Fakta Sejarah Dua Bukit Safa Marwah

Makkah — 1miliarsantri.net : Bagi yang pernah melaksanakan haji dan umrah, tentu tidak asing dengan dua bukit yang berada di sisi sebelah timur Masjidil Haram yang juga termasuk salah satu tempat dalam rangkaian ibadah haji dan umrah, yaitu bukit Shafa dan Marwa. Dua bukit ini ternyata memiliki sejumlah fakta menarik, apa saja fakta menarik itu ? Berada di sebelah timur Masjidil Haram dengan jarak sekitar 130 meter dari Ka’bah, ternyata bukit Shafa awalnya bersambung dengan bukit Abu Qubays, di sisi selatan dan bukit Marwa berjarak sekitar 300 meter dari Ka’bah bersambung dengan bukit Qa’ayqa’an, berhadapan dengan bukit Shafa ada di sebelah utaranya. Sehingga bisa disimpulkan bahwa Ka’bah terletak di lembah tandus yang dipenuhi dengan bukit dan pasir, seperti halnya yang bisa disaksikan di Makkah. Bukit Shafa dan Marwa kemudian dipisahkan dari bukit lainnya ketika adanya perluasan Masjidil Haram pertama oleh Kerajaan Arab Saudi pada sekitar tahun 1955-1956, dan menjadikan keduanya menjadi satu bagian dari Masjidil Haram. Antara kedua bukit itu, terdapat jalan untuk melakukan Sa’i yang lazim disebut sebagai Mas’a. Kata “shafa” berasal dari kata shafa’ atau shafwan atau shafwa’ yang identik dengan makna “lembut” atau “murni”, sedangkan dalam kaitannya dengan penamaan bukit ini, mengandung makna sebagai bukit bebatuan yang besar, keras, dan halus, bercampur dengan kerikil dan pasir. Sedangkan kata “marwa” setidaknya memiliki dua asal kata dengan dua versi sejarah penamaan yang berbeda, yaitu mar’ah (wanita) karena mengenang ibunda Isma’il, yaitu Hajar yang berjuang mencari air untuk putranya. Versi lain adalah bahwa kata “Marwa” berasal dari kata “marwu” yang merujuk pada perbukitan dengan batu berwarna putih atau terang. Beberapa sumber mengungkap bahwa batu-batu dari bukit Marwa dahulu bisa digunakan sebagai pemantik api. Shafa-Marwa dan Darul Arqam Di masa lalu, bukit Shafa dan Marwa memang tidak banyak ditinggali oleh penduduk Makkah karena keduanya adalah bebatuan keras yang sulit untuk dibangunkan rumah. Akan tetapi para penduduk Makkah banyak yang bertempat tinggal di bawah kedua bukit itu, salah satunya adalah rumah al-Arqam bin Abi al-Arqam atau yang biasa disebut sebagai Dar al-Arqam yang terletak di bawah bukit Shafa. Darul Arqam atau Rumah al-Arqam merupakan tempat berkumpulnya Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dan para sahabat ketika periode dakwah pertama atau secara sembunyi-sembunyi, di dalamnya diajarkan pokok-pokok ajaran Islam dan menjadi tempat Umar bin Khaththab masuk Islam. Karena fungsi itulah, nama Darul Arqam menjadi salah satu program kaderisasi di Muhammadiyah, bahkan menjadi nama khas di beberapa masjid dan pesantren Muhammadiyah. Di atas bukit Shafa pula, bermula dakwah secara terang-terangan, ketika Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berseru “Ya Shobahah” dan berorasi di hadapan kaum Quraisy, dan saat itu pula Nabi juga mendapat penolakan dari Abu Lahab, pamannya sendiri. (zid) Baca juga :

Read More

Masjid Qiblatain, Saksi Awal Mula Perubahan Arah Kiblat ke Ka’bah

Madinah — 1miliarsantri.net : Kota Madinah sangat kaya dengan situs bersejarah yang sering dikunjungi jamaah umrah dan haji, maupun penduduk Arab Saudi. Kota ini mengingatkan mereka akan sejarah Nabi Muhammad Saw dan penyebaran Islam ke seluruh penjuru dunia. Salah satu situs di Madinah adalah Masjid Qiblatain. Masjid ini terletak sekitar 7 km di sebelah timur laut Masjid Nabawi dan menjadi tempat ziarah penting bagi umat Islam. Awalnya, masjid ini dikenal dengan nama Masjid Bani Salamah, karena dibangun di bekas rumah Bani Salamah. Masjid Qiblatain adalah masjid yang memiliki dua kiblat. Qiblatain artinya dua kiblat. Kiblat pertama yang menghadap ke Masjid Al-Aqsa di Baitul Maqdis (Palestina), dan kiblat kedua yang menghadap ke Ka’bah di Masjidil Haram, Makkah. Masjid ini dibangun oleh Sawad bin Ghanam bin Kaab pada tahun kedua hijriah, tempat ini secara historis menjadi penting bagi umat Islam karena di sanalah turunnya wahyu Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad untuk mengubah arah kiblat. Menurut Prof Dr KH Aswadi MAg, Konsultan Ibadah PPIH Daker Madinah, hal itu terjadi pada bulan Syakban, ketika Nabi Muhammad SAW memimpin para sahabatnya saat salat Zuhur, kemudian diturunkan wahyu untuk menghadap ke arah Ka’bah. Ketika sudah salat dua rakaat, turunlah wahyu yang memerintahkan untuk mengubah arah kiblat, maka Nabi langsung melakukan, sesegera mungkin untuk melakukan perubahan itu. “Karena itu merupakan perintah langsung di rakaat kedua atau dua rakaat bagian yang kedua. Dan langsung baginda Rasul itu mengalihkan kiblatnya itu dari Baitul Maqdis ke Ka’bah Baitullah. Ini kemudian diikuti oleh semua jema’ah,” katanya. Menurut Aswadi, ada perbedaan pendapat mengenai waktu perpindahan arah kiblat tersebut. “Itu tahun ke-2 Hijriah. Jadi, sebagian mufassir menyatakan bahwa itu terjadi di bulan Syakban. Ada yang mengatakan di bulan Rajab. Ada yang mengatakan itu adalah hari Senin. Ada yang mengatakan itu hari Selasa. Ada yang mengatakan salat zuhur, ada yang mengatakan salat Asar,” ujar guru besar UIN Sunan Ampel Surabaya ini. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari menyatakan bahwa itu terjadi saat Salat Zuhur. “Pendapat yang paling tepat adalah salat yang dikerjakan di Bani Salamah pada saat meninggalnya Bisyr bin Barra’ bin Ma’rur adalah Salat Zuhur. Sedangkan, salat yang pertama kali dikerjakan di Masjid Nabawi dengan menghadap Ka’bah adalah Salat Asar.” Kisah perpindahan arah kiblat ini bermula ketika Nabi Muhammad mengunjungi ibu dari Bisyr bin Barra’ bin Ma’rur dari Bani Salamah yang ditinggal mati keluarganya. Kemudian tibalah waktu salat. Nabi pun salat bersama para sahabat di sana. Dua rakaat pertama masih menghadap Baitul Maqdis, sampai akhirnya Malaikat Jibril menyampaikan wahyu pemindahan arah kiblat. Wahyu datang ketika baru saja menyelesaikan rakaat kedua. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman, “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi al-Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Allah dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.” (Al-Baqarah: 144). Begitu menerima wahyu ini, Rasul langsung berpindah 180 derajat, diikuti oleh semua jemaah menghadap Masjidil Haram. Pada awalnya, kata Aswadi, kiblat salat untuk semua nabi adalah Baitullah di Makkah, seperti yang tercantum dalam Al-Qur’an Surah Ali Imran ayat 96: “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk tempat beribadah manusia ialah Baitullah di Makkah yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” Sedangkan Al-Quds (Baitul Maqdis) ditetapkan sebagai kiblat untuk sebagian dari para nabi dari Bani Israil. Dari Madinah, Baitul Maqdis berada di sebelah utara, sedangkan Baitullah di bagian selatan. Ketika masih di Makkah, Nabi salat menghadap Baitul Maqdis, juga sekaligus menghadap Ka’bah. Nabi menghadap ke utara, di mana posisi Ka’bah searah dengan Baitul Maqdis. Perubahan arah kiblat sendiri sudah diinginkan Nabi, karena selama di Makkah beliau salat menghadap ke Baitul Maqdis, bahkan sampai di Madinah pun, beliau masih menghadap ke sana lebih dari setahun. Namun, beliau terus memohon, mencari kepastian dan berharap agar kiblat dipindahkan ke Ka’bah, sebagaimana dalam Surat Al-Baqarah ayat 144, “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai.” Masjid Al-Qiblatain sudah mengalami beberapa kali pemugaran hingga renovasi. Awalnya masjid ini dikelola oleh Khalifah Umar ibn al-Khatt?b. Lalu direnovasi dan dibangun kembali ketika Kesultanan Usmani berkuasa. Pada 1987 Pemerintah Kerajaan Arab Saudi di bawah Raja Fahd pernah memperluasnya, merenovasi dan membangun dengan konstruksi baru, tetapi tidak menghilangkan ciri khas masjid tersebut. Di bagian luar, arsitektur masjid terinspirasi dari elemen dan motif tradisional sehingga menampakkan citra otentik sebuah situs bersejarah. Ruang salat mengadopsi geometri dan simetri ortogonal yang ditonjolkan dengan menara kembar dan kubah kembar. Kubah utama yang menunjukkan arah kiblat yang benar dan kubah kedua hanya dijadikan sebagai pengingat sejarah. Ada garis silang kecil yang menunjukkan transisi perpindahan arah kiblat. Masjid Qiblatain awalnya memang memiliki dua arah mihrab yang menonjol yang umumnya digunakan oleh Imam salat, ke arah Makkah dan Palestina. Usai renovasi, Masjid Qiblatain dibangun dengan memfokuskan satu mihrab yang menghadap ka’bah di Makkah, sedangkan penanda kiblat lama yang ke Baitul Maqdis dipasang di atas pintu masuk ke ruang salat. Desainnya merupakan reproduksi mihrab Sulaimani seperti di ruang bawah kubah sakhrah (kubah batu) di Yerusalem mengingatkan kepada mihrab Islam tertua yang masih ada. (dul) Baca juga :

