Meraih Cinta Kasih Allah melalui Akhlak Mulia

Surabaya — 1miliarsantri.net : Kisah cinta kepada Allah terpatri dalam firman-Nya, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai dan mengampuni dosa-dosamu” (QS. Ali Imran/3:31). Kata-kata ini menjadi panggilan kepada setiap jiwa yang merindukan kasih-Nya. Sebuah perjalanan spiritual dimulai dengan mengikuti jejak Rasulullah yang mencintai Allah dengan sepenuh hati. Orang yang sungguh mencintai Allah akan menjadikan-Nya sebagai pusat kehidupan. Cinta kepada Allah bukan hanya ungkapan kata, tetapi juga tindakan nyata. Mencintai Allah berarti mengutamakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Inilah tuntunan yang akan membawa kepada akhlak mulia yang dicintai-Nya. Cinta kepada Allah terwujud melalui peneladanan dan pengamalan ajaran-Nya. Rasulullah, sebagai utusan-Nya, telah menyampaikan ajaran tersebut dengan sempurna. Dalam risalah dan penjelasannya, Beliau menjelaskan segala akhlak mulia yang Allah cintai. Oleh karena itu, langkah pertama dalam meraih cinta-Nya adalah memahami dan meneladani ajaran tersebut. Rasulullah tidak hanya berbicara, tetapi juga mengamalkan nilai-nilai luhur Islam. Keutamaan cinta kepada Allah terletak pada ketaatan kepada-Nya dan menjauhi perilaku tercela yang diharamkan. Maka, langkah selanjutnya adalah menjauhi akhlak-akhlak tercela yang terlarang dalam syariat-Nya. Ini adalah jalan yang mengantar kepada puncak cinta kepada Allah. Dalam petunjuk-Nya, Rasulullah telah memperingatkan umatnya dari perilaku yang dibenci dan diharamkan oleh Allah. Melalui lisan dan perbuatan, Beliau memberikan contoh nyata tentang apa yang dicintai dan dibenci oleh Allah. Meneladani Rasulullah berarti menjauhi segala bentuk kemurkaan-Nya dan meraih ridha-Nya. Cinta kepada Allah tidak hanya berarti mencintai-Nya, tetapi juga mencintai apa yang dicintai-Nya dan membenci apa yang dibenci-Nya. Dengan itulah seorang hamba dapat mencapai tingkatan cinta yang sesungguhnya. Oleh karena itu, perjalanan spiritual ini mengajarkan bahwa mencintai Allah bukanlah sesuatu yang hampa, melainkan sebuah pengorbanan dan keteladanan. Cinta kepada Allah bukan hanya konsep teoritis, melainkan suatu realitas yang dapat diraih melalui amal perbuatan sehari-hari. Merupakan suatu kebahagiaan dan keberuntungan besar bagi seorang hamba jika ia mampu menjadikan Rasulullah sebagai panutan dalam setiap langkah hidupnya. Dengan demikian, cinta kepada Allah bukanlah cita-cita yang tidak tercapai, melainkan suatu perjalanan yang berliku namun penuh berkah. Dalam meraih cinta Allah, mengikuti jejak Rasulullah adalah kunci utama. Dengan memahami dan mengamalkan ajaran-Nya, seorang hamba dapat membangun hubungan yang kokoh dengan Sang Pencipta. Inilah esensi dari sebuah cinta yang tulus dan abadi, yang membawa kebahagiaan di dunia dan akhirat. (yat) Baca juga :

