Dua Dekade Terakhir, 737 Ribu Hektare Hutan Brasil Hilang Akibat Produksi Kopi

Tegal – 1miliarsantri.net: Sebuah laporan terbaru mengungkapkan fakta mencemaskan yakni selama dua dekade terakhir, Brasil kehilangan sekitar 737.000 hektare hutan akibat aktivitas yang berkaitan dengan produksi kopi. Angka ini menggambarkan ancaman serius terhadap keberlanjutan industri kopi, yang selama ini menjadi kebanggaan sekaligus penopang ekonomi utama negara tersebut. Menurut laporan lembaga Coffee Watch, sekitar 312.803 hektare dari total kehilangan hutan itu disebabkan langsung oleh pembukaan lahan baru untuk perkebunan kopi. Sementara sisanya merupakan dampak tidak langsung, berupa hilangnya tutupan hutan di sekitar area perkebunan yang telah ada sebelumnya. Brasil dikenal sebagai produsen sekaligus eksportir kopi terbesar di dunia, dengan produksi mencapai puluhan juta karung berkapasitas 60 kilogram setiap tahun. Namun, di balik kejayaan tersebut, muncul kekhawatiran bahwa deforestasi masif bisa mengancam masa depan industri kopi itu sendiri. “Brasil perlu segera mengubah arah karena deforestasi ini bukan hanya bencana karbon dan keanekaragaman hayati, tapi juga mengancam curah hujan dan menyebabkan gagal panen,” ujar Etelle Higonnet, Direktur Coffee Watch, dalam pernyataannya, Rabu (22/10/2025). Dampak Lingkungan dan Ancaman bagi Petani Laporan Coffee Watch menyoroti bahwa hilangnya hutan tidak hanya berdampak pada ekosistem dan penyerapan karbon, tetapi juga mengubah pola iklim mikro yang sangat penting bagi pertumbuhan kopi. Kekurangan curah hujan dan penurunan kelembapan tanah kini menjadi masalah serius di wilayah penghasil kopi utama Brasil. Di negara bagian Minas Gerais, yang dikenal sebagai sentra produksi kopi terbesar di dunia, delapan dari sepuluh tahun terakhir tercatat mengalami defisit curah hujan. Data dari misi satelit NASA Soil Moisture Active Passive (SMAP) menunjukkan bahwa kelembapan tanah di kawasan tersebut menurun hingga 25% dalam enam tahun terakhir. Penurunan drastis ini memaksa banyak petani mengeluarkan biaya tambahan untuk membangun sistem irigasi modern demi menjaga produktivitas lahan. Namun, upaya tersebut menambah beban ekonomi dan tidak semua petani mampu beradaptasi dengan cepat. Baca juga: Surplus Dagang RI Sentuh Rekor Tertinggi dalam 3 Tahun Rekomendasi: Agroforestri dan Praktik Berkelanjutan Dalam laporannya, Coffee Watch menggabungkan berbagai sumber data, termasuk MapBiomas, Hansen Global Forest Change, dan NASA, untuk memperkuat analisisnya. Lembaga ini juga merekomendasikan penerapan praktik agroforestri berkelanjutan, yakni sistem tanam yang memadukan pohon dengan tanaman kopi agar ekosistem tetap seimbang. Sayangnya, menurut laporan tersebut, praktik agroforestri baru diterapkan di kurang dari 1% wilayah utama produksi kopi di Brasil. Coffee Watch menilai bahwa peningkatan praktik ramah lingkungan sangat penting agar produksi kopi tetap stabil tanpa harus mengorbankan hutan. Tanggapan Asosiasi Eksportir Kopi Meski begitu, laporan Coffee Watch mendapat tanggapan kritis dari Cecafe, asosiasi eksportir kopi Brasil. Mereka menilai temuan itu tidak sepenuhnya akurat karena hanya menggunakan data deforestasi tingkat munisipal tanpa memperhitungkan upaya pelestarian vegetasi asli di dalam area perkebunan kopi. Cecafe mengutip hasil penelitian Universitas Federal Minas Gerais (UFMG) tahun 2023, yang menunjukkan bahwa 99% dari 115.000 lahan kopi yang terdaftar dalam sistem lingkungan pedesaan Brasil tidak mengalami deforestasi signifikan sejak 2008. Meski terjadi perbedaan pandangan, para pengamat sepakat bahwa keberlanjutan industri kopi Brasil kini berada di persimpangan. Jika deforestasi terus dibiarkan, bukan hanya keanekaragaman hayati yang terancam, tetapi juga masa depan petani dan stabilitas ekonomi yang bergantung pada “emas hitam” dari biji kopi tersebut. Baca juga: Korea Utara Luncurkan Rudal Balistik Jelang KTT APEC, Dunia Waspadai Ketegangan Baru di Asia Timur Penulis: Satria S Pamungkas Editor: Glancy Verona Ilustrasi by AI