Read More

Jangan Menunda Haji Selama Mampu, Meski Usia Masih Muda

Surabaya — 1miliarsantri.net : Beribadah haji atau umrah ke Tanah Suci Mekkah dan Madinah tentu menjadi dambaan setiap Muslim di dunia. Apalagi berhaji merupakan rukun Islam ke-5. Namun, sayangnya yang terjadi di Indonesia kebanyakan yang berhaji adalah orang lanjut usia. Kondisi ini berhubungan dengan anggapan di masyarakat yang memandang berhaji merupakan ibadah yang diperuntukkan bagi lansia saja. Padahal sejatinya ibadah haji membutuhkan fisik dan stamina yang prima untuk menjalankan tiap rukun ibadahnya, seperti thawaf, sa’i atau lempar jumrah. Ditambah lagi dengan kondisi cuaca Arab Saudi yang cukup terik dibanding Indonesia. Bagi kalangan lansia kondisi ini tentu cukup melelahkan. Berbeda halnya bila haji dilakukan di saat usia produktif atau masih muda. Ada banyak alasan positif kenapa sebaiknya berhaji dilakukan di usia muda. Berikut keuntungan naik haji saat masih muda. Mengutip laman About Islam, Rabu (29/5/2024), nasionalisme, rasisme, dan kefanatikan adalah masalah yang akan terus dihadapi umat manusia, sebagaimana dibahas dalam pidato terakhir Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Salah satu cara terbaik untuk tidak membawa penyakit seperti itu dalam hati Anda adalah dengan “mengenal orang lain”. Dengan jutaan umat Muslim dari seluruh penjuru dunia yang beribadah haji akan menjadi pertemuan internasional terbesar umat manusia. Momen ini adalah kesempatan terbaik untuk mengakui keberagaman umat Muslim dan mengapresiasi bahwa Islam adalah untuk semua orang di segala waktu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِى الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ “Teruslah menunaikan ibadah haji dan umrah, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa, seperti halnya tungku menghilangkan kotoran kotor dari besi, emas, dan perak. Dan haji yang mabrur tidak ada pahalanya selain surga!” Menukil NU Online, ibadah haji memiliki keutamaan yang luar bisa yaitu menghapus segala dosa dan dosa kezaliman. Orang yang melaksanakan haji disucikan dosanya sebagaimana keterangan hadits Nabi Muhammad saw. Orang yang berhaji akan kembali suci dari dosa seperti bayi baru dilahirkan. عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: سَمِعْتُ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم يقول: مَنْ حَجَّ، فلَمْ يَرْفُثْ، وَلم يَفْسُقْ، رَجَعَ مِنْ ذُنُوْبِهِ كَيَوْمَ وَلَدْتُهُ أُمُّهُ. رواه البخاري ومسلم والنسائي٫ وابن ماجة والترمذي إلا أنه قال: غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ Artinya, “Dari sahabat Abu Hurairah ra, dari Nabi Muhammad saw, ia bersabda, ‘Siapa saja yang berhaji, lalu tidak berkata keji dan tidak berbuat dosa (hubungan badan suami istri yang dilarang dalam ihram), niscaya ia kembali (suci) dari dosanya seperti hari dilahirkan oleh ibunya,’ (HR Bukhari, Muslim, An-Nasai), ‘niscaya diampuni dosanya yang telah lalu,’” (HR At-Tirmidzi dan Ibnu Majah). Pada hadits riwayat Ibnu Majah dan Ibnu Hibban menerangkan bahwa Allah mengampuni dosa jamaah haji ketika mereka meminta ampun kepada-Nya karena jamaah haji dan jamaah umrah adalah tamu undangan-Nya. عَن أَبِي هُرَيْرَةَ عَن رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ الْحُجَّاجُ وَالْعُمَّارُ وَفْدُ اللَّهِ إِنْ دَعَوْهُ أَجَابَهُمْ وَإِنْ اسْتَغْفَرُوهُ غَفَرَ لَهُمْ Artinya, “Dari sahabat Abu Hurairah ra, Nabi Muhammad saw bersabda, ‘Jamaah haji dan umrah adalah tamu Allah. Jika mereka berdoa, Allah memenuhi permintaan mereka dan jika mereka meminta ampun kepada-Nya, niscaya Allah mengampuni mereka,’” (HR Ibnu Majah dan Ibnu Hibban). (yat) Baca juga :

Read More

Erdogan Menilai Israel yang Tidak Terlindungi oleh Hukum Merupakan Ancaman

Turki — 1miliarsantri.net : Pidato Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di parlemen Turki pada Rabu (29/5/2024) lalu mengatakan tidak ada negara yang aman kecuali Israel mematuhi hukum internasional. Pernyataan Erdogan tersebut mengacu pada tindakan Israel di Jalur Gaza yang telah berlangsung selama lebih dari tujuh bulan meskipun ada keputusan dan resolusi yang menentangnya “Tidak ada negara yang aman kecuali Israel menerima hukum internasional dan menganggap dirinya terikat oleh hukum internasional,” ungkanya. Erdogan menilai Israel yang tidak terlindungi oleh hukum merupakan ancaman tidak hanya bagi Palestina atau Gaza tetapi juga bagi perdamaian global dan kemanusiaan secara keseluruhan. Ia mengecam serangan Israel pada Ahad (26/5/2024) terhadap sebuah kamp pengungsi di Rafah, Gaza selatan yang menewaskan sedikitnya 45 orang dan menyulut api yang menyebar dengan cepat melalui tenda-tenda dan akomodasi sementara. Presiden Turki itu turut mengkritik ketidakmampuan sistem internasional, termasuk badan-badan seperti PBB untuk menghentikan kekejaman yang sedang berlangsung di Gaza yang menyebabkan lebih dari 36.000 warga Palestina terbunuh dan telah menyebabkan kehancuran yang luas, pengungsian, dan kondisi kelaparan. “PBB bahkan tidak mampu melindungi personel atau pekerja bantuannya sendiri, apalagi menghentikan genosida. Bukan hanya umat manusia yang binasa di Gaza, tapi PBB juga dengan semangatnya,” ucapnya. Mengecam Barat atas dugaan keterlibatannya dalam perang Israel di Gaza, pemimpin Turki tersebut mengatakan bahwa tidak ada keyakinan yang menganggap sah untuk membakar warga sipil yang tidak bersalah sampai mati di tenda mereka. Sementara itu, dunia menyaksikan kebiadaban vampir yang dikenal sebagai Netanyahu melalui siaran langsung. “Negara Amerika, tangan Anda juga berlumuran darah; para kepala negara dan pemerintahan Eropa, Anda telah terlibat dalam barbarisme Israel karena Anda tetap diam,” ujarnya. Lebih lanjut dia mengatakan nilai-nilai seperti demokrasi, hak asasi manusia, kebebasan berbicara dan pers, hak-hak perempuan dan anak-anak telah musnah karena kematian umat manusia di Gaza. Zionisme, sebutnya, sedang dibuka kedoknya di seluruh dunia. “Kaum muda mulai melihat betapa Zionisme adalah sebuah penyimpangan yang melanggar hukum dan saya berharap revolusi ini akan membebaskan dunia dari penyimpangan Zionis,” pungkasnya. (sir) Baca juga :

