Napak Tilas Pangeran Purbaya, Purba Sultan Agung Mataram Dalam Mesyiarkan Islam Hingga Akhir Hayat

Tegal — 1miliarsantri.net : Dahulu kala, sebuah pesantren diyakini pernah berdiri di Desa Kalisoka, Kecamatan Adiwerna, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Pesantren inilah yang menjadi cikal bakal dan pusat penyebaran Islam di Tegal hingga daerah lain di sekitarnya. Tak jauh dari pesantren tersebut, terdapat sebuah masjid yang terbuat dari kayu jati. Kini keberadaan pesantren itu sudah tak berbekas. Hanya bangunan masjid yang masih kokoh berdiri dengan beberapa bagian bangunan masih asli dan digunakan masyarakat setempat untuk beribadah. Di masjid inilah jejak Pangeran Purbaya, pendiri pesantren masih bisa dijumpai. Pangeran Purbaya adalah salah satu putra dari Sultan Agung, raja Mataram yang berpusat di Yogyakarta. Pangeran Purbaya diyakini pernah hidup di Kalisoka untuk menyiarkan Islam hingga akhir hayatnya. Sosoknya juga dipercaya sebagai seorang wali yang memiliki karomah atau kesaktian yang bersumber dari Allah SWT. Di Kalisoka, Pangeran Purbaya mendirikan masjid dan pesantren untuk mendukung kegiatan syiarnya. Di masjid dan pesantrean itu rutin digelar pengajian untuk masyarakat. Keberadaan masjid dan pesantren ini membuat Desa Kalisoka juga dikenal dengan nama Kalisoka Pesantren. Pangeran Purbaya wafat dan dimakamkan di Kalisoka. Kini, makamnya masih diziarahi puluhan ribu orang setiap malam Jumat kliwon untuk berdoa dan ngalap (minta) berkah. Para peziarah datang berbagai daerah di Tanah Air. Juru kunci makam Pangeran Purbaya, Ahmad Agus Hasan Ali Sosrodiharjo (64) menjelaskan,, kedatangan Pangeran Purbaya ke Kalisoka bermula ketika dia meyanggupi tantangan ayahnya untuk menangkap Pasingsingan, orang Budha dari Jawa Barat. Raja Mataram mengeluarkan perintah penangkapan karena Pasingsingan dianggap mengganggu ketenteraman keraton. “Pada saat itu di keraton, keluarga besar Mataram mau makan diganggu oleh Pasingsingan dari luar keraton dengan kesaktiannya. Semua makanan dibuat hilang. Kanjeng Sultan Agung marah besar,” tuturnya. Lalu beliau mengumpulkan putra-putrinya dan bertanya siapa yang bisa menangkap Pasingsingan. Yang mengangkat tangan Pangeran Purbaya. Masih berdasarkan versi cerita yang didengar Ahmad leluhurnya yang juga menjadi juru kunci, Pangeran Purbaya dengan nama samaran Ki Jadug Silarong kemudian berangkat ke arah utara untuk menangkap Pasingsingan dengan membawa dua batalion pasukan keraton. Setelah melewati sejumlah daerah seperti Purworejo, Purbalingga, dan Purwokerto, Pangeran Purbaya akhirnya bertemu dengan Pasingsingan di sebuah tegalan yang kini masuk wilayah Kota Tegal. Keduanya lalu bertarung dengan kesaktian yang dimiliki masing-masing hingga Pasingsingan kewalahan dan kabur ke arah selatan Tegal, ke sebuah daerah yang kini masuk wilayah Brebes. Di daerah yang berupa pesawahan, Pasingsingan sujud dan minta maaf kepada Pangeran Purbaya. Pangeran Purbaya kemudian memaafkan. Sedangkan perjanjian dengan ayahnya, kalau tidak bisa menangkap Pasingsingan, Pangeran Purbaya tidak boleh kembali lagi ke keraton. “Akhirnya Pangeran Purbaya jalan lagi ke utara, dan sampai di daerah yang sekarang bernama Kalisoka. Saat itu Kalisoka masih berupa hutan. Jadi Pangeran Purbaya babat alas,” katanya. Ahmad menambahkan, Pangeran Purbaya memiliki istri yang merupakan anak dari Ki Gede Sebayu, sosok ulama yang dipercaya sebagai pendiri Kabupaten Tegal. Sebelum bisa mempersunting putri Ki Gede Sebayu, Pangeran Purbaya lebih dulu harus mengikuti sayembara bersama 24 raja dari sejumlah daerah. Sayembaranya adalah merobohkan pohon jati di sebuah wilayah yang kini bernama Adiwerna. “Sayembaranya merobohkan pohon jati tanpa alat. Tangan kosong. Ternyata yang 24 orang enggak mampu. Yang mampu hanya Pangeran Purbaya. Akhirnya Pangeran Purbaya dinikahkan dengan putri Ki Gede Sebayu, oleh Anggowono, putra Ki Gede Sebayu yang lain,” terangnya. Menurut Ahmad, pohon jati yang berhasil dirobohkan dengan cara ditendang itu kemudian diminta Anggowono untuk dibawa Pangeran Purbaya ke Kalisoka dan kayunya digunakan untuk membangun masjid. “Jadi masjid peninggalan Pangeran Purbaya terbuat dari jati yang digunakan dalam sayembara. Jati itu sangat besar. Tidak ada yang tahu bagaimana Pangeran Purbaya membawanya ke sini,” kata Ahmad yang sudah 17 tahun menjadi juru kunci ini. Ahmad mengatakan, dalam proses pembangunan masjid, Pangeran Purbaya juga berhubungan dengan Wali Songo. Bahkan dia meyakini Pangeran Purbaya adalah wali kesembilan. “Pangeran Purbaya itu wali yang kesembilan dengan nama Sayid Syekh Abdul Ghofar Assegaf,” ucapnya. Selain makam Pangeran Purbaya, di dalam kompleks makam juga terdapat makam sejumlah keturunan dan murid Pangeran Purbaya dari Brebes, Tegal, dan Pemalang. Pangeran Purbaya sendiri memiliki enam anak, namun tidak seluruhnya terlacak jejaknya. “Anak-anak Pangeran Purbaya bernama Ki Ageng Umar, Ramidin, Khanafi, Hasan Mukmin, Kiai Abdul Ghoni, dan Kiai Basar,” pungkasnya. (hud)

Read More

Kelembutan Nabi Musa AS Dalam Menghadapi Firaun

Jakarta — 1miliarsantri.net : Firaun dikenal sebagai raja yang sangat kejam dan biadab. Dia tak ragu membunuh semua anak lelaki di Mesir karena takut dikejar mimpi. Tak hanya itu, ke sombongan Firaun karena kekuasaannya membuatnya merasa sebagai Tuhan yang layak disembah. Untuk mengingatkan Firaun, Allah pun mengutus Musa setelah terlebih dahulu memberinya mukjizat. Allah tidak menyuruh Musa untuk memerangi Firaun. Dia memerintahkan Musa dan Harun agar menghadap raja yang sombong itu. Mereka diperintahkan untuk berdakwah dengan katakata yang lembut. Lewat kelembutan itu, Firaun diharapkan ingat jika dia adalah makhluk. “Pergilah kamu berdua ke pada Firaun. Sesungguhnya ia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lembut. Mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS Thaha: 43-44). Betapa indah firman Allah ke pada Musa. Allah tetap meminta Musa untuk bersikap lemah lembut dan ramah kepada diktator seperti Firaun. Dalam mengomentari ayat itu, Ibnu Abbas mengatakan, firman itu bertujuan agar Musa dan Harun melihat kenyataan jika Firaun adalah seseorang yang memiliki kekuasaan (kerajaan). Karena itu, mereka sebaiknya menempuh cara yang ramah. Musa pun berkata kepada Fir aun. “Jika engkau menerima ajak an kami, Allah akan menjadikan kekuasaan ini tetap ber ada padamu. Allah bahkan akan benar-benar menguatkan kedudukanmu lebih dari sekarang.” Aidh al-Qarni dalam Sentuhan Spritual Aidh al Qarni menjelaskan, lewat cara ini, mudah-mudahan Firaun ingat akan firman Allah yang telah dilimpahkan kepada-Nya. Adakalanya manusia bersedia menerima sesuatu disebabkan ketertarikan. Selain itu, mereka bisa menerima ajakan melalui intimidasi terlebih dahulu. Karena itu, selayaknya dai mengetahui celah mana agar cara tersebut bisa menyentuh ke hati sehingga ajakan itu pun bisa diterima. Musa pun mendatangi Firaun dengan Harun berada di sisinya. Meski dikisahkan bahwa mereka merasa takut Firaun akan me nyik sanya, Allah SWT Maha Mengetahui apa yang dua utusan- Nya itu rasakan. “Janganlah kamu berdua khawatir. Sesungguhnya Aku bersama kamu ber dua. Aku mendengar dan melihat.” (QS Thaahaa: 46). Musa berbicara kepada Firaun. Harun bertugas menguatkan dan membantu Musa. Raja yang kejam itu menatap keduanya de ngan angkuh. Ia mendeklarasikan diri sebagai pencipta. Dia pun mengingkari tauhid kepada Tu han semesta alam meski hatinya yakin adanya kebenaran keberadaan Allah SWT. “Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Tuhan yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata. Dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Firaun, seorang yang akan binasa. ” (QS