Read More

Surplus Dagang RI Sentuh Rekor Tertinggi dalam 3 Tahun

Jakarta – 1miliarsantri.net : urplus perdagangan Indonesia pada Agustus 2025 melonjak menembus angka US $ 5,49 miliar, menjadikannya capaian tertinggi dalam hampir tiga tahun terakhir. Lonjakan ini terutama disebabkan oleh penurunan impor yang lebih tajam dibanding laju ekspor. Kinerja Perdagangan Agustus 2025 Menurut data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor Indonesia pada Agustus 2025 mencapai US $ 24,96 miliar, meningkat sekitar 5,78 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara impor turun signifikan, menjadi US $ 19,47 miliar, atau minus 6,56 persen secara tahunan. Dengan demikian, surplus perdagangan pada Agustus adalah US $ 5,49 miliar, melampaui perkiraan pasar dan jauh di atas surplus bulan Juli 2025 yang tercatat sekitar US $ 4,17 miliar. Pencapaian ini memperpanjang tren surplus yang telah berlangsung selama 64 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Faktor Utama: Turunnya Impor Lebih Tajam Analisis data perdagangan menunjukkan bahwa konsumsi impor, terutama pada sektor nonmigas, mengalami kontraksi yang cukup dalam di Agustus 2025. Penurunan impor ini menjadi faktor pendorong utama agar surplus mencapai rekor. Meski ekspor tetap tumbuh, laju kenaikannya relatif moderat dibanding tekanan eksternal seperti perlambatan permintaan global, tetapi karena impor merosot lebih dalam, neraca bergerak ke arah surplus yang sangat tinggi. Pada sisi komoditas, surplus nonmigas memegang peran besar. Sumbangan ekspor dari sektor lemak dan minyak nabati, bahan bakar mineral, serta industri besi dan baja menjadi penopang utama.  Di sektor migas, kondisi tetap defisit. Impor produk migas masih melampaui ekspornya, sehingga defisit migas masih membebani neraca agregat. Baca juga: Korea Utara Luncurkan Rudal Balistik Jelang KTT APEC, Dunia Waspadai Ketegangan Baru di Asia Timur Reaksi Resmi dan Tanggapan Bank Indonesia (BI) menilai surplus perdagangan Agustus senilai US $ 5,49 miliar sebagai perkembangan positif yang memperkuat ketahanan eksternal perekonomian nasional. Beberapa analis turut mengingatkan bahwa meskipun surplus agregat terlihat gemilang, tantangan ke depan tetap ada. Antara lain, ketergantungan pada fluktuasi harga komoditas, permintaan eksternal terutama dari Tiongkok yang melambat, serta potensi rebound impor di sisa tahun karena kebutuhan bahan baku dan konsumsi domestik menjelang akhir tahun. Prospek dan Risiko ke Depan Peluang surplus berlanjut: Tren surplus masih mungkin dipertahankan pada bulan-bulan mendatang, terutama jika impor tetap terkendali dan ekspor nonmigas tetap kuat. Risiko rebound impor: Jelang Natal dan tahun baru, permintaan impor untuk bahan baku dan barang konsumsi cenderung meningkat, yang dapat mengecilkan surplus bulanan. Permintaan global: Perlambatan permintaan dari negara mitra dagang utama seperti Tiongkok berpotensi menekan volume ekspor Indonesia. Ketergantungan komoditas: Meskipun nonmigas semakin diandalkan, pergerakan harga komoditas global tetap menjadi variabel utama yang dapat mengubah tren perdagangan secara cepat. Secara keseluruhan, capaian surplus perdagangan Indonesia sebesar US $ 5,49 miliar pada Agustus 2025 mencerminkan kombinasi antara daya tahan ekspor dan penurunan tekanan impor, yang memberikan ruang stabilitas tambahan bagi perekonomian nasional di tengah ketidakpastian global. Namun, keunggulan ini tidak sepenuhnya bebas risiko, ketergantungan pada harga komoditas dunia, potensi peningkatan impor menjelang akhir tahun, serta perlambatan permintaan dari negara mitra utama dapat menjadi faktor pembalik tren surplus jika tidak diantisipasi dengan kebijakan yang adaptif. Untuk menjaga momentum positif ini, pemerintah dan pelaku ekonomi perlu memperkuat diversifikasi ekspor, meningkatkan daya saing industri dalam negeri, serta memperhatikan dinamika pasar global agar surplus dagang dapat bertransformasi dari capaian sesaat menjadi fondasi ketahanan ekonomi jangka panjang. Baca juga: Dari Malang ke Wageningen University: Tim UB Tampil di Ajang Internasional Inovasi Pangan Penulis: Faruq Ansori Editor: Glancy Verona Ilustrasi by AI

Read More

Korea Utara Luncurkan Rudal Balistik Jelang KTT APEC, Dunia Waspadai Ketegangan Baru di Asia Timur