Read More

Kemenag Hadirkan Aplikasi Kawal Haji

Jakarta — 1miliarsantri.net : Kementerian Agama (Kemenag) merilis sebuah aplikasi baru “Kawal Haji”. Aplikasi ini dihadirkan untuk memudahkan akses jamaah dan masyarakat dalam menyampaikan beragam persoalan dalam penyelenggaraan ibadah haji. “Kawal Haji hadir untuk menjadi kanal penghubung antar jamaah haji, petugas, keluarga, dan publik, serta stakeholder lainnya. Jamaah dapat melapor, saling bantu, berbagi info dan mengapresiasi,” terang Staf Khusus Menteri Agama bidang Media dan Komunikasi Publik Wibowo Prasetyo kepada 1miliarsantri.net, Kamis (30/5/2024) Dia menambahkan, ini juga menjadi bagian dari komitmen Kemenag terhadap proses keterbukaan informasi dalam penyelenggaraan ibadah haji. Aplikasi ini didesain agar setiap jamaah, keluarga, dan juga petugas bisa saling bantu jika ada persoalan yang muncul dalam penyelenggaraan haji, khususnya yang dialami jamaah. Menurut Wibowo, aplikasi ini hadir dengan dua fitur utama. Pertama, pelaporan jamaah, khususnya berkenaan dengan layanan konsumsi, akomodasi, transportasi, termasuk jika ada jemaah terpisah dari rombongan, atau lupa arah pulang ke penginapan. Kedua, deteksi lokasi dan pergerakan jamaah untuk memudahkan proses pencarian jika ada jamaah yang tersesat. “Saat ini Kawal Haji fokus ke penyelesaian masalah utama, yaitu kanal komunikasi pelaporan. Halaman beranda dari Kawal Haji akan melampirkan daftar laporan, dengan prioritas berdasarkan keterbaruan dan dukungan,” lanjut Wibowo. Aplikasi ini, kata Wibowo, semakin meneguhkan komitmen Kemenag dan menyempurnakan skema pelindungan jamaah haji di Tanah Suci. Selama ini, proses pelindungan jamaah dilakukan dan berjalan dengan baik melalui proses offline dengan menempatkan petugas di sejumlah titik strategis. Sehingga, memudahkan jamaah saat membutuhkan bantuan. Kemudahan akses layanan informasi juga disiapkan dalam bentuk WA Center serta kanal aduan melalui Pusaka SuperApps. “Alhamdulillah layanan langsung kepada jamaah di lapangan, berjalan dengan baik. Petugas siaga membantu jamaah di sektor hotel maupun di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Aplikasi Kawal Haji ini semakin memperkaya alternatif bagi jemaah saat akan menyampaikan beragam persoalan yang dialami atau menjadi saluran apresiasi saat jamaah ingin menyampaikan hal itu kepada petugas,” sambungnya. Kasubdit Siskohat Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Hasan Affandi menjelaskan, ada sejumlah manfaat dari kehadiran Kawal Haji. Bagi jamaah, aplikasi ini bisa menjadi sarana melaporkan permasalahan konsumsi, akomodasi, transportasi, dan jemaah tersesat atau terpisah dari rombongan. Laporan dipantau dan ditindaklanjuti petugas. “Jamaah lain juga dapat ikut membantu dan meresponsnya melalui aplikasi ini,” sebut Hasan Affandi. Manfaat kedua, jamaah dapat berbagi informasi seputar situasi dan kondisi di Tanah Suci. Misalnya, situasi kepadatan jamaah di Masjidil Haram, serta pergerakan jamaah dari Arafah, Muzdalifah dan Mina. Selain itu, Kawal Haji juga bisa memantau lokasi dan pergerakan jamaah secara sistem. “Ini akan sangat bermanfaat untuk melacak jika ada kasus jamaah yang hilang atau tersesat. Syaratnya jamaah mengaktifkan fitur location sehingga dapat terlacak posisi terakhir,” ujar Hasan, panggilan akrabnya. Manfaat lainnya, jamaah dapat membantu permasalahan yang dialami jamaah lain. “Jamaah juga dapat mengapresiasi pekerjaan petugas atau bantuan jamaah lain,” sebutnya. Kawal Haji juga bermanfaat bagi petugas haji. Menurut Kepala Tim TSI Irfan Sembiring, Kawal Haji bisa menjadi sarana petugas untuk mendapat update situasi dan kondisi jamaah langsung dari tangan pertama. Cepat dan akurat. Aplikasi ini juga bisa menggali laporan langsung dari jemaah. “Sehingga petugas bisa cepat mendeteksi dan membantu menyelesaikan jika terjadi masalah,” ujar Irfan. Manfaat lainnya, petugas juga bisa meng-update progress penanganan masalah. Jamaah akan mendapat informasi yang cepat dan akurat jika suatu masalah sudah terselesaikan. “Aplikasi ini memungkikan jamaah untuk saling membantu menyelesaikan masalah. Sehingga, mendampingi jamaah bukan hanya pekerjaan petugas,” tutur Irfan. Kawal Haji juga bisa bermanfaat bagi keluarga jamaah. Kepala Biro Humas, Data dan Informasi, Akhmad Fauzin menyebutkan, melalui aplikasi ini, keluarga jemaah bisa mendapatkan informasi cepat dan terpercaya terkait situasi dan kondisi di Tanah Suci. Mereka juga bisa ikut melapor jika keluarganya yang sedang menjalani ibadah haji menemui masalah. “Tentunya, keluarga jamaah juga dapat ikut mengapresiasi pekerjaan petugas atau bantuan jamaah lain,” tegas Akhmad Fauzin. Lantas, apa manfaat bagi Kementerian Agama? Wibowo menjelaskan bahwa Kawal Haji diharapkan dapat memudahkan jamaah dalam melapor sehingga lebih cepat mendapat respons. Dari situ, diharapkan akan berdampak pada meningkatnya kepuasan layanan kepada jamaah. Lebih dari itu, kualitas penyelenggaraan ibadah haji juga akan meningkat karena permasalahan jamaah dapat cepat terdeteksi dan terselesaikan. “Melalui Kawal Haji, jamaah jadi memiliki kanal yang terpercaya untuk lapor dan komplain. Informasi penyelenggaraan ibadah haji juga tidak liar di medsos. Kepercayaan jamaah dan stakeholder lainnya meningkat,” tandasnya. Hasan Affandi menambahkan, untuk sementara, aplikasi ini dapat digunakan pada mobile phone berbasis android. Masyarakat dapat menguduhnya melalui google Apps dengan nama “Kawal Haji”. Masyarakat dapat mengakses Kawal Haji dengan dua opsi: 1) Login menggunakan Google Account, yang memungkinkan untuk post, memberikan dukungan, dan komentar2) Masuk sebagai tamu. Akses akan read only, yang berarti tidak dapat memberikan pelaporan, dukungan, dan komentar. “Khusus Jamaah Haji Indonesia yang terdaftar, bisa melakukan verifikasi passport setelah Login dengan akun Google. Manfaat verifikasi: prioritas dalam pelaporan dan komentar, memudahkan pelaporan untuk ditanggapi lebih cepat. Termasuk juga, akses ke fitur pelacakan lokasi, yang sangat membantu jika jamaah tersesat / hilang,” papar Hasan. “Jika pengguna bukan jamaah haji, bisa tekan tombol “lewati” untuk lanjut menggunakan app Kawal Haji,” pungkasnya. (rid) Baca juga :

Read More

Masjid Al-Bina Masjid yang Full Experiences

Jakarta — 1miliarsantri.net : Masjid Al-Bina yang berdiri kokoh di area pintu satu Gelora Bung Karno, adalah bentuk sisi lain dari sebuah religiusitas kawasan sport di pusat tengah kota. Kawasan yang hijau itu menjadi tampak Islami dan penuh kedamaian. Di lengkapi dengan area parkir yang luas, dan dikelilingi pepohonan yang menjadi lebih asri membuat masyarakat yang sedang berolahraga tidak perlu khawatir ketika harus break untuk menjalankan ibadah sholat. Bukan hanya mereka yang sedang berolahraga, bagi kalangan pekerja di perkantoran atau pun yang sedang jalan-jalan ke mal sekitar senayan, menjadi lebih nyaman untuk berniat sholat karena ada fasilitas tempat sholat yang terbuka di area strategis di pinggir jalan Asia Afrika. Ini bukti keramahan Jakarta dan relegiusitas Jakarta. Masjid yang didirikan pada 14 Desember 2001, termasuk masjid yang menyenangkan. Fasilitas toilet sangat bersih, fasilitas tempat wudhu yang cukup banyak, dan didukung dengan kapasitas air yang sangat cukup, sehingga saat mengambil air wudhu merasa segar dan puas. Begitu pun saat berada di dalam masjid, mendapatkan suasana sejuk sehingga mendekatkan ibadah menjadi lebih khusuk. Saat berdoa dan dzikir pun merasa ingin berlama lama. Sekilas, dessain Masjid Al-Bina seperti desain masjid-masjid di Turki. Bangunannya berdenah persegi. Sedangkan bagian atap segi delapan dengan kubah dome yang tidak terlalu tinggi.. Selain itu, masjid ini juga dilengkapi dengan menara-menara yang bercorak biru, sehingga menguatkan persepsi masjid di Turki. Hal lain yang mungkin tidak disadari, tangga naik ke masjid, dibuat berjumlah 17 tangga, yang menggambarkan jumlah rakaat sholat lima waktu. Hanya, memang tangga tangga tersebut memberi kesan tinggi. Ada baiknya dari pihak Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) memikirkan fasilitas tambahan berupa lift, agar jamaah yang udzur tidak terlalu kesulitan untuk menaiki tangga. Namun, secara umum Masjid Al-Bina, berhasil memberikan kesan yang memuaskan bagi setiap pribadi yang sudah mencoba sholat di masjid tersebut. Mengapa? Ada pengalaman-pengalaman yang didapatkan selain sholat. Bisa dibuktikan sendiri, ketika pertama kali ke Masjid Al-Bina, tentu pandangan mata akan tertuju ke mana-mana. Melihat taman-taman hijau di sekitar masjid, melihat fasilitas olahraga yang lengkap dan juga bisa memandangi Gedung Gedung yang tinggi. Jadi, Masjid Al-Bina bisa disebut masjid yang full experiences. (fat) Baca juga :