al-Isra:102). Firaun hanya tertawa ketika Musa mengajaknya ke jalan Allah. Dia justru merendahkan Musa dan Harun. Musa dilihatnya sebagai seorang penggembala ternak dan lelaki bodoh yang selalu membawa tongkat gem bala—seorang lelaki yang tidak mengerti per adaban. Firaun ma lah memban ding kan Musa de ngan dirinya yang notabene se orang raja besar. Du nia di bawah cengkeraman ke kua saannya. Ke sombongannya pun semakin besar. Alquran mencatat betapa Fir aun mengajukan pertanyaan yang merendahkan Musa. “Berkata Firaun, maka siapakah Tuhanmu berdua, hai Musa?” (QS Thaahaa: 49). Musa pun menjawab, “Tuhan kami adalah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, ke mudian memberikan petunjuk.” (QS Thaahaa: 50). Dengan jawaban itu, Musa se sungguhnya telah memberikan “tamparan keras” kepada Firaun. Ucapan khalqahu (bentuk kejadiannya) menyimpan setumpuk iba rat. Demikian pada ucapan haa daa (memberi petunjuk). Kalimat ini memberikan penjelasan jika Tuhan Musa pemberi petunjuk kepada segala sesuatu. Dia yang memberi petunjuk kepada sang bayi yang dilahirkan. Bayi yang tidak mengetahui dan me lihat sesuatu ditunjukkan oleh Allah hingga mencapai susu ibunya. Mendapatkan jawaban ini, Firaun terpukul. Dia hanya bisa terdiam. Kelemahannya tampak jelas sebagai sebuah kegagalan. Namun, Firaun pun mencoba me lemparkan pertanyaan lain. “Ber kata Firaun, ‘Maka bagaimana kah keadaan umat-umat yang dahulu?’ (QS Thaahaa: 51). Musa menjawab, “Pengetahu an tentang itu ada di sisi Tu han ku. Di dalam sebuah kitab. Tuhan kami tidak akan salah dan tidak akan lupa.’” (QS Thaahaa: 52). Jawaban Musa merupakan pu kul an kedua yang telak untuk Firaun. Jawaban yang membuka kelemahan Firaun di hadapan kaumnya sendiri. Ada beberapa pelajaran me narik yang bisa diambil dari ki sah Musa dan Firaun di atas. Pertama, berpegang teguhlah kepada kali mat lailaahaillallah. Untuk menegakkan kalimat ini lah sesungguhnya kitab-kitab itu diturunkan. Untuk kepentingan tauhid sesungguhnya para rasul diutus. Untuk tujuan yang sama, langit, bumi, dan seisinya diciptakan. Pelajaran berikutnya adalah masalah kemenangan. Allah akan selalu menolong para wali-Nya dan akan menguatkan para keka sih-Nya. Meski mereka terlihat sebagai orang kalah dan terpinggirkan, maka sesungguhnya me reka akan menuai hasil dari kerja kerasnya. Berikutnya, tentang teknik ber dakwah. Bagaimana seorang penyeru kebenaran bisa mengeta hui celah yang bisa dilalui un tuk me nyentuh hati lawan bicara, yak ni dengan menghilangkan si kap ka sar yang dapat melukai pe rasaan. Kemudian, seorang Muslim tidak perlu merasa khawatir dan takut. Sesungguhnya jiwa manu sia berada dalam genggaman Allah. (fq)

Read More

Santri Harus Siap Menghadapi Tantangan Teknologi

Surabaya — 1miliarsantri.net : Teknologi yang terus berkembang hingga saat ini memberikan manfaat sekaligus tantangan tersendiri untuk sejumlah kalangan, termasuk bagi kalangan santri. Manfaat yang dimaksud salah satunya kemudahan mengakses aneka kebutuhan secara langsung. Pada dunia santri misalnya, dahulu, para santri di forum bahtsul masail harus membawa puluhan kitab. Namun sekarang cukup dengan membawa laptop (Maktabah Syamilah). Semua dokumen kitab bisa tersimpan di dalamnya. Ini semua merupakan bagian dari fenomena-fenomena teknologi. “Karena salah satu penyebabnya adalah tersedianya instrumen atau alat-alat tujuan di mana semua orang bisa mencari dan mengakses segala informasi dengan cepat,” terang Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa kepada media, Selasa (01/08/2023). Menurutnya, situasi ini di satu sisi tentu akan memaksa seseorang meninggalkan budaya atau tradisi yang dahulu sudah berjalan. Tidak terkecuali budaya di kalangan santri, sebagaimana disinggung sebelumnya. “Bahwa dunia lagi muncul fenomena-fenomena teknologi. Fenomena orang yang sudah mulai satu dari sekian juta meninggalkan tradisi klasik,” imbuhnya. Pada kesempatan ini, Kiai Zulfa juga menyinggung tentang munculnya kecerdasan buatan atau Intelegensi Artifisial (IA) yang lebih canggih daripada google. Kalau google mempunyai fungsi hanya menghimpun data, sedangkan IA bisa mengelola data dan bisa diperintahkan sesuai keinginan pengguna. Fenomena yang mengagetkan dunia baru-baru ini juga akan memberikan konsekuensi tersendiri kehidupan masyarakat. Kiai Zulfa kemudian mencontohkan kecerdasan dari IA. “Kalau dulu orang berkhutbah atau ceramah harus membuka kitab terlebih dahulu, namun sekarang dengan adanya Intelegensi Artifisial. Kita bisa perintahkan untuk membuatkan materi tentang khutbah atau ceramah dengan segala tema dan bahasa,” ucapnya. Kendati situasi semakin canggih, Kiai Zulfa menegaskan bahwa keberadaan pondok pesantren dan segala budaya yang dimiliki harus dipertahankan karena di pesantren inilah menyimpan ajaran dan tradisi yang tidak dimiliki oleh IA sekalipun. Seperti pola pengajaran di pesantren dan sanad keilmuan. “Sehebat-hebatnya google dan intelegensi artifisial (IA) yang membedakan dengan kiai dan ulama adalah sanad. Para kiai dan ulama bisa membimbing dan mendidik kita, sedangkan Google dan IA tidak bisa membimbing dan mendidik kita, karena dia hanya sebuah mesin dan tidak bersanad,” tegasnya. (har)

Read More

Gus Nadir : Konteks Pancasila Sebenarnya Sudah Ada Jaman Walisongo

Sydney — 1miliarsantri.net : Rais Syuriyah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama ((PCINU) Australia dan New Zealand Prof Nadirsyah Hosen, menegaskan, Pancasila sebenarnya sudah ada sejak zaman Walisongo. Presiden Soekarno tinggal menyistematisasikannya. Ketika Bung Karno menyistematisasikan Pancasila, sejatinya sedang menggali nilai-nilai yang diajarkan Wali Songo. “Sehingga ketika sekarang kita berbicara kemanusiaan yang adil dan beradab maka kita melihat bahwa ternyata simbol sila ke-2 pancasila dalam diri kita adalah menara Kudus. ini yang tidak bisa dilupakan begitu saja karena sila tersebut cocok dengan apa yang diajarkan oleh kiai-kiai yang ada di pondok pesantren,” paparnya. Guru Besar Universitas Monash Australia itu menjelaskan, KH Mustofa Bisri (Gus Mus) sering mengatakan dalam berbagai forum bahwa agama itu harus memanusiakan kembali sisi kemanusiaan. Jika agama membuat kita tidak kembali kepada jati diri kemanusiaan, maka ada sesuatu yang salah dalam doktrin dalam tafsir atau dalam pemahaman agama itu. Menurutnya, ketika Ketuhanan Yang Maha Esa dilanjutkan dengan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, maka semua pelaksanaan ajaran agama tidak boleh membuat seseorang menjadi manusia yang penuh ketidakadilan dan kebiadaban. Karena lawan dari adil adalah zalim maka sebagai manusia tidak boleh berlaku zalim. “Kita boleh membenci perilaku orang lain, sikap orang lain, tidak tanduk orang lain, tetapi kita tidak boleh membenci diri orang lain. Itu karena kita sesama manusia, dan setiap manusia itu mempunya roh ilahi yang dihembuskan dan membuat kita bernyawa,” kata Gus Nadir. Dalam salah satu hadits shahih menjelaskan, ketika ada iring-iringan jenazah orang Yahudi lewat, Nabi Muhammad berdiri menghormati. Lalu, para sahabat mengatakan kepada Nabi bahwa yang lewat itu jenazah Yahudi. “Tapi, bukankah dia manusia. Jadi, yang dilihat pertama bukan Yahudinya, tetapi manusianya. Karena itu, kita memanusiakan kembali kemanusiaan kita dan kita harus beradab,” tuturnya. “Tidak cukup kita hanya bersikap kemanusiaan kita yang adil tapi juga harus beradab. Yang paling penting lagi adalah bahwa yang dihasilkan oleh Sunan Kudus bentuknya adalah menara merupakan sebuah simbol peradaban manusia yang kemudian harus kita hormati sebagaimana kita menghormati tradisi intelektual di belahan dunia Islam saat itu,” ujarnya. Ia merasa bahwa benang merah yang menyatukan antara kemanusiaan yang adil dan kemanusiaan yang beradab itu adalah budaya. Tidak mungkin memiliki kemanusiaan yang adil dan tidak mungkin bisa kemanusiaan yang beradab jika menghilangkan tradisi. “Persoalannya sekarang adalah sejauh mana perhatian pemerintah terhadap hal-hal tersebut. Termasuk menara Kudus yang menjadi simbol dari kemanusiaan yang adil dan beradab,” kata Gus Nadir. “Mari kita suarakan kepada pihak pemerintah bahwa jika ingin melihat tonggak munculnya Islam Nusantara di Tanah Air, atau jika hendak melihat Indonesia sebagai laboratorium perdamaian dunia, melihat bahwa Indonesia sebagai contoh peradaban dunia yang adil dan beradab, maka pemerintah tidak boleh lepas tanggung jawab terhadap menara Kudus,” pungkasnya. (gir)

Read More

Panji Gumilang Ditetapkan Sebagai Tersangka Kasus Penistaan Agama Dan Langsung Ditahan

Jakarta — 1miliarsantri.net : Bareskrim Mabes Polri akhirnya resmi menetapkan Pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Zaytun Indramayu, Jawa Barat, Panji Gumilang sebagai tersangka kasus penistaan agama dan langsung ditahan. Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigjen Djuhandani Rahardjo Puro, menyampaikan, penetapan tersangka ini sejalan dengan naiknya status kasus ini ke penyidikan. “Semua menyatakan sepakat untuk menaikkan saudara PG menjadi tersangka. Penyidik langsung memberikan surat perintah penangkapan disertai dengan penetapan sebagai tersangka,” ujar Djuhandani Rahardjo Puro kepada media di Bareskrim Polri, Jakarta, Selasa (01/08/2023). Djuhandani menambahkan, Penyidik Bareskrim Polri menetapkan Panji Gumilang sebagai tersangka dalam kasus penistaan agama berdasakan hasil dalam proses gelar perkara semua menyatakan sepakat untuk menaikkan saudara PG menjadi tersangka. “Penyidik sampai saat ini masih melakukan pemeriksaan terhadap Panji usai menetapkannya sebagai tersangka,” tambahnya. Dia mengungkap Panji dijerat Pasal 156A tentang Penistaan Agama dan atau Pasal 45A ayat (2) juncto Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang ITE dan atau Pasal 14 UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dengan ancaman hukuman 10 tahun penjara. (wink)

Read More

Diduga Gerbang Raksasa Kerajaan Kuno Ini Dibangun Tahun 930 M

Mojokerto — 1miliarsantri.net : Beberapa peninggalan kerajaan Majapahit banyak yang tersebar di Provinsi Jawa Timur (Jatim), seperti candi atau situs sejarah lainnya. Hal tersebut mengingat konon pusat kerajaan Majapahit pada saat itu terletak di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Sebagai salah satu kerajaan terbesar di Indonesia, jelas masih banyak terdapat peninggalan Majapahit yang terkubur di wilayah Jatim. Oleh karena itu, pencarian situs-situs sejarah peninggalan Majapahit masih dilakukan oleh para ahli, baik yang berasal dari dalam negeri sendiri maupun para arkelolog dari luar negeri. Namun, justru yang ditemukan adalah diduga gerbang raksasa yang berada di situs Gemekan peninggalan Mataram Kuno. Situs tersebut berada di Dusun Kedawung, Desa Gemekan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, Jatim. Lokasinya tak jauh dari pusat kerajaan Majapahit di Kecamatan Trowulan, hanya sekitar 5 kilometer. Usia dari candi yang berada di situs tersebut diduga lebih tua dari Kerajaan Majapahit. Melihat dari penemuan prasasti di situs tersebut, diperkirakan candi tersebut dibuat pada tahun 930 Masehi. Candi itu lebih tua dari berdirinya Kerajaan Majapahit, yang didirikan sekitar abad ke-12 Masehi. Situs Gemekan diduga peninggalan era Mataram Kuno yang ditemukan di area tengah persawahan warga setempat. Candi tersebut diduga dikelilingi oleh struktur pagar dengan ketebalan mencapai 58 cm. Pagar itu berbahan bata yang terlihat masih bagus dan utuh tidak lapuk oleh tanah. Selain itu, pecahan-pecahan barang berharga lainnya seperti tembikar juga ditemukan di dalam area itu. Situs Gemekan adalah peninggalan Mataram Kuno pra Majapahit era era Sri Maharaja Empu Sindok. Situs tersebut memiliki dua lapis dinding, yang di area tengahnya terdapat sebuah candi. Dari dinding luar ke dalam memiliki jarak sekitar 3 meter, dan dari candi ke dinding dalam berjarak 10 meter. Pagar situs tersebut memiliki panjang lebih dari 40 meter, yang sekilas mirip Candi Sambisari di Sleman. Candi yang diduga lebih tua dari Majapahit itu memiliki gerbang raksasa di antara pagar yang mengelilinginya. (sin)

Read More

Indonesia Mendapat Penghargaan Pemerintah Kerajaan Saudi

Jeddah — 1miliarsantri.net : Pemerintah Kerajaan Saudi memberikan penghargaan kepada Pemerintah Indonesia sebagai negara pengirim jamaah haji terbanyak. Selain Indonesia, Pakistan dan Bangladesh juga mendapat apresiasi serupa dari Pemerintah Saudi. Penghargaan diberikan langsung oleh Wakil Menteri Haji dan Umrah Kerajaan Saudi, Abdul Fattah Mashat di Jeddah. Dari Indonesia, hadir Konsul Haji KJRI Jeddah Nasrullah Jasam. Sebagaimana diketahui, tahun ini Indonesia mendapat porsi 221.000 kuota haji. Selain itu, ada tambahan 8.000 sehingga total kuotanya adalah 229.000 jemaah haji, terdiri atas haji reguler dan haji khusus. Sementara kuota Pakistan sekitar 179.000 dan Bangladesh 127.000. “Kementerian Haji dan Umrah menggelar acara apresiasi di Jeddah untuk semua instansi yang terlibat dalam pelaksanaan ibadah haji 1444 H. Indonesia, Pakistan, dan Banglades, sebagai representasi negara pengirim jemaah terbesar, mendapat apresiasi. Saya hadir mewakili Indonesia,” terang Nasrullah di Jeddah, Senin (31/07/2023). Nasrullah menambahkan, apresiasi diberikan sebagai bentuk penghargaan atas kerjasama dalam proses pelayanan jamaah haji, utamanya selama masa kedatangan dan kepulangan jemaah. “Jadi ini khususnya terkait dengan pelayanan di Jeddah, atas sinergi pelayanan dengan GACA, Wukala, Keamanan Bandara, termasuk dalam proses layanan fast track, dan program lainnya,” jelas Nasrullah. “Pada tahun 2022 lalu Indonesia juga mendapat penghargaan yang sama. Saat itu, penghargaan diberikan kepada Indonesia, Pakistan, dan India. Tahun ini, Indonesia kembali mendapat penghargaan, bersama Pakistan dan Bangladesh,” tegasnya. Operasional ibadah haji Indonesia saat ini masih berlangsung. Data Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) mencatat hingga pukul 06.00 waktu Arab Saudi, sudah ada 188.251 jemaah haji Indonesia yang pulang ke Tanah Air. Mereka tergabung dalam 500 kelompok terbang (kloter). Pada fase kedatangan, tercatat ada 558 kloter yang tiba di Arab Saudi dengan 209.782 jemaah haji reguler. “Sebagian jemaah haji reguler asal Indonesia, saat ini masih di Madinah. Kloter terakhir dari Madinah akan terbang pada 4 Agustus 2023 dan itu sekaligus menandai berakhirnya operasional hajj Indonesia tahun ini,” pungkasnya. (dul)

Read More

Gus Baha : Muslim Sangat Perlu Belajar dan Menguasai Ilmu Fiqih

Jakarta — 1miliarsantri.net : Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU,) KH Bahauddin Nur Salim (Gus Baha) kembali menjelaskan betapa pentingnya memahami ilmu fiqih dalam beragama. Dia mengatakan para kiai ahli fiqih harus bangga karena ilmu atau kealiman yang dimiliki. “Sebab, kalau kita menjadi wali, mungkin yang sowan kepada kita akan banyak dan gulamu (untuk menggambarkan hadiah yang diberikan saat seseorang sowan) banyak. Tapi kalau kita menjadi seorang yang ahli ilmu atau alim, orang yang mengaji kepada kita akan banyak dan orang yang menjadi tahu soal ilmu fiqih juga banyak,” terang Gus Baha, Senin (31/07/2023). Saat mengisi pengajian umum dalam rangka haul Kiai Ahmad Mutamakkin di Desa Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah Kamis (27/07/2023), Gus Baha mengatakan di era modern ini agak ruwet dengan adanya fenomena orang yang tidak mandi, rambutnya gondrong, di pinggir gunung dan tidak pernah keluar, sudah dianggap wali. Berbeda dengan orang alim yang mandi, dandanannya rapi dan pakai parfum, pasti tidak akan ada yang menganggapnya wali. “Padahal bisa saja dia (yang dandanannya rapi) wali,” lanjutnya. Gus Baha menyebut, bila seseorang menjadi wali yang mendapatkan manfaat adalah diri pribadi orang itu saja, sebab orang itulah yang diberi uang, misalnya, dan dihormati. Namun jika menjadi alim, yang akan mendapat manfaat yakni agama Islam. Dengan alim atau ahli fiqih, orang-orang menjadi mengaji kepada orang alim tersebut. “Jadi orang-orang ingin belajar fiqih, cara shalat, cara haji, cara istinja’, dan belajar Islam secara benar,” ungkapnya. Kealiman atau kedalaman ilmu tersebut, menurut Gus Baha juga sesuai khazanah keluarga Kiai Kajen yang ta’dimul ilmi atau ilmu adalah segala-galanya. Pada kesempatan itu, Gus Baha juga mengisahkan bahwa ia pernah mendengar cerita Mbah Mu’adz Thohir, pengasuh Pondok Pesantren Kulon Banon dan Pondok Pesantren Roudhoh At-Thohriyyah Kajen. “Dulu ada anak Kajen yang hendak mondok di suatu pondok pesantren. Karena mushalanya ada najis dan tidak disucikan, akhirnya anak tersebut tidak jadi dipondokkan di situ,” kisahnya. Menurut Gus Baha, ukuran atau standar akan hal itu adalah ilmu fiqih. “Jadi kalau ada orang ahli fiqih yang memetik buahnya ialah agama Islam. Karena orang-orang jadi tahu halal haram, cara bersuci, cara shalat dan lain sebagainya,” pungkas Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Quran LP3IA ini. (fat)