Indramayu – 1miliarsantri.net: Korea Utara meluncurkan rudal balistik ke arah timur pada Rabu pagi, dalam uji coba pertama mereka dalam lima bulan terakhir. Informasi ini dilansir oleh Associated Press (AP News), mengutip pernyataan resmi dari Kepala Staf Gabungan Korea Selatan (JCS) yang mengonfirmasi adanya peluncuran tersebut. Uji coba ini dilakukan hanya beberapa hari sebelum Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Pasifik (APEC) diselenggarakan di Korea Selatan, sebuah forum tahunan yang berfokus pada kerja sama ekonomi dan perdagangan antarnegara di kawasan Asia dan Pasifik. Meskipun pertemuan ini tidak memiliki agenda militer, peluncuran rudal tersebut dipandang sebagai langkah provokatif yang berpotensi memperkeruh stabilitas kawasan. Rudal Balistik ke Arah Timur, Peringatan Politik Menjelang KTT APEC Dalam laporan AP News, militer Korea Selatan menyatakan bahwa rudal tersebut diluncurkan ke arah timur dan mendarat di perairan antara Semenanjung Korea dan Jepang, tanpa menimbulkan kerusakan pada negara tetangga. Namun, peluncuran ini tetap memicu reaksi diplomatik internasional, mengingat waktu peluncurannya yang bertepatan dengan persiapan KTT besar yang akan dihadiri oleh para pemimpin dunia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan untuk menghadiri serangkaian pertemuan bilateral menjelang KTT tersebut, termasuk dengan Presiden China Xi Jinping dan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung. Namun, menurut laporan dari pejabat Korea Selatan yang dikutip oleh AP News, Trump kemungkinan besar tidak akan hadir dalam sesi utama APEC yang dijadwalkan pada 30 Oktober hingga 1 November 2025. Para analis menilai bahwa peluncuran rudal ini bukan kebetulan, melainkan bagian dari strategi politik Pemimpin Tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un, untuk mengirim pesan keras kepada komunitas internasional bahwa negaranya tetap menuntut pengakuan sebagai negara bersenjata nuklir. Baca juga: Dari Malang ke Wageningen University: Tim UB Tampil di Ajang Internasional Inovasi Pangan Ambisi Nuklir Kim Jong Un dan Tekanan terhadap Amerika Serikat Sejak perundingan denuklirisasi dengan Amerika Serikat gagal pada tahun 2019, Kim Jong Un diketahui mempercepat program pengembangan senjata nuklir dan rudal balistik. Dalam beberapa bulan terakhir, Korea Utara menampilkan kekuatan militernya melalui parade besar di Pyongyang, yang juga dihadiri oleh pemimpin China dan Rusia. Dalam parade tersebut, Kim memamerkan rudal balistik antarbenua (ICBM) Hwasong-20, yang diklaim sebagai sistem senjata strategis paling kuat yang pernah dimiliki Korea Utara. Menurut pengamat yang dilansir oleh AP News, rudal jenis ini dirancang untuk membawa beberapa hulu ledak nuklir sekaligus, sehingga mampu menembus sistem pertahanan rudal Amerika Serikat. Analis pertahanan memperkirakan bahwa uji coba rudal balistik kali ini bisa menjadi sinyal awal sebelum peluncuran Hwasong-20 dalam waktu dekat. Langkah ini dinilai sebagai bagian dari upaya Pyongyang untuk memperkuat posisi tawar mereka dalam potensi perundingan baru dengan Washington. Konteks Diplomasi Meskipun hubungan antara Washington dan Pyongyang sempat mencair pada masa pertemuan bersejarah antara Kim Jong Un dan Donald Trump, proses diplomasi tersebut berhenti total sejak 2019. Kim menuntut pencabutan sanksi ekonomi yang diberlakukan oleh Amerika Serikat dan PBB, sementara Washington bersikeras agar Korea Utara terlebih dahulu melakukan langkah nyata menuju denuklirisasi. Menurut laporan AP News, Kim sempat menyatakan kesiapan untuk kembali ke meja perundingan, tetapi dengan syarat bahwa Amerika Serikat harus menghentikan tekanan ekonomi dan tuntutan denuklirisasi sepihak. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Korea Utara ingin diakui sebagai kekuatan nuklir permanen, seperti halnya India atau Pakistan. Namun, peluncuran rudal baru ini justru menunjukkan bahwa Kim lebih memilih jalur provokasi militer untuk memperkuat posisi negosiasinya di masa depan. Langkah ini juga menjadi ujian diplomatik bagi negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Tiongkok, dan Rusia yang memiliki kepentingan berbeda terhadap stabilitas Semenanjung Korea. Baca juga: Peringatan Hari Dokter Nasional 2025: Melihat Perjuangan Para Dokter di Desa Terpencil Kondisi Regional dan Dampak bagi Asia Timur Peluncuran rudal kali ini juga menimbulkan kekhawatiran di Jepang, yang selama ini menjadi sekutu utama Amerika Serikat di kawasan. Tokyo meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan jatuhnya puing rudal di wilayahnya, meskipun laporan awal menyebutkan tidak ada kerusakan yang terjadi. Selain itu, peluncuran ini berpotensi mengganggu suasana diplomatik di KTT APEC yang diharapkan menjadi ajang penguatan kerja sama ekonomi dan perdagangan internasional. Negara-negara peserta kini dihadapkan pada dilema baru, bagaimana menyeimbangkan kepentingan ekonomi kawasan dengan ancaman keamanan dari Korea Utara yang semakin tak terduga. Penulis: Durotul Hikmah Editor: Glancy Verona Gambar: Korea Utara luncurkan rudal balistik

Read More

Dari Malang ke Wageningen University: Tim UB Tampil di Ajang Internasional Inovasi Pangan

Bondowoso – 1miliarsantri.net: Mahasiswa Indonesia kembali menorehkan prestasi gemilang di kancah internasional. Kali ini, tim mahasiswa dari Universitas Brawijaya (UB), Malang, berhasil lolos untuk berkompetisi dalam ajang International Food Innovation Competition 2025 yang diselenggarakan di Wageningen University & Research, Belanda. Ajang bergengsi ini mempertemukan para inovator muda dari seluruh dunia untuk menciptakan solusi kreatif dalam menghadapi tantangan global di bidang ketahanan pangan dan keberlanjutan. Prestasi yang Membanggakan dari Kampus Biru Universitas Brawijaya dikenal sebagai salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia yang konsisten mendorong mahasiswanya untuk berinovasi. Melalui berbagai program riset dan kewirausahaan, kampus ini melahirkan banyak karya kreatif di bidang pangan, pertanian, dan teknologi. Keikutsertaan tim UB dalam ajang internasional ini menjadi bukti nyata bahwa generasi muda Indonesia mampu bersaing di level global. Tim UB yang beranggotakan lima mahasiswa lintas jurusan ini meneliti produk pangan fungsional berbasis bahan lokal Indonesia. Mereka memadukan inovasi teknologi dengan kearifan lokal, menciptakan produk yang tidak hanya bernilai gizi tinggi tetapi juga ramah lingkungan. Produk tersebut berhasil lolos tahap seleksi nasional dan regional sebelum akhirnya dipilih untuk mewakili Indonesia di Belanda. Ajang Bergengsi Dunia di Negeri Kincir Angin Wageningen University & Research (WUR) merupakan universitas ternama dunia dalam bidang pertanian, pangan, dan lingkungan. Kompetisi International Food Innovation yang digelar setiap tahun di kampus ini menjadi wadah bagi para inovator muda untuk mempresentasikan ide dan riset mereka. Peserta berasal dari berbagai negara seperti Belanda, Jerman, Jepang, Amerika Serikat, dan Indonesia. Tema kompetisi tahun ini adalah “Innovating for a Sustainable Food Future” atau “Inovasi untuk Masa Depan Pangan yang Berkelanjutan.” Fokus utamanya adalah menciptakan produk dan sistem pangan yang dapat menjawab tantangan global seperti perubahan iklim, keterbatasan sumber daya alam, dan ketahanan pangan. Tim UB menjadi salah satu finalis dari Asia Tenggara yang berhasil menembus ajang ini. Mereka akan mempresentasikan karya inovatif mereka di depan juri internasional yang terdiri dari akademisi, pelaku industri, dan pakar teknologi pangan. Selain presentasi, peserta juga mengikuti sesi workshop, pameran produk, serta forum kolaborasi lintas negara. Baca juga: Peringatan Hari Dokter Nasional 2025: Melihat Perjuangan Para Dokter di Desa Terpencil Inovasi Berbasis Bahan Lokal Produk yang diusung oleh tim UB mengangkat konsep “Local Resource for Global Impact.” Mereka menggunakan bahan dasar dari hasil pertanian Indonesia seperti sorgum, umbi-umbian, dan biji-bijian lokal. Melalui proses fermentasi dan teknologi pengolahan modern, bahan tersebut diolah menjadi produk pangan fungsional yang kaya serat, tinggi protein nabati, dan bebas gluten. Selain menonjolkan nilai gizi, inovasi ini juga memperhatikan aspek lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Tim UB bekerja sama dengan petani lokal di wilayah Malang untuk memastikan rantai pasok yang berkelanjutan. Dengan pendekatan sustainable farming dan zero waste production, produk mereka mencerminkan upaya konkret mahasiswa Indonesia dalam menciptakan sistem pangan yang ramah bumi. Dukungan dari Kampus dan Pemerintah Keberangkatan tim UB ke Belanda mendapat dukungan penuh dari pihak universitas dan berbagai lembaga terkait. Rektor Universitas Brawijaya menegaskan bahwa prestasi ini menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk terus berinovasi dan berani tampil di level global. Dukungan juga datang dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) yang menilai partisipasi mahasiswa Indonesia dalam kompetisi internasional sebagai langkah penting menuju kampus berkelas dunia. Selain bantuan finansial, tim juga mendapat bimbingan intensif dari dosen dan pakar teknologi pangan di UB. Mereka menjalani serangkaian uji produk, simulasi presentasi, dan pelatihan komunikasi internasional agar siap bersaing di hadapan juri global. Harapan dan Dampak ke Depan Partisipasi tim UB di Wageningen University bukan sekadar perlombaan, tetapi juga kesempatan untuk membangun jejaring global dan membuka peluang kolaborasi riset internasional. Ajang ini diharapkan menjadi batu loncatan bagi mahasiswa Indonesia untuk terus mengembangkan inovasi di bidang pangan berkelanjutan. Selain itu, prestasi ini diharapkan dapat memperkuat citra positif Indonesia sebagai negara agraris dengan potensi sumber daya alam yang besar. Jika dikembangkan lebih lanjut, inovasi semacam ini bisa menjadi solusi nyata bagi ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas lokal di pasar global. Baca juga: Stop Stigma! Hari Santri 2025 Jadi Momentum Bangkitnya Citra Positif Pesantren Penulis: Glancy Verona Editor: Toto Budiman Gambar: Inovasi Sistem Pertanian UB Malang Masuk Top 6 Dunia di Kompetisi Pangan Internasional

Read More

Peringatan Hari Dokter Nasional 2025: Melihat Perjuangan Para Dokter di Desa Terpencil

Bekasi – 1miliarsantri.net: Bulan Oktober menjadi bulan Istimewa bagi para Dokter di Indonesia, tepatnya tanggal 24 Oktober menjadi momentum memperingati Hari Dokter Nasional yang juga bersamaan dengan hari ulang tahun Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Menginjak usia yang ke-75 tahun, Peringatan Hari Dokter Nasional 2025 menjadi momen refleksi bahwa tantangan yang dihadapi dokter di era modern semakin kompleks. Selain ancaman penyakit menular baru, lonjakan penyakit tidak menular (seperti diabetes dan hipertensi) serta berbagai isu kesehatan mental yang semakin menjadi perhatian. Kemajuan teknologi kedokteran menuntut para dokter untuk terus belajar, beradaptasi, dan mengasah keterampilan agar tidak tertinggal. Tidak hanya itu, saat dunia dilanda pandemi atau bencana kesehatan, para dokter berdiri di garis terdepan, mempertaruhkan kesehatan dan keselamatan diri sendiri demi menolong orang lain. Pengorbanan para dokter, terutama yang berjuang di daerah terpencil dengan fasilitas terbatas, patut mendapatkan apresiasi setinggi-tingginya. Di Indonesia, tantangan pemerataan dokter dan fasilitas kesehatan masih menjadi isu krusial. Masih banyak daerah di pelosok negeri yang kekurangan dokter, apalagi dokter spesialis. Oleh karena itu, Hari Dokter Nasional juga harus menjadi pengingat bagi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk terus berupaya meningkatkan kualitas layanan kesehatan, memastikan ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai, serta menjamin kesejahteraan para tenaga medis. Berikut beberapa kisah pada dokter di pelosok negeri yang berjuang dalam memberikan pelayanan kesehatan: Kisah Perjuangan Dokter di Pedalaman Kalimantan Timur Kisah dr. Lisa Maria yang mengabdikan diri di sebuah desa terpencil di Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur. Kisahnya menyoroti tantangan nyata dalam memberikan pelayanan kesehatan di wilayah dengan akses yang sangat sulit. Dr. Lisa Maria dan rekan sejawatnya, yang juga seorang dokter umum, harus berulang kali menghadapi medan yang sangat ekstrem untuk mencapai masyarakat di pedalaman. Untuk diketahui bahwa jalanan menuju desa tersebut didominasi oleh lumpur, jalan tanah, dan beberapa bukit sehingga sering kali harus berhenti untuk membersihkan lumpur dari roda kendaraan. Akibat medan yang sulit tersebut, dr. Lisa juga menceritakan bahwa pernah terpeleset dan terjatuh dari sepeda motornya hingga dua kali berturut-turut karena jalanan yang licin dan berlumpur. Bahkan, ketika mencoba menggunakan mobil, mobilnya sempat kandas dan rusak karena terkena lubang. Namun, meskipun harus berjuang melewati tantangan fisik dan keterbatasan sarana, dr. Lisa menunjukkan dedikasi yang tinggi untuk memastikan pelayanan kesehatan dapat menyentuh masyarakat di pedalaman. Kisahnya menjadi gambaran nyata bagaimana para tenaga kesehatan rela menempuh risiko demi misi kemanusiaan. Baca juga: Stop Stigma! Hari Santri 2025 Jadi Momentum Bangkitnya Citra Positif Pesantren Kisah Dokter yang Menjual Rumah Demi “Rumah Sakit Apung” Gratis Kisah ini adalah tentang dr. Lie Dharmawan, Sp.B, Sp.BTKV, seorang dokter bedah yang dikenal atas dedikasinya dalam menyediakan layanan kesehatan gratis untuk masyarakat di pulau-pulau terpencil dan terluar di Indonesia melalui konsep Rumah Sakit Apung (RSA). Berdirinya Rumah Sakit Apung (RSA) bermula ketika beliau mengoperasi seorang anak dari sebuah pulau terpencil yang datang dengan kondisi usus terjepit. Perjalanan untuk mencapai rumah sakit memakan waktu berhari-hari, membuat anak itu tiba dalam kondisi sangat terlambat. Kejadian ini membuatnya sadar bahwa sistem layanan kesehatan darat tidak mampu menjangkau secara efektif masyarakat di negara kepulauan seperti Indonesia. Akibat kejadian tersebut, Dr. Lie kemudian memiliki ide untuk membuat rumah sakit di atas kapal. Ketika beliau menceritakan gagasan ini, banyak orang meragukan dan bahkan menyebutnya “dokter gila” karena ide tersebut dianggap tidak mungkin terwujud. Namun, tekadnya bulat. Untuk mewujudkan mimpinya, dr. Lie mengambil keputusan besar untuk menjual rumah pribadinya dan menggunakan penghasilannya sebagai dokter bedah untuk memodifikasi sebuah kapal kecil menjadi rumah sakit apung yang lengkap. Sejak saat itu, melalui Yayasan Dokter Peduli (doctorSHARE) yang didirikannya, dr. Lie dan timnya telah berlayar ke berbagai wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) di seluruh Indonesia, membawa fasilitas medis, ruang operasi, dan obat-obatan. Semua pelayanan, termasuk operasi besar dan minor, diberikan secara gratis kepada masyarakat yang kesulitan mengakses layanan kesehatan yang memadai. Kisah dr. Lie Dharmawan adalah simbol pengorbanan, cinta kasih, dan inovasi yang melampaui batas profesionalisme demi kemanusiaan. Selamat Hari Dokter Nasional untuk para dokter hebat di Indonesia! Baca juga: Hari Santri 2025: Pesantren Didorong Berdaya di Sektor Wisata Religi Penulis: Gita Rianti D Pratiwi Editor: Glancy Verona Sumber foto: AI Gemini

Read More

Stop Stigma! Hari Santri 2025 Jadi Momentum Bangkitnya Citra Positif Pesantren

Bondowoso – 1miliarsantri.net : Peringatan Hari Santri 2025 diharapkan menjadi momentum penting untuk menghentikan berbagai stigma negatif terhadap pesantren dan santri. Selama ini, masih ada sebagian kalangan yang memandang pesantren secara keliru, dianggap tertutup, ketinggalan zaman, atau bahkan dikaitkan dengan isu-isu radikalisme. Padahal, faktanya pesantren merupakan benteng moral, pusat pendidikan karakter, serta penjaga nilai-nilai kebangsaan yang berperan besar dalam membangun peradaban Indonesia. Pesantren dan Santri: Pilar Pendidikan dan Kebangsaan Sejak awal berdirinya, pesantren bukan hanya lembaga pendidikan agama, tetapi juga pusat pembentukan karakter dan nasionalisme. Para ulama dan santri telah berkontribusi besar dalam perjuangan kemerdekaan, menjaga keutuhan bangsa, serta memajukan masyarakat lewat dakwah, pendidikan, dan ekonomi kerakyatan. Dalam konteks modern, pesantren telah berkembang menjadi lembaga pendidikan yang adaptif terhadap zaman. Banyak pesantren kini memiliki program teknologi digital, kewirausahaan, hingga pelatihan vokasional untuk membekali para santri dengan keterampilan abad ke-21. Hal ini membuktikan bahwa pesantren tidak tertinggal, tetapi justru terus berinovasi menjawab tantangan global. Menurut laporan dari Gagasan Kalbar, Hari Santri Nasional 2025 mengusung semangat baru: “Stop Stigma, Saatnya Pesantren Bangkit dan Bersinar.” Tema ini menegaskan pentingnya membangun citra positif pesantren di tengah masyarakat serta menepis segala bentuk kesalahpahaman yang selama ini berkembang. Baca juga: Hari Santri 2025: Pesantren Didorong Berdaya di Sektor Wisata Religi Melawan Stigma, Membangun Citra Baru Isu miring yang kadang muncul terhadap pesantren sering kali berakar dari ketidaktahuan. Beberapa kasus yang dilakukan oleh oknum individu kerap digeneralisasi, seolah mencerminkan seluruh dunia pesantren. Padahal, mayoritas pesantren di Indonesia berkomitmen kuat terhadap nilai moderasi beragama, toleransi, dan cinta tanah air. Melalui Hari Santri 2025, Kementerian Agama dan berbagai organisasi keagamaan berkomitmen memperkuat narasi positif tentang pesantren. Media dan masyarakat diajak untuk menyoroti kontribusi nyata santri dalam pendidikan, sosial, dan pembangunan ekonomi. Kegiatan seperti Festival Santri Nusantara, Pameran Ekonomi Pesantren, serta Santri Digital Camp menjadi ajang untuk menampilkan wajah pesantren yang modern, kreatif, dan berdaya saing tinggi. Ini sekaligus membuktikan bahwa santri bukan hanya ahli dalam ilmu agama, tetapi juga mampu berkontribusi dalam bidang sains, teknologi, dan seni. Pesantren sebagai Ruang Inklusif dan Solutif Salah satu langkah penting dalam menghapus stigma adalah menunjukkan bahwa pesantren adalah ruang inklusif dan terbuka bagi semua kalangan. Di banyak pesantren, santri tidak hanya belajar kitab kuning, tetapi juga diajarkan nilai-nilai kewarganegaraan, dialog lintas iman, serta kepedulian sosial. Pesantren juga aktif dalam gerakan kemanusiaan, mulai dari tanggap bencana, pemberdayaan masyarakat, hingga ekonomi mikro berbasis syariah. Program-program seperti Pesantren Ramah Anak, Pesantren Hijau, dan Pesantren Digital adalah contoh nyata transformasi lembaga ini menuju arah yang lebih progresif dan solutif. Dengan pendekatan tersebut, pesantren semakin diakui sebagai pusat pendidikan yang menyeimbangkan antara spiritualitas, intelektualitas, dan produktivitas. Di era modern, citra santri bukan lagi sebatas orang yang tekun mengaji, tetapi juga pemimpin muda yang inovatif dan adaptif terhadap perubahan zaman. Hari Santri 2025: Momen Kebangkitan Citra Pesantren Momentum Hari Santri tahun 2025 menjadi panggilan moral bagi seluruh elemen bangsa untuk melihat pesantren secara lebih adil dan objektif. Pemerintah, masyarakat, dan media diharapkan berperan aktif dalam menyebarkan narasi positif tentang dunia pesantren. Pesantren perlu terus didukung agar menjadi pusat pembelajaran sepanjang hayat, tempat lahirnya generasi berakhlak mulia sekaligus berdaya guna dalam pembangunan bangsa. Semangat “Dari Pesantren untuk Indonesia dan Dunia” menjadi pengingat bahwa nilai-nilai luhur yang tumbuh di pesantren, kejujuran, kerja keras, kesederhanaan, dan keikhlasan yang merupakan fondasi penting dalam membangun peradaban. Hari Santri 2025 bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi ajakan reflektif untuk menghentikan stigma dan membangun optimisme baru. Saatnya pesantren berdiri tegak dengan citra positif: lembaga yang mendidik, menginspirasi, dan berkontribusi nyata bagi kemajuan bangsa. Baca juga: Burkina Faso Klaim Raup US$ 18 Miliar dari Tambang Emas Sejak Traoré Memimpin Penulis: Glancy Verona Editor: Toto Budiman Ilustrasi by AI Kata Kunci:

Read More
AI untuk UMKM Syariah

Apakah AI untuk UMKM Syariah Sudah Sesuai dengan Prinsip Agama? Ternyata Begini Penjelasan Faktanya!

Jakarta Timur – 1miliarsantri.net:  AI semakin maju dari tahun ke tahun. teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) ini semakin merambah ke berbagai sektor, salah satunya sektor usaha kecil dan menengah (UMKM). Bagi para pengusaha Muslim, hadirnya AI untuk UMKM Syariah membuka peluang besar untuk mengembangkan UMKM syariah agar lebih efisien, kompetitif, dan mampu bersaing di pasar global. Namun, ada pertanyaan penting yang sering muncul, apakah penggunaan AI sesuai dengan prinsip syariat Islam? Topik ini menjadi perhatian karena sebagian pelaku usaha masih ragu. Mereka khawatir pemanfaatan AI dapat membawa praktik bisnis yang bertentangan dengan syariat, seperti manipulasi data, penggunaan algoritma yang merugikan pihak tertentu, hingga keterlibatan dalam transaksi non-halal. Oleh sebab itu, penting bagi pengusaha Muslim untuk memahami cara memanfaatkan AI untuk UMKM Syariah dengan tepat, agar bisa menikmati manfaat teknologi modern sekaligus menjaga keberkahan usaha. Mengapa AI Penting untuk UMKM Syariah? UMKM syariah memiliki tantangan tersendiri. Selain harus bersaing dengan bisnis konvensional, mereka juga dituntut untuk tetap berpegang pada prinsip halal dan etika Islam. Di sinilah AI hadir sebagai solusi yang bisa meringankan beban kerja, mulai dari beberapa hal seperti di bawah ini: 1. Efisiensi Operasional AI mampu mengotomatisasi tugas rutin seperti pencatatan transaksi, manajemen inventori, hingga layanan pelanggan. Dengan begitu, pelaku UMKM bisa menghemat waktu sekaligus mengurangi human error. 2. Pemasaran Digital yang Lebih Cerdas Teknologi AI dapat menganalisis perilaku konsumen Muslim dan membantu merancang strategi pemasaran yang sesuai, misalnya promosi produk halal menjelang Ramadan atau Idul Adha. 3. Keuangan yang Transparan AI juga bisa dipakai dalam aplikasi keuangan syariah untuk memantau arus kas, memastikan pencatatan transaksi bebas dari riba, serta memberi rekomendasi investasi halal. Dengan manfaat tersebut, jelas bahwa AI bukan hanya sekadar alat teknologi, tetapi juga partner strategis bagi pengusaha Muslim yang ingin mengembangkan usahanya dengan efisien. Prinsip Syariah dalam Pemanfaatan AI Agar penggunaan AI dalam UMKM syariah tidak melanggar syariat, ada beberapa prinsip yang harus dijadikan pedoman, seperti: Dengan memahami prinsip ini, pengusaha Muslim bisa lebih percaya diri dalam memanfaatkan teknologi tanpa takut melanggar syariat. Baca juga: Ramadhan 2026 Sudah Di Depan Mata! Ini Tips Biar Ibadah Tetap Jalan Meski Banyak Kerjaan Contoh Penerapan AI untuk UMKM Syariah Agar lebih konkret, berikut beberapa contoh bagaimana AI dapat dimanfaatkan dalam bisnis syariah: 1. Chatbot Islami untuk Layanan Konsumen UMKM syariah bisa menggunakan chatbot berbasis AI yang mampu menjawab pertanyaan seputar produk halal, cara pembayaran syariah, hingga jadwal promo Ramadan. 2. Sistem Rekomendasi Produk Halal Platform e-commerce syariah dapat memanfaatkan AI untuk memberikan rekomendasi produk halal sesuai kebutuhan konsumen Muslim. Selain itu AI dapat dimanfaatkan untuk membuat copywriting dari produk yang dijual. 3. Prediksi Penjualan Sesuai Musim Ibadah AI bisa membantu memprediksi lonjakan permintaan produk menjelang bulan Ramadan, Idul Fitri, atau Idul Adha sehingga stok barang dapat dikelola lebih baik. 4. Manajemen Keuangan Syariah Aplikasi keuangan berbasis AI dapat memisahkan laporan transaksi halal dan non-halal, serta memberi notifikasi jika ada aktivitas yang berpotensi melanggar syariat. Dengan penerapan ini, UMKM syariah bisa semakin kompetitif sekaligus konsisten dengan prinsip Islam. Baca juga: Boleh Nggak Sih Muslim Jadi Seniman? Ini Jawaban & Batasannya! Tantangan Penggunaan AI dalam Bisnis Syariah Meski menjanjikan, penerapan AI juga memiliki tantangan. Salah satunya adalah keterbatasan pengetahuan pelaku UMKM dalam memahami teknologi ini. Banyak pengusaha Muslim masih menganggap AI rumit dan mahal. Selain itu, ada isu etika seperti privasi data konsumen yang harus dijaga agar tidak bertentangan dengan nilai Islam. Oleh krena itu, edukasi menjadi kunci. Pemerintah, lembaga keuangan syariah, dan komunitas bisnis Muslim perlu bekerja sama memberikan pelatihan tentang AI untuk UMKM syariah agar lebih mudah diakses oleh pelaku usaha. Selain itu, penting bagi pengusaha Muslim untuk melatih skill adaptasi agar tidak tertinggal zaman dan usaha semakin berkembang. Dengan memahami cara yang benar, pengusaha Muslim dapat menjadikan AI sebagai sarana untuk membangun bisnis yang tidak hanya sukses secara finansial, tetapi juga penuh keberkahan. Inilah bukti bahwa teknologi halal dan bisnis syariah bisa berjalan berdampingan, memberikan manfaat bagi umat sekaligus berkontribusi pada perkembangan ekonomi global. Penulis : Vicky Vadila Muhti Editor : Thamrin Humris dan Ainun Maghfiroh Sumber foto: Ilustrasi

Read More
seniman

Boleh Nggak Sih Muslim Jadi Seniman? Ini Jawaban & Batasannya!