Read More

Keutamaan Wukuf di Arafah

Surabaya — 1miliarsantri.net : Wukuf secara mudah dapat diartikan hadir di Arafah baik sengaja atau tidak dalam rentang waktu antara tergelincirnya matahari (masuk waktu Dhuhur) tanggal 9 Dzulhijjah hingga menjelang waktu Subuh tanggal 10 Dzulhijjah. Kehadiran ini tidak harus lama, yang penting pernah di sana. Wukuf adalah ibadah pokok atau rukun terbesar dalam rangkaian ibadah haji. Mengenai hal ini, Rasulullah SAW bersabda: الحج عرفة “ Bagian pokok haji adalah wukuf di Arafah.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi). Jamaah haji yang tidak melakukan wukuf di Arafah akan mendapat konsekuensi berupa tiga kewajiban yang harus dilaksanakan, yaitu pertama, melakukan tahallul untuk melepas status ihramnya dengan cara melakukan amalan umrah (tawaf, sai,dan bercukur) dengan diniati tahallul dari haji. Kedua, segera melaksanakan qadla haji di tahun berikutnya bila memungkinkan ada. Ketiga, membayar dam fawat (denda karena tidak berwukuf) yang dilaksanakan saat melakukan haji qadla. Ketentuan dam fawat ini adalah menyembelih seekor kambing. Bila hal itu tidak memungkinkan, maka diganti dengan puasa sepuluh hari (3 hari saat ihram dan 7 hari ketika telah sampai di Tanah Air). Begitu penting dan sakralnya wukuf sehingga setiap orang ingin mendapatkan tempat terbaik dan sedapat mungkin sesuai dengan ajaran, sabda, dan tindakan Rasulullah SAW. Seringkali jamaah haji berdesak-desakan untuk berada di Jabal Rahmah guna meraih hal tersebut. Namun benarkah Jabal Rahmah memiliki kedudukan yang demikian tinggi dalam wukuf? Jabal Rahmah yang memiliki nama lain Jabal Arafah, Jabal Ilal, Jabal Alal adalah bukit kecil yang berada di tengah Arafah. Nama Jabal Rahmah sendiri sebenarnya tidak disebutkan di dalam hadits manapun dan tidak dikenal pada masa generasi emas Islam yaitu generasi sahabat, tabi’in, dan tabi’it tabiin. Nama Jabal Rahmah pertama kali ditemukan dalam catatan Nashir Khusraw di kitabnya Safarnameh pada akhir abad keempat Hijriyah. Nama Jabal Ilal dikenal oleh orang Arab kuno dalam karya sastra mereka. Sedangkan nama Jabal Arafah banyak ditemukan dalam literatur Islam. Barulah ketika nama Jabal Rahmah disebut oleh Nashir Khusraw, nama ini menjadi sering digunakan bahkan dalam beberapa kitab fiqih. (Ahmad Zaki Hamani, Mausu’ah Makkah al-Mukarromah wal-Madinah al-Munawwarah, [London, Muassasah al-Furqon lit-Turats al-Islamy, 2009], juz 3, cetakan I, halaman 244). Selanjutnya, berdesakan dan berebutan untuk wukuf di Jabal Rahmah saat melaksanakan ibadah haji ternyata sudah berlangsung lama. Dalam hal ini, Imam Nawawi rahimahullah berkata: وأمَّا ما اشْتَهَرَ عِنْدَ الْعَوَامِّ مِنَ الاعتنَاء بالوقوفِ على جَبَلِ الرَّحْمَةِ الذي بِوَسَطِ عرفاتٍ كما سبقَ بَيَانُهُ وترْجيحُهُمْ لَهُ عَلَى غيرِهِ من أرض عَرَفَاتٍ حتى ربما تَوَهَّمَ كثيرٌ مِنْ جَهَلَتِهِم أنَّهُ لا يصحُّ الوقوفُ إلاَّ بِهِ فخطأ مُخَالِف للسُّنَّةِ، ولم يَذْكُرْ أحدٌ مِمَنْ يُعْتَمَدُ عَلَيْهِ فِي صُعُودِ هَذَا الْجَبَلِ فضيلةً إِلاَّ أبُو جَعْفَر محمدُ بن جريرِ الطبريُّ فإنه قال: يستحب الوقوفُ عليه وكذا قال أقضى القضاةِ أبو الحسن الماورديُّ البصري صاحبُ الحاوِي من أصْحَابِنَا: يُسْتَحبُّ أنْ يقْصدَ هذا الْجَبَلَ الذي يقالُ له جَبَلُ الدُّعاء. قال: وهو موقفُ الأنْبياءِ صلواتُ اللهِ وسلامُهُ عَلَيْهِمْ أجمعينَ وهذا الَّذِي قالاهُ لا أصْلَ لَهُ وَلَمْ يَرِدْ فيه حديثٌ صحيحٌ ولا ضعيفٌ Artinya: “Apa yang masyhur di kalangan awam yaitu berupaya kuat wukuf di Jabal Rahmah yang berada di tengah Arafah sebagaimana keterangan yang telah lalu dan mengutamakan Jabal Rahmah atas bagian Arafah yang lain sampai-sampai banyak orang bodoh yang menganggap wukuf tidak sah kecuali di sana adalah kekeliruan yang bertentangan dengan sunnah. Tidak ada seorang pun ulama yang bisa menjadi pedoman yang menyebutkan ada keutamaan naik ke bukit ini kecuali Abu Ja’far Muhammad bin Jarir at-Thabari. Ia berkata, ‘disunnahkan wukuf di atasnya.’ Begitu juga Aqdlal Qudlat Abul Hasan Al-Mawardi al-Basri, penyusun kitab Al-Hawi dari ashab kita berkata, ‘Disunnahkan menyengaja bukit ini yang disebut Jabal Doa. Bukit ini adalah tempat wukuf para nabi shalawatullah wasalamuhu alaihim ajmain.’ Apa yang disampaikan Beliau berdua ini tidak berdasar dan tidak ada hadits shahih maupun dlaif tentang hal ini.” (Abu Zakaria Yahya An-Nawawi, Al-Idhoh fi Manasikil Hajji wal Umrah , [Beirut, Darul Basyair al-Islamiyah, 1994], cetakan II, halaman 281-282). Dari keterangan tersebut dapat disimpulkan bahwa wukuf di Jabal Rahmah tak memiliki keistimewaan sama sekali. Wukuf boleh dilakukan di mana saja selama masih dalam batas Arafah. Berusaha keras agar dapat wukuf di Jabal Rahmah adalah menyalahi sunnah bahkan ada yang mengatakan hukumnya makruh. Amalan yang justru disunnahkan adalah wukuf di area bebatuan besar di bawah Jabal Rahmah yang merupakan tempat wukuf Rasulullah sebagaimana sabda Beliau: ووقفت هاهنا وعرفة كلها موقف Artinya:“Aku wukuf di sini. Dan seluruh Arafah adalah lokasi wukuf.” (HR. Muslim dari Jabir bin Abdillah). Bagi jamaah haji, tentu diusahakan untuk wukuf di tempat wukufnya Rasulullah. Namun hal yang tidak boleh dilupakan adalah jangan sampai upaya ini disertai dengan hal-hal yang menjerumuskan pada perbuatan dosa, seperti berdesakan antara lelaki dan perempuan, saling menyenggol dan mendorong yang bisa menyakiti orang lain. Mengingat hal tersebut, jangan sampai upaya meraih sebuah keutamaan malah terjerumus pada jurang dosa. Apalagi di antara hikmah wukuf di Arafah adalah sebagai gambaran berkumpulnya semua makhluk di Padang Mahsyar kelak dalam kondisi telanjang dan tak beralas kaki. Idealnya, wukuf di Arafah banyak diisi dengan merenung dan mendekatkan diri kepada Allah. (yat) Baca juga :