Read More

Warga Gaza Sudah Tidak Ada Lagi Tempat Untuk Berlindung

Gaza — 1miliarsantri.net : Ketua tim Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB, Gemma Connell, mengatakan banyak warga Palestina di Gaza yang mengikuti perintah tentara Israel untuk mengungsi dan pindah ke tempat yang ditetapkan sebagai zona aman tidak dapat tempat di lahan yang sudah sangat padat. Connell sudah bertugas di Gaza selama beberapa pekan. Ia menggambarkan situasi ini sebagai “papan catur manusia.” Di mana ribuan pengungsi harus kembali mencari tempat perlindungan dan tidak ada jaminan tujuan mereka akan aman. Selama beberapa pekan terakhir Amerika Serikat (AS) menekan Israel mengambil langkah lebih jauh untuk memperkecil jumlah korban sipil dengan menetapkan zona aman dan memastikan rute kemanusiaan yang dapat digunakan pengungsi melakukan perjalanan dengan aman. “Warga menuju selatan dengan memasukan matras dan semua benda mereka ke dalam van dan truk dan mobil untuk mencoba dan menemukan tempat aman,” kata Connell di Deir al-Balah, Gaza tengah, Kamis (28/12/2023). Dia menambahkan bahwa dirinya sudah berbicara dengan banyak orang, ruang yang tersisa di Rafah ini sangat kecil, orang-orang tidak tahu kemana lagi mereka harus pergi dan pergerakan orang rasanya seperti papan catur manusia karena ada perintah evakuasi di tempat lain. “Orang-orang melarikan diri dari satu area ke area yang lain, tapi mereka juga tidak aman di sana,” imbuh Connell. Militer Israel mengklaim mereka meminta warga pindah dari medan tempur tapi Hamas dengan sistematis mencegah upaya tersebut. Juru bicara militer Israel mengatakan Hamas menggunakan warga sipil sebagai perisai manusia, tuduhan yang dibantah keras kelompok pembebasan Palestina itu. Connell menceritakan kematian anak laki-laki berusia 9 tahun bernama Ahmed di Rumah Sakit al-Aqsa di Deir Al-Balah. Di rumah sakit itu ribuan orang terluka akibat serangan udara Israel dirawat. “Ia (Ahmad) tidak berada di area yang diperintahkan dievakuasi, ia berada di tempat yang seharusnya aman, tidak ada tempat yang aman di Gaza,” tambah Connell. Ia menambahkan serangan udara terbaru Israel terjadi saat ia berada di rumah sakit dan ia melihat sendiri korban luka dibawa ke sana. Connell memperlihatkan pesan notifikasi dari militer Israel yang memerintahkan warga di Gaza tengah untuk melakukan evakuasi. Pesan itu mengatakan Angkatan Bersenjata Israel (IDF) akan segera beroperasi di pemukiman mereka dan meminta mereka mengungsi “sementara dan pindah ke tempat perlindungan sementara” di Deir al-Balah. “IDF akan bertindak melawan Hamas di mana pun mereka beroperasi, dengan berkomitmen penuh pada hukum internasional, sambil membedakan antara teroris dengan warga sipil, dan mengambil semua langkah pencegahan untuk meminimalisir korban dari warga sipil,” kata juru bicara IDF. Pemerintah AS berulang kali mengatakan mereka berharap Israel menurunkan skala operasi ke tahapan intensitas serangan lebih rendah dengan lebih teliti dalam menetapkan target. Namun Israel mengintensifkan serangannya. Malam Natal menjadi malam paling mematikan bagi warga Gaza selama perang yang sudah berlangsung selama 11 pekan. Kementerian Kesehatan Palestina mengatakan serangan udara Israel di selatan dan tengah Gaza menewaskan lebih dari 100 warga Palestina, sehingga total korban jiwa menjadi hampir 20.700 orang. Saat warga Palestina berduka kehilangan orang-orang yang mereka cintai. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berjanji untuk terus memerangi Hamas. (zul) Baca juga :

Read More

Meski Mengalami Down Syndrome, Tak Menyurutkan Niat Menjadi Penghafal Al Qur’an

Jakarta — 1miliarsantri.net : Muslimah asal Yordania, Rawan Dweik, menjadi penyandang down syndrome pertama di dunia yang menghafal 30 juz Al-Qur’an. Down syndrome atau sindrom down terjadi karena kelainan kromosom genetik yang menyebabkan seorang anak mengalami keterlambatan dalam perkembangan fisik dan intelektual. Kondisi ini disebabkan ketika pembelahan sel abnormal menghasilkan materi genetik tambahan dari kromosom 21. Walaupun menderita sindrom down, namun Rawan Dweik mampu menghafal seluruh Al-Qur’an. Adalah Awatef Jaber, sang ibu, sosok di balik kisah inspiratif Rawan Dweik. Awatef Jaber sangat bangga dengan pencapaian prestasi putrinya yang berkebutuhan khusus. “Saya ibu Rawan (ayahnya meninggal dunia) dan saya bangga padanya. Saya mempunyai 4 anak perempuan dan satu anak laki-laki, dan anak laki-laki saya memohon agar saya diberi saudara laki-laki karena dia sendirian. Ketika saya memikirkan hal itu, saya diberkati dengan Rawan. Alhamdulillah, dia adalah anugerah dari Tuhan semesta alam; untuk meningkatkan harga diri dan kehormatan saya,” terang Rawan dikutip Kamis (28/12/2023). Setelah mengetahui bahwa Dweik memiliki kondisi khusus, Awatef, seperti ibu lainnya, patah hati dan kecewa, namun dia sangat mencintainya dan berjanji untuk mengajarinya Al-Quran. “Ketika saya melahirkannya dan mengetahui bahwa dia menderita down syndrome, seperti ibu lainnya, saya merasa terpukul dan sedih. Tapi, kemudian saya berjanji kepada Allah SWT bahwa saya akan mengajarinya membaca Al-Qur’an, dan in shaa Allah, juga akan membantunya menghafal seluruh al-Qur’an,” tutur Awatef. Sejak awal, Awatef mengetahui Rawan adalah anak yang cerdas, sehingga dia mulai dengan mengajarinya surat-surat terpendek dalam Al-Qur’an. Menurutnya, Rawan cepat mempelajari dan menghafal ayat-ayat Al-Qur’an. Ia pun akhirnya mendaftarkan Rawan ke sekolah saat berusia enam tahun. Bahkan di sekolah, Rawan bisa menjalaninya dengan sangat baik. Rawan Dweik belajar sampai kelas 7 di sekolah itu dan kemudian, atas kemauannya sendiri, ia menghentikan pendidikannya. “Rawan sangat pintar dan cerdas. Saya mulai mengajarinya surat-surat pendek dari Kitab Suci. Dia menghafalnya dengan sangat cepat. Jadi saya mendaftarkannya di sekolah ketika dia berusia 6 tahun. Tapi setelah tamat kelas 7, dia putus sekolah”, kata Awatef. Awatef mengungkapkan metode belajar sang anak hingga bisa menghafal seluruh isi Al-Qur’an. Ia mengatakan, sang putri mempelajari dengan menulis ayat dan menghafalnya ayat demi ayat. Rawan membutuhkan waktu satu setengah tahun untuk menghafal Surat al-Baqarah dan berhasil dalam ujiannya. Setelah itu, dia bersujud kepada Allah sebagai rasa syukur. “Rawan menghafal melalui menulis. Dia menghafal Surah al-Baqarah dalam waktu satu setengah tahun. Rawan terus menghafal Al-Qur’an (dengan kecepatan teratur) selama 7 tahun, dan dia menyelesaikannya pada tanggal 29 Ramadhan 2021 lalu, dan ketika dia menghafal satu, dua atau tiga bagian, dia diuji di dalamnya,” tambah Awatef. Dalam video viral Rawan Dweik menceritakan bagaimana dia menghafal seluruh Al-Qur’an dengan bantuan ibu dan gurunya. “Ibuku akan membacakan satu ayat pada satu waktu yang biasa aku ulangi setelahnya. Saya melakukan ini untuk setiap halaman sampai saya menghafalnya,” cerita Rawan. Rawan belajar dan menghafal Al-Qur’an di Bayan Center, di mana sang guru menuntunnya dengan tidak beranjak ke ayat berikutnya sebelum Rawan hafal ayat tersebut. “Saya mengulangi setiap ayat setidaknya 10 kali dan kemudian saya akan membacanya dengan hati. Dan, Allah-lah yang membuat ini mudah bagi saya.” pungkas Rawan. (Iin) Baca juga :

