuh kepada Allah, faqir kepada Allah. Kemudian jangan jangan sekali-kali manusia mengandalkan kekuatanmu, pengetahuan, harta kekayaanmu, keluargamu, siapa, semua kalian ini faqir kepada Allah. “Al-Qur’an sudah mengingatkan kepada kita. Oleh karena itu, Ibnu Athaillah as-Sakandari menyatakan sekali-kali tidak akan rugi, sekali-kali tidak akan gagal sebuah permohonan, kalau permohonan itu diatasnamakan atau dialamatkan kepada Allah, pada anugerah dan taufik Allah,” ujarnya. Kiai Miftach mengingatkan bahwa bahwa manusia harus sepi dan bersih dari mengingat-ngingat kemampuan, kehebatan, kepandaian dirinya sendiri, yang ada hanya pasrah kepada Allah. “Kalau pasrah kepada selain Allah, Allah akan menyerahkannya kepada selain-Nya. Allah lepas, nggak akan cawe-cawe kepada orang seperti itu, karena Allah sudah dilupakan, condong kepada makhluk. Jadi kalaupun berhasil, berhasilnya orang yang tidak bergantung kepada Allah istidraj namanya. Ini penting, ayo kita bersabar, sabar, sebentar kok di dunia ini,” pungkasnya. (yat)

Read More

Pelaksaan Operasional Haji 2023 Resmi Ditutup Menag, Terdapat 77 Jamaah Haji Masih Dirawat

Jakarta — 1miliarsantri.net : Aktifitas Penyelenggaraan ibadah haji 1444H/2023M telah berakhir dan telah resmi ditutup pelaksanaan operasional nya olej Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas. Namun demikian, masih ada 77 jamaah haji sakit yang masih dirawat di RS Arab Saudi. “Perawatan 77 jamaah yang sakit akan terus dilanjutkan di RS Arab Saudi sampai jamaah dinyatakan layak terbang untuk di antar pulang ke Tanah Air,” terang Menag, Sabtu (05/08/2023). Menag menambahkan, pemantauan jamaah sakit, akan dilanjutkan Tim Kantor Urusan Haji (KUH) KJRI Jeddah. Keluarga jamaah dapat mengupdate kondisi jamaah sakit secara berkala melalui Call Center Kementerian Agama di No 146. “Saya bersyukur, secara umum penyelenggaraan layanan haji tahun ini berjalan lancar. Alhamdulillah, hari ini saya baru saja menyambut kedatangan 355 petugas haji yang telah bertugas selama lebih dari 60 hari di Arab Saudi,” imbuhnya. Berakhirnya seluruh rangkaian haji 2023 ditandai dengan datangnya rombongan kelompok terbang 88 asal Embarkasi Surabaya (SUB 88) pada Jumat (04/08/2023). “Dengan kembalinya seluruh petugas dan jamaah haji Indonesia ke Tanah Air, maka masa operasional haji selesai. Untuk itu, saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu berlangsungnya penyelenggaraan ibadah haji,” pungkasnya. (rid)

Read More

Tonggak Kemandirian Bangsa, Bisa Dimulai Dari Pesantren

Jakarta — 1miliarsantri.net : Kombes Pol (Purn) Zainul Anwar mengungkapkan, santri memiliki peran besar dalam perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Maka, semangat tersebut harus dibawa pada era saat ini. “Saat ini kita tidak lagi berada di era penjajahan fisik. Saat ini kita berada di zaman globalisasi. Kita sekarang dihadapkan oleh berbagai tantangan baru, sekaligus peluang baru,” terang Zainul sesaat setelah menunaikan sholat Jumat di Masjid Istiqlal Jakarta, (04/08/2023). Menurut Zainul, wajah kebangsaan Indonesia dihadapkan banyak tantangan, baik ideologi, politik, sosial maupun budaya serta masalah pertahanan bangsa yang akan menggeser budaya dan peradaban bangsa. Eksistensi pesantren berdasarkan UU Pesantren Nomor 18 Tahun 2019 paling tidak memiliki tiga cakupan wilayah pengabdian dalam konteks pembangunan bangsa. Pertama adalah pendidikan, kedua dakwah, dan ketiga pemberdayaan. Dalam konteks menjalankan fungsinya sebagai lembaga pendidikan, dakwah dan pemberdayaan, pesantren dalam konteks kekinian menghadapi tantangan besar. Beragam tantangan dan intensitas perubahan zaman. “Dalam posisi inilah santri dituntut mampu berkiprah untuk menghadapi tantangan tersebut, terutama menjadi garda terdepan dalam menguatkan nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika, guna menjaga keutuhan dan kemandirian bangsa,” ujar Zainul. Sejarah mencatat, pesantren meripakan lembaga yang sangat mandiri, terutama dalam mencetak pemikir-pemikir Islam, mencetak sumber daya manusia unggul dan menjadi kekuatan dalam pemberdayaan masyarakat. “Di era sekarang yang sedang berkembang ini, guna penguatan kemandirian, maka pessantren harus mampu belajar dan mentranfers nilai-nilai luhur yang dimiliki oleh Kiyai Haji Samanhudi dalam mendirikan syarikat dagang Islam, yang bertujuan diantaranya adalah untuk mengembangkan jiwa dagang dan kesejahteraan serta mengembangkan pendidikan dan pengajaran bagi masyarakat pribumi (nama Indonesia waktu itu belum ada),” kata Zainul. Maka itu, dengan melihat berbagai tantangan sekaligus peluang, maka pesantren harus bertransformasi dengan memasukkan fungsi sosial ekonomi ke dalam program kegiatan pondok pesantren. Langkah ini mendorong perubahan pengelolaan sistem manajerial kemandirian pesantren, dari pesantren tradisional menuju pesantren moderen, serta menjadikan pesantren berkolaborasi terhadap entitas bisnis maupun kemajuan teknologi. “Tranformasi ekonomi itu diarahkan untuk mengembangkan jiwa dagang dan kesejahteraan serta mengembangkan pendidikan dan pengajaran bagi masyarakat santri untuk kemajuan dan kemandirian Indonesia,” ujar Zainul. Kementerian Agama RI mencatat, saat ini sudah banyak pesantren yang melakukan aktivitas bisnis guna menghidupi kegiatan pesantren. Itu sebagai self financing pesantren yang bergerak secara mandiri. Praktik ekonomi pesantren tersebut sudah dibangun dengan manajerial yang baik dan terbukti berpengaruh terhadap kemajuan dan kemadirian pesantren. Dalam rangka mempercepat kemandirian pesantren, saat ini merupakan momentum yang tepat, karena ada tiga siklus kehidupan sebagai pendukung. Pertama, siklus digital. Pandemi Covid-19 memaksa disrupsi digital menjadi lebih cepat di Indonesia, aktivitas ekonomi, pendidikan dan da’wah serta politik sebagian besar mulai beralih platform digital. “Dalam masalah teknologi digital, kita patut bangga sudah banyak pesantren yang mengembangkan bidang teknologi, bahkan melakukan lomba dalam berbagai teknologi, dan santri bisa menjadi juara dalam lomba teknologi tersebut,” ujar Zainul. Kedua, siklus usaha kecil menengah. Dunia usaha yang ada di lingkungan masyarakat sekitar pesantren sebagian besar dari kalangan usaha kecil menengah. Bila terjadi kolaborasi pesantren dan usaha kecil menengah di sekitarnya, maka akselerasi pemberdayaan ekonomi pesantren dan masyarakat akan bisa terjadi lebih cepat. Ketiga, siklus halal. Dalam kurun lima tahun terakhir ini ada peningkatan trend industri halal yang cukup tinggi. Tren seperti ini harus dijadikan peluang oleh Pesantren guna menjawab dan memenuhi tuntutan masyarakat. “Maka, dengan siklus kehidupan tersebut, didukung produktifitas santri dalam berbagai bidangnya, kebijakan kemandirian pesantren yang kita jadikan tonggak kemandirian bangsa akan berjalan dengan sukses yang dampaknya akan bisa dirasakan oleh dunia pesantren, masyarakat, bangsa dan negara Indonesia,” pungkasnya. (rid)

Read More

Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah Memberikan 5 Langkah Memupuk Kesabaran

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Allah SWT memerintahkan setiap manusia untuk memiliki kesabaran. Perintah tersebut disebutkan dalam ayat-ayat Al-Qur’an, salah satunya surat Ali Imran ayat 200, yang berbunyi, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” Setiap kali Allah menetapkan sesuatu, Dia memberikan bantuan yang diperlukan dan menetapkan cara untuk mempertahankannya. Seperti disebutkan dalam hadits riwayat Bukhari, “Allah tidak akan menurunkan satu penyakit kecuali Allah turunkan juga obatnya”. Meski sulit bagi jiwa, kesabaran bisa diraih dan layak untuk diperjuangkan. Ahli hukum Islam, Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah menyebutkan lima cara untuk memupuk kesabaran, diantaranya : Melalui puasa, sisi negatif dari hawa nafsu dilemahkan, misalnya mencegah makan terlalu banyak. Tatapan mata diibaratkan seperti panah beracun Setan. Di mana Setan mengirimkan anak panahnya ke hati yang tidak bersenjata. Jika seseorang menjauhinya, ia meleset dari sasarannya; jika tidak, hati akan terpukul. Seperti yang ditunjukkan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Sesuatu yang diizinkan Allah adalah resep obat yang efektif bagi kebanyakan orang. (yus)

Read More

Merasakan Kedekatan dan Kehadiran Allah Di Sekeliling Kita

Surabaya — 1miliarsantri.net : Kurt Gödel merupakan seorang ahli logika, matematikawan, dan filsuf Amerika keturunan Austria. Sebagai salah satu ahli logika ikonik dalam sejarah, bersama dengan Aristoteles dan Gottlob Frege, karya Gödel diakui bertahun-tahun setelah kematiannya pada 1978. Teori-teori Gödel kemudian diambil oleh ilmuwan lain yang berusaha membuktikan keberadaan Tuhan melalui rumus matematika. Meski tampak sudah ada beberapa temuan tentang keberadaan Tuhan, ada banyak kekurangan dalam penelitian itu sendiri. Hal itu membutuhkan penyelidikan lebih lanjut dan mungkin uji coba. Maria Zain, penulis di About Islam, mengungkapkan, sebenarnya manifestasi keberadaan Allah SWT bisa dilihat di sekeliling kita dan tidak membutuhkan cara yang rumit untuk membuktikan hal tersebut. “Manusia dilahirkan dengan kecenderungan alami untuk menyembah Sang Pencipta,” kata Maria dalam tulisannya di About Islam berjudul Manifestation of God Through Science All Around Us. Al-Qur’an sering berbicara tentang manusia yang dilahirkan dalam keadaan fitrah, yakni kebutuhan bawaan untuk menyembah Tuhannya. Di dalam fitrah ini, terdapat pula kebaikan bawaan dalam diri manusia sebagai makhluk yang paling mulia yang diciptakan Tuhan. “Namun, karena pola asuh atau lingkunganlah manusia mulai menjauh dari fitrah ini,” kata Maria. Fitrah juga sangat erat kaitannya dengan alam. Anak-anak, yang paling dekat dengan fitrah, tidak tercemar dan tidak tersentuh oleh hal-hal negatif di sekitarnya, seringkali sangat dekat dengan alam. Dahulu, sudah menjadi kebiasaan orang Arab untuk mengirim anak-anak mereka ke alam bebas saat masih bayi. Saat dewasa mereka dapat menikmati padang pasir, daripada harus berlarian di jalanan kota yang padat. Nabi Muhammad (SAW) menghabiskan beberapa tahun hidupnya di padang pasir sebelum kembali ke Makkah. Itu membantu kesehatan fisik, mental, dan emosional Nabi Muhammad SAW. Hal tersebut menjadi fondasi yang kuat sebelum diutus menjadi nabi. “Anak-anak melihat banyak hal di alam, dan manifestasi keberadaan Tuhan pada dasarnya ada di mana-mana di lingkungan. Anak-anak mungkin senang melihat burung-burung mematuk makanan; atau mereka mungkin senang memetik bunga; anak-anak di tepi pantai atau di tepi danau akan bermain air,” ujar Maria. Anak-anak juga terpesona oleh serangga: semut, lebah, dan sejenisnya. Mereka juga berbicara tentang struktur yang berbeda, seperti pohon dan gunung. Meskipun hal ini mungkin terlihat sederhana, namun bisa dipelajari dari rasa ingin tahu anak-anak yang cenderung sangat terhubung dengan alam. Kecenderungan itu juga terhubung kepada Tuhan. Salah satu contoh Al-Qur’an berbicara tentang sains bisa ditemukan dalam Surah An-Nahl ayat 79. Allah SWT berfirman, “Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dapat terbang di angkasa dengan mudah. Tidak ada yang menahannya selain Allah. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang beriman.” (QS An-Nahl: 79). Para ilmuwan telah lama mempelajari penerbangan burung dan rute migrasi mereka. Mereka telah menemukan ketepatan dalam keberangkatan dan kedatangan burung dari satu tempat ke tempat lain. Para ilmuwan juga menemukan kemampuan burung untuk menavigasi, bahkan pada perjalanan perdana, sebagai burung yang masih sangat muda. Kemampuan mereka untuk melakukan hal tersebut hanya dapat terwujud jika Allah memegang kendali atas semua hal di atas, dan Dia memang memegang kendali atas semua itu. Madu merupakan obat yang sangat mujarab bagi para penggemar alam. Bahkan, para ilmuwan pun mengakui daftar panjang manfaatnya, mulai dari bahan untuk sistem kekebalan tubuh yang kuat hingga obat untuk pilek. Al-Qur’an juga menyebutkan air beberapa kali: “Maka apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya? Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup. Maka apakah mereka tidak beriman?” (QS Al-Anbya’: 30). Ilmu pengetahuan memperkuat kebutuhan manusia akan konsumsi air bersih untuk bertahan hidup. Para ilmuwan juga telah “menemukan” ketergantungan bumi terhadap unsur utama penyusunnya, yaitu air. Al-Qur’an juga berbicara tentang geologi: “Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan dan gunung-gunung sebagai pasak?” (QS An-Naba’: :6-7). Pelajaran geologi dasar memberitahu tentang struktur kerak bumi yang tipis dan “pasak” diperlukan untuk menyatukan kerak bumi. Pohon-pohon melakukan hal itu pada tingkat mikro, tetapi gunung adalah pasak besar yang menahan bidang-bidang yang lebih besar di satu tempat dan mencegahnya runtuh dalam cuaca buruk. “Meskipun contoh-contoh ini mungkin tampak abstrak, tidak perlu ilmu roket untuk mengetahui bahwa keajaiban-keajaiban ini adalah bukti bahwa penciptaan mereka adalah dari jenis lain – jelas bukan buatan manusia! Dan meskipun ini bukan ilmu roket, hal ini membutuhkan refleksi yang mendalam dari seseorang,” tutur Maria. Jadi, semakin dekat manusia dengan alam, semakin terasah pula kecerdasannya, dan semakin dekat pula dengan Allah SWT. Penulis dan psikolog klinis, Kay Redfield Jamison, menulis tentang pentingnya anak-anak berada di luar ruangan untuk mengembangkan kecakapan intelektual mereka. “Di antara manfaat bermain di luar ruangan, termasuk: meningkatkan rangsangan multi-indera, merangsang kreativitas dan rasa ingin tahu, serta mengurangi kecemasan, sekaligus membangun kepercayaan diri dan harga diri,” ujar Maria. Anak-anak juga menjadi lebih terhubung dengan diri mereka sendiri dan orang lain hanya dengan menghabiskan waktu bersama alam. Hal itu menunjukkan berada di sekitar ciptaan Allah SWT menanamkan rasa empati dan kebaikan. Oleh karena itu, melihat hal-hal di alam dan terhubung dengan lingkungan terkait dengan kesehatan secara keseluruhan, termasuk kecakapan intelektual yang melihat melampaui logika matematika dan rumus ilmiah. “Penerimaan secara sadar dan penghormatan terhadap Allah SWT sebagai Pencipta dunia dan segala sesuatu di dalamnya tidak dapat diukur, tetapi tanda-tanda keberadaan Tuhan selalu ada,” kata Maria. (har)

Read More

Beberapa Tokoh Memberikan Apresiasi Dan Mendukung Langkah MUI Serta Mabes Polri Atas Penangkapan Panji Gumilang

Surabaya — 1miliarsantri.net : Badan Silaturahmi Ulama Pesantren Madura (Bassra) mendukung langkah Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Mabes Polri dalam menyelesaikan masalah Pondok Pesantren (Ponpes) Al Zaytun di Indramayu, Jawa Barat. “Mendukung sepenuhnya langkah MUI dalam menyikapi kasus Al Zaytun,” ungkap Sekretaris Bassra, KH Syafik Rofii, Jumat (04/08/2023). Bassra berpandangan, sebagian perbuatan atau kelakuan pimpinan Al Zaytun, Panji Gumilang adalah sesat dan menyesatkan. Sebagian lagi ajaran di Ponpes Al Zaytun tidak sesuai dengan ajaran agama Islam. Mantan Wabup Bangkalan ini menyebut, sudah sewajarnya MUI mengambil sikap tersebut. Tak lupa, Bassra mengucapkan terima kasih kepada institusi Polri yang telah menetapkan Panji Gumilang sebagai tersangka dengan pasal penistaan agama. “Kami berharap dengan penetapan tersengka ini, Panji Gumilang bisa menyadari kesalahan dan kembali ke jalan benar. Kembali ke jalan lurus yang diridhoi Allah SWT,” harapnya. Diketahui, Panji Gumilang ditetapkan sebagai tersangka dugaan penistaan agama, ujaran kebencian, dan penyebaran berita bohong. Direktorat Tindak Pidana Hukum (Dittipidum) Bareskrim Polri langsung menahan Panji. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf menilai, hal tersebut harus diselesaikan lantaran dapat mempengaruhi psikolog masyarakat. Dia juga mendorong agar perkara tersebut diproses secara hukum yang berlaku. “Ikuti saja proses hukumnya dari awal saya sudah mengatakan juga bahwa masalah ini harus diselesaikan menurut hukum karena ini masalah yang secara substansial sebetulnya rawan dan bisa mempengaruhi psikologi masyarakat secara luas,” kata Gus Yahya. Wakil ketua MUI, Anwar Abbas juga mengapresiasi langkah Polri. Pihaknya berharap, dengan status tersangka untuk Panji Gumilang bisa meredam dan mengurangi keresahan di masyarakat. (wid)

Read More

Prof Quraish Shihab Membantah Pernyataan Panji Tentang Al Quran Bukan Kalamullah

Jakarta — 1miliarsantri.net : Alquran adalah Kalamullah, perkataan Allah yang merupakan wahyu suci. Tiada satu pun makhluk yang menciptakan Alquran, termasuk Nabi Muhammad SAW. Namun, dikutip dari akun youtube resmi Al Zaytun dengan tema Manusia dan Kemanusiaan part 1, Pimpinan Al Zaytun Panji Gumilang yang ditetapkan tersangka kasus penistaan agama sejak Selasa (01/08/2023), pernah mengatakan demikian: “Saya sejak awal tahun berdiri Ma’had ini sudah menganjurkan baca, baca, mengapa? Nabi Muhammad juga sudah mendeclare dzalikal kitab la roib. Itu nabi Muhammad yang mendeclare itu atas Wahyu Ilahi, bukan Kalam Allah. Kalam Nabi Muhammad yang didapat daripada wahyu. Nah kalau Allah berbahasa Arab, susah nanti ketemu dengan orang Indramayu. Prewek ngga ngerti, Gusti Allah ngga ngerti kalau, artinya bacalah semua itu saudara-saudara dzalikal kitab la roibaz, Alkitab, Alkitab ini mungkin Perjanjian Lama.” Benarkah Alquran bukan perkataan Allah SWT? Sekali lagi, Alquran adalah Kalamullah, perkataan Allah yang merupakan wahyu suci. Tiada satu pun makhluk yang menciptakan Alquran, termasuk Nabi Muhammad SAW. Buktinya adalah ketika Rasulullah SAW pernah ditegur Allah SWT sebagaimana yang diabadikan dalam Alquran. Namun demikian yang perlu digarisbawahi adalah, teguran ini sama sekali tidak melunturkan akhlak Nabi yang mulia dan tiada bandingannya dari makhluk apapun. Teguran itu dilakukan sebagai tindak ucapan beliau yang dinilai Allah SWt sebagai hal yang kurang wajar lahir dari seorang yang dijadikan teladan. Prof Quraish Shihab dalam buku Mukjizat Alquran mengatakan, teguran-teguran kepada Nabi Muhammad SAW yang ditemukan dalam Alquran ada yang keras dan tegas serta ada pula yang ringan lagi halus. Salah satu contohnya adalah suatu ketika Nabi Muhammad SAW sedang berkumpul bersama pemuka-pemuka musyrik untuk menjelaskan ajaran Islam kepada mereka. Tiba-tiba dalam pertemuan itu masuk seorang buta, yakni Abdullah bin Ummi Maktum sambil bersuara keras. Dia berbicara dengan suara keras kepada Nabi, “Muhammad, Muhammad, ajarkanlah aku sebagian yang diajarkan Tuhan kepadamu.” Tentu saja, kedatangan dan suaranya yang lantang itu mengganggu Nabi yang sedang menghadapi tokoh-tokoh musyrik yang diharapkan keislamannya. Melihat dan mendengar kedatangan Abdullah bin Ummi Maktum, wajah Nabi menjadi kusut dan berpaling tidak menghiraukan kedatangannya. Sikap ini dinilai Allah SWT tidak wajar dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Dan karena itulah turun teguran Allah SWT sebagaimana yang diabadikan dalam Alquran Surah Abasa ayat 1-12. عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىٰ أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَىٰ أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَىٰ فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّىٰ وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّىٰ وَأَمَّا مَنْ جَاءَكَ يَسْعَىٰ وَهُوَ يَخْشَىٰ فَأَنْتَ عَنْهُ تَلَهَّىٰ كَلَّا إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ فَمَنْ شَاءَ ذَكَرَهُ Yang artinya, “Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali dia ingin membersihkan diri (dari dosa) atau (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberikan manfaat baginya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada celaan atasmu apabila dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk memperoleh pengajaran), sedangkan dia takut (kepada Allah) maka engkau mengabaikannya. Sekali-kali jangan (berbuat demikian), sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan adalah suatu peringatan, maka siapa yang menghendaki tentulah dia memperhatikannya.” Contoh lainnya dari teguran Allah SWT kepada Nabi adalah ketika terjadi saat Perang Uhud. Puluhan sahabat Nabi gugur sedangkan Nabi sendiri terluka hingga giginya patah dan wajah beliau berlumuran darah. Saat itu Nabi bersabda: كيف يفلح قوم خضبوا وجه نبيهم بالدم، وهو يدعوهم إلى ربهم Yang artinya, “Bagaimana mungkin suatu kaum akan memperoleh kebahagiaan, sedangkan mereka melukai wajah Nabi mereka sehingga berlumuran darah, padahal dia mengajak mereka ke jalan Tuhan.” Prof Quraish menjelaskan bahwa dalam kesempatan itu pula konon Nabi SAW bermohon kepada Allah SWT untuk mengutuk mereka.Ucapan Nabi ini kemudian ditegur dengan tegas dan keras oleh Allah SWT melalui firman-Nya yang diabadikan dalam Surat Ali Imran ayat 128. Allah SWT berfirman: لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ Yang artinya, “Tidak ada sedikit pun kewenangan dalam urusan mereka. Allah mengampuni mereka atau menyiksa mereka karena sesungguhnya mereka itu orang yang berlaku aniaya.” Tentunya, Prof Quraish menjelaskan, teguran yang dilakukan Allah kepada Nabi ini dapat diambil hikmahnya. Apakah seseorang menduga bahwa teguran-teguran itu akan terdengar apalagi diabadikan jika ayat-ayat tersebut Nabi sendiri yang menyusunnya? Adakah seorang pemimpin yang rela kesalahan-kesalahannya dipaparkan bahkan diabadikan dalam catatan resmi? Pasti tidak ada. Namun di sini Alquran, menurut Prof Quraish, mengabadikan itu karena memang Alquran bukanlah karangan Nabi Muhammad SAW sehingga salah satu hikmah yang barangkali ingin ditampakkan Allah SWT dari teguran itu kepada umat manusia adalah bahwa Alquran benar-benar murni Kalamullah. (lim)