Jakarta Timur – 1miliarsantri.net: Pernah nggak kamu denger komentar kayak, “Ngapain sih jadi seniman, nggak ada manfaatnya buat akhirat!” atau “Muslim kok bikin musik?” Padahal, kalau kita lihat sejarah Islam, justru banyak tokoh yang berkarya dengan penuh estetika dan spiritualitas. Pertanyaannya, emang bener Muslim nggak boleh jadi seniman? Yuk kita cari tahu jawabannya melalui penjelasan ini. Islam Itu Cinta Keindahan Pertama, Islam nggak pernah menolak seni. Dalam sebuah hadis disebutkan: “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan.” (HR. Muslim) Keindahan itu bisa dalam bentuk apa pun, mulai dari suara, warna, tulisan, desain, atau gerak. Lihat aja kaligrafi di masjid, arsitektur megah Andalusia, atau syair-syair indah para ulama zaman dulu. Itu bukti nyata bahwa Islam menghargai seni, selama nggak melanggar syariat. Seni Itu Netral, Niat yang Menentukan Sama seperti uang, teknologi, atau waktu, seni itu netral. Yang membuatnya bernilai baik atau buruk tergantung siapa yang menggunakannya dan untuk apa. Kalau karya seni digunakan buat menyebarkan kebaikan, membangun empati, atau mengingatkan manusia pada Allah, maka itu bernilai ibadah. Tapi kalau dipakai buat maksiat, merusak moral, atau memprovokasi keburukan, jelas dilarang. Jadi, sebelum berkarya, tanya dulu ke diri sendiri: “Apa yang aku buat ini akan mendekatkan orang ke kebaikan, atau malah menjauhkan?” Baca juga: Hukuman Apa yang Pantas Bagi Pelaku Koruptor Dalam Pandangan Islam Jadi Seniman Bisa Jadi Jalan Dakwah Banyak orang belajar tentang Islam bukan dari ceramah, tapi dari karya. Ada yang tersentuh lewat film, lagu, puisi, bahkan ilustrasi. Dakwah nggak harus selalu lewat mimbar, bisa juga lewat seni. Misalnya: Seni bisa menyentuh hati, dan itulah kekuatannya. Jadi, jangan remehkan potensi seniman Muslim dalam menyebarkan pesan kebaikan. Seniman yang Baik, Tetap Ada Batasannya Tentu aja, semua hal ada batasnya. Jadi seniman bukan berarti bebas sebebas-bebasnya. Ada adab dan nilai yang tetap harus dijaga. Lalu di bawah ini, ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan, seperti: Bahkan dalam berkarya, niat dan cara tetap harus dijaga. Kalau bisa menghibur tanpa merusak, kenapa nggak? Kreativitas Sebagai Wujud Syukur Allah SWT ngasih bakat dan imajinasi bukan tanpa alasan. Kreativitas adalah amanah. Dengan berkarya, kamu sedang mensyukuri nikmat itu. Setiap ide yang muncul bisa jadi bentuk dzikir, kalau digunakan dengan niat baik. Misalnya, melukis keindahan alam sambil mengingat kebesaran Allah, atau menulis lirik lagu yang menenangkan hati pendengar. Seni yang bersumber dari hati yang ikhlas akan memancarkan kebaikan. Baca juga: Ngaji Online vs Ngaji Offline: Mana yang Lebih Efektif untuk Generasi Z Muslim?  Seniman Muslim, Pionir Dunia Modern Zaman sekarang, justru dunia butuh lebih banyak seniman Muslim. Dunia hiburan sering didominasi narasi yang jauh dari nilai spiritual. Nah, di sinilah peran kamu. Bayangin kalau makin banyak seniman Muslim yang menghadirkan karya keren tapi beradab, dunia kreatif akan jadi ruang yang menenangkan, bukan toxic. Seni bisa jadi cara untuk memperbaiki budaya, bukan sekadar hiburan. Karya yang Baik sama dengan Amal Jariyah Satu hal yang sering dilupakan, karya yang bermanfaat bisa jadi amal jariyah. Bayangin kalau ilustrasimu menginspirasi orang untuk berhijrah, atau lagu yang kamu tulis bikin orang semangat kembali berdoa. Selama karya itu terus memberi manfaat, pahala terus mengalir, bahkan setelah kamu nggak ada. Jadi, boleh banget Muslim jadi seniman asal tahu batas dan arah karyanya. Islam nggak menutup pintu kreativitas, malah mendukungnya selama tujuannya baik. Kuncinya adalah berkarya dengan niat ibadah. Seni yang indah bukan yang cuma enak dilihat, tapi yang membuat hati manusia semakin dekat dengan Sang Pencipta keindahan. Penulis : Vicky Vadila Muhti Editor : Thamrin Humris dan Ainun Maghfiroh Sumber foto: Ilustrasi

Read More
Ramadhan

Ramadhan 2026 Sudah Di Depan Mata! Ini Tips Biar Ibadah Tetap Jalan Meski Banyak Kerjaan