Read More

Menparekraf Berharap Digitalisasi UMKM Jadi Kunci Mengkapitalisasi Bonus Demografi

Jakarta — 1miliarsantri.net : Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno mengatakan digitalisasi merupakan hal yang penting untuk dilakukan dalam upaya mendorong UMKM “naik kelas” sekaligus menciptakan lapangan kerja dan peluang usaha bagi masyarakat. Menparekraf mengatakan, keuntungan dari digitalisasi tersebut berdampak pada 97 persen lapangan kerja di Indonesia dikontribusi oleh UMKM. “Karenanya digitalisasi ini adalah hal yang sangat penting untuk dilakukan oleh para pelaku UMKM untuk dapat ‘naik kelas,” terangnya kepada 1miliarsantri.net, Selasa (26/12/2023). Apalagi Indonesia akan mendapatkan bonus demografi yakni jumlah penduduk Indonesia sebesar 70 persen akan ada dalam usia produktif (15-64 tahun) pada tahun 2045. UMKM tentunya akan memiliki peranan besar dalam mengkapitalisasi bonus tersebut dalam penyerapan tenaga kerja. “Dengan digitalisasi, ekonomi kita akan semakin efisien dan semakin bernilai tambah. Dan target kita untuk bisa mengkapitalisasi bonus demografi dalam 5 hingga 10 tahun ke depan bisa diakselerasi oleh digitalisasi di sektor UMKM,” imbuh Sandiaga. Untuk itu Sandiaga mengapresiasi penyelenggaraan “Pahlawan Digital UMKM 2023” yang diinisiasi Staf Khusus Presiden RI Putri Tanjung yang bertujuan untuk menjaring inovator digital yang berkomitmen membantu para pelaku UMKM naik kelas dan lebih berdaya dengan berbagai inovasi dan solusi digital serta menjadi bagian ekosistem pengembangan kewirausahaan nasional. “Sebanyak 10 finalis ini harus kita fasilitasi untuk dapat scale up karena UMKM-lah yang akan membawa bangsa ini naik kelas menuju Indonesia Emas 2045,” ungkap Sandiaga. Di sektor ekonomi kreatif sendiri ada tiga subsektor dengan kontribusi terbesar yakni kuliner, kriya, dan fesyen. Nilai dari kontribusi subsektor kuliner sendiri mencapai lebih dari 40 persen. Menparekraf Sandiaga berharap kolaborasi antara pemerintah bersama swasta dan pihak-pihak lainnya dapat terus mendukung pengembangan UMKM sebagai tulang punggung peningkatan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja masyarakat. “Bagaimana UMKM itu dapat sustainable (berkelanjutan) tentunya adalah dengan prinsip-prinsip ekonomi hijau dimana digitalisasi ada di dalamnya. Pelaku UMKM harus dapat terus melakukan inovasi, adaptasi, dan kolaborasi dengan semangat gerak cepat, gerak bersama dan garap semua potensi termasuk online yang ada di depan kita,” harap Menparekraf Sandiaga. Sementara itu Staf Khusus Presiden yang juga inisiator “Pahlawan Digital UMKM 2023”, Putri Tanjung, mengatakan dalam pemilihan UMKM terbaik di ajang ini ia melihat beberapa hal mulai dari keberlanjutan usaha dan dampaknya terhadap lingkungan terutama terhadap bisnis UMKM. “Kita menyeleksi inovator ini based on many things. Kita melihat founder nya dulu, kemudian growth business nya, kemudian sustainability nya, cash flow dan profitabilitas dan impact nya berapa besar UMKM yang bisa dibantu dan ke depan multiplier effect nya seperti apa,” pungkas Putri Tanjung. (Iin) Baca juga :

Read More

Beberapa Kisah Perjuangan Empat Ibu Mulia Yang Termaktub Dalam Al Qur’an

Surabaya — 1miliarsantri.net : Dalam keindahan Al-Quran, termaktub kisah-kisah mengharukan dan menginspirasi tentang perjuangan empat ibu mulia. Hajar, Milyanah, Hanah, dan Maryam, keempat perempuan ini melukis cerita tentang keimanan, kesabaran, dan keteguhan hati dalam menghadapi ujian kehidupan. Masing-masing membawa pesan mendalam tentang kasih ibu, keberanian, dan ketulusan yang menggetarkan hati. Hajar Ibunda Nabi Ismail Salah satu kisah yang mengharukan adalah kisah Hajar, ibunda Ismail. Ketika Nabi Ibrahim berdo’a dan meninggalkannya bersama Ismail di gurun tandus, ia berucap, “Ya Tuhan Kami, sesungguhnya diriku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-Mu (Ka’bah) yang dihormati. Ya Alloh, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan sholat. Jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berikanlah rizki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur”. (QS. Ibrahim ayat 37). Keteguhan dan kesabaran Hajar diuji oleh Alloh ketika Ismail membutuhkan air. Dalam pencarian air, Hajar berlari bolak-balik antara Bukit Shafa dan Bukit Marwah. Al-Quran menjelaskan, “Sesungguhnya Shafa dan Marwah merupakan sebagian syiar (agama) Alloh. Maka, siapa beribadah haji ke Baitulloh atau berumroh, tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka sesungguhnya Alloh Maha Mensyukuri, lagi Maha Mengetahui”. (QS. al-Baqarah ayat 158). Dalam kisah ini, para ibu diajarkan tentang ketekunan, kesabaran, dan kepasrahan kepada kehendak Allah. Hajar barangkali tidak memikirkan keadaan dirinya yang sedang lemah tak ada tenaga, namun ia tetap berusaha melakukan ikhtiar untuk mendapatkan air. Beginilah sosok ibu yang senantiasa tidak rela bila mendapati anaknya berada dalam kelaparan, kehausan, dan kepayahan. Milyanah Ibunda Nabi Musa Selain kisah Hajar, Al-Qur’an menuturkan kisah ibu yang luar biasa, yakni ibunda Musa, yang oleh sejarawan disebut Milyanah. Dalam masa pemerintahan Fir’aun yang kejam, di mana penguasa tersebut memerintahkan pembunuhan terhadap bayi laki-laki Bani Israil, Milyanah menghadapi ujian besar. Fir’aun melaksanakan kebijakan yang mengerikan: “Sungguh, Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dia menindas segolongan dari mereka (Bani Israil), dia menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak perempuan mereka. Sungguh, dia (Fir’aun) termasuk orang yang berbuat kerusakan”. (QS. Al-Qashash ayat 4). Milyanah, ibu Musa, hidup dalam keadaan bingung dan terpukul dengan kebijakan diskriminatif Fir’aun. Di tengah keputusasaan itu, Allah memberi ilham ke dalam hatinya untuk mengambil langkah yang benar: “Letakkanlah ia (Nabi Musa) di dalam peti, kemudian lemparkanlah ia ke sungai (Nil), maka pasti sungai itu membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Firaun) musuh-Ku dan musuhnya. Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku; dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku”. (QS. Thaha ayat 39). Sebelum peti itu terlempar ke sungai Nil, sang ibu menyusui Musa. Al-Qur’an mencatat, “Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; ‘Susuilah Dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya. Maka jatuhkanlah Dia ke sungai (Nil), dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena Sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari Para Rasul”. (QS. Al-Qashash ayat 7). Kisah Milyanah menggambarkan keharuan seorang ibu yang tegar dalam menghadapi ujian berat. Kesetiaan dan keberanian yang ditunjukkan oleh ibu Musa menjadi inspirasi abadi bagi setiap ibu yang menghadapi tantangan dalam perjalanan hidupnya. Hanah Ibunda Maryam Dalam Al-Qur’an, kita mendapati kisah Hanah, ibunda Maryam, dan istri dari Imran. Hanah terkenal karena melakukan nazar sebelum kelahiran Maryam, menghadiahkan anaknya untuk berbakti di Baitul Maqdis. “(Ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: ‘Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu, terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Ali Imran ayat 35). Namun, ketika saat kelahiran tiba, kenyataan tak sesuai dengan prasangka ibunda Maryam. Hanah, dengan tulus dan rendah hati, menerima anak perempuannya sebagai anugerah dari Allah dan tetap setia pada nazarnya. “Maka tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: ‘Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Alloh lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai Dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk. (QS. Ali Imran ayat 36). Kisah Hanah memancarkan ketulusan dan keikhlasan seorang ibu yang setia pada janji dan nazar yang telah diucapkannya. Sebagai teladan bagi umat, Hanah mengajarkan kita untuk selalu berserah diri pada kebijaksanaan Alloh meski rencana kita tak selalu sejalan dengan takdir-Nya. Maryam Ibunda Nabi Isa Maryam bin Imran mengukir kisah yang mempesona dalam lembaran Al-Qur’an. Ia bukan hanya seorang perempuan biasa, tetapi teladan bagi setiap muslimah di berbagai pelosok dunia. Keimanan dan ketakwaannya kepada Allah membawa berkah luar biasa, menciptakan keajaiban yang mengejutkan orang-orang di sekitarnya. Al-Qur’an mencitrakan Maryam sebagai figur perempuan yang mulia, suci, dan penuh kesabaran. “Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: ‘Hai Maryam, Sesungguhnya Alloh telah memilih kamu, mensucikan kamu, dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu). Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk”. (QS. Ali Imran ayat 42-43). Dengan kasih sayang Ilahi yang melimpah, Maryam membuktikan bahwa seorang perempuan dapat menjadi teladan yang memancarkan cahaya keimanan dan ketakwaan, menginspirasi generasi setelahnya. Melalui kisahnya, Al-Qur’an mengajarkan bahwa kepatuhan kepada Alloh dan kesucian hati adalah pondasi yang kokoh untuk memperoleh keberkahan-Nya. Epilog Empat Kisah tentang Ibu di dalam Al Qur’an di atas memberikan nilai-nilai keteguhan, kesabaran, keikhlasan, dan ketakwaan yang melekat dalam peran seorang ibu. Kisah Hajar, Milyanah, Hanah, dan Maryam merupakan panduan hidup bagi setiap ibu dan perempuan muslimah. Keberanian, kepasrahan, dan keikhlasan mereka di hadapan ujian hidup menggambarkan kebesaran peran seorang ibu dalam membentuk karakter, menghadapi cobaan, dan mendidik generasi penerus. Rasululloh SAW Bersabda: عن بهز بن حكيم، عن أبيه، عن جده، قال: قلتُ يا رسول الله: مَن أَبَرّ؟ قال: “أُمَّك، ثم أُمَّك، ثم أُمَّك، ثم أَباك، ثم الأقربَ، فالأقربَ”. [حسن] – [رواه أبو داود والترمذي وأحمد] Dari Ibu, 5 Air Yang Tak Bisa Di Ganti Oleh Sang Anak : Dari Bahz bin Hakīm, dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata, “Aku pernah bertanya, ‘Wahai Rasululloh, siapakah yang harus saya perlakukan dengan baik?’ Beliau Rasululloh SAW bersabda, ‘Ibumu, kemudian ibumu, kemudian ibumu, kemudian ayahmu, kemudian (kerabat) yang terdekat lalu yang terdekat’ “.(Hadist Hasan Riwayat…

