Ghibah Itu Membahayakan: Ancaman Hilangnya Pahala Ibadah karena Lisan

Dengarkan Artikel Ini

Oleh: Ibnu Hajar Mahbub

Ada lima perkara yang dapat menghapus pahala puasa, dan di antara lima hal tersebut adalah ghibah.

Dikisahkan dalam Kitab Majalisus Saniyyah, syarah Kitab Arbain Nawawie, dari Ikrimah bahwa seorang wanita yang bertubuh pendek masuk menemui Rasulullah ﷺ. Ketika wanita itu keluar, Siti Aisyah berkata:

“Alangkah fasih bicaranya, hanya sayang dia pendek.”

Maka Rasulullah ﷺ menegurnya:

“Engkau telah menggunjingnya, wahai Aisyah.”

Siti Aisyah berkata:

“Saya mengatakan apa adanya.”

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tetapi engkau telah mengatakan apa yang paling buruk padanya.”

Kisah ini menjadi pelajaran besar bahwa menyebutkan kekurangan seseorang, meskipun benar adanya, tetap termasuk ghibah apabila hal tersebut tidak disukainya.

Dalil Al-Qur’an tentang Ghibah

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an, Surah Al-Hujurat ayat 12:

“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya…” (QS. Al-Hujurat: 12)

Ayat ini menggambarkan betapa menjijikkannya perbuatan ghibah, diumpamakan seperti memakan bangkai saudara sendiri. Perumpamaan ini menunjukkan beratnya dosa tersebut di sisi Allah.

Hadits tentang Hakikat Ghibah

Dalam hadits riwayat Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tahukah kalian apa itu ghibah?”
Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”
Beliau bersabda, “Engkau menyebut tentang saudaramu sesuatu yang ia tidak sukai.”
Ditanyakan, “Bagaimana jika yang aku katakan itu benar ada pada dirinya?”
Beliau menjawab, “Jika benar ada padanya, maka itulah ghibah. Jika tidak ada padanya, maka engkau telah berdusta (fitnah).”

Hadits ini menegaskan bahwa mengatakan sesuatu yang benar tentang kekurangan seseorang tetap termasuk ghibah apabila ia tidak menyukainya.

Gambaran di Hari Kiamat

Konon, pada hari kiamat kelak seorang hamba diberi catatan amalnya. Ketika dilihatnya, ternyata di dalam catatan itu tidak terdapat sedikit pun catatan amal kebaikannya. Maka hamba itu bertanya kepada Allah:

“Ya Rabb, mana pahala sholatku, mana pahala puasaku, dan mana pahala-pahala ketaatanku lainnya?”

Lalu dikatakan kepadanya:

“Semua amalmu lenyap dikarenakan oleh perbuatan ghibahmu ketika di dunia.”

Di pihak lain, ada orang yang menerima catatan amalnya dengan tangan kanan. Ketika dibuka dan dilihatnya, terdapat banyak kebaikan yang tidak pernah dilakukannya di dunia. Lalu dikatakan kepadanya:

“Ini adalah kebaikan yang diberikan dan dikirimkan oleh orang yang menghibahmu ketika di dunia.”

Hal ini sejalan dengan hadits tentang orang yang bangkrut (muflis), di mana Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa orang yang bangkrut adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan pahala shalat, puasa, dan zakat, namun ia pernah mencaci, menuduh, memakan harta orang lain, dan menumpahkan darah. Maka pahala-pahalanya diberikan kepada orang-orang yang dizaliminya hingga habis, lalu dosa mereka dipikulkan kepadanya.

Renungan: Menjaga Lisan, Menjaga Pahala

Ghibah sering dianggap ringan karena hanya berupa ucapan. Padahal, dampaknya sangat berat. Ia bukan hanya melukai kehormatan sesama, tetapi juga dapat memindahkan pahala kebaikan kita kepada orang yang kita gunjing.

Lisan yang tidak dijaga bisa menjadi sebab bangkrutnya amal di akhirat. Karena itu, menjaga ucapan adalah bagian dari menjaga ibadah.

Semoga Allah menjaga lisan kita dari perkataan yang sia-sia, dari ghibah yang membinasakan pahala, serta menjadikan kita hamba-hamba yang selamat dunia dan akhirat. Aamiin.**

Pondok Aren
Kamis, 19 Februari 2026
01 Ramadhan 1447 H

Sumber : WAG Manajemen Masjid Umat Sejahtera (Pemosting : Abdul Syukur)

Foto : Gambar ilustrasi

Editor : Thamrin Humris


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca