Ketika Sultan Agung Memakai Kalender Jawa Islam

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Pada tahun 1633, Sultan Agung tidak ingin mengikuti kalender yang digunakan Kompeni. Maka, ia tetap menggunakan kalender Jawa, tetapi kemudian memadukan dengan kalender Islam. Sultan Agung memutuskan untuk menggunakan penanggalan bulan yang terdiri atas 354 atau 355 hari dan jadilah kalender Jawa-Islam. Maka, acara-acara tradisi keraton di kemudian hari diselaraskan dengan penanggalan Islam. Diantaranya gerebeg puasa, gerebeg mulud, gerebeg besar. Angka tahun kalender Sultan Agung ini tidak mengikuti tahun Hijriyah. Melainkan tetap mengikuti tahun Jawa. Bulan-bulan dalam tahun Jawa yang dipadukan dengan kalender Islam ada 12. Yaitu Sura, Sapar, Mulud, Bakda Mulud,Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rejeb, Ruwah, Pasa, Syawal, Apit, Besar. Jumlah hari ada lima. Yaitu Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon. Pada awalnya kalender Jawa mengikuti kalender Hindu dengan nama Saka. Tahun Saka dalam legenda Jawa dimulai sejak kedatangan Aji Saka di Jawa pada tahun 78 Masehi. Hitungannya masih menggunakan hitungan matahari. Setelah 1633 tarikh Saka yang tua sekali yang dimulai pada 78 Masehi dilanjutkan tetapi lanjutannya ini tidak dengan perhitungan tahun matahari melainkan dengan perhitungan tahun bulan yang terdiri dari 354 atau 355 hari. Sultan Agung mengganti sistem penanggalan ini setelah mengunjungi Tembayat. Kunjungan ke Tembayat dilakukan untuk meredam rencana pemberontakan kalangan mistik Islam yang berpusat di Tembayat. Mereka menyamar keluar masuk desa untuk mengumpulkan kekuatan melakukan pemberontakan. Tapi rencana ini bisa dipadamkan sebelum mereka benar-benar melakukan pemberontakan. Tembayat masuk wilayah Pajang, negeri yang kemudian dikalahkan oleh Mataram. Di sana ada makam Sunan Bayat. Apa makna perubahan sistem penanggalan ini bagi Mataram? Bagaimanapun, perubahan ini dapat dianggap sebagai perwujudan kesadaran kemusliman yang semakin kuat. Berbagai perayaaan tradisi di Mataram kemuduan berbeda dengan waktu perayaan ketika masih menggunakan penanggalan matahari. Itu terjadi karena setiap tahun jumlah hari menusut 10 hari dati perhitungan penanggalan matahari. Untuk menemukan padanannya dengan tahun Masehi, tidak mungkin lagi ditambahkan begitu saja angka 78, tetapi kita harus melihat tabel kesesuaian. Perayaan gerebeg dan sekaten mengikuti sistem penanggalan yang disusun Sultan Agung. Tradisi gerebeg ada tiga jenis: gerebeg pasa (puasa), gerebeg mulud, gerebeg besar. Gerebeg puasa (pasa) diadakan pada 1 Syawal, menyambut berakhirnya bulan puasa dan datangnya hari Lebaran. Gerebeg pasa dikenal juga sebagai gerebeg syawal dan gerebeg bada. Sekaten dan gerebeg mulud diadakan untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad pada bulan Mulud. Dalam kalander Islam, bulan Mulud adalah Rabiul Awal. Gerebeg besar diadakan pada bulan Besar. Dalam kalender Islam, bulan Besar sama dengan bulan Zulhijah. Acara gerebeg merupakan tradisi peninggalan Hindu-Jawa. Ini merupakan tradisi mengucap syukur atas berlimpahnya hasil pertanian. Maka dalam acara gerebeg selalu disediakan gunungan yang disusun dari berbagai hasil bumi. Gunungan itu diarak lalu diperebutkan. (mif) Baca juga :

Read More

Pemerintah Awal 1 Ramadhan Jatuh Pada 12 Maret 2024

Jakarta — 1miliarsantri.net : Kementerian Agama (Kemenag) telah menggelar sidang isbat penetapan 1 Ramadhan 1445 Hijriah pada Ahad (10/3/2024) sore. Sidang isbat ini digelar di Auditorium HM Rasjidi Kemenag, Jakarta Pusat. Direktur Jenderal (Dirjen) Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag Kamaruddin Amin mengatakan sidang isbat digelar secara hybrid, yakni daring dan luring. Keputusan sidang isbat ini diambil mengacu hasil pantauan atau rukyatul hilal yang digelar di 134 lokasi di seluruh Indonesia. “Sidang isbat ini merupakan layanan keagamaan bagi masyarakat untuk mendapat kepastian mengenai pelaksanaan ibadah,” terang Kamaruddin kepada media, Ahad (10/3/2024). Dalam sidang isbat tersebut melibatkan Tim Hisab dan Rukyat Kemenag, serta dihadiri oleh perwakilan ormas Islam, dan duta besar negara sahabat. Sidang isbat itu juga dihadiri perwakilan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dan undangan lain. Kemenag turut mengundang pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Komisi VIII RPR RI untuk hadir pada sidang isbat tersebut. Hasil sidang isbat, pemerintah menetapkan 1 Ramadhan 2024 jatuh pada hari Selasa, 11 Maret 2024. Tahun ini awal Ramadhan 2024 akan berbeda dengan Muhammadiyah, yang sudah menetapkan awal puasa pada Senin (11/3/2024). Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kemenag Adib mengungkapkan, setidaknya ada tiga tahap dalam sidang isbat penentuan awal bulan puasa tahun ini, yakni pemaparan posisi hilal, sidang isbat penetapan, dan konferensi pers. Pemaparan posisi hilal dilakukan mulai pukul 17.00 WIB berdasarkan hasil hisab (perhitungan astronomi) oleh Tim Hisab dan Rukyat Kemenag. Adib menyampaikan, sesi ini terbuka untuk umum dan disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Bimas Islam Kemenag. Selanjutnya, Kemenag menggelar sidang isbat penetapan awal Ramadhan 1445 H secara tertutup selepas shalat maghrib. Selain data hisab yang akan dipaparkan, sidang isbat juga akan merujuk pada hasil rukyatul hilal (konfirmasi). “Tahap ketiga, konferensi pers hasil sidang isbat yang juga disiarkan melalui media sosial Kemenag,” tandas Adib. Sementara itu Menteri Agama RI Yaqut Cholil Quomas mengatakan, potensi perbedaan penetapan 1 Ramadhan kemungkinan terjadi. Sebab itu, dia mengimbau agar seluruh Umat Islam bisa menjaga toleransi dan persaudaraan jika terjadi perbedaan. “Umat Islam diimbau untuk tetap menjaga ukhuwah Islamiyah dan toleransi dalam menyikapi potensi perbedaan penetapan 1 Ramadan 1445 Hijriah/2024 Masehi,” tegas Yaqut dalam keterangan pers di Jakarta, Ahad (10/3/2024). Potensi perbedaan itu bisa terjadi karena Majelis Tarjih Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah sudah menetapkan awal Ramadan bertepatan 11 Maret 2024. Namun, ada juga sebagian jamaah umat Islam lainnya yang akan mulai puasa pada 10 Maret 2024. Imbauan tersebut dikeluarkan secara resmi oleh Kementerian Agama lewat Surat Edaran Menteri Agama Nomor 1 Tahun 2024 yang ditujukan kepada Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama hingga tingkat kecamatan. Edaran juga disampaikan kepada pimpinan organisasi kemasyarakatan Islam, pengurus Badan Kesejahteraan Masjid. Begitu juga untuk pengurus Majelis Dai Kebangsaan, pengurus dan pengelola masjid/musala, panitia Hari Besar Islam tingkat provinsi dan kabupaten/kota, serta masyarakat muslim di Indonesia. “Umat Islam agar melaksanakan ibadah Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri sesuai dengan syariat Islam dan menjunjung tinggi nilai toleransi,” pungkas Yaqut. (rid) Baca juga :

Read More

Penjelasan Kemenag Kenapa Perlu Sidang Isbat Awal Ramadhan, Syawal dan Zulhijjah

Jakarta — 1miliarsantri.net : Setiap tahun menjelang bulan Ramadhan, Kementerian Agama (Kemenag) rutin menggelar sidang isbat (penetapan) awal Ramadhan, Syawwal dan Zulhijjah. Hal ini sudah berlangsung sejak dekade 1950-an, sebagian sumber menyebut 1962. Hasil sidang isbat tersebut akam diumumkan langsung oleh Menteri Agama dan itu menjadi momen yang ditunggu seluruh masyarakat muslim di Indonesia. Dalam perkembangannya, MUI menerbitkan Keputusan Fatwa No 2 Tahun 2004 tentang Penetapan Awal Ramadan, Syawal dan Dzulhijjah. Fatwa itu salah satunya memutuskan penetapan awal Ramadhan, Syawwal dan Dzulhijjah dilakukan berdasarkan metode rukyah dan hisab oleh Pemerintah RI cq. Menteri Agama dan berlaku secara nasional. Menurut Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah (Urais-Binsyar) Ditjen Bimas Islam, Adib, sidang isbat penting dilakukan karena Indonesia bukan negara agama, bukan juga negara sekuler. Indonesia tidak bisa menyerahkan urusan agama sepenuhnya kepada orang per orang atau golongan. Sidang isbat penting dilakukan karena ada banyak organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam di Indonesia yang juga memiliki metode dan standar masing-masing dalam penetapan awal bulan Hijriyah. Tidak jarang pandangan satu dengan lainnya berbeda, seiring dengan adanya perbedaan mazhab serta metode yang digunakan. Sidang isbat menjadi forum, wadah, sekaligus mekanisme pengambilan keputusan. “Sidang isbat dibutuhkan sebagai forum bersama mengambil keputusan. Ini diperlukan sebagai bentuk kehadiran negara dalam memberikan acuan bagi umat Islam untuk mengawali puasa Ramadan dan berlebaran,” ungkap Adib di Jakarta, Sabtu (9/3/2024). Sidang isbat menjadi forum musyawarah para ulama, pakar astronomi, ahli ilmu falak dari berbagai ormas Islam, termasuk instansi terkait dalam menentukan awal bulan Ramadan, Syawal, dan Zulhijah. Sidang ini dihadiri juga Duta Besar Negara Sahabat, Ketua Komisi VIII DPR RI, perwakilan Mahkamah Agung, perwakilan Majelis Ulama Indonesia (MUI), perwakilan Badan Meteorologi, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), perwakilan Badan Informasi Geospasial (BIG), perwakilan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), perwakilan Bosscha Institut Teknologi Bandung (ITB), perwakilan Planetarium Jakarta, pakar Falak dari Ormas-ormas Islam, anggota Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama, dan pimpinan Organisasi Kemasyarakatan Islam dan Pondok Pesantren. “Hasil musyawarah dalam sidang isbat ditetapkan oleh Menteri Agama agar mendapatkan kekuatan hukum. Jadi bukan pemerintah yang menentukan jatuhnya awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah. Pemerintah hanya menetapkan hasil musyawarah para pihak yang terlibat dalam sidang isbat,” sebut Adib. Sidang Isbat penetapan awal Ramadhan, Syawal dan Zulhijjah ukan hanya dilakukan Indonesia saja. Negara-negara Arab juga melakukan isbat setelah mendapatkan laporan rukyat dari lembaga resmi pemerintah atau perseorangan yang sudah terverifikasi dan dinyatakan sah oleh Majlis Hakim Tingginya. Bedanya, Indonesia menggunakan mekanisme musyawarah dengan seluruh peserta sidang isbat. “Inilah yang menjadi nilai lebih bahwa keputusan diambil bersama, nilai-nilai demokrasi sangat tampak dengan kehadiran seluruh ormas yang hadir pada saat sidang isbat,” tegas Adib. Adib menegaskan bahwa peran pemerintah dalam proses sidang isbat adalah fasilitator ormas Islam dan para pihak untuk bermusyawarah. Hasil sidang isbat kemudian diterbitkan dalam bentuk Keputusan Menteri Agama agar mempunyai kekuatan hukum yang dapat dipedomani masyarakat. “Sidang isbat mengingatkan kita semua akan pentingnya menyatukan langkah dalam menjalankan ibadah dan memperkuat hubungan bersama dengan Allah, dengan tetap mengedepankan toleransi dan sikap saling menghormati atas beragam keputusan yang ada,” pungkasnya. (wink) Baca juga :

Read More

Masjid Agung Madaniyah Karanganyar Terinspirasi Masjid Nabawi

Karanganyar — 1miliarsantri.net : Masjid Agung Madaniyah di Karanganyar, Jawa Tengah diresmikan Presiden Joko Widodo, Jumat, 8 Maret 2024 lalu. Masjid ini menjadi kebanggan masyarakat Karanganyar karena desainnya terinspirasi dari Masjid Nabawi di Madinah. Bupati Karanganyar periode 2013-2023 yang juga menjabat sebagai Ketua Takmir Masjid Madaniyah, Juliyatmono menyampaikan rasa syukur atas kehadiran Presiden yang berkenan salat Jumat sekaligus meresmikan masjid tersebut. “Kami sangat bersyukur Bapak Presiden bersedia salat Jumat di masjid yang menjadi kebanggaan masyarakat Karanganyar. Ini menjadi kebanggaan kami karena beliau adalah presiden yang sangat dicintai oleh rakyat,” ungkap Juliyatmono. Masjid Agung Madaniyah dibangun dari tahun 2019 hingga 2021 dengan dana senilai Rp101 miliar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Karanganyar. Pembangunan masjid ini bertepatan dengan perayaan Hari Jadi Karanganyar yang ke-101, memberikan makna yang mendalam bagi masyarakat setempat. “(Pembiayaan) dari APBD murni sehingga ini milik rakyat Karanganyar,” imbuhnya. Juliyatmono juga berharap kehadiran Presiden Joko Widodo dapat membawa berkah yang luar biasa bagi masyarakat Karanganyar. Dengan peresmian masjid ini, diharapkan Masjid Agung Madaniyah tidak hanya menjadi pusat ibadah yang makmur tapi juga ikon monumental di Karanganyar. “Mudah-mudahan beliau sehat selalu, diberikan kekuatan, dan terus bisa memberikan kontribusi untuk bangsa dan negara,” tambahnya. Turut mendampingi Presiden Jokowi dalam kesempatan tersebut yakni Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Menteri Pemuda dan Olahraga Dito Ariotedjo, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, dan Pj. Gubernur Jawa Tengah Nana Sudjana. (hud) Baca juga :

Read More

Lembaga Falakiyah PBNU Pantau Hilal Awal Ramadhan di 58 Titik

Jakarta — 1miliarsantri.net : Lembaga Falakiyah (LF) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akan melakukan rukyatul hilal atau pemantauan hilal awal Ramadhan 1445 H pada Ahad 10 Maret 2024 atau bertepatan dengan 29 Sya’ban 1445 H. “Tanggal 10 Maret hari Ahad Legi,” terang Ketua Lembaga Falakiyah KH Sirril Wafa kepada 1miliarsantri.net, Sabtu (9/3/2024). Dia menjelaskan, rukyatul hilal akan dilakukan secara serentak oleh LFNU daerah di sejumlah titik yang telah ditentukan, meliputi pinggir pantai yang mengarah ke barat maupun di gedung-gedung tinggi dengan ufuk barat yang tidak terhalang. Ia mengatakan, rukyatul hilal awal Ramadhan 1445 H/2024 M akan dilakukan di lebih dari 50 titik rukyat yang tersebar di berbagai wilayah, mencakup zona Indonesia Timur, Tengah, dan Barat. Berikut daftar 58 titik lokasi rukyatul hilal awal Ramadhan 1445 H/2024 M: (rid) Baca juga :

Read More

Berikut 5 Kerajaan Pertama di Indonesia

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Indonesia terdiri dari berbagai kerajaan pada masa lalu. Kerajaan-kerajaan tersebut berperan penting dalam membentuk budaya dan identitas bangsa. Lantas kerajaan apa yang pertama ada di Indonesia? Kerajaan pertama di Indonesia diidentifikasi berdasarkan temuan tertua peninggalan yang ada. Kerajaan tersebut memiliki corak berbeda-beda, mulai dari Hindu-Buddha hingga Islam. Berikut daftarnya yang dirangkum dari sumber laman Pemprov Aceh, Direktori Majapahit, dan situs UNY. Kerajaan Martapura didirikan sekitar abad ke-4 Masehi di hulu Sungai Mahakam, yaitu Muara Kaman. Pendiri dinasti Kerajaan Martapura adalah Aswawarman Putra Kundungga. Nama ini ditunjukkan di kitab Salasilah Kutai. Selain itu, berdirinya Kerajaan Kutai dibuktikan oleh prasasti Kutai yang berwujud tujuh buah tugu batu yang disebut Yupa. Prasasti berbahasa Sansekerta ini dikeluarkan oleh Raja Mulawarman sebagai tugu batu yang menambatkan lembu kurban. Bukti keberadaan Kerajaan Tarumanegara adalah peninggalan Raja Purnawarman yang berupa prasasti-prasasti. Di antaranya ada prasasti Ciaruteun, prasasti Kebon Kopi, prasasti Tugu, prasasti Lebak, prasasti Pasir Awi, dan prasasti Muara Cianten. Tak hanya dari prasasti, informasi mengenai kerajaan ini juga bersumber dari berita musafir China bernama Fa-Hien. Musafir ini datang pada tahun 414 Masehi dan membuat catatan mengenai Kerajaan Taruma. Kerajaan Sriwijaya didirikan oleh Dapunta Hyang Sri Jayanasa. Bukti keberadaan kerajaan ini adalah prasasti Kedukan Bukit dan prasasti Talang Tuo. Pada prasasti tersebut menjelaskan bahwa Dapunta Hyang adalah raja pertama Kerajaan Sriwijaya. Diketahui, Dapunta Hyang melakukan perjalanan sebagai raja pertama bersama 20.000 tentara dari Minanga Tamwan ke Palembang, Jambi, dan Bengkulu untuk menaklukkan daerah-daerah strategis bagi perdagangan Sriwijaya. Pada masa Kerajaan Majapahit, berkembang dua agama yaitu Hindu dan Buddha. Dalam mengatur kehidupan beragama di masa itu, dibentuk badan atau pejabat yang disebut Dharmadyaksa. Kerajaan Majapahit mengalami masa kejayaannya di abad ke-13 hingga 14 Masehi dan dipimpin pertama kali oleh Raden Wijaya, yang juga merupakan pendiri kerajaan. Pada masa Kerajaan Majapahit ini, Kitab Sutasoma karya Empu Tantular populer hingga saat ini karena memuat semboyan negara Indonesia, yaitu Bhinneka Tunggal Ika. Berdasarkan laman Pemerintah Aceh, kerajaan Samudera Pasai berdiri pada abad ke-13 oleh Marah Silu. Kerajaan ini merupakan kerajaan besar yang menjadi pusat perdagangan dan perkembangan agama Islam. Sejarah kerajaan Samudera Pasai dapat dipelajari di nisan makam Sultan Malik As Saleh dan sumber-sumber dari para pengembara dari China. Sejarah yang populer pada kerajaan ini adalah ketika masa kejayaannya, kerajaan Samudera Pasai menjadi pusat perdagangan yang sering dikunjungi oleh China, India, Arab, dan Persia. (mif) Baca juga :

Read More

Bayi di Gaza Terpaksa Pakai Popok Kotor Berkali-kali Karena Mahal dan Susah Dicari

Gaza — 1miliarsantri.net : Pada beberapa malam yang dingin tiga pekan yang lalu Aida al-Baawi bergegas keluar dari tendanya menuju Rumah Sakit Syahid AL Aqsa untuk melahirkan putrinya. Proses kelahirannya sulit karena kurangnya tenaga medis untuk merawatnya dan tidak cukup anestesi untuk menutupi rasa sakit saat menerima jahitan. Putrinya lahir dengan sehat tapi perempuan 29 tahun itu menghadapi kesulitan baru. Ia kesulitan mencari kebutuhan dasar yang banyak ibu di tempat lain dapatkan dengan mudah, yaitu popok. Seperti kebanyakan ibu di Gaza bagi al-Baawi mendapatkan popok menjadi sangat menantang. Terutama karena kelangkaan yang disebabkan pengepungan Israel menaikan harga barang-barang. “Setiap hari adalah kesulitan untuk mendapatkan popok untuk bayi perempuan saya, terutama dengan anak lain yang masih membutuhkannya,” ungkap ibu empat anak ini, Sabtu (9/3/2024). Sebelum perang harga dua bungkus popok di bawah 10 dolar AS. Bayangkan perlu 75 sampai 80 dolar AS untuk popok, apakah ini situasi berkelanjutan. Kini ia beralih ke solusi lain. Terkadang ia mendatangi tempat perawatan bayi dekat rumah sakit, berharap mereka memiliki sisa popok. Terkadang ia mengeringkan popok di bawah matahari dengan harapan dapat digunakan lagi meski ada kemungkinan berdampak buruk bagi kebersihan. Terkadang ia terpaksa membiarkan bayinya menggunakan popok kotor sampai ia mendapatkan yang baru. Hal ini tentu berdampak buruk pada kulit bayi. Namun setiap sen yang ia habiskan untuk popok maka berkurang uang yang dibutuhkan untuk membeli kebutuhan lain. “Bila popok ini mahal, bagaimana saya bisa membeli pasokan lain? Anak-anak saya dan baru makan satu kali sejak kemarin sore,” katanya. Popok bukan satu-satunya kebutuhan dasar yang menjadi barang langka. Susu formula juga menjadi sangat mahal. Nariman Abu al-Saud melahirkan putrinya pada 9 Oktober lalu. Dua hari setelah perang Israel di Gaza dimulai. “Di harga saat ini, saya bahkan tidak bisa membeli makanan untuk anak-anak saya, bayi perempuan saya mengalami infeksi kulit parah karena saya tidak bisa mendapatkan popok, bahkan tidak ada susu formula, menyediakan susu dan popok menjadi neraka bagi kami,” lanjutnya. Dia menambahkan, Perang ini adalah perang pada anak-anak kami dan nyawa mereka, Apa yang mereka lakukan hingga harus menanggung kondisi seperti itu? Mayoritas penduduk Gaza menjadi pengungsi dan sangat membutuhkan bantuan. Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan sudah 20 orang di kantong pemukiman itu meninggal dunia akibat malnutrisi dan dehidrasi. Program Pangan Dunia (WFP) mengatakan Israel harus mengizinkan akses jalan ke Gaza utara untuk menghindari kelaparan, mereka menekankan betapa buruknya situasi di daerah itu. Masyarakat didorong untuk mencari alternatif selain popok yang langka. Pabrik setempat memproduksi pengganti popok dengan menggunakan bahan-bahan mentah seperti kertas tisu, kapas medis, kain dan nilon. Pekerja pembuat popok, Yousef Darwish menjelaskan harga popok alternatif ini serupa dengan harga popok biasa sebelum perang. “Ada banyak permintaan dari keluarga-keluarga meskipun popok ini tidak sebagus popok yang lain dan tidak dibuat sesuai dengan spesifikasi kesehatan,” beber Darwish. Tetapi menurut Darwish, alternatif ini pun mungkin tidak akan bertahan lama karena bahan bakunya semakin menipis. “Kami menipiskan persediaan yang ada, dan dengan penutupan perbatasan sejak pecahnya perang, sumber daya ini hampir habis,” katanya mengacu pada pembatasan ketat masuknya bantuan ke Gaza yang diberlakukan Israel. Dari awal di Gaza pihaknya selalu mencari solusi. Namun, berapa lama lagi para ibu dan anak-anak dapat bertahan dengan kelangkaan dan kenaikan harga popok? Situasinya sudah tak tertahankan. Shaima Shinar, yang melahirkan anak pertamanya selama perang, juga harus beralih ke alternatif lain. Ibu mertuanya memotong-motong pakaian untuk dijadikan popok. “Saya tidak punya pilihan. Tidak mudah karena bahannya tidak nyaman, menyebabkan iritasi dan lecet pada kulit, saya juga harus mencucinya terus-menerus. Seperti yang Anda lihat, kami tinggal di tenda dan tidak ada air,” imbuh Shinar. Shinar melarikan diri dari Kota Gaza ke Deir el-Balah untuk menghindari pertempuran. Dia melakukan kunjungan singkat ke Mesir dua pekan sebelum konflik dimulai, tanpa mengetahui waktu kepulangannya akan menjadi bencana bagi dirinya dan anaknya yang saat itu belum lahir. “Saya tidak pernah membayangkan dalam hidup saya, anak saya akan lahir dalam kondisi seperti itu, bagaimana mungkin saya tidak bisa menyediakan popok untuk anak saya? Tidak bisa menaruhnya di tempat tidur yang bersih dan tempat yang bersih, bukan di tenda yang dingin ini?” Anak saya menderita dalam segala hal, saat ini, ia sedang pilek dan saya tidak bisa membeli obat, dan tidak ada pakaian atau popok,” tambahnya. Ibu baru ini menjelaskan ia sering mengembara dari satu lembaga ke lembaga lain untuk mencari bantuan, tetapi tidak berhasil. “Kemarin, bayi saya kehabisan susu. Saya pergi ke salah satu tenda untuk mendapatkan dua sendok susu untuk memuaskan rasa laparnya. Kami, orang dewasa, bisa menanggungnya, tapi bagaimana dengan anak-anak?” tutupnya. (zul/AZ) Baca juga :