Read More

Tahun 2023 Penerima Manfaat Dompet Dhuafa Capai 2,6 Juta di 38 Provinsi

Jakarta — 1miliarsantri.net : Indonesia selepas pandemi berakhir, terdapat tantangan kemiskinan yang baru. Menurut Sumber Badan Pusat Statistik 2023, jumlah penduduk miskin pada Maret 2023 sebesar 25,90 juta orang (9,36%), menurun 0,46 juta orang (0.21%) terhadap September 2022 dan menurun 0,26 juta orang (0,18%) terhadap Maret 2022. Tingkat serapan penyaluran tahun 2023 sebesar 99,58%, Kinerja penyaluran Dompet Dhuafa sangat efektif menurut Allocation to Collection Ratio, Zakat Core Principle. “Total penerima manfaat 2023 sebanyak 2.625.323 Jiwa dan total penerima manfaat sejak 1993-2022 sebanyak 33.946.523 Jiwa, dengan menyebar di 38 Provinsi se-Indonesia dan 26 Negara di Dunia,” terang Haryo Mojopahit selaku GM Komunikasi & Aliansi Strategis Dompet Dhuafa dalam pemaparan di agenda I HitS (Indonesia Humantarian Summit) di Ciputra Artpreneur, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis, (21/12/2023) lalu. Haryo menambahkan, dengan lima pilar Dompet Dhuafa, secara rinci Pilar Pendidikan dengan jumlah penerima manfaat 67.459 jiwa dengan cakupan program Institut Kemandirian, Beasiswa Aktivis Nusantara, Ekselensia School Development, ETOS ID, Sekolah Literasi Indonesia, Sekolah Guru Indonesia, Smart Ekselensia Indonesia, Beasiswa Umar Usman, Makmal Pendidikan, Beasiswa STIM Budi Bakti”. “Lalu Ekonomi dengan 10.347 jiwa dengan cakupan program Bank kangkung, Budidaya Jahe kunyit, Kampung Sejuta Anggrek, Agroeduwisata Melon Hidroponik, Breeding dan Pakan Hijauan, DD Farm, Desa Tani, IKM, Kater Macanda, Kopi Sinjai, Kopi Solok, Lesehan Macca, Zona Madina, Pilantrokopi, Kantin Kontainer,” papar Haryo. Haryo menambahkan, di pilar Kesehatan terdapat 139.881 Jiwa dengan cakupan program Aksi Layanan Sehat, Bidan Untuk Negeri, Gerai Sehat, Kampung Sehati, Kawasan Binaan, Kawasan Sehat, Pos Sehat, Pulau Sehat Indonesia, Respon Darurat Kesehatan, Aksi Kesehatan Volunteer. “Sementara itu, di pilar Sosial Kemanusiaan terdapat 2.302.124 Jiwa dengan cakupan program terdapat Layanan Mustahik, Shelter Sehati, Bagian Pemulasaraan Jenazah, Bimbingan Rohani, Dapur Keliling, Pemberdayaan Keluarga Mandiri, Pendampingan Disabilitas Mental, Recovery Bencana, Respons Bencana, Humanitarian Academic dan Aksi Sosial Volunteer,” tambah Haryo. Haryo melanjutkan Untuk pilar Dakwah dan Budaya terdapat 105.512 Jiwa dengan cakupan program Dakwah Internasional, Kemitraan Dakwah Nasional, Dakwah Mualaf, Kampung Silat Jampang, Suluk Nusantara dan Serambi Budaya. Dompet Dhuafa terus berkembang seiring waktu dan melebarkan beragam program pemberdayaan bagi masyarakat untuk berdaya. Kawasan Madaya dikembangkan sebagai program multi tematik yang meliputi 5 pilar, yaitu ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial, budaya dan dakwah. Khusus pemberdayaan ekonomi, kawasan yang diberdayakan adalah kawasan yang memang memiliki syarat-syarat yang bisa dikembangkan dan bisa berkelanjutan. Kawasan Madaya Dompet Dhuafa melakukan pendekatan intensifikasi program pemberdayaan masyarakat berbasis kawasan yang telah ditetapkan perimeternya, baik berbasis geografi ekologis maupun administratif pemerintahan. Kawasan ini nantinya juga akan menjadi kawasan tanggap bencana dan model bagi pengelolaan berbasis kesadaran lingkungan serta adaptasi perubahan iklim. Implementasinya, program ini menggunakan metode pendekatan Filantropreneurship, yaitu program dengan tiga tahapan, yakni pendampingan mustahik, penguatan kelembagaan kemitraan, dan aliansi nasional social enterprise. (rid) Baca juga :

Read More

Kegiatan Alternatif yang Dilakukan Warga Gaza Akibat Blokade Teroris Israel

Gaza — 1miliarsantri.net : Beragam kegiatan dilakukan oleh warga di wilayah Gaza untuk bisa bertahan hidup akibat serangan bertubi-tubi yang dilakukan zionis Israel. Salah satu nya adalah Aed Salha, seorang tukang jahit menemukan cara untuk terus bekerja dengan mesin jahitnya di tengah krisis listrik dan bahan bakar akibat blokade yang diterapkan oleh teroris Israel. Aed Salha, yang berasal dari kota Rafah di selatan Jalur Gaza, menghadapi kendala selama empat hari pertama serangan sebelum akhirnya menemukan solusi. Dia menggunakan tenaga kinetik melalui sepeda angin untuk mengoperasikan mesin jahitnya. Selama krisis ini, anak-anak Saaleha bergantian memutar roda sepeda yang terhubung ke sabuk elastis di tuas mesin jahit. Gerakan ini memberikan daya putar dan memungkinkan mesin tetap beroperasi. Hal itu menjadi satu-satunya sumber penghasilan bagi Aed Salha yang telah menjalankan profesi ini selama 13 tahun. Upaya tukang jahit ini mencerminkan berbagai alternatif yang digunakan oleh penduduk Gaza untuk mengatasi kondisi sulit akibat perang dan blokade yang telah melekat dalam kehidupan mereka. Kota Rafah, tempat kelahiran Aed Salha, menyaksikan gelombang pengungsian yang luas. Estimasi resmi menunjukkan, lebih dari 700 ribu pengungsi dari kota Khan Yunis yang berdekatan, Kota Gaza, dan wilayah utara Gaza mencari perlindungan di kota ini yang berbatasan dengan Mesir, mencari keamanan di tengah ancaman kematian dan kehancuran. (zul) Baca juga :

Read More

Ma’ruf Amin : Bangga Dengan ISNU Sekarang dan Diharapkan Bisa Mengemban Tanggung Jawab Pemberdayaan

