Dampak dan Kontroversi “Xpose Uncensored Trans7” yang Menggugah Publik

Situbondo – 1miliarsantri.net : Saat ini banyak orang mendadak mencari “Xpose Uncensored Trans7” di media sosial dan mesin pencari, setelah program yang mengusung nama itu memicu gelombang reaksi dari berbagai kalangan. Tayangan Xpose Uncensored Trans7 tersebut tak hanya menjadi bahan perbincangan, tetapi juga memunculkan kontroversi serius tentang etika penyiaran, perasaan publik, dan batas kebebasan jurnalistik. Mari kita ulas bersama bagaimana program Xpose Uncensored Trans7 bisa menjadi sorotan tajam di tengah masyarakat. Kontroversi dan Reaksi Publik terhadap Xpose Uncensored Trans7 Kita perlu memahami bahwa setiap konten media yang menyentuh institusi sensitif seperti pesantren, agama, atau tokoh masyarakat memiliki risiko tinggi memancing pro-kontra di kalangan masyarakat. Program xpose uncensored trans7 menjadi sorotan ketika salah satu episodenya yang ditayangkan pada Senin 13 Oktober, dianggap menyinggung kehidupan Pondok Pesantren terutama Lirboyo dengan cara yang dinilai kurang pantas. Banyak pihak merasa bahwa tayangan tersebut melewati batas kesopanan dan mengabaikan rasa hormat terhadap lingkungan pesantren. Reaksi datang dari alumni pesantren, organisasi keagamaan, dan masyarakat umum yang menyerukan agar penyiaran itu dikaji ulang, jangan sampai merusak citra lembaga keagamaan yang selama ini dianggap suci dan dihormati. Bahkan tagar #BoikotTrans7 ikut muncul sebagai bentuk kekecewaan masa terhadap program tersebut. Di sisi lain, Trans7 akhirnya memberi tanggapan resmi pada selasa 14 Oktober, mereka mengakui adanya kesalahan dan meminta maaf secara langsung di depan publik atas tayangan itu. Dan dalam surat permohonan maaf yang dikeluarkan mereka juga menyebut bahwa terjadi keteledoran dalam proses editing dan penyajian segmen yang memicu kegaduhan. Tanggung Jawab Media dan Etika Penyiaran Menurut Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) dari KPI, lembaga penyiaran wajib menghormati nilai agama, norma kesusilaan, dan kemanusiaan dalam konten yang disiarkan. Bila sebuah tayangan dianggap melecehkan atau menyerang martabat kelompok tertentu, maka tayangan itu bisa dianggap melanggar etika penyiaran. Baca juga : DPR RI Panggil Trans7 dan Alumni Santri Lirboyo: Bahas Tayangan Kontroversial, Trans7 Minta Maaf dan Program Dihentikan Dalam konteks xpose uncensored trans7, kritik muncul bahwa penyajian konten justru mendistorsi realitas pesantren, memperlihatkan potongan-potongan yang sensasional tanpa memberikan ruang klarifikasi yang seimbang. Hal ini memunculkan pertanyaan apakah program itu sudah melakukan verifikasi, memberikan kesempatan respons, atau menimbang dampak sosialnya? Banyak yang menilai, maaf saja tidak cukup jika tidak disertai langkah korektif konkret. Media punya peran besar membentuk opini publik dengan mem blow up sebuah peristiwa. Bila program menyajikan potongan atau framing yang merugikan pihak tertentu (judge by opinion), dampaknya bisa mengakar jauh mempengaruhi persepsi, menimbulkan stigma, atau bahkan konflik antar kelompok. Oleh sebab itu, transparansi proses editorial dan pemberian ruang hak jawab menjadi kunci dalam menjaga kredibilitas media. Lembaga penyiaran harus lebih hati-hati dalam menyentuh topik sensitif. Sebelum menayangkan segmen yang menyangkut agama, lembaga sosial, atau komunitas tertentu, verifikasi data dan pengecekan narasi harus jadi langkah wajib. Hindari potongan klip yang bisa menciptakan framing negatif tanpa konteks penuh. Baca juga : Trans7 Minta Maaf ke Pesantren Lirboyo: ‘Mengaku Lalai’ — Ini Penjelasannya… Dalam dunia digital sekarang, konten segera tersebar. Permintaan maaf lewat surat resmi saja tidak lagi cukup, media perlu membuat klarifikasi terbuka, audio visual korektif di kanal publik, serta memberi ruang komunikasi dua arah agar pihak yang dirugikan bisa menyampaikan tanggapan langsung. Menutup tulisan ini, kita harus menyadari bahwa kontroversi xpose uncensored trans7 lebih dari sekadar program televisi yang bermasalah, ia adalah cermin bagaimana media dan masyarakat harus saling menjaga etika, rasa hormat, dan tanggung jawab sosial. Baca juga : Hari Santri dan “Cermin Retak” di Layar Televisi Semoga kejadian ini menjadi pelajaran bahwa tayangan sesungguhnya bukan hanya tentang rating, melainkan juga dampak moral dan sosial. Mari bersama kita aktif memantau dan mendorong agar rumah produksi (production house) ke depan, bisa hadir dengan cara yang lebih berimbang, bermartabat, dan penuh integritas. Saat ini memang program “Xpose Uncensored Trans7” sudah dihentikan programnya secara permanen oleh pihak Trans7. Tetapi accident produksi program media seperti ini, bukan tidak mungkin bisa terjadi kembali di kemudian hari. Para praktisi media juga perlu mawas diri dan mentaati Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). P3SPS Adalah seperangkat aturan yang telah ditetapkan KPI untuk memastikan setiap program siaran televisi dan radio mematuhi nilai etika, moral dan kepentingan publik. Pedoman ini menjadi rambu utama bagi lembaga penyiaran agar isi penyiaran tidak bertentangan dengan norma agama, kesusilaan, dan hukum yang berlaku.(**) Penulis: Iffah Faridatul Hasanah Editor : Toto Budiman Foto : Dokumentasi Trans7

Read More

Viral Santri Ikut Ngecor di Ponpes Lirboyo, Pengurus: Itu Bentuk Amal Jariyah

Bondowoso – 1miliarsantri.net : Viralnya video para santri Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, yang ikut membantu proses pengecoran bangunan pondok, telah menarik perhatian publik di berbagai platform media sosial. Dalam video yang beredar, terlihat para santri mengenakan sarung sambil memindahkan adonan semen dan bekerja bersama-sama untuk membangun fasilitas pesantren. Aksi ini memicu beragam komentar, mulai dari rasa kagum atas semangat gotong royong mereka, hingga perdebatan mengenai apakah pekerjaan fisik tersebut seharusnya dilakukan oleh santri. Menanggapi hal tersebut, pihak Pengurus Pondok Pesantren Lirboyo memberikan klarifikasi dan menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan bentuk eksploitasi, melainkan bagian dari pendidikan karakter dan amal jariyah yang telah menjadi tradisi pesantren sejak lama. Amal Jariyah dan Nilai Pendidikan di Balik Aksi Gotong Royong Menurut keterangan resmi yang dilansir dari CNN Indonesia, kegiatan ngecor tersebut dilakukan secara sukarela oleh para santri sebagai bentuk pengabdian kepada pondok. “Itu merupakan bagian dari amal jariyah mereka. Para santri ingin berkontribusi secara nyata dalam pembangunan sarana belajar yang nantinya juga mereka gunakan,” ujar salah satu pengurus pesantren. Pihak pesantren menjelaskan bahwa tradisi “santri gotong royong” sudah berlangsung turun-temurun di Lirboyo. Setiap kali ada proyek pembangunan, para santri secara sukarela ikut membantu, baik dalam bentuk tenaga, doa, maupun sedekah. Bagi mereka, membantu membangun pondok sama artinya dengan menanam pahala jangka panjang, karena setiap ilmu yang dipelajari di tempat itu akan mengalirkan manfaat juga bagi yang ikut berkontribusi. “Ketika pondok berkembang, ketika ada santri yang belajar dan menyebarkan ilmu, maka mereka yang pernah membantu membangun pondok itu juga akan mendapat aliran pahala,” tambah pengurus tersebut. Baca juga: Semarak Hari Santri 2025, PCNU Purwakarta Hadirkan Kegiatan Bernuansa Religi dan Cinta Tanah Air Tradisi Kerja Kolektif di Pesantren Fenomena santri membantu proses pembangunan fisik bukan hal baru di lingkungan pesantren. Dalam banyak pesantren besar di Indonesia, termasuk Lirboyo, Tebuireng, dan Sidogiri, kerja bakti dan gotong royong menjadi bagian dari pembentukan karakter santri. Kegiatan semacam ini bertujuan menanamkan nilai-nilai kerendahan hati, tanggung jawab, dan kebersamaan. Santri diajarkan untuk tidak hanya fokus pada ilmu agama, tetapi juga memiliki semangat sosial tinggi dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Melalui kegiatan fisik seperti ini, mereka belajar arti kerja keras dan keikhlasan tanpa pamrih. Salah satu alumni Lirboyo menyebutkan bahwa kerja bakti seperti pengecoran atau membersihkan lingkungan pondok merupakan tradisi yang mempererat ukhuwah antar santri. “Kami merasa memiliki pondok ini bersama-sama. Kalau tidak dari santri sendiri yang membantu, siapa lagi?” ujarnya. Respon Publik dan Dukungan Netizen Meski sempat menuai kritik di media sosial, banyak netizen yang justru mengapresiasi semangat santri Lirboyo. Beberapa warganet menilai bahwa kegiatan tersebut merupakan bukti nyata penerapan nilai “ngabdi” (pengabdian) yang menjadi ciri khas pendidikan pesantren. Tak sedikit pula tokoh agama dan masyarakat yang memberikan dukungan. Mereka menilai aksi tersebut mencerminkan etos kerja dan spiritualitas khas pesantren, di mana segala bentuk kegiatan diarahkan untuk mendapatkan keberkahan dan manfaat bagi sesama. “Santri Lirboyo tidak sedang dieksploitasi, mereka sedang belajar arti tanggung jawab dan gotong royong. Itulah pendidikan sejati yang menggabungkan ilmu dan amal,” tulis salah satu pengamat pendidikan Islam di media sosial. Gotong Royong sebagai Cermin Kemandirian Pesantren Fenomena viral ini juga menjadi cerminan kemandirian pesantren dalam mengelola lembaga pendidikan. Sebagian besar pondok pesantren di Indonesia memang berkembang dengan semangat swadaya dan partisipasi santri serta masyarakat. Melalui kegiatan gotong royong seperti ngecor bangunan, pesantren tidak hanya membangun fasilitas fisik, tetapi juga memperkuat jiwa kebersamaan dan solidaritas di antara penghuninya. Inilah yang menjadikan pesantren tetap bertahan dan tumbuh meski tanpa banyak bergantung pada bantuan eksternal. Tradisi semacam ini sejalan dengan filosofi “berkah dalam kebersamaan” yang menjadi pondasi kehidupan pesantren. Dengan semangat itu, para santri tidak hanya dididik menjadi pribadi saleh secara spiritual, tetapi juga menjadi manusia yang siap berkontribusi bagi masyarakat dan bangsa. Pihak pengurus Ponpes Lirboyo menegaskan bahwa kegiatan tersebut akan terus dilakukan selama masih dalam koridor keselamatan dan semangat kebersamaan. “Kami ingin santri belajar dari kehidupan nyata. Amal jariyah itu bukan hanya uang, tapi juga tenaga, niat baik, dan kerja ikhlas,” pungkasnya. Baca juga: Said Didu Beberkan Kelangkaan BBM di SPBU Swasta Akibat Korupsi Pertamina 2018–2023 Penulis: Glancy Verona Editor: Toto Budiman Ilustrasi by AI

Read More

Telkom Luncurkan TELIS 2.0: Inovasi AI yang Ubah Cara Karyawan Mengelola Kebijakan Perusahaan

Telkom Indonesia meluncurkan TELIS 2.0, sistem legal intelligence berbasis AI yang mempercepat pencarian dan analisis dokumen kebijakan perusahaan hingga 24 kali lebih efisien, membantu karyawan bekerja lebih cerdas dan produktif. Jakarta — 1miliarsantri.net: PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) adalah badan usaha milik negara (BUMN) yang bergerak di bidang layanan teknologi informasi dan komunikasi serta telekomunikasi digital di Indonesia, saat ini memperkenalkan TELIS 2.0 (Telkom Legal Intelligence System versi 2.0). TELIS 2.0 (Telkom Legal Intelligence System versi 2.0), aplikasi berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dirancang untuk mengelola, menganalisis, dan mengakses dokumen peraturan perusahaan secara cepat dan kontekstual. Langkah ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan transformasi digital Telkom menuju penerapan AI berbasis produktivitas dan efisiensi kerja. Langkah Telkom ini melanjutkan kesuksesan TELIS 1.0 sebagai wadah penyimpanan digital peraturan perusahaan, TELIS 2.0 hadir dengan kemampuan baru yang jauh lebih cerdas. Aplikasi ini tidak hanya menyimpan dokumen, tetapi juga mampu menelusuri, meringkas, dan menampilkan informasi penting dari ratusan dokumen dalam hitungan detik. AI yang Mengubah Cara Kerja Unit Legal Telkom Dengan dukungan Cognitive AI, TELIS 2.0 secara signifikan memangkas waktu kerja administratif tim Legal hingga lebih dari tiga jam per hari, atau sekitar 40 menit per karyawan.Efisiensi ini memungkinkan karyawan untuk lebih fokus pada pekerjaan yang bersifat strategis dan bernilai tambah. Bahkan, kemampuan analitik dokumen yang didukung AI memungkinkan proses pemeriksaan dan perbandingan dokumen dilakukan hingga 24 kali lebih cepat dibandingkan metode manual.Peningkatan kecepatan dan akurasi ini bukan hanya soal efisiensi, tapi juga tentang transformasi budaya kerja menuju smart decision-making di lingkungan TelkomGroup. Faizal Rochmad Djoemadi: “TELIS 2.0 Jadi Use Case AI yang Nyata” Direktur IT Digital Telkom, Faizal Rochmad Djoemadi, menjelaskan bahwa peluncuran TELIS 2.0 menjadi tonggak penting penerapan AI di Telkom. “Memilih use case yang tepat adalah kunci sukses setiap organisasi dalam mengadopsi AI. Kami mulai dari unit pemilik data yang matang dan memiliki ambisi transformasi kuat. Dengan TELIS 2.0, kami ingin menghadirkan dampak langsung bagi sebanyak mungkin karyawan,”ujar Faizal. Menurutnya, unit Legal menjadi titik awal ideal karena memiliki volume data besar dan kebutuhan efisiensi tinggi. Keberhasilan implementasi TELIS 2.0 membuktikan bahwa teknologi AI mampu memberikan hasil nyata, bukan sekadar wacana digitalisasi. Pencarian Dokumen Jadi Instan dan Cerdas Salah satu tantangan besar di lingkungan korporasi adalah menemukan dokumen kebijakan terbaru dan relevan.Melalui TELIS 2.0, karyawan cukup mengetikkan kata kunci, dan sistem akan menampilkan ringkasan serta konteks kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan pengguna. Teknologi Cognitive AI yang digunakan bukan dimaksudkan untuk menggantikan manusia, melainkan untuk mendukung manusia bekerja lebih cepat, akurat, dan efisien.Dengan fitur ini, proses pencarian yang biasanya memakan waktu panjang kini dapat dilakukan hanya dalam beberapa detik. Menuju Ekosistem Digital Berbasis AI Ke depan, kapabilitas TELIS 2.0 akan terus dikembangkan agar dapat membantu unit Legal dalam memperbarui dan menyusun kebijakan baru dengan lebih cepat.AI akan mampu mengidentifikasi peraturan yang perlu diperhatikan atau disesuaikan dalam hitungan detik, mendukung penyusunan kebijakan yang lebih adaptif terhadap perubahan. Implementasi TELIS 2.0 menjadi bagian dari komitmen Telkom untuk membangun ekosistem digital yang inklusif, di mana AI berperan aktif dalam meningkatkan efektivitas kerja harian karyawan.Langkah ini menegaskan posisi Telkom sebagai pionir dalam penerapan teknologi berbasis AI di sektor korporasi Indonesia. TELIS 2.0 Inovasi Teknologi dan Budaya Kerja Baru Melalui TELIS 2.0, Telkom tidak hanya memperkenalkan inovasi teknologi, tetapi juga menghadirkan budaya kerja baru yang mengedepankan efisiensi, kecerdasan, dan kolaborasi digital.Inisiatif ini menunjukkan bagaimana AI dapat membawa dampak nyata bagi organisasi, dimulai dari hal sederhana namun memiliki pengaruh besar terhadap produktivitas dan masa depan dunia kerja.*** Penulis : Thamrin Humris Editor : Thamrin Humris Sumber : Telkom Indonesia Foto tangkapan layar Youtube Telkom

Read More

DPR RI Panggil Trans7 dan Alumni Santri Lirboyo: Bahas Tayangan Kontroversial, Trans7 Minta Maaf dan Program Dihentikan

Trans7 resmi minta maaf, program ‘Xpose Uncensored’ dihentikan, dan DPR dorong audit izin siar. Kasus ini jadi peringatan bagi media untuk lebih peka terhadap nilai agama dan sosial. Jakarta — 1miliarsantri.net: Respon cepat DPR menggelar rapat untuk membahas kasus tayangan kontroversial ““Xpose Uncensored” yang dinilai menyinggung pesantren. DPR RI mengundang pihak Trans7, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), serta Himpunan Alumni Santri Lirboyo (HIMASAL). Rapat diselenggarakan oleh DPR RI untuk membahas kasus program “Xpose Uncensored” yang tayang di Trans7 pada 13 Oktober 2025, dan menyinggung Pimpinan Pondok Pesantren Lirboyo, dan menimbulkan keresahan dan reaksi luas di kalangan umat Islam khususnya dari kalangan alumni pondok pesantren Lirboyo. Isi Rapat dan Respon Trans7 Rapat dipimpin oleh Wakil Ketua DPR RI, Cucun Ahmad Syamsurijal, yang menekankan pentingnya etika penyiaran dan perlindungan nilai-nilai keagamaan dalam media nasional. Dalam pertemuan tersebut, Direktur Utama Trans7, Atiek Nur Wahyuni, menyampaikan permohonan maaf terbuka kepada seluruh pihak, terutama komunitas pesantren. Ia memastikan bahwa program “Xpose Uncensored” dihentikan permanen, dan kerja sama dengan rumah produksi eksternal yang membuat tayangan itu sudah diputus per 14 Oktober 2025. Langkah DPR dan KPI Untuk menghindari kejadian serupa yang bisa saja terjadi di masa yang akan datang, maka DPR RI dan KPI mengambil langkah anitisipasi yang persuasif dan tegas: Sementara itu, HIMASAL menegaskan bahwa pesantren adalah pusat pendidikan moral dan spiritual, dan penyiaran publik harus menghormati hal itu. Dampak dan Pembelajaran Kasus Xpose Uncensored Trans7, Reputasi sebagai lembaga penyiaran mengalami dampak yang cukup signifikan. Trans7 wajib perkuat filter etika penyiaran dan kontrol eksternal, agar kasus yang sama tidak terulang lagi. Pesantren dan Masyarakat, Pihak pesantren dan masyarakat (khususnya umat Islam) wajib mendapatkan perlinbdungan citra lembaga keagamaan dari representasi negatif media. KPI dan Komdigi, Meningkatkan pengawasan dan memperkuat pedoman konten religi dan budaya. Time Line Kasus Polemik Kasus Tayangan Kontroversial “Xpose Uncensored” Pernyataan DPR RI Wakil Ketua DPR RI, Cucun Ahmad Syamsurijal, mengatakan ““Kami tidak melarang kreativitas media, tetapi semua harus punya tanggung jawab moral terhadap nilai agama dan budaya bangsa,” Cucun Ahmad Samsurijal menegaskan bahwa polemik tayangan Exposé Uncensored di Trans 7 harus menjadi pelajaran penting bagi seluruh pihak, terutama pelaku industri media, untuk menjaga nilai-nilai toleransi dan kebhinekaan dalam ruang publik Indonesia. “Kami di DPR telah mendengarkan langsung paparan dari Komdigi, KPI, dan pihak Trans7. Respon KPI luar biasa cepat untuk memastikan tidak ada lagi kelompok masyarakat yang tersakiti oleh tayangan di ruang publik,” pungkasnya. Menteri Keuangan Purbaya Tentang Usulan ‘Family Office’ Luhut : Ya Bangun Saja Sendiri Pesantren adalah benteng moral bangsa dan Media adalah cermin masyarakat Pesantren sebagai benteng moral bangsa berperan penting dalam membentuk karakter dan moral generasi muda. Sementara itu, media sebagai cermin masyarakat memiliki tanggung jawab besar dalam mencerminkan realitas sosial dan budaya, serta mempengaruhi persepsi dan perilaku masyarakat. Kasus ini menjadi pengingat penting bagi industri media bahwa kebebasan berekspresi tidak boleh melampaui batas etika sosial dan keagamaan.Langkah cepat DPR, KPI, dan Trans7 menunjukkan bahwa sistem penyiaran Indonesia masih memiliki mekanisme korektif yang responsif terhadap aspirasi publik.*** Penulis : Thamrin Humris Editor : Thamrin Humris Sumber : DPR RI, Trans7, Detik.Com, dan Majalahketik.com Foto tangkapan layar TV Parlemen DPR Panggil Trans7 & Alumni Lirboyo: Tayangan Kontroversial Berujung Permintaan Maaf dan Audit Izin Siar <link rel="canonical" href="https://www.example.com/dpr-panggil-trans7-lirboyo-tayangan

Read More

Ziarah Kubur Menggunakan Rekaman Ngaji: Bagaimana Hukumnya Dalam Islam?

Situbondo – 1miliarsantri.net : Banyak dari kita yang mempunyai kebiasaan ziarah datang langsung ke makam keluarga atau ulama untuk mendoakan dan mengenang jasa mereka. Namun, seiring perkembangan teknologi, bagaimana kalau ziarah kubur dilakukan menggunakan rekaman? Misalnya, ada yang memutar rekaman ngaji atau bacaan doa di makam. Sebelum membicarakan hukum ziarah kubur dengan rekaman, kita perlu paham dulu apa tujuan dari ziarah itu sendiri. Dalam Islam, ziarah kubur dianjurkan sebagai pengingat akan kematian dan kesempatan untuk mendoakan mereka yang sudah mendahului kita. Dari Buraidah bin Al-Hushoib RA, Rasulullah SAW pernah bersabda, “ Sesungguhnya aku pernah melarang kalian untuk menziarahi kubur, maka (sekarang) ziarahilah kuburan. Sebab, ziarah kubur itu akan mengingatkan kita pada hari akhirat.” (Hadist Riwayat Imam Muslim dan Abu Daud) Biasanya, ziarah dilakukan dengan datang langsung ke makam, membaca doa, tahlil, atau ayat-ayat Al-Qur’an, serta mendoakan kebaikan bagi yang telah meninggal. Kehadiran kita di makam juga dianggap sebagai bentuk penghormatan dan silaturahmi spiritual dengan orang yang sudah tiada. Saat ini, perkembangan teknologi memungkinkan seseorang memutar rekaman doa atau bacaan Al-Qur’an di makam, atau bahkan mengirimkan rekaman itu dari rumah. Hal ini biasanya dilakukan karena alasan tertentu, misal jarak yang jauh, kondisi kesehatan tubuh, keterbatasan waktu atau mungkin awam dengan bacaan-bacaan ziarah kubur. Namun, di sinilah muncul pertanyaan, apakah cara ini sama nilainya dengan hadir langsung? Apakah pahala doa dan bacaan tetap sampai kepada almarhum? Yuk kita simak bersama. Baca juga : Hukuman Apa yang Pantas Bagi Pelaku Koruptor Dalam Pandangan Islam Pandangan Ulama tentang Hukum Ziarah Kubur dengan Rekaman Berbicara hukum ziarah kubur dengan rekaman, kita harus memahami bahwa mayoritas ulama berpendapat ziarah kubur itu lebih utama dilakukan dengan hadir langsung ke makam. Hal ini karena ada adab dan hikmah yang hanya bisa didapatkan ketika berada di makam langsung, seperti merenungi adanya kematian dan merasakan kedekatan yang emosional. Meski begitu, doa untuk orang yang sudah meninggal tidak dibatasi tempat. Artinya, mendoakan dari jauh tetap sah dan insyaAllah sampai kepada yang didoakan, selama dilakukan dengan ikhlas. Namun, memutar rekaman doa atau tahlil di makam tanpa adanya kehadiran fisik dianggap tidak memiliki landasan yang kuat dalam syariat. Mengapa? Karena pahala doa atau bacaan datang dari orang yang membacanya saat itu, bukan dari suara rekaman yang diputar. Dengan kata lain, rekaman hanyalah suara yang diabadikan, bukan ibadah yang sedang berlangsung. Jadi, secara hukum, rekaman itu tidak bisa menggantikan doa yang dibaca langsung oleh seseorang. Baca juga : Awas Ancaman Hukuman Berat Bagi Pemimpin yang Dzolim Terhadap Rakyatnya Jika posisi kita sedang jauh dari makam orang tua atau keluarga, bukan berarti kita tidak bisa berbuat yang baik untuk mereka. Kita bisa membaca doa, Al-Fatihah, atau tahlil dari rumah, lalu menghadiahkan pahalanya untuk mereka. Cara ini jelas dianjurkan dalam Islam dan tidak memerlukan perantara rekaman. Bahkan, sedekah atas nama orang yang sudah meninggal juga merupakan amalan yang sangat dianjurkan, dan pahalanya bisa sampai kepada mereka. Jadi, kalau alasan kita memutar rekaman adalah ingin mengirimkan pahala, sebaiknya ganti dengan membaca langsung doa dari tempat kita berada. Dari pembahasan di atas tadi, kita bisa memetik bahwa hukum ziarah kubur dengan rekaman tidak sama dengan kita hadir langsung atau membaca doa secara langsung di makam. Rekaman hanyalah media suara, bukan ibadah yang sedang dikerjakan. Meskipun dengan teknologi memudahkan kita, adab ziarah kubur dan nilai ibadah yang sesungguhnya tetap lebih utama dilakukan secara langsung atau dengan membaca doa sendiri, meskipun dari jarak jauh atau tidak langsung mendatangi makam ahli kubur. Kalau memang kita tidak bisa hadir, Islam tetap memberi jalan, berdoalah langsung dari tempat kita berada, dan kirimkan pahala bacaan Al-Qur’an atau sedekah, niatkan untuk orang yang telah meninggal. Dengan begitu, kita tidak hanya mengikuti tuntunan agama saja, tetapi juga memastikan bahwa amalan kita sampai dan bermanfaat untuk mereka. Yang paling penting dalam ziarah kubur adalah niat tulus untuk mendoakan dan mengingat akhirat. Bukan sekadar mengikuti kebiasaan atau tren teknologi. Semoga kita semua bisa menjaga makna ziarah sesuai ajaran Islam, dan memahami dengan benar hukum ziarah kubur dengan rekaman agar ibadah kita bernilai di sisi Allah SWT.(***) Penulis : Iffah Faridatul Hasanah Editor : Toto Budiman Foto : Ilustrasi AI

Read More

Hukuman Apa yang Pantas Bagi Pelaku Koruptor Dalam Pandangan Islam

Situbondo – 1miliarsantri.net : Virus kejahatan yang sangat merugikan banyak orang dan menggerogoti berbagai sendi kehidupan berbangsa adalah korupsi. Pelaku koruptor ini bukan hanya membuat negara rugi secara materi, tapi juga menghancurkan kepercayaan masyarakat. Kejahatan ini dalam Islam dikategorikan sebagai perbuatan ghulul (pengkhianatan) dan sut (harta haram).. Dalam ajaran Islam, masalah korupsi ini dipandang serius. Hukuman bagi pelaku koruptor dalam Islam bukan sekadar soal menghukum demi efek jera, tapi juga sebagai upaya menjaga amanah dan keadilan. Sebab di mata Islam, korupsi adalah bentuk khianat terhadap kepercayaan yang diberikan, dan hukumnya jelas-jelas diatur agar masyarakat terlindungi dari kerusakan yang lebih besar. Di dalam Al-Qur’an, Allah sudah memperingatkan tentang kerasnya hukuman bagi orang yang berkhianat terhadap amanah. Rasulullah pun dengan tegas melarang perbuatan ini, bahkan menyebutnya sebagai salah satu bentuk dosa besar. Kenapa begitu keras? Karena pelaku koruptor bukan hanya soal mengambil uang saja, tapi juga menghilangkan hak orang lain, menimbulkan kesengsaraan, bahkan bisa memicu kerusakan sosial. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an Surat An-nisa ayat 29 yang berbunyi: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan cara yang batil (tidak benar)” Baca juga : Kasus Dugaan Korupsi Kuota Haji 2024! KPK Gercep Cegah Eks Menag Yaqut Bepergian ke Luar Negeri Hukuman Bagi Koruptor dalam Pandangan Islam Hukuman bagi koruptor dalam Islam bisa berbeda-beda tergantung besarnya kerugian, dampak yang ditimbulkan, dan cara korupsi itu dilakukan. Ada beberapa bentuk hukuman yang dibahas para ulama diantaranya: 1. Pengembalian Harta yang Dicuri atau Disalahgunakan Dalam pandangan Islam, harta hasil korupsi wajib dikembalikan kepada pemiliknya atau ke kas negara. Jika sudah meninggal, maka ahli warisnya yang bertanggung jawab mengembalikannya. Hal ini bentuk tanggung jawab pertama sebelum hukuman lainnya diterapkan. 2. Ta’zir (Hukuman yang Ditentukan Penguasa) Ta’zir adalah hukuman yang jenis dan kadarnya ditentukan oleh pemimpin atau penguasa, sesuai tingkat kesalahan. Bentuknya bisa berupa penjara, denda, pemecatan dari jabatan, atau hukuman sosial lainnya. Hukuman ini sifatnya fleksibel, tapi tujuannya jelas, memberikan efek jera dan mencegah orang lain meniru perbuatan yang sama. 3. Hudud (Jika Tergolong Pencurian) Kalau korupsi memenuhi syarat pencurian dalam hukum hudud misalnya, mengambil harta secara sembunyi-sembunyi, nilainya mencapai nisab, dan diambil dari tempat yang terjaga. maka bisa dikenakan hukuman potong tangan. Namun, penerapan hudud ini sangat ketat dan hanya dilakukan jika semua syaratnya terpenuhi. Baca juga : Teladan Mulia Nabi Memberantas Korupsi dalam Islam untuk Menegakkan Keadilan 4. Hukuman Berat untuk Perusak Negara Dalam kasus korupsi besar-besaran yang merugikan rakyat banyak hingga mengancam stabilitas negara, sebagian ulama memasukkan pelakunya ke dalam kategori “mufsid fil-ardh” (perusak di muka bumi). Dalam Al-Qur’an, pelaku kejahatan ini bisa dihukum sangat berat, termasuk hukuman mati, jika benar-benar terbukti dan melalui proses hukum yang sah. Kenapa Hukuman Bagi Koruptor dalam Islam Terlihat Tegas? Kalau kita lihat, hukuman bagi koruptor dalam Islam memang terasa keras. Tapi ini bukan tanpa alasan. Islam sangat menjaga hak orang banyak dan menganggap bahwa amanah itu sebagai hal yang sakral. Korupsi itu ibarat racun yang pelan-pelan mematikan keadilan dan kemakmuran. Selain itu, hukuman yang tegas juga bertujuan untuk menutup celah orang-orang yang mau mencoba-coba melakukan hal yang sama. Bayangkan kalau hukuman untuk korupsi begitu ringan, pasti akan banyak yang berani melakukannya, apalagi kalau mereka berpikir bisa lolos dengan mudah. Meskipun hukuman bagi koruptor dalam Islam jelas dan tegas, Islam juga sangat menekankan pencegahan. Pendidikan moral, pembinaan iman, dan penguatan rasa takut kepada Allah adalah benteng utama supaya orang tidak tergoda melakukan korupsi. Rasulullah mengajarkan bahwa amanah itu bukan sekadar jabatan atau pekerjaan, tapi juga tanggung jawab di hadapan Allah yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Pada akhirnya, hukuman bagi koruptor dalam pandang Islam bukan semata-mata soal balas dendam atau membuat pelaku menderita, tapi untuk menjaga keadilan, memulihkan hak rakyat, dan memberi pelajaran agar kejahatan ini tidak terulang. Dalam pandangan Islam, korupsi adalah pengkhianatan besar yang merusak sendi kehidupan. Jadi, kalau kita benar-benar mau membangun masyarakat yang bersih, adil, dan makmur, kita harus berani menegakkan hukuman bagi koruptor dalam Islam dengan bijak, adil, dan tanpa pandang bulu.(***) Penulis : Iffah Faridatul Hasanah Editor : Toto Budiman Foto : Ilustrasi AI

Read More

Pentingnya Adab Sebelum Ilmu, Bekal Berharga untuk Masa Depan Anak

Situbondo – 1miliarsantri.net : Terkadang ada sebagian orang yang memiliki banyak pengetahuan, justru kurang disukai dalam pergaulan. Salah satu alasannya ada pada adab yang dimiliki. Pentingnya adab sebelum ilmu adalah kunci agar pengetahuan yang kita miliki menjadi manfaat, bukan sekadar informasi yang memenuhi isi kepala seseorang . Ilmu tanpa adab ibarat pisau tajam tanpa gagang, bisa melukai diri sendiri dan orang lain. Karena itu, membekali anak dengan adab sejak dini adalah langkah terbaik sebelum mereka menapaki perjalanan menuntut ilmu yang panjang. Adab bukan hanya soal sopan santun kepada orang tua atau guru, tapi juga mencakup cara kita menghargai waktu, mendengar dengan seksama, dan menghormati pendapat orang lain. Adab mencerminkan kesiapan hati dan jiwa dalam menerima ilmu. Apalagi di era digital sekarang ini, ilmu bisa didapatkan dengan cepat. Mengajarkan pentingnya adab sebelum ilmu berarti menanamkan kebiasaan positif yang akan membantu anak menyerap pelajaran dengan hati yang lapang. Bayangkan jika seorang murid yang memiliki rasa hormat kepada gurunya, maka tentunya ia akan lebih mudah menerima nasihat dan bimbingan. Ilmunya pun akan terasa lebih ringan dan akan lebih menyenangkan untuk dipelajari. Para ulama terdahulu, sangat menekankan akhlak harus didahulukan sebelum ilmu masuk ke hati. Seorang murid yang mengamalkan adab kepada guru, menjaga sopan santun di majelis ilmu, serta menunjukkan kesungguhan dalam belajar, akan lebih mudah menerima ilmu yang masuk. Sebaliknya ilmu yang datang kepada orang yang sombong dan tidak beradab, seringkali tidak menetap dan tidak membuahkan hikmah. (sumber : www.almunawiyah.com) Mengajarkan Adab Sejak Dini Melalui Media Digital Di era digital seperti sekarang, anak-anak kita sangat akrab dengan gawai dan internet. Media ini sebenarnya bisa menjadi sarana yang efektif untuk belajar tentang adab, asalkan diarahkannya dengan benar. Banyak video, cerita, atau animasi yang akan mengajarkan nilai moral dan perilaku terpuji yang bisa untuk kita manfaatkan. Misalnya, kita bisa memperkenalkan cerita-cerita tokoh yang inspiratif dan sukses bukan hanya karena kepintarannya, tapi juga karena budi pekerti yang luhur. Anak pun bisa belajar bahwa kesuksesan sejati tidak hanya diukur dari nilai akademik, tetapi juga dari cara mereka bersikap kepada orang lain. Mengintegrasikan adab dalam keseharian anak lewat cerita, permainan edukatif, atau kelas khusus akan membuat nilai-nilai tersebut melekat kuat, bahkan tanpa terasa seperti sedang belajar. Sebuah lembaga pendidikan non formal seperti ISC (International Study Center) juga mengangkat adab dalam topik pembelajaran, khususnya di program “English for Adab”. Tersedia juga pembelajaran online lewat LMS (Learning Management System). Hal ini sangat relevan untuk para orang tua yang menginginkan pendidikan anaknya tercapai dalam bidang bahasa asing dan juga adab secara integral. Beragam program unggulan ISC bisa di akses di https://isc.institute Adab juga tampak dari kesiapan belajar. Datang tepat waktu, mencatat dengan serius, dan tidak melakukan kegiatan lain saat guru berbicara. Hal-hal kecil ini mencerminkan penghormatan terhadap ilmu dan pengajarnya. Singkatnya, pentingnya adab sebelum ilmu tidak hanya berlaku di pesantren, tetapi juga di dunia digital. Ilmu tanpa adab akan sulit berbekas dan membawa manfaat jangka panjang. Baca juga : How to Speak English Politely — The Adab Way Adab Membentuk Karakter dan Memudahkan Ilmu Masuk Jika kita mengibaratkan otak sebagai wadah, maka hati adalah pintunya. Adab adalah kunci untuk membuka pintu tersebut. Anak yang terbiasa bersikap sopan, sabar, dan rendah hati akan lebih mudah untuk menerima ilmu karena ia memiliki kesiapan mental. Pentingnya adab sebelum ilmu juga akan terlihat dari bagaimana anak tersebut berinteraksi dalam proses belajar. Mereka akan lebih sabar menunggu giliran, tidak memotong pembicaraan orang lain, dan mau mendengarkan penjelasan hingga selesai. Sikap seperti ini membuat proses belajar di kelas atau kelompok menjadi lebih kondusif dan menyenangkan. Kelas-kelas yang memasukkan materi adab dalam kurikulumnya akan terbukti mampu mencetak siswa yang bukan hanya pintar saja, tapi juga disegani karena sikapnya yang santun. Itulah mengapa mengajarkan adab sejak dini adalah investasi yang nilainya jauh melebihi materi. Baca juga : Adab First: Cultivating Character Through Language Menghubungkan Adab dengan Kecintaan Belajar Anak yang memiliki adab baik biasanya akan memiliki motivasi belajar yang lebih sehat tentunya. Mereka belajar bukan untuk pamer nilai, tapi karena rasa ingin tahu dan keinginan untuk bermanfaat bagi orang lain. Inilah tujuan sejati pendidikan. Program pembelajaran yang mengajarkan adab, seperti yang ditawarkan dalam program integral di ISC, bisa menjadi jalan bagi orang tua untuk menanamkan nilai-nilai Islami secara konsisten. Dengan pengajaran yang tepat, anak tidak hanya memahami teori adab, tapi juga mempraktikkannya dalam keseharian. Pada akhirnya, ilmu akan terus berkembang, tapi adab adalah bekal seumur hidup. Anak yang memiliki sikap baik akan lebih mudah beradaptasi dengan perubahan zaman, bergaul dengan siapa saja, dan mendapatkan kepercayaan orang di sekitarnya. Itulah mengapa kita perlu menanamkan pentingnya adab sebelum ilmu sejak mereka kecil. Sebagai orang tua atau pendidik, mari kita tidak hanya mengejar angka di rapor, tapi juga memastikan bahwa anak kita tumbuh dengan karakter yang kuat. Karena ilmu tanpa adab hanyalah kumpulan kata, tapi adab akan membuat ilmu itu hidup dan membawa manfaat bagi banyak orang.(***) Penulis : Iffah Faridatul Hasanah Editor : Toto Budiman Foto : Ilustrasi AI dan properti ISC

Read More

Awas Dampak Kejahatan Cyber Meluas, PT Telkom dan BMM Gencarkan Literasi Digital di Kalangan Pelajar

Surabaya – 1miliarsantri.net : Kejahatan Cyber terus meluas dengan menimbulkan korban yang terus bertambah. Bukan hanya di kalangan masyarakat awam, hingga instansi pemerintahpun tak luput dari kejahatan cyber. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk bersama Baitulmaal Muamalat (BMM) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung dunia pendidikan melalui program “CYBERHEROES: Literasi Sehat Berinternet.” Program ini dilaksanakan di berbagai kota dan difokuskan pada upaya pencegahan kejahatan cyber sekaligus peningkatan literasi digital di kalangan pelajar. Melalui program ini, PT Telkom dan BMM menyasar 30 sekolah dengan total peserta sebanyak 1.800 siswa yang tersebar di Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Kegiatan edukasi ini bertujuan untuk mengembangkan etika dan tanggung jawab dalam menggunakan internet serta menghadirkan duta cyberheroes di setiap sekolah yang berasal dari para siswa dan tidak menutup kemungkinan juga dari guru-guru potensial. Sebagai sarana yang penuh peluang sekaligus tantangan, literasi digital menjadi bekal penting agar generasi muda dapat menggunakan internet dengan bijak, aman, dan produktif. Pencegahan kejahatan cyber menjadi fokus utama dari PT Telkom dan BMM agar generasi muda tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, sehat secara mental, dan mampu memanfaatkan teknologi untuk kebaikan. Baca juga : Kebijakan Perusahaan dan Pelaporan Insiden Pentingnya Cyber Security di Era Digital Joni Setiyawan Saputra, S.Pd selaku narasumber dalam pelatihan ini menekankan pentingnya cyber security di zaman digitalisasi. Terlebih, target dari ancaman cyber adalah mereka yang memiliki data digital, utamanya dalam platform keuangan, platform pencari kerja, hingga media sosial. “Ancaman cyber yang paling sering terjadi adalah email, SMS, telepon dan link yang tujuannya adalah untuk mencuri informasi sensitif berupa username, password dan OTP. Jika menerima pesan mencurigakan seperti ini segera abaikan meskipun mereka mengaku sebagai perwakilan dari pihak yang terpercaya,” lanjut Joni. Kegiatan literasi digital ini harapannya dapat menjangkau ratusan ribu siswa agar mereka memahami cara melindungi data pribadi dan diri mereka dari ancaman cybercrime seperti pencurian identitas atau penipuan online. Baca juga : Literasi Sehat Berinternet dipilih sebagai Tema Pelatihan Cyberheroes 2025 PT Telkom dan BMM Selain edukasi, program ini juga melibatkan pembuatan konten positif yang akan dipublikasikan melalui media sosial sekolah dan komunitas. Dengan semangat kolaborasi, PT Telkom dan BMM optimis bahwa generasi digital Indonesia dapat tumbuh cerdas, bijak dan terlindungi dari bahaya kejahatan di dunia digital. Kampanye literasi digital berbasis Media Sosial seperti praktek produksi konten edukasi menarik dan melakukan kolaborasi dengan influencer positif, juga bisa ditempuh untuk menyebarkan pesan tentang bahaya kejahatan siber dan cara pencegahannya. Selain menerapkan tagar edukatif seperti gerakan #AmanOnline atau #GenZCerdasDigital agar pesan pencegahan lebih viral dan berkelanjutan. Edukasi literasi digital terpadu di sekolah dan komunitas akan terus dijalankan dengan melibatkan berbagai stakeholders pendidikan. Diantara strategi upaya preventif yang bisa dijalankan dengan mengintegrasikan kurikulum dan materi cyber safety, etika digital dan perlindungan data pribadi ke materi pelajaran TIK atau PKN. Kolaborasi multisektor dengan membangun kemitraan antara pemerintah, swasta dan lembaga Pendidikan menjadi kunci kesuksesan Gerakan nasional literasi digital secara berkelanjutan. Dengan mendorong peran platform digital untuk memperkuat fitur keamanan, verifikasi akun, dan pelaporan konten berbahaya. (***) Penulis : Iffah Faridatul Hasanah Editor : Toto Budiman Foto : Istimewa dan Ilustrasi AI

Read More

Semarak Hari Santri 2025, PCNU Purwakarta Hadirkan Kegiatan Bernuansa Religi dan Cinta Tanah Air

Bondowoso – 1imiliarsantri.net : Peringatan Hari Santri Nasional 2025 di Kabupaten Purwakarta berlangsung meriah dan penuh makna. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Purwakarta menghadirkan berbagai kegiatan yang tidak hanya menonjolkan nilai-nilai religius, tetapi juga menanamkan semangat kebangsaan dan cinta tanah air di kalangan santri dan masyarakat. Dilansir dari NU Online Jabar, rangkaian kegiatan Hari Santri 2025 ini berlangsung sejak awal Oktober dengan berbagai acara seperti apel santri, khataman Al-Qur’an, zikir kebangsaan, kirab merah putih, dan doa bersama untuk bangsa. Kegiatan ini diikuti oleh ribuan santri dari berbagai pesantren di Purwakarta, serta dihadiri oleh tokoh agama, pejabat pemerintah daerah, dan masyarakat umum. Perpaduan Nilai Religi dan Nasionalisme Ketua PCNU Purwakarta, KH. Asep Ma’mun, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Hari Santri bukan sekadar peringatan historis, tetapi momentum untuk meneguhkan peran santri dalam menjaga keutuhan NKRI. “Santri harus menjadi garda terdepan dalam membela agama sekaligus menjaga bangsa. Semangat religiusitas harus berjalan seiring dengan nasionalisme,” ujarnya. Tema besar Hari Santri tahun ini, “Santri Mandiri, Pesantren Maju, Indonesia Berdaya”, menjadi inspirasi bagi PCNU Purwakarta untuk mengemas kegiatan yang menyeimbangkan nilai spiritual dengan semangat kebangsaan. Dalam apel santri yang digelar di Alun-Alun Purwakarta, para santri mengenakan pakaian khas pesantren dan membawa bendera merah putih sebagai simbol cinta tanah air. Lagu-lagu perjuangan seperti Ya Lal Wathan dan Indonesia Raya menggema, menandai kebersamaan antara nilai keislaman dan keindonesiaan. Baca juga: Said Didu Beberkan Kelangkaan BBM di SPBU Swasta Akibat Korupsi Pertamina 2018–2023 Kegiatan Sosial dan Dakwah Kebangsaan Selain kegiatan seremonial, PCNU Purwakarta juga mengadakan beragam kegiatan sosial seperti donor darah, bakti pesantren, santunan anak yatim, dan pengobatan gratis bagi masyarakat sekitar. Melalui kegiatan ini, NU ingin menegaskan bahwa santri bukan hanya ahli ibadah, tetapi juga berperan aktif dalam kerja-kerja sosial kemasyarakatan. “Spirit Hari Santri harus diterjemahkan dalam bentuk aksi nyata. Santri tidak hanya berzikir, tapi juga berkontribusi untuk masyarakat,” tegas Ketua Lembaga Dakwah PCNU Purwakarta. Kegiatan lain yang menarik perhatian adalah Zikir dan Doa untuk Negeri, yang digelar di halaman Masjid Agung Purwakarta. Ribuan jamaah hadir untuk berdoa bersama memohon keselamatan dan kedamaian bagi Indonesia. Dalam kegiatan tersebut, para kiai juga memberikan tausiyah tentang pentingnya menjaga ukhuwah Islamiyah dan persatuan bangsa di tengah tantangan globalisasi. Kirab Merah Putih dan Parade Santri Salah satu agenda paling semarak dalam peringatan Hari Santri 2025 di Purwakarta adalah Kirab Merah Putih dan Parade Santri. Ratusan santri dari berbagai pondok pesantren berjalan kaki sambil membawa spanduk bertuliskan pesan-pesan cinta damai, toleransi, dan kebangsaan. Kirab ini menjadi simbol kolaborasi antara nilai-nilai pesantren dengan semangat nasionalisme. Para peserta juga menampilkan berbagai pertunjukan seni budaya Islam seperti marawis, hadrah, dan pencak silat khas pesantren yang memukau masyarakat. Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga sarana edukasi bagi masyarakat tentang peran penting santri dalam sejarah perjuangan bangsa. “Santri memiliki kontribusi besar dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Semangat itu harus terus kita hidupkan,” kata KH. Asep. Harapan untuk Santri Purwakarta Menutup rangkaian kegiatan Hari Santri 2025, PCNU Purwakarta menyampaikan harapan agar santri terus berperan aktif dalam menjaga moralitas bangsa, memperkuat pendidikan pesantren, dan mengembangkan potensi diri di berbagai bidang. Santri masa kini diharapkan tidak hanya pandai dalam ilmu agama, tetapi juga mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai bekal menghadapi era modern. Pemerintah daerah Purwakarta juga berjanji untuk terus mendukung kegiatan pesantren dan santri melalui berbagai program kolaboratif di bidang pendidikan, ekonomi, dan lingkungan. Peringatan Hari Santri 2025 di Purwakarta menjadi cerminan betapa kuatnya sinergi antara nilai-nilai spiritual dan kebangsaan. Santri tidak hanya menjadi penjaga moral dan akidah, tetapi juga menjadi agen perubahan bagi kemajuan bangsa. Dengan semangat religius dan nasionalisme yang berpadu, PCNU Purwakarta berhasil menghadirkan perayaan Hari Santri yang penuh makna, menggugah kesadaran akan pentingnya cinta tanah air sebagai bagian dari iman. Baca juga: Memperingati Hari Santri Nasional 2025: Cerita Santri yang Selamat dari Runtuhnya Ponpes Al Khoziny Penulis: Glancy Verona Editor: Toto Budiman Ilustrasi by AI

Read More

Dari Resolusi Jihad ke Revolusi Adab: Ketika Layar Televisi Menguji Martabat Santri

Kediri – 1miliarsantri.net | BAYANGKAN suasana pondok pesantren dimulai dengan semangat resolusi jihad. Santri-santri bangun sebelum subuh, berwudu di air yang dinginnya menggigit, lalu berbaris menuju musala. Dari kejauhan, terdengar lantunan ayat suci yang menggetarkan hati. Namun beberapa hari lalu, keheningan dunia pesantren itu tiba-tiba terusik. Sebuah tayangan di televisi—“Xpose Uncensored” di Trans7—menyajikan kehidupan santri dengan nada mengejek, seolah dunia pesantren hanyalah tempat konyol dan kolot. Seolah-olah sebagai manifestasi semangat resolusi jihad bergema di mana-mana disuarakan khususnya para alumni pondok Lirboyo. Gelombang reaksi pun datang deras, seperti ombak yang menghantam pantai. Media sosial mendidih. Alumni pesantren, kiai, dan masyarakat menuntut klarifikasi. Namun dengan menjunjung nilai revolusi adab. Tapi di balik riuhnya kemarahan itu, ada pertanyaan yang menggantung di udara: Apakah ini hanya soal tayangan yang salah arah, atau ada sesuatu yang lebih dalam sedang diuji? Api Lama yang Menyala Lagi Hari Santri Nasional—22 Oktober—ditetapkan untuk mengenang momen bersejarah Resolusi Jihad tahun 1945. Saat itu, ribuan santri bangkit melawan penjajahan. Mereka tak memegang mikrofon atau kamera, tapi bambu runcing dan tekad yang tak tergoyahkan. Seruan KH Hasyim Asy’ari menggema: membela tanah air adalah bagian dari iman. Namun, 80 tahun berselang, bentuk “penjajahan” berubah rupa. Tidak lagi berupa senjata, tetapi berupa narasi yang menyesatkan. Jika dulu santri berhadapan dengan tentara asing, kini mereka menghadapi opini publik yang mudah terbentuk hanya karena potongan video. “Xpose Uncensored” hanyalah satu contoh dari banyaknya tontonan yang mencoba memutar makna—bahwa kesopanan dianggap kuno, dan adab dianggap ketinggalan zaman. Baca juga: Hari Santri dan “Cermin Retak” di Layar Televisi Pertempuran Baru di Dunia yang Berisik Bayangkan: para santri yang setiap hari belajar sopan santun dan menahan amarah, tiba-tiba menjadi bahan candaan di layar nasional. Tapi alih-alih melawan dengan kata-kata kasar, mereka menulis surat terbuka. Mereka berdiskusi, berdoa bersama, dan menegur dengan santun. Inilah gaya perjuangan santri masa kini—bukan dengan amarah, tapi dengan adab. Inilah revolusi adab—versi baru dari resolusi jihad. Jika dulu santri mengusir penjajah dari tanah air, kini mereka berjuang melawan penjajahan moral dan logika. Senjatanya bukan lagi bambu runcing, tapi pena, naskah, dan keberanian menjaga kebenaran di tengah bisingnya dunia digital. Dan di sinilah kisahnya menjadi semakin menarik. Bayangkan seorang santri muda yang duduk di depan televisi, melihat tayangan itu dengan dada berdebar. Ia marah, tapi juga sadar: ini bukan waktu untuk berteriak, ini waktu untuk membuktikan dengan tindakan. Maka ia mulai menulis, berdakwah, dan menunjukkan keindahan pesantren lewat konten positif. Satu unggahan kecilnya mulai viral, dan publik mulai sadar—pesantren bukan tempat gelap, tapi taman ilmu dan cahaya. Baca juga : Sejarah Hari Santri Nasional 22 Oktober: Dari Resolusi Jihad Hingga Penetapan Presiden Ketika Adab Jadi Benteng Terakhir Kasus “Xpose Uncensored” sesungguhnya memberi pelajaran yang lebih besar daripada sekadar kritik media. Ia membuka mata bangsa bahwa pesantren bukan tinggalan masa lalu, tapi benteng moral masa depan. Saat dunia kehilangan sopan santun, santrilah yang mengajarkan cara bicara dengan hati. Saat media kehilangan arah, santrilah yang mengingatkan bahwa kebebasan tanpa tanggung jawab hanyalah kebodohan yang disiarkan. Dan di momen Hari Santri ini, gema resolusi jihad kembali terasa—bukan dalam bentuk perang fisik, melainkan perang makna. Karena di zaman ini, kebenaran sering kalah oleh suara paling nyaring. Santri tahu, jihad bukan soal membenci, tapi menjaga cinta: cinta pada kebenaran, cinta pada adab, cinta pada bangsa. Maka mereka melawan bukan untuk menang, tapi untuk menjaga martabat. Ketika layar kaca retak oleh kesalahan, santri hadir untuk memperbaikinya dengan ketenangan. Karena mereka tahu, tugas mereka bukan hanya membaca kitab, tetapi juga membaca zaman. Dan di situlah getaran adrenalin sejati Hari Santri terasa—bukan dalam pekikan perang, tapi dalam keheningan seorang santri yang menegakkan adab di tengah dunia yang kian kehilangan arah. Wallahu a’lam. * Penulis: Abdullah al-Mustofa Editor: Toto Budiman Foto: CNN Indonesia

Read More