Read More

Jasa Raharja Buka Mudik Gratis 2024

Jakarta — 1miliarsantri.net : PT Jasa Raharja (Persero) membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin pulang kampung tanpa biaya tambahan. Melalui akun resmi Instagram @pt_jasaraharja, perusahaan tersebut mengumumkan pembukaan pendaftaran program pada Selasa (5/3/2024). Pendaftaran untuk program mudik gratis ini telah dibuka sejak 4 Maret 2024 pukul 12.30 WIB melalui platform resmi mudik.jasaraharja.co.id. Masyarakat diberi opsi untuk memilih keberangkatan menggunakan kereta api atau bus, menjadikan perjalanan mudik semakin mudah dan nyaman. Rencananya, keberangkatan dengan kereta api akan tersedia pada 2-3 April 2024, sementara untuk bus akan dilaksanakan pada 5 April 2024. Berikut adalah syarat dan ketentuan yang perlu dipenuhi untuk mendaftar program mudik gratis ini: Cara Daftar Mudik Gratis Jasa Raharja: Bagi yang ingin mendapatkan informasi lebih lanjut, dapat mengunjungi situs resmi Jasa Raharja atau menghubungi nomor layanan pelanggan (021) 5220285/5220289 (Call) whatsapp 081323238700. (wink) Baca juga :

Read More

Wajib Halal Akan Diberlakukan Oktober 2024, BPJPH Kemenag Sosialisasi di 5.040 Lokasi

Jakarta — 1miliarsantri.net : Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kementerian Agama (Kemenag) menggelar sosialisasi Wajib Halal Oktober 2024 (WHO 2024) di 5.040 titik se-Indonesia. Hal tersebut disampaikan Kepala BPJPH M. Aqil Irham, rangkaian kampanye yang dilakukan serentak mulai 5 Maret 2024 ini adalah kelanjutan dari kegiatan serupa di tahun 2023. “Jika tahun 2023 kita menyentuh 1.012 titik se-Indonesia, maka tahun ini kita perluas. Ada 5.040 titik sentra pelaku UMKM yang akan kita sasar kampanye ini,” tutur Aqil Irham di Jakarta, Jumat (7/3/2024). Aqil menerangkan, WHO-2024 dilaksanakan dalam rangka menyambut pemberlakuan kewajiban sertifikasi halal pada 18 Oktober 2024 mendatang. “Kegiatan WHO-2024 kita awali pekan ini secara serentak di 34 provinsi dengan menyasar sedikitnya 170 titik strategis sentra pelaku usaha. Pada setiap pekan selanjutnya selama bulan Maret hingga Mei, sosialisasi diteruskan di 170 lokasi berbeda di 34 provinsi dan 3.000 desa, sehingga sedikitnya 5.040 sentra pelaku usaha terjangkau sosialisasi,” sambung Aqil. Lebih lanjut Aqil menjelaskan bahwa kegiatan WHO-2024 bertujuan untuk mengedukasikan kepada pelaku usaha, stakeholder dan masyarakat bahwa sesuai amanat undang-undang, produk yang masuk, beredar dan diperdagangkan di wilayah Indonesia wajib bersertifikat halal, di mana penahapan pertamanya akan dimulai Oktober 2024 nanti. Pemberlakuan tahap pertama kewajiban sertifikasi halal tersebut sesuai ketentuan PP Nomor 39 Tahun 2021 diberlakukan bagi tiga kelompok produk. Pertama, produk makanan dan minuman. Kedua, produk bahan baku, bahan tambahan pangan, bahan penolong untuk produk makanan dan minuman. Dan ketiga, jasa penyembelihan dan hasil sembelihan. Berdasarkan data Sihalal, lanjutnya, saat ini terdata 3,9 juta produk telah bersertifikat halal. Namun, masih ada produk makanan minuman yang belum bersertifikat halal. Karenanya, BPJPH bersama seluruh pemangku kepentingan terkait perlu mengambil langkah-langkah strategis untuk memberikan sosialisasi, edukasi, literasi, dan informasi kepada publik dan semua stakeholder tentang wajib sertifikasi halal Oktober 2024. “BPJPH sebagai institusi negara yang menjalankan penyelenggaraan JPH berinisiatif sebagai pihak yang mengorkestrasi para mitra strategis agar bisa bekerja sama untuk menjalankan kewajiban sertifikasi halal Oktober 2024,” tegas Aqil. Adapun rangkaian kegiatan WHO-2024 di 34 provinsi hari ini diawali dengan Rakor LPH dan LP3H. Juga dilaksanakan business matching kantin halal di tiga provinsi. Setelah kegiatan Rakorda, tim sosialisasi BPJPH, Satgas Layanan JPH dan stakeholder melaksanakan sosialisasi Wajib Halal Oktober 2024 mengunjungi sejumlah lokasi pelaku usaha untuk melakukan interaksi dan sosialisasi secara langsung. Bahkan, di lokasi juga disediakan layanan layanan konsultasi dan pengajuan sertifikasi halal di tempat (on the spot). “Rakor sudah dilaksanakan jam 08.00-12.00 sesuai zona waktu masing-masing. Lalu setelahnya kita turun ke lapangan ke lokasi strategis di mana pelaku usaha mikro, kecil, menengah dan besar berada.Y akni ke warung-warung makan, restoran, kedai, catering, hotel, mall, pusat perbelanjaan, food court, pusat oleh-oleh, pusat kuliner, pasar tradisional, pusat-pusat pedagang kaki lima, terminal bus, stasiun kereta, bandara, pelabuhan, rest area, dan lain sebagainya,” terang Aqil. Untuk mendorong optimasliasi sosialisasi, Aqil juga meminta dukungan semua pihak untuk menggencarkan publikasi melalui media sosial, media elektronik, media cetak, media luar ruangan seperti videotron. Termasuk dengan mendistribusikan naskah khutbah Jumat atau ceramah Ramadan dengan tema kewajiban sertifikasi halal. Satgas Layanan JPH Provinsi juga berkolaborasi dalam melakukan sosialisasi bersama Pemda terkait. Termasuk dalam bentuk penyediaan flyer, banner atau baliho di berbagai tempat strategis. (Iin) Baca juga :

Read More

Seperti Inilah Gambaran Populasi Umat Penghuni Surga Menurut Hadits

Surabaya — 1miliarsantri.net : Allah SWT memberikan anugerah yang besar dan rahmat-Nya kepada umat Islam di akhirat kelak. Salah satu karunia Allah yang diberikan kepada umat Muslim adalah terkait populasi mereka di surga dibandingkan umat-umat yang lain. Diriwayatkan dari Abdullah bin Masud RA, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda kepada kami, “Apakah kalian rela seandainya menjadi seperempat penduduk Surga?” Kami menjawab, “Ya”. Kemudian beliau SAW bersabda, “Apakah kalian rela seandainya menjadi sepertiga penduduk Surga?” Kami menjawab, “Ya”. Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Demi yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sesungguhnya aku berharap agar kalian menjadi separuh dari penduduk Surga. Karena surga itu tidak dimasuki kecuali oleh jiwa yang beriman. Tidaklah keadaan orang-orang Islam yang berada di tengah-tengah orang kafir melainkan seperti sehelai bulu putih pada lembu hitam atau seperti sehelai bulu hitam pada lembu merah.” (HR. Bukhari) Dalam riwayat lain, yang diriwayatkan dari Buraidah bin Al Hasib Al Aslami RA, Nabi Muhammad SAW bersabda: أهْلُ الجنَّةِ عِشرونَ ومائةُ صفٍّ ثمانونَ منها من هذهِ الأمَّةِ وأربَعونَ من سائرِ الأممِ “Penghuni surga itu ada sebanyak 120 baris. Sebanyak 80 barisnya dari umat ini, dan 40 baris lainnya dari seluruh umat lainnya.” (HR. Tirmidzi) Hadits tersebut mengisyaratkan bahwa 80 baris dari total 120 baris penghuni surga adalah umat Muslim. Sedangkan 40 baris lainnya berasal dari umat lain. Dengan demikian, keberadaan umat lain di surga hanya setengahnya dari jumlah umat Muslim di surga. Dapat diketahui pula, jumlah umat Islam yang masuk surga mencapai dua pertiga dari total baris umat yang masuk surga. “Ini adalah bukti bahwa mereka (umat Islam) akan menjadi dua pertiga penghuni surga,” demikian kata Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim. Sungguh ini merupakan suatu kemuliaan yang dianugerahkan Allah SWT kepada umat Islam, karena melebihkan jumlah umat Muslim yang masuk surga dibandingkan umat lainnya. (yat) Baca juga :

Read More