Surabaya — 1miliarsantri.net : Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi besar memiliki tugas besar untuk umat/bangsa dan negara ini dan tugas besar NU itu ada di pundak Ikatan Sarjana NU (ISNU). “Dulu, jihad NU itu dengan perjuangan para ulama, tapi jihad NU ke depan adalah membangun umat dan kemanusiaan,” terangnya ketika memberikan arahan pada Pelantikan dan Muskerwil I PW ISNU Jatim di Surabaya, Sabtu (23/12/2023). Dalam acara yang juga ditandai dengan peluncuran buku “No One Left Behind” karya Khofifah Indar Parawansa itu, Wapres mengaku bangga dengan ISNU sekarang, terutama ISNU Jatim, karena banyak guru besar dalam kepengurusannya, padahal NU di masa lalu tidak mempunyai profesor/doktor. “Alhamdulillah, NU akan besar dengan potensi sarjana, intelektual, dan profesional yang ada, karena orang berilmu itu memiliki qolbun salim atau hati yang bersih, sikapnya tidak asal comot, suka membandingkan banyak hal, dan membawa NU sebagai organisasi perbaikan,” tukasnya. Di hadapan 1.000 lebih pengurus ISNU se-Jatim, termasuk hadir juga Ketua Umum PP ISNU Prof H Ali Masykur Moesa, MenpanRB Abdullah Azwar Anas, tokoh NU dari PBNU Prof Mohammad Nuh, dan sejumlah konsul dari Australia, AS, dan Jepang, Wapres menyebutkan ISNU mengemban empat tugas NU sebagai organisasi besar dan terbesar di dunia. “Empat tugas besar NU atau jihad NU ke depan yang diemban ISNU adalah pemberdayaan SDM; pemberdayaan umat dalam akidah, pendidikan, ekonomi, dan sebagainya; tanggung jawab kebangsaan; dan tanggung jawab global,” katanya. Khusus tanggung jawab kebangsaan adalah bagaimana meng-NU-kan dunia, dengan konsep-konsep yang menyelamatkan umat dan dunia dari paham dan gerakan yang menyimpang/ekstrem menuju gerakan wasathitah atau moderat. “Jihad NU ke depan yang diemban ISNU dalam tanggung jawab kebangsaan itu terkait cinta Tanah Air atau hubbul wathon minal iman untuk kebesaran Indonesia menuju Indonesia Emas 2045,” sambungnya. Untuk tanggung jawab global ada empat bidang yang perlu direspons yakni perang (diplomasi damai), perubahan iklim (lingkungan), pandemi/kesehatan (COVID-19), dan teknologi (AI/digitalisasi). Dalam kesempatan itu, Ketua PW ISNU Jatim Prof M Mas’ud Said PhD memaparkan ISNU Jatim saat ini mengembangkan keanggotaan pada sejumlah PTN/PTS dan beberapa pesantren besar yang memiliki perguruan tinggi. “Ke depan, kami akan mengembangkan ISNU secara lembaga/sistem hingga ke kampus di dalam dan luar negeri serta sejumlah pesantren. Kami tidak akan fokus pada personal, tapi bagaimana SDM yang ada justru membangun ISNU secara sistemik untuk kebesaran organisasi, baik ISNU maupun NU,” pungkasnya. (har) Baca juga :

Read More

Siti Walidah atau Nyai Ahmad Dahlan, Pejuang Wanita Aisyiyah

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Tokoh ini dikenal setelah pernikahannya dengan pendiri Persyarikatan Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan. Beliau lahir dengan nama Siti Walidah di Kauman, Yogyakarta, pada tahun 1872. Setelah menikah, namanya lebih dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan. Siti Walidah merupakan putri dari Kyai Haji Muhammad Fadli. Ayahnya merupakan seorang penghulu keraton Yogyakarta. Sejak kecil Walidah selalu menjaga kehormatan sang ayah sebagai ulama yang disegani. Walidah kecil memang membatasi pergaulan dan hanya mengenyam pendidikan di rumah saja. Sebagai putri ulama keraton, ajaran Islam telah dia kenyam sedari dini. Beliau tidak belajar di sekolah formal seperti anak laki-laki pada umumnya. Namun, tekadnya untuk menuntut ilmu sangat kuat. Hampir setiap hari beliau menuntut ilmu keislaman dengan kitab-kitab agama berbahasa Arab Jawa (pegon). Kemudian beliau menikah dengan sepupunya sendiri, KH Ahmad Dahlan. Keingintahuannya mengenai ilmu agama Islam semakin meningkat sejak menikah. Sebagai seorang wanita, beliau tidak hanya menjadi ibu rumah tangga biasa yang hanya di rumah saja. Walidah selalu ikut serta untuk berdiskusi dan menyampaikan pandangannya bersama tokoh Indonesia lainnya, seperti Jenderal Sudirman, Bung Karno, Kyai Haji Mas Mansur, dan Bung Tomo. Kepiawaiannya dalam berorganisasi dirintisnya dalam kelompok pengajian wanita dengan nama Sopo Tresno pada 1914. Meskipun belum berbentuk organisasi dengan segala macam aturannya, kelompok ini telah fokus pada kajian dakwah bagi kaum perempuan. Dalam pengajian itu, diterangkan ayat-ayat Alquran dan hadis yang membahas hak dan kewajiban perempuan. Perempuan diharapkan dapat mengetahui dan menerapkan kewajibannya sebagai manusia, istri, dan hamba Allah. Kelompok pengajian kemudian berubah nama menjadi Aisyiyah yang dicetuskan oleh beberapa tokoh Muhammadiyah, antara lain, KH Muhtar, KH Ahmad Dahlan, KH Bagus Hadikusuma, KH Fakhruddin. Nama Aisyiyah diresmikan sebagai organisasi wanita Muhammadiyah pada 22 April 1917. Aisyiyah ketika itu diketuai oleh Siti Bariyah dan Nyai Dahlan duduk sebagai penasihat dan pelindung. Perjuangan Nyai Dahlan saat itu, yakni menghilangkan kepercayaan kolot yang dimiliki masyarakat Indonesia. Ajarannya, perempuan seharusnya dapat berjuang bersama dan duduk dalam posisi berdampingan, baik dalam institusi formal maupun dalam pendidikan. Beliau tidak hanya berdakwah, tetapi juga mengajari kaum perempuan dengan membuka asrama dan sekolah-sekolah putri serta kursus pemberantasan buta huruf bagi perempuan. Perjuangan Siti Walidah dan suaminya dalam mengembangkan organisasi tidaklah mudah. Suatu ketika saat melakukan perjalanan ke Banyuwangi, Nyai Ahmad Dahlan dan suami mendapat ancaman pembunuhan dari kelompok konservatif. Namun, tekad bajanya untuk mendidik perempuan tak pernah surut. Sekolah Aisyiyah dipengaruhi oleh ideologi Ahmad Dahlan, yaitu Catur Pusat. Catur Pusat memiliki pengertian pendidikan di rumah, pendidikan di sekolah, pendidikan di masyarakat, dan pendidikan di tempat ibadah. Organisasi Aisyiyah kemudian berkembang pesat dan saat kongres, Nyai Dahlan selalu memimpin baik di Boyolali, Purwokerto, bahkan hingga ke wilayah Jawa Timur. Saat KH Ahmad Dahlan wafat pada 1923, Nyai Ahmad Dahlan meneruskan perjuangan suaminya lewat Aisyiyah. Tahun 1926 saat Konggres Muhammadiyah ke-15 di Surabaya, Nyai Dahlan membuat catatan sejarah. Dialah wanita pertama yang tampil memimpin kongres tersebut. Saat itu, dalam sidang Aisyiyah yang dipandunya duduk puluhan pria di samping mimbar. Mereka merupakan wakil pemerintah dan perwakilan organisasi yang belum memiliki organisasi kewanitaan dan wartawan. Seluruh pembicara dalam sidang tersebut merupakan kaum perempuan, hal yang tidak biasa pada masa itu. Pengaruhnya saat itu sempat tercatat pada media massa sebagai berita utama. Eksesnya semakin banyak kaum perempuan yang bergabung dengan Aisyiyah. Pengaruh Aisyiyah pun meluas di seluruh nusantara. Pada masa revolusi kemerdekaan, Aisyiyah sempat dilarang oleh Pemerintah Jepang saat itu. Namun, perjuangan Nyai Ahmad Dahlan beralih kepada pelayanan pejuang kemedekaan. Ia juga menyerukan kepada para siswa Muhammadiyah untuk bangkit melawan penjajah. Namun, perjuangannya harus terhenti hingga usianya mencapai 74 tahun pada 31 Mei 1946. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman di belakang Masjid Besar Kauman Yogyakarta. Menteri Sekretaris Negara Mr AG Pringgodigdo dan menteri Agama Rasjidi mewakili pemerintah memberikan penghormatan terakhir saat pemakaman. Nyai Ahmad Dahlan juga mendapat anugerah Pahlawan Nasional oleh presiden Soeharto sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 42/TK Tahun 1971. (mif) Baca juga :

Read More

Kadar Keikhlasan Menurut Syekh Nawawi Al Bantani

Surabaya — 1miliarsantri.net : Dalam perjalanan seorang mukmin, Ikhlas menjadi fondasi utama yang membangun nilai-nilai ibadah. Sejalan dengan pandangan Syekh Nawawi Al-Bantani, ada tiga tingkatan ikhlas yang menjadi pilar utama dalam setiap amal ibadah. Ikhlas inti dari kebermaknaan ibadah, menelurkan perbedaan dalam dimensi spiritualitas merupakan tingkatan dari kepasrahan kepada Allah SWT dalam beribadah. Syekh Nawawi dalam Kitab Nurudh Dholam menyampaikan tingkatan ikhlas yang harus dipahami setiap muslim. Pertama, ikhlas karena Allah. Ikhlas karena Allah menempati posisi pertama dan utama. Ikhlas dalam kelompok ini adalah seorang mukmin ketika beribadah kepada Allah dan melakukan amal saleh, sama sekali tidak mengharapkan apapun kecuali ridha Allah. Seorang mukmin tidak juga mengharapkan pahala surga atau untuk menghindari siksa neraka. Menurut Syekh Nawawi, ikhlas seperti ini berada pada tingkatan tertinggi. Kedua, ikhlas karena akhirat. Tingkatan ikhlas kedua adalah beribadah dan beramal saleh karena mengharapkan pahala, mendapatkan surga, dan takut pada siksa neraka. Menurut Syekh Nawawi, tingkatan ikhlas ini berada pada tingkatan menengah. Ketiga, ikhlas karena dunia. Tingkatan ikhlas terakhir adalah beribadah karena mengharapkan balasan di dunia, misalnya seseorang melakukan ibadah membaca Surat Al-Waqi’ah dengan harapan bisa mendapat kekayaan, mengeluarkan sedekah berharap mendapat rezeki yang berlipat ganda, dan seterusnya. Menurut Syekh Nawawi, ikhlas seperti itu adalah ikhlas yang berada pada tingkatan paling rendah. Allah SWT berfirman: Katakanlah (Nabi Muhammad), “Apakah kamu (Yahudi dan Nasrani) hendak berdebat dengan kami tentang Allah? Padahal, Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu. Hanya kepada-Nya kami dengan tulus mengabdikan diri. (QS Al-Baqarah Ayat 139) Dalam ayat ini dijelaskan bahwa hanya kepada Allah seorang hamba dengan tulus mengabdikan diri tanpa mempersekutukan-Nya. (yat) Baca juga :

Read More