Read More

Jejak Langkah Panji Gumilang Sebelum Berdirinya Ponpes Al Zaytun

Jakarta — 1miliarsantri.net : Setelah sekitar enam bulan menjadi kontroversi publik, akhirnya nasib Penji Gumilang ditetapkan tersangka dan ditahan di Mabes Polri. Direktorat Tindak Pidana Umum (Ditipidum) Bareskrim Polri telah resmi menetapkan pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Zaytun Panji Gumilang sebagai tersangka kasus penistaan agama, ujaran kebencian, dan penyebaran berita bohong. Akibat perbuatannya, Panji Gumilang terancam hukuman maksimal 10 tahun penjara. Uniknya, ketika berita ini diberitahukan kepada pengamat terosisme Al Chaidar yang pekan lalu baru saja mendapat gelar doktor antropologi dari Universitas Indonesia hanya mengucap kalimat pendek: Alhamdulillah. Mantan koman NII KW IX yang kini tinggal di sebuah kawasan di Jakarta Timur, mengucapakan kata yang sama dan pendek saja, yakni Alhamdulillah. Apa pun itu apa yang terjadi pada sosok Pemimpin Ponpes Al Zaytun tersebut keduanya lega bahwa akhirnya pihak kepolisian melalui Dirtipidum Bareskrim Polri, Brigjen Djuhandhani Rahardjo Puro menjelaskan tersangka dikenakan Pasal 156a KUHP dan atau Pasal 45a Ayat (2) Juncto Pasal 28 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang ITE dan/atau Pasal 14 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana. “Dengan ancaman hukuman 10 tahun penjara,” kata Djuhandhani di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Selasa (01/08/2023) malam. Menurut Djuhandhani, penetapan status ini dilakukan usai Bareskrim Polri melakukan gelar perkara dan memiliki cukup alat bukti untuk menjadikan Panji Gumilang sebagai tersangka dan langsung dilakukan penangkapan. Penyidik juga telah memeriksa 40 saksi dan 17 ahli. Saat ini yang bersangkutan masih dilakukan pemeriksaan sebagai tersangka 1×24 jam. “Saat ini penyidik masih mempunyai 1×24 jam, jadi proses penyidikan kami saat ini hanya melaksanakan proses penangkapan. Untuk lebih lanjut, kita lihat perkembangan penyidikan yang dilaksanakan malam ini,” kata Djuhandhani. Sebelumnya, penyidik Dittipidum Bareskrim Polri telah menaikkan status kasus penistaan agama yang melibatkan Pimpinan Pondok Pesantren Al-Zaytun Panji Gumilang dari penyelidikan menjadi penyidikan. Dalam pemeriksaan perdana, penyidik turut mendalami riwayat Pondok Pesantren Al-Zaytun itu sendiri. Dinaikkannya status perkara ke tahap penyidikan usai penyidik Dittipidum Bareskrim Polri menemukan unsur pidana dalam kasus penistaan agama tersebut. Hal itu dilakukan setelah penyidik Dittipidum Bareskrim Polri melaksanakan gelar perkara sesaat setelah memeriksa para saksi, ahli, juga pelapor serta terlapor. Selanjutnya, mantan komandan NII KW IX Amirul Mukminin selain merasa lega Panji Gumilang sudah jadi tersangka di depan hukum, dia berhadap agar ke depan keadilan harus ditegakkan. Sebab, selama ini memang sudah banyak masalah terkait sosok tersebut. ”Keputusan Polri ini akan mendinginkan suasana. Apalagi, sekarang sudah dekat pelaksanaan pemilu. Jadi kalau tidak segera diatasi, mengurangi kesolidan negara ini dalam menyambut pesta demokrasi,” kata Amirul Mukmin, Kamis (03/08/2023) malam. Menurut dia, apa pun itu sosok Panji Gumilang adalah orang penting di kalangan pengikut NII. Dia adalah khalifah gerakan itu saat ini. Tujuan NII pun sudah jelas, yakni ingin mendirikan negara Islam di Indonesia. Lucunya meski begitu Panji Gumilang selama ini dibiarkan bahkan terlihat dapat perhatian khusus dari pihak tertentu. Sedangkan Al Chaidar yang mengikuti dan meneliti sepak terjang Panji Gumilang sejak puluhan tahun lalu, yakni semenjak dia melakukan penelitian untuk skripsi di UI soal Darul, dia mengatakan sudah tak heran. Bahkan, dirinya sempat dimarahi oleh seorang mendiang guru besar UI yang membimbingnya agar tidak keluar dari lingkaran Ponpes Al Zaytun. ”Beliau kala itu sekitar tahun 2000-an memarahi saya kenapa keluar. Saya hanya jawab: ‘saya sudah tak tahan, Pak?’” Lebih lanjut Chaidar menyampaikan terkait Panji Gumilang ditetapkn sebagai tersangka, dirinya sangat sepakat dan dinilai langkah tersebut sangat tepat. “Kalau soal Panji Gumilang dijadikan polisi sebagai tersangka kasus penodaan agama, saya pun sepakat. Itulah pasal yang sangat tepat dituduhkan kepadanya. Jadi siapa pun ke depan yang memain-mainkan dan menghina agama akan ditindak oleh hukum secara tegas,” imbuhnya. Sedangkan melalui penelitiannya soal Darul Islam hingga NII KW IX, Al Chaidar menemukan fakta bahwa bagi kalangan Darul Islam di Indonesia, perjuangan mereka tidak sia-sia meskipun mengalami kekalahan definitif pada tahun 1962 karena diserang oleh Republik Indonesia. Mereka merasa bahwa mereka telah berjuang untuk menegakkan syariat Allah di bumi Indonesia dan membela hak-hak umat Islam. Mereka juga merasa bahwa mereka telah menepati perjanjian mereka kepada Allah sebagai bagian dari darul ahdi dan mereka berusaha mencari refuge (tempat hijrah) di luar Indonesia yang berkenan memberikan suaka politik. “Bagi mereka, Republik Indonesia adalah musuh yang harus dilawan karena tidak menerapkan hukum syariah dan mengancam eksistensi umat Islam. Mereka melihat Republik Indonesia sebagai Leviathan yang menakutkan dan zalim,” ujarnya. Hal ini terlihat dari wawancara dengan Faisal Utomo, salah satu anggota Darul Islam di Depok, pada 17 Juni 2019. Beliau mengatakan: “Kami tidak takut mati karena kami yakin bahwa kami akan masuk surga sebagai syuhada. Kami tidak mau tunduk kepada pemerintah kafir yang tidak menghormati agama kami. Kami ingin hidup dalam negara Islam yang damai dan adil.” Baiat (sumpah setia) orang-orang Darul Islam, pertama dan utama adalah menegakkan kalimah Allah, dan orang-orang Darul Islam menyatakan kesiapan untuk bersatu dengan mempertahankan berdirinya Negara Islam Indonesia. Orang-orang Darul Islam selama ini telah membangun keyakinan agama, politik, dan kesejarahan di tengah-tengah radikalisasi gerakan-gerakan Islam politik transnasional, yang begitu kuat memengaruhi banyak kalangan Muslim fundamentalis, intoleran, juga kalangan radikal untuk mengadopsi pola-pola perjuangan yang bersifat teroristik yang kemudian ditolak oleh kalangan NII yang asli. Sementara itu, faksi-faksi NII yang palsu sudah diidentifikasi sebagai ‘musuh eksternal’ yang tidak mewakili mereka sama sekali. Tindakan terorisme yang dilakukan oleh beberapa kalangan NII selama ini dianggap sama seperti tindakan yang dilakukan oleh PKI (Partai Komunis Indonesia), yang membakar rumah-rumah rakyat di Jawa Barat dan Jawa Tengah dan menuduh gerombolan NII yang melakukannya. (fq)

Read More

Beberapa Ormas Islam Yang Sudah Berdiri Sebelum Kemerdekaan Indonesia

Jakarta — 1miliarsantri.net : Ada banyak teori yang menyebutkan awal mula sejarah masuknya agama Islam ke Indonesia. Teori-teori tersebut juga memiliki bukti, sehingga dipercaya sejarah masuknya Islam ke Indonesia sesuai dengan teori-teori yang ada. Berbagai teori sejarah masuknya agama Islam ke Indonesia tersebut, dapat dipelajari dalam Ensiklopedi Sejarah Islam oleh Dr Raghib As-Sirjani. Misalnya teori India (Gujarat) yang dicetuskan oleh GWJ. Drewes lalu dikembangkan oleh Snouck Hurgronje dan kawan-kawan. Ada pula teori Arab (Mekah). Teori ini menyebutkan bahwa Islam masuk ke Indonesia langsung dari Arab (Mekah) pada masa kekhalifahan. Teori ini didukung oleh J.C. van Leur hingga Buya Hamka atau Abdul Malik Karim Amrullah. Teori Persia (iran) menyatakan asal mula sejarah masuknya Islam ke Indonesia dari Negara Persia (yang sekarang bernama Negara Iran). Teori ini didukung oleh Husen Djadjadiningrat dan Umar Amir Husen. Terdapat juga teori Cina yang menyebutkan asal mula sejarah masuknya agama islam ke Indonesia berasal dari Cina. Dalam buku Islam in Cina yang ditulis oleh Jean A. Berlie (2004) menyebutkan, relasi antara orang-orang Islam dari Arab dengan orang-orang di Cina terjadi pada tahun 713 Masehi. Di balik teori-teori tersebut, sejarawan sepakat Islam masuk ke Indonesia tanpa ada peperangan. Bahkan, umat Islam memiliki peran besar dalam kemerdekaan Indonesia. Dalam perkembangannya, agama Islam di Indonesia telah mengalami lika-liku perjalanan. Jika membaca perkembangan Islam di Indonesia sebelum kemerdekaan secara garis besar dapat dibagi dalam dua masa, yaitu pra-kolonialisme Barat dan Jepang, lalu masa kolonialisme Barat dan Jepang. Pada periode pertama, perkembangan Islam di Indonesia mulai berkembang pesat sejak awal abad ke-13 M. Para pendakwah mulai banting setir metode dakwah dengan mengakulturasikan antara budaya Nusantara dan agama Islam, sehingga Islam dapat diterima dengan baik karena bergandengan dengan budaya lokal yang telah dimodifikasi. Pada masa kolonialisme Barat, khususnya Belanda, Islam menghadapi tantangan yang luar biasa. Mereka datang tidak hanya membawa misi perdagangan, tetapi di sisi lain juga mengemban misi Kristenisasi. Ada tiga semboyan mereka yang terkenal, gold, glory, dan gospel (harta, kuasa, dan agama). Pada masa ini muncul berbagai gerakan-gerakan Islam di Indonesia yang melahirkan banyak organisasi Islam. Bahkan, ormas itu masih eksis hingga saat ini. Di antaranya: Sarekat Dagang Islam berdiri di Surakarta pada 16 Oktober 1905 M/16 Sya’ban 1323 H, yang dipelopori oleh Haji Samanhudi. SDI merupakan organisasi rahasia, karena penjajahan Pemerintah Kolonial Belanda yang sangat menekan masyarakat untuk bertindak melawan mereka. Haji Samanhudi melihat kebijakan politik dan para pengambil keputusan dipengaruhi oleh masalah pasar dan ekonomi. Berdirinya SDI merupakan salah satu bentuk kesadaran umat Islam untuk menguasai kembali pasar dan perekonomian yang menjadi sarana masuknya Pemerintah Kolonial Belanda ke Indonesia. Organisasi ini kemudian berganti nama menjadi Sarekat Islam (SI) yang ruang lingkup keanggotan serta tujuannya juga diperluas. Perubahan nama ini berawal pada 10 September 1912 di Surabaya, H.O.S Tjokroaminoto sebagai wakil dari pengurus SDI di Solo, membuat anggaran dasar organisasi yang baru. Dalam anggaran dasar itu, salah satunya berisi keputusan perubahan nama Sarekat Dagang Islam menjadi Sarekat Islam. Pada 20 Desember 1912, pembentukan Muhammadiyah secara resmi diumumkan dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh tokoh masyarakat, pejabat dan kerabat Keraton Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman. Tujuan utama dari organisasian ini adalah menegakkan dakwah Islamiah dalam arti seluas-luasnya. Hingga saat ini, organisasi masyarakat tertua di Indonesia ini masih eksis dan terus berupaya mengembangkan dakwah islam ke seluruh penjuru dunia. Fokus pergerakan Al Irsyad Al Islamiyah di bidang pendidikan dan dakwah. para tokoh di balik Al Irsyad Al Islamiyah adalah Ahmad Surkati, Syaikh Umar Mangqush, Said Mash’abi, Saleh Ubayd Abat dan Salim bin Alwad Bawa’i. Al-Irsyad lalu mendirikan ratusan sekolah formal dan lembaga pendidikan non-formal di seluruh Indonesia. Kegiatan Al-Irsyad juga merambah bidang kesehatan, dengan mendirikan beberapa rumah sakit. Berangkat dari komite dan berbagai organisasi yang bersifat embrional dan ad hoc, maka Nahdlatul ulama didirikan lebih sistematis mengantisipasi perkembangan zaman. Akhirnya muncul kesepakatan untuk membentuk organisasi yang bernama Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) pada 16 Rajab 1344 H/31 Januari 1926 M. Organisasi ini dipimpin oleh KH. Hasyim Asy’ari sebagi Rais Akbar. Dalam AD/ART NU tercantum, tujuan NU adalah untuk menjaga berlakunya ajaran Islam yang menganut paham ahlussunnah wal jamaah (aswaja). Lebih lanjut, Nahdlatul Ulama (NU) juga bertujuan untuk mewujudkan tatanan masyarakat yang berkeadilan demi kemaslahatan dan kesejahteraan umat dan demi terciptanya rahmat bagi semesta alam. Di gang ini awal mulanya berdiri sebuah organisasi pembaharuan Islam yang bersemboyan “kembali kepada Al-Qur’an dan sunnah, serta membersihkan Islam dari khurafat, bid’ah dan seluruh pemahaman yang mengotori kesakralannya”. Organisasi ini didirikan pada 12 September 1923 oleh Haji Zamzam dan Haji Mohamad Yunus di Bandung. Organisasi ini sering berkecimpung dalam penerbitan buku-buku dan pendidikan lainnya. Organisasi ini mempunyai satu badan yang bernama “Sending Islam” yang sangat besar jasanya dalam pengislamisasikan masyarakat di Tanah Karo, Tapanuli Utara/Tengah dan Simelungun. Pemuda di organisasi ini diberi nama Washliyah. (fq)

Read More