Jakarta Timur – 1miliarsantri.net: Setiap kali Ramadhan datang, banyak dari kita punya niat besar, mulai dari mau khatam Al-Qur’an, rajin tarawih, ikut kajian, dan sedekah tiap hari. Tapi begitu minggu pertama lewat, semua rencana mulai kacau. Bukan karena malas tapi karena sibuk. Deadline kerjaan numpuk, tugas kuliah datang bareng sahur, bahkan buka puasa sering sambil ngetik laporan. Akhirnya, ibadah jadi disisipin di sela-sela waktu luang, bukan jadi prioritas utama. Pertanyaannya, gimana caranya tetap bisa maksimal beribadah meski hidup lagi padat banget? Nah, biar sama sama khusyuk dan fokus ibadah meski banyak pekerjaan, kita kasi tipsnya di artikel ini, biar bisa dipraktekkan bersama-sama. Yuk, langsung intip! 1. Pahami Dulu Jika Ramadhan Itu Bukan Penghalang, Tapi Penyembuh Banyak orang ngerasa Ramadhan bikin waktu kerja atau belajar jadi berantakan. Padahal, kalau dipikir-pikir, Ramadhan justru momen buat reset rutinitas hidup. Puasa bukan sekadar nahan lapar dan haus, tapi latihan buat ngatur waktu, nafsu, dan emosi. Kalau dijalani dengan niat benar, puasa malah bikin kita lebih fokus dan produktif. Contohnya, waktu makan jadi lebih teratur, waktu tidur lebih disiplin, dan waktu luang bisa diisi hal bermanfaat. Jadi, mindset-nya ubah dulu, Ramadhan bukan halangan buat produktif, justru motivasi tambahan buat jadi versi terbaik diri sendiri. 2. Bikin Jadwal Realistis, Bukan Perfeksionis Banyak yang niatnya bagus tapi kebablasan: bikin jadwal super padat yang ujung-ujungnya gagal. Misalnya, “Aku mau khatam Qur’an 3 kali bulan ini!”  padahal kerja dari pagi sampai malam. Akhirnya, hari ke-5 udah nyerah. Lebih baik realistis. Misalnya: Kuncinya bukan seberapa banyak, tapi seberapa konsisten. Rasulullah SAW bersabda: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit.” (HR. Muslim) 3. Atur Waktu Sesuai Golden Hour Ramadhan Ramadhan punya jam-jam emas yang sayang banget kalau dilewatin, bahkan buat orang sibuk. Biar gak bingung, kita kasi rinciannya juga di bawah ini: Kalau bisa memanfaatkan momen-momen ini, kamu nggak cuma dapat pahala besar, tapi juga mental recharge di tengah padatnya aktivitas. Baca juga: Hukum Khalwat Menurut Al Qur’an dan Hadist! Muslim Wajib Paham dan Waspada Diri!  4. Ubah Tempat Kerja Jadi Ruang Pahala Kalau kamu kerja kantoran atau kuliah, mungkin susah banget cari waktu buat ibadah. Tapi ternyata, kamu bisa tetap beramal tanpa meninggalkan tempat kerja. Contohnya: Senyum dan bersikap ramah ke rekan kerja, itu sedekah! Nahan emosi saat lagi stres, itu juga ibadah. Nggak curang dalam pekerjaan, nggak menunda tanggung jawab, itu bentuk takwa juga. Ingat, Islam nggak memisahkan dunia dan akhirat. Selama niatnya karena Allah, pekerjaan sehari-hari pun bisa bernilai ibadah. 5. Ibadah Bukan Kompetisi, Tapi Perjalanan Kadang kita merasa bersalah karena nggak seaktif orang lain. Teman bisa tarawih tiap malam, sedekah besar, sementara kita cuma sempat baca Qur’an selembar sebelum tidur. Tenang, Allah SWT nggak menilai dari seberapa banyak, tapi dari seberapa tulus. Setiap orang punya kondisi berbeda, dan Allah tahu batas kemampuan hamba-Nya. Daripada iri, lebih baik fokus pada peningkatan diri. Mungkin kamu nggak sempat tarawih di masjid, tapi kamu bisa bantu masak buat buka keluarga. Bisa jadi pahala kamu malah lebih besar karena dilakukan dengan ikhlas dan tulus. 6. Gunakan Teknologi untuk Kebaikan Zaman sekarang, alasan nggak sempat ngaji udah nggak valid lagi. Semua bisa kamu akses lewat HP. Teknologi bukan penghalang Ramadhan, justru bisa jadi alat bantu kalau digunakan dengan niat baik.Cuma hati-hati juga, jangan kebablasan scrolling media sosial sampai lupa waktu berbuka. Disiplin tetap penting. 7. Rawat Fokus & Niat Sibuknya aktivitas sering bikin niat ibadah bergeser dari “karena Allah” jadi “sekadar rutinitas.” Makanya, penting banget buat menjaga hati tetap terhubung dengan Allah, walau cuma lewat doa singkat di sela kerja. Kamu bisa mulai dari hal sederhana: Sebelum kerja: “Bismillah, semoga pekerjaanku hari ini jadi amal baik.” Saat capek: “Ya Allah, kuatkan aku menjalani Ramadhan ini dengan sabar.” Koneksi spiritual kecil seperti ini bisa menjaga semangat ibadah di tengah kesibukan. Baca juga: Anak Zaman Sekarang Susah Lepas HP? Yuk Terapkan Pola Parenting Islami di Era Digital 8. Libatkan Orang Sekitar Biar ibadah makin ringan, ajak orang lain bareng-bareng. Misalnya, ajak teman kantor buat sedekah kolektif, buka puasa bareng sambil kajian singkat, atau buat challenge “baca 1 juz bareng tiap minggu.” Selain nambah pahala, kamu juga nambah semangat dan rasa kebersamaan. Ramadhan itu momen membangun komunitas kebaikan, bukan dijalani sendirian. Nggak apa-apa kalau Ramadhan kamu nggak sempurna. Yang penting, kamu tetap berusaha mendekatkan diri pada Allah di tengah kesibukan yang luar biasa. Islam itu fleksibel dan penuh kasih. Kamu boleh punya banyak deadline, tapi jangan sampai lupa deadline terbesar, yakni akhirat. Ibadah nggak selalu butuh waktu lama dan yang penting, hati dan niatnya tetap hidup. Kalau Ramadhan kali ini terasa berat, ingat: Allah nggak minta kesempurnaan, Dia cuma minta kesungguhan. Penulis : Vicky Vadila Muhti Editor : Thamrin Humris dan Ainun Maghfiroh Sumber foto: Ilustrasi

Read More