Read More

Mbah Kholil Sudah Membaca Nadzom Alfiyah Secara Terbalik

Surabaya — 1miliarsantri.net : Siapa yang tidak kenal atau minimal pernah mendengar nama Syaikhona Kholil (Mbah Kholil) Bangkalan, Madura. Beliau adalah seorang ulama besar yang sangat masyhur dan dikenal sebagai maha guru para kiai dan ulama Nusantara. Santri-santrinya banyak yang kemudian menjadi ulama berpengaruh di Indonesia, di antaranya adalah pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asy’ari dan juga beberapa tokoh kyai lainnya. Merujuk pada buku “99 Kiia Kharismatik Indonesia: Riwayat, Perjuangan, Doa, dan Hizib” terbitan Keira, Syaikhonan Kholil lahir di Kampung Senenan, Desa Kemayoran, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, Pulau Madura pada 11 Jumadil Akhir 1235 H/1820 M. Ayahnya, KH Abdul Latif kemudian memberinya nama Muhammad Kholil. Kiai Latif berharap putranya ini kelak menjadi pemimpin umat. Seusai mengadzani telinga kanan dan mengiqamati telinga kiri sang bayi, Kiai Latif memohon kepada Allah agar mengabulkan permohonannya. Sejak kecil Mbah Kholil sudah menunjukkan kecerdasan dan keistimewaannya, di mana ia sudah hafal dengan baik nazham Alfiyah Ibnu Malik, seribu bait ilmu nahwu. Bahkan, saking cerdasnya, Kholil mampu menghafal nazham ini secara terbalik, dari bait paling akhir ke bait depan atau dalam istilah Jawa disebut dengan nyungsang. Adalah sangat memalukan jika seorang santri atau bahkan kiai membaca kitab kuning tanpa memperhatikan atau bahkan menyalahi kaidah tata bahasa Arab yang baik dan benar. Suatu kesalahan kecil dalam membaca kitab kuning dalam tradisi pesantren dapat mengurangi muruah seorang santri atau kiai. Kegandrungannya pada bait-bait alfiyah ini ia bawa sampai tua. Sering orang bertanya tentang berbagai hal, termasuk hal-hal gaib, ia jawab dengan satu dua bait nazham Alfiyah. Ini dimaksudkan agar orang yang bertanya tersebut mau berpikir lebih lanjut atau malah mau belajar Alfiyah. Ia pun memberikan apresiasi tinggi kepada orang-orang yang hafal nazham Alfiyah. Kiai Kholil sangat gemar akan kitab Alfiyah, sehingga ketika santrinya akan pulang ke kampung halamannya dan meminta izin kepadanya, maka yang dijadikan syarat adalah menghafal Alfiyah. Jika santrinya tersebut tidak hafal, maka ia tidak akan diberikan izin. (har)

Read More