Read More

Bung Karno Lebih Memilih Membaca Al Qur’an Ketika Diancam Ditembak Mati

Surabaya — 1miliarsantri.net : Tangisan Bung Karno di pangkuan ibunya setelah memulangkan anak Tjokroaminoto, tidak seberapa. Masih kalah jauh dengan tangisan Karno dan istrinya saat tahu Bung Karno akan ditembak mati Belanda. Bung Karno mengangis tersedu-sedu bersama istrinya. Hari itu Bung Karno sudah ditahan di sebuah rumah di Brastagi, Sumatra. Istri Bung Karno, Musiah, sedang memasak serundeng ketika tentara Belanda masuk ke dapur. Mengetahui serundeng itu untuk Bung Karno, tentara itu berkata, “Heh, buat apa engkau membikin serundeng untuk Sukarno? Apakah engkau tidak tahu bahwa Sukarno besok pagi akan ditembak mati?” kata tentara Belanda itu. Setelah mendengar itu, Masiah lalu menemui Bung Karno. Lalu memeluk lutut Bung Karno dan menangis tersedu-sedu. “Kena apa engkau berdua menangis tersedu-sedu sambil memeluk-meluk lututku?” tanya Bung Karno. Masih pun lalu menceritakan kejadian di dapur saat ia didatangi tentara Belanda. Tentara Belanda itu sedang menunggu perintah resmi dari Medan untuk menghukum mati Bung Karno. “Besok pagi Sukarno akan kami tembak mati,” kata tentara Belanda itu. Bung Karno ditahan di Brastagi setelah Belanda merebut Yogyakarta pada 19 Desember 1948. Pada 22 Desember 1948, Bung Karno diterbangkan k eMedan dengan pesawat B25. Dari Medan ia kemudian dibawa ke Brastagi. Sebuah rumah yang dikelilingi pagar kawat berduri disiapkan untuknya. Di rumah itu ada dua suami istri yang ditugaskan untuk menyiapkan makanan untuk Bung Karno dan kawan-kawan. Nama suami istri itu Karno dan Musiah. “Yang laki namanya seperti nama saya,” kata Bung Karno. “Karno dan Musiah adalah orang-orang yang datangnya, atau asalnya dari Pacitan,” lanjut Bung Karno. “Saudara-saudara bisa menggambarkan bagaimana keadaanku pada saat itu. Dikatakan oleh Musiah dan Karno bahwa besok pagi aku akan ditembak mati,” kata Bung Karno. Bung Karno lalu berdoa. “Ya Allah ya Robi, kalau memang itu telah dikehendaki oleh Tuhan, yah apa boleh buat.” Ia ingin menenangkan hati agar siap ditembak mati Belanda, jika memang takdirnya demikian. Bung Karno kemudian mengambil air wudlu. “Sesudah sembahyang, aku mengambil kitab Quran, Quran yang aku bawa dari Yogyakarta,” kata Bung Karno. Sebelum membuka Alquran itu, Bung Karno berharap dibukakan pada halaman yang memberikan petunjuk untuk mengatasi masalah yang sedang ia hadapi. Barulah ia membukanya. Ia baca terjemahnya. Quran itu dilengkapi terjemahan dalam bahasa Belanda. “Waarom zult gij den mes geloven waar ik kenner ben van alle dingen…,” kata Bung Karno membaca ayat di halaman yang ia buka. Artinya: Kenapa engkau percaya omongan manusia? Aku inilah yang Maha Mengetahui. Setelah membaca ayat itu, Bung Karno mengaku tiak gentar lagi. Tegak lagi jiwanya. Ia membatin, boleh saja tentara Belanda itu berkata Bung Karno akan ditembak mati. tapi bisa saja rencana itu urung, karena Allah mempunyai kehendak lain. “Saudara-saudara, Saudara melihat bahwa keesokan harinya saya tidak ditembak mati dan sampai sekarang, pada mala mini, bukan tahun 1948, tetapi tahun 1961, Alhamdulillan Sukarno masih hidup. Sukarno malahan berdiri di hadapan saudara-saudara,” kata Bung Karno pada Peringatan Nuzulul Quran di Istana Negara pada 6 Maret 1961. Kejadian di Brastagi itu, kata Bung Karno, semakin mempertebal keyakinannya kepada Allah dan Nabi Muhammad dengan mukjizat Alqurannya. Dengan keyakinan itulah, ia merasa apa yang telah direncanakan makhluknya, seperti dirinya yang akan ditembak mati Belanda, bisa saja tidak terlaksana jika Allah memiliki kehendak lain. (jeha) Baca juga :

Read More

Israel Perluas Serangan ke Rafah

Gaza — 1miliarsantri.net : Tentara Israel pada Selasa kemarin mulai memperluas serangannya di Rafah, Jalur Gaza selatan, dengan merebut lebih banyak wilayah perbatasan dengan Mesir, atau yang dikenal sebagai Koridor Philadelphia. Tindakan ini berarti bahwa tentara Israel semakin bergerak maju untuk mengisolasi Gaza dari kontak dengan Mesir, dan pada akhirnya, dengan seluruh dunia. Tentara Israel memperluas serangannya ke Rafah di tengah penembakan dan pengeboman besar-besaran, hingga memaksa ribuan orang meninggalkan Rafah barat menuju Khan Younis dan daerah-daerah di Jalur Gaza tengah. Sedikitnya 16 warga Palestina tewas dalam pengeboman Israel di Rafah pada Senin malam (27/5/2024), menurut sumber medis. Serangan Israel saat ini ke Rafah membuat wilayah tersebut hanya berjarak 3 kilometer dari pantai Rafah, dan menempatkan lebih dari dua pertiga wilayah Koridor Philadelphia di bawah kendali Israel. Koridor Philadelphia, sepanjang 14 kilometer, adalah zona penyangga demiliterisasi yang membentang di sepanjang perbatasan Gaza-Mesir, sebagaimana ditetapkan dalam perjanjian setelah penandatanganan Perjanjian Camp David tahun 1978 antara Presiden Mesir saat itu, Anwar Sadat, dan Perdana Menteri Israel Menachem Begin. Sebelum Israel melancarkan operasi militer ke Rafah pada 6 Mei 2024, koridor tersebut menjadi tempat perlindungan bagi lebih dari 1,5 juta pengungsi Palestina yang meninggalkan wilayah mereka di Jalur Gaza karena serangan gencar Israel yang dimulai pada 7 Oktober 2023. Israel melanjutkan serangan brutal di Gaza meskipun ada resolusi Dewan Keamanan PBB yang menuntut gencatan senjata segera. Sedikitnya 36.050 warga Palestina telah terbunuh di Gaza dan lebih dari 81.000 orang lainnya terluka sejak Israel membalas serangan kelompok Palestina, Hamas. (zul/AJ) Baca juga :

Read More

Memaksimalkan Potensi Zakat, Kemenag Susun Peta Jalan Zakat Menuju Indonesia Emas 2045

Jakarta — 1miliarsantri.net : Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kemenag, Waryono Abdul Ghafur memaparkan sejumlah strategi untuk memaksimalkan potensi zakat yang mencapai Rp327 triliun. Strategi tersebut dituangkan melalui program Gerakan Zakat Nasional dan Peta Jalan Zakat menuju Indonesia Emas 2045, yang diharapkan mampu memperkuat peran zakat dalam pembangunan nasional. “Tantangan zakat menuju Indonesia Emas 2045 adalah minimnya strategi untuk mencapai potensi zakat sebesar Rp327 triliun. Karenanya, perlu dibuat milestone (tonggak pencapaian) untuk mencapai target tersebut,” terangnya saat dikonfirmasi 1miliarsantri.net, Rabu (29/5/2024). Langkah pertama yang disampaikan Waryono adalah peta muzaki. Menurutnya, identifikasi yang tepat akan membantu mengarahkan zakat dari muzaki ke mustahik yang membutuhkan. “Kita perlu mengidentifikasi dan mendata para muzaki (pemberi zakat) untuk memastikan potensi zakat dapat dimaksimalkan,” paparnya. Langkah kedua, lanjutnya, adalah peta mustahik. Dengan memetakan mustahik, dapat memastikan zakat disalurkan tepat sasaran dan tepat guna. Data Regsosek (Registrasi Sosial Ekonomi) dari Bappenas dapat digunakan untuk menentukan mustahik yang akan menerima dana zakat, infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya. Strategi ketiga adalah peta SDM amil. Langkah ini melibatkan pendeteksian kebutuhan dan potensi sumber daya manusia di sektor amil zakat untuk meningkatkan kapasitas dan profesionalisme pengelola zakat. “Untuk kompetensi amil dan nazir, khusus untuk pesantren, nanti akan menggunakan Dana Abadi Pesantren sebagai salah satu sumber pendanaannya,” lanjut Waryono. Langkah terakhir adalah peta literasi. Menyusun peta literasi zakat bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya zakat dan ketepatan dalam mengelolanya. “Kami ingin zakat dan wakaf dijadikan satu kurikulum khusus pada madrasah, sekolah, dan perguruan tinggi,” tegas Waryono. Waryono menekankan, strategi kolaborasi antar-stakeholder menjadi kunci utama dalam menyukseskan Gerakan Zakat Nasional. Pemerintah, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), Lembaga Amil Zakat (LAZ), sektor swasta, dan masyarakat harus bekerja sama dalam merancang dan melaksanakan program-program zakat. Sementara itu, Sekretaris FOZ, Ivan Nugraha mengatakan, peta jalan zakat nasional bertujuan untuk memperkuat peran zakat dan wakaf di Indonesia agar kontribusinya semakin terlihat dan berdampak. “Pemerintah telah menyusun Visi Indonesia Emas 2045 yang dituangkan dalam RPJMN, dan nantinya dapat dijadikan patokan untuk menyusun peta jalan zakat,” pungkasnya. (wink) Baca